2013: Ngariung Ciliwung

Undangan Ngariung Ciliwung

Picture1

Kerangka Acuan 
Ngariung Ciliwung Silaturahmi Para Pihak untuk Memperkuat Upaya Pelestarian dan Pemulihan Sungai Ciliwung

Latar Belakang

Ciliwung merupakan ekosistem sungai yang selalu menjadi bahan pembicaraan banyak pihak. Sungai yang membelah Ibu Kota Negara Republik Indonesia itu dianggap sebagai penyebab banjir yang melanda ibu kota hampir setiap tahun. Kerugian banjir yang ditimbulkan dalam aspek ekonomi, sosial, kesehatan, dan lingkungan sangat besar. Sayangnya, pada situasi tersebut para pihak di bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Ciliwung masih menghadapi tantangan bagaimana agar integrasi pengelolaan Ciliwung dapat terwujud. Sungai Ciliwung mengalir melewati dua provinsi, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Di Jawa Barat sendiri, Sungai Ciliwung mengalir melewati Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok.

Berbagai program, proyek, gerakan, dan inisiatif dari para pihak untuk mendukung kelestarian Sungai Ciliwung dirasakan semakin meningkat. Hal tersebut dikarenakan semakin meningkatnya komitmen dan kesadaran para pihak dalam mendukung kelestarian Sungai Ciliwung. Meski demikian, upaya-upaya yang dilakukan masih memerlukan kerjasama dan integrasi di antara satu wilayah dengan wilayah lainnya di sepanjang aliran Sungai Ciliwung. Pemerintah DKI Jakarta, misalnya telah secara intensif melakukan berbagai program untuk mendorong upaya pemulihan Sungai Ciliwung. Sebagai contoh program penataan bantaran Sungai Ciliwung, pemulihan situ atau waduk, dan pengendalian terhadap sedimentasi dan sampah. Bagaimanapun, kita harus mengapresiasi dan mendukung program-program yang telah dilakukan tersebut. Pemerintah daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat juga telah melakukan berbagai program untuk mendukung pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung tersebut. Hal ini dikarenakan pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang secara administrasi meliputi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, dan Kota Depok, memiliki peran strategis dalam pengelolaan Sungai Ciliwung. Oleh karena itu diharapkan masing-masing wilayah dapat terus meningkatkan sinergisitas dan kerjasama dalam mendukung dan memperkuat pengelolaan Sungai Ciliwung.

Sementara itu, Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Gadog, Bogor, Cilebut, Bojong Gede, Depok, dan Komunitas Ciliwung di Jakarta telah menjalin jejaring dalam mendukung upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung. Berbagai kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem Sungai Ciliwung. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendukung program-program yang menjadi bagian dari visi dan misi masing-masing kota dan kabupaten. Kegiatan unik dan positif yang telah dilakukan secara rutin diantaranya; penataan sempadan untuk ekowisata di Puncak, patroli perlindungan ikan, lomba mancing, mulung sampah setiap Sabtu, lomba mulung sampah tahunan, pengelolaan sampah plastik, pembibitan dan penanaman pohon, pengelolaan sempadan Ciliwung, Susur Ciliwung, Piket Ciliwung, Bebersih Ciliwung, Sekolah Alam, Riset Ciliwung, dan berbagai kegiatan lainnya. Kegiatan tersebut dilakukan dengan melibatkan publik yang lebih luas.

Untuk memperkuat berbagai inisiatif dan program yang telah dilakukan, Komunitas Ciliwung berkolaborasi bersama para pihak berencana mengadakan Ngariung Ciliwung di tepian Sungai Ciliwung. Ngariung Ciliwung diharakan dapat memberikan apresiasi dan semangat kepada masyarakat yang tinggal di bantaran Ciliwung yang telah berusaha mendukung pelestarian Ciliwung. Ngariung Ciliwung juga diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dan komitmen antar pemerintah daerah di Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok dan Jakarta dalam pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.

Tujuan

1. Mempertemukan ide-ide kreatif, inisiatif, dan unik yang dapat mendukung program-program pemerintah daerah dalam upaya pelestarian dan pemulihan Sungai Ciliwung.
2. Memperkuat kerjasama dan sinergisitas di antara pemerintah daerah dan komunitas ciliwung pada wilayah administrasi yang dilintasi Sungai Ciliwung.
3. Meningkatkan kesadaran masyarakat luas akan pentingnya memulihkan dan melestarikan Sungai Ciliwung.

Output

1. Langkah-langkah tindak lanjut hasil Sarasehan yang dapat menjadi panduan bagi upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung.
2. Nota kesepakatan di antara para pihak dalam mendukung integrasi upaya pemulihan dan pelestarian Sungai Ciliwung.

Tema

Tema kegiatan ini adalah “Ngurus Ciliwung Mesti Bareng-Bareng”.

Waktu dan Tempat

Ngariung Ciliwung dilakukan di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor pada hari Minggu tanggal 29 Desember 2013 pukul 07.00 WIB –selesai.

Peserta

1. H. Ahmad Heryawan, Lc., Gubernur Jawa Barat
2. Drs. H. Rachmat Yasin, MM., Bupati Bogor
3. Drs. H. Diani Budiarto, M.Si., Walikota Bogor
4. Dr. Bima Arya, Walikota Bogor terpilih periode 2014-2019
5. Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail, M.Sc., Walikota Depok
6. Deputi Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, KLH
7. Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum
8. Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat
9. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
10. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan daerah Provinsi Jawa Barat
11. Kepala BPDAS Citarum Ciliwung, Kementerian Kehutanan
12. Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, Kementerian Pekerjaan Umum
13. Dinas atau instansi terkait di lingkungan pemerintah daerah kabupaten dan kota
14. Dr. Erna Witoelar, Ketua Gerakan Ciliwung Bersih
15. Dr. Tarsoen Waryono, Universitas Indonesia
16. Dr. Komara Jaya, Universitas Indonesia
17. Dr. Ernan Rustiadi, Institut Pertanian Bogor
18. Greeneration Indonesia
19. Komunitas Ciliwung Hulu-Hilir
20. Masyarakat Kampung Glonggong, Bojong Gede
21. Swasta
22. Para pihak lainnya yang terkait.
23. Umum

Bentuk Acara

Ngariung Ciliwung dilaksanakan dengan suasana keakraban, ramah tamah, penuh apresiasi, dan sederhana. Bentuk acara yang akan dilakukan adalah kegiatan yang selama ini telah menjadi kegiatan rutin Komunitas Ciliwung yaitu:

1. Mulung Sampah

Sampah merupakan salah satu masalah terbesar Sungai Ciliwung. Berdasarkan riset Komunitas Ciliwung tahun 2011-2013, terdapat 251 titik penumpukan sampah di sepanjang Sungai Ciliwung mulai dari Bojong Gede sampai dengan Condet. Setiap tahun, Komunitas Ciliwung melalui kegiatan rutin dan sukarela paling tidak telah mengangkat 5.000 karung sampah anorganik dari Sungai Ciliwung. Sampah tersebut ada yang merupakan sampah baru, ada pula sampah yang mengendap di sungai dan tersangkut di tepian sungai. Mulung Sampah bertujuan untuk memberikan penyadaran dan efek psikologis kepada masyarakat luas agar tidak membuang sampah ke Ciliwung.

2. Susur Sempadan Cilwung yang Asri

Vegetasi di sempadan sungai berperan penting dalam menyaring masuknya tanah erosi dan material sampah ke badan sungai. Sayangnya banyak ditemukan pelanggaran terhadap sempadan sungai. Sempadan sungai umumnya dialih fungsikan untuk permukiman. Dampak lanjutan dari alih fungsi tersebut adalah sedimentasi, menumpuknya sampah, dan masuknya limbah cair ke badan sungai.

Namun demikian, masih ada harapan untuk menyelamatkan vegetasi alami di sempadan Sungai Ciliwung. Vegetasi sempadan atau yang dikenal dengan ekosistem riparian masih terdapat dalam kodisi yang baik khusunya dari mulai Cilebut sampai dengan Kota Depok. Penyelamatan ekostem riparian bukan saja akan menjaga sungai, tetapi keberadaannya dapat menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati di dalamnya. Ekosistem riparian juga dapat berkontribusi bagi pencapaian target prosentasi Ruang Terbuka Hijau di suatu kota/kabupaten apabila dapat dikelola dengan optimal, misalnya untuk ekowisata.
Susur hutan bambu bertujuan untuk meperlihatkan kondisi ekositem riparian alami dan mengapresiasi model pengelolaannya oleh Komunitas Ciliwung, khususnya di Bojong Gede. Peserta akan menyusuri jalan setapak di sempadan sungai yang alami menikmati keteduhan ekosistem riparian.

3. Arung Ciliwung

Arung Ciliwung merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Komunitas Ciliwung. Arung Ciliwung tersebut dilakukan untuk observasi kondisi Ciliwung dan ekosistem riparian di sepanjang aliran. Arung Ciliwung dilakukan dengan prosedur aman (safety procedure) dan diikuti oleh berbagai pihak. Temuan dari kegiatan Arung Ciliwung disampaikan kepada pihak yang terkait.
Kegiatan Arung Ciliwung kali ini direncanakan akan melewati rute Jembatan Cilebut atau Batu Ampal menuju lokasi Sarasehan. Arung Ciliwung ini juga bertujuan untuk memperlihatkan kepada peserta kondisi sempadan melalui jalur sungai.

4. Sarasehan

Sarasehan ini akan dihadiri oleh pemimpin pemerintah daerah, kementerian dan instnasi pemerintah yang terkait, akademisi, Komunitas Ciliwung, masyarakat setempat, dan swasta. Kesempatan ini digunakan untuk saling memperkuat kerjasama di antara wilayah yang dilalui Sungai Ciliwung. Sarasehan juga akan digunakan untuk menampung aspirasi, masukan, untuk mendukung pengatan kerjasama dan integrasi pengelolaan Sungai Ciliwung di masa yang akan datang.

Sarahen akan dipandu oleh fasilitator yang berpengalaman dalam isu pengelolaan DAS dan juga pegiat lingkungan hidup. Pada akhir sarasehan diharapakan dapat muncul kesepahaman dan kesepakatan di antara pemimpin daerah dalam mendukung kelestarian Ciliwung. Sarasehan diharapkan juga dapat menggali ide-ide kreatif yang implementatif sebagai tindak lanjut upaya pelestarian dan pemulihan ekosistem Sungai Ciliwung. Para pihak yang hadir juga diharapkan memiliki kesepahaman untuk memperkuat kerjasama pengelolaan Sungai Ciliwung.

5. Biotilik, Pengenalan ikan asli Ciliwung, dan menanam pohon

Biotilik merupakan kegiatan pengamatan kualitas perairan sungai dengan menggunakan indikator biologi. Sejumlah guru yang terlatih dan difasilitasi oleh Green Teacher akan melakukan biotilik di lokasi acara. Biotilik akan melibatkan siswa sekolah setempat. Selain itu, Komunitas Pemancing Ikan Ciliwung akan memperkenalkan ikan-ikan asli Sungai Ciliwung. Komunitas Ciliwung Bojong juga menyediakan pohon lokal di persemaian untuk ditanam di beberapa titik di sekitar lokasi Ngariung Ciliwung.

RILIS PERS
Komunitas Ciliwung: Pemimpin Daerah Harus Punya Komitmen Bersama Memulihkan Ciliwung

Bogor, 27 Desember 2013- Seperti biasa, menjelang akhir tahun warga Jakarta akan mulai dihantui banjir yang berasal dari luapan Sungai Ciliwung. Untuk mengantisipasi banjir yang melanda ibu kota negara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan menggandeng banyak pihak melakukan upaya pemulihan Sungai Ciliwung di Jakarta. Upaya pengerukan, penguatan tebing sungai, tanggul, penyodetan Kali Ciliwung dan relokasi ribuan warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung terus dilakukan. Upaya tersebut merupakan bagian dari restorasi ekosistem Sungai Ciliwung yang mestinya dilakukan dari hulu sampai hilir.

Tidak ingin melihat warga Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berjuang sendiri dalam upaya restorasi Sungai Ciliwung, berbagai Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak sampai dengan Jakarta turut mendorong dan mengajak masyarakat di sepanjang Ciliwung dan pemerintah daerah untuk mendukung restorasi ekosistem di Jawa Barat yang merupakan kawasan tengah dan hulu sungai Ciliwung.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Komunitas Ciliwung di akhir tahun 2013 ini adalah mengadakan kegiatan “Ngariung Ciliwung” yang mengundang Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok. Kegiatan Ngariung (berkumpul) ini akan dilakukan pada Minggu pagi, tanggal 29 Desember 2013 di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Komunitas Ciliwung mengajak semua pihak baik dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup, BPDAS Citarum Ciliwung dan pihak swasta, serta masyarakat luas untuk berkumpul bersama di Bojong.

Muhamad Muslich dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, yang juga Koordinator Kegiatan Ngariung Ciliwung mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan ide-ide lokal untuk mendukung restorasi Sungai Ciliwung. “Tidak mudah merestorasi sungai. Kita belum punya contoh. Untuk itu perlu dilakukan secara bersama-sama. Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai. Meski sifatnya sangat lokal namun kegiatan mereka dapat berdampak luas. Ini potensi yang harus didukung” tegasnya.

Muslich yang mewakili Komunitas Ciliwung lainnya berharap Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok bisa hadir dalam acara Ngariung Ciliwung nantinya. “Surat undangan sudah kami berikan langsung kepada para pemimpin daerah ini. Semoga saja mereka berkenan hadir. Mulai tahun depan di 2014 kita bisa bersama-sama merestorasi Sungai Ciliwung. Indonesia butuh model pengelolaan sungai yang lebih baik. Saya pikir para pemimpin kita perlu menularkan semangat pemulihan tersebut kepada masyarakat luas” ungkap Muslich.

KONTAK

M. Muslich, Koordinator Kegiatan “Ngariung Ciliwung” ; mobile phone: 0813 812 34648, e-mail: muslich…@gmail.com
Leoni Rahmawati, permintaan video dan dokumentasi; mobile phone: 0821 243 82000, e-mail: leonira…@gmail.com

CATATAN UNTUK EDITOR:

  • Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Provinsi DKI Jakarta.
  • Kegiatan Ngariung Ciliwung diinisiasi oleh Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Gadog, Bogor, Cilebut, Bojong Gede, Depok, dan Condet. Berkolaborasi dengan Mapala Universitas Indonesia, Ciliwung Institute, Forum Pengurangan Resiko Bencana Kabupaten Bogor, Greeneration Indonesia, Green Teacher Indonesia, Urban Studies Universitas Indonesia, P4W IPB, BPDAS Citarum Ciliwung, Gerakan Ciliwung Bersih, Dana Mitra Lingkungan, Danone Aqua, dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
  • Komunitas Ciliwung adalah individu, kelompok, organisasi berbadan hukum, dan masyarakat lokal di sepanjang Sungai Ciliwung yang peduli terhadap kelestarian Sungai Ciliwung. Saat ini sudah ada 21 Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Bogor sampai dengan Muara Ciliwung, Jakarta.
  • Restorasi ekosistem sungai merupakan upaya untuk mengembalikan fungsi dan struktur sungai seperti sedia kala. Fungsi sungai yang menjadi prioritas untuk dipulihkan adalah kualitas air. Kementerian Lingkungan Hidup (2011) menyatakan bahwa sebagian besar parameter Kriteria Mutu Air (KMA) Sungai Ciliwung tidak memenuhi kelas air yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Daya tampung air Sungai Ciliwung juga perlu dipullihkan untuk dapat menampung volume air pada saat musim hujan. Pemullihan sungai dilakukan berdasarkan pendekatan ekosistem, dimana pertimbangan ekologi diprioritaskan untuk menjaga kelestarian sungai. Vegetasi di kanan-kiri sungai (disebut riparian) merupakan vegetasi yang perlu dipertahankan keberadaanya, dipulihkan, dan ditingkatkan kualitas dan kauntitasnya di sepanjang aliran Sungai Ciliwung.

‘Ngariung Ciliwung’ Digelar Minggu di Bojong Gede

Sumber:http://m.poskotanews.com/  28 Desember 2013 

ngariung2812-300x250DEPOK (Pos Kota) – Pecinta komunitas Ciliwung Bojong Gede, akan mengadakan acara ‘Ngariung Ciliwung’ di Kampung Gelonggong, Kedung Waringin, Kec. Bojong Gede, Kab. Bogor, pada Minggu (29/12) pukul 08:00.

Panitia kordinator acara, Muhamad Muslich mengatakan acara itu dihadiri ratusan peserta dari Pemerintah Kota Bogor dan Depok, pelajar, dan mahasiswa.

“Tamu undangan yang bakal kita undang Gubernur Jawa Barat, Bupati Bogor, Walikota Depok, serta pejabat instansi lainnya,”ujarnya didampingi seorang komunitas kali ciliwung, Hasanuddin kepada Pos Kota di Kampung Gelonggong, Kedung Waringin, Kec. Bojong Gede Kab. Bogor, Sabtu (28/12).

Dikatakan Muhamad, acara itu juga akan memperkenalkan beotilik atau mengukur kadar air dengan cara sederhana, memperkenalkan 11000 jenis pohon buah lokal dari 70 jenis pohon yang ditanam.

Selain itu, pihak panitia juga melakukan arum jeram menggunakan perahu karet dimulai dari Cilebut hingga tempat acara. “Nanti perjalanan akan dilakukan selama 1 jam. Selain olahraga, juga sekaligus membersihkan sampah-sampah di Ciliwung,”katanya.

Kapolsek Bojong Gede, Kompol Ganet Sukoco mengatakan untuk mengamankan jalannya acara tersebut, pihaknya menurunkan 20 personil. “Nanti anggota akan ditempatkan di lokasi, “ungkapnya. (Angga)

Teks: Kapolsek Bojong Gede, Kompol Ganet Sukoco (kanan) bersama babinsa serta tokoh masyarakat dan panitia acara meninjau lokasi tempat yang akan dijadikan sebagai acara Ngariung Ciliwung. (Angga)

Yuk Ikut Ngariung untuk Restorasi Ekosistem Sungai Ciliwung

Sumber: http://jaringnews.com/  28 Desember 2013  

Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai

JAKARTA, Jaringnews.com – Komunitas Ciliwung kembali menggelar aksi bersih di sepanjang Sungai Ciliwung. Itu akan dilakukan untuk mengantisipasi banjir di Ibukota Jakarta.

Aksi bersih Ciliwung yang berlansung Minggu (29/12) besok itu bernama ‘Ngariung Ciliwung’. Aksi itu digelar di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. Koordinantor ‘Ngariung Ciliwung’ dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Muhamad Muslich menjelaskan aksi itu sebagai upaya membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengatasi banjir.

Seperti yang diketahui, Pemprov DKI Jakarta, berupaya melakukan pengerukan, penguatan tebing sungai, tanggul, penyodetan Kali Ciliwung dan relokasi ribuan warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung terus dilakukan. Kata Muslich, upaya tersebut merupakan bagian dari restorasi ekosistem Sungai Ciliwung yang mestinya dilakukan dari hulu sampai hilir.

Muslich menjelaskan, Ngariung Ciliwung’ ini akan mengundang Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok. Komunitas Ciliwung juga mengajak kalangan civitas Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup, BPDAS Citarum Ciliwung dan pihak swasta, serta masyarakat luas.

“Tidak mudah merestorasi sungai. Kita belum punya contoh. Untuk itu perlu dilakukan secara bersama-sama. Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai. Meski sifatnya sangat lokal namun kegiatan mereka dapat berdampak luas. Ini potensi yang harus didukung” kata Muslich, Sabtu (28/12).

Muslich berharap pejabat yang diundang bisa datang ikut membersihkan Ciliwung. Sebab kehadiran Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok bisa sebagai bentuk aksi nyata mereka dalam memperbaiki sungai Ciliwung.

“Surat undangan sudah kami berikan langsung kepada para pemimpin daerah ini. Semoga saja mereka berkenan hadir. Mulai tahun depan di 2014 kita bisa bersama-sama merestorasi Sungai Ciliwung. Indonesia butuh model pengelolaan sungaiyang lebih baik. Saya pikir para pemimpin kita perlu menularkan semangat pemulihan tersebut kepada masyarakat luas,” papar dia.

Seperti yang diketahui, Sungai Ciliwung mengalir sepanjang 119 km dari wilayah hulunya di Cagar Alam Telaga Warna (Puncak) hingga bermuara di Teluk Jakarta. Aliran sungai ini melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kota Depok, dan Provinsi DKI Jakarta.

Komunitas Ciliwung sendiri terdiri dari individu dan kelompok lokal di sepanjang Sungai Ciliwung yang peduli terhadap kelestarian Sungai Ciliwung. Saat ini sudah ada 21 Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Bogor sampaid engan Muara Ciliwung di Jakarta.  (Chm / Mys)

21 komunitas peduli lingkungan ikuti “ngariung Ciliwung”

Sumber: http://bogor.antaranews.com/29 Desember 2013 

Oleh Laily Rahmawati

kumunitas-ciliwung(Antaranews Bogor) – Sebanyak 21  komunitas peduli lingkungan mengikuti kegiatan susur Sungai Ciliwung atau “Ngariung Ciliwung” yang diselenggarakan KPC Bogor, bertempat di Kampung Gelonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Minggu.

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya komunitas peduli Sungai Ciliwung dalam penyelamatan sungai ini dari ancaman kerusakan dan kepunahan,” ujar Een Irawan Putra, Koordinator Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor.

Een menjelaskan, kegiatan Ngariung Ciliwung ini diikuti berbagai komunitas dari Puncak sampai Jakarta yang berjumlah mencapai 21 komunitas yang turut mendorong dan mengajak masyarakat sepanjang aliran sungai serta pemerintah daerah mendukung restorasi ekosistem di wilayah Jawa Barat.

Ia mengatakan, wilayah Jawa Barat merupakan kawasan tengah dan hulu Sungai Ciliwung sebaiknya membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang telah berupaya mengantisipasi baniir ibu kota negara dengan berbagai langkah seperti melakukan pemulihan sungai, pengerukan, penguatan tebing, tanggul, penyodetan dan relokasi ribuan warga yang tinggal dibantaran sungai.

Upaya tersebut, lanjut Een, merupakan bagian dari restorasi ekosistem Sungai Ciliwung yang mestinya dilakukan dari hulu sampai wilayah hilir.

“Dalam kegiatan ini kami turut mengundang Gubernur Jawa Barat, Wali Kota Bogor, Bupati Bogor, Wali Kota Depok. Namun yang dapat hadir Wali Kota Depok, Nurmahmudin, yang lainnya perwakilan,” kata Een.

Tidak hanya dari pemerintahan, kegiatan Ngariung Ciliwung juga mengundang sejumlah pihak terkait seperti akademisi, swasta, Kementerian Lingkungan Hidu, BPDAS Citarum-Ciliwung dan masyarakat luas.

Dalam kegiatan ini, peserta diajak menyusuri Sungai Ciliwung lewat jalur darat dan sungai. Rombongan peserta terdiri dari Wali Kota Depok, Nurmahmudin, didampingi Dekan Fakultas Pertanian yang juga Peneliti Pusat Pengkajian, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB, Ernan Rustiadi, Mantan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah, Erna Witoelar yang juga Pembina gerakan Ciliwung Bersih.

Selama kegiatan Ngariung Ciliwung, oleh panitia peserta diberikan pemaparan mengenai situasi dan kondisi sungai dari segi kualitas dan kuantitasnya mulai dari hulu, tengah dan hilir.

Selain itu, peserta juga melakukan pengecekan indikator kualitas air yang melibatkan mahasiswa IPB dan peserta dari komunitas peduli Ciliwung.

Pembina Gerakan Ciliwung Bersih, Erna Witoelar menyampaikan, bahwa kegiatan penyelamatan Sungai Ciliwung tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.

“Perlu bersama-sama melakukan penyelamatan Ciliwung. Karena keberadaan Ciliwung sendiri meliputi tiga wilayah dalam dua provinsi yakni Jawa Barat dan DKI Jakarta. Artinya ini tangung jawab bersama-sama menjadikan Ciliwung kembali asri,” kata Erna.

Muhammad Muslich dari KPC Bogor yang juga koordinator Ngariung Ciliwung mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan ide-ide lokal untuk mendukung restorasi Sungai Ciliwung.

Menurutnya, tidak mudah untuk merestorasi sungai karena belum adanya contoh. Sehingga diperlukan upaya bersama-sama untuk mendukung pemulihan sungai.

“Mulai 2014 kita dapat mendorong masyarakat bersama-sama merestorasi Sungai Ciliwung. Indonesia butuh model pengelolaan sungai yang lebih baik, dengan kegiatan ini meski snagat lokal namun dapat berdampak luas sebagai potensi yang harus didukung,” ujarnya.

Pemerhati : Perlu Komitmen Bersama Pulihkan Ciliwung

Sumber: http://id.berita.yahoo.com/ Antara – 29 Desember 2013

Bogor (Antara) – Pemulihan kondisi Sungai Ciliwung tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, perlu upaya bersama pemerintah daerah, masyarakat dan instansi terkait untuk mengembalikan kondisi kualitas sungai agar lebih baik, demikian isi diskusi “Ngariung Ciliwung” yang digelar di Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Minggu.

Diskusi Ngariung Ciliwung yang diselenggarakan oleh Komunitas Ciliwung tersebut menghadirkan Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Is`mail, Mantan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah, Erna Witoela, Peneliti Pusat Pengkajian, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB, yang juga Dekan Fakultas Pertanian, Ernan Rustiadi, perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bogor.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Erna Witoelar, memaparkan persoalan-persoalan yang terjadi di Sungai Ciliwung mulai dari hilir hingga hulu. Persoalan tersebut diantaranya, kerusakan lingkungan, pencemaran, dan sampah.

“Dalam diskusi kita tidak hanya memaparkan persoalan, tapi mari bersama-sama kita mencari solusi bagaimana menjadikan Ciliwung lebih baik,” kata Erna Witoelar yang juga Ketua Gerakan Ciliwung Bersih saat memandu acara diskusi.

Erna Witoelar menyampaikan bahwa setelah acara ngariung diadakan oleh Komunitas Ciliwung, semoga akan ada kegiatan ngariung yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat yang mengundang 21 komunitas ciliwung yang saat ini sudah hadir.

“Didalam ngariung ini kita mendapatkan banyak ide-ide kreatif upaya restorasi Ciliwung. Semangat komunitas ciliwung ini sangat bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail yang hadir didalam acara Ngariung Ciliwung mengatakan bahwa kita perlu pemahaman bersama tentang konsep restorasi Sungai Ciliwung mulai dari hulu sampai dengan hilir.

Ia mengatakan, Pemerintah pusat dapat menetapkan berapa meter untuk garis sepadan sungai di hulu sampai dengan hilir Ciliwung, sehingga pemerintah daerah bisa memperkuat melalui peraturan daerah.

“Setelah disepakati garis sepadan sungainya, mari kita terapkan aturan-aturan yang sudah ada tentang pengelolaan sampah, limbah dan bantaran sungai,” ujarnya.

Untuk mengurangi jumlah air hujan dan sekaligus memanfaatkan air hujan, lanjut Nur Mahmudin, perlu dibuat sumur resapan, membuat instalasi pengelolaan air limbah dan memperbesar atau mempercepat tampungan air hujan dengan metode sumur imbuhan.

“Depok sudah lama membangun sumur imbuhan, yaitu aliran air hujan yang langsung masuk ke perut bumi,” ujarnya.

Wali Kota Depok menambahkan, bahwa Pemerintah Kota Depok akan berkomitmen dalam upaya restorasi Sungai Ciliwung dan mendukung kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan komunitas Ciliwung.

Peneliti Pusat Pengkajian, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB, yang juga Dekan Fakultas Pertanian, Ernan Rustiadi menyampaikan, upaya pemulihan Ciliwung menjadi wajah bagi pengelolaan dan penyelamatan sungai di Indonesia, jika pemerintah bersama-sama masyarakat dan komunitas bergerak dalam upaya penyelamatan.

Ia mengatakan, upaya perbaikan Sungai Ciliwung telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah, seperti pembongkaran vila yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Bogor, begitu juga sodetan dan normalisasi yang dilakukan Pemerintah DKI Jakarta.

“Pergerakan di masyarakat juga sudah tampak, hadirnya 21 komunitas Ciliwung ini bukti masyarkaat sudah bergerak. Tinggal bagaimana, semua komponen ini secara bersama-sama melakukan gerakan bersama dalam mengembalikan kualitas sungai. Ini akan menjadi contoh bagi pengelolaan sungai di daerah lainnya jika berhasil,” ujarnya.

Muhamad Muslich dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, yang juga Koordinator Kegiatan Ngariung Ciliwung mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan ide-ide lokal dalam mendukung restorasi Sungai Ciliwung.

“Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai. Meski sifatnya sangat lokal namun kegiatan mereka dapat berdampak luas. Ini potensi yang harus didukung baik oleh pemerintah daerah ataupun sektor swasta,” ujarnya.

Muslich menambahkan, melalui kegiatan Ngariung Ciliwung diharapkan pemerintah daerah bisa mendukung usulan-usulan kegiatan Komunitas Ciliwung yang berdasarkan hasil ngariung Ciliwung.

Sementara itu, Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I Provinsi Jawa Barat, Eddy I.M Nasution berjanji akan menyampaikan secara lengkap hasil pertemuan Komunitas Ciliwung dengan pemerintah ke Gubernur Jawa Barat.

“Secara singkat sudah saya sampaikan langsung rumusan dari kegiatan ngariung ciliwung kepada Gubernur Jawa barat. Kegiatan ngairung ini sangat bagus sekali. Komunitas Ciliwung sangat kompak dan bisa berkumpul semua dari hulu sampai hilir. Gubernur Jawa Barat harus melihat kekompakan dan kerjasama antar komunitas ini,” ujarnya. (ar)

Ngariung Ciliwung: Ngurus Ciliwung Mesti Bareng-Bareng

Sumber: http://readersblog.mongabay.co.id/Ridzki R. Sigit , 29 December 2013

Bojong, 29 Desember 2013- 21. Siaran Pers. Komunitas Ciliwung mulai dari Puncak, Bogor sampai dengan Muara, Jakarta mendorong dan mengajak masyarakat di sepanjang Ciliwung dan pemerintah daerah di Jawa Barat untuk mendukung restorasi ekosistem di Jawa Barat yang merupakan kawasan tengah dan hulu Sungai Ciliwung.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Komunitas Ciliwung di akhir tahun 2013 ini adalah mengadakan kegiatan “Ngariung Ciliwung” yang mengundang Gubernur Jawa Barat, Walikota Bogor, Bupati Bogor dan Walikota Depok yang dilakukan di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor.

Komunitas Ciliwung mengajak semua pihak baik dari Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup, BPDAS Citarum Ciliwung dan pihak swasta, serta masyarakat luas untuk berkumpul bersama dan membangun komitmen bersama untuk restorasi Ciliwung.

Muhamad Muslich dari Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, yang juga Koordinator Kegiatan Ngariung Ciliwung mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan ide-ide lokal untuk mendukung restorasi Sungai Ciliwung.

“Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai. Meski sifatnya sangat lokal namun kegiatan mereka dapat berdampak luas. Ini potensi yang harus didukung baik oleh pemerintah daerah ataupun sektor swasta” tegasnya.

Erna Witoelar, Ketua Gerakan Ciliwung Bersih yang sekaligus sebagai pemandu kegiatan Ngariung Ciliwung menyampaikan bahwa setelah acara ngariung diadakan oleh Komunitas Ciliwung, semoga akan ada kegiatan ngariung lain yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat yang mengundang 21 komunitas ciliwung yang saat ini sudah hadir.

“Didalam ngariung ini kita mendapatkan banyak ide-ide kreatif upaya restorasi Ciliwung. Semangat Komunitas Ciliwung ini sangat bagus” ungkap Erna Witoelar.

Sampah yang langsung dibuang di sungai. Foto: Ridzki R. Sigit

Walikota Depok, Nur Mahmudi Is’mail yang hadir didalam acara Ngariung Ciliwung mengatakan bahwa kita perlu pemahaman bersama tentang konsep restorasi Sungai Ciliwung mulai dari hulu sampai dengan hilir. Pemerintah pusat silahkan menetapkan berapa meter untuk garis sepadan sungai di hulu sampai dengan hilir Ciliwung, sehingga kami pemerintah daerah bisa memperkuat melalui peraturan daerah.

“Setelah disepakati garis sepadan sungainya, mari kita terapkan aturan-aturan yang sudah ada tentang pengelolaan sampah, limbah dan bantaran sungai. Untuk mengurangi jumlah air hujan dan sekaligus memanfaatkan air hujan, kita bisa membuat sumur resapan, membuat instalasi pengelolaan air limbah dan memperbesar atau mempercepat tampungan air hujan dengan metode sumur imbuhan. Depok sudah lama membangun sumur imbuhan, yaitu aliran air hujan yang langsung masuk ke perut bumi.

Melalui kegiatan Ngariung Ciliwung Muslich yang mewakili Komunitas Ciliwung lainnya berharap pemerintah daerah bisa mendukung usulan-usulan kegiatan komunitas ciliwung yang berdasarkan hasil Ngariung Ciliwung. Perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yaitu Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan Wilayah I Provinsi Jawa Barat, Eddy I.M Nasution berjanji akan menyampaikan secara lengkap hasil pertemuan komunitas Ciliwung dengan pemerintah ke Gubernur Jawa Barat.

“Secara singkat sudah saya sampaikan langsung rumusan dari kegiatan Ngariung Ciliwung kepada Gubernur Jawa barat. Kegiatan ngairung ini sangat bagus sekali. Komunitas Ciliwung sangat kompak dan bisa berkumpul semua dari hulu sampai hilir. Gubernur Jawa Barat harus melihat kekompakan dan kerjasama antar komunitas ini” katanya.

Walikota Depok menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Depok akan berkomitmen dalam upaya restorasi Sungai Ciliwung dan mendukung kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan komunitas Ciliwung.

Komunitas Ciliwung Mengajak Restorasi Sungai Lewat Ngariung Ciliwung

Sumber: http://satuharapan.com/ Ignatius Dwiana , 30 Desember 2013

JAWA BARAT, SATUHARAPAN.COM – Komunitas Ciliwung mendorong dan mengajak masyarakat di sepanjang Ciliwung dan pemerintah daerah untuk mendukung restorasi ekosistem kawasan tengah dan hulu sungai Ciliwung di Jawa Barat. Salah satunya dengan kegiatan ‘Ngariung Ciliwung’ pada Minggu (29/12).

Kegiatan ngariung, berkumpul, dilakukan di Kampung Glonggong, Desa Kedung Waringin, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor.

“Tidak mudah merestorasi sungai. Kita belum punya contoh. Untuk itu perlu dilakukan secara bersama-sama. Komunitas Ciliwung di berbagai titik telah memberikan contoh nyata dengan kegiatan-kegiatan yang unik untuk mendukung pemulihan sungai. Meski sifatnya sangat lokal namun kegiatan mereka dapat berdampak luas. Ini potensi yang harus didukung.” Kata Koordinator Kegiatan Ngariung Ciliwung Muhamad Muslich.

Koordinator Kegiatan Ngariung Ciliwung Muhamad Muslich mengatakan bahwa kegiatan ini dilakukan untuk mempertemukan ide-ide lokal untuk mendukung restorasi Sungai Ciliwung.

Kehadiran dari pelbagai pihak seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Kementerian Lingkungan Hidup, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Citarum Ciliwung, pihak swasta, masyarakat luas, dan para wakil pemerintahan daerah menjadi penting dalam restorasi Sungai Ciliwung.

“Mulai tahun depan di 2014 kita bisa bersama-sama merestorasi Sungai Ciliwung. Indonesia butuh model pengelolaan sungai yang lebih baik. Saya pikir para pemimpin kita perlu menularkan semangat pemulihan tersebut kepada masyarakat luas.” Kata Muslich.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: