2011: Nimbrung di Cliwung

#NimbrungDiCiliwung Minggu 20 Nov 11 Undangan Partisipasi Kegiatan Menggalang Ide dan Gagasan Penyelamatan Ciliwung

Oleh:  Sudirman Asun. 

Sumber: http://green.kompasiana.com/ 18 November 2011 

Nimbrung Di Ciliwung 20 November 2011 di Komunitas Ciliwung Condet

Kota Jakarta punya segalanya, baik sumber dana dan sumber daya manusia pintar-pintar dan cerdas-cerdas, akan tetapi sepertinya persoalan kerusakan Sungai Ciliwung terasa berlarut-larut selama puluhan tahun tidak tertangani bahkan proses pengrusakan ekosistem Ciliwung terakhir ini terasa makin menjadi-jadi.

Kelompok kecil para Komunitas Ciliwung mulai dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Komunitas Ciliwung Bojonggede, Sanggar Daun Lenteng Agung, Komunitas Ciliwung Condet, Komunitas Ciliwung Rawa Jati, Green Camp Halimun Manggarai dan Komunitas Hijau seperti Transformasi Hijau, Dongeng Kanvas, Dongeng Segar dan Teens Go Green dalam kelompok-kelompok kecil terus mengupayakan penyelamatan dan konservasi Ciliwung.

Kami memerlukan lebih banyak lagi tenaga, sukarelawan, gagasan dan ide lebih banyak lagi untuk memperkuat jaringan dan membangun sinergi baru pemberdayaan warga pinggir Ciliwung merubah mindset, paradigma tentang sungai sebagai sumber daya air permukaan yang perlu dijaga , menggali kembali kearifan lokal menjaga sungai.

Untuk itu pada Hari Minggu 20 November kami mengajak semua komunitas- komunitas maupun warga Jakarta untuk berkunjung ke Ciliwung partisipasi kegiatan menggalang ide dan gagasan penyelamatan Ciliwung.

Hari, tanggal : Minggu, 20 November 2011
Waktu : Pukul 07.00 – 17.00 WIB
Lokasi : Komunitas Ciliwung Condet (KCC) Jl. Munggang Condet, Balekambang
Kegiatan : Kumpul warga dan komunitas untuk mengenal potensi wisata Ciliwung
Contact Person : Abdul Kodir 081380748996

Waktu Kegiatan Detil Acara

  • 07.00 – 08.00 Registrasi Peserta Peserta Registrasi dan dibagi jadi 5 kelompok
  • 08.00 – 09.00 Trash Buster (Mulung Sampah Ciliwung) Peserta beserta koordinator titik menuju lokasi pembersihan (briefing, pembagian tugas, teknis pengumpulan dan penghitungan)
  • 09.00 – 09.30 Pembukaan acara Pantun Betawi
    Penanaman Salak Condet – (Wakil KCC; Dinas Kelautan dan Pertanian)
    Launching Paket Wisata Ciliwung (Wakil KCC, Dinas Pariwisata)
  • 09.30 – 17.00 Nimbrung Komunitas Peserta bisa berkeliling ke stand setiap Komunitas

a. Nimbrung Jelajah

1. Arung Ciliwung (KCC, Green Camp)
2. Jelajah Kampung + Lomba Mungut Sampah (KCC, SSE, Lantan Bentala)
3. Pengamatan Burung dan Herpet (TRASHI) – 14.00 -16.00

b. Nimbrung Aksi

1. Workshop fotografi (Henry Adam)
2. Edukasi Pemilahan Sampah (KOPHI)
3. Kampanye foto dan survey Styrofoam (TGG)
4. Kreasi kreatif (Green Camp Halimun)
5. Video komitmen (Earth Hour)
6. Nonton film jadul (KHI)
7. Bazaar Makanan Tepi Kali (Ibu2 Condet)

c. Nimbrung Gaya

1. Musik dari Komunitas Talang
2. Magic in Ciliwung (Line Magic Community)
3. Story telling Dongeng Kanvas (tentang penanaman)
4. Musik dari KPC Rawajati
5. Story telling SSE (tentang sampah)
6. OTIC (Obrolan Tepi Ciliwung): Peta Hijau, KPC Bogor. Tema: Ciliwung, Ruang Terbuka Hijau yang Terabaikan.

Peringatan ini akan dilakukan dalam bentuk wisata edukasi yang disebut Nimbrung di Ciliwung. Kegiatan ini merupakan upaya pengenalan potensi positif yang mungkin dikembangkan di bantaran Ciliwung Condet. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini akan mendapatkan pengetahuan dan informasi praktis perihal kegiatan penyelamatan Ciliwung yang saat ini tengah dilakukan oleh komunitas peduli Ciliwung Jakarta.

Demikian undangan ini kami sampaikan, besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara bersedia menghadiri kegiatan ini. Terima kasih untuk kerjasama yang diberikan.

Nimbrung di Ciliwung

Sumber:http://suarajakarta.com/   

 Jakarta – Komunitas Ciliwung Condet, sebuah komunitas yang bergerak pada pelestarian Ciliwung dan salak condet bersama jejaring komunitas peduli Ciliwung Jakarta yang berjumlah 20 komunitas berencana akan melakukan peringatan Hari Pohon yang akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Minggu, 20 November 2011
Waktu : Pukul 07.00 – 17.00 WIB
Lokasi : Jl. Munggang Condet, Balekambang
Kegiatan : Kumpul warga dan komunitas untuk mengenal potensi wisata Ciliwung

Peringatan ini akan dilakukan dalam bentuk wisata edukasi yang disebut Nimbrung di Ciliwung. Kegiatan ini merupakan upaya pengenalan potensi positif yang mungkin dikembangkan di bantaran Ciliwung Condet. Peserta yang hadir dalam kegiatan ini akan mendapatkan pengetahuan dan informasi praktis perihal kegiatan penyelamatan Ciliwung yang saat ini tengah dilakukan oleh komunitas peduli Ciliwung Jakarta.

Demikian undangan ini kami sampaikan, besar harapan kami Bapak/Ibu/Saudara bersedia menghadiri kegiatan ini. Terima kasih untuk kerjasama yang diberikan.

Jakarta, 16 November 2011

Koordinator Nimbrung di Ciliwung,
Abdul Kodir – Komunitas Ciliwung Condet

Berkumpul, Bermain, Bercerita, Berkreasi dan Belajar di Ciliwung 

 Sumber: http://ucilmaniac.blogspot.com/  14 November 2011 

Gak melulu Sungai Ciliwung itu kita nilai dari sampahnya atau bahkan bau dan coklat pekat warna airnya.

Tahukah kalian dahulu Ciliwung merupakan sungai yg indah dan jernih karena kecerobohan dan sikap gak peduli kitalah yg membuat ia tak secantik dulu lagi.

Naah dalam rangka menyambut Hari Pohon tanggal 21 November nanti, Komunitas Ciliwung Condet, Transformasi Hijau (TRASHI), Teens Go Green (TGG), Green Camp Halimun, Koalisi Pemuda Hijau (KOPHI) dan masih banyak komunitas lainya yg bergabung serta mendukung terlaksananya kegiatan ini, kami semua akan kembali mengangkat ciliwung sebagai tempat alternatif lain dalam berwisata dengan tema “NimbrungdiCiliwung” acara ini akan berlangsung seharian penuh pada tanggal 20 November 2011.

Jangan salah lho, kegiatan ini bakalan jadi seru banget karena banyak komunitas yang akan unjuk gigi dengan ide- ide segarnya untuk memeriahkan acara pada hari itu, beberapa bocoranya sih emmm..

Kasih tau gak ya??? Hehe.. bakalan ada pertunjukan sulap, Nah lho.. !! Kok bisa ya??

Makanya jangan ragu lagi dukung kami dengan mengganti Foto Profile FB, Twitter, Myspace, Blog ataupun jejaring sosial kalian ini dengan foto yang aku lampirkan di tulisanku ini.

Kalian juga bisa dukung kami dengan datang saat Kegiatan Nimbrung di Ciliwung akan dilaksanakan pada:

Hari, tanggal : Minggu, 20 November 2011
Waktu : Pukul 07.00 – 17.00 WIB
Lokasi : Jl. Munggang Condet, Balekambang, Jakarta Timur.

So, Jangan sampai kelewatan ya, pokoknya habis baca tulisanku ini buru-buru deh cari kalender, atau pasang reminder di handphone kalian masing- masing dan tandai tanggal 20 november nanti sebagai hari penting yang wajib, kudu, musti, harus diinget dan jangan sampai gak dateng karena nanti acaranya bakalan seru dan edukatif dengan hiburan yang tentunya gak bakal habis- habis, dan Insya Allah gak memproduksi sampah karena disana bakalan ada Bank Sampah dan Polisi Sampah yang akan mengontrol aktivitas kalian selama disana, Jadi jangan ada yang Buang Sampah Sembarangan Yaaa !!!

Oh iya, aku kasih bocoran lagi deh..

Insya Allah klo ga ada halangan Komunitas Historia Indonesia Full (KHI) juga bakalan mengisi acara loh, yang diwakilkan oleh Kang Asep Kambali, beliau akan memutarkan film mengenai Sungai Ciliwung..

Waah kebayang duunk kita bakalan nonton layar tancep neh, jadi gak sabar pengen cepet- cepet hari minggu :p

Inget ya teman- teman Jangan Buang Sampah Sembarangan!!

Bawa tempat makan & minum sendiri agar kegiatan berwisata kita nanti ga terganggu oleh tumpukan sampah, klo masih banyak sampah bertebaran percuma juga doong kegiatan ini dibuat. Jadi mulai sekarang coba deh merubah gaya hidup teman- teman agar lebih ramah lingkungan, bisa dimulai dari hal- hal kecil kok. Karena perubahan yang kecil namun positif bisa berdampak pada masa depan lingkungan kita.

Mari bersama berdoa dan teriakkan dalam hati “SAVE OUR CILIWUNG” (lebhay dikit gpp khan)

Semoga suatu saat nanti Ciliwung bisa seindah wisata air dengan gondolanya seperti di Venesia ^_^

Berbagi di Pinggir Kali Ciliwung

Sumber:  http://edorusyanto.wordpress.com/20 November 2011
CILIWUNG cukup akrab di telinga warga Jakarta. Sungai itu berhulu di Bogor, Jawa Barat, membelah Jakarta, dan bermuara di Laut Jawa. Saat ini, kian ke hilir, air Ciliwung kian keruh, bahkan sebagian berwarna hitam pekat plus aneka sampah.

Hal itu membuat sejumlah komponen masyarakat memberdayakan diri mengurangi pencemaran terhadap sungai Ciliwung. Salah satunya adalah Komunitas Ciliwung Condet, Jakarta Timur. Mereka berjuang mengurangi sampah yang mencemari.

Salah satu aktifitas mereka untuk menggaungkan semangat peduli dan aksi nyata menjaga kebersihan Ciliwung, mereka menggelar Nimbrung di Ciliwung. Program yang menghimpun sekitar 30 komunitas di Jakarta dan sekitarnya itu, cukup mengundang banyak peminat.

Saat saya menjejakan kaki di kawasan Jl Munggang, Condet Balekambang, Minggu (20/11/2011) pagi, tampak puluhan anak remaja dan dewasa. Ada yang sedang asyik diskusi, ada yang bermain, bahkan ada yang sedang bermusik dan main sulap. Tampak juga kolega saya bro Adhi aka alonrider.

“Nimbrung di Ciliwung merupakan kegiatan wisata pendidikan ramah lingkungan,” jelas Sudirman Asun, penggagas kegiatan tersebut.
Nimbrung di Ciliwung digelar oleh Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta. Jejaring tersebut terdiri atas lintas komunitas yang mengerjakan isu lingkungan, seni, dan pendidikan.

“Bicara lingkungan itu luas. Tidak semata penghijauan, tapi juga bicara ekosistem, termasuk lingkungan jalan,” papar Abdul Khodir, aktifis Komunitas Ciliwung Condet (KCC), saat berbincang dengan saya, Minggu.
Pantas saja ada stand sulap dan ekspresi musik di area yang dikelilingi pohon salak Condet itu.

Saya sempatkan berkeliling sejenak. Hingga akhirnya memilih sebuah saung bambu untuk beristirahat. Suasana sekeliling teduh karena dinaungi rerimbunan aneka pohon. Betapa nyamannya Jakarta jika memiliki banyak hutan kota seperti ini. Masyarakat tidak seenaknya menebang pohon untuk membangun hunian. Terlebih para pengembang yang gencar membangun superblok dengan gedung pencakar langitnya.

Belum lagi sesaknya Jakarta oleh jutaan kendaraan yang ramai-ramai membuang gas emisi buang. “Aturan soal gas emisi buang sudah ada, tinggal penerapannya saja di lapangan,” kata Panggung, staf kementerian lingkungan hidup (KLH), saat berbagi di area KCC.

Faktanya, di lapangan aneka kendaraan dengan gas emisi buang yang bisa menyesakan dada masih berseliweran di jalan. Selain itu, juga banyak yang memakai knalpot dengan suara memekakan telinga. Butuh masyarakat yang peduli kepada lingkungan.

“Yang peduli banyak mas, tapi yang berbuat aksi nyata masih kurang,” papar Khodir.

Ya. Aksi nyata untuk lingkungan sekitar memang masih dibutuhkan. Tak semata soal menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, tapi juga mencakup lingkungan yang lebih luas. Termasuk tentu saja di lingkungan jalan. Berkendara yang peduli dengan sesama untuk keselamatan seluruh pengguna jalan. Jakarta mesti menjadi kota yang lebih manusiawi. Cukup sudah tiga orang tewas sia-sia setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas jalan. (edo rusyanto)

Peringatan Hari Pohon Sedunia: Nimbrung di Ciliwung

Sumber: http://www.beritasatu.com/  20 November 2011 

Hari ini, Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta melakukan kegiatan bersama dalam memperingati hari Pohon Sedunia yang dinamakan Nimbrung di Ciliwung di daerah Condet Balekambang.

Kegiatan yang dimulai pukul 07.00-17.00 ini, bertujuan untuk mengangkat potensi wisata Ciliwung, mengajak warga Jakarta untuk peduli pada pelestarian Ciliwung, dan sebagai ajang kumpul komunitas perkotaan Jakarta.

Ciliwung dikenal sebagai sungai yang kotor dan kumuh karena padatnya pemukiman penduduk di bantarannya, serta sering dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah.

Selain fakta kerusakan yang ada, Ciliwung masih menyimpan potensi alam baik itu keanekaragaman satwa maupun tumbuhan. Salah satu segmen Ciliwung yang kondisi lingkungannya masih terawat berada di Condet Balekambang.

Kawasan ini ditetapkan pemerintah DKI Jakarta sebagai Kawasan Cagar Budaya untuk tempat perlindungan salak condet, buah asli Jakarta dan sebagai lambang kota Jakarta.

Hendra Aquan dari Transformasi Hijau mengatakan bahwa alih fungsi lahan di bantaran Ciliwung menjadi tempat pembuangan sampah ilegal dan perumahan telah menjadikan lahan budidaya salak condet hanya tersisa di Balekambang Condet saja. “Potensi lingkungan ini layak untuk dipertahankan dan usaha ini tentunya butuh dukungan dan kepedulian dari semua pihak,” ujar Hendra.

Menyadari perlu adanya wujud nyata usaha positif pelestarian Ciliwung maka Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta menginisiasi kegiatan Nimbrung di Ciliwung yang dikemas dengan konsep wisata pendidikan.
Sudirman Asun, salah seorang penggagas kegiatan ini mengatakan bahwa kegiatan wisata pendidikan ramah lingkungan ini akan diberikan secara atraktif melalui dongeng dan diikuti dengan penerapannya seperti memilah sampah dan menanam salak condet.

“Peserta dapat mencoba paket wisata yang akan dikembangkan di Ciliwung Condet, seperti jelajah kampung, jelajah Ciliwung dengan kano, menanam salak condet dan mencicipi aneka masakan tradisional khas Betawi.” Ungkap Sudirman.

Kegiatan ini diramaikan oleh 20-an komunitas Jakarta dan sedikitnya 300 orang peserta yang berasal dari berbagai kelompok, seperti organisasi kemasyarakatan, ibu rumah tangga, siswa sekolah, praktisi dan penggiat lingkungan, wartawan, mahasiswa, pemerintah dan warga sekitar lokasi kegiatan.   Penulis: Meisy Billem

Nimbrung di Ciliwung Ramai Pengunjung

Sumber: http://suarajakarta.com/  21November 2011

Jakarta – “Kondisi sungai kita kian meradang”. Itulah landasan para jejaring komunitas Jakarta menggagas sebuah acara yang bernama ‘Nimbrung Di Ciliwung’. Acara yang dilaksanakan Minggu (20/11/11) di kawasan Sungai Ciliwung Condet ini diprakarsai beberapa komunitas Jakarta yang peduli pada Sungai Ciliwung. Komunitas tersebut diantaranya adalah Komunitas Ciliwung Condet (KCC), Transformasi Hijau (TRASHI), Green Camp Halimun (GCH), Teens Go Green (TGG), Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), Sampoerna School of Education (SSE), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Line Magic Community (LMC). Collaboration with Friends (CWF), Jakarta Glue, Media Komunitas SuaraJakarta.com, serta beberapa komunitas partisipan lainnya.

Secara garis besar acara ini bertujuan ntuk menimbulkan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi sungai yang bersih bagi kehidupan kita. Acara yang bertepatan dengan hari pohon sedunia ini juga mengupayakan pelestarian tanaman Salak Condet dengan penanaman bibit Salak Condet di lokasi sekitar oleh pejabat kelurahan setempat dan ketua komunitas Ciliwung Condet, Abdul Kodir.

Acara yang dihadiri sekitar lebih dari 100 peserta ini dimulai dengan Trash Buster (Mulung sampah di Ciliwung). Para peserta diajak untuk ikut menjaga kebersihan Sungai Ciliwung dengan memunguti sampah yang ada di sungai dan di sekitarnya. Setelah itu masing-masing komunitas mengisi acara dengan berbagai kegiatan yang diantaranya adalah edukasi pemilihan sampah, workshop fotographi, pengamatan burung dan herpet dll. Peserta juga diajak mengarungi sungai Ciliwung dengan menggunakan perahu mesin,kano, dan getek yang telah disediakan panitia. Panitia juga mengajak para peserta untuk menjelajah kampung sekitar Sungai Ciliwung sambil memunguti smapah yang berserakan disekitarnya.

Para peserta juga dihibur dengan penampilan musik, storry telling (dongeng), dan penampilan sulap. Acara ditutup dengan menonton film tentang Sungai Ciliwung tempo dulu. Dalam film tersebut menunjukkan Sungai Ciliwung yang bersih tanpa sampah satupun dan masih menjadi pusat kebutuhan MCK masyarakat sekitar. Akankah Sungai Ciliwung kita saat ini bisa kembali kepada fungsi awal nya sebagai sumber utama kebutuhan air masyarakat? Semuanya bergantung kepada apa yang kita lakukan. Save Our Ciliwung…!!!

Mengangkat Potensi Wisata Kali Ciliwung

Penulis : Afit Riesman Arief

Sumber:  http://www.mediaindonesia.com/ 21 November 2011

JAKARTA–MICOM: Memperingati hari pohon sedunia, Jejaring Komunitas Peduli Ciliwung Jakarta menggelar acara bertajuk ‘Nimbrung Di Ciliwung’ di kelurahan Balekambang, Condet, Jakarta Timur, Minggu (20/11).

Acara yang baru pertama kali diadakan ini bertujuan untuk mengangkat potensi wisata di Kali Ciliwung.

Sebanyak 20 komunitas turut meramaikan acara yang digelar sejak pagi hingga petang ini. Diantaranya adalah, Komunitas Ciliwung Condet (KCC), Transformasi Hijau (TRASHI), Green Camp Halimun (GCH), Teens Go Green (TGG), Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), Sampoerna School Of Education (SSE), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Line Magic Community (LMC), Collaboration With Friends (CWF) dan Jakarta Glue.

Sejak dahulu, Ciliwung dikenal sebagai sungai yang kotor dan kumuh. Hal itu disebabkanpadatnya pemukiman penduduk di bantarannya dan sering digunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah. Hingga saat ini pun di beberapa titik bantaran sungai Ciliwung masih terdapat gunungan sampah.

“Tadi kami menelusuri sepanjang sungai, kami temukan beberapa gunungan sampah, kaget juga ternyata masih banyak warga yang membuang limbah rumah tangganya ke sungai,” kata program manajer komunitas Transformasi Hijau (TRASHI), Ady. (OL-11)

Nimbrung Di Ciliwung ” Magic For Save Earth”

Sumber:http://blog-lmc.blogspot.com/ November 2011

Jakarta – “Kondisi sungai kita kian meradang”. Itulah landasan para jejaring komunitas Jakarta menggagas sebuah acara yang bernama ‘Nimbrung Di Ciliwung’. Acara yang dilaksanakan Minggu (20/11/11) di kawasan Sungai Ciliwung Condet ini diprakarsai beberapa komunitas Jakarta yang peduli pada Sungai Ciliwung. Komunitas tersebut diantaranya adalah Komunitas Ciliwung Condet (KCC), Transformasi Hijau (TRASHI), Green Camp Halimun (GCH), Teens Go Green (TGG), Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI), Sampoerna School of Education (SSE), Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Line Magic Community (LMC). Collaboration with Friends (CWF), Jakarta Glue, Media Komunitas SuaraJakarta.com, serta beberapa komunitas partisipan lainnya.

Secara garis besar acara ini bertujuan ntuk menimbulkan kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi sungai yang bersih bagi kehidupan kita. Acara yang bertepatan dengan hari pohon sedunia ini juga mengupayakan pelestarian tanaman Salak Condet dengan penanaman bibit Salak Condet di lokasi sekitar oleh pejabat kelurahan setempat dan ketua komunitas Ciliwung Condet, Abdul Kodir.

Acara yang dihadiri sekitar lebih dari 100 peserta ini dimulai dengan Trash Buster (Mulung sampah di Ciliwung). Para peserta diajak untuk ikut menjaga kebersihan Sungai Ciliwung dengan memunguti sampah yang ada di sungai dan di sekitarnya. Setelah itu masing-masing komunitas mengisi acara dengan berbagai kegiatan yang diantaranya adalah edukasi pemilihan sampah, workshop fotographi, pengamatan burung dan herpet dll. Peserta juga diajak mengarungi sungai Ciliwung dengan menggunakan perahu mesin,kano, dan getek yang telah disediakan panitia. Panitia juga mengajak para peserta untuk menjelajah kampung sekitar Sungai Ciliwung sambil memunguti smapah yang berserakan disekitarnya.

Para peserta juga dihibur dengan penampilan musik, storry telling (dongeng), dan penampilan sulap dari Lne Magic Community. Acara ditutup dengan menonton film tentang Sungai Ciliwung tempo dulu. Dalam film tersebut menunjukkan Sungai Ciliwung yang bersih tanpa sampah satupun dan masih menjadi pusat kebutuhan MCK masyarakat sekitar. Akankah Sungai Ciliwung kita saat ini bisa kembali kepada fungsi awal nya sebagai sumber utama kebutuhan air masyarakat? Semuanya bergantung kepada apa yang kita lakukan. Save Our Ciliwung…!!!

Bagi kami pentingnya penyelamatan sungai di jakarta sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sangatlah penting, kami memiliki cara tersendiri tuk menyelamatkan ciliwung, melalui sulap kami mengajak kalian semua tuk peduli dengan alam sekitar dan ikut melestarikannya,karena tampa kita alam bisa terselamatkan jadi katakan “LOE” “MERUSAK ALAM”, END….

Wisata Alam @CILIWUNG

Sumber:http://chunleekhansa.wordpress.com/22 November 2011

Selasa, 22 November 2011. Apa komentar warga Jakarta jika mendengar Ciliwung? Kumuh, kotor, sampah, banjir dan sebagainya. Namun masih tersimpan potensi berwisata di Ciliwung. Minggu tepatnya tanggal 20 November 2011 Komunitas Jejaring Peduli Ciliwung Jakarta mengadakan acara NIMBRUNG DI CILIWUNG, acara ini dipersembahkan untuk seluruh komponen warga Jakarta segala usia, dalam rangka peringatan Hari Pohon Sedunia. Berbagai macam acara disajikan seperti bermain, berkumpul, bercerita, berkreasi dan belajar di Ciliwung. Pengunjung akan terhipnotis dengan suasana yang santai dan menyatu dengan alam. Tidak hanya orang dewasa, remaja dan anak-anak pun ikut terhipnotis.

Wisata Alam @Ciliwung

Acara ini banyak di dukung oleh komunitas-komunitas seperti : Komunitas CIliwung Condet, Komunitas Ciliwung Rawajati, Komunitas Talang, Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Komunitas Fotografi, Komunitas Historia Indonesia, Green Camp Halimun, Transformasi Hijau, Koalisi Pemuda Hijau Indonesia, Teen Go Green, Sampoerna School of Education, Yayasan KEHATI, Suara Jakarta, Iklim Karbon, Line Magic Community, Yayasan Lantan Bentala, Peta Hijau dan Jakarta GLUE.

Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00-17.00 wib cukup padat. Dimulai dari menelusuri Ciliwung dengan menggunakan perahu karet, menikmati pemandangan dengan sisi kanan dan kiri penuh dengan sampah berserakan. Menjelajahi kampung yang ada di sekitar Pangkalan Bambu, Jl. Munggang Balekambang Condet.

Sesi Dongeng

Hujan rintik-rintik membuat tanah disekitar kebun Salak menjadi becek. Meski gerimis acara tetap berlangsung dan beberapa agenda telah terlaksana, pengunjung beristirahat sebentar. Dan anak-anak TK mulai menikmati dongeng yang dipersembahkan oleh Sampoerna School of Education. Dongeng yang bersifat pendidikan tentang bagaimana melestarikan lingkungan seperti menanam pohon, menjaga tanaman agar tidak sembarang di tebang, membuang sampah ditempatnya, menjaga sungai dari sampah-sampah serta sisipan humor yang membuat penonton dewasa dan anak-anak tertawa, cukup menghibur karena aktris dongeng tidak malu-malu memerankannya, mereka berperan sebagai pohon, anak SD serta ibu guru. Atribut yang digunakan sangat bersahabat dengan lingkungan seperti karton dan kardus yang telah di modifikasi. Diakhir acara MC memberikan pertanyaan kepada anak-anak TK serta memberikan hadiah bagi yang bisa menjawabnya.

Dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab yang menghadirkan sejumlah tokoh diantaranya adalah Rudi dari KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) Bogor, Yudi Koordinator Peta Hijau bagian ruang terbuka hijau, Sylviana Murni yang saat ini sedang menjabat asisten tata pemerintahan, Paulus Wirutomo dari Jakarta GLUE serta Panggung staff Kementrian Lingkungan Hidup. Masing-masing memaparkan dukungannya pada acara NIMBRUNG DI CILIWUNG serta berbagi informasi pengalaman dalam aksi mereka selama ini terhadap Ciliwung serta rencana dan upaya-upaya pelestarian lingkungan dan harapan untuk perubahan Ciliwung ke depan. Berbagai macam pertanyaan pun dilontarkan oleh penonton. Diakhir diskusi sebagai kenang-kenangan kepada para tokoh yang telah hadir, panitia memberikan cendramata berupa pohon Salak khas Condet ditambah mug cantik berlogo NIMBRUNG DI CILIWUNG serta logo-logo komunitas yang turut berpartisipasi, cendramata ini diberikan oleh ketua panitia NIMBRUNG DI CILIWUNG Abdul Khodir yang akrab di sapa bang Khodir. Menurut bang Khodir Salak khas Condet hanya ada di kawasan Condet dan Salak ini memilki 40 varietas tidak hanya itu bang Khodir pun berharap agar Salak Condet dapat dibudi dayakan.

Sajian hiburan musik datang dari Grup musik Rawa jati yang melantunkan 2 buah lagu dengan lirik seputar alam dan lingkungan hidup.

Salak khas Condet

Memasuki pukul 12.00 wib acara dihentikan untuk sholat, makan siang dan istirahat siang, saya dan teman-teman setelah sholat menyempatkan untuk berkeliling di kebun Salak serta melihat-lihat situasi yang telah dilakukan para pengunjung, kami duduk-duduk di saung dekat sungai sambil menikmati suasana alam dengan banyaknya pepohonan dan tanah yang becek, suasana ini serasa di pedesaaan, berfoto ria, dan berbincang dengan beberapa komunitas lain. Selain itu ada juga stand tattoo bergambar bunga yang berwarna warni dan pemasangannya di pipi, beberapa mahasiswa perempuan sangat percaya diri alias “pede” apalagi dengan gambar bunga yang besar di pipinya, bahan tattoonya bisa di hapus dengan air dan sabun seperti tattoo para supporter bola.

Bukan gambar bunga melainkan gambar 1 buah daun kecil hijau ada di pipiku, itu yang aku inginkan, mengapa daun karena hari itu aku menggunakan kostum berwarna army yang disesuaikan dengan konsep alam dan lingkungan hidup. Pupus keinginanku karena salah satu temanku melontarkan kalimat yang sepertinya tidak penting atau tidak setuju dengan pembuatan tattoo, akhirnya aku tidak bersemangat dan kami pergi makan siang.

Kami kembali untuk melihat acara selanjutnya, sayangnya sudah tertinggal, 1 buah acara yang sepertinya penuh hiburan dengan humor yang dibawakan satu orang pria yang mahir dalam memainkan suaranya hingga bisa menjelma menjadi siapapun seperti seorang kakek, menyerupai suara hewan, suara anak kecil dan sebagainya hingga terakhir berujung pada pembagian hadiah pada penonton yang bisa menjawab pertanyaan.

Acara berikutnya adalah menyaksikan “Film Tempoe Doeloe”, film yang disajikan oleh Komunitas Historia Indonesia ini cukup menghibur bagi penonton yang ingin mengetahui, seperti apa Jakarta pada masa lampau. Film ini di dapat dari mereka-mereka yang membelinya di Belanda, menitip dan juga hadiah yang diberikan kepada beberapa warga Indonesia yang beruntung mendapatkannya. Berbagai macam versi mulai dari film berwarna hitam putih tanpa suara, berwarna tanpa suara, serta berwarna dan bersuara, ada juga yang di tambahkan musik seperti musik “Rasa Sayange” versi original. Hal lain adalah film tersebut masih menggunakan judul-judul dengan menggunakan bahasa Belanda. Dahulu film atau hasil rekaman tersebut di bawa pulang oleh warga Belanda sebagai bahan laporan kepada Kerajaan, berhasil atau tidaknya misi dan visi mereka bisa dilihat dari rekaman tersebut. Sejak diploklamirkan kemerdekaan RI, semua warga Belanda yang memilki film atau rekaman membawa pulang semua rekamannya ke negeri Belanda. Hingga akhirnya warga Indonesia cukup sulit mendapatkannya, jika ada yang memilkinya amat sangat dijaga keamanannya.

Mengenai isi film disini dijelaskan bagaimana Ciliwung pada masa tempo dulu, mungkin jika gambarnya berwarna pasti warna sungainya masih jernih, sisi kanan kirinya tidak ada sampah dan yang paling banyak terekam adalah aktifitas warga yang sedang mandi, mencuci dan sebagainya. Ciliwung yang sepertinya masih besar bila dilihat dari lebarnya.

Film lain menceritakan sejarah lapangan banteng, serta awal nama dari lapangan tersebut, dimana Soekarno pada masa itu amat sangat menyukai hewan Banteng. Menyaksikan rekaman pertandingan sepakbola dengan seragam sepak bola tempo dulu. Awal sejarah dari Masjid Istiqlal yang dulunya adalah Wihelmina Park yang telah dihancurkan hingga menjadi Masjid terbesar umat Muslim di Indonesia. Asal muasal Harmoni dengan tulisan Harmonie dan gedungnya. Awal penamaan Pasar Senin, Rabu, Kamis, Jumat dan Minggu dimana pasar tersebut hanya dibuka sesuai pada hari nya, mengapa tidak ada pasar yang dibuka pada hari Selasa dan Sabtu, menurut mitos warga Jakarta tempo dulu, hari Selasa dan Sabtu adalah hari yang tidak beruntung. Awal penamaan Rawa Mangun, Rawa Jati, serta rawa-rawa lainnya. Tempat hiburan atau diskotik orang Belanda tempo dulu. Hotel termahal, gedung-gedung tua yang dihancurkan dan banyak dirubah, menjadi kantor-kantor Kementrian saat ini. Kuburan yang saat ini menjadi kantor walikota, serta gedung BI yang berwarna hitam, mengapa mereka membuat gedung berwarna hitam, agar tidak terdeteksi pada saat dilakukan pengeboman atom.

Suasana jalan raya tempo dulu, pada film yang diputar adalah tidak ada kemacetan, sedikitnya jumlah mobil dan banyaknya pengendara sepeda dan pejalan kaki, rasanya nyaman dengan kondisi yang masih bersahabat dari polusi, banyak mahasiswa Indonesia di siang hari mengenakan Jas putih, rapi, bersepeda serta makan di kaki lima dengan rambut yang disisir rapi berminyak. Begitu juga dengan nona-nona Belanda yang keluar rumah selain dikawal juga banyak mengenakan gaun berwarna putih, sebab warna putih memantulkan cahaya dan tidak membuat panas.

Film lain juga menceritakan sejarah pelabuhan yang ada di Jakarta dan asal mula Batavia yang sangat kecil hanya di sekitar mangga dua kota hingga lama-kelamaan besar dan menjadi beberapa bagian. Sebetulnya film ini belum berakhir namun cuaca sudah mendung maka kami bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. (oleh Irma Suryani)

Proposal Kegiatan Nimbrung di Ciliwung

Sumber: https://doc-0g-88-docsviewer.googleusercontent.com/viewer/securedownload/rqepalikaj8fskpl99isvtsavvba8ivs/flmeo2k7lrr4o93dc04puel6tik4rk03/1375404300000/Zm9ydW1z/AGZ5hq-GKwstquNA_cvqmFkDE832/TVRJek56TTVNVEUzTmpnNU1USTJORGs0TmpnQk1EVXdORGczTlRRMk16STNORGMwTlRjek16QUJjRzgwTURsQ01XRllVakJLQVRVQkFYWXk=?docid=e10240079022e77b4082f9d71f5dbf59%7C76e530f12f6a1c1e3be8af0a88161018&chan=EAAAAOnLvbm3ANd/B9r59ys2HFQiRBAXReo/1/aClWvsTHtX&sec=AHSqidZR1lgf_7pImOQCrvsPY1RhG_RraEym7CdXUlJ8Sif3KQg5sTJq3OC1WyQ7AQ4eaPZvUGJr&a=gp&filename=2011_11_14_Proposal+Nimbrung+di+Ciliwung.pdf&nonce=mvrluhgc4nmsm&user=AGZ5hq-GKwstquNA_cvqmFkDE832&hash=030m7d65ob44nl8n14jlmhcbj261vci3 

Download file: Nimbrung di Ciliwung

Picture1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: