Harry Surjadi

Menghidupkan Ciliwung

Harry Surjadi,
Pendiri Amrta Institute for Water Literacy

Sumber: http://koran.tempo.co/ 11 Februari 2014 

Berita banjir menyita halaman surat kabar, majalah, dan waktu siar televisi ataupun radio. Tidak ada penjelasan sedikit pun “apa itu banjir”. Media berasumsi semua pembaca, pendengar, dan pemirsa sudah tahu pengertian banjir.

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai mendefinisikan banjir sebagai “peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai” (Pasal 1 ayat 7). Definisi ini masih tidak menjelaskan banjir dengan pas.

Danau Sentarum, Kalimantan Barat, saat musim kemarau menjadi dataran kering. Danau Sentarum bisa dijelajahi dengan sepeda motor sampai bagian tengah danau karena danau mengering. Ketika musim hujan, seluruh wilayah Danau Sentarum penuh dengan air. Apakah Danau Sentarum kebanjiran? Tidak. Banjir terjadi ketika air merendam lingkungan buatan manusia. Jika air merendam wilayah yang tidak ada manusianya atau lingkungan hidup tanpa manusia, namanya bukan banjir.

Cara mengatasi banjir sederhana: jangan membuat rumah di dataran banjir (floodplain). Namun prakteknya tidak sesederhana itu karena sungai sebenarnya hidup. Sungai yang hidup (living river) itu dinamis, menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sungai yang hidup berkelok-kelok, dan kelokan ini bisa berubah. Sungai Ciliwung, yang terpecah menjadi 13 anak sungai, sudah sekarat. Aliran anak Ciliwung di utara sudah mati. Airnya hitam, berbau, dan tidak punya oksigen.

Sungai Napa melintasi wilayah California bagian tengah sebelum berakhir di Teluk San Francisco, Amerika Serikat. Setelah penduduk Kota Napa 22 kali kebanjiran dalam kurun 150 tahun, pemerintah federal menugaskan US Army Corps of Engineers (Corps) untuk mengatasi banjir di daerah aliran Sungai Napa. Corps mengajukan sungai yang lebih dalam dan lurus melintasi Kota Napa. Tiga kali warga menolak usul Corps, yakni pada 1976, 1977, dan setelah banjir besar pada 1986.

Warga Napa membentuk Community Coalition for Napa Flood Management yang kemudian menyepakati rencana mengatasi banjir dengan menerapkan prinsip living river (sungai yang hidup), yaitu prinsip yang menghargai pentingnya kehidupan ikan dan kehidupan liar lainnya, keterkaitan antara sungai dan dataran banjir, serta hubungan manusia dengan sungai itu.

Program itu memindahkan lebih dari 70 rumah dan 30 gedung komersial, menyediakan 160 hektare wilayah genangan, 60 hektare lahan basah musiman, dan mengembalikan 243 hektare dataran banjir yang sebelumnya dilindungi dari air dengan tanggul. Hasilnya: lebih dari 3.000 bangunan terlindungi dari banjir 100 tahunan, biaya asuransi turun drastis, bisnis-bisnis baru yang berkaitan dengan sungai bermunculan, dan 37 jenis ikan berkembang biak dengan subur.

Mengatasi banjir Jakarta berarti menghidupkan kembali Ciliwung. Menghidupkan Ciliwung bukan hanya secara ekologis (ikan dan makhluk air bisa hidup). Menghidupkan Ciliwung juga berarti mengembalikan nilai sosial, ekonomi, dan politik sungai itu.

Langkah pertama, menentukan seberapa luas dan di mana saja dataran banjir dengan menggunakan data banjir periodik dan data satelit. Tidak boleh ada bangunan di dataran banjir. Salah satu daerah dataran banjir yang perlu dinormalkan adalah pesisir utara Jakarta. Kesalahan penguasa lama adalah memberikan izin alih fungsi dataran banjir di utara menjadi perumahan mewah, sehingga tersisa suaka margasatwa Muara Angke seluas 25 hektare.

Batalkan rencana reklamasi pantai utara Jakarta dan pembuatan polder. Membangun polder atau dinding tinggi di sebelah utara Jakarta malah akan menyulitkan air genangan mengalir ke laut. Dan lupakan ide membuat saluran bawah tanah. Selain biayanya mahal, secara logika air tidak mungkin mengalir ke tempat yang lebih tinggi tanpa pompa.

Langkah kedua, bangunan di daerah banjir (berdasarkan peta daerah banjir), di sepanjang sempadan Ciliwung di Jakarta, harus dipindahkan.

Rehabilitasi pinggir sungai berlanjut hingga ke bagian hulu Ciliwung di Bogor, mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011. Tanggung jawab dan program di wilayah hulu (Jakarta) berbeda dengan di hilir (Depok dan Bogor hingga Gunung Gede Pangrango). Lanjutkan pembongkaran bangunan (vila) yang tidak sesuai dengan RTRW-RBWK di Puncak, Bogor.

Alokasikan juga sebagian wilayah hulu (Depok, Bogor, dan Puncak) untuk danau. Daerah Sempur di Bogor sangat cocok untuk dijadikan danau yang bisa menampung cukup banyak air Ciliwung.

Langkah ketiga, mengeluarkan peraturan yang lebih pro-lingkungan dan memasukkan prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan sebagai roh dari peraturan. Misalnya, ubah ketentuan iuran sampah. Kalau sebelumnya iuran sampah flat, harus diubah sesuai dengan jumlah sampah yang dibuang. Anjuran mengolah sampah organik sendiri menjadi relevan dan ada insentif bagi keluarga yang tidak menghasilkan sampah. Slogan baru: kurangi sampah.

Menghidupkan kembali Sungai Ciliwung bukan pekerjaan setahun-dua tahun. Ini merupakan pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, termasuk konsistensi kepemimpinan di daerah-daerah yang dilalui Ciliwung. Dan jangan lupa libatkan warga dengan selalu memberikan informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: