M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati

Hidup di Bantaran Sungai (1) – Warga Terpaksa Memakai Air Sungai

Oleh: M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati;

Kompas, 16 Januari 2007 

Sumber: http://www.ampl.or.id/ 

“Warga di sini terpaksa mencuci baju dan piring di sungai karena air ledeng tidak mengalir. Ini juga terpaksa karena kalau beli air terus-terusan ongkosnya besar. Kami beli air untuk minum saja,” kata Ny Idoh (50), warga Manggarai Utara II, RT 12 RW 04, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Ketika sebagian warga Jakarta telah mengecap berbagai kemewahan kehidupan sebagai warga metropolitan, ternyata masih ada warga yang untuk mengakses air bersih pun mengalami banyak kesulitan. Salah satunya adalah mereka yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung di Manggarai Utara II, Jakarta Selatan, yang masih mencuci peralatan dapur dan peralatan makan di sungai tersebut.

Mencuci baju di sungai sebenarnya telah menjadi hal yang umum di negeri ini, terutama di pedesaan. Akan tetapi, meski di banyak tempat air sungai sudah tercemar, atau ketika hujan deras air yang mengalir sebagian bercampur lumpur akibat erosi di bagian hulu, situasinya akan jadi lain ketika kasusnya terjadi di aliran sungai di Ibu Kota. Untuk mencuci peralatan dapur dan peralatan makan (gelas, piring, sendok-garpu) di sungai tentu faktor higienitas harus dipertimbangkan.

Pasalnya, Sungai Ciliwung yang menjadi “pantat” ribuan rumah tangga di Jakarta ini justru dijadikan tempat untuk buang air besar dan mandi. Jadi, bisa dibayangkan betapa berbahaya mencuci peralatan dapur dan peralatan makan di sungai yang sudah terkontaminasi ini.

Kenyataan ini bukan tidak disadari oleh warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung. Namun, bagi warga miskin perkotaan, tindakan tadi terpaksa dilakukan karena mahalnya harga air bersih.

Kenyataan sungai yang kotor, hitam, dangkal, dan penuh sampah memang memprihatinkan. Pemerintah pun memang berupaya untuk mengeruknya, namun tetap saja berton-ton sampah menyumbat aliran sungai. Dari jembatan di Jalan Tambak (dari arah Terminal Manggarai), misalnya, bisa dengan gampang dilihat sampah- sampah yang menyumbat pintu air.

Bahkan, di pinggir sungai di belakang rumah-rumah warga Manggarai Utara II, sampah pun mengotori sungai. Bukan pemandangan asing bila melintas di sama kita semelihat warga yang melempar kantong plastik penuh sampah ke sungai. Artinya, upaya menumbuhkan kesadaran pada warga menjaga kebersihan sungai masih harus terus dibangun.

Kondisi permukiman warga di Manggarai Utara II sangat jauh dari ideal. Mereka hidup di rumah-rumah petak sempit (ada yang membeli, ada yang mengontrak rumah). Untuk masuk ke areal itu, kita harus melalui gang-gang kecil yang pengap.

Ny Idoh telah tinggal di kawasan ini sejak umur 3 tahun. Menurut Ny Idoh, karena rumah-rumah di Manggarai Utara II umumnya berdiri di atas lahan terbatas, maka mereka tidak memiliki kakus (WC) sendiri, sebab tak ada lahan untuk membangun septi tank.

Untuk buang air, warga memanfaatkan kakus atau jamban umum dari kayu yang “nangkring” di bantaran sungai. Bahkan, untuk mandi pun masih ada saja warga yang ke sungai.

“Tapi kalau minum kami membeli air karena air ledeng di rumah sering tidak mengalir,” kata Ny Idoh.

Di luar negeri, sungai bisa dijadikan bagian dari wisata, dengan kapal-kapal kecil membawa puluhan turis asing berkeliling kota, seperti di Roma, Paris, dan Amsterdam. Di Jakarta? Sungai justru dijadikan jamban raksasa oleh jutaan penduduknya. Tidak hanya urusan kakus, bermacam kotoran rumah tangga pun dibuang ke sungai.

Mampet dan bau

Jika Sungai Ciliwung masih bisa digunakan untuk cuci baju dan peralatan dapur, Kali Sindang dan Kali Lagoa Kanal di Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, justru sudah tidak bisa digunakan untuk keperluan serupa. Aliran sungainya mampet, airnya hitam, kotor, dan berbau.

“Sungainya dangkal, airnya hitam. Sampah di mana-mana, soalnya warga masih ada yang membuang sampah di sungai,” keluh Ny Maria, warga Jalan Deli Lorong 26, RT 04, RW 08, Kelurahan Koja. Rumah Maria sangat dekat dengan Kali Lagoa Kanal, sehingga keluarga Maria pun mau tidak mau menghirup bau busuk yang dikirim dari sungai yang mampat tersebut.

Lebih memprihatinkan, Kali Lagoa Kanal yang lebar sekitar 25 meter kini tinggal 8-10 meter. Belum lagi di kiri-kanan dan tengah sungai terbangun “pulau-pulau” sampah.

“Ukuran sungai jadi kecil karena warga terus menguruk sungai dengan tanah dan dibangun rumah-rumah petak,” jelas Ny Mariam, Ketua RT 08, RW 08, Kelurahan Koja, yang tinggal di Jalan Deli, Lorong 28.

Fakta lainnya, banyak juga rumah tangga yang tidak mempunyai jamban. Ada kakus umum, namun warga harus membayar jika mau memanfaatkannya. Tetapi, ternyata ada juga kakus umum di pinggir Kali Lagoa Kanal, yang pembuangannya “dilarikan” ke sungai.

“Ya, memang ada MCK umum yang pembuangannya langsung ke sungai,” kata Darsita, Ketua RT 12 RW 08 Kelurahan Koja. Darsita pun bercerita, ketika Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso datang melihat kondisi Lagoa Kanal, memang ada upaya pembersihan sampah di sungai. Tapi, setelah kedatangan Sutiyoso, sungai pun kembali dipenuhi sampah.

Kalau sudah begini, bahaya banjir akan mengancam dan tidak terelakkan, kecuali harus cepat dibenahi. Apalagi tahun 2007 sudah memasuki masa lima tahunan banjir kiriman, terutama di kawasan Manggarai, Kampung Melayu, dan sekitarnya harus diwaspadai.

Perbuatan manusia

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pada seminar “Perempuan di Bantaran Sungai Ciliwung” medio Desember 2006 menyatakan, masalah pokok lingkungan hidup pada dasarnya adalah masalah yang dihadapi manusia sendiri. Timbulnya kerusakan lingkungan hidup merupakan akibat perbuatan manusia. Tanpa perubahan sikap dan perilaku, maka lingkungan hidup akan semakin rusak dan akan mengancam kelangsungan hidup manusia.

Perubahan sikap dan perilaku bersumber dari perubahan cara berpikir manusia terhadap lingkungan hidup. Perubahan sikap dan perilaku tersebut hanya dapat dilakukan apabila diterapkan pada kebiasaan sehari-hari. Hal tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang tidak terlalu rumit, mudah dilakukan dan bersifat aksi nyata.

Oleh karena itu, perempuan sebagai kelompok yang paling dirugikan karena kotornya air sungai (karena perempuanlah yang sehari-hari banyak beraktivitas di sungai, seperti mencuci baju dan piring) harus ditoleh. Untuk itu, perlu ada semacam upaya pendamping terhadap kelompok perempuan ini.

“Kelompok perempuan sebetulnya merupakan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan sangat efektif bagi pengembangan upaya pelestarian lingkungan hidup,” papar Rachmat Witoelar.

Kini, para ibu di kawasan Koja, Manggarai, Bendungan Hilir, dan Petamburan di Jakarta Pusat telah mulai bergerak untuk menjaga kebersihan sungai dan lingkungan mereka. Terlebih ancaman banjir yang kian dekat, membuat mereka makin serius mengatasi persoalan sungai, tempat mereka hidup di bantarannya…. M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati

Hidup di Bantaran Sungai (2) – Perempuan-perempuan Itu Penggerak Perubahan

Oleh: M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati; 

Kompas, 17 Januari 2007 

Sumber: http://www.ampl.or.id/ 

Bisakah Anda bayangkan ada orang mencuci piring dan gelas dengan menggunakan air sungai yang begitu kotor? Tak usah heran bila kejadian itu telah menjadi semacam rutinitas yang dilakoni warga yang tinggal di salah satu sudut Ibu Kota. Mau melihat sendiri? Sesekali turun ke bantaran Sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta.

Untuk menyiasati pekatnya air sungai, seorang ibu yang tinggal di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, bahkan mencoba mencampurkan cairan kimia pemutih baju ke air sungai yang ditimbanya untuk mencuci piring. Sang ibu, tentu saja tidak sadar akan bahaya lain yang mengancam. Sebab, mencampur air sungai yang kotor dengan cairan kimia pemutih baju jelas tindakan yang membahayakan kesehatan.

Lalu, mengapa tidak menggunakan air bersih? Justru di sana pokok masalahnya. Bagi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, pertanyaan semacam ini boleh jadi justru terdengar naif. Air bersih harus dibeli. Selain berarti menambah pengeluaran sehari-hari dari pendapatan yang begitu terbatas, bagi mereka, air bersih sudah seperti identik dengan kemewahan. Kalau setiap kali mencuci piring dan peralatan dapur harus membeli air bersih, jelas mereka tak mampu.

Oleh karena itu, memberi pengetahuan dan pemahaman kepada perempuan di bantaran sungai sangat penting untuk dilakukan. Bagaimanapun, perempuan dan anak-anaklah yang menjadi korban utama akibat kotornya sungai-sungai kita. Setiap hari merekalah yang sangat dekat dengan kehidupan sungai. Kaum perempuan itu pula yang lebih banyak bersentuhan dengan sungai kotor itu, lewat aktivitas sehari-hari, seperti mencuci baju dan atau peralatan dapur/makan.

Pada seminar “Perempuan di Bantaran Sungai Ciliwung” medio Desember 2006, salah seorang peserta, Ny Pini—warga Pasar Pintu Air, RT 05 RW 11, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat—mengeluhkan sampah pasar yang menumpuk di depan rumahnya. Letak sampah yang berada di pinggir sungai sangat rawan jatuh ke sungai. Belum lagi penumpang kereta yang kerap melempar sampah keluar jendela dan jatuh ke sungai.

“Kami minta dibuatkan bak sampah yang besar karena sampah tidak setiap hari diangkut,” kata Ny Pini. Jika sampah menumpuk, bau tidak sedap pun akan segera tercium. “Untung saja sampah ikan tidak dibuang di depan rumah saya. Kalau ikut dibuang di situ, wah pasti banyak lalat,” tambahnya.

Situasi sama juga dirasakan Ny Mariam, yang tinggal di dekat Kali Lagoa Kanal dan Kali Sindang di Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Karena sampah dari Pasar Sindang menumpuk, tidak jarang belatung pun ada di mana-mana.

Hal semacam ini tentu tidak nyaman dan mengganggu kesehatan warga, terutama kesehatan anak-anak. Belum lagi bau busuk “pulau-pulau” sampah yang membuat Kali Lagoa Kanal mampet.

Ketidakadilan jender

Hasil temuan program lingkungan berperspektif jender kerja sama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Quadrant Utama dengan Pusat Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa masalah pencemaran sungai diperparah oleh terjadinya ketidakadilan jender dalam masyarakat. Di satu sisi perempuan memiliki potensi positif terhadap pemeliharaan lingkungan dan sungai, tetapi di sisi lain kehidupan mereka masih dinomorduakan oleh masyarakat.

Kemampuan perempuan sering diabaikan oleh masyarakat, padahal perempuan memiliki kualitas sumber daya manusia yang sebetulnya efektif bagi pengembangan kehidupan masyarakat dan lingkungan. Bukankah kelompok perempuan yang hidup di areal bantaran sungai merupakan kelompok masyarakat yang paling dekat dengan sungai, lantaran rutinitasnya di dalam menjalankan dan mempertahankan kehidupan rumah tangga?

Kualitas kehidupan para perempuan—yang tinggal bantaran sungai—yang rendah, menempatkan mereka secara mayoritas pada kehidupan marjinal. Ketidakadilan jender itu tidak hanya mengancam keselamatan kelompok perempuan yang hidup di bantaran sungai, tetapi juga mengancam keselamatan lingkungan dan sungai.

Beban kehidupan kelompok perempuan di bantaran sungai yang begitu berat, baik secara sosial ekonomis maupun psikologis, justru membangkitkan kekuatan para perempuan ini dalam menghadapi persoalan mereka secara realistis. Perempuan diyakini mampu bertindak strategis secara ekonomis, mampu menjalankan peran yang bertumpuk—baik domestik/reproduktif, maupun produktif— meskipun dengan peran bertumpuk itu sangat berisiko bagi keselamatan dan kesehatan mereka.

Sudah enam bulan ini Quadrant Utama mendampingi perempuan di bantaran sungai di wilayah Jakarta. Mereka mengadvokasi, melakukan pendampingan, dan memberi penyuluhan mengenai bagaimana menjaga kebersihan sungai. Sejak didampingi, kini sudah tidak ada lagi ibu-ibu yang mencuci piring dengan air sungai yang dicampur dengan cairan kimia pemutih baju. Setidaknya mereka kian sadar akan bahayanya.

“Getok tular”

Menurut Ny Mariam, Ketua RT 08 RW 08, Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, dari 300 perempuan yang ada di dua RW di sana terbentuklah kelompok inti yang terdiri atas 100 perempuan. 100 perempuan di wilayah Koja inilah yang secara intensif mendapatkan pendidikan, pengetahuan, dan makin luas pemahamannya tentang pentingnya fungsi sungai.

Karena tidak semua perempuan teradvokasi, para perempuan di kelompok inti melakukan upaya penyebaran informasi kepada rekan dan tetangga-tetangganya dengan cara “getok tular”. Mereka, misalnya, memberi masukan kepada ibu-ibu lain agar sebaiknya tidak membuang sampah dan buang air besar di sungai supaya sungai tidak mampet dan bau busuk.

“Tapi ada saja tetangga yang berkomentar negatif saat diberi saran. Seperti mengucapkan kata-kata ’belagu loe’…. Begitulah, mereka belum sepenuhnya sadar,” kata Ny Mariam.

Mereka pun diajak untuk membersihkan lingkungan masing-masing, membuang sampah di tempat sampah yang mereka buat bersama, mengajak anak-anak untuk tidak sembarangan membuang sampah.

Hal yang sama juga dilakukan di Kebon Melati, Pintu Air, di Kelurahan Petamburan, di Manggarai, Jatinegara, dan Kampung Melayu. Bahkan, di Pasar Pintu Air, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, meskipun rumah-rumah yang ada adalah rumah-rumah petak, kini mereka telah memiliki kaleng bak sampah di depan pintu rumah masing-masing.

“Anak-anak di sini pun kami larang untuk berenang di sungai karena berbahaya,” kata Ny Pini tentang meningkatnya kesadaran para perempuan di bantaran sungai di sana.

Apalagi menjelang banjir tahunan, mereka harus lebih waspada dan tidak lagi membuang sampah seenaknya. “Kami juga melakukan lomba kebersihan di sini,” tutur Ny Pini. Mereka yang tinggal di bantaran sungai tak mau mengulang duka saat kebanjiran, saat perabot rumah tangga mereka—seperti kursi, kasur, televisi, dan piring—terendam air dan rusak.

“Kalau sudah begitu, mau tidak mau kami terpaksa mengungsi di pelataran rumah susun sampai air surut kembali. Jadi, kami tidak mau kebanjiran lagi,” papar Ny Pini, dan diamini para perempuan tetangganya.

Kesadaran perempuan dan upaya memberdayakan perempuan yang hidup di bantaran sungai harus terus-menerus dibangun agar suatu saat kita bisa benar-benar mendapatkan sungai yang bersih. M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: