Salak Condet

Abdul Kodir:  Selamatkan Salak Condet Segera!

Tabloid Nyata,  edisi 1908 

Sumber: http://merahituindah.wordpress.com/ 17 Januari 2008  

Salak Condet (Salacca edulis cainato) di kebun Komunitas Ciliwung Condet. (dok. KCC 2008)

Spanduk bertuliskan Hutan Pertahanan Akhir Negara yang dibentangkan di tembok rumah penduduk tampak lusuh. Sebuah tanaman rambat menutupi sedikit tulisan itu.

Di atas spanduk itu, tertancap potongan kayu bertuliskan Selamatkan yang Tersisa !!! Sedangkan di bawah spanduk, terbentang sebuah bendera merah putih yang warnanya sudah pendar.

Di samping kiri spanduk, berdiri sebuah green house. Bentuk bangunan ini agak tidak terurus. Dinding yang terbuat dari kain kasa hijau banyak berlobang di sana sini. Plastik polykarbonat yang digunakan untuk atap pun sudah beberapa yang rusak.

Begitu masuk melalui pintu, langsung terlihat sebuah spanduk bertuliskan Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung yang dibentangkan di antara tiang besi penyangga bangunan. Spanduk ini pun sudah tampak lusuh.

Di dalam bangunan itu, keadaannya tampak tidak tertata. Kursi dan meja kayu sederhana diletakkan di tengah lantai tanah. Rak-rak kayu yang ditempel menutupi dinding sebelah kiri dipenuhi kotak-kotak dari kayu yang letaknya tak beraturan.

Di dinding kanan, tertempel peta daerah konservasi Indonesia. Di sampingnya, ditempel foto-foto tanaman lokal Condet yang sudah buram. Di samping kanan pintu, sebuah whiteboard tergantung.

Sederhana dan cenderung apa adanya. Itulah markas Wahana Komunitas Lingkungan Hidup (WKLH). Tapi jangan salah. Meski markasnya biasa saja, namun komunitas ini sangatlah luar biasa.

Komunitas ini tak pernah berhenti untuk melestarikan lahan hijau di wilayah Condet, Jakarta Timur. Lahan hijau yang semakin lama semakin habis digantikan perumahan.

Hanya berbekal semangat baja, komunitas ini mengupayakan bantaran Sungai Ciliwung yang membelah daerah Condet menjadi kawasan hutan kecil. Memang belum semuanya, tapi di beberapa titik sepanjang Sungai Ciliwung, tampak banyak pohon berdiri kokoh.

Yang layak diacungi jempol dari sepak terjang komunitas ini adalah penyelamatannya terhadap Salak Condet (Salacca Zalacca). Salah satu jenis tanaman buah yang hampir punah keberadaannya di daerah Condet.

Padahal dulu, daerah Condet sangatlah terkenal dengan hasil buah-buahan terutama Salak dan juga buah duku (Lancium).

Menurut Abdul Kodir (41), salah satu penggagas WKLH, saat ini hanya tinggal 20 % lahan di daerah Balekambang yang ditanami Salak. Di dua kelurahan yang lain, Kampung Tengah dan Batu Ampar malah hanya tinggal segelintir orang yang mempunyai pohon Salak.

Bersama Elang Bondol, Salak Condet menjadi maskot Jakarta dan TransJakarta. Bahkan, keduanya juga menjadi lambang Jakarta Timur. Patungnya pun tegak berdiri di perbatasan Jakarta Timur – Bekasi.

“Sayangnya, kepunahannya sudah mulai ada. Dan tidak ada upaya konstruktif untuk ke sana, baik itu dari LSM atau pemerintah, semuanya tidak mempedulikannya. Makanya ada kemungkina besar akan punah,” ujar Abdul Kodir saat ditemui di markas WKLH, Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Rabu (16/1) lalu.

Yang lebih menyedihkan, kini tidak ada lagi, penjual salak yang menjajakan dagangannya di pinggiran Jalan Raya Condet. “Padahal keistimewaannya banyak macemnya,” ucap Abdul Kodir.

Sambil menghisap rokok kreteknya, ingatan lelaki yang megaku bekerja serabutan ini melayang pada saat dirinya kecil. Waktu di mana, daerah Condet masih asri dan teduh. Pohon-pohon besar tumbuh di mana-mana.

“Condet itu kalau seusia saya sekolah sekitar tahun 80-an sangatlah teduh. Setiap saya pergi sekolah itu kanan kiri ya pohon salak. Kebun semua. Bukan hanya salak aja. Istilahnya tumpang sari ya. Ada pohon duku, pucung, melinjo dan banyak lagi,” kenang Abdul Kodir.

Lelaki asli Condet ini menuturkan, setiap pulang sekolah, ia bersama teman-temannya selelu memetik salak langsung dari pohonnya. Abdul Kodir kecil pun bisa bermain-main di antara pohon duku atau pucung. “Saya bahkan bisa naik akar-akar pohon yang banyak tumbuh di sini,” ucap Abdul Kodir.

Saat siang hari yang terik, ia bersama teman-temannya bisa berenang di Sungai Ciliwung yang masih jernih. Ia bisa puas bermain air tanpa takut gatal-gatal.

“Dulu, airnya sangat jernih. Habis makan salak kita biasanya main air di sungai. Bahkan, sungai ini dulu banyak batunya. Jadi banyak yang mandi dan mencuci,” kata Abdul Kodir.

Namun, kenangan itu tinggalah kenangan. Kondisi Condet dahulu lain dengan Condet sekarang. Banyak lahan yang dulu diperuntukkan untuk kebun berganti dengan rumah-rumah.

“Sekarang kalau saya jalan ke luar rumah, kana kirinya sudah rumah semua. Kebun salak sudah minim. Terlebih lagi, Sungai Ciliwung sudah dipenuhi sampah dan airnya pun sudah cokelat,” kata Abdul Kodir.

“Kalau dibiarin dengan kondisi ini, Condet tak jauh beda dengan kota Jakarta lain. Yang banyak perumahan, banyak pemukiman. Condet mempunyai kekhasan tersendiri, dimana tanamannya agak spesifik. Seperti tanaman buah duku dan salak,” jelas Abdul Kodir yang lahir pada 10 September 1967 ini.

“Sekarang ini tanaman yang asli Condet sudah jarang. Malah hampir tidak ada. Yang ada bukan lokal asli. Kalau tanaman umurnya di atas 50 tahun, kemungkina sifat lokalnya masih ada. Yang sudah tidak ada di Condet adalah duren. Salak menyusul,” jelas Abdul Kodir.

Lahan hijau di daerah Condet hanyalah berada di bantaran Sungai Ciliwung. Itupun hanya tersisa sekitar 20%. “Itu pun sudah terpetak-petak. Ada yang hanya 100 m2 atau 200 m2. Kalau dulu kan hamparan. Tidak ada tembok. Batas rumah hanya tanaman,” jelas Abdul Kodir.

Laki-laki yang mengaku masih bujangan ini merasa miris bahwa di masa datang, anak-anak Condet tidak akan tahu bagaimana rasa Salak Condet atau Duku Condet. “Itu lumayan. Nah, kalau anak-anak tidak tahu bentuk pohon salak. Itu kan parah,” terang Abdul Kodir.

Oleh karena itu, Abdul Kodir dibantu teman-temannya berusaha untuk menyelamatkan Salak Condet. Sekitar tahun 1995, Abdul Kodir mengawali dengan merevitalisasi lahan milik orangtuanya seluas kurang lebih 7000 m2.

“Saya tidak mempunyai alasan prinsip yang khusus. Karena yang saya lakukan ini juga dilakukan oleh teman-teman lain. Saya lahir di sini dan tahu kondisi perkembangan di sini. Karena apa yang rasa dan yang saya alami itu sudah banyak perubahan. Dulu jalan keluar aja takut, masih banyak monyet. Pohonnya masih rindang. Kalau sekarang udah tidak ada,” ujar Abdul Kodir.

Lahan yang terletak di bantaran Sungai Ciliwung itu, ia sulap menjadi sebuah perkebunan kecil. Lahan itu ia tanami salak, duku, pucung, gandaria, pisang maupun tanaman rambat.

Dengan sedikit pengetahuannya di bidang pertanian, Abdul Kodir berhasil melakukan budidaya 10 dari 15 varietas Salak Condet. Itu ia lakukan dengan bantuan teman-temannya para pemuda asli Condet.

Budidaya itu bisa dilihat di kebunnya, 10 varietas Salak Condet itu sudah mulai berbuah. Dilihat dari kualitas, Salak Condet tidak jauh dari Salak Pondoh.

Karena hanya dilakukan secara swadaya, perjuangan Abdul Kodir bersama teman-temannya banyak menemui kendala. “Saat itu, kami tidak mempunyai tempat untuk pembibitan,” kenang Abdul Kodir.

Sampai suatu ketika, perjuangannya mulai dikenal oleh masyarakat. Abdul Kodir pun mendapatkan hibah dana untuk pembangunan green house sebagai tempat pembibitan.

Tak hanya itu, Dinas Pertanian DKI Jakarta pun memberikan bantuan material untuk usaha pembibitan. “Tapi itu dulu. Sekarang hampir tidak ada. Saya tidak mengerti kenapa,” ujar Abdul Kodir.

Tapi Abdul Kodir terus berjuang. Ia tidak peduli meski tidak ada yang membantunya. Abdul Kodir yakin usahanya melestarikan Salak Condet akan berhasil.

“Kita sistemnya kerja bakti. Setiap minggu melakukan penggarapan di lahan yang berbeda. Sedikit demi sedikit pasti akan berhasil,” terang Abdul Kodir.

Ada yang menentang? “Kayaknya kalau bicara masalah lingkungan itu tidak ada yang nentang. Semuanya teriak peduli. Tapi pada kenyataannya lingkungan tetap aja rusak. Tidak semuanya disertai tindakan,” ucap Abdul Kodir.

Tanah leluhurnya itu kini sudah sangat rimbun. Hampir tidak ada sinar matahari yang menyentuh tanah. Padahal, di luar cuaca sangatlah panas. “Mending kan di sini. Adem, tidak panas seperti di luar,” ungkapnya bangga.

Tak hanya rimbun, di antara pohon-pohon salak itu, banyak beterbangan capung yang juag sudah sulit ditemui di Jakarta. “Kadang-kadang ada burung atau tupai,” kata Abdul Kodir.

Berbagai usaha untuk mengkampanyekan program tanam pohon dilakukannya. Salah satunya dengan membentuk program Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.

Program ini mengajak anak-anak sekolah untuk lebih mencintai tanaman. Khususnya mencintai tanaman Salak dan Duku Condet. Di lahan milik Abdul Kodir dijadikan semacam outbound training.

Sayangnya, program itu kini tidak terorganisir dengan baik. Sisa-sisa flying fox masih terlihat. Beberapa potongan kayu-kayu persegi panjang yang dulunya dipakai untuk tangga menuju atas pohon masih menempel di batang pohon.

“Kurang dana. Kita masih mengupayakan untuk menjadikan wisata itu hidup lagi. Ini yang sulit, sangat sulit untuk mencari yang peduli. Tapi kita tidak akan menyerah,” ujar Abdul Kodir mantab.

Banjir Besar

Hari menjelang senja, Abdul Kodir masih bercerita. Rokok kretek itu dihisapnya dengan cepat. Keluk asap yang dihembuskannya langsung lenyap ditelan angin.

Ceritanya sampai pada suatu peristiwa yang sempat membuat hatinya terguncang. Sebuah peristiwa yang membuat dirinya menangis. Itu terjadi pada tahun 1996, di mana sebuah banjir besar melanda Jakarta. Condet pun tak luput dari musibah besar itu.

Bantaran Sungai Ciliwung yang melintasi daerah Condet dilibas banjir setinggi dua meter. Hasil jerih payahnya dan juga teman-temannya yang sudah dirintis mereka selama bertahun-tahun terkena imbasnya.

Berbagai tanaman baik buah-buahan maupun perdu yang ditanam Abdul Kodir bersama teman-temannya di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung rusak diterjang banjir.

“Banjir itu sudah menghilangkan jerih payah kami. Habis semua itu. Tanamannya tumbang tertimpa lumpur sama sampah. Hati ini sangat nyesek melihatnya. Semuanya lenyap hanya dalam beberapa menit. Padahal sepanjang bantaran sudah kami tanami sebanyak 60%,” terang Abdul Kodir yang mimiknya berubah sedih.

Masalah banjir, menurut Abdul Kodir memang tidak bisa dipisahkan dari penghijauan yang dilakukannya di bantaran Sungai Ciliwung. Abdul Kodir sendiri mencatat telah tiga kali mengalami musibah ini.

“Tahun 1996, tahun 2002 dan tahun 2007. Tapi tidak ada yang mengalahkan perihnya banjir tahun 1996. di dua tahun itu, tanaman salak sudah tidak sebanyak tahun 1996,” ungkap Abdul Kodir.

Dikatakan Abdul Kodir, selain banjir, ada satu hal yang membuat lahan untuk Salak Condet semakin tersisih adalah perkembangan perumahan.

“Lahan yang ada ini kan kebanyakan punya keluarga. Suatu saat kan ada warisan, jual beli. Itu kan repot. Okelah kita tanam dari sekarang. Taruhlah nanti 5 tahun ke depan kita mau bikin rumah. Karena kita tidak mampu beli. Maka lahan yang ada kita gunakan. Itu gimana?” kata Abdul Kodir.

Perkembangan inilah, yang membuat Abdul Kodir kuatir perjuangannya bersama teman-temannya akan segera usai seperti halnya Salak Condet yang mungkin punah.

“Masih kuatir karena pertambahan penduduk semakin pesat. Istilah nilai ekonomi tanah berbeda. Ini ibukota lho. Pertambahan penduduk dari luar, bahkan masyarakat Condet sendiri beranak-pinak. Itu semua membutuhkan lahan. Membutuhkan tempat tinggal. Tidak menutup kemungkinan lahan itu akan habis,” ujar Abdul Kodir.

Lantas apa yang sebaiknya dilakukan? “Yang pertama ya habitatnya harus diselamatkan dulu. Areal khususnya yang terhindar dari ancaman perumahan dan juga banjir. Harus diprotect khusus tidak bisa diganggu gugat,” ucap Abdul Kodir.

“Saya harap pemerintah punya action. Hanya pemerintah yang bisa. Pemerintah punya program yang konstruktif untuk menanggulangi permasalahan-permasalahan ini. Ini yang belum ada,” imbuh Abdul Kodir.

Yang lebih membuat Abdul Kodir heran, dari tahun 1974 sejak daerah Condet diresmikan Ali sadikin, gubernur Jakarta waktu itu menjadi sebuah cagar budaya, malah tidak ada penangganan yang khusus soal kelangsungan Salak Condet.

“Lembaga yang menangani lingkungan kan banyak. Organisasi lingkungan banyak. Masak tidak ada yang peduli dengan Salak Condet. Sejak tahun 1974 lho. Aneh kan?” ucapnya penuh keheranan.

Memang perjuangan Abdul Kodir belum selesai. Ia masih mempunyai impian. Sebuah impian tentang kembalinya kejayaan Salak Condet. Mimpi yang mungkin masih panjang, tanpa adanya peran serta pemerintah untuk melestarikannya.

“Saya ingin, kami ingin Condet menjadi daerah seperti saya kecil. Penuh dengan pohon dan juga penghasil salak dan duku. Sebutan Salak Condet bukan hanya sebatas sebutan tapi ada daerah penghasilnya,” kata Abdul Kodir sambil mematikan rokoknya. /// (dipublikasikan di Tabloid Nyata edisi 1908)

SALAK CONDET

Oleh: Abdul Kodir

Sumber:  http://ciliwungcondet.wordpress.com/30 September 2010 

Salak Condet (Salacca edulis cainato) di kebun Komunitas Ciliwung Condet. (dok. KCC 2008)

Pohon salak merupakan bagian dari family palmae selain pohon kelapa, palem, kelapa sawit, kurma. Penuh duri pada pelepah batangnya, berduri halus pada kulit buahnya yang kehitaman atau kecoklatan, berbiji tunggal dan memiliki aroma buah yang khas.

Pohon salak merupakan tanaman berakar serabut dan perakarannya cukup dangkal (+ satu meter pada permukaan tanah). Tanaman ini ada yang berkelamin jantan dan betina dan hanya pohon betina yang menghasilkan buah. Dari segi rasa dan warna kulitnya, salak condet memiliki paling sedikit 10 macam (verietas). Mulai dari rasanya yang kecut dan nyangkut di tenggorokan, renyah, banyak airnya, manis masir, masir kecut dan yang paling super (kurannya besar, daging buahnya tebal dan manis masir) dan lain-lain.

Sampai saat ini, budidaya tanaman salak di Condet masih dilakukan secara tradisional. Artinya penggunaan teknologi seperti pemupukan, penyemprotan kimia sangat jarang dilakukan. Apalagi penerapan teknik kultur jaringan. Nutrisi makanan tanaman ini diberikan melalui proses alami. Yaitu pemberian humus dan sisa pembakaran daun atau kayu. Pemberian nutrisi alami ini biasanya bersamaan dengan saat datangnya musim duku yang terjadi hanya satu kali tiap tahun. Pada saat itu aktivitas masyarakat di kebun meningkat. Mulai dari memperbaiki pagar kebun, membersihkan sampah daun dan ranting-ranting kayu kering sampai kemudian membakarnya saat sore dan malam hari.

Asap pembakaran berfungsi untuk mengusir hama pengancam buah. Sedangkan abu hasil pembakaran menjadi pupuk alami buat seisi kebun termasuk pohon salak. Ini menandakan bahwa sistim pertanian di daerah ini masih organik sifatnya. Dan konon ‘ritual’ perawatan kebun seperti ini diyakini dapat melindungi galur murni alias kekhasan sifat tanaman.

Di Condet dalam satu areal perkebunan, tanaman salak tumbuh bercampur dengan tanaman jenis lainya, seperti duku, kecapi, melinjo, pucung dan lain-lain yang berfungsi sebagai naungan.

Pohonan salak, tanaman ekonomis. (dok. KCC 2008)

Tanaman salak adalah tanaman yang sangat ekonomis. Paling tidak tanaman ini cuma membutuhkan waktu hanya 5 tahun setelah ditanam untuk dapat berbuah. Seterusnya dapat dipanen tiga kali dalam setahun. Untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas, kelembaban tanah dan pemberian pupuk humus perlu mendapat perhatian lebih.

Pohon salak adalah tanaman berbunga tunggal. Artinya membutuhkan penyerbukan. Maka yang perlu diperhatikan adalah rasio antara pohon salak jantan dan betina. Minimal 1:10. Rasio ini demi menjaga produktivitas tinggi serta penyebaran pohon pejantannya.

Bibit salak, upaya menjamin kelestarian salak condet. (dok KCC 2010)

Pohon salak dapat berumur ratusan tahun. Tak heran bila sebagian besar pohon salak yang masih tersisa saat ini di Condet, merupakan pohon induk (galur murni) yang sudah ada sejak zaman dahulu. Diperlukan penulusuran lebih lanjut tentang awal keberadaan tanaman salak di Condet dan asal muasalnya.

Menurut data, sampai 1978 jumlah tanaman salak induk di Kelurahan Balekambang sebanyak 1.656.600 pohon dengan areal perkebunan seluas 133,8 Ha. Saat ini di daerah tersebut jumlah tanaman ini tidak lebih dari 10.000 pohon. . (Abdul Kodir-dari berbagai sumber)

Salak Condet, Maskot Yang Bertahan di Benteng Terakhir Bantaran Ciliwung Condet

Oleh: Sudirman Asun

Sumber: http://green.kompasiana.com/  28 April 2011 

Maskot Jakarta (Foto:  http://www.promolagi.com/)

Apakah anda warga Jakarta, jika iya tahukah anda asal-usul maskot kota Jakarta?

Dari 9,5 juta penduduk Jakarta, saya yakin hanya sebagiaan kecil saja yang mengenal maskot Jakarta yaitu Elang Bondol yang berpasangan dengan Salak Condet .

Loch kok buah Salak..?, emangnya Jakarta punya lahan Salak…? Itulah yang terpikir saya ketika sering melihat maskot ini berdiri gagah di tugu perbatasan wilayah Jakarta, maupun yang tercetak pada bus Trans Jakarta.

Tapi setelah bermain di Ciliwung dan bertemu dengan sosok bang Kodir Condet, barulah saya mengerti asal muasal maskot salak tersebut.

Taman Keaneka ragaman Hayati Sungai Ciliwung Condet
Many Species, One Planet, One Future

Hijau dan asri, itulah yg pertama kita rasakan ketika kita berkunjung ke tempat Komunitas Ciliwung Condet, selain slogan diatas yg ditulis diatas foto besar daerah tersebut hancur luluh lantak ketika banjir besar siklus 5 tahunan.

Hamparan kebun salak salak Condet berhimpit dengan rimbunan aneka ragam tanaman keras, mulai dari pohon Pucung, Duku, Nangka, Rambutan, Melinjo dan tanaman lokal lainnya.

Salak Condet berasa manis dengan sedikit nuansa asam. Daging buah yang agak besar memberi cita rasa tersendiri dibandingkan salak Pondoh ataupun salak Bali. Buah yang sudah tua biasanya akan menjadi lebih masir. Masir itu suatu keadaan ketika daging buah salak lebih lengket pada bijinya. Pada kondisi ini salak terasa lebih manis.

Duku adalah salah satu buah yang menjadi maskot Condet di samping salak. Pesaing duku Condet adalah duku Palembang. Duku Condet punya rasa lebih manis dibandingkan duku Palembang. Tak heran bila banyak orang menyukai duku Condet.

Kawasan Condet aslinya merupakan kawasan Cagar Budaya mencakup lahan seluas 18.228 hektar yang meliputi Kelurahan Batu Ampar, Kelurahan Bale Kambang, dan Kelurahan Kampung Tengah, oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin sejak tahun 1976 dengan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-115/E/3/1974. Sementara untuk melindungi buah-buahan duku dan salak yang khas Condet dikeluarkan Keputusan Nomor D.1-70903/a/30/1975. Penetapan Condet sebagai cagar budaya bertujuan untuk:

a. mempertahankan dan memulihkan keaslian lingkungan dan bangunan yang mengandung nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan

b. melindungi dan memelihara lingkungan dan bangunan cagar budaya dan kemusnahan baik karena tindakan manusia maupun proses alam

c. mewujudkan lingkungan dan bangunan cagar budaya sebagai kekayaan budaya untuk dikelola, dikembangkan dan dimanfaatkan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya untuk kepentingan pembangunan dan citra positif kota Jakarta , sebagai Ibukota Negara, Kota Jasa dan tujuan wisata.

Namun Cagar Budaya Kawasan Condet juga bernasib sama seperti Cagar-Cagar Budaya lainnya di Jakarta seperti Kawasan Kota Tua, Kawasan Kepulauan Seribu, maupun tempat lainya. Merana dan tidak terurus, status Cagar Budaya yang seharusnya bermanfaat bagi warga Condet berakhir seperti sebuah kutukan, karena warga selalu mendapatkan kesulitan dalam perizinan membangun wilayahnya.

Kini daerah konservasi tersebut hanya tinggal tersisa 20% yang dapat bertahan, dan terdesak habis hampir ke ujung bantaran sungai Ciliwung.

Dalam perbincangan itu Bang Kodir menuturkan kondisi lingkungan bantaran sungai Condet dengan komunitas2 masyarakat seperti Kelompok Tani BalaiKambang dan kendala-kendala yg mereka hadapi seraya dengan perkembangan jaman dan laju pertumbuhan penduduk yg signifikan.

Selain perubahan ahli fungsi lahan menjadi pemukiman padat, kendala ekonomi juga kerap menjadi ganjaran bagi mereka, belum lagi pengakuaan administrasi dan kepastiaan hukum atas pengelolaan bantaran sungai yg carut marut dari PEMDA harus mereka hadapi.

Dalam bantaran sungai di sepanjang Condet, Komunitas ini dengan teman-teman lain seperti bang Jumari dari Ciliwung Tanjungan Cililitan telah berhasil merehabilitasi hampir sepanjang 10 km mulai dari TB Simatupang- Kalibata dengan menanam kembali bantaran yg pernah tersapu bersih banjir besar siklus 5 tahunan.

Bang Kodir juga berharap banyak adanya bantuaan dari badan riset tertentu dengan sentuhan teknologi dan penelitian bisa mengembangbiakan perbanyak varietas unggul salak Condet yg menjadi maskot dari kota Jakarta.

Program terkini yang akan mulai dirintis oleh komunitas Ciliwung Condet adalah menjadikan kawasan bantaran sungai Ciliwung menjadi alternatif wisata rakyat yang murah meriah seperti outbond, wisata kuliner dan budaya Betawi, maupun duduk-duduk santai di kerimbunan kebun dan sungai Ciliwung Condet yang kembali rindang. Berharap Salak Condet dan Duku Condet kembali dikenal dan dinikmati oleh banyak orang.

Semoga Salak Condet dan Duku Condet tidak punah di tanahnya sendiri di kota Jakarta, semoga generasi mendatang tidak hanya bisa melihat Salak Condet berupa patung batu yang sedih tidak berbicara, semoga…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: