2011: Stop Nyampah di Kali IV

Mei 2011

Buang Sampah di Sungai Denda Rp 20 Juta

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/  13 Mei 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Pencemaran sungai menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir yang kerap terjadi di Jakarta. Hal itu disebabkan oleh sampah yang menumpuk dan kemudian menyumbat aliran sungai. Karena itu, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengeluarkan peringatan tegas dan akan menindak siapa saja yang membuang sampah ke sungai atau bantaran sungai.

“Sanksi yang diberikan kepada orang yang membuang sampah di sungai berupa sanksi pidana 10-60 hari kurungan atau denda Rp 100.000-Rp 20 juta,” kata Kepala BPLHD DKI Peni Susanti saat acara lokakarya “Sungaiku Halaman Depan Rumahku” di Jakarta, Jumat (13/5/2011).

Sanksi tersebut sesuai dengan UU No 18/2008 tentang Pengelolaan Lingkungan, Perda No 5/1988 tentang Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah DKI, serta Perda No 8/2007 tentang Ketertiban Umum. Acara lokakarya ini digelar sebagai penunjang program “Stop Nyampah di Kali Ke-4”.

Dalam kesempatan yang sama, Peni mengatakan, Pemprov DKI telah menggagas program “Ciliwung Bersih Tanpa Sampah” sebagai bagian dari Program Kali Bersih (Prokasih) yang ditargetkan dapat tercapai pada 2012. Berbagai kegiatan kerja dilakukan dalam program Prokasih ini. Kegiatan kerjanya terdiri dari pengendalian kerusakan lingkungan, penataan ruang, penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah, penegakan hukum, dan pemberdayaan masyarakat.

“Salah satu program pemberdayaan masyarakat pinggir kali adalah program ‘Stop Nyampah di Kali’ yang disebut-sebut pada 2009 di Lenteng Agung,” ungkap Peni.

Melalui program tersebut, sekitar 10 dari 108 titik sampah ilegal yang ada di sepanjang Sungai Ciliwung berhasil ditutup. Keberhasilan ini diakui Peni lantaran adanya kerja sama yang baik antara lurah, wali kota, camat, masyarakat, dan dunia usaha. Meski begitu, sebanyak 100 titik sampah ilegal masih belum ditutup di Sungai Ciliwung yang melewati 76 kelurahan dan 20 kecamatan di DKI Jakarta.

Karena itu, lokakarya itu dilaksanakan untuk memberi informasi kepada komunitas peduli sungai dan masyarakat di bantaran sungai.

Berdasarkan pantauan BPLHD DKI terhadap status mutu air sungai di 45 titik pantau dari 13 daerah aliran sungai (DAS) pada 2010, tercatat semua dalam kondisi tercemar sedang sampai berat. Hasil pemantauannya sebagai berikut: 9 persen dalam kondisi tercemar ringan, 9 persen dalam kondisi tercemar sedang, 83 persen dalam kondisi tercemar berat, dan kondisi baik nihil hasilnya.

Juni 2011

Minggu, Kampanye Stop Nyampah di Kali Ciliwung 

Sumber: http://www.108csr.com/16 Juni 2011

108CSR.com – Lagi, kampanye kali bersih dengan tema ‘Stop Nyampah di Kali akan digelar. Kegiatan dalam bentuk aksi dan lomba pungut sampah plastik dengan perahu karet ini bakal diselenggarakan di Kali Ciliwung, kawasan Halimun, pada Minggu besok (19/6). Bahkan direncanakan, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo juga akan hadir di acara tersebut.

Sedangkan kegiatan itu akan diikuti warga dari 76 kelurahan dan 20 kecamatan yang dilintasi Sungai Ciliwung, serta partisipasi dari berbagai dunia usaha yang telah mengambil bagian melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)-nya dalam pengelolaan bantaran sungai Ciliwung selama tahun 2009 hingga saat ini. “Dalam acara ini juga akan memperlihatkan keberhasilan penutupan titik – titik sampah ilegal yang berhasil dilakukan oleh Walikota, Camat, Lurah, serta warga pada tahun 2011 ini. Dihaparkan, seluruh warga Jakarta juga dapat berpartisipasi dalam acara ini dengan mengikuti lomba pungut sampah plastik dengan perahu,” kata Kepala BPLHD Pemprov DKI Jakarta, Peni Susanti.(jek)

Stop Nyampah Di Kali Ke-4 

Sumber: http://bplhd.jakarta.go.id/  19 Juni 2011 

Bertempat di Gedung Sekretariat Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dilaksanakan Acara Stop Nyampah Di Kali Ke-4 Tahun 2011 dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan HUT Kota Jakarta Ke-484, yang tahun ini bertemakan Hutan Penyangga Kehidupan dan Jakarta Kita Kian Tertata Kian Dicinta.

Eksistensi sungai sebagai sumber daya air erat kaitannya dengan ketentuan tentang pengelolaan lingkungan hidup, dan Undang-undang No. 7 T ahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air yang bertujuan untuk menjamin fungsi ekologis sungai.

Semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk, terutama yang tinggal di bantaran sungai, telah mengakibatkan kondisi 13 sungai yang ada di DKI Jakarta semakin bertambah buruk.

Sungai yang seharusnya dapat menjadi sumber air baku, air minum, perikanan, peternakan, pertanian dan usaha perkotaan atau sebagai sistem drainase dan pengendali banjir, telah berubah fungsi karena kualitasnya tercemar akibat berbagai aktifitas khususnya limbah domestik masyarakat yang membuang limbahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung ke sungai.

Hal itu menunjukan bahwa persepsi masyarakat terhadap sungai , masih sebatas sebagai tempat untuk pembuangan ber aneka macam limbah .

Oleh karena itu, Konsep Water Front City dan tekad masyarakat, pemerintah setempat, serta dunia usaha dalam penanganan sampah di Sungai dan bantarannya, bisa menjadi solusi untuk mulai memperbaiki persepsi masyarakat terhadap sungai. Artinya, sungai pada dasarnya dapat dipelihara dan bisa menjadi bagian dari halaman rumah mereka, seperti yang pernah dilakukan oleh Rm Mangun (alm) pada Sungai Code di Yogyakarta.

Undang-undang No . 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, telah mengamanatkan bahwa pada dasarnya masyarakat dapat berperan di dalam pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dan Pe raturan Daerah DKI Jakarta No . 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007-2012, juga menegaskan bahwa salah satu urusan wajib pembangunan adalah meningkatkan peran serta masyarakat dan komunitas profesional di dalam penyelenggaraan lingkungan hidup . Selain itu, dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta , khususnya pasal 30, sanksi bagi warga yang membuang sampah ke sungai dan saluran selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000 (sanksi yang sudah direvisi sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Ketentuan Pidana Dalam Peraturan Daerah yang Dikeluarkan Sebelum Berlakunya Undang-undanga No. 22 Tahun 1999 ). Oleh karena itu, penerapan sanksi sudah saatnya untuk dilaksanakan yang diawali dengan edukasi dan teguran simpatik serta pada akhirnya penerapan Perda secara utuh.

Dengan demikian, maka upaya untuk melibatkan peran serta masyarakat, komunitas-komunitas peduli sungai, CSR dunia usaha dan instansi pemerintah terkait, melalui program Stop Nyampah Di Kali Ke-4 diharapkan dapat me mberikan pencerahan kepada seluruh pihak untuk mengatasi penanganan sampah di bantaran Sungai Ciliwung khususnya dan sungai lainnya dengan pola 3 R (Reduce, Reuse, Recyle) .

Untuk itu, pada kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh pihak dan warga Jakarta (RT, RW, PKK, Karang Taruna, dunia usaha dan lain-lain), serta forum-forum dan komunitas peduli sungai yang sudah tumbuh dan memberikan perhatian tentang sampah ini, agar bekerjasama guna mengurangi sampah yang masuk ke dalam sungai dan timbunan titik-titik sampah yang ada di bantaran sungai, serta bila perlu menghilangkannya sama sekali dari dalam sungai dan bantaran sungai.

Selain itu, hal lain yang juga sangat penting harus dilakukan adalah membangun dan menyatukan komunitas-komunitas yang ada di bantaran sungai, sehingga menjadi komunitas -komunitas masyarakat yang peduli sungai dan berwawasan lingkungan serta mau menjadi pelopor di dalam pengelolaan dan pelestarian fungsi -fungsi sungai serta bersinergi dengan komponen dunia usaha serta pemerintah.

Mengingat untuk membersihkan sampah di sungai dan bantaran Sungai Khususnya Sungai Ciliwung sangat membutuhkan kerjasama yang baik dan energi yang luar biasa besar, maka untuk mempercepat terwujudnya “Sungai Ciliwung yang bersih dan bebas dari sampah pada tahun 2012”, perlu dilanjutkan upaya penutupan titik-titik sampah yang masih ada di bantaran sungai secara berkesinambungan , seperti halnya setiap waktu kita selalu membersihkan halaman r umah kita sendiri.

Oleh karena itu, program Stop Nyampah Di Kali ini perlu terus dikembangkan guna mengedukasi seluruh lapisan masyarakat, dan saya mengajak kepada berbagai pihak yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan CSR dunia usaha, agar dapat berpartisipasi aktif untuk memberikan dukungan dan kontribusi positif guna menunjang program Stop Nyampah Di Kali.

Dan kepada para pemangku jabatan, baik Walikota, Camat, Lurah dan instansi terkait lainnya, serta seluruh warga Jakarta, saya minta untuk dapat membuka diri dan saling berkomunikasi, serta berkoordinasi untuk segera menutup titik-titik sampah yang ada di Sungai Ciliwung, yang melintasi 76 kelurahan di Jakarta.

Mengingat Sungai Ciliwung juga melintasi kota-kota lainnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Depok dan Kota Bogor, maka saya mohon agar instansi atau pihak yang berwenang dan mempunyai akses dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Terkait lainnya, dapat menjembataninya, sehingga apa yang dilakukan oleh warga Jakarta menjadi tidak sia-sia, karena juga dilakukan oleh warga kota lainnya.

Akhirnya, kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara ini dan memberikan komitmennya untuk memberikan pendampingan, penataan dan pengelolaan di bantaran sungai Ciliwung, saya atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucapkan selamat kepada Coca Cola, Pertamina, Astra Honda Motor dan Astra Internasional yang telah melakukan pendampingan kepada masyrakat bantaran kali Ciliwung melalui berbagai programnya, disertai harapan dapat terus memberikan kontribusinya kepada masyarakat, semoga dapat menjadi contoh bagi CSR dunia usaha lainnya khususnya dalam penangananbv sampah di bantaran sungai.

Program Stop Nyampah Butuh Action Plan Terukur

Sumber:  http://www.tribunnews.com/ 19 Juni 2011 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Program Stop Nyampah di Kali yang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta membutuhkan peran serta semua pihak dan action plan terukur setiap tahunnya.

Hal ini disampaikan Gubernur DKI Fauzi Bowo saat menghadiri program Stop Nyampah di Kali tahun 2011 di halte Waterways Halimun, Minggu (19/6/2011).

Menurutnya program yang diadakan dalam rangka HUT Jakarta ke-484 ini harus terus dikampanyekan di sepanjang daerah aliran sungai, dan bagi pihak yang menjaga lingkungannya sudah sepantasnya diberi penghargaan.

Foke sendiri dalam acara tersebut memberikan bantuan kepada pihak-pihak yang dianggap memberikan kontribusi besar dalam menjaga lingkungannya. Menurutnya bantuan tersebut sebagai bentuk apresiasi kepada warga maupun pecinta lingkungan yang dengan sukarela menjaga lingkungan kota Jakarta.

“Kali Ciliwung merupakan aset peninggalan kota Jakarta. Perlu peran serta semua pihak mulai dari masyarakat, Pemprov DKI, dan para pemangku kepentingan. Untuk mewujudkan sungai yang bersih, dibutuhkan cara kerja dengan action plan yang lebih terukur,” ujar Foke.

 Stop “Nyampah” di Kali

Sumber:http://berita.liputan6.com/  19 Juni 2011

Peserta menangkut sampah saat lomba membersihkan Kali Ciliwung, Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta: Dalam rangkaian menyambut Hari Jadi Jakarta yang ke-484, sejumlah kegiatan digelar. Lomba membersihkan Kali Ciliwung misalnya. Dengan perahu karet, setiap kelompok yang terdiri dari delapan peserta mengumpulkan sampah di sepanjang rute Halimun-Tanah Abang, Ahad (19/6).

Dengan iming-iming hadiah, para peserta harus mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya. Juara pertama berhasil mengumpulkan 414 kilogram sampah.

Lomba ini juga merupakan bagian dari kampanye meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan. Membuang sampah ke sungai bisa dikenakan sanksi kurungan selama tiga bulan atau denda Rp 5 juta karena telah melanggar Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1988.

Sementara itu, di Bundaran HI, warga Jakarta dan sekitarnya bisa menuliskan unek-unek yang mereka hadapi di Ibu Kota. Unek-unek warga ditampung. Ternyata kritik yang terbanyak adalah masalah kemacetan [baca: Sampaikan Usul dan Kritik Anda di Bundaran HI].(ASW/ADO)

108 Tempat Buang Sampah Segera Ditutup

Sumber:  http://poskota.co.id/ 20 Juni 2011 

JAKARTA (Pos Kota) – Tempat pembuangan sementara di sepanjang Kali Ciliwung harus segera ditutup. Pemprov DKI Jakarta segera menutup sedikinya 108 tempat pembuangan. Pemprov meminta warga tidak lagi mengunakan tenmpat pembuangan di bantaran Kali tersebut.

Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Peni Susanti menyatakan, pihaknya kesulitan untuk menutup lokasi pembuangan sampah di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

Bahkan, sejak tahun 2009 lalu, pemprov hanya mampu menutup sebanyak 10 lokasi pembuangan sampah liar di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

“Banyak kendala yang kami hadapi di lapangan. Salah satunya, tidak adanya akses menuju lokasi pembuangan sampah liar. Oleh karenanya, perhatian utama kami yakni, membuat akses jalan menuju lokasi pembuangan sampah liar itu terlebih dahulu,” ujar Peni Susanti, di sela-sela kegiatan Gerakan Stop Nyampah ke-4 Tahun 2011 di Halte Waterways Halimun Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dengan program, Stop Nyampah di Kali tahun, bertema ‘Sungaiku Halaman Depan Rumahku’, Peny berharap selruh tempat pembuangan sampah sudah ditutup. “Sesuai dengan pesan Gubernur DKI Jakarta agar tidak lagi membuang sampah sembarangan khususnya membuang sampah di kali. Dengan begitu, diharapkan kualitas air sungai akan menjadi lebih baik,” katanya.

Ditambahkan Peni, membuang sampah ke sungai atau bantara sungai merupakan tindak pelanggaran hokum yakni, sesuai Perda No 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan dalam Wilayah DKI Jakarta. Adapun ancaman hukumannya, kurungan penjara selama tiga
bulan atau denda hingga Rp 5 juta.

(john/sir)

SAMBUTAN PADA ACARA STOP NYAMPAH DI KALI KE-4 TAHUN 2011

Sumber: http://www.jakarta.go.id/ 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera bagi kita semua.

1. Puji syukur.

2. Menyampaikan terima kasih atas partisipasi semua pihak pada kegiatan “Stop Nyampah di Kali Ke-4 Tahun 2011”, dengan tema “Sungaiku Halaman Depan Rumahku” yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan HUT ke-484 Kota Jakarta.

3. Eksistensi Sungai sebagai sumber daya air, erat kaitannya dengan ketentuan tentang pengelolaan lingkungan hidup, dan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air yang bertujuan untuk menjamin fungsi ekologis sungai.

4. Meningkatnya pertumbuhan penduduk, terutama yang tinggal di bantaran sungai, telah mengakibatkan 13 sungai yang ada di DKI Jakarta kondisinya semakin bertambah buruk.

5. Sungai yang seharusnya dapat menjadi sumber air baku, air minum, perikanan, peternakan, pertanian dan usaha perkotaan atau sebagai sistem drainase dan pengendali banjir, telah berubah fungsi karena kualitasnya tercemar akibat berbagai aktivitas, khususnya limbah domestik masyarakat yang membuang limbah, baik secara langsung maupun tidak langsung ke sungai.

6. Hal itu menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap sungai masih sebatas sebagai tempat untuk pembuangan beraneka macam limbah.

7. Konsep Water Front City dan tekad masyarakat, pemerintah, serta dunia usaha dalam penanganan sampah di sungai dan bantarannya, harus menjadi solusi untuk mulai memperbaiki persepsi masyarakat terhadap sungai. Sungai harus dapat dipelihara dan menjadi bagian dari halaman rumah mereka, seperti yang pernah dilakukan oleh RN Mangun (almarhum) pada Sungai Code di Yogyakarta.

8. Undang-undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan bahwa pada dasarnya masyarakat dapat berperan di dalam pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

9. Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan dalam wilayah DKI Jakarta, khususnya pasal 30, sanksi bagi warga yang membuang sampah ke sungai dan saluran, selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyak Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). Penerapan sanksi harus dilaksanakan yang diawali dengan edukasi dan teguran simpatik, serta pada akhirnya penerapan Perda secara utuh.

10. Upaya melibatkan peran serta masyarakat, komunitas peduli sungai, CSR dunia usaha dan instansi pemerintah terkait, melalui Program Stop Nyampah Di Kali Ke-4 diharapkan dapat memberikan pencerahan kepada seluruh pihak untuk mengatasi penanganan sampah di bantaran Sungai Ciliwung khususnya dan sungai lainnya dengan pola 3 R (Reduce, Reuse, Recycle).

11. Saya mengajak kepada seluruh pihak dan warga Jakarta (RT, RW, PKK, Karang Taruna, dunia usaha), serta forum-forum dan komunitas peduli sungai, dapat bekerjasama guna mengurangi dan menghilangkan sampah yang masuk kedalam sungai dan timbunan titik-titik sampah yang ada di bantaran sungai.

12. Hal lain yang juga sangat penting harus dilakukan adalah membangun dan menyatukan warga yang ada di bantaran sungai, untuk menjadi komunitas masyarakat yang peduli sungai dan berwawasan lingkungan, serta mau menjadi pelopor di dalam pengelolaan dan pelestarian fungsi sungai.

13. Untuk membersihkan sampah di sungai dan bantaran sungai, khususnya Sungai Ciliwung membutuhkan kerjasama yang baik dan energi yang luar biasa besar.

14. Untuk mempercepat terwujudnya “Sungai Ciliwung yang bersih dan bebas dari sampah pada tahun 2012”, perlu dilanjutkan upaya penutupan titik-titik sampah yang masih ada di bantaran sungai secara berkesinambungan, seperti halnya membersihkan halaman rumah kita sendiri.

15. Program Stop Nyampah di Kali ini perlu terus dikembangkan guna mengedukasi seluruh lapisan masyarakat, agar dapat berpartisipasi aktif untuk memberikan dukungan dan kontribusi positif guna menunjang program Stop Nyampah di kali.

16. Kepada para pemangku jabatan, baik Walikota, Camat, Lurah dan Instansi terkait lainnya, serta seluruh warga Jakarta, saya minta terus meningkatkan kegiatan menutup titik-titik sampah yang ada di Sungai Ciliwung, yang melintasi 76 kelurahan di Jakarta.

17. Mengingat Sungai Ciliwung juga melintasi beberapa kota di Provinsi Jawa Barat, Kota Depok dan Kota Bogor, kiranya pemerintah dan warga setempat, dapat mengupayakan kegiatan Stop Nyampah di Kali, sehingga apa yang dilakukan warga Jakarta menjadi tidak sia-sia, karena juga dilakukan oleh warga kota lainnya.

18. Kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara ini dan memberikan komitmennya untuk memberikan pendampingan, penataan dan pengelolaan di bantaran sungai Ciliwung, saya atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan terima kasih.

19. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kalangan dunia usaha, seperti Coca-Cola, Pertamina, Astra Honda Motor dan Astra Internasional, yang telah melakukan pendampingan kepada masyarakat bantaran kali Ciliwung melalui berbagai programnya.

20. Diharapkan, pendampingan tersebut memberikan kontribusi meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mencintai sungai. Kepada masyarakat, semoga dapat menjadi contoh bagi CSR dunia usaha lainnya dalam penanganan sampah di bantaran sungai.

21. Semoga kegiatan “Stop Nyampah Di Kali” terus dil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: