Alwi Shahab

 Mengamankan Bantaran Ciliwung

Oleh:  Alwi Shahab 

Sumber: http://alwishahab.wordpress.com/  15 April 2006    

Inilah bantaran sungai Ciliwung sekitar tahun 1970′an di salah satu kawasan Jakarta Timur. Air mengalir dengan deras di sungai yang masih lebar dan dalam, sementara pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Kini sulit mencari bantaran sungai yang demikian. Lantaran makin banyak dihuni manusia yang menjadikan sebagai tempat tinggal. Bahkan beberapa di antaranya sudah jadi perkampungan. Tidak heran bila 13 sungai yang mengalir di Jakarta, bukan saja makin dangkal, tapi makin mengecil kelebarannya. Banjir pun tiap saat makin meluas.

Melihat keadaan yang sudah sangat memprihatinkan ini, sejumlah anak di Condet, Jakarta Timur mendirikan ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung, Condet.” Dengan motto : ‘Sebatang pohon seribu kehidupan’, para anak muda yang dipimpin Abdulkadir Muhammad dan Budi Setija, telah mengamankan sekitar 20 hektare bantaran sungai Ciliwung di kawasan Condet.

Setelah bekerja tanpa mengenal lelah selama enam tahun, kini hasilnya mulai terlihat. Di markasnya di tepi Ciliwung di Balekambang, mereka menyiapkan ribuan pembibitan berbagai budidaya tanaman, khususnya duku, salak dan melinjo. Ketiga tanaman khas Condet ini, kini semakin langka akibat pesatnya pembangunan perumahan. Sementara, pemborong makin bergairah membangun Condet, yang luasnya 582.450 hektar.

Akibat gagalnya Condet dijadikan sebagai cagar budaya buah-buahan, menurut Abdulkadir dan Budi, ratusan petani buah yang tidak lagi memiliki dan berganti profesi, ingin bekerja kembali. ‘Untungnya sekitar 80 persen daerah bantaran sungai masih merupakan lahan kosong dan kebun yang tidak terawat,”ujar Budi. ”Inilah yang ingin diupayakan sebagai lahan konservasi oleh Wahana Komunitas Sungai Ciliwung Condet,” ia menambahkan.

Di sini kedalaman sungai masih ada yang mencapai 15 meter. Sekalipun terjadi penyempitan 12 meter, lebar sungai masih mencapai 30 meter. Yang juga perlu diacungkan jempol, dari belasan muda-mudi yang ikut terjun di wahana itu adalah mereka mengadakan Sekolah Alam ‘Sawung’ (Sekolah Alam Ciliwung). Para siswanya berusia tujuh hingga 12 tahun tiap Jumat.

Di sinilah anak-anak diajar mencintai lingkungan dalam bentuk presentasi, diskusi, kunjungan lapangan, pemutaran film, dan berbagai kegiatan lainnya. Di bandaran yang telah disulap menjadi lingkungan yang sejuk dan asri itu, disediakan perpustakaan, kegiatan berperahu menyusuri sungai sejauh 7 km, dan jalan santai di tengah-tengah pepohonan hijau royo-royo. Kesemuanya merupakan bagian dari ‘Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.’ Karena itu, tidak heran pada hari-hari Ahad dan libur, anggota Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet yang datang mencapai 20-an orang.

Permasalahannya adalah, tidak adanya mushola untuk pengunjung. Padahal, seperti dijelaskan Abdulkadir, biayanya hanya sekitar Rp 10 juta, di samping empat MCK (toilet). Di Condet sekarang ini ada ratusan perusahaan penampung tenaga kerja (TKW dan TKI) serta puluhan pengembang. Mungkin di antara mereka ada yang terketuk hatinya untuk membantu, kata Abdulkadir.

Condet, pada 1975 oleh gubernur Ali Sadikin ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan. Bahkan berdasarkan SK Gubernur 1989, kawasan di pinggiran Jakarta Timur ini menetapkan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai ‘Maskot DKI Jakarta.’ Kini pohon salak sudah hampir tidak tersisa lagi di Condet, sementara ‘Burung Elang Bondol’ sudah punah. Setidak-tidaknya inilah yang menyebabkan didirikannya ‘Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet’. ‘Guna mencegah hutan kota yang tersisa ini tidak menjadi hutan beton alias tanaman bata,’ ujar Budi.

Ciliwung Meluap di Harmoni

Oleh: Alwi Shahab

Sumber:http://alwishahab.wordpress.com/  19 Desember 2006 

Banjir ternyata sudah ratusan tahun jadi langganan kota Jakarta. Seperti tampak dalam foto, hujan deras disusul meluapnya kali Ciliwung pada tahun 1872, mengakibatkan daerah Molenvliet (Harmoni), yang merupakan kawasan elite dan pertokoan di Batavia digenangi air. Terlihat bagaimana derasnya luapan air, hingga menurut laporan koran-koran setempat, sekalipun pintu air di Sluisburg (kini Jl Pintu Air depan Istiqlal), dibuka tapi tak dapat menampung air sungai Ciliwung. Sungai yang meluap ke daerah-daerah lebih rendah, bukan hanya melanda Harmoni (kini merupakan bagian dari gedung Sekretariat Negara), tapi juga kawasan Rijswijk (kini Jalan Veteran) tempat Istana Negara berada. Serta tetangganya yang dipisahkan oleh Ciliwung yakni kawasan Noordwijk (kini Jl Juanda).

Begitu parahnya banjir 1872, sehingga air Ciliwung tanpa mengenal ampun mengalir di atas kebun-kebun di perumahan-perumahan penduduk yang berada di belakangnya. Malapetaka ini terjadi selama beberapa hari. Seperti terlihat dalam foto air mengalir deras ke Harmoni dari arah Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Disebutkan bahwa meluapnya Ciliwung akibat curah hujan yang tinggi. Kampung Petojo yang berada di bagian belakang Molenvliet juga terendam. Di sebelah kanan foto terlihat tembok-tembok dari Marina Hotel (kini juga merupakan bagian gedung Sekretariat Negara), dan Oger Freres (pedagang berlian) dan Apotek Rathkamp (kini Kimia Farma).

Foto sebelah kanan terlihat gedung sosiatet Harmoni salah satu gedung termegah di Batavia pada abad ke-19. Akibat bnanjir, jalan-jalan di kawasan elite Batavia ini telah meninggalkan lumpur-lumpur tebal. Untuk itu, pihak gemeente (kotapraja Batavia) telah mengeluarkan pinjaman untuk mengatasi keadaan darurat ini.

Ciliwung, Rakit dan Pencuci

Oleh: Alwi Shahab 

Sumber: http://alwishahab.wordpress.com/  21 Mei 2008 

Pemandangan seperti terlihat dalam foto tahun 1940-an di tepi Sungai Ciliwung sudah tidak akan dijumpai lagi dewasa ini. Puluhan wanita tengah mencuci pakaian di tepi sungai Ciliwung di Molenvliet (kini Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada), Jakarta Kota. Sampai 1950-an, Sungai Ciliwung, airnya masih cukup dalam dan jernih, sehingga digunakan untuk mandi, cuci, dan kakus. Banyak tukang cuci dan binatu yang memanfaatkan sungai Ciliwung untuk menerima cucian yang merupakan salah satu profesi para bapak dan ibu warga Betawi. Sehingga ada kampung di Jakarta bernama Petojo Binatu, karena banyaknya warga berprofesi tukang binatu. Bahkan kadangkala diantara yang mandi ada yang berbugil ria, sehingga pantas jadi tontonan bathing beauties.

Sekarang ini, Ciliwung dan 12 sungai yang terdapat di Jakarta sudah demikian kotor dan berubah menjadi got besar. Sungai Ciliwung yang melewati Molenvliet karena sudah tidak berfungsi lagi, pernah ada sejumlah insinyur mengusulkan ditutup dan ditimbun saja. Guna mengurangi kemacetan lalu lintas di Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada. Padahal di zaman Belanda, Ciliwung masih jernih karena pemerintah kolonial melarang dan mengenakan denda terhadap orang yang membuang sampah di sungai-sungai. Karenanya tidak seperti sekarang, ketika itu orang tidak berani membuang sampah di sungai.

Pada masa awal VOC, Batavia — nama Jakarta ketika itu — pernah dijuluki Venesia dari Timur karena rumah dan gedung berdiri di tepi-tepi kanal atau terusan dari sedotan Ciliwung dan sungai-sungai lainnya yang membelah-belah Batavia. Di antara puluhan kanal yang masih tersisa adalah Kali Molenvliet yang diapit Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk seperti terlihat di foto. Sungai yang sekarang kotor dan banyak ditimbun sampah dulunya jalan air dilewati rakit-rakit bambu membawa barang-barang dari daerah pedalaman. Venesia adalah sebuah kota di Italia, yang banyak didatangi para wisatawan mancanegara. Kota Batavia seperti juga Venesia didirikan di tengah kanal-kanal, sehingga para wisatawan dengan menggunakan perahu saling berseliweran di depan kediaman penduduk.

Di samping tempat hajat orang banyak, Ciliwung tempo doeloe juga menjadi pusat hiburan rakyat. Seperti pesta pehcun yang dirayakan pada hari keseratus Imlek. Keramaian digelar dalam bentuk karnaval perahu yang diiringi ratusan perahu yang dihias dan dimeriahkan orkes gambang keromong. Pesta ini berjalan semalam suntuk diterangi oleh lampion warna-warni diiringi para cokek yang ngibing tidak kalah eksotiknya dengan penyanyi dangdut

Masa Kejayaan Kali Besar

Oleh: Alwi Shahab

Sumber: http://alwishahab.wordpress.com/ 2 Juli  2008 

Foto yang diabadikan oleh Woodbrog & Page pada tahun 1870 memperlihatkan masa kejayaan Kali Besar yang terletak di muara Sungai Ciliwung, bandar Sunda Kalapa. Pemandangan ini diambil dari dekat muara Ciliwung, Kali Besar di mana terdapat Hotel Omni Batavia — hotel berbintang lima yang dibangun akhir 1980-an untuk menarik para wisatawan mancanegara.

Terlihat belasan kapal layar yang membongkar muat barang-barang baik dari mancanegara maupun dari daerah selatan pedalaman Batavia tanpa mengalami kesulitan mengarungi sungai yang masih jernih dan dalam.

Sekalipun pada akhir abad ke-19 bandar Sunda Kalapa telah dipindahkan ke Tanjung Priok, tapi kawasan Kali Besar, Jakarta Kota, masih menunjukkan pamornya. Bahkan pada awal abad ke-20, ketika kota Batavia makin berkembang, beberapa perkantoran seperti terlihat dalam foto telah diperbaharui dengan gaya modern, seperti yang dapat kita saksikan sisa-sisanya sekarang ini.

Kini, kawasan Kali Besar sepanjang 1,2 km dari bekas Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada hanya kira-kira ratusan meter dari pusat bisnis Glodok, airnya kembali akan dijernihkan seperti awsal abad ke-17 dan abad 18. Air sungai dalam beberapa bulan mendatang akan mendapati kedalaman satu setengah meter, sementara dua buah bendungan akan dibangun untuk menghindari masuknya sampah. Air sungai yang telah dijernihkan

Sampai abad ke-20 di Kali Besar, baik Kali Besar Timur dan Kali Besar Barat berdiri sejumlah perusahaan besar yang bergerak di bidang ekspor impor, perkapalan, jasa dan asuransi. Dahulu di Kali Besar Barat dekat Jl Tiang Bendera terdapat perusahaan Maclaine Watson & Co yang telah berdiri sejak 1825 oleh seorang Inggris Gilleon Maclainbe yang mengadu untung ke Jawa tahun 1920 dalam usia 22 tahun. Perusahaan raksasa ini juga bergerak dalam ekspor impor, pelayaran dan memiliki sejumlah armada kapal sendiri. Termasuk ekspor gula yang kala itu merupakan ekspor komoditi utama dari Hindia Belanda.

Kali Besar abad ke-17 dan 18 juga merupakan pemukiman orang-orang Belanda yang terletak di dalam kota berbenteng. Ketika itu orang Cina masih dibolehkan tinggal di Kali Besar. Tapi sejak terjadi pemberontakan Cina tahun 1740 yang mengakibatkan 10 ribu warga Cina terbunuh, mereka dipindahkan ke Glodok sampai sekarang ini. Glodok kala itu terletak di luar kota bertembok. Kali Besar sudah bernama demikian jauh sebelum Kraton Jayakarta berdiri (1527) yang berlokasi di tepi barat Kali Besar. Batas selatannya adalah rawa-rawa yang disebut Roa Malaka, batas timurnya Jl Pakin sekarang dan batas baratnya Jl Pejagalan.

Jangan Salahkan Ciliwung

Oleh: Alwi Shahab

Sumber: http://lembagakebudayaanbetawi.com/   

Banjir hampir tidak pernah jemu untuk menggenangi Ibukota. Yang memprihatinkan, kali ini jangkauannya jauh lebih luas dari banjir yang pernah terjadi di kota metropolitan ini. Termasuk korban jiwa. Bantaran sungai Ciliwung, yang berada di tengah-tengah kota Jakarta, kini dinyatakan Siaga I, yang berarti airnya sudah berada di ambang batas. Tapi, untuk itu, sebaiknya kita tidak dulu saling menyalahkan seperti yang terjadi saat ini. Sebaiknya perhatian sepenuhnya dicurahkan guna menolong ratusan ribu korban, yang sangat memerlukan makanan, pakaian, dan obat-obatan.

Berdasarkan penemuan-penemuan arkeologi berupa kapak, beliung, gurdi, dan gerobak — yang kini disimpan di Museum Nasional, sejak zaman neolitikum atau batu baru, di sekitar Ciliwung sudah banyak dihuni manusia. Sunda Kelapa (Pasar Ikan) — muara Ciliwung — pernah menjadi bandar utama Kerajaan Pajajaran di Pakuan (Bogor). Waktu itu, sepanjang 60 km dari Pakuan ke Sunda Kelapa merupakan jalur ekonomi yang hidup. Dari Pakuan, hail-hasil bumi dibawa ke Sunda Kelapa dengan perahu dan rakit, untuk dipasarkan ke mancanegara. Sementara barang-barang impor dari Sunda Kelapa diangkut ke Pakuan. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan perekonomian dan perdagangan kala itu dimulai dari sungai.

Ketika Fatahillah menaklukkan Sunda Kelapa dari Portugis, dan mengganti namanya menjadi Jayakarta, pusat kotanya berada di seberang kiri muara Ciliwung. Rupanya JP Coen, pendiri Batavia menyadari bahwa kota yang akan dibangunnya berada di rawa-rawa. Salah satunya untuk mencegah banjir, Coen, dan kemudian diikuti para penggantinya, banyak membangun parit (kanal) yang dalam Belanda disebut grachten. Seperti yang juga banyak terdapat di negaranya.

Begitu banyaknya kanal yang dibangun, hingga Belanda membuka kesempatan pihak swasta untuk turut membangunnya. Kalau kita menuju ke arah Jakarta Kota dari selatan, di Jl Majapahit dan Gajah Mada kita akan menjumpai sungai yang diapit oleh kedua jalan tersebut. Ia merupakan kanal atau sungai buatan yang dibangun oleh Phoa Bing Ham, seorang kapiten Cina pada 1648. Ia membangun kanal ini dengan menyodet Ciliwung, karena sebelumnya merupakan rawa-rawa yang bila musim hujan terendam air. Untuk memperlancar hasil bumi, Phoa juga menggali saluran air dari Tanah Abang ke kanal-kanal Batavia. Untuk itu ia memungut tol dari perahu dan sampan yang melewatinya. Banyak sampan yang melewati tol untuk memotong kompas agar lebih cepat ke tujuan.

Karena banyaknya kanal atau grachten yang dibangun Belanda, Jakarta mungkin salah satu kota di Indonesia yang mempunyai banyak sungai. Membelah-belah kota ini dari selatan ke utara. Tempo Doeloe lebih banyak lagi. Khususnya di Jakarta Kota dan sekitarnya, yang kala itu merupakan pusat kota Batavia. Sayangnya, kanal-kanal ini sebagian besar sudah tidak berfungsi, bahkan hilang. Banyak yang sudah menjadi bagian perumahan.

Begitu jernihnya Ciliwung di tempo doeloe, seperti dikemukakan Dr FH de Haan dalam buku Oud Batavia, hingga orang-orang Belanda meminum air Ciliwung. Air ini mula-mula mereka tampung dalam sebuah waduk yang dilengkapi pancuran-pancuran yang mengucurkan air dari ketinggian tiga meter. Daerah di Glodok ini kemudian dikenal dengan Pancoran, dari kata pancuran.

Berdasarkan catatan orang-orang Belanda yang datang pertama kali di Batavia (1596), muara sungai Ciliwung pada masa itu memungkinkan 10 buah kapal dagang yang punya kapasitas 100 ton masuk dan berlabuh dengan aman. Air Ciliwung kala itu mengalir bebas, tidak berlumpur dan tidak penuh endapan sebagaimana halnya di abad-abad kemudian.

“Kapten-kapten kapal singgah di sini untuk mengambil air yang cukup baik dan mengisi botol-botol dan guci-guci mereka, sedangkan pedagang-pedagang pribumi menyiapkan untuk mereka ikan segara dan ikan asin dalam jumlah besar sekali,” demikian tulis Willard A Hanna, seorang Amerika yang lama berdiam di Jakarta dalam buku Hikayat Jakarta.

Dulu, kanal Molenvliet yang membentang dari Harmoni hingga ke Pasar Ikan merupakan jalan air yang dilewati rakit-rakit bambu penuh sesak dengan barang-barang keperluan pekerja. Rakit dan perahu yang melewatinya harus berhati-hati agar tidak menabrak warga yang mandi, mencuci, dan buang air. Sekarang, kanal dari sodetan kali Ciliwung ini sudah tidak berfungsi, kecuali untuk mengalirkan air limbah dari pabrik dan industri. Pernah ada yang mengusulkan agar kanal ini ditutup, guna menampung kendaraan yang kian memacetkan lalu lintas.
Sumber : Ali Shahab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: