Andi Jauhari

Merawat DAS Ciliwung Dengan Pagar Pohon

Oleh: Andi Jauhari

Sumber:http://antarabogor.com/  20 Oktober 2011

Bogor, 24/4 (ANTARA) – Sejumlah studi penelitian maupun pernyataan para ahli, tidak sedikit yang intinya menyuarakan bahwa banyak daerah aliran sungai di Indonesia mengalami degradasi lingkungan, dalam kondisi kritis, bahkan rusak.Di antara daerah aliran sungai (DAS) tersebut, adalah yang melintas di wilayah Bogor, yakni DAS Ciliwung.

Menurut pakar lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Surjono Hadi Sutjahjo MS, banjir yang selalu menghantui warga ibu kota Jakarta sebagai konsekuensi kerusakan parah pada hulu dan hilir Daerah Aliran Sungai Ciliwung.”Banjir yang kerap melanda Jakarta pada setiap musim hujan bukanlah bencana alam tetapi sebagai konsekuensi kerusakan lingkungan,” katanya.
Surjono mengemukakan, bagian hulu dan hilir DAS Ciliwung mengalami kerusakan parah, ditambah badan sungai semakin menyempit akibat terdesak oleh tingginya aktivitas pembangunan yang dilakukan manusia.

“Kondisi itu diperparah kedalaman sungai juga semakin berkurang akibat akibat limbah industri dan rumah tangga. Jadi wajar bila musim hujan tiba Ciliwung tidak mampu menampung tingginya debit air, sehingga berdampak pada banjir,” kata Koordinator Mayor Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PSL) Pascasarjana IPB.Menurut Surjono, bila kawasan hulu dan hilir DAS Ciliwung tidak mengalami kerusakan, maka sungai yang membentang mulai kawasan Puncak di Bogor hingga perairan Teluk Jakarta tersebut akan selalu normal baik saat musim hujan maupun musim kemarau.

“Sungai yang normal tidak akan mengalami kekeringan pada saat musim kemarau serta tidak akan meluber secara berlebihan pada saat musim hujan,” katanya.Ia meyakini bila persoalan lingkungan yang menjadi pangkal utama pemicu terjadinya banjir di Jakarta tidak didiagnosa dan diatasi dengan baik, banjir akan terus menjadi “hantu” yang menakutkan warga Jakarta.Menurut dia, penanganan secara parsial yang dilakukan pemerintah tidak akan membawa dampak berarti dalam mengatasi masalah yang telah menjadi isu besar sejak zaman Belanda tersebut.

“Kebijakan pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam harus dievaluasi secara kritis. Pemerintah harus mematuhi berbagai peraturan perundang-undangan yang menyinggung masalah lingkungan. Kalau aturan yang ada dijalankan dengan baik, lingkungan kita akan lebih berkualitas,” katanya.”Pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam harus dilakukan secara arif, bijaksana dan berkeadilan, agar pembangunan berjalan dengan baik sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan secara berkelanjutan,” katanya.

Pagar pohon

Dalam kondisi terjadinya kondisi kritis DAS, ikhtiar untuk melakukan gerakan penyelemataan tetap muncul, khususnya yang dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah lokal.Contohnya, seperti yang dilakukan warga dan unsur Kelurahan Tanahsareal, Kota Bogor yang menanam 300 bibit pohon produktif sebagai “pagar lingkungan” di bantaran Sungai Ciliwung dan Cipakancilan.Menurut Lurah Tanah Sareal, Rika Riana, pohon yang ditanam itu adalah sumbangan dari IPB, yang dimaksudkan untun mencegah erosi dan longsor, Pohon yang ditanam adalah tanaman produktif, seperti jambu batu, rambutan, kenari, sengon dan beringin.

Pihak IPB sendiri, di masa kepemimpinan Rektor IPB Prof Dr Ahmad Ansori Matjjik, MSc, pada Oktober 2003, sebenarnya sudah memelopori apa yang kemudian dikenal dengan gerakan sejutan pohon sebagai wujud kepedulian terhadap permasalahan lingkungan.Pendeklarasian gerakan itu dipusatkan di Desa Kopo Kecamatan Cisarua dan Desa Cipayung Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor.Ia menyatakan, kebijakan penataan dan rehabilitasi DAS pada waktu yang lalu banyak yang belum dilakukan secara komprehensif.

“Penataan DAS ke depan seharusnya berdasar pada pertimbangan ‘socio-bio-physic resources’ di sekitar DAS itu sendiri,” katanya.Karenanya, pendekatan secara komprehensif dalam pengelolaan DAS diharapkan dapat berdaya guna dan berhasil guna secara maksimal dan lestari dengan memihak pada kepentingan masyarakat luas.Terkait dengan DAS dan masalah banjir yang menyertainya, IPB bersama berbagai elemen sejak saat itu merencanakan beberapa kegiatan, terutama dikaitkan dengan masalah banjir yang seringkali melanda sebagian besar kota Jakarta dan melumpuhkan sebagian besar kegiatan ekonomi.

Apalagi, kata dia, IPB terletak di daerah tangkapan air Ciliwung-Cisadane (water cathment area), penyebab persoalan banjir Jakarta.Ia mengatakan, agar gerakan penghijauan ini bermanfaat bagi semua pihak dan berkelanjutan, maka pola dasar yang mesti dikembangkan adalah pembentukan sentra-sentra produksi buah-buahan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh masyarakat, di antaranya kebun manggis di Hutan Pendidikan Gunung Walat-Sukabumi, kebun salak di Sleman dan Banjarnegara dan kebun melinjo di Pandeglang.

“Dengan demikian ruang terbuka hijau yang terbentuk diharapkan akan semakin produktif,” katanya.

Selain itu, agar gerakan penghijauan ini berkelanjutan maka sejak dini sudah mulai ditanamkan pendidikan lingkungan di tingkat sekolah-sekolah baik SD, SLTP dan SLTA juga mahasiswa dengan mendidik dan membiasakan untuk menanam dan memelihara pohon di sekitar lingkungannya.

Bahkan, IPB telah melakukan berbagai macam rangkaian kegiatan untuk mengembangkan model pendidikan hutan dan lingkungan bagi anak sekolah.

Andi Jauhari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: