Berita

Maret 2004

Kepadatan Penduduk dan Harga Tanah Tinggi, Penyebab Pencemaran Ciliwung

Sumber: http://www.pelita.or.id/ 31 Maret 2004

Kepadatan penduduk yang tinggi serta kian mahalnya harga tanah merupakan latar belakang dari munculnya rumah-rumah pemukiman di kawasan ilegal sepanjang sisi sungai Ciliwung dan anak sungai lainnya. Berdasar penyelidikan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), pemukim ilegal ini ialah sumber pencemar aliran sungai Ciliwung yang mengalir sepanjang Jakarta Bogor Puncak Cianjur (Jabopunjur).

“Sehingga dibutuhkan strategi jitu untuk melakukan pengendalian pencemaran tersebut,” ujar peneliti ITB, Prayatni Soewondo dalam Lokakarya Nasional ‘Pengelolaan Kawasan Jabopunjur untuk Pemberdayaan Sumber Daya Air’ yang diselnggarakan Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) pada 30-31 Maret 2004.

Menurutnya sungai Ciliwung merupakan bagian terpenting dalam kehidupan di wilayah Jabopunjur. Sungai sepanjang 117 km dan memiliki daerah aliran sungai 322km persegi ini sebagian besar menyebar di Jawa Barat dan menjadi bagian penting ibu kota Jakarta.

Namun adanya pemukim ilegal dengan kepadatan penduduk tinggi, maka jumlah limbah padat dan cair yang berasal dari mereka terus bertambah setiap harinya. Padahal sungai Ciliwung juga merupakan sumber perolehan air mereka dalam menunjang hidup kesehariannya. Hasil penelitian menunjukkan limbah yang dihasilkan 1-4 meter kubik per hari.

Tata guna lahan di bagiuan hulu Ciliwung adalah perkebunan dan pertanian, sementara di bagian tengah maupun hilir didominasi pemukiman padat dan industri. Di sepanjang sungai, terutama di Bogor, banyak terdapat sampah, keramba ikan dan penggunaan air sungai untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) oleh penduduk sekitar.

Warna air sungai Ciliwung di bagian hulu bening dan jernih, tetapi memasuki daerah perkotaan seperti Bogor sampai Sugutamu (Depok) warna air agak kuning kecoklatan. “Warna keruh itu akibat langsung limbah domestik dari penduduk sisi sungai Ciliwung,” ujar Prayatni.

Karena itu dibutuhkan beberapa skenario untuk melaksanakan strategi pengendalian pencemaran tersebut. Para peneliti ITB memiliki 7 skenario yang didasarkan pada asumsi bahwa tingginya konsentrasi pencemar di sungai Ciliwung secara dominan diakibatkan oleh limbah domestik dan limbah industri.

Skenario tersebut dilakukan dengan membuat pengurangan kuantitas dan kualitas beban limbah yang masuk dari sisi di sepanjang sungai. Skenario tersebut disusun secara teoritis bahwa pwnanggulangan limbah domestik salah satunya adalah dengan membuat septictank yang dapat mencapai efisiensi 60-70 persen. Sedangkan limbah industri dapat ditangai dengan mengefektifkan penggunaan IPAL (Instalasi Pengolahan Limbah).

Pembangunan IPAL Terpadu merupakan kebutuhan utama, terlebih untuk menangani limbah domestik. Langkah lainnya ialah ditujukan kepada sumber konsentrasi pencemar yaitu pemukim illegal sepanjang sungai dengan sosialisais dan penyuluhan. Serta penegakan peraturan tata guna lahan bahan baku mutu kualitas air baik untuk keperluan domestik maupun industri. (mth)

Agustus 2009

Pencemaran Air Kali Ciliwung Dikeluhkan

Sumber: http://metrotvnews.com/ 28 Agustus 2009 

Metrotvnews.com, Depok: Air Sungai Ciliwung di wilayah Depok, Jawa Barat, terlihat surut pada musim kemarau seperti sekarang. Tapi, yang mengkhwatirkan justru air sungai terlihat menghitam. Bahkan, pada saat-saat tertentu, tampak begitu pekat, seperti tercemar minyak pelumas.

Kondisi tersebut dikeluhkan warga Rukun Tetangga 2, Rukun Warga 2, Kelurahan Pondok Cina, Depok, Jawa Barat. Mereka yang biasa mencari ikan di sepanjang aliran sungai menjadi sedikit ragu untuk mengkonsumsi ikan yang didapat. Mereka khawatir ikan-ikan tersebut dapat menimbulkan penyakit.

Kekhawatiran semakin menjadi ketika warga merasakan ada kelainan rasa saat mengkonsumsi ikan-ikan yang mereka peroleh dari Ciliwung. Ada juga kekhawatiran lain. Apalagi, warga sekitar Pondok Cina masih banyak yang mengkonsumsi air sumur. Mereka khawatir jika pencemaran terus dibiarkan, air sumur yang biasa mereka konsumsi tiap hari akan tercemar pula.

Kondisi air Ciliwung yang mengkhawatirkan warga ini terjadi sejak lima hari lalu. Meski masih ada warga yang mencari ikan di aliran sungai ini, aktivitas mencuci pakaian tak lagi dilakukan. Tak hanya itu, akibat pencemaran sungai ini, banyak ikan yang mabok, bahkan mati mengambang.(BEY/Sidharta Agung)

Warga Depok Keluhkan Pencemaran Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.merdeka.com/28 Agustus 2009

Kapanlagi.com – Warga di sepanjang sungai Ciliwung yang mengalir di sebagian Kota Depok, mengeluhkan air sungai tersebut tercemar limbah sehingga airnya berwarna coklat keruh.

Akibat air sungai menjadi keruh dan agak lengket, warga RW 01 dan RW 02 Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok, tidak dapat melakukan aktivitas mandi dan mencuci pakaian di sungai.

“Air sungai ini tercemar limbah sejak lima hari lalu,” kata warga RT02/RW02 Kelurahan Pondok Cina, Muhammad Hendri, di Depok, Jumat (28/8).

Karyawan pabrik pengolahan ikan cue yang berlokasi di tepi sungai tersebut mengatakan, limbah yang mencemari sungai di duga berasal dari pabrik di bagian hulu, tapi ia tidak tahu asalnya dari mana.

Menurut dia, sebelum tercemar biasanya warga setempat mandi dan mencuci pakaian di sungai, sedangkan untuk air minum mengambil di sumur atau membeli air minum isi ulang.

Ikan tuna yang akan diolah menjadi ikan cue, kata dia, juga dicuci di sungai tersebut.

“Kalau air sungainya tercemar saya khawatir ikan cuenya menjadi tercemar,” kata Hendri yang belum ada upaya melaporkan pencemaran tersebut.

Di sepanjang sungai itu juga tampak beberapa orang warga, baik dewasa maupun anak-anak, yang mencari ikan menggunakan serokan. Mereka tampak memperoleh ikan mujair dan baung berukuran sedang dan agak kecil.

“Sejak air sungai ini tercemar dan ikannya mabok warga mencari ikan di sini,” kata Darjo, warga RT02/RW02 Kelurahan Pondokm Cina.

Darjo menduga air sungai tersebut tercemar oleh limbah dari pabrik, tapi ia tidak tahu lokasi pabrik tersebut karena belum pernah menelusurinya.

Menurut dia, air sungai tersebut tercemar pada pagi hingga sore atau pada siang hingga malam.

Air sungai yang tercemar, kata dia, menjadi agak lengket dan kalau terminum menyebabkan kepala menjadi pusing.

“Ikan yang ditangkap warga di sungai, setelah digoreng tidak menyebakan mabok, tapi rasanya agak tawar,” katanya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Depok, Rachmat Subagyo ketika dikonfirmasi mengatakan, ia baru tahu jika air sungai Ciliwung di Depok tercemar.

Rachmat mengatakan, ia belum bisa menjelaskan secara pasti apa penyebab pencemaran air sungai tersebut dan seberapa jauh tingkat pencemarannya, karena harus diuji dulu sampel air sungainya.

“Saya akan menugaskan staf untuk mengambil sampel air sungai dan mengujinya pada Senin (31/8) lusa,” tandas Rachmat. (kpl/bar)

Pelaku Pencemaran Kali Ciliwung Bisa Diancam Pidana Lima Tahun Penjara  

Sumber: http://www.portalkriminal.com/ 28 Agustus 2009 

PORKRIM- JAKARTA: Warga Kelurahan Pondok Cina mengeluhkan tercemarnya air kali Ciliwung yang melintasi daerahnya diduga limbah dari pabrik sekitar kali. Warna air coklat kehitam-hitaman dan bau membuat mabuk dan mati ribuan ekor ikan berbagai jenis yang hidup di kali tersebut. Pelaku menurut Badan Lingkungan Hidup (BLH) bisa diancam pidana lima tahun Penjara dan denda Rp300 juta.

Warga Jalan Haji Mat Thohir RT 2/2 Kecamatan Beji pun berebut menangkapi ikan-ikan mabuk tersebut di antaranya menggunakan jaring, kail bahkan tangan kosong, Darjo,43, misalnya, warga yang ditemui saat menangkap ikan di kali tersebut mengatakan tercemarnya aliran kali tersebut sudah berlangsung sejak seminggu lalu.

“Airnya mulai tercemar sejak masuk puasa. Sejak itu ikan disini mulai pada mabuk,” kata Darjo sembari memasukkan seekor ikan baung mabuk hasil tangkapannya ke dalam kantong plastik, Jumat (28/8).

Limbah pencemar air kali ciliwung tersebut, menurutnya, kemungkinan dibuang pagi atau malam hari. Alasannya, pada malam dan pagi hari airnya semakin hitam dan bau. Meskipun mendapatkan berkah berupa ikan yang mudah ditangkap, Darjo mengaku juga kesulitan akibat tercemarnya kali tersebut. Pasalnya, akibat pencemaran tersebut dirinya dan beberapa kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Hal senada diungkap Hendri, 30 tahun. Warga yang juga pemilik usaha produksi ikan asap yang berada persis di pinggir kali Ciliwung mengaku khawatir pencemaran sungai tersebut akan berdampak pada kesehatan keluarganya. “Sebab meskipun kami menggunakan air sumur untuk mencuci dan mandi bisa saja tercemar. Karena dekat dengan sungai,” keluhnya.

Menanggapi ini, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rachmat Subagio mengatakan belum bisa memastikan apakah kali Ciliwung tersebut tercemar atau tidak. Pasalnya, untuk menentukannya harus diadakan uji laboratorium terlebih dahulu. “Hari Senin (31/8) mungkin kita baru akan ambil sampel airnya,” janjinya.

Menurutnya, pembuangan limbah ke kali dan sungai tersebut melanggar Peraturan Menteri Hidup No: Kep 58/Men LH/12/1995 dan Undang-Undang (UU) Lingkungan Hidup Pasal 43 ayat (1), tentang Pengolahan Lingkungan Hidup dengan ancaman pidana lima tahun dan denda Rp300 juta. (is)

September 2009

Tercemar, BLH Ambil Sampel Air Sungai Ciliwung

Marieska Harya Virdhani – Okezone

Sumber: http://news.okezone.com/ 1 September 2009

DEPOK – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok mengambil sample air sungai Ciliwung pasca tercemarnya sungai tersebut akibat limbah dan telah menyebabkan ribuan ekor ikan mati.

Selain mengambil sample air sungai, BLH juga mengambil sample air sumur milik warga untuk menguji kandungan limbah agar tak sampai mencemari sumur warga.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagyo mengatakan, sample air sungai dan air sumur tersebut akan diuji di laboratorium Dinas Kesehatan Kota Depok untuk memastikan pencemaran limbah di sungai Ciliwung.

“Memang kalau kita lihat agak aneh, airnya hitam pekat bukan karena gerusan air tanah penyebab musim kemarau, kita menduga sungai ini tercemar limbah,” ujarnya kepada wartawan saat meninjau Sungai Ciliwung di Jalan Kapuk, Beji Depok, Senin (31/8/2009).

Rahmat menambahkan, dugaan sementara terdapat dua kemungkinan pencemaran sungai tersebut, yaitu limbah domestik atau rumah tangga, serta limbah industri atau pabrik.

“Karena bisa limbah rumah tangga, tapi warnanya harusnya tidak sehitam ini, kalaupun limbah pabrik, bisa jadi ada di hulu anak Sungai Ciliwung, bisa saja ada di Pasar Agung, Sukmajaya Depok, karena di sana ada lima pabrik,” jelasnya.

Dampak yang terjadi di masyarakat, kata Rahmat, adalah matinya ribuan ikan milik petani ikan, dan menyebabkan warga yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung menjadi gatal-gatal.

“Tapi memang kalau ikan mungkin karena bakteri, ataupun amoniak yang berlebihan, makanya kita akan telusuri darimana asal limbah tersebut. Karena di hulu anak sungai Ciliwung masih bersih,” katanya.

Sungai Ciliwung yang tercemar tersebut melewati rumah 20 kepala keluarga di Jalan Kapuk Kelurahan Beji Depok yang sudah berlangsung selama 2 pekan. Keluhan warga berawal dari matinya ribuan ikan cue milik petani di kawasan yang sama serta membuat warga gatal-gatal.
(hri)

Ciliwung Diduga Tercemar Limbah Pabrik

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/  01 September 2009 

DEPOK, (PRlM).-Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio menduga air Sungai Ciliwung yang berwarna hitam, berbau tak sedap, dan menyebabkan ikan mabok telah tercemar limbah organik yang dialirkan anak sungai, seperti Kali Kupak, Kali Sugu Tamu, dan kali-kali lainnya.

“Berdasarkan laporan staff Kelurahan Pondok Cina yang ditunjuk BLH Kota Depok untuk melakukan penelusuran ke hulu sungai Ciliwung yang diduga tercemar limbah,” katanya saat mengunjungi bantaran sungai Ciliwung di RT01 dan RT02/RW02, Senin (31/8).

Menurut Rahmat, pihaknya telah menindaklanjuti dengan mengambil sampel air sungai dan sumur yang ada di sekitar warga untuk diteliti ke labotarium di PT Ngutu Agung di Cimanggis. “Kita telah mengambil sampel air sungai, air sumur, dan air resapan lainnya,” kata dia.

Rahmat menuturkan, dalam waktu tiga hari kedepan hasil pemeriksaan sudah dapat dilihat. Sampel untuk sumur dan air minum akan diteliti oleh Dinas Kesehatan, sedangkan untuk air sungai akan diteliti oleh BLH. “Hal itu sesuai prosedur anggaran pembiayaan pemerintah,” ucapnya.

Dia menjelasakan terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya pencemaran sungai Ciliwung diantaranya adalah bakteri yang disebabkan limbah rumah tangga, kotoran ternak, dan sampah organik yang masuk ke dalam sungai. “Ada juga kemungkinan tercemarnya air sungai berasal dari limbah pabrik dan limbah Pasar Agung yang dilewati aliran sungai Ciliwung,” katanya. (A-163/A-50)***

Pencemaran Dicurigai Berasal dari Pabrik Sekitar Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.republika.co.id/   12 September 2009

DEPOK–Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok mengeluarkan hasil laboratorium pemeriksaan Sungai Ciliwung yang diduga tercemar beberapa hari lalu. Dalam hasil pemeriksaan tersebut, diperoleh hasil negatif bahwa air Sungai Ciliwung tersebut tercemar.Kepala BLH, Rahmat Subagiyo, memaparkan hasil penelitian tersebut dapat dilihat kandungan-kandungan air sungai Ciliwung yang dijadikan sampel masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan dan bukan berasal dari limbah organik maupun rumah tangga.

Rahmat menambahkan sejak adanya pemberitaan mengenai sungai Ciliwung tercemar, kondisi sungai berubah drastis, airnya kembali bersih dan ini membuat pihaknya curiga.Kecurigaan tersebut ujar Rahmat mengarah pada pabrik-pabrik yang ada di sekitar pinggiran sungai Ciliwung. “Karena adanya pemberitaan tersebut, mungkin saja mereka jadi tidak berani membuang limbah ke sungai, sehingga kondisinya kembali seperti semula,Pabrik-pabrik yang ada di sekitar limbah sungai adalah pabrik payung, alat-alat pertanian, dan ragi” jelasnya kepada wartawan saat ditemui di ruangannya, Jumat (11/9).

Rahmat menambahkan memang terdapat beberapa kandungan yang melebihi ambang batas. “Seperti kandungan organisme bakterial, memang diatas ambang batas, karena banyaknya sampah dan zat-zat alami lainnya yang mencemari air sungai,” paparnya.

Sementara itu kandungan kimiawi yang ada terdapat dalam sampel air tersebut masih dibawah ambang batas yang ditentukan. “Memang cukup tinggi, tapi masih di bawah angka yang dilarang,” terang Rahmat.

Rahmat hingga kini masih menempatkan petugasnya untuk melakukan pemantauan terhadap kondisi sungai Ciliwung tesebut. Pihaknya menempatkan salah satu stafnya untuk melihat perkembangan serta perubahan warna sungai.

Rahmat menampik dugaan tercemarnya sungai ciliwung disebabkan adanya endapan lumpur yang menguap akibat musim kemarau. “Tidak mungkin dari endapan lumpur, kalau endapan lumpur pencemarannya akan lebih memanjang dan terus menerus, sedengkan ini hanya sebagian kecil saja,” pungkasnya.c03/kpo

BPK Nilai Pengendalian Pencemaran Ciliwung Kurang Efektif

Sumber: http://kesehatan.kompas.com/  15 September 2009 

JAKARTA, KOMPAS.com — Melalui pemeriksaan kinerja yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan pada semester I-2009, pengendalian pencemaran air Sungai Ciliwung kurang efektif.

Hal ini disampaikan oleh Ketua BPK Anwar Nasution di depan paripurna kedelapan DPR, Selasa (15/9). “Hasil pemeriksaan kinerja menunjukkan bahwa pengendalian pencemaran air Sungai Ciliwung kurang efektif,” kata Anwar.

Penilaian ini didasarkan pada fakta bahwa proyek percontohan pembangunan instalasi pengolahan limbah (IPAL) komunal tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, kesepakatan bersama antardaerah tentang pengelolaan Sungai Ciliwung pada 2004-2009 terhenti implementasinya pada 2007.

Pemeriksaan kinerja atas pengendalian pencemaran air Sungai Ciliwung merupakan salah satu dari dua obyek pemeriksaan yang dilakukan BPK pada semester I-2009.

Februari 2011

Pencemaran Sungai Ciliwung Sangat Parah

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/  05 Februari 2011 

BOGOR, (PRLM).-Pencemaran Sungai Ciliwung dinilai sudah sangat parah dan termasuk dalam kategori tercemar berat. Limbah rumah tangga dinyatakan sebagai penyebab utama pencemaran berat yang terjadi di Sungai Ciliwung. Hanya saja, sampai saat ini pemerintah daerah masih sangat kesulitan untuk mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan membuang sampah di sungai.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf ketika melakukan penyisiran ke Sungai Ciliwung untuk membersihkan sampah di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).

Lebih lanjut dikatakan Dede, jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan sejumlah daerah yang menggantungkan sumber air dari Ciliwung akan mengalami krisis air pada tahun 2012 atau 2013.

“Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC,” kata Dede.

Diakui Dede, sampai saat ini kondisi pencemaran di sepanjang Sungai Ciliwung sudah sangat parah. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata Dede juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. “Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai,” lanjutnya.

Dengan kondisi masyarakat yang ada sekarang, kata Dede, sosialisasi akan memakan waktu yang sangat lama. Untuk itu, Pemprov Jabar akan mengeluarkan peraturan gubernur untuk perlindungan dan pengawasan daerah aliran sungai (DAS) yang ada di wilayah Jabar, seperti Ciliwung, Cisadane, dan Cimanuk.

Selain itu, gerakan membuat masyarakat malu membuang sampah ke sungai juga perlu terus digalakkan, terutama dilakukan oleh anak muda. Dengan demikian, para orang tua yang membuang sampah di sungai malu pada anak mereka yang memunguti sampah di sekitar sungai. “Ke depan problematika kedua kita akan muncul yakni ketahanan air. Krisis air dalam waktu dekat, bahkan bisa terjadi karena sumber air tidak terjaga,” ungkapnya.

Sementara itu, Hapsono dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengatakan kerusakan lingkungan akibat pencemaran di Sungai Ciliwung juga menyebabkan debit air di sungai ini tidak menentu. “Kalau dulu, banjir bandang itu cuma sepuluh tahun sekali, sekarang bisa hampir setahun sekali ada air bandang karena perubahan sungai yang tidak lagi bisa menampung debit air,” katanya.

Berdasarkan penelusurannya, ada sekitar 13 titik di aliran Sungai Ciliwung di wilayah Bogor yang tercemar parah. “Yang paling parah berada di sekitar Pasar Jambu Dua dan Pasar Bogor karena limbah pasar masuk ke sungai,” lanjutnya.

Hal ini yang menyebabkan wilayah Bogor saat ini sering banjir karena air limpasan sungai. Disayangkan Hapsono, sampai saat ini belum ada perhatian khusus Pemkot Bogor terkait masalah sampah di sungai ini. Pemkot Bogor lebih banyak beralasan adanya keterbatasan wewenang mereka untuk mengatasi masalah ini.

Dari hasil penyisiran yang digagas oleh Circle K dan Greeneration Indonesia ini, ada puluhan karung plastik yang berisi sampah anorganik. (A-155/kur)***

Kondisi DAS Ciliwung Tercemar Berat

Sumber:  http://sentanaonline.com/ 21 Februari 2011

Kondisi DAS Ciliwung yang tercemar berat oleh berbagai limbah dan diperparah oleh pemukiman di sisi aliran DAS Ciliwung (wordpress)

Bogor, SENTANAONLINE.com – Kebiasaan warga sekitar bantaran kali yang masih membuang sampah serta limbah rumah tangga termasuk tinja, membuat kondisi daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung dan beberapa sungai lainnya di wilayah Kota Bogor tercemar berat. Bahkan, dikhawatirkan akan terjadi krisis air bersih pada dua atau tiga tahun yang akan datang jika kebiasaan tersebut tidak juga hilangkan.

Pantauan SENTANA di beberapa titik aliran DAS Ciliwung dan DAS Cisadane di wilayah Kota Bogor, Minggu (20/2) menunjukkan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tersebut masih memanfaatkan sungai sebagai tempat sampah. Mulai dari limbah deterjen cucian, sampah rumah tangga, hingga tinja masuk ke dalam aliran sungai tersebut.

Warga di sekitar bantaran sungai mengaku tidak mempunyai pilihan lain selain menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Keterbatasan ekonomi serta kepadatan penduduk yang tinggal di wilayah bantaran sungai dijadikan alasan masyarakat untuk menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa.Di sejumlah wilayah, misalnya di daerah Cibadak Tanah Sareal, Sukasari, serta sekitar Pasar Anyar, masyarakat sengaja memasang saluran pembuangan dari pipa paralon besar langsung dari rumah mereka ke sungai. “Segala sampah masuk ke situ, termasuk kotoran manusia. Habis mau bikin septitank di mana lagi,” kata salah seorang warga Cibadak, Tanah Sareal, Udin (30).

Bahkan, di beberapa titik terlihat bilik yang dijadikan tempat buang hajat sebagian warga yang tinggal tepat di bantaran kali. Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar, Iwan Wangsaatmadja mengakui jika pencemaran sejumlah DAS di wilayah Jabar telah mencapai taraf berat, misalnya DAS Ciliwung dan DAS Cisadane. Mayoritas pencemaran diakibatkan oleh sampah rumah tangga masyarakat yang tinggal di bantaran kali. Hanya saja, pemerintah daerah masih kesulitan memberikan sosialisasi agar masyarakat mengubah perilaku masyarakat tersebut.

“Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC,” kata Iwan. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata dia juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. “Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai,” lanjutnya.

Berdasarkan data yang dirilis BPLH Kota Bogor, penelitian pada tahun 2010 menunjukkan limbah domestik atau limbah rumah tangga mendominasi pencemaran Sungai Cisadane dan Ciliwung. Bahkan, pada penelitian yang dilakukan oleh pihak ketiga, ditemukan kandungan bakteri E-coli yang sangat tinggi di dalam air kedua sungai tersebut akibat digunakan sebagai septitank oleh warga. Data ini hasil penelitian di Ciliwung Hulu, yaitu di Katulampa, Ciliwung Tengah di sekitar Lapangan Sempur, Ciliwung Hilir di Pasir Jambu, serta Cisadane Hulu di Rancamaya, Cisadane Tengah di Empang, dan Cisadane Ilir di Karya Bakti.

Hasil penelitian itu menyebutkan kadar E-coli Ciliwung Hulu 50 ribu, di Ciliwung Tengah sebesar 40 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 120 ribu. Sementara, di Cisadane Hulu sebesar 18 ribu, Cisadane Tengah sebesar 60 ribu, Cisadane Hilir sebesar 90 ribu. (DDF/KRS)

Juni 2011

Rumah Tangga Penyumbang Terbesar Pencemaran Sungai Ciliwung dan Cisadane

Sumber:  http://www.pikiran-rakyat.com/28 Juni 2011 

KISMI DWI ASTUTI/”PRLM”
Sejumlah warga yang tinggal di pinggir sungai melakukan aktivitas MCK di Sungai Ciliwung beberapa waktu lalu. Aktivitas warga yang tinggal di sepanjang sungai Ciliwung dan Cisadane yang masih membuang limbah rumah tangganya secara terbuka di sungai menjadi penyumbang utama pencemaran bakterin E-coli yang tinggi di kedua sungai tersebut. *

BOGOR, (PRLM).- Rumah tangga di Kota Bogor merupakan penyumbang terbanyak pencemaran sungai yang ada di Kota Bogor. Akibatnya, kandungan bakteri E-coli pada dua sungai utama di Kota Bogor yakni Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane sangat tinggi.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Hari Sutjahyo di sela-sela Lokakarya Tahap II Strategi Penguatan Kelembagaan Pengelolaan Air Limbah Kota Bogor, yang digelar di IPB International Convention Center, Jln. Pajajaran Kota Bogor, Senin (27/6). Menurut Hari, sampai saat ini limbah rumah tangga masih mendominasi penyebab pencemaran dua sungai yang ada di Kota Bogor.

“Untuk industri memang selain jumlahnya tidak banyak juga kebanyakan telah mematuhi aturan yang ada. Sementara, rumah tangga, mayoritas membuang sampahnya baik berupa sampah biasa maupun tinja hingga limbah cairnya ke sungai. Itu bisa kita temui di hampir seluruh wilayah di Kota Bogor, terutama sepanjang Sungai ciliwung dan Cisadane,” ungkap Hari.

Menurut Hari, data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Bogor tahun 2009 menunjukkan kandungan bakteri E-coli di dalam air kedua sungai sangat tinggi, meski jumlahnya fluktuatif. Saat itu, pihak ketiga sempat melakukan penelitian di sejumlah titik, misalnya di Ciliwung Hulu, yaitu di Katulampa, Ciliwung Tengah di sekitar Lapangan Sempur, Ciliwung Hilir di Pasir Jambu, serta Cisadane Hulu di Rancamaya, Cisadane Tengah di Empang, dan Cisadane Ilir di Karya Bakti.

Dari hasil penelitian tahun 2009, kadar E-coli Ciliwung Hulu 50 ribu, di Ciliwung Tengah sebesar 40 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 120 ribu, di Cisadane Hulu sebesar 18 ribu, Cisadane Tengah sebesar 60 ribu, dan Cisadane Hilir sebesar 90 ribu. “Semuanya dalam satuan Jm/100 mL,” katanya. Padahal, baku mutu yang diterapkan hanya 5.000. Artinya, bila berada di atas 5.000, air sungai tercemar parah.

Dikatakan Hari, dalam hal bngka yang ditunjukkan oleh kedua sungai ini masuk dalam pencemaran kelas dua. Sementara, hasil uji yang sempat dipublikasikan oleh BLH Kota Bogor tahun 2006 menunjukkan angka koli tinja di Ciliwung Hulu 30 ribu, Ciliwung Tengah sebesar 17 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 35 ribu. Di Cisadane Hulu 22 ribu, Cisadane Tengah 26 ribu, dan Cisadane Hilir 36 ribu.

Selain itu, hasil uji tahun 2007 menunjukkan angka koli tinja di Ciliwung Hulu sebesar 56 ribu, Ciliwung Tengah 180 ribu, Ciliwung Hilir 410 ribu, di Cisadane Hulu 38 ribu, Cisadane Tengah 110 ribu, dan Cisadane Hilir 30 ribu. Tahun 2008, angka koli tinja di Ciliwung Hulu 48 ribu, Ciliwung Tengah 120 ribu, Ciliwung Hilir 20 ribu, di Cisadane Hulu 24 ribu, Cisadane Tengah 92 ribu, dan Cisadane Hilir 90 ribu.

Untuk saat ini diakui Hari memang belum banyak sumur warga yang tercemar limbah E-coli akibat perilaku rumah tangga yang masih belum sadar lingkungan tersebut. Meski demikian, pihaknya juga sempat menerima laporan ada beberapa sumur warga yang telah dilaporkan tercemar bakteri E-coli sehingga tidak aman dikonsumsi. Namun, jika perilaku ini tidak diubah, maka dikhawatirkan sumur warga akan tercemar bakteri E-coli, mengingat masih ada sekitar 40 persen septictank milik warga yang belum bagus serta 26 persen masyarakat Kota Bogor masih membuang tinja di sungai. “Jika terus dibiarkan, limbah cair tinja bisa merembes sehingg masuk ke sumur warga,’ lanjutnya.

Di tempat yang sama, City Team Leader Mott Macdonald Pratiwi Andharyati mengatakan pembangunan sistem pengolahan limbah cair di Kota Bogor sangat mendesak. Dengan bantuan sejumlah pihak, ditargetkan tahun 2030 sistem ini sudah terbangun. Sebagai langkah awal, akan dipilih pilot project, berupa lokasi yang masuk pada wilayah rencana sewerage kota, daerah komersil dan padat penduduk. “Untuk langkah awal, pemerintah berencana membangun embrio, atau cikal bakal pengaturan sanitasi yang disiapkan di belakang kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Dengan luas lahan sekitar 625 meter persegi,” katanya.

Sambungan sanitasi diperkirakan dapat menampung sekitar 3100 sambungan, mulai dari kawasan bisnis Bogor lama, Sukasari, Juanda, hingga Paledang. Dengan area kelurahan dari Babakan Pasar, Gudang, Paledang hingga Sukasari. Tiga pemompaan akan dibangun di Babakan Pasar, Gudang dan Paledang,sesuai dengan topografi dan kontur lahan. (A-155/das)***

Juli 2011

Tindak Tegas Perusahaan Pencemar Sungai 

Sumber:http://www.greenradio.fm/  27 July 2011

KBR68H – Pemerintah diminta menindak tegas industri yang membuang limbah ke sungai. Juru Kampanye LSM Lingkungan Walhi, Teguh Surya mengatakan, tindakan tegas sangat diperlukan agar target penurunan tingkat pencemaran hingga 50 persen di Sungai Ciliwung, Musi dan Bengawan Solo tercapai pada 2014 mendatang. Kata Teguh, limbah industri lah yang paling banyak menyebabkan pencemaran di sungai-sungai tersebut.

“Sumber pencemar ini adalah pertama outlet dari pabrik itu langsung ke lokasi, ke sungai. Nah, kalau ada proses penegakan hukum yang profesional, tegas, saya pikir itu bisa dilakukan dengan sangat masuk akal. Tapi kalau cuma program-program workshop-workshop, seminar-seminar, pembangunan infrastruktur, ganti rugi, itu gak akan menyelesaikan,” kata Teguh.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengaku telah menganggarkan dana hingga 100 triliun rupiah untuk mengatasi masalah pencemaran di tiga sungai, yaitu Ciliwung, Musi dan Bengawan Solo. Menteri Negara Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta menargetkan pengurangan limbah hingga 50 persen pada 2014. Salah satu program dari KLH untuk pengurangan limbah di ketiga DAS tersebut adalah pembuatan biogas.

September 2011

BLH Depok Teliti Pencemaran Kali Ciliwung 

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/ 05 September 2011 

DEPOK–MICOM: Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok akan meneliti adanya proses pencemaran di Kali Ciliwung.

“Penelitian ini penting agar masyarakat tidak menjadi korban,” kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo, di Depok, Minggu (4/9).

Ia mengatakan penelitian ini untuk mengetahui kandungan chemical oxygen demand (COD) dan biological oxygen demand (BOD).

“Masyarakat telah melaporkan ditemukan aliran air limbah yang mengarah ke kali tersebut, kami harus menindaklanjuti,” katanya.

Untuk itu, pihaknya, kata Rahmat, sudah mengambil sampel air sungai Ciliwung untuk diteliti di laboratorium.

Menurut Rahmat, sumber air Ciliwung merupakan bahan baku untuk PDAM di Kota Depok. Untuk itu, perlu adanya kepastian bahwa air tersebut tidak tercemar.

Ia mengakui selama ini masyarakat yang mengonsumsi air PDAM tidak ada masalah.

Dikatakannya, kehidupan ikan di kali Ciliwung masih sangat baik.

Berdasarkan laporan warga dan kemudian ditindaklanjuti peninjauan petugas BLH, di wilayah RT 04/02 Kelurahan Pondok Cina, Kota Depok terdapat saluran air yang dipenuhi sampah dan airnya bewarna hitam pekat. Saluran itu mengarah ke Sungai Ciliwung.

Ia menjelaskan air tersebut diduga tercemar limbah domestik seperti limbah dari rumah tangga dan tempat pencucian pakaian (laundry) seperti air sabun. (Ant/OL-10)

Februari 2012

80 Persen Limbah Domestik Cemari Ciliwung

Sumber: http://www.beritajakarta.com/ 18 Februari 2012

Rendahnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan, membuat Sungai Ciliwung yang harusnya optimal menampung air hujan, kini telah kotor dengan banyaknya sampah rumah tangga atau limbah domestik. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) 80 persen pencemaran di Sungai Ciliwung disebabkan karena limbah domestik.

Selain itu, berdasarkan hasil investigasi terdapat 108 titik tumpukan sampah yang merupakan lokasi pembuangan sampah di bantaran Sungai Ciliwung.

“Ratusan tahun yang lalu, Sungai Ciliwung menjadi sarana transportasi utama bagi penduduk. Bahkan di daerah Jakarta Kota, berdiri Pelabuhan Kalapa yang merupakan cikal bakal Pelabuhan Sunda Kelapa, salah satu pelabuhan terbesar di nusantara pada zamannya,” kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta, saat kegiatan Demonstrasi Pembersihan Sungai Ciliwung oleh Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) di kawasan Jl KH Mas Mansyur, Tanahabang, Jakarta Pusat, Sabtu (18/2).

Dari dulu hingga sekarang, lanjutnya, banyak penduduk Jakarta yang menggunakan air Sungai Ciliwung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, sambung Fauzi, seiring bertambahnya penduduk yang bermukim di bantaran Sungai Ciliwung dan belum baiknya pengelolaan limbah cair dan padat khususnya di wilayah sekitar Ciliwung, menyebabkan daya tampung sungai semakin berkurang.

“Kondisi kualitas air Sungai Ciliwung saat ini sudah tercemar. Hal ini juga disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan Sungai Ciliwung,” ujarnya.

Menurut Fauzi, demonstrasi pembersihan sungai Ciliwung yang dilakukan dapat menjadi batu loncatan penting dalam revitaliasi gerakan ciliwung bersih. Selain itu, diharapkan juga dapat menggulirkan kegiatan atau program yang lebih besar dengan melibatkan peran swasta.

Menteri Lingkungan Hidup RI, Balthasar Kambuaya, menjelaskan saat ini Sungai Ciliwung mengalir melewati 74 kelurahan yang mencakup lima wilayah kota. Namun, di beberapa tempat terdapat pemukiman liar dan kumuh pada bantaran kali yang tingkat populasinya cukup tinggi sehingga menyebabkan tingginya volume sampah dan limbah cair domestik yang dibuang ke sungai.

Dikatakannya, pencemaran air Sungai Ciliwung 80 persen berasal dari kegiatan rumah tangga. Selain itu, terdapat sekitar 400 kegiatan usaha yang secara langsung maupun tidak pembuangan air limbahnya ke Ciliwung. “Bahkan berdasarkan hasil investigasi terdapat 108 titik tumpukan sampah yang merupakan lokasi pembuangan sampah di bantaran Sungai Ciliwung,” katanya.

Dari jumlah itu, sebanyak 10 titik tumpukan sampah telah ditutup. Namun, dari pengamatan di lapangan masih banyak ditemukan masyarakat yang menghuni bantaran sungai. Pihaknya mencatat ada sebanyak 26.818 KK yang menghuni bantaran Sungai Ciliwung. Sehingga, terjadinya sedimentasi serta penyempitan sungai dan tingginya pencemaran semakin menjadi-jadi.

“Kondisi lingkungan Sungai Ciliwung semakin memburuk mengingat laju permasalahan lebih cepat daripada aksi yang dilakukan. Oleh sebab itu, diperlukan komitmen bersama untuk segera memulihkan kondisi kualitas Sungai Ciliwung,” ujarnya.

Menteri Pekerjaan Umum, Joko Kirmanto, menyebutkan, panjang Sungai Ciliwung mencapai 130 kilometer, dengan hulu yang terletak di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat dan hilir yang terletak di kawasan Teluk Jakarta. Menurutnya, dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Sungai Ciliwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan tiba. Karena, sungai tersebut mengalir melalui tengah kota Jakarta dan melintasi banyak pemukiman. “Sungai ini juga dianggap yang paling parah mengalami kerusakan dibanding sungai lainnya. Tercatat, sebanyak 360 ribu meter kubik sampah yang dibuang ke sungai ini setiap harinya,” ujar Joko.

Sementara itu, Ketua GCB, Erna Witoelar, menambahkan, GCB yang telah berdiri sejak 20 tahun lalu memang didirikan untuk menyelesaikan masalah tersebut secara besama dan terpadu menuju Ciliwung yang bersih. Menurutnya, sudah ada 59 institusi baik dari pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, LSM serta dunia usaha yang juga punya komitmen untuk menjadikan Ciliwung tetap bersih.

Maret 2012

Sungai Ciliwung di Depok Tercemar Limbah B3 

Sumber:http://www.okefood.com/  14 Maret 2012

Foto: Marieska/okezone

DEPOK – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok menemukan sampah berbahan limbah B3 yang dibuang di pinggir Sungai Ciliwung. Sampah tersebut adalah bekas lampu yang memiliki kandungan kimia berbahaya dan berdampak buruk terhadap pencemaran lingkungan.

“Lampu masuk golongan limbah B3 karena mudah meledak dan terbakar. Limbah tersebut menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan,” terang Staff khusus BLH Kota Depok Sariyo Sabani kepada wartawan, Rabu (14/03/12).

Sariyo mengatakan, tak hanya limbah B3, sampah yang didapat dari sela-sela jembatan pos pemantau Sungai Ciliwung, Sukmajaya, kebanyakan berasal dari sampah rumah tangga.

“Masih banyaknya sampah yang dibuang sembarangan membuktikan bahwa budaya menjaga lingkungan itu belum ada. Masyarakat dengan mudahnya membuang sampah ke kali. Padahal bisa dikatakan sungai merupakan salah satu sumber kehidupan manusia yang harus dijaga kelestariannya,” paparnya.

Seharusnya, kata dia, potensi sungai yang sangat besar dapat dimanfaatkan menjadi hal berguna. “Sungai Ciliwung dapat menjadi objek wisata air yang bagus. Namun itu semua bisa terwujud jika semua masyarakat sadar untuk menjaga kebersihan sungai,” tegas Sariyo.

Sampah yang berhasil diangkut setiap kali pembersihan mencapai satu truk. “Sampah ini nantinya dibawa oleh petugas DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan) untuk selanjutnya dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Sampah) di Cipayung,” kata Sariyo.

Sementara itu Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Ulis Sumardi, mengatakan dalam sehari produksi sampah mencapai 4.250 meter kubik. Namun yang hanya terangkut sebesar 1.615 meter kubik per hari.

“Rata-rata satu orang membuang sampah sebesar 2,5 liter per hari. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, diperkirakan jumlah sampah meningkat. Kami menargetkan pada 2013, sampah yang dapat tertangani sebesar 47 persen. Rencananya pada 2014 sebanyak 15 UPS diaktifkan, sehingga jumlah UPS bisa mencapai 34. Semoga ini bisa menjadi solusi penanganan sampah,” tandas Ulis.  (crl)

Ciliwung tercemar limbah B3

Sumber: http://www.monitordepok.co.id/  15 Maret 2012 

PANMAS, MONDE: Kendati telah dibersihkan secara berkala, tepatnya sebulan sekali, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) ternyata masih mencemari Sungai Ciliwung.

Hal ini dikatakan Staf Khusus Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Sariyo Sabani, ketika mengawasi pembersihan bantaran Sungai Ciliwung di bawah Jembatan Panus, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, kemarin.

“Saya harap warga sadar agar tidak membuang limbah B3 ke Sungai Ciliwung. Kalau ini terus dilakukan maka akan mencemari lingkungan,” kata Sariyo.

Ia mengatakan, aparat Pemkot Depok setiap sebulan sekali rutin membersihkan sampah di bantaran Sungai Ciliwung, tetapi setiap kali pula limbah B3 tetap banyak ditemui. “Ini tentunya menandakan warga tidak menyadari bahaya membuang sampah secara sembarangan, apalagi di bantaran Sungai Ciliwung,” katanya.

Mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok tersebut menegaskan, pihaknya telah berulang kali mengingatkan warga agar tidak membuang sampah di Sungai Ciliwung, namun tetap saja terjadi.

“Limbah B3 yang ditemukan misalnya adalah bekas lampu dan bekas kaleng oli, dan juga yang memiliki kandungan kimia berbahaya dan berdampak buruk terhadap lingkungan,” ungkap Sariyo.

Dikatakannya, sampah yang berhasil diangkut setiap kali pembersihan mencapai satu truk kemudian diangkut petugas Kebersihan dan Pertamanan untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir di Cipayung.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Ulis Sumardi, menuturkan, dengan jumlah penduduk mencapai 1,7 juta jiwa, produksi sampah di Kota Depok setiap harinya mencapai 4.250 m3 per hari.

“Kemampuan DKP hanya mencapai 38 persen atau sebanyak 1.615 kubik per hari,” terangnya.

Untuk menangani permasalahan sampah pihaknya akan mengaktifkan unit pengolahan sampah (UPS), di mana yang sudah beroperasi sebanyak 19 UPS dari 47 UPS . “Tahun 2014 akan kita aktifkan lagi 15 UPS, sehingga jumlahyang beroperasi menjadi 34 UPS,” tegas Ulis.(ant/ash)

April 2012

Tercemar Berat, Sungai Ciliwung Ditargetkan Pulih 2030

Sumber: http://www.republika.co.id/ 18 April 2012

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Pemerintah ingin lebih serius menangani pencemaran di Sungai Ciliwung. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama intansi terkait menyusun rencana pemulihan Sungai Ciliwung untuk kurun waktu 20 tahun (2010-2030).

KLH menargetkan bahwa pemulihan kondisi sungai akan selesai pada 2030. Sungai Ciliwung merupakan salah satu dari tiga belas sungai prioritas nasional 2010-2014.

Berdasarkan data dari KLH, kondisi sungai tersebut telah mengalami penurunan tutupan hutan di wilayah DAS. Sebanyak 68% lahan aliran sungai ini telah menjadi perumahan.

Kini sungai tersebut juga dalam kondisi tercemar berat dari hulu sampai hilir. Selain itu, daerah tersebut juga sering banjir karena semua air hujan yang ada menjadi air permukaan. Tidak ada lagi air yang meresap ke tanah.

Kurangnya resapan air ini disebabkan penggundulan hutan serta pembuangan sampah di sungai oleh masyarakat sekitar. Tiga sumber pencemar utama di Ciliwung berasal dari limbah domestik, industri dan peternakan.

Prof. Balthasar Kambuaya, menteri lingkungan hidup mengatakan bahwa gerakan penyelamatan Sungai yang menjadi maskot Jakarta ini untuk bersih dan tanpa sampah harus terus dilakukan.

“Dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat haruslah memiliki semangat yang sama dan saling bekerjasama untuk melaksanakan aksi nyata mewujudkan Ciliwung bersih tanpa sampah” ujarnya pada (18/4).

Rencana umum pengendalian pencemaran Sungai Ciliwung periode 2010-2030 bertujuan menurunkan beban pencemaran dari ketiga sumber pencemaran secara bertahap. Kegiatan yang akan dilakukan adalah pembuatan saluran penyaring/peredam air limbah rumah tangga di sepanjang sungai, instansi pengolahan air limbah pemukiman, septic tank dan instansi gas bio.

Sementara itu rencana pengendalian kerusakan lingkungan diarahkan untuk peningkatan resapan air dan rehabilitasi lahan. Caranya adalah dengan reboisasi, agroforiesti, penghijauan, pembuatan dam penahan, juga pembuatan sistem resapan biopori, penertiban sempadan dan bantaran sungai. Biaya untuk pemulihan ciliwung ini rencananya akan menghabiskan lebih dari 5 triliun rupiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: