Evelyn Suleeman

Bergetek Menyusuri Ciliwung

Oleh:  Evelyn Suleeman

Sumber:http://lantanbentala.wordpress.com/ 

Sabtu, 23 Juli 2011 bersama KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) Bogor, Lantan Bentala ikut menyusuri Ciliwung dengan getek. Awalnya KPC Depok yang baru terbentuk bulan Juni 2011 juga akan bergabung, tetapi ternyata tidak ada satupun personil yang mewakili KPC Depok. Lantan Bentala mendaftarkan 8 orang yang akan ikut naik getek, tetapi 4 orang mengundurkan diri karena berbagai alasan. Jumlah orang yang ikut bergetek ada 21 orang (KPC Bogor, Telapak, mahasiswa asal Perancis, majalah Traveller, Jakarta Glue, Lantan Bentala, Komunitas Ciliwung Bojong Gede, dan Komunitas Ciliwung Condet).

Panitia menyediakan 1 getek tunggal dan 2 getek ganda (2 getek disambung sehingga getek menjadi panjang). Dan di tengah getek ganda dibuat semacam rumah-rumahan. Terus terang, ketika saya melihat getek yang disediakan panitia, rasanya tidak percaya bahwa kami akan menggunakan getek ini menyusuri Ciliwung. Masalahnya, bambu yang ada di tengah getek kecil sudah terendam air. “Waduh, bagaimana kalau diisi orang,” begitu komentar saya pada Sudirman yang awalnya bangga memperlihatkan getek itu kepada kami.

Sebelum berangkat, teman-teman dari Komunitas Ciliwung Bojong Gede dan Komunitas Ciliwung Condet mengencangkan ikatan getek dan memastikan bahwa getek aman digunakan. Tetapi Edi, salah satu yang ikut bergetek mengatakan “Pak Haji (maksudnya pak Haji Wahid) bilang, geteknya gak aman, nih. Geteknya masih basah, makanya tenggelam. Bambu yang kering pasti akan mengapung. Getek juga tidak diikat sebagaimana mustinya. Seharusnya getek diikat dengan dijalin seperti membuat tikar.

Lalu Hapsoro (KPC Bogor), komandan susur Ciliwung kali ini, mengatakan bahwa kondisi getek memang tidak aman. Jadi, bila ada yang mau mengundurkan diri, silahkan saja. “Duh, tidak mungkinlah. Sudah bangun jam 5 pagi, dan berangkat jam 6 dari rumah untuk naik getek, masa untuk urusan ini harus batal. Gengsi juga sih”. Mungkin peserta lain juga punya perasaan yang sama dengan saya karena memang tidak ada yang mundur.

Setelah semua penumpang memakai pelampung, perjalanan dengan getek dimulai. Saya tidak melihat jam berapa ketika kami berangkat, mungkin jam 9, bisa juga lebih. Kami mulai dari daerah Glonggong, Cilebut, Bogor di belakang rumah pak Haji Wahid. Dugaan pak Haji Wahid tentang kondisi getek ternyata benar. Ketika getek baru melaju beberapa menit, kami diperintahkan turun. Ternyata getek yang saya naiki terlalu berat sehingga hampir tenggelam. Saya dan Agung dari kantor berita Kota Hujan cepat-cepat turun dan memutuskan jalan kaki mengikuti getek. Jalan kaki lewat darat tidak semudah yang dibayangkan karena jalanan juga naik turun, kadang melewati halaman rumah penduduk, kadang melintasi kebun bambu. Setelah berjalan sekitar 30 menit, saya berganti posisi dengan Marine (mahasiswa asal Perancis) yang memilih jalan kaki daripada bergetek. Agung tetap tidak mau ikut bergetek karena mengaku tidak bisa berenang.

Sekitar jam 13, semua getek berhenti. Kami beristirahat di pinggir sungai dan mengisi perut dengan bekal yang dibawa oleh peserta. Saya sendiri membawa potongan buah segar karena memang itu diet saya selama pagi hari, dan buah dinikmati bersama dengan peserta lain.

Di tempat ini semua getek diperiksa lagi dan dikencangkan semua ikatannya agar tidak lepas di tengah jalan. Rita Mustikasari (Program Air Telapak) dan Vega Probo (Majalah Traveler) tidak melanjutkan bergetek karena mereka mempunyai acara lain. Akibatnya, penumpang di getek yang saya tumpangi semakin sedikit dan getek dapat melaju lebih cepat.

Karena saat ini musim kemarau, air sungai tidak cukup tinggi sehingga getek beberapa kali terbentur batu besar atau menyangkut di bebatuan. Akibatnya, kami harus turun getek beberapa kali sebab getek perlu didorong agar bisa dikayuh lagi. Biasanya pengayuh getek akan berkata, “Bu, turun dulu”. Bila Augustina yang bobotnya jauh lebih banyak dari saya turun lebih dulu dari getek, dan ketika saya baru melangkahkan satu kaki saya ke dalam air, pengayuh getek akan berkata “Sudah, bu. Naik lagi”. Sekali lagi terbukti, bahwa bila bambu tidak cukup kering, besarnya bobot sangat berpengaruh terhadap mengapungnya getek di air.

Di beberapa lokasi, tampak orang mendulang pasir seperti layaknya orang mendulang emas di daerah lain. Sayangnya saya tidak sempat bertanya pasir itu digunakan untuk apa, apakah untuk digunakan sendiri atau dijual. Tetapi kalau dilihat dari cara mereka mendulang, rasanya digunakan sendiri karena dilakukan oleh perorangan di beberapa tempat.

Walaupun aliran air tidak terlalu deras, tetapi di beberapa titik kami masih merasakan seperti mengikuti arung jeram. Teman yang mengayuh di depan berteriak siap-siap, lalu dengan cepat getek akan hanyut. Horee, berhasil!, begitu teriak kami. Dan ini menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan dalam bergetek.

Pengalaman lain yang juga menyenangkan adalah respons penduduk melihat kami bergetek ria. Biasanya mereka bertanya sambil berteriak tentunya karena jarak antara air sungai dan pemukiman cukup tinggi yaitu sekitar 10 meter, “Mau kemana?”. Lalu kami akan menyahut juga dengan berteriak, “Ke Depok. Masih jauh?” Kami juga sempat bertemu dengan sekelompok anak-anak di atas sana. Setelah saling bertanya, mereka mengatakan “Hati-hati, ya. Sampai jumpa”. Suara mereka sungguh menentramkan hati.

Suatu saat kami mencium bau kotoran binatang. Saya mengatakan bahwa itu kotoran kuda, teman saya menyebut itu kotoran kambing, dan menurut yang lain kotoran sapi. Kami tidak tahu tepatnya itu kotoran apa karena lokasi kandang jauh di atas sementara kami jauh di bawah, di sungai Ciliwung.

Secara umum, air di wilayah ini lebih jernih dibandingkan dengan air Ciliwung yang mengalir di Jakarta. Volume sampah juga tidak sebanyak di daerah pinggir sungai di Jakarta walaupun tetap ditemukan lebih banyak sampah styrofoam dan plastik termasuk diapers, kantong kresek, plastik wadah sabun cuci, bungkus bekas jajanan anak dan lainnya. Kadang-kadang sampah tersangkut di batang bambu yang menjuntai ke sungai dan getek kami melewati batang tersebut. Bila tidak hati-hati walau dengan menunduk, kepala bisa kena sampah itu. Untunglah saya membawa tas sehingga dapat menutupi kepala agar tidak kena tamparan sampah.

Dari seluruh daerah yang kami lalui, hanya di daerah Puspa Raya kami temukan tumpukan sampah dengan bau sangat menyengat. Kami curiga jangan-jangan daerah sungai menjadi tempat pembuangan sampah akhir mereka.

Di tengah perjalanan bergetek, kami juga bertemu dengan seorang ibu yang menenteng beberapa kantong kresek dan turun ke sungai untuk menyebrang. Ketika kami ajak untuk ikut naik getek, dia hanya menyahut, “Naik getek, kapan sampainya?”. Kata-kata si ibu terbukti karena ketika kami berakhir di bawah Jembatan Pemda, Bojong Gede, Cibinong, lokasinya masih sangat jauh dari rencana awal yaitu di jembatan Panus, Depok. Padahal itu sudah jam tiga sore. Saya, Augustina, Vero dan Edi memutuskan untuk berhenti. Soalnya sederhana yaitu, getek yang kami tumpangi sudah hampir lepas talinya. Bila getek menabrak lagi, rasanya akan lepas semuanya.

Bila ada yang bertanya, apakah mungkin menjadikan wisata air dengan bergetek di Ciliwung, jawaban saya sangat mungkin. Foto dan video yang dimuat di FB Lantan dan FB Biotiful Sungai serta tulisan Sudirman di Kompasiana tentang Susur Ciliwung Lanjutan KPC Gabungan Bogor, Condet, Glonggong telah membuat banyak orang tertarik untuk ikut kegiatan ini. Tentu saja masyarakat di sekitar sungai perlu diajak untuk membersihkan lingkungan sungai dari sampah dan tidak lagi mengotorinya dengan sampah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: