BPLHD Jakarta

Stop Nyampah di Kali

Sumber: http://bplhd.jakarta.go.id/  

Kampanye Kali Bersih III dengan Tema “Stop Nyampah Di Kali” kembali diselenggarakan pada tahun 2010 dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta ke-483 yang jatuh setiap tanggal 22 Juni dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni. Kegiatan yang mengambil Tajuk dengan nama : Kado Untuk Jakarta ini, akan dilaksanakan di Sungai Ciliwung mulai dari Perbatasan DKI Jakarta sepanjang 39 KM, mulai dari Jembatan Kelapa Dua Depok, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan s.d Muara di Teluk Jakarta, di Jakarta Utara, guna mengejar target pelaksanaan Program Ciliwung Bersih Tanpa Sampah (dalam kurun waktu 3 Tahun) di Tahun 2012.

Kegiatan Stop Nyampah Di Kali III 2010, selain merupakan kelanjutan dari pelaksanaan Kampanye Kali Bersih I 2009 (Minggu, 21 Juni 2009 di Asrama Kebersihan, Jl. Camat Gabun II, Jakarta Selatan); dan Kampanye Kali Bersih II 2009 (Sabtu, 21 Nopember 2009 di SMKN 62 Jl. Camat Gabun Lenteng Agung, Jakarta Selatan), adalah salah satu bukti adanya keinginan dan komitmen diantara Warga, Pemprov DKI Jakarta, dan CSR Dunia Usaha untuk bersama-sama menangani masalah sampah yang ada di bantaran dan badan air Sungai Ciliwung.

Sebagai gambaran bahwa di sepanjang Sungai Ciliwung, setelah dilakukan dengan pengarungan sungai, tercatat tidak kurang dari 109 titik sampah yang apabila tidak ditangani segera, kondisinya akan menjadi lebih bertambah buruk dan semakin sulit untuk ditangani. Sementara itu, apabila ditelusuri dari daratan, hampir semua titik-titik sampah itu tidak dapat dijangkau kendaraan truck sampah karena tidak ada akses jalan menuju lokasi dimaksud.

Sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dengan tekadnya untuk tidak lagi membuang sampah ke kali/bantaran sungai, maka hingga saat ini sudah ada 12 titik sampah yang telah dan akan ditangani pengelolaannya tahun ini. Untuk itu, tujuan dari kegiatan ini, selain guna meningkatkan kesadaran semua pihak (masyarakat, instansi terkait dan dunia usaha), juga diharapkan dapat menjaga semangat Warga agar tidak lagi membuang sampah ke sungai/bantaran sungai, mencemari sungai dan budaya, memilah dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, menata bantaran sungai sebagai bagian dari halaman depan rumahnya, serta menjadikan Sungai Ciliwung sebagai sarana kegiatan Ekowisata akan semakin segera terwujud.

Dengan diberlakukannya UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah , yang lebih mengikat seluruh elemen masyarakat (warga, instansi pemerintah dan dunia usaha), maka prilaku masyarakat dengan paradigma lama pengelolaan sampah (kumpul-angkut-buang), diharapkan dapat berubah dengan pola paradigma baru, yang lebih mengutamakan prinsip sampah sebagai sumber daya dan pengendalian pencemaran.

Dengan paradigma lama pengelolaan sampah, selain menimbulkan beban TPA menjadi sangat tinggi, sementara luas lahan terbatas, dan biaya operasionalnya juga tinggi,maka dampak lingkungan yang ditimbulkan juga akan semakin bertambah berat (pencemaran udara, air dan tanah), boros sumber daya, dan kurang memberi ruang bagi peran serta masyarakat, serta pelaku usaha.

Berbeda dengan paradigma baru , dimana sistem pengelolaanya menganut prinsip 3 R (reduce, reuse, recycle); extended producer responsibility (ERP); memanfaatkan sampah sebagai energi; serta pemrosesan akhir sampah lebih environmentally friendly , tentu akan menjadi lebih menguntungkan. Melalui cara ini, selain lebih hemat sumberdaya, beban pencemar juga akan semakin berkurang, dan berpotensi dapat membuka lapangan kerja, sehingga mendatangkan berbagai benefit, serta beban TPA juga akan semakin berkurang.

Berbagai aktivitas kegiatan Stop Nyampah Di Kali III Tahun 2010 kali ini yang dikemas, sebagai Bentuk Kado Untuk Jakarta Yang Berulang Tahun, maka akan dilaksanakan Kerja Bakti Warga yang dikoordinaskan oleh Lurah, Camat, dan Walikota di 75 Kelurahan yang di lintasi oleh Sungai Ciliwung. Selain itu, juga akan dipasang Spanduk Sosialisasi yang berisikan Perda No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum , dimana pasal 21 menyebutkan Dilarang Membuang atau menumpuk sampah di sungai; dan pasal 61 menyebutkan Pidana 10 s.d 60 hari atau denda sebesar Rp.100.000,- s.d Rp. 20 juta.

Aksi Kerja Bakti Bersama Warga tersebut juga akan dimonitor oleh suatu Tim Evaluasi (ADRIKA, SIGMA, ACT, Media Massa) dengan menggunakan perahu karet dibagian sungai yang dapat dilalui perahu yang akan terbagi dalam 4 Kelompok. Aktivitas lainnya adalah Kunjungan Bapak Gubernur yang akan meninjau lokasi Pengelolaan sampah di Menteng Tenggulun, dan inspeksi spanduk mulai dari Manggarai sampai dengan Guntur. Selain itu juga diselenggarakan Penyerahan bantuan dari CSR dari Dunia Usaha kepada Pemprov DKI Jakarta dan kepada Warga Jakarta, diantaranya dari Coca Cola, Pertamina, PGN, Summitmas Property, Pembangunan Jaya Ancol, Mulia Knitting Indonesia, Kimia Farma, Century Batteries, Aetra Air Jakarta, NGK Busi, Bintang 7, Pfixer Indonesia, Denso Indonesia, PAL Jaya, APRINDO, The Summit Kelapa Gading Summarecon, Siemens Indonesia, Yayasan Unilever, Rumah Sakit Pondok Indah, dll serta Pameran hasil penanganan sampah oleh warga bantaran kali.

Meskipun upaya penanganan sampah yang dilakukan oleh Warga belum mencapai hasil yang maksimal, namun adanya program semacam ini dengan sifat yang berkesinambungan, serta melibatkan seluruh pihak terkait berbasis masyarakat, tentu diharapkan dapat memberikan sumbangan yang cukup berarti terhadap perbaikan kualitas lingkungan di Jakarta pada umumnya dan terhadap Sungai Ciliwung pada khususnya.

PEMBERSIHAN SAMPAH DAN PENANAMAN POHON DI BADAN DAN BANTARAN SUNGAI CILIWUNG KERJASAMA ANTARA PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA DENGAN KOPASSUS 

Sumber: http://bplhd.jakarta.go.id/  15 Januari 2012 

” Pembersihan Sungai Ciliwung dan Penanaman Pohon ” yang diinisiasi oleh Komandan Jenderal KOPASSUS dan jajarannya pada hari ini, Minggu, 15 Januari 2012.

Atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Gubernur mengucapkan terima kasih atas terlaksananya kegiatan ini, di mana KOPASSUS memiliki inisiatif dan komitmen tinggi untuk melakukan upaya pengelolaan Sungai Ciliwung yang sama-sama kita cintai ini dalam bentuk aksi pembersihan sungai mulai dari Akses Jembatan UI yang berlokasi di Depok sampai dengan TB. Simatupang di Jakarta.

Sebagaimana ketahui, panjang Sungai Ciliwung dari hulu sampai muara sungai di Pantai Teluk Jakarta ± 117 km dengan luas daerah aliran sungai (DAS) ± 347 km 2 yang dibatasi oleh DAS Cisadane di bagian Barat dan DAS Citarum di bagian Timur, secara administratif Sungai Ciliwung melintasi 2 (dua) provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jakarta, dimana bagian Sungai Ciliwung yang melintasi Provinsi Jawa Barat terdiri dari segmen 1 sampai segmen 4, sedangkan bagian Sungai Ciliwung yang melintasi Provinsi DKI Jakarta yaitu segmen 5 dan segmen 6.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, terjadi pergeseran kondisi di Sungai Ciliwung, baik dari aspek demografi, sosial ekonomi, maupun fisik sungai sendiri. Gambaran yang dapat kita lihat saat ini, untuk kondisi demografi Sungai Ciliwung di segmen 5 dan segmen 6 bervariasi, antara lain :

Lenteng Agung – Condet, penduduk tidak terlalu padat dan tidak terlalu dekat dengan sungai tetapi semakin ke hilir semakin lebih padat dan sesekali terdapat bangunan/rumah yang tegak lurus tebing sungai.

Bidaracina – Kampung Melayu – Manggarai , penduduknya cukup padat dan semakin padat bahkan sebagian bangunan menjorok ke sungai dan relatif masih padat.

Manggarai – Menteng – Kwitang, kondisi kependudukan lebih baik daripada sebelumnya. Penduduk tidak berbatasan langsung dengan sungai melainkan terdapat jalan inspeksi.

Kwitang – Masjid Istiqlal dan seterusnya hingga muara dapat dikatakan tidak berpenduduk, kecuali sedikit di daerah Glodok dan menjelang Sunda Kelapa.

Dilihat dari sosial ekonominya, penduduk yang tinggal di sepanjang bantaran sungai yang kumuh umumnya adalah penduduk yang berasal dari luar Jakarta serta penduduk musiman, tingkat pendidikan yang rendah pada umumnya mereka bekerja sebagai pedagang kecil, buruh dan pekerja serabutan. Ada juga dari mereka yang menggantungkan kehidupannya pada aliran Sungai Ciliwung sebagai pemulung sampah, pencari ikan Sapu-Sapu, pencari besi dan penarik perahu yang menghubungkan wilayah kedua sisi bantaran Ciliwung.

Untuk perilaku masyarakat di bantaran Ciliwung umumnya tingkat partisipasi warga khususnya terhadap pengelolaan sampah dan limbah masih rendah, hal ini dipengaruhi oleh tingkat sosial budayanya. Selain itu masih banyak warga yang membuang langsung sampah ke Sungai Ciliwung dikarenakan kurangnya sarana dan prasarana sampah, akses jalan yang cukup sempit tidak memungkinkan sarana pengangkutan sampah sampai ke daerah bantaran sungai.

Secara fisik sungai dapat digambarkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan secara rutin oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kualitas air Sungai Ciliwung saat ini termasuk dalam kategori tercemar berat yang antara lain disebabkan oleh air limbah (domestik/non domestik) dan sampah, di mana sumber pencemar pada Sungai Ciliwung di wilayah DKI Jakarta (segmen 5 dan segmen 6) antara lain :

  • Segmen 5 yaitu dari 260 kegiatan mulai dari perkantoran, apartemen, hotel, rumah sakit dan industri (tekstil, farmasi, kosmetik, garmen, dll)
  • Segmen 6 yaitu dari 300 kegiatan meliputi perkantoran, apartemen, hotel, rumah sakit dan industri (tekstil, farmasi, kosmetik, garmen, pengolahan kulit, dll).

Secara kasat mata, kita dapat lihat bahwa di sepanjang sungai Ciliwung dipenuhi oleh tumpukan sampah liar Hal ini sangat berpengaruh terhadap kualitas perairan dan badan sungai Ciliwung mengingat Ciliwung diharapkan sebagai salah satu sumber air baku air minum sekaligus ekowisata bagi masyarakat Jakarta.

Analisa dampak bantaran sungai yang dilakukan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa kondisi sungai Ciliwung saat ini :

  • mudah terjadi longsor
  • terjadi gerusan bantaran
  • sedimentasi dari material longsoran
  • pendangkalan sungai
  • berkurangnya luasan badan sungai
  • banjir

Ditinjau dari aspek kewenangannya, pengelolaan Sungai Ciliwung melibatkan 2 (dua) institusi Pemerintah, yaitu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Balai Besar Ciliwung Cisadane Kementerian PU. Hal tersebut dirasakan sudah cukup baik, hanya saja diperlukan keterlibatan masing-masing institusi pada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara lebih aktif khususnya terkait fisik sungai, pengelolaan sampah dan air limbah.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara intensif melakukan normalisasi dan pengendalian pencemaran Sungai Ciliwung dan akan terus dilakukan hingga tercapainya lingkungan Sungai Ciliwung yang bersih, berkualitas baik dan sehat. Hal ini dilakukan melalui kerjasama dengan dunia usaha, akademisi, masyarakat maupun lembaga pemerhati lingkungan dalam berbagai aksi, seperti pemberdayaan masyarakat di bidang pengelolaan dan pemanfaatan sampah, pelaksanaan program penghijauan, dan pembersihan sungai.

Kerjasama dengan Komando Pasukan Khusus TNI (KOPASSUS) dalam kegiatan Penanaman Pohon dan Pembersihan Sungai Ciliwung dengan tema ” Green, Clean dan Healthy ” dalam rangka mendukung Program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan kota yang nyaman dan asri dengan puncak acara pada hari Minggu, 15 Januari 2012 di Markas Komando Pasukan Khusus TNI (KOPASSUS) Cijantung, Jakarta Timur merupakan bentuk langkah nyata untuk bersama-sama mewujudkan Ciliwung kembali kepada fungsinya sebagai air baku air minum maupun mewujudkan Ciliwung sebagai salah satu pusat wisata sungai berbasis masyarakat dengan tetap mempertahankan heritage .

Aksi nyata yang sinergis ini sangat baik dilakukan, karena sekali lagi kegiatan ini tidak hanya event seremonial sesaat tetapi aksi langsung untuk pembersihan sungai yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh unsur masyarakat di sepanjang Sungai Ciliwung mulai Akses Jembatan UI sampai dengan TB Simatupang.yang diinisiasi oleh KOPASSUS.

Selain pembersihan sungai, diperlukan pula upaya penertiban terhadap limbah tahu tempe yang beroperasi di sepanjang Sungai Ciliwung, antara lain di Srengseng Sawah dan Lenteng Agung serta bangunan liar yang berada di bantaran sungai, mengingat limbah cair yang dihasilkan baik dari industri tahu tempe maupun rumah tangga cukup signifikan mempengaruhi pencemaran Sungai Ciliwung.

Aksi Penanaman Pohon dan Pembersihan Sungai Ciliwung, baik dari limbah padat maupun cair ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang dan ditargetkan pada tahun 2017 tidak ada lagi tumpukan sampah atau TPS Liar serta terkendalinya limbah cair yang terbuang di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung.

Untuk itu kiranya kegiatan ini dapat ditindaklanjuti oleh Dinas/Instansi jajaran Pemerintah Prov. DKI Jakarta terkait sesuai dengan kewenangannya terutama tindakan pengawasan dan penerapan sanksi dan perlu diagendakan sebagai kegiatan rutin tahunan agar pemeliharaan Sungai Ciliwung dapat berkesinambungan dan berkelanjutan, misalnya event HUT Jakarta pada bulan Juni dan akhir tahun dengan menyelenggarakan pesta rakyat.

Harapan tersebut disampaikan juga kepada Kementerian Pekerjaan Umum / Pemerintah Pusat agar dapat menetapkan profil sungai perkotaan dengan mempertahankan herritage yang ada dan menjaga agar debit sungai dapat konstan, selain itu Jakarta bercita-cita untuk mewujudkan Sungai Ciliwung bagian hulu diprogramkan menjadi ekowisata yang berbasis pemberdayaan masyarakat.

Kegiatan Penanaman Pohon dan Pembersihan Sungai Ciliwung pada segmen dari Jembatan Akses UI Kelapa Dua Depok s.d Jembatan TB Simatupang, Tanjung Barat sepanjang 12, 67 KM merupakan salah satu bentuk kerjasama antara TNI dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mewujudkan kota Jakarta yang aman, nyaman, hijau, bersih, dan sehat untuk semua. Dalam kegiatan ini dilakukan pembagian 16 jenis pohon sebanyak 20.000 batang secara cuma-cuma kepada masyarakat dan penanaman sebanyak 40.000 batang bibit lainnya di bantaran Sungai Ciliwung. Selain itu, dilakukan pula pembersihan sampah yang berada di badan maupun bantaran Sungai Ciliwung serta penertiban limbah industri di sepanjang Sungai Ciliwung. Juga dilakukan penanganan dan perbaikan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Sampah di kompleks perumahan markas Kopassus Cijantung menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Rangkaian kegiatan dimaksud telah dimulai pada tanggal 3 Januari hingga puncak acaranya pada tanggal 15 Januari 2012 dengan melibatkan prajurit Kopassus dan satuan-satuan TNI AD lainnya, karang taruna, jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, komunitas pecinta Ciliwung (KPC) dan masyarakat yang tergabung dalam Jakarta Glue.

Kegiatan seperti ini ke depan akan makin ditingkatkan agar dapat secara bertahap mengubah wajah Sungai Ciliwung yang saat ini sudah sangat memprihatinkan menjadi satu kawasan warisan budaya perkotaan (urban herritage) bernuansa lingkungan. Pada saat ini, kondisi sempadan sungai Ciliwung belum seluruhnya bebas dari tumpukan sampah dan belum bebas dari bangunan seperti yang seharusnya menurut Peraturan Pemerintah No.38 tahun 2011 tentang Sungai. Akibatnya, saat ini banyak terjadi penyempitan pada badan sungai dan pencemaran pada air sungai Ciliwung yang mengancam kelestarian sungai dan keselamatan dan kesehatan masyarakat. Ke depan, dengan upaya bersama antara masyarakat, dunia usaha, komunitas pecinta Ciliwung, serta Pemerintah baik tingkat Pusat dan Daerah bersama TNI, diharapkan masyarakat akan dapat menyaksikan Sungai Ciliwung yang lebih indah dan dapat memanfaatkannya untuk kegiatan ekowisata.

Pada dasarnya membuang sampah ke sungai / bantaran sungai adalah suatu tindakan yang melanggar hukum berdasarkan UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolan Sampah, dan Perda No. 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah DKI Jakarta, serta Perda No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pasal 21 Perda No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum tersebut memuat Larangan membuang/menumpuk sampah di bantaran sungai, dan sesuai Pasal 61 pelanggaran atas larangan tersebut dapat dikenakan sanksi Pidana 10 s.d 60 hari kurungan, atau denda Rp.100.000,- s.d Rp.20.000.000,-. Namun demikian untuk dapat mewujudkan Sungai Ciliwung yang indah, bebas sampah dan limbah pencemar dibutuhkan bukan hanya sekedar peraturan, namun juga peran-serta para pemangku kepentingan dan ketetapan hati untuk bersama-sama berupaya mewujudkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: