Anjar Titoyo

Ciliwung dipersimpangan Massa

Oleh:   Anjar Titoyo

Sumber: http://anjartitoyo.blogspot.com/ 7 Januari 2007

Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia. Sebagai ibu kota negara, tentunya Jakarta memiliki perkembangan yang lebih pesat dibandingkan kota-kota lainnya yang ada di Indonesia. Seperti lagu “Lenggak-lenggok Jakarta” segala cerita tersimpan di kota yang berpenduduk hampir 10 juta jiwa ini. Mulai dari Monas sebagai simbol kekokohan dan kebanggan warga Jakarta, atau taman kota sebagai cermin keindahan, bahkan hingga gedung-gedung bertingkat yang semakin menjamur dan senantiasa justru menjadi simbol kecongkakan kota Jakarta. Hitam putihnya kehidupan tersebut semuanya tergambar jelas di sini menjadi warna-warni kota metropolitan.

Tetapi kalau kita bicara tentang kota Jakarta, tak lengkap rasanya jika tidak menyinggung tentang sungai Ciliwung. Sungai yang mengalir membelah kota Jakarta ini memang seolah sudah menjadi salah satu icon kota ini. Bagaimana tidak, sama halnya seperti kota ini sungai Ciliwung juga memiliki cerita dan permasalahan yang sangat kompleks.

Sungai Ciliwung merupakan satu dari 13 sungai yang ada di Jakarta. Sungai yang memiliki hulu di Gunung Gede Pangrango ini mengalir jauh melawati kota Cianjur Puncak Bogor (Bopuncur), Depok, Jakarta hingga akhirnya bermuara di Teluk Jakarta. Sungai ini merupakan tipe sungai alami artinya terjadi dengan sendirinya oleh karena proses alam dalam kurun waktu yang lama, hal ini ditandai dengan pola alirannya yang berkelak-kelok.

Dalam laju alirannya ke hilir sungai Ciliwung tidaklah berdiri sendiri, tetapi senantiasa ditemukan masukkan aliran sungai lain dan sungai-sungai kecil hasil buatan manusia.Sungai Ciliwung juga mengalami beberapa pecahan percabangan sungai, seperti kali Sentiong. Yang paling jelas adalah pecahan percabangan antara Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Ini dapat dijumpai ketika kita berada di Pintu Air Manggarai. Dimana yang mengalir mengalir ke arah barat menjadi Banjir Kanal Barat yang akan bertemu dengan kali Angke dan bermuara di Muara Angke. Sedangkan yang pecah ke arah timur menjadi Banjir Kanal Timur mengalir terus melewati Gunung Sahari dan akan bermuara di Pantai Marina Ancol. Konon pemecahan aliran ini dahulunya merupakan salah satu upaya pemerintah Kolonial Belanda didalam mengatasi banjir. Artinya adalah bahwa Jakarta sejak dahulu memang merupakan daerah potensi banjir yang sepertinya masih belum dapat diatasi mulai dari jaman kolonial Belanda hingga detik ini.

Banjir memang merupakan salah satu masalah yang paling pelik yang belum bisa diatasi pemerintah daerah Jakarta (PEMDA DKI) hingga saat ini. Bagaimana tidak, hampir setiap tahunnya Jakarta selalu dilanda banjir. Biasanya banjir terparah terjadi mulai awal bulan Januari hingga pertengahan Februari. Karena pada kurun waktu tersebut merupakan titik curah hujan tertinggi di Indonesia.

Banjir memang sepertinya bakal sulit diatasi, hal ini dipicu oleh letak topografi kota Jakarta yang sama seperti kota Ansterdam yaitu berada lebih rendah dari permukaan laut, sehingga ketika hujan tiba air sulit mengalir ke laut. Tetapi itu juga bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya banjir. Perkembangan jumlah penduduk yang berlebihan, pendangkalan sungai, penyempitan sungai, pembukaan lahan, hilanganya hutan, hilangnya situ-situ, hilangnya lahan pertanian dan perkebunan juga menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya banjir.

Masalah lain yang ditimbulkan oleh sungai Ciliwung adalah pencemaran. Bicara pencemaran sungai Ciliwung saya jadi teringat cerita ibu saya dulu yang katanya sekitar 40 tahun lalu sungai Ciliwung masih sangatlah jernih airnya bahkan masih dapat terlihat hingga kedasarnya. Anak kecil masih dengan leluasa berenang dan mandi di sungai, orang masih dapat mengambil air sungai untuk kepentingan air minum dan aktivitas rumah tangga, dan masih adanya sampan yang menjadi ciri khas sungai Ciliwung pada waktu itu. Hal senada juga pernah diceritakan oleh dosen saya pada salah satu mata kuliahnya. Tetapi kini itu semua hanya tinggalah kenangan, bahkan kualitasnya kini semakin menurun.

Sungai Ciliwung memang masih dikategorikan sebagai sungai golongan B, yaitu sungai yang airnya masih dapat digunakan untuk aktivitas manusia termasuk air baku air minum setelah terlebih dahulu melalui proses pengolahan. Meskipun secara uji kualitas air sungai Ciliwung sudah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan oleh BPLHD. Tetapi kini PEMDA DKI memanfaatkan suplai air dari waduk Jatiluhur sebagai alternatif sumber air minum warga Jakarta.

Sumber pencemaran yang terjadi di sungai Ciliwung terjadi dari berbagai sumber diantaranya limbah dari kegiatan rumah tangga seperti limbah deterjen, limbah sabun dan sampoo, feses, dan sampah baik organik maupun anorganik. Sedangkan limbah dari kegiatan industri seperti limbah buangan industri bahan makanan, limbah minyak, limbah pewarna pakaian dan penyamak kulit bahkan hingga logam berat dan zat radioaktif (jarang ditemukan). Belum lagi limbah dari kegiatan pertanian seperti insectisida dan pestisida. Semuanya ini terakumulasi dan terkumpul menjadi satu di sungai Ciliwung membentuk suatu permasalahan yang kompleks.

Dampak paling terasa biasanya terjadi pada musim kemarau. Ketika itu sungai Ciliwung berubah warnanya menjadi hitam dan berbau akibat tingginya proses degradasi/penguraian bahan limbah organik oleh mikroorganisme air. Pemandangan ini dapat kita jumpai ketika berada di daerah Ancol atau Muara Angke. Padahal kondisi ini justru memicu timbulnya berbagai penyakit seperti Hepatitis A, Polio, Kolera, Typhus, Disentri, Cacingan, Trachoma, Kudis, hingga keracunan.

Seolah tidak hanya penyakit saja yang menjadi dampak dari pencemaran sungai, masyarakatpun menjadi imbasnya karena mulai sulitnya mendapatkan air bersih dan jikapun harus membeli air bersih biasanya dijual dengan harga yang sangat mahal. Contoh kasus yang terjadi pada warga yang tinggal pada pemukiman kumuh dibantaran kali Cagak yang memanfaatkan air sungai yang sudah tercemar untuk keperluan hidupnya termasuk minum karena mahalnya harga air bersih.

Jika mau ditelaah banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran dan banjir. Seperti misalnya, limbah industri dan rumah tangga yang harus melalui proses Water Treatment Recycle Process atau proses daur ulang limbah sebelum dibuang ke alam. Tidak membuang sampah ke sungai. Melakukan penanaman tanaman air yang dapat menjadi biofilter limbah seperti kangkung, eceng gondong, krokot dan lain sebagainya. Memperluas daerah resapan seperti memeperbanyak situ-situ dan larangan mendirikan bangunan setidaknya 10 meter dari bantaran sungai, kurangi pembangunan dinding pembatas beton sungai yang hanya memandang dari segi eksotisme belaka, dan harus lebih digiatkan lagi pola pembangunan yang berwawasan lingkungan. Tetapi yang paling penting dan utama adalah adanya kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Karena tidak adil rasanya dan tidak akan selesai masalah ini kalau kita hanya bergantung dan mengandalkan pemerintah saja tanpa adanya peran aktif dari setiap elemen masyarakat.

Mungkin saya hanya segelintir orang yang percaya dan yakin sungai Ciliwung masih dapat diselamatkan atau bahkan dipulihkan. Asal setiap komponen diatas dapat berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Sehingga nanti ketika Jakarta sudah bukan lagi kota metropolitan, Jakarta dapat menjadi kota Megapolitan yang berwawasan lingkungan. Rasanya belum terlambat jika kita mulai dari sekarang atau semuanya akan hilang dan hanya menjadi dongeng dari peradaban manusia.

Anjar Titoyo
7 Januari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: