Anak-anak dan Ciliwung

Anak-Anak Ciliwung

sumber foto (ilustrasi):  http://www.berita-terbaru.com/

Mei 2006

Hari Bumi Bersama Anak-Anak Bantaran Ciliwung 

Sumber: http://berita.liputan6.com/08 Mei 2006 

Liputan6.com, Jakarta: Hari Bumi Sedunia pada 22 April mungkin terlewatkan bagi sebagian orang. Namun tidak bagi anak-anak yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, Condet, Jakarta Timur. Mereka belum lama ini memperingati Hari Bumi dengan berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup.

Puluhan anak-anak sekolah dasar ini tampak serius menggambar dan mewarnai di bawah langit terlindung rindangnya pohon. Kegiatan ini, menurut Wahana Komunitas Lingkungan Hidup, bertujuan meningkatkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup semenjak dini.

Peringatan ini juga melibatkan anak-anak dalam menanam pohon dan melepaskan benih ikan ke Sungai Ciliwung. Sayang, keterbatasan dana mengakibatkan jumlah pohon dan benih ikan kurang memadai dan hanya terkesan simbolik. Pihak penyelenggara mengaku tak mendapat bantuan penyediaan bibit dari instansi terkait.

Dengan kampanye cinta lingkungan ini, diharapkan Jakarta tak lagi menghadapi ancaman banjir. Atau setidaknya, citra buruk Sungai Ciliwung sebagai penyebab banjir menguap melalui pengembangan kawasan konservasi Sungai Ciliwung. Termasuk menjadi objek wisata seperti yang tengah dikembangkan dalam beberpa tahun belakangan ini.(TOZ/Winny Arnold dan Achmad Haris)

Juli 2007

Yang Kecil, Yang Berbahagia 

Oleh : B. Stephanie Iriana Pasaribu

Sumber: http://ciliwungmerdeka.blogspot.com/ 18 Juli 2007   

Ketika pertama berjumpa dengan anak-anak pinggiran di bantaran kali Sungai Ciliwung, saya membawa ‘label’ bahwa mereka adalah anak-anak yang kurang bahagia: bahwa mereka pasti merasa ‘dunia’ mereka terkoyak-koyak tanpa harapan, bahwa mereka pasti merasa hidupnya tidak bermakna, dan memiliki perasaan kosong yang mendalam dalam dirinya. Namun, anak-anak yang saya temui itu ternyata jauh berbeda dari gambaran tersebut, mereka tidak mengekspresikan perasaan-perasaan itu. Sebaliknya, mereka sangat bahagia, bersemangat untuk belajar hal-hal baru, dan menikmati setiap apa yang mereka miliki sepenuh hati. ‘Temuan’ pertama saya tentang mereka kemudian membuka horizon yang baru dan menantang saya untuk tidak begitu saja percaya akan stigma-stigma negatif tentang mereka.

Dengan berinteraksi bersama mereka, saya belajar tentang kompleksitas menjadi seorang anak: bahwa menjadi anak tidaklah mudah. Mereka tidak secara otomatis bebas dari tanggungjawab-tanggungjawab yang besar (tanggungjawab atas diri orang lain), mereka tidak melulu mengisi waktu mereka dengan bermain dan belajar, yang secara umum dipandang sebagai aktivitas utama anak-anak. Namun kenyataannya, seringkali mereka harus memainkan peran sebagai orang dewasa yang seharusnya mampu mengatur dirinya sendiri, yang mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, atau pun yang mampu mengetahui dan mengekspresikan apa yang mereka inginkan dan rasakan dengan jelas.

Anak-anak pinggiran, menurut saya adalah anak-anak yang istimewa. Meskipun mereka ‘terperangkap’ dalam situasi yang penuh beban dan keterbatasan namun respon mereka tidaklah kekanak-kanakan, dan itu sangat mengagumkan. Dengan segala karakteristik mereka yang mempesona dan juga melelahkan, mereka menunjukkan resiliency yang luar biasa: kemenangan atas segala kemalangan.

Hidup dalam situasi yang penuh dengan keterbatasan, namun disertai sikap yang penuh harapan dan rasa syukur adalah hal utama yang saya pelajari dari anak-anak pinggiran. Kemampuan mereka untuk menemukan kesempatan dari sesuatu yang tampaknya mustahil, untuk menikmati apa yang ada dengan hati yang riang, senantiasa melahirkan suatu harapan.

Festival Budaya dan Temu Rasa Anak Pinggiran ini adalah pesta untuk mereka. Pesta besar untuk merayakan kemerdekaan dan keberanian mereka menempuh hidup yang penuh himpitan dan ketidakpastian, namun tetap dijalani dengan penuh harapan dan rasa syukur. Dengan segala kemampuan itu, pantaslah jika kita mengatakan: yang kecil, yang berbahagia!

Mei 2012

Anak-Anak Ciliwung 

Oleh:  Visna Vulovik

Sumber: http://riverforlife.org/  10 Mei 2012

Melihat anak-anak dengan beraninya melompat di jembatan ketinggian sekitar ± 5 meter, membuat saya berdecak kagum tak henti-hentinya. Saat itu, saya sedang mengikuti training sebagai Community Organizer (CO) untuk Ciliwung yang diadakan oleh UPC dan AMAN. Di dalam training tersebut, kita diajak untuk memahami bagaimana menjadi seorang CO terutama untuk membantu masyarakat di bantaran Sungai Ciliwung. Sesi yang paling menarik adalah ketika kami mengamati keseharian masyarakat yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung di wilayah Kalibata.

Sore itu (11/5) saya bersama 1 orang tim, Bang Ipul, menusuri jalur keluar menuju bantaran Sungai Ciliwung Kalibata. Ketika kami menusuri jalan bawah flyover Rawajati, tepat di sisi jembatan sungai, kami melihat sekumpulan anak-anak berlari bertelanjang dada menyebrangi jalan—tanpa menghiraukan padatnya lalu lintas sore—kemudian menyeburkan diri ke Sungai Ciliwung. Sontak aku merasa kagum, dan segera menghampiri orang-orang yang asik, ramai menyoraki mereka. Kagum, luar biasa, ngeriiii bercampur dalam benak saya. Bahkan saya melihat betapa derasnya arus sungai karena bekas hujan, dengan cekatan anak-anak tersebut berenang menepi ke pinggir sungai.

“Keereeennn…” entah perasaan khawatir, seru, takjub yang bercampur, saya kemudian menghampiri salah seorang ibu yang tersenyum-senyum menyaksikan atraksi mereka.

“Mbak, itu anak-anak mana? Gile bener, berani yaaa…”

“Iya mbak… ntu, anak-anak tetangga. Anak-anak Ciliwung dah pokoke”

Ya… Tepat! Mereka adalah anak-anak Ciliwung. Ciliwung adalah ibu kedua bagi mereka. Ibu yang telah menghangatkan dan mensupport perkembangan emosi, rasa, kecintaan, peradaban, dan budaya yang terus berkembang. Namun, kini, mungkin saja peradaban sungai itu akan tergerus oleh modernisasi.

Ciliwung adalah lahan bermain anak-anak bantaran sungai, baik hulu-tengah-maupun hilir, tidak peduli sekotor apapun sungai itu; jika ada jeram ataupun arus, permainanpun jadi.

Namun, apakah perlu kita biarkan? Ketika sungai itu semakin kotor, ia akan kehilangan rasanya, mungkin tanpa jeram, atau bahkan tak bergerak. Anak-anak itu mungkin akan kehilangan lahan bermain mereka satu-satunya dan kitapun mungkin kehilangan kepekaan akan kebutuhan mereka.

Kini, kita masih bisa meyaksikan bagaimana asiknya anak-anak bertelanjang dada menyeburkan diri ke sungai tanpa rasa takut. Tapi, bagaimana jadinya ya jika sang sungai diabaikan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: