Akbar Zainudin

Mirisnya Kawasan Kumuh Bantaran Anak Kali Ciliwung

Oleh: Akbar Zainudin

Sumber:http://sosbud.kompasiana.com/  13 Oktober 2011 


Beberapa saat yang lalu, saya menelusuri salah satu lingkungan paling kumuh di wilayah Jakarta. Tepatnya di kawasan bantaran sungai di sekitar anak kali Ciliwung di wilayah Bukit Duri, Jakarta Pusat. Ternyata, di antara kemegahan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, masih terdapat perkampungan kumuh yang sangat memprihatinkan.

Kebanyakan rumah-rumah tersebut dindingnya terbuat dari triplek, atau kayu-kayu bekas. Tidak ada jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain. Saling berdekatan, berhimpitan. Karena rumah-rumah itu berdiri di atas bantaran sungai, seperti rumah panggung di daerah Sumatera sana, pondasi rumah itu didirikan di atas panggung yang terbuat dari beton. Bedanya, kalau di Sumatera dan Sulawesi sana rumah panggung di bawahnya bisa digunakan untuk ruang tamu, garasi, atau gudang, di kawasan perkampungan ini, di bawah panggung itu adalah sungai yang hitam pekat karena kotoran, sampah, dan limbah yang padat.

Memasuki gang-gang sempit di kawasan tersebut, sampah-sampah sisa makanan bertebaran di sepanjang jalan, seakan orang tidak lagi peduli dengan kebersihan dan kesehatan mereka. Bau busuk dari sekitar sungai dan lalat-lalat yang beterbangan menjadi pemandangan sehari-hari, tidak lagi menjadi beban buat mereka. Mereka sudah sangat terbiasa dengan keadaan itu.

Beruntung, mereka mendapatkan bantuan fasilitas air bersih dari Pemerintah. Pemerintah membangun sarana MCK dan air bersih yang digunakan bergantian oleh warga di sekitar kawasan tersebut. Setidaknya, untuk memasak, mencuci, makan, dan minum mereka bisa mendapatkan air bersih yang “wajar”, tidak harus menggunakan air sungai yang kotor dan keruh. Mereka juga mendapatkan saluran listrik dari PLN, walaupun tidak ada sertifikat tanah dan tempat tinggal di sana. Dengan demikian, penerangan dan listrik bisa mereka dapatkan.

Bukan itu saja, di saat banjir atau air dari sungai Ciliwung meluap, mereka adalah orang yang pertama merasakan kebanjiran. Walaupun rumah mereka diusahakan tinggi, tetap saja jika air meluap, rumah mereka kebanjiran. Air masuk rumah, membawa berbagai kotoran sungai yang luar biasa joroknya. Dan kejadian itu, terutama saat musim hujan merupakan kejadian “rutin” yang harus dihadapi.

Saya tidak bisa membayangkan, betapa banyak di antara kita, pasti tidak akan kuat hidup di tengah-tengah suasana kumuh dan kotor seperti itu. Terkadang, kotor atau bau sedikit saja, kita sudah menyingkir dan mencari tempat lain. Bayangkan bagaimana mereka karena “saking” terbiasanya sehingga tidak lagi menjadikan hal itu sebagai beban.

Ironisnya, seringkali betapapun kita sudah tinggal di tempat tinggal yang memadai, masih saja sehari-harinya kita memenuhi kehidupan kita dengan berbagai keluhan. Mengeluh bahwa kurang inilah-kurang itulah, seakan-akan hidup tidak pernah cukup dengan apa yang kita miliki sekarang.

Memang hidup tidak akan pernah cukup, tetapi hal itu sangat tergantung pada bagaimana kita memaknai hidup itu sendiri. Rasa syukurlah yang akan menjadikan hidup kita menjadi cukup. Bukan banyaknya uang dan materi yang menjadikan kita cukup, tetapi pikiran dan perasaan kitalah yang mengendalikan perasaan kecukupan tersebut.

Jika kita masih ngontrak atau menyewa rumah, tetap penuhi diri kita dengan penuh kesyukuran, bahwa kita masih bisa diberi kenikmatan untuk tidur dan hidup di tempat yang bersih. Kesyukuran itulah yang akan membawa kita pada upaya untuk terus bekerja keras. Nah, dengan demikian, ada harapan bahwa rezeki kita akan ditambah.

Bagi yang sudah mempunyai rumah tinggal, sekecil apapun rumah tersebut, sejelek apapun kondisinya, mestilah tetap hidup ini dipenuhi dengan rasa syukur. Kesyukuran kitalah yang rasanya akan memberikan gairah hidup dan kebahagiaan yang besar, yang pada akhirnya menyiapkan diri untuk memperoleh nikmat yang lebih banyak.

Semakin dalam kita bersyukur, artinya semakin siap kita mendapatkan nikmat yang lebih besar. Karena Allah selalu menguji kita, dengan apa yang kita punya sekarang, apakah bertambah kedekatan dan kepasrahan diri kita kepada Allah, atau malah justru menjauhkan diri kita dari-Nya.

Jawaban atas ujian itu ada pada diri kita masing-masing, dan itulah selaras dengan janji Allah. Saat kita tambah syukur dan berserah, Allah akan tambahkan rezeki buat kita. Sebaliknya, jika apa yang kita miliki menjadikan kita sombong dan menjauhkan diri dariNya, artinya, kita tidak lulus dari ujian yang diberikan kepada kita…..

Salam Man Jadda Wajada,

AKBAR ZAINUDIN

Penulis Buku-Buku Motivasi:
Man Jadda Wajada: The Art of Excellent Life (Jakarta: Gramedia, 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: