Komunitas Ciliwung Condet

Komunitas Ciliwung Condet

Sumber:  http://komunitasciliwungcondet.blogspot.com/ 

SEKRETARIAT:  JL Pucung No 6, Kel.Condet Balekambang,  Kec.Kramat Jati, Jakarta Timur. Telp : 021-8016989

SALAM KOMUNITAS 

Condet merupakan perkampungan tua yang ditengahnya mengalir Sungai Ciliwung. Bantaran sungainya terhampar perkebunan aneka buah berkualitas. Tak heran, jika pemerintah menetapkan Condet sebagai cagar budaya sekaligus cagar buah-buahan. Namun seiring dengan perkembangan jaman terjadi perubahan lingkungan yang tidak terkontrol. Pertambahan penduduk, polusi udara kota, pencemaran air dan tanah dan banjir menjadikan kebun-kebun buah-buahan semakin terancam. Atas dasar itulah, Kami, dari KOMUNITAS CILIWUNG CONDET berupaya untuk menyelamatkan sisa-sisa keanekaragaman hayati khas Condet yang sudah menjadi maskot DKI Jakarta yang mudah dijumpai di kulit TRANS JAKARTA dan kantor-kantor PEMDA DKI

Wassalam

SIAPA KAMI

Kami adalah Komunitas Ciliwung Condet yang tergabung dalam Wahana Komunitas Lingkungan Hidup (WKLH) yang terdiri dari para relawan, mahasiswa dan pelajar, kelompok usaha, warga setempat, dan partisipan warga lainnya yang peduli akan lingkungan alam dan sosial budaya yang ada di sekitar condet yang berada dibantaran kali Ciliwung.

VISI & MISI

Didirikannya Komunitas Ciliwung Condet pada dasarnya adalah meningkatkan efektivitas pengelolaan Sungai, dengan menekankan pada perencanaan pengelolaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat disertai data pendukung dan pembuatan percontohan pengelolaan yang mempertimbangkan aspek pendidikan, ekonomi dan konservasi alam. Antara lain :

  • Menjadikan kawasan sungai Ciliwung Condet sebagai Kawasan Konservasi Alam
  • Menjadikan Kawasan Sungai Ciliwung sebagai Wahana Pendidikan Alam
  • Menjadikan Kawasan Sungai Ciliwung sebagai Areal Wisata
  • Menjadikan Kawasan Ciliwung sebagai Penyanggah Cagar Budaya Jakarta
  • Menjadikan Kawasan Ciliwung sebagai Situs keanekaragaman hayati Nusantara
  • Bantaran Sungai Ciliwung Condet menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam  pengelolaan sungai
  • Terciptanya mekanisme pengelolaan sungai yang kooperatif , bersinergi dalam   upaya pemberdayaan dan peningkatan kwalitas hidup masyarakat dan kwalitas  lingkungan.
  • Terciptanya mobilitas masyarakat terhadap upaya penyelamatam lingkungan yang   mandiri dan berkesinambungan. Jakarta Memiliki situs kranekaragaman hayati,  Kawasan konservasi Alam dan Taman Nasional Ciliwung
  • Sungai Ciliwung, menjadi wahana Pendidikan, pusat studi Alam, Sejarah,   pembelajaran peradaban, indikator pengelolaan lingkungan.

SEJARAH CONDET

CONDET, Refleksi Perjalanan Leluhur

Condet, merupakan kawasan perkampungan tua masyarakat Betawi. Tepat ditengahnya mengalir Sungai Ciliwung membelah wilayah ini menjadi dua bagian, satu diwilayah Jakarta Selatan dan yang lainnya di Jakarta Timur. Wilayah Condet membentang dari sebelah barat berbatasan dengan Jl Buncit Raya hingga Jalan Raya Bogor disebelah timur dan dari Kecamatan Pasar Rebo disebelah selatan hingga Wilayah Celilitan disebelah utaranya. Untuk menuju masuk ke wilayah Condet bagian Timur sangat mudah dari bagian untara bisa melalui PGC Cililitan melalui Jalan Raya Condet dan bila dari arah selatan bisa melalui PP plaza Jalan Raya Simatupang masuk melalui Jalan Raya Condet juga. Dan Wilayah Condet Bagian Selatan dapat dengan mudah masuk dari arah mana saja, pokoknya Condet Pejaten ada di Kecamatan Pasar Minggu.

Apa Condet itu ? berdasar cerita yang beredar dimasyarakat, Kata Condet berasal dari nama seseorang yang memiliki kesaktian dan memiliki bekas luka diwajahnya (Codet), orang sakti tersebut seringkali muncul didaerah Batu Ampar, Balekambang dan Pejaten. Ada lagi sebagian Orang mengatakan bahwa orang yang memiliki Kesaktian tersebut adalah Pangeran Geger atau Ki Tua, WaLLAHU a’lam, yang pasti Condet adalah sebuah perkampungan Betawi yang didalamnya tengah berlangsung Pembangunan seperti daerah-daerah lainnya di Jakarta.

Ada beberapa peninggalan purbakala yang usianya diperkirakan barasal dari periode 1500 – 1000 SM, yang berhasil ditemukan berupa Kapak, Gurdi dan Pahat dari batu. Ini menandakan bahwa sejak periode itu diwilayah Condet sudah ada perkampungan. Cukup beralasan, karena banyak jejak sejarah suatu peradaban manusia dimulai dari daerah yang dekat sumber air (Sungai Ciliwung, red).

Sebagai salah satu perkampungan tua ditanah Jakarta. Wilayah Condet memiliki keunikan tersendiri, berbeda dengan kota-kota Tua lainnya di Jakarta, di Condet sampai diakhir 1980an kita sulit menemukan bangunan-bangunan tempo Doeloe. Pernah ada di ujung selatan jalan raya Condet terdapat bagunan tua peninggalan Balanda masyarakat menyebutnya Gedung Tinggi atau Gedung Kidekle, tepatnya di Jl. Simatupang (Sekarang) posisinya persis menghadap ke utara jalan raya Condet, Cuma bagunan tersebut sudah tidak ada lagi musnah terbakar dan tidak ada lagi upaya untuk merenopasinya, padahal bangunan tersebut sangat tinggi nilai sejarah bagi terbentuknya perkampungan Condet dan kampungnya orang Jakarta ini. Keunikan wilayah Condet yang masih dapat ditemukan adalah Perkebunan Salak, yang tidak ada didaerah lainnya di tanah Jakarta. Meskipun pohon-pohon tersebut hanya tinggal beberapa gelintir saja. cukuplah untuk dijadikan bukti kejayaan sejarah salak Condet dimasa lalu,

Sejak kapan di Condet ada perkebunan Salak ? merupaka fenomena sejarah, kultural yang belum terungkap hingga saat ini, apakah tanaman ini tumbuh secara alami, atau sudah ada yang mengupayakan sejak dulu seiring ditemukan-nya benda-benda purbakala itu. Karena kondisi alamnya cocok buat pertumbuhan Pohon Salak, maka tanaman ini dapat dengan mudah berkembang biak hingga pada akhirnya mampu menutupi tiap jengkal tanah Condet dengan rerimbunannya. Karena ketidakjelasan ini, maka di daerah Condet berkembang cerita-cerita rakyat yang menghubung-hubungkan riwayat tanaman ini dengan tokohnya hingga menjadi Asset Budaya local yang turun-menurun dan patut pula menjadi bahan kajian selanjutnya.

Namun seiring semakin pudarnya identitas Condet sebagai Pusat perkebunan Salak, semakin pudar pula cerita-cerita tersebut di masyarakat. Saat ini sedikit sekali masyarakat yang mengetahui nama para tokoh sejarah yang pernah berjasa ditanah Condet, seperti Pangeran Geger, Ki Tua Pangeran Purbaya, Pangeran Astawana, Tong Gendut. Dll

CAGAR BUDAYA

Pada tahun 1964, oleh pemerintah didaerah Condet pernah akan dibangun komplek Militer Cakrabirawa dan rencana pembangunan Universitas Bungkarano, tetapi rencana ini ditentang oleh masyarakat Condet dengan alasan untuk melindungi lingkungan alam, budaya, adat istiadat yang begitu melekat dikalangan masyarakat Condet kala itu.

Secara kebetulan pada tahun 1965 direpublik ini terjadi pemberontakan G30S/PKI sehingga kedua rencana Pemerintah pada waktu itu tidak dapat direalisasikan. Dari beberapa sumber, Kultur daerah Condet sangat berbeda dengan daerah-daerah lain dijakarta sehingga masyarakat sangat selektif menerima segala macam interpensi budaya dan adat istiadat meskipun dari Pemerintah kala itu, ada kepercayaan pada sebagian masyarakat, bila ada yang berani melanggar kultur budaya masyarakat Condet, maka orang itu akan terkena musibah.

Untuk melindungi kultur budaya masyarakat tersebut Pada akhirnya Pemerintah menetapkan kawasan Condet yang terdiri dari kelurahan Belekambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah menjadi kawasan yang dilindungi (Cagar Budaya Buah-buahan) berdasarkan surat keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta (Letjen. TNI Marinir Ali Sadikin) tanggal 18 Desember 1975 Nomor D.I. 7903/a/30/1975 yang begitu fenomenal (Anonimuous, 1975).

Untuk menjaga kelangsungan dan kehidupan perkampungan Condet serta sebagai pelaksanaan keputusan gubernur tentang cagar budaya buah-buahan, maka pada tanggal 20 Oktober 1976 Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta kembali menginstruksikan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) untuk menyusun rencana pola kebijaksanaan pemerintah DKI dan tata kerja proyek Cagar Budaya Condet dengan instruksi No.D.IV-99/d/11/76 (Anonimous, 1976).
Pada tahun yang sama Pemerintah kembali mengeluarkan instruksi nomor D.IV– 116/d/11/76 tentang pembatasan terhadap pengembangkan kawasan Condet (Anonimous, 1976).

Penetapan condet sebagai cagar budaya Buah-buahan menimbulkan daya tarik bagi kalangan menengah keatas untuk menanamkan investasi atau bermukim di condet, hal ini ditandai dengan bermuculannya rumah-rumah mewah di kawasan tersebut. Menurut data perubahan pungsi lahan dikawasan Condet selama periode itu sebesar 217.8 Ha atau dari 135.3 Ha (1976) menjadi 353.1 Ha (1986) dari data tersebut rata-rata pertahun di kawasan Condet terjadi perubahan fungsi lahan sebesar 3 9 Ha.
Untuk mengantisipasinya, maka pada tanggal 1 januari 1986 Gubernur kepala daerah khusus ibu kota Jakarta kembali mengeluarkan instruksi nomor 19 tahun 1986, sehubungan dengan itu, maka :

1. Dilarang memberikan izin/legalisasi setiap mutasi (jual/beli) pemilikan tanah di kawasan Condet.
2. Dilarang mengadakan perubahan tataguna tanah sesuai dengan peruntukan yang akan ditetapkan kemudian, termasuk menebang/ memusnahkan tanaman salak, duku dan melinjo.
3. Dilarang memberikan izin dan atau membangun bangunan baru mulai dari pembangunan pondasi dan seterusnya di kawasan Condet.

Pernyataan ini berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 sampai selesainya penyusunan konsepsi pembangunan di wilayah Condet atau dikenal dengan istilah “status Kuo” yang sangat kontropersial terhadap Pembangunan di kawasan Condet.

Kemudian pada tanggal 3 Agustus 1986 kembali pemerintah mengeluarkan instruksi pencabutan status quo pembangunan Condet dengan instruksi nomor 227 tahun 1986 yang pada intinya memberikan kelonggaran terhadap Pembangunan di kawasan Condet, pada masa itu Gubernur KDKI adalah R. Suprapto (Anonomuos,1986)

Sejak saat itu, karena keterbatasan penulis, penelusuran terhadap dokumen berkenaan dengan kebijakan Pemerintah tentang arah tujuan pemberlakuan Cagar Budaya Condet terhambat. Kemudian berita terakhir yang sempat beredar dimasyarakat Condet kira-kira pertengahan 2004, bahwa Cagar Budaya Condet dicabut dan dipindahkan ke Setu Babakan Jagakarsa Jakarta Selatan, saat itu sosialisasinya dilakukan di sana dan dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat Condet.

Menurut hemat kami, dicabut atau tidaknya status Cagar Budaya Buah-buahan di Condet saat ini sama dengan pribahasa Habis manis sepah diBuang, setelah selama bertahun-tahun masyarakat Condet menghadapi ketidak jelasan arah kebijakan pembangunan dikawasan ini disaat segala asset Kultur Budaya, lingkungan alam Condet diambang kehancuran malah dicampakkan. Hal ini berdampak buruk terhadap kredibilitas pemerintah dengan segala otoritas dan profesionalismenya.

Kemudian, bagi kami Tradisi masyarakat Condet yang begitu identik dengan perjalanan panjang sejarah terbentuknya Eko-Sistem yang meliputi seluruh komunitas yang ada adalah defacto, milik Kampung Condet dengan segala khasanah yang ada dan apa adanya, tidak dapat dipindahkan. Apa lagi dengan isu-isu murahan yang menyesatkan, titik.
Alhamdulillah, pada tahun ini (2008) ada upaya konkrit oleh pemerintah, entah bagaimana proses didalamnya saat ini telah tersedia lahan kurang lebih 3 Ha dengan keanekaragaman hayatinya akan dijadikan situs untuk tanaman kebanggaan tanah Jakarta. Kami sangat berharap, dengan langkah ini akan menjadi titik terang kedepan dalam rangka perbaikan sejarah, kultur, budaya, lingkungan alam yang selama ini koyak dan ceraiberai oleh lemahnya daya dukung kebijakan, kepentingan sesaat, dan ketidakpedulian yang telah begitu banyak menelan korban

Condet, yang saat ini berada dalam proses pembangunan fisik wilayah, pertambahan penduduk, mengalirnya wisatawan dalam dan luar negeri, proses akulturasi global. Kebijakan-kebijakan Pemerintah yang diharapkan dapat melindungi asset Hayati dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat, namun pada kenyataanya justru menghantam dan merusak lingkungan alam, mencerai-beraikan pergaulan kehidupan masyarakat, menghanyutkan dan menenggelamkan nilai-nilai budaya dan tradisi yang bertahun-tahun dipertahankan, hingga pada akhirnya melenyapkan identitas masyarakat tradisional Condet yang kental dengan predikat sebagai Cagar Budaya Buah-buahan.
(Abdul Kodir, dari berbagai sumber)

SEKOLAH ALAM CILIWUNG

Inilah bantaran sungai Ciliwung sekitar tahun 1970’an di salah satu kawasan Jakarta Timur. Air mengalir dengan deras di sungai yang masih lebar dan dalam, sementara pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Kini sulit mencari bantaran sungai yang demikian. Lantaran makin banyak dihuni manusia yang menjadikan sebagai tempat tinggal. Bahkan beberapa di antaranya sudah jadi perkampungan. Tidak heran bila 13 sungai yang mengalir di Jakarta, bukan saja makin dangkal, tapi makin mengecil kelebarannya. Banjir pun tiap saat makin meluas.

Melihat keadaan yang sudah sangat memprihatinkan ini, sejumlah anak di Condet, Jakarta Timur mendirikan ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung, Condet.” Dengan motto : ‘Sebatang pohon seribu kehidupan’, para anak muda yang dipimpin Abdulkadir Muhammad dan Budi Setija, telah mengamankan sekitar 20 hektare bantaran sungai Ciliwung di kawasan Condet.

Setelah bekerja tanpa mengenal lelah selama enam tahun, kini hasilnya mulai terlihat. Di markasnya di tepi Ciliwung di Balekambang, mereka menyiapkan ribuan pembibitan berbagai budidaya tanaman, khususnya duku, salak dan melinjo. Ketiga tanaman khas Condet ini, kini semakin langka akibat pesatnya pembangunan perumahan. Sementara, pemborong makin bergairah membangun Condet, yang luasnya 582.450 hektar.

Akibat gagalnya Condet dijadikan sebagai cagar budaya buah-buahan, menurut Abdulkadir dan Budi, ratusan petani buah yang tidak lagi memiliki dan berganti profesi, ingin bekerja kembali. ‘Untungnya sekitar 80 persen daerah bantaran sungai masih merupakan lahan kosong dan kebun yang tidak terawat,”ujar Budi. ”Inilah yang ingin diupayakan sebagai lahan konservasi oleh Wahana Komunitas Sungai Ciliwung Condet,” ia menambahkan.

Di sini kedalaman sungai masih ada yang mencapai 15 meter. Sekalipun terjadi penyempitan 12 meter, lebar sungai masih mencapai 30 meter. Yang juga perlu diacungkan jempol, dari belasan muda-mudi yang ikut terjun di wahana itu adalah mereka mengadakan Sekolah Alam ‘Sawung’ (Sekolah Alam Ciliwung). Para siswanya berusia tujuh hingga 12 tahun tiap Jumat.

Di sinilah anak-anak diajar mencintai lingkungan dalam bentuk presentasi, diskusi, kunjungan lapangan, pemutaran film, dan berbagai kegiatan lainnya. Di bandaran yang telah disulap menjadi lingkungan yang sejuk dan asri itu, disediakan perpustakaan, kegiatan berperahu menyusuri sungai sejauh 7 km, dan jalan santai di tengah-tengah pepohonan hijau royo-royo. Kesemuanya merupakan bagian dari ‘Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.’ Karena itu, tidak heran pada hari-hari Ahad dan libur, anggota Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet yang datang mencapai 20-an orang.

Permasalahannya adalah, tidak adanya mushola untuk pengunjung. Padahal, seperti dijelaskan Abdulkadir, biayanya hanya sekitar Rp 10 juta, di samping empat MCK (toilet). Di Condet sekarang ini ada ratusan perusahaan penampung tenaga kerja (TKW dan TKI) serta puluhan pengembang. Mungkin di antara mereka ada yang terketuk hatinya untuk membantu, kata Abdulkadir.

Condet, pada 1975 oleh gubernur Ali Sadikin ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan. Bahkan berdasarkan SK Gubernur 1989, kawasan di pinggiran Jakarta Timur ini menetapkan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai ‘Maskot DKI Jakarta.’ Kini pohon salak sudah hampir tidak tersisa lagi di Condet, sementara ‘Burung Elang Bondol’ sudah punah. Setidak-tidaknya inilah yang menyebabkan didirikannya ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet’. ‘Guna mencegah hutan kota yang tersisa ini tidak menjadi hutan beton alias tanaman bata,’ ujar Budi.  (Alwi Shahab, wartawan Republika )

Nimbrung di Ciliwung

Sumber:http://suarajakarta.com/   

 Jakarta – Komunitas Ciliwung Condet, sebuah komunitas yang bergerak pada pelestarian Ciliwung dan salak condet bersama jejaring komunitas peduli Ciliwung Jakarta yang berjumlah 20 komunitas berencana akan melakukan peringatan Hari Pohon yang akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Minggu, 20 November 2011
Waktu : Pukul 07.00 – 17.00 WIB
Lokasi : Jl. Munggang Condet, Balekambang
Kegiatan : Kumpul warga dan komunitas untuk mengenal potensi wisata Ciliwung

Peringatan ini akan dilakukan dalam bentuk wisata edukasi yang disebut Nimbrung di Ciliwung. Kegiatan ini merupakan upaya pengenalan potensi positif yang mungkin dikembangkan di bantaran Ciliwung Condet. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini akan mendapatkan pengetahuan dan informasi praktis perihal kegiatan penyelamatan Ciliwung yang saat ini tengah dilakukan oleh komunitas peduli Ciliwung Jakarta.

Demikian undangan ini kami sampaikan, besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara bersedia menghadiri kegiatan ini. Terima kasih untuk kerjasama yang diberikan.

Jakarta, 16 November 2011

Koordinator Nimbrung di Ciliwung,
Abdul Kodir – Komunitas Ciliwung Condet

Nimbrung di Ciliwung Ramai Pengunjung

Sumber: http://suarajakarta.com/  21November 2011

Jakarta – “Kondisi sungai kita kian meradang”. Itulah landasan para jejaring komunitas Jakarta menggagas sebuah acara yang bernama ‘Nimbrung Di Ciliwung’. Acara yang dilaksanakan Minggu (20/11/11) di kawasan Sungai Ciliwung Condet ini diprakarsai beberapa komunitas Jakarta yang peduli pada Sungai Ciliwung. Komunitas tersebut diantaranya adalah Komunitas Ciliwung Condet (KCC), Transformasi Hijau (TRASHI), Green Camp Halimun (GCH), Teens Go Green (TGG), Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), Sampoerna School of Education (SSE), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Line Magic Community (LMC). Collaboration with Friends (CWF), Jakarta Glue, Media Komunitas SuaraJakarta.com, serta beberapa komunitas partisipan lainnya.

Secara garis besar acara ini bertujuan ntuk menimbulkan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi sungai yang bersih bagi kehidupan kita. Acara yang bertepatan dengan hari pohon sedunia ini juga mengupayakan pelestarian tanaman Salak Condet dengan penanaman bibit Salak Condet di lokasi sekitar oleh pejabat kelurahan setempat dan ketua komunitas Ciliwung Condet, Abdul Kodir.

Acara yang dihadiri sekitar lebih dari 100 peserta ini dimulai dengan Trash Buster (Mulung sampah di Ciliwung). Para peserta diajak untuk ikut menjaga kebersihan Sungai Ciliwung dengan memunguti sampah yang ada di sungai dan di sekitarnya. Setelah itu masing-masing komunitas mengisi acara dengan berbagai kegiatan yang diantaranya adalah edukasi pemilihan sampah, workshop fotographi, pengamatan burung dan herpet dll. Peserta juga diajak mengarungi sungai Ciliwung dengan menggunakan perahu mesin,kano, dan getek yang telah disediakan panitia. Panitia juga mengajak para peserta untuk menjelajah kampung sekitar Sungai Ciliwung sambil memunguti smapah yang berserakan disekitarnya.

Para peserta juga dihibur dengan penampilan musik, storry telling (dongeng), dan penampilan sulap. Acara ditutup dengan menonton film tentang Sungai Ciliwung tempo dulu. Dalam film tersebut menunjukkan Sungai Ciliwung yang bersih tanpa sampah satupun dan masih menjadi pusat kebutuhan MCK masyarakat sekitar. Akankah Sungai Ciliwung kita saat ini bisa kembali kepada fungsi awal nya sebagai sumber utama kebutuhan air masyarakat? Semuanya bergantung kepada apa yang kita lakukan. Save Our Ciliwung…!!!

KCC, Komunitas Pelestari Sungai Ciliwung 

Sumber: http://www.tnol.co.id/  24 November 2011

Sebuah upaya menyelamatkan apa yang tersisa dari apa yang dimiliki masyarakat Betawi….

Foto bersama. (Foto: Dok. KCC)

Dari tahun ke tahun, banjir selalu menimpa Jakarta. Dan bahkan sampai ada siklus banjir besar yang – seolah-olah wajib – melanda Jakarta setiap lima tahun sekali. Sehingga, warga Jakarta jadi terbiasa dengan bencana ini. Dan nyatanya, banjir ini memang tidak bisa dipisahkan dari catatan sejarah Kota Jakarta itu sendiri. Korban jiwa serta musnahnya harta benda sudah pasti tak dapat terhindarkan, apabila bencana ini sedang melanda. Bahkan, peristiwa atau bencana banjir ini, telah memiliki pola waktu yang bisa dikatakan rutin setiap tahunnya, yaitu pada bulan Januari hingga Februari. Berbagai upaya penanggulangan tentu saja sudah dilakukan, namun nyatanya tetap tidak bisa mengubah nasib Jakarta yang tak terpisahkan dari bencana banjir.

Anggota KCC. (Foto: Novriyadi/TNOL)

Salah satu pokok masalahnya, ialah karena sejumlah sungai yang melintas di wilayah Jakarta saat ini telah berubah fungsi menjadi ‘tong sampah raksasa’. Lihat saja Sungai Ciliwung. Sungai yang dahulu begitu bersih dan asri, kini telah berubah menjadi tempat pembuangan sampah gratis bagi masyarakat yang tinggal di bantarannya.

Tidak hanya itu, di bagian hulunya pun, sungai ini telah mengalami pendangkalan dan penyempitan – akibat pendirian bangunan-bangunan di sepanjang tepiannya, yang kemudian makin menjorok ke badan sungai. Selain itu, tak kalah besar kontribusinya adalah lenyapnya lahan-lahan hijau yang tadinya penuh dengan pepohonan, yang berfungsi sebagai resapan air, yang kini berubah menjadi bangunan beton. Perubahan fungsi lahan itulah yang telah menyebabkan air hujan tidak terserap oleh tanah, tetapi langsung mengalir masuk ke sungai dalam jumlah besar, sehingga air bah dari hulu itu menyebabkan banjir di hilir.

Camping Ground. (Foto: Dok. KCC)

Salak Condet. (Foto: Novriyadi/TNOL)

Parahnya kondisi Sungai Ciliwung belakangan ini, akhirnya membuat sejumlah komponen masyarakat gelisah, dan akhirnya merekapun membentuk komunitas yang peduli terhadap kondisi Sungai Ciliwung, salah satunya adalah Komunitas Ciliwung Condet (KCC), Jakarta Timur.

Komunitas ini berdiri pada tahun 1990-an, diawali oleh kegelisahan beberapa orang penduduk yang tinggal di daerah bantaran Ciliwung, Condet. Kemudian terpikirkanlah ide untuk membentuk komunitas yang peduli terhadap lingkungan Sungai Ciliwung. “Kita sangat prihatin dengan kondisi Ciliwung saat ini. Kalau dibiarkan maka yang terkena imbasnya kita juga, masyarakat sekitar Condet,” kata Abdul Kodir, salah satu pendiri Komunitas Ciliwung Condet.

Sebagai komunitas yang sadar akan lingkungan, mereka pun lantas melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan konservasi. Mulai dari pembersihan sampah-sampah yang ada di sekitar sungai, penanaman bibit pohon, edukasi, dan lain-lain. Tidak hanya itu, mereka juga membuat program wisata, mulai dari susur Sungai Ciliwung, canoeing, hingga outbound. “Dengan adanya kegiatan wisata ini, kita berharap Sungai Ciliwung bisa menjadi tempat rekreasi yang murah bagi masyarakat Jakarta,” kata Kodir.

Sisir Sungai Ciliwung. (Foto: Dok. KCC)

Selain peduli terhadap lingkungan Ciliwung, komunitas ini juga peduli terhadap tanaman lokal khas Condet, yakni pohon Salak Condet. Setiap bulannya komunitas ini secara aktif menanam dan merawat pohon-pohon salak yang tumbuh di sekitar sekretariat komunitas mereka, yang beralamat di Jalan Munggang No. 6 RT 10 RW 04, Condet, Balekambang, Jakarta Timur.

Menurut Kodir, dahulu di Jalan Raya Condet, banyak pedagang menjajakan salak Condet. Ketika itu Sungai Ciliwung masih bersih, dan orang biasa mandi dan mencuci di sana. Namun ketika banjir besar tahun 1996, 2002, dan 2007 melanda Jakarta, telah membuat Sungai Ciliwung meluap dan merusak lahan hijau di sekitarnya. Sekarang salak Condet pun terancam punah, karena lahannya hanya tinggal 20 persen di kawasan Balekambang.

Jelajah Sungai Ciliwung. (Foto: Dok. KCC)

“Salak Condet adalah salah satu ciri masyarakat Betawi, jika salak ini punah, apa lagi yang bisa dimiliki oleh masyarakat Betawi?” kata Kodir.

Kodir, juga menyayangkan sikap lamban pemerintah dalam hal pelestarian Sungai Ciliwung. Menurutnya, pemeritah kurang peduli dengan kondisi Sungai Ciliwung yang semakin parah dan semrawut. “Biasanya pemerintah akan bereaksi ketika musim hujan tiba, setelah itu mereka lupa,” jelas Kodir.

Relawan Punguti 900 Kilogram Sampah dari Ciliwung

Sumber: http://m.tempo.co/  04 Desember 2011

TEMPO.CO, Jakarta – Komunitas Ciliwung Condet bersama jejaring komunitas peduli Ciliwung Jakarta memulung 900 kilogram sampah dari bantaran sungai besar yang membelah Jakarta itu selama sebulan.

“Kebanyakan sampah plastik dari rumah tangga,” kata Abdul Kodir, Ketua Komunitas Ciliwung Condet, di kantor komunitasnya, Jalan Munggang Nomor 6, RT 10 RW 04, Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Minggu, 4 Desember 2011.

Menurut Kodir, pemulungan dilakukan di sepanjang 700 meter ke arah hulu Sungai Ciliwung secara berkala. Hari ini, mulai pukul 08.00 sampai 12.00, siswa sampai mahasiswa ikut terlibat dengan turun ke bantaran sungai. Mereka dibekali karung dan plastik.

Mereka cukup berjalan 20 meter dari kantor komunitas Ciliwung Condet untuk menuju Sungai Ciliwung. Total sekitar ratusan orang berperan sebagai sukarelawan dalam kegiatan penyelamatan Ciliwung tersebut. “Kegiatan ini juga menyambut Hari Sukarelawan Internasional yang jatuh pada 5 Desember,” kata Kodir.

Kumpulan sampah dipadatkan dalam karung dan digunakan menjadi turap buatan di bantaran sungai. Tujuannya, jika tinggi air sungai naik, tumpukan karung yang dibangun itu bisa meminimalisasi banjir.

Untuk itu, Kodir mengatakan, tumpukan karung di pinggir sungai akan dibiarkan tertutup lumpur sungai. Selanjutnya, karung-karung yang sudah berlumpur itu bakal dijadikan media tanam, misalnya pohon lau. “Ini berfungsi menahan longsor tanah juga,” katanya.

Dalam catatan Kodir, ada lima titik tempat pembuangan sampah di Kelurahan Balekambang saja. Itu yang melahirkan gunung sampah di bantaran sungai. Untuk itu, komunitas memasang spanduk sepanjang dua meter bertuliskan “Ciliwung Bukan Tempat Sampah” di Jembatan Gantung Condet agar warga bantaran sungai disiplin dalam mengelola sampah.

Ia mengakui, warga Ibu Kota banyak tidak peduli terhadap Ciliwung. Selain lemahnya hukum bagi pembuang sampah, keterbatasan tempat pembuangan juga menjadi permasalahan lain.

Kodir mengatakan, kegiatan pemulungan sampah dilakukan untuk edukasi bagi para pelajar. »Menjadi bekal pelajar agar merasa memiliki Ciliwung,” katanya.

HERU TRIYONO

Demi Lingkungan, KCC ‘Mendongeng’ Pada Anak 

Sumber:  http://m.tnol.co.id/en/ 27 February 2012

Komunitas Ciliwung Condet memberi edukasi lingkungan sejak usia dini/ Foto-foto: Safari TNOL

Pentingnya melestarikan lingkungan sejak usia dini, Komunitas Ciliwung Condet (KCC) kembali menggelar kegiatan mendongeng ke sejumlah anak-anak yang masih berstatus Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/TK Taman Siwi, Sabtu (26/2). Dongeng yang disampaikan oleh Klub Cekatan ini berlangsung di tepi Sungai Ciliwung, Jl Munggang Condet, Balekambang-Jakarta Timur.

Sebelumnya, KCC bersama Klub Cekatan juga menggelar dongeng di bantaran Sungai Ciliwung di daerah Bojong Gede Bogor Jawa Barat.

Selain anak-anak, kegiatan dongeng ini juga diperuntukkan bagi para orang tua agar memahami betapa pentingnnya peranan lingkungan hidup bagi kelangsungan hidup manusia. Diharapkan, dengan memahaminya maka tidak akan lagi aksi membuang sampah di sungai atau merusak lingkungan. Sehingga, kedepannya tidak ada lagi banjir yang selalu menghantui masyarakat Jakarta.

Anak-anak belajar mengenal lingkungan

Kegiatan dongeng yang dimulai pada pukul 14.00-17.00 WIB ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas pelestari lingkungan. Diantaranya dari Transformasi Hijau (Trashi), Line Magic Community, Komunitas SuaraJakarta.com, Koalisi Pemuda Hijau Indonesia, Lantan Bentala, Earth Hour Indonesia, Komunitas Talang, Klub Dongeng Kanvas, Peta Hijau dan Komunitas Rawajati.

Selain dongeng, digelar juga kegiatan lainnya untuk menarik anak-anak mencintai lingkungan, seperti lomba mewarnai dan games pendidikan. Saat games pendidikan terlihat anak-anak PAUD Taman Siwi sangat antusias untuk maju ke depan. Apalagi dalam games pendidikan itu ada berbagai hadiah menarik yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berani tampil kedepan.

Abdul Khodir, salah satu pendiri Komunitas Ciliwung Condet mengatakan, digelarnya dongeng bertema lingkungan untuk anak-anak dan orang tua sebagai bentuk mengapresiasi lingkungan. Apalagi, Sungai Ciliwung masih menghadapi banyak persoalan seperti tetap berlimpahnya sampah dan pendangkalan.

“Ini juga sebagai upaya bagaimana kita menjaga, merawat dan mengembangkan sungai sehingga bermanfaat untuk masyarakat,” jelasnya.

Saat ini berbagai upaya konservasi telah dilakukan KCC dan komunitas lainnya yang sadar akan lingkungan. Mulai dari pembersihan sampah-sampah yang ada di sekitar sungai, penanaman bibit pohon, edukasi, dan lain-lain.

Anak-anak terlihat senang

Tidak hanya itu, mereka juga membuat program wisata, mulai dari susur Sungai Ciliwung, canoeing, hingga outbound. “Dengan adanya kegiatan wisata ini, kita berharap Sungai Ciliwung bisa menjadi tempat rekreasi yang murah bagi masyarakat Jakarta,” kata Kodir.

Selain peduli terhadap lingkungan Ciliwung, komunitas ini juga peduli terhadap tanaman lokal khas Condet, yakni pohon Salak Condet. Setiap bulannya, komunitas ini secara aktif menanam dan merawat pohon-pohon salak yang tumbuh di sekitar sekretariat komunitas mereka, yang beralamat di Jl Munggang No. 6 RT 10 RW 04, Condet, Balekambang-Jakarta Timur.

Salak Condet

Menurut Kodir, dahulu di Jalan Raya Condet, banyak pedagang menjajakan Salak Condet. Ketika itu Sungai Ciliwung masih bersih dan orang biasa mandi dan mencuci di sana. Namun, ketika banjir besar tahun 1996, 2002, dan 2007 melanda Jakarta, telah membuat Sungai Ciliwung meluap dan merusak lahan hijau di sekitarnya.

Sekarang Salak Condet pun terancam punah, karena lahannya hanya tinggal 20 persen di kawasan Balekambang.

“Salak Condet adalah salah satu ciri masyarakat Betawi, jika salak ini punah, apa lagi yang bisa dimiliki oleh masyarakat Betawi,” paparnya dengan nada miris. (Sbh)

One Comment on “Komunitas Ciliwung Condet”

  1. heppy wijaya Says:

    saya ingin sekali ke sana karena dulu masa remaja saya di condet batu ampat,bagaimana saya dapat sampai di lokasi dengan kendaraan umum dari arah depok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: