Berita 2012-2(Apr-Jun)

April 2012

BPLH Bogor : Kualitas Air Sungai Ciliwung Tak Memenuhi Syarat

Sumber: http://wartapedia.com/  03 April 2012 

BOGOR – Mengingat beberapa fakta lingkungan yang menyebutkan, akan terjadinya kelangkaan air bersih dibeberapa wilayah tanah air, Walikota Bogor Diani Budiarto menghimbau masyarakat Kota Bogor untuk lebih bijak dalam menggunakan air.

“Dalam skala lokal Kota Bogor, dihadapi kenyataan bahwa melimpahnya sumber daya air berhadapan dengan terus menurunnya kualitas air” Ujar Diani Budiarto, Senin (2/4), Seperti dilansir laman Kotabogor.

Data BPLH Kota Bogor menyebutkan, kualitas air di sungai Ciliwung dan Cisadane tidak memenuhi syarat dengan kadar maksimal yang melebihi persyaratan kriteria baku mutu air sesuai PP No : 82 tahun 2001 adalah BOD, Sulfat, Amonia, Fenol, Logam Seng, deterjen, bakteri koliform total dan fosfat. Data ini merupakan hasi uji kualitas air dengan 27 sampel didua aliran sungai.

“Sedangkan hasil uji pada situ di Kota Bogor, menunjukkan parameter kualitas air yang melebihi baku mutu adalah BOD, deterjen, sulfat, dan bakteri koliform total. Begitu pula dengan hasil uji pada beberapa sumur di empat Kecamatan yang menunjukan indikator kualitas” lanjutnya

Melihat kondisi ini menurut Diani, bahwa Kota Bogor tengah berhadapan dengan masalah serius tentang kualitas air. Jika masalah serius dipandang hanya sebatas masalah biasa akan berdampak pada semakin kecilnya akses masyarakat terhadap air bersih. Makanya, Pemerintah Kota Bogor telah merancang berbagai upaya dengan dimotori oleh BPLH.

Diani mengakui, bahwa salah satu permasalahan utama yang dihadapi saat ini perubahan prilaku masyarakat dalam menggunakan sumber daya air. Oleh karena itu masyarakat dihimbau untuk tidak membuang sampah ke sungai, tidak buang air besar di sungai dan melakukan penghijauan bantaran sungai. “Ini penting dilakukan termasuk kampanye yang dilakukan oleh PDAM Tirta Pakuan, imbuhnya.

Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan Memet Gunawan mengatakan, salah satu rangkaian kegiatan dalam memperingati HUT PDAM ke 35 adalah upaya penyelamatan sumber daya air dengan melakukan penanaman 400 pohon bersama Komunitas Bikers Tipa dan Dinas Kehutanan di Lokasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang merupakan wilayah catcment area sumber air tangkil. (c8/lik)

Ratusan Rumah di Bantara Kali Ciliwung Terendam Banjir

Sumber:  http://rimanews.com/4 April 2012 

JATINEGARA, RIMANEWS – Sedikitnya ada sekitar 700 rumah warga yang berada di bantaran Kali Ciliwung, di Kelurahan Bidaracina dan Kelurahan Kampungmelayu, Jatinegara kembali terendam banjir kiriman, sejak Selasa (3/4/2012) dinihari.

Air mulai masuk ke pemukiman warga sekitar pukul 02.00 dinihari. Dalam beberapa jam, air mencapi ketinggian satu meter.

Said (52), warga RT 4/11, Bidaracina, Jatinegara menjelaskan air Kali Ciliwung mulai meluap sekitar pukul 24.00. Dalam dua jam, air sudah mencapai 50 cm, untuk pemukiman yang dekat dengan bantaran kali. “Pagi hari sekitar jam 05.00, air sudah satu meter,” kata Said.

Akibatnya, aktivitas warga di pagi harinya menjadi terganggu. “Sejak tadi malam, banyak warga gak tidur dan berjaga-jaga. Karena informasinya, air Kali Ciliwung meluap,” kata Said.

Menurutnya banjir kiriman ini rutin terjadi jika hujan besar melanda wilayah Bogor dan Kali Ciliwung meluap.

Karenanya, kata Said, warga berharap Pemprov DKI membuat saluran penghubung dari Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur (KBT), sehingga saat ada banjir kiriman, debit air dapat dialihkan ke KBT. “Mungkin solusinya itu,” kata Said.

Menurutnya sejak Selasa dinihari, warga sibuk memindahkan dan mengamankan barang-barang berharganya dari terjangan banjir. Kendati begitu, sejauh ini belum ada warga yang mengungsi. Mereka memilih bertahan di rumahnya masing-masing.

Untuk beraktivitas, warga menggunakan perahu karet yang disediakan pihak kelurahan setempat. Sementara bantuan makanan, minuman atau kebutuhan warga lainnya, sejauh ini juga belum ada.

“Mungkin karena banjir kiriman ini sifatnya hanya lintasan, dan warga secara umum warga masih mampu melakukan aktivitasnya, jadi belum ada bantuan,” kata Said.

Nurdin (47), warga Kampungpulo, RT 4/3 Kelurahan Kampungmelayu, mengatakan, banjir seperti ini rutin terjadi dialami warga, jika di wilayah Bogor sedang hujan lebat.

Karenanya, ia berharap Pemprov DKI mengambil tindakan agar banjir langganan seperti ini tidak selalu terjadi. “Mungkin perlu saluran penghubung dari Kali Ciliwung ke KBT. Jadi kalau air Ciliwung tinggi, dialirkan ke KBT,” katanya.

Ketua RT 3/3, Kelurahan Kampungmelayu, Budi, menyebutkan, dari 16 RT yang ada di RW 03, hanya RT 2 yang tidak terkena banjir karena datarannya lebih tinggi. Menurutnya tidak ada warga yang mengungsi karena banjir seperti ini sudah sering dialami setiap tahun dan hanya bersifat sementara.

Untuk melakukan aktivitas seperti berangkat kerja atau sekolah, warga memanfaatkan perahu karet yang disediakan pihak kelurahan.

Lurah Kampungmelayu, Bambang Pangestu, menyebutkan, banjir kiriman dari Bogor, Jawa Barat ini menggenangi lebih dari 500 rumah warganya yang tersebar di enam RW. Masing-masing di RW 1, RW 2, RW 3, RW 4, RW 5 dan RW 07. Kondisi terparah terjadi di RW 1, RW 2 dan RW 3, yang berada di bantaran Kali, dimana ketinggian air mencapai satu setengah meter.

“Warga tidak ada yang mengungsi, alasannya banjir seperti ini hal yang rutin dialami mereka. Warga juga masih mampu melakukan aktivitasnya,” katanya.

Lurah Bidaracina, Nasrudin, mengatakan, ada sekitar 200 rumah warganya yang terkena banjir di RW 7 dan RW 11. Wilayah terparah terdapat di RW 07 yang datarannya lebih rendah. Sedangkan di RW 11, hanya dua RT yang tergenang yakni di RT 4 dan RT 6.

Menurut Nasrudin, jika dibandingkan dengan tadi malam, tinggi genangan sampai Selasa siang mulai surut. Jika semalam mencapai 150 sentimeter kini genangan tinggal 40 cm atau yang paling dekat dengan bantaran kali menjadi sekitar 100 cm.

“Di tempat kami juga tidak ada warga mengungsi, karena banjir ini sifatnya hanya lintasan yang biasa dialami warga,” kata Nasrudin.

Namun, katany, jika warga membutuhkan tempat pengungsian, pihaknya telah menyiapkan kantor kelurahan untuk posko pengungsian sementara warga. (yus/wrtk)

Belajar Budidaya Ikan Untuk Warga Tepian Ciliwung

Sumber:http://kotahujan.com/ 9 April 2012  

Sempur|Kotahujan.com-Budidaya hingga saat ini ternyata masih terbukti ampuh berkontribusi besar memenuhi kebutuhan konsumsi manusia, salah satunya sumberdaya hewan perairan. Tingginya tingkat kesadaran publik pentingnya gizi ikan dalam proses perkembangan kecerdasan otak anak, memberi andil 43 % permintaan ikan di masyarakat (Bostock et al, 2010). Untuk mendapatkan hasil maksimal, budidaya juga memerlukan teknik tersendiri. Fakta inilah yang mendorong sekitar 20-an warga kelurahan Sempur Bogor antusias mengikuti pelatihan sederhana tentang budidaya yang digagas Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor bekerjasama dengan Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), Indonesia Center for Sustainable Development (ICSD),dengan dukungan BNI Go Green, Sabtu (7/4/2012).

Pelatihan dengan tajuk “Training Budidaya Ikan” digelar sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan budidaya yang banyak dialami para pembudidaya di kelurahan Sempur. Beberapa teknik budidaya, seperti penyuntikan ikan dalam proses pemijahan, memerlukan penguasaan keterampilan yang cukup untuk memperoleh hasil yang baik.

“Menurut saya budidaya ini bagus, bagus sekali untuk kalangan masyarakat yang kelas bawah. Apalagi kami hanya bisa menggunakan fasilitas ala kadarnya seperti kali, kalau lahan kan sudah tidak bisa. Untuk penyuntikan dan pembenihan belum tahu, alhamdulillah banget dapat ilmu dari sini, ” ungkap Gugun, salah satu peserta.

Belajar mengembangbiakkan ikan lokal merupakan niat utama dari kegiatan sederhana ini. Warga tepian sungai Ciliwung itu umumnya sudah melakukan pembesaran ikan di karamba. Disini peserta diajarkan untuk lebih mengembangkan keahliannya dalam pemeliharaan ikan lokal, untuk mulai membenihkan ikan. Materi yang dipandu anggota KPC yang juga peneliti Kementrian Kelautan dan Perikanan, Ruby Vidia Kusumah dan Ahmaidi Rinal, mengulas teori secara sederhana di kelas, kemudian sisanya peserta diajak diskusi dan mempraktekkan teorinya secara langsung pada ikan hidup.

“Saya tertarik dengan Sempur, kalau kita menyeberang ternyata lahannya itu sempit. Namun meski sempit ternyata masih ada lahan kosong yang belum dimanfaatkan. Saya harap bisa dikembangkan konsep pengembangan budidaya ikan lahan sempit, ” terang Ruby.

Peserta merasakan sendiri bagaimana menghitung takaran hormon perangsang, menyuntikkan hormon ke tubuh ikan dan kemudian melepasnya ke kolam pembiakan. Beberapa dari mereka bahkan masih ada yang terus saja mendiskusikan tentang budidaya ikan bersama para pelatihnya.

“Peserta antusias, semoga paparannya bisa membantu mereka untuk lebih berani berbudidaya,” tambah Rinal.

Ditargetkan peserta yang umumnya pemilik karamba itu bisa berkumpul dan membentuk kelompok, sehingga bisa secara bersama-sama mengembangkan ide-idenya untuk budidaya ikan. Tak sekedar pembesaran seperti yang dilakukan selama ini. Diharapkan pelatihan ini tidak hilang begitu saja. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari pelatihan ini bisa ditularkan meluas ke warga yang lain.

Di akhir acara pelatihan, masing-masing peserta yang hadir selanjutnya mendapat bantuan 15 ekor ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) yang sepertinya membuat peserta kian semangat.

Calls for National Leadership on Java’s Ciliwung River

Fidelis E. Satriastanti

Sumber:  http://www.thejakartaglobe.com/18 April  2012

Policies and initiatives by four ministries, three regional administrations and various civil society groups to try to clean up the Ciliwung River will prove meaningless without strong leadership from the highest authority in the country, an expert said on Wednesday.

Firdaus Ali, an environmental engineering lecturer at the University of Indonesia’s School of Engineering, said it would ultimately take “strong leadership from the president of this country and strong commitment” to restore the Ciliwung, which originates in the Bogor highlands before running through Jakarta and emptying out into Jakarta Bay.

He cited cases of heavily polluted rivers in Canada, South Korea and Singapore that were successfully restored thanks to the commitments of their leaders.

“I think the leadership that we’re looking for is for the president to be fully aware that water is the source of life for the country,” he said at a forum on improving the Ciliwung River.

One way to underscore such commitment, he said, would be for the president to set up a ministry of water resources, dedicated to cleaning up the country’s rivers.

“Other countries nearby already have such an institution, for instance in Papua New Guinea,” Firdaus said.

He also said that without high-level leadership any effort, however well intended, would only get bogged down in bureaucracy.

“As long as the effort to restore the Ciliwung is led from the level of a directorate general, it will not work,” he said.

“Why? Because bureaucracy is expensive. They can invite mayors to attend initiatives on saving rivers, but afterward they just go home and forget about it.”

Environment Minister Balthasar Kambuaya acknowledged that programs to save the Ciliwung had shown little progress to date, but was optimistic that a new policy to divide the 120-kilometer-long river into six segments for different local authorities to manage would work.

“It’s a bit strange that we have all these programs and everyone is trying to do something, but nothing has happened. There’s got to be something wrong,” the minister said at the discussion.

“That’s why we’ve decided to divide the river into six segments so that we know which parts need what kind of attention.”

Under the plan, the Banten, Jakarta and West Java administrations will take charge of the various segments of the river and work with the ministries of environment, public works, forestry and agriculture to improve water quality.

The three main problems to be tackled are domestic, industrial and farming waste.

“We will deal with water quality,” Balthasar said.

“If it’s a matter of domestic waste, we’ll find ways to address it. Meanwhile, the other ministries will work on different areas, such as the Forestry Ministry, which will be focused on re-greening the riverbanks.”

However, he said that because of population pressures, it would be “impossible to restore the Ciliwung” to the same condition it was in 300 years ago, at its most pristine. But he was optimistic that the new policy, to be administered until 2030 at a total cost of Rp 5 trillion ($545 million), would succeed in significantly improving the quality of the water.

MENLH Hadiri Dialog Interaktif Aksi Penyelamatan Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.menlh.go.id/  18 April 2012

Jakarta, 18 April 2012–Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menyelenggarakan Dialog Interaktif Aksi Penyelamatan Sungai Ciliwung di Hotel Shangrila – Jakarta sebagai upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup khususnya pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan sungai.Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, menyongsong Hari Bumi dan sekaligus Hari Lingkungan Hidup 2012. KLH saat ini telah menyusun Rencana Umum Pemulihan Kualitas Lingkungan Sungai Ciliwung 2010-2030 untuk mewujudkan kualitas air sasaran yang diinginkan di masa mendatang dengan mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan sungai mulai dari hulu hingga hilir. Rencana umum ini telah disepakati oleh berbagai kementerian/lembaga yang menginginkan Ciliwung menjadi lebih baik di masa mendatang. Rencana umum tersebut diharapkan menjadi acuan semua pihak pemangku kepentingan untuk melakukan aksi nyata di Sungai Ciliwung.

Menurut Penelitian pada tahun 1631 sungai Ciliwung sangat Jernih dan sepanjang Harmoni sungai tersebut di luruskan oleh pemerintah Hidia Belanda yang peruntukannya agar dapat dilayari Nelayan di Muara Angke. Ikan pun masih banyak sehingga masih mudah untuk didapat. Selain cerita manis mengenai Kali Ciliwung pada tahun 1800-an Jakarta pernah pula mengalami Banjir bandang yang cukup besar untuk ukuran tahun itu, kemudian Pemerintah Hidia Belanda lewat para ahlinya merekomendasikan harus dibuat bendungan di Hulu sungai, maka dibuatlah bendungan Katulampa di Bogor.

Saat kini di tengah kepadatan penduduk yang sangat tinggi kondisi Sungai Ciliwung-pun telah jauh berubah, tidak lagi bening, begitu sangat kotor, keruh dan penuh sampah terutama semakin ke hilir.Bahkan semakin sering banjir di DKI Jakarta dan hal ini menandakan DAS Ciliwung semakin tidak sehat dengan perbedaan debit air musim kemarau dan musim penghujan lebih dari 300 kali lipat.Semua air hujan yang ada menjadi air permukaan dan tidak lagi ada kesempatan untuk meresap ke tanah.Hal ini mendorong masyarakat untuk harus segera bergerak dan bertindak cepat dalam penyelamatan Sungai Ciliwung yang dilakukan oleh semua pemangku kepentingan, pemerintah, dunia usaha, masyarakat termasuk para penggiat lingkungan.

Hal ini senada dengan sambutan para Menteri pada saat pembukaan acara tersebut. Dari mulai Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian yang mewakili Masing-masing kementrian menjelaskan tugas dan fungsinya masing-masing dalam proses penyelamatan DAS Ciliwung mulai dari hulu sampai ke Hilir. Sedangkan Menteri Lingkungan Hidup Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, dalam sambutannya mengatakan, ““Kesadaran akan lahir apabila mempunyai impian bersama yang ingin diwujudkan. Gerakan Penyelamatan Sungai Ciliwung bersih dan tanpa sampah merupakan tantangan kita bersama. Dalam hal ini, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat haruslah memiliki semangat yang sama dan mampu melakukan kerjasama, bergotong royong saling bahu membahu melaksanakan aksi nyata untuk mewujudkan Ciliwung bersih dan tanpa sampah”.

Pada sesi pertama Dialog Interaktif Kebijakan dan Aksi Nyata Penyelamatan Sungai Ciliwung di hotel Shangrila Jakarta. Materi yang dibahas adalah Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Pencemaran Sungai Ciliwung oleh Deputi III Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, KLH, dilanjutkan Penataan Lingkungan Permukiman di Daerah Sempadan Sungai Ciliwung oleh Direktur SDA, Kementerian Pekerjaan Umum. Lalu rehabilitasi, Konservasi daerah Aliran Sungai Ciliwung Dirjen BPDAS dan Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan. Pada sesi ini ditutup dengan dialog mengenai pemanfaatan Sungai Ciliwung Untuk mendukung Ketahanan pangan oleh Dirjen Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian. Kegiatan di lapangan telah dilakukan oleh kementerian/lembaga sebagai upaya memulihkan kondisi Sungai Ciliwung dengan mengedepankan peran masyarakat. KLH bersama–sama Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai kegiatan percontohan pemulihan kualitas lingkungan DAS Ciliwung secara terpadu dengan meletakkan kualitas air sungai sebagai pemersatu kegiatan antar sector dan daerah. Kegiatan percontohan tersebut dilakukan dari hulu sampai hilir berupa pengolahan kotoran sapi menjadi biogas, septic tankkomunal, pengolahan sampah, penanaman di sempadan sungai, sumur resapan dan biopori. Lokasi percontohan terpadu tersebut sudah di implementasikan di hulu bersama-sama masyarakat sejak 2006-2012.

Pada sesi kedua berbicara mengenai Dialog Interaktif Strategi dan implementasi Aksi Nyata Penyelamatan Sungai Ciliwung Oleh Pemerintah Provinsi. Yang dibawakan oleh Gubernur DKI atau yang diwakili dan Gubernur Jawa barat atau yang mewakili. Namun upaya pemulihan kualitas lingkungannya yang telah dilakukan hingga saat ini oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, maupun masyarakat belum sebanding dengan kondisi lingkungan Sungai Ciliwung yang semakin rusak dan tercemar mulai dari hulu hingga hilir.Dalam upaya mempercepat upaya penyelamatan Sungai Ciliwung, Kementerian Lingkungan Hidup atas nama pemerintah Indonesia dan Korea sedang mempersiapkan kegiatan bersama untuk Restorasi Sungai Ciliwung yang akan dilakukan pada jangka pendek dan jangka panjang. Kegiatan restorasi sungai tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari Rencana Umum Penyelamatan Sungai Ciliwung 2010-2030.

Diakhir sesi ketiga Dialog Interaktif Aksi nyata Penyelamatan Sungai Ciliwung Oleh Masyarakat, Contoh-contoh yang dilakukan masyarakat misalnya model percontohan Gearakan Penyelamatan Ciliwung oleh Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dan Kegiatan Tim Ekspedisi Ciliwung yang dilakukan pelaku media KOMPAS.

Masyarakat perlu sama–sama meletakkan harapan pada Sungai Ciliwung di masa depan. Lingkungan Sungai Ciliwung ingin kembali memenuhi berbagai fungsi dan asri sehingga dapat terselamatkan lingkungan maupun dapat menambah atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Penghentian kerusakan lingkungan maupun pencemaran Sungai Ciliwung harus lebih ditingkatkan lagi dengan memobilisasi segenap potensi sumber daya yang dimiliki. Masyarakat perlu bersama-sama melakukan Gerakan Penyelamatan Sungai Ciliwung dengan aksi nyata untuk mengembalikan kondisi dan fungsinya seperti sediakala secara bertahap

Demikian MenLH juga mengharapkan melalui dialog interatif ini diharapkan dapat memacu, mendorong membangkitkan kesadaran, menggerakkan masyarakat untuk membangun kebersamaan, dan memobilisasi sumber daya yang tersedia pada seluruh pemangku kepentingan. Diharapkan pula, diperoleh nilai baru dan cara baru bagaimana mencari alternatif solusi dan inovasi yang harus dilakukan dalam upaya penyelamatan Sungai Ciliwung.(Ry)

UntukInformasiLebihLanjut:

Ir. Arief Yuwono, MA, Deputi MenLH Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup, Telp. 021 – 85904923, Fax. 021 – 8517148, email: humas.klh@gmail.com

Kementerian LH gandeng Korsel selamatkan Ciliwung 

Sumber: http://www.antaranews.com/ 18 April 2012 

Jakarta (ANTARA News) – Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia menggandeng sejumlah pakar asal Korea Selatan untuk bekerja sama dalam upaya penyelamatan Sungai Ciliwung.

“Kami harus belajar dari negara lain tentang program pemulihan kondisi sungai karena mereka terbukti telah berhasil melakukannya,” kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Baltashar Kambuaya dalam Dialog Interaktif Penyelamatan Sungai Ciliwung di Jakarta, Rabu.

Sejumlah pakar manajemen sungai dari Kementerian Lingkungan Hidup Korsel turut diundang Kementerian LH dalam acara tersebut setelah sebelumnya dilakukan penandatangan nota kesepahaman tentang rencana aksi penyelamatan terhadap Sungai Ciliwung.

“Mereka akan melakukan penelusuran sungai dari hulu ke hilir, kami juga akan meminta masukan terkait program yang selama ini kami jalankan,” kata Baltashar kepada para wartawan.

Menurut Baltashar, keberhasilan pemerintah Korea Selatan dalam melakukan manajemen lingkungan sungai patut dijadikan contoh sehingga dapat menularkan semangat kepedulian yang sama terhadap sungai-sungai yang tercemar di Indonesia.

Kerja sama teknis itu, kata Baltashar, akan bersifat hibah dari pemerintah Korsel, sementara Kementerian LH akan tetap memegang peranan di lapangan dengan masukan-masukan para ahli asal negeri ginseng itu.

Dalam Rencana Umum Pemulihan Kualitas Lingkungan Sungai Ciliwung 2010–2030 diperkirakan butuh dana sekitar Rp5,7 triliun guna mendukung program tersebut selama jangka waktu 20 tahun.

Dana tersebut diproyeksikan bagi program pengendalian pencemaran air dan pengendalian kerusakan lingkungan seperti pembangunan WC komunal, pengelolaan sampah, fasilitas biogas, sumur resapan, rehabilitasi lahan, dan pembangunan dam (bendungan).

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan tingkat pencemaran Sungai Ciliwung cukup parah mencapai 360 m3 sampah per hari dari limbah domestik sekitar 272.000 jiwa yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang menjadi salah satu ikon Jakarta tersebut.

“Hasil kajian kualitas air Ciliwung memperlihatkan masih banyak pembuangan limbah dan sampah di 45 titik yang tersebar di 15 kelurahan dengan volume mencapai 360 m3 per hari. Namun, proses pengangkutan sampah itu baru bisa dilakukan di pintu air Manggarai,” katanya pada Februari lalu. (T.P012/N002)

BANJIR JAKARTA: Kementerian PU bangun 2 pintu air baru 

Oleh Dewi Andriani

Sumber: http://www.bisnis.com/  18 April 2012 

JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan anggaran sebesar Rp15 miliar pada tahun ini untuk membangun dua daun pintu air tambahan masing-masing di Karet dan Manggarai.

Direktur Sungai dan Pantai Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandria mengatakan proyek tersebut merupakan salah satu dari sembilan program Solution For Ciliwung yang dicanangkan oleh Kementerian PU guna mengatasi pengendalian banjir di Kali Ciliwung.

“Ada sembilan program Total Solution For Ciliwung, tapi untuk yang quick win akan dibangun masing-masing tambahan daun pintu air Manggarai dan Karet yang masih belum berubah sejak jaman Belanda,” ujarnya di sela acara Dialog Interaktif Aksi Penyelamatan Sungai Ciliwung hari ini.

Bastari, Kepala Bidang Pelaksanaan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, menjelaskan melalui tambahan daun pintu tersebut debit air yang mengalir dari Sungai Ciliwung akan semakin besar sehingga dapat menurunkan secara cepat banjir yang terjadi akibat luapan kali Ciliwung.

Misalnya saja untuk di Manggarai, daun pintu air bertambah dari dua menjadi tiga sehingga dapat menambah aliran debit air dari 350 meter kubik menjadi 500 meter kubik. Sementara dengan penambahan pintu air di Karet dari empat menjadi lima akan menambah aliran debit air dari 500 meter kubik menjadi 700 meter kubik.

Saat ini PU masih menunggu ijin kontrak proyek multiyears dari Kementerian Keuangan sebelum melaksanakan proses tender. Ditargetkan pertengahan tahun ini sudah penandatanganan kontrak dan dilanjutkan dengan pengerjaan.

“Mudahan-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kontrak. Pelaksanaan sekitar 2 tahun sehingga diharapkan 2014 sudah terbangun,” tuturnya.

Bastari menjelaskan proyek penambahan pintu air ini merupakan proyek di hilir yang tentu saja harus diimbangi dengan proyek dihulu yakni optimalisasi Banjir Kanal Barat dan normalisasi kali Ciliwung sebagai satu kesatuan proyek dengan total anggaran keseluruhan mencapai Rp400 miliar hingga 2014.

Pasalnya, ketika debit air yang mengalir sudah besar, maka BKB harus dioptimalisasi dan kali Ciliwung harus dinormalisasi sehingga ketika debit air dibuka, tidak akan meluap.

“Tahun ini anggarakan Rp15 miliar untuk pembangunan dua daun pintu air, tapi secara keseluruhan anggaran yang dibutuhkan Rp400 miliar termasuk proyek di Ciliwung lama dan optimalisasi BKB,” tuturnya.

Untuk pelaksanaan proyek normalisasi di kali Ciliwung, pemerintah akan mendahului merelokasi masyarakat yang tinggal di sempadan Ciliwung ke rumah susun sewa (rusunawa) dengan pendanaan dari pemerintah.

“Masyarakat akan dipindahkan dulu ke rusunawa yang pada tahun pertama penempatan tidak dikenakan biaya sewa. Setelah dipindahkan, baru dilakukan normalisasi sungai sehingga tidak ada penggusuran.” (sut)

Benahi Sungai Ciliwung, Kementerian Lingkungan Hidup Gandeng Korsel 

Ray Jordan – detikNews

Sumber: http://news.detik.com/ 18 April 2012 

Jakarta Kondisi sungai Ciliwung yang memprihatinkan, ternyata juga menyita perhatian dari delegasi Korea Selatan. Karenanya Kementerian Lingkungan Hidup akan bekerjasama dengan delegasi dari Korea Selatan dalam upaya pembenahan sungai Ciliwung.

Upaya pembenahan ini juga menyertakan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan.

“Kita akan bekerjasama dengan delegasi dari Korea Selatan untuk penanganan sungai Ciliwung ini. Mereka memberi perhatian secara khusus dan serius. Kita harap mereka bisa membantu,” ujar Menteri Lingkungan Hidup, Balthazar Kambuaya dalam dialog interaktif “Aksi Penyelamatan Sungai Ciliwung” di Hotel Shangri La Jakarta, Rabu (18/4/2012).

Kambuaya mengatakan, kementeriannya telah menandatangani nota kesepahaman dengan delegasi dari negeri gingseng tersebut. “Kita sudah menandatangani MOU dengan mereka selama 5 tahun,” jelasnya.

Kambuaya mengatakan Korsel sudah memberikan bantuan berupa hibah dan panduan dari para profesionalnya. “Ini dalam bentuk hibah dan bantuan dari expert berupa pengarahan,” jelasnya.

Meski demikian, Kambuaya mengatakan pemerintah tidak akan menyerahkan sepenuhnya penanganan sungai sepanjang 117 km ini ke Korsel. “Kita juga tidak akan biarkan mereka yang mengambil alih semua pekerjaan ini. Karena, pembenahan sungai Ciliwung ini terbagi dalam beberapa segmen, jadi nanti kita akan berkoordinasi dengan setiap lembaga yang terlibat terkait dengan segmen-segmen tersebut. Termasuk dengan kementerian terkait,” katanya.

“Pihak Korea Selatan besok akan menyusuri sungai Ciliwung ini. Kita akan lihat nanti bagaimana laporan mereka, karena mereka berpengalaman dalam memanajemen sungai. Jadi kita harap agar Korea Selatan bisa membantu kita, entah itu sistemnya atau yang lain. Kemudian kita juga akaan beri tahu apa saja yang sudah kita kerjakan terkait pembenahan sungai Ciliwung ini,” terang dia.

Seperti diketahui, Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang membentang dari Kabupaten Bogor hingga Provinsi DKI Jakarta, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Kualitas DAS Ciliwung ini sudah mengalami pencemaran tingkat tinggi, mulai itu dari limbah domestik, limbah indsustri dan erosi tanah.

Padahal Sungai Ciliwung ini merupakan sungai yang jernih dari jaman jajahan Belanda di tahun 1631. Tempo dulu mulai dari Harmoni sungai Ciliwung ddapat dilayari. Nelayaan di Muara Angke masih memanen ikan dengan mudah. Namun, sejak tahun 1800an, Jakarta telah mengalami banjir, sehingga dibuatlah bendungan Katulampa di Bogor.

Tercemar Berat, Sungai Ciliwung Ditargetkan Pulih 2030

Sumber:  http://www.republika.co.id/ 18 April 2012

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Pemerintah ingin lebih serius menangani pencemaran di Sungai Ciliwung. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama intansi terkait menyusun rencana pemulihan Sungai Ciliwung untuk kurun waktu 20 tahun (2010-2030).

KLH menargetkan bahwa pemulihan kondisi sungai akan selesai pada 2030. Sungai Ciliwung merupakan salah satu dari tiga belas sungai prioritas nasional 2010-2014.

Berdasarkan data dari KLH, kondisi sungai tersebut telah mengalami penurunan tutupan hutan di wilayah DAS. Sebanyak 68% lahan aliran sungai ini telah menjadi perumahan.

Kini sungai tersebut juga dalam kondisi tercemar berat dari hulu sampai hilir. Selain itu, daerah tersebut juga sering banjir karena semua air hujan yang ada menjadi air permukaan. Tidak ada lagi air yang meresap ke tanah.

Kurangnya resapan air ini disebabkan penggundulan hutan serta pembuangan sampah di sungai oleh masyarakat sekitar. Tiga sumber pencemar utama di Ciliwung berasal dari limbah domestik, industri dan peternakan.

Prof. Balthasar Kambuaya, menteri lingkungan hidup mengatakan bahwa gerakan penyelamatan Sungai yang menjadi maskot Jakarta ini untuk bersih dan tanpa sampah harus terus dilakukan.

“Dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat haruslah memiliki semangat yang sama dan saling bekerjasama untuk melaksanakan aksi nyata mewujudkan Ciliwung bersih tanpa sampah” ujarnya pada (18/4).

Rencana umum pengendalian pencemaran Sungai Ciliwung periode 2010-2030 bertujuan menurunkan beban pencemaran dari ketiga sumber pencemaran secara bertahap. Kegiatan yang akan dilakukan adalah pembuatan saluran penyaring/peredam air limbah rumah tangga di sepanjang sungai, instansi pengolahan air limbah pemukiman, septic tank dan instansi gas bio.

Sementara itu rencana pengendalian kerusakan lingkungan diarahkan untuk peningkatan resapan air dan rehabilitasi lahan. Caranya adalah dengan reboisasi, agroforiesti, penghijauan, pembuatan dam penahan, juga pembuatan sistem resapan biopori, penertiban sempadan dan bantaran sungai. Biaya untuk pemulihan ciliwung ini rencananya akan menghabiskan lebih dari 5 triliun rupiah.

550 Kg Sampah Diangkut dari Kali Ciliwung

Sumber:  http://www.beritajakarta.com/29 April 2012

Dengan semangat, puluhan warga yang berasal dari Pejatentimur dan Pasarminggu, Jakarta Selatan tampak berlomba-lomba mengumpulkan sampah di aliran Kali Ciliwung. Ratusan kilogram sampah berhasil diangkat oleh warga untuk kemudian diangkut menuju tempat pembuangan sampah.

“Ini salah satu langkah untuk menyadarkan warga agar bisa menjaga kebersihan lingkungan di aliran Kali Ciliwung,” ujar Sukesti Martono, Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta, saat menghadiri Peringatan Hari Air Sedunia Ke-20 yang diselenggarakan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (DKI) Jakarta, Minggu (29/4).

Dari pembersihan sampah yang dilombakan tersebut, berhasil mengangkat sampah sebanyak 550 kilogram. Ini membuktikan, aliran Kali Ciliwung yang membelah kota Jakarta masih belum steril dari sampah.

Dikatakan Sukesti, meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan disegala bidang tentu akan menambah jumlah pemanfaatan air. Namun begitu jumlah air tawar yang ada didunia sangat sedikit dibandingkan dengan air asin. “Air tawar tidak lebih dari 2,7 persen, dan yang bisa dikonsumsi dari jumlah itu hanya 0,003 persen. Untuk itu, seharusnya masyarakat bisa menjaga kualitas air tanah, terutama di Jakarta,” katanya.

Sesuai Pergub No 68 Tahun 2005 tentang Perubahan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 115/2001 tentang Pembuatan Sumur Resapan dan Proses Daur Ulang Air Limbah harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. “Kita bisa membuat lubang resapan biopori, sumur resapan, dan kolam resapan. Inilah beberapa langkah yang bisa kita ambil selain jangan membuang sampah sembarangan,” kata Sukesti.

Sementara itu, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Jakarta Selatan, Yusiono Anwar mengatakan, di wilayahnya dari 17 titik pembuangan sampah dibantaran sungai telah ditutup 4 titik antara lain di daerah Rawajati, Cikoko, Pejatentimur, serta Pengadegan. Untuk melakukan hal itu, diperlukan proses yang cukup panjang. “Kali Ciliwung melewati 5 kecamatan, 13 kelurahan, dan 45 RW di Jakarta Selatan. Ini bukan hanya proses menutup, harus dibuat pola yang baik agar jangan malah mereka membuang langsung ke kali,” ujarnya.

Dalam acara itu, bukan hanya lomba mengumpulkan sampah saja yang diselenggarakan, tetapi ada juga penanaman seribu bibit pohon pucung, dan wisata aliran Kali Ciliwung dengan menggunakan perahu.

Satu Jam, Setengah Ton Sampah Terkumpul dari Ciliwung

Angkasa Yudhistira – Okezone

Sumber:http://jakarta.okezone.com/  29 April 2012  

JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama perusahaan swasta di Jakarta bekerjasama melakukan edukasi kepada masyarakat yang tinggal di bantaran kali Ciliwung, Kemuning Dalam I Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kegiatan tersebut menindaklanjuti hari air sedunia yang jatuh pada Maret 2012 lalu.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD), Muhammad Tauhid mengatakan, kegiatan ini diharapakn membuka mata para pengusaha dan juga masyarakat pentingnya air bersih.

“Diharapkan masyarakat dan dunia usaha semakin memahami dan terlibat penuh dalam konservasi air melalui pembuatan lubang bipori, sumur resapan, kolam resapan dan proses daur ulang limbah di daerah aliran sungai Ciliwung,” kata Tauhid kepada wartawan, Minggu (29/4/2012).

Masyarakat juga dalam kesempatan itu diberikan kesempatan untuk membersihkan sampah di bantaran kali Ciliwung.

Dalam kegiatan yang dikemas dalam bentuk lomba itu, peserta berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 529,5 kg sampah dalam waktu satu jam.

Lokasi lomba dimulai dari jalan Mesjid Al-Makmuriah Rt. 16/ 07 dan finish di Jalan Kemuning Dalam I Rt. 11/06, Kel. Pejaten Timur Kec. Pasar minggu, Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, PT. Astra Internasional menyumbang seribu pohon secara simbolis yang diterima kemudian ditanam di bantaran kali oleh Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Sukesti Martono. (amr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: