Ferdi Rosman Feizal

BIARKAN AIR CILIWUNG LEWAT

oleh : Ferdi Rosman Feizal

Sumber: http://media.kompasiana.com/   

Kali ini saya mencoba mengulas tentang masalah banjir di Jakarta yang issuenya akan menenggelamkan Ibu Kota Negara dan memindahkan Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia ke daerah lain dan kepedulian kepada warga Jakarta yang setiap tahun dilanda musibah banjir dan mencoba memberikan solusi untuk menanggulangi banjir di Jakarta.

Benyamin almarhum mungkin sudah pengalaman dengan banjir di Jakarta sehingga beliau menciptakan lagu Jakarta Kebanjiran. Sementara Nenek tua dibilangan Kampung Melayu hanya tersenyum melihat rumahnya terendam air sungai Ciliwung yang meluap. “Sudah biasa….” ucapnya.

Banjir di Kota Metropolitan Jakarta dianggap sudah biasa karena sejak jaman dulu memang Jakarta biasa kebanjiran akibat meluapnya Sungai Ciliwung yang melintas membelah Kota Jakarta. Masyarakat Kampung Melayu dan sekitarnya akan selalu kebanjiran dan kebanjiran akibat pintu air manggarai belum juga dibuka hanya sekedar untuk menyelamatkan kawasan elite di sekitar Menteng, Thamrin, Cendana hingga Istana Negara.

Meluapnya air sungai Ciliwung dibilangan Kampung Melayu, Cipinang sebenarnya tidak menjadi masalah dan tidak seharusnya menyebabkan banjir yang menyengsarakan rakyat bahkan sampai melumpuhkan Ibu Kota Negara seperti yang terjadi pada awal Pebruari 2007 kemarin. Meluapnya air sungai Ciliwung tidak perlu mengorbankan rakyat kecil di Kampung Melayu, Cipinang akibat ditahannya air di Manggarai.

“Ciliwung Semarang” aman-aman saja

Dibilangan Jalan Kartini Semarang, Lelaki tua penjual burung tertidur pulas dengan nikmatnya karena sepi pembeli padahal di tanggul sebelahnya air sungai kali banjir kanal timur sedang bergolak, mengalirkan air kecoklatan dari wilayah dataran tinggi ungaran di wilayah semarang selatan yang sejak pagi hari dilanda hujan deras dan mengalirkan jutaan kubik air ke Kali Banjir Kanal Timur Semarang.

Debit air kecoklatan yang sangat sangat tinggi setiap musim penghujan mengalir deras dari wilayah Ungaran melalui Kali Banjir Kanal Timur Semarang, namun tidak ada satupun wilayah di kawasan Semarang Timur yang kebanjiran. Tidak juga kawasan jalan barito yang tepat berada dibantaran kali banjir kanal timur semarang yang letaknya justru berada dibawah permukaan kali banjir kanal timur.

Selidik punya selidik, rupanya tumpahan air hujan dari kawasan semarang selatan tersebut hanya numpang lewat dan tidak meluap ke pemukiman, tidak meluap ke Jalan Barito, Jalan Halmahera bahkan ke Jalan Dr. Cipto yang mungkin akan menenggelamkan pusat perdagangan sepanjang Jl. MT.Haryono.

Tidak ada sodetan

Tidak ada satupun sodetan pada talud setinggi 8 meter disepanjang jalan barito semarang, mungkin itulah yang membuat kawasan Semarang Timur pada daerah aliran sungai kali banjir kanal timur tidak pernah mengalami kebanjiran, tidak pernah terjadi musibah kebanjiran akibat meluapnya air kali banjir kanal timur.

Sementara di daerah Kampung Melayu di bantaran Sungai Ciliwung, hampir setiap tempat ada sodetan, ada jalan yang langsung menuju ke tepian sungai yang mungkin digunakan untuk keperluan Mandi, Cuci dan Buang Air. Sodetan inilah yang seolah-olah memberikan jalan kepada air sungai Ciliwung yang seharusnya lewat saja, celoteh Nenek tua yang saat pilkada kemarin mencoblos kumisnya Fauzi Bowo.

Jakarta tidak perlu Proyek Banjir Kanal

Dua sungai di Jakarta, Ciliwung yang membelah kota Jakarta dan kali Pasanggrahan yang tipis menyentuh kawasan Jakarta Selatan dan Tangerang persis seperti dua kali banjir kanal yang melintas di sisi timur dan barat kota Semarang.

Kali banjir kanal timur dan kali banjir kanal barat di kota Semarang mungkin bisa dijadikan contoh untuk penanganan banjir di Jakarta kalau Fauzi Bowo tidak malu dan berjiwa besar, mencontoh untuk kebaikan, untuk rakyat di Jakarta yang selalu dilanda duka akibat banjir kiriman dari Bogor yang terjadi setiap tahun.

Pembuatan kali banjir kanal timur di Jakarta yang proyeknya tersendat-sendat akibat pembebasan lahan, biaya dll mungkin tidak perlu dilanjutkan. Untuk mengatasi banjir di Jakarta cukup membuat talud di sepanjang Sungai Ciliwung dan Kali Pasanggrahan saja.

Pembuatan talud setinggi 8 meter sepanjang sungai Ciliwung dimulai dari kawasan yang topografinya mulai menurun dan merata hingga ke Laut. Tidak ada pintu air sepanjang talud sungai Ciliwung atau Kali Pasanggrahan yang akan menghalangi derasnya air sungai saat datang kiriman air dari Bogor, kecuali pintu air kecil yang digunakan untuk mengalirkan air ke Sungai Ciliwung pada saat air sungai tidak tinggi yang ditutup pada saat terjadi luapan air akibat hujan deras di kota Bogor.

Untuk keperluan mandi, cuci dan buang air bagi masyarakat yang bermukim di bantaran sungai ciliwung, cukup diberikan tangga naik dari pemukiman dan tangga turun menuju permukaan sungai Ciliwung. Dengan konsep ini sungai Ciliwung di Kawasan Kota Metroplitan Jakarta akan terlihat rapi, ditembok semen dengan cor beton yang kuat sekuat cor beton Jalan tol layang.

Dibilangan Jakarta Utara seperti dikawasan Gunung Sahari misalnya, semua sungai ditinggikan taludnya termasuk jembatan-jembatan yang melintas diatasnya, sehingga tidak ada air sungai yang meluap ke jalan raya gunung sahari yang kerap digenangi air saat musim hujan. Pembuangan air disekitar Jl. Raya Gunung Sahari dibuatkan parit-parit kecil untuk buangan air rumah tangga dan perkantoran dimana parit-parit kecil ini bertemu pada titik terendah Jl. Raya Gunung Sahari di kawasan Mangga Besar atau Mangga dua misalnya. Kalaupun harus dialirkan ke sungai yang sudah ditinggikan taludnya, sebaiknya dibuatkan pintu air yang bisa ditutup saat air disungai sepanjang jalan raya gunung sahari meninggi.

Demikian halnya di Kawasan menteng, Jakarta Pusat. Untuk pembuangan air rumah tangga dan perkantoran dibuatkan parit-parit kecil yang mengalir ke daerah yang lebih rendah dan mempunyai cabang ke sungai Ciliwung melalui pintu kecil yang harus ditutup saat air sungai Ciliwung meninggi untuk menghindari luapan air sungai Ciliwung yang tinggi akibat hujan deras di kawasan Bogor. Konstruksi Lubang dan penutup air tentunya dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan tekanan air yang sangat tinggi agar tidak jebol dan mengakibatkan kawasan Thamrin dan Istana Negara Kebanjiran.

Jangan biarkan air sungai Ciliwung keluar di satu tempatpun di Kota Jakarta. “Biarkan air Ciliwung lewat langsung ke laut”, jangan sampai meluap dan tumpah ke pemukiman dan jalan raya di Jakarta seperti lewatnya Kereta Api.

© 2008-2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: