Masbowo

Memanusiawikan Lingkungan Sungai Ciliwung dan Sekitarnya

Oleh: Masbowo

Sumber:  http://masbowo.com/ 26 Maret 2012

Ketika kita ditanya tentang kondisi lingkungan yang ada di Jakarta khususnya, dalam hal ini (untuk kawan yang pernah/sekarang tinggal menetap/sebagian besar waktu kawan dihabiskan di Ibukota ini). Lalu, akan seperti apakah jawaban kawan mengenai hal itu ?. Apakah jawaban kawan akan didominasi dengan rasa puas, dalam artian “kami puas karena kondisi lingkungan di Jakarta cukup bersih/nyaman, dan tidak berdampak buruk pada kesehatan kami. Atau malah Sangat bersih/nyaman, bukan Cukup”.

Jika “sangat bersih/nyaman” rasanya kalimat itu belum tepat untuk menggambarkan kondisi lingkungan di Ibukota saat ini, khsususnya di beberapa titik. Jangankan sangat bersih/nyaman, cukup pun rasanya masih dipertanyakan keadaannya seperti apa. Tidak menutup mata bahwa di beberapa titik-titik di daerah Jakarta, contohnya: seperti suatu Kelurahan, atau lingkungan RT/RW di suatu daerah di Jakarta memang sudah bergerak aktif untuk peduli dalam kebersihan lingkungan sekitar. Sebagai buktinya dan pernah kita lihat mungkin, bahwa sebagian kecil kondisi lingkungan di beberapa Kelurahan atau lingkungan RT/RW pernah diangkat ke layar kaca dalam siaran berita sebuah tv swasta karena tingkat kebersihannya yang sangat bersih, nyaman, atau kata populernya hijau.

Kenapa hal itu bisa terjadi ?. Karena mereka secara keseluruhan mau ambil peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya.

Kenapa mereka mau ambil peduli ?. Karena mereka memilih untuk menjalani hidup dengan pola sehat, dengan banyak menghirup udara segar yang dihasilkan dari zat yang terkandung di tanaman-tanaman yang tumbuh subur di sekitar rumah mereka. Tanpa sedikitpun mau menumpuk dan menyisakan sampah-sampah rumah tangga, baik di halaman rumah, pada selokan got yang akan bermuara pada kali/sungai.

Lalu, jika berbicara beberapa daerah di Jakarta yang tingkat kebersihannya masih sangat mengkhawatirkan, apakah warganya tidak peduli dengan hal itu ?. Aku masih tetap meyakini bahwa sebagian kecil warganya masih peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Karena begini, siapa sih orang yang mau hidup ‘jorok’, dalam artian tidak sehat, pasti semua orang mendambakan hidup ditemani dengan kondisi lingkungan sekitarnya yang nampak bersih, nyaman, dan juga sehat bukan ?. Pastinya. Namun, sebagian kecil sejumlah orang-orang ini tidak lah cukup jumlahnya untuk membersihkan secara keseluruhan lingkungan tempat tinggal mereka, karena semua elemen di dalamnya semestinya ikut juga berpartisipasi di dalamnya. Aku jadi ingat kata orang bijak mengenai (sapu) lidi.

Jika hanya satu lidi, ataupun beberapa lidi yang masih bisa dihitung dengan jari, masih terbilang belum kuat untuk digunakan menyapu membersihkan halaman dari ranting/debu/kotoran, terlebih lagi pengikat talinya juga belum mengikat kuat. Maka, jika diasumsikan sekumpulan kecil lidi ini digunakan untuk menyapu halaman, bukan kebersihan yang akan didapat, namun hanya ketidak berdayaan mereka (sejumlah lidi) untuk bergerak menyisir atau membersihkan halaman. Bahkan kemudian malah sekumpulan lidi itu yang tak mempunyai ikatan kuat dan belum mampu menopang satu sama lain ada probabilitas tinggi untuk tercerai-berai satu-persatu. Namun, akan lain ceritanya jika seluruh lidi disatukan menjadi satu kesatuan, dan pengikatnya pun juga mengikat sangat kuat. Maka kebersihan lah yang akan dihasilkan dari sejumlah banyak sapu lidi tersebut.

Kenapa hal itu bisa terjadi ?. Karena bentuk lidi itu kan ada yang tipis dan kuat, dan kemudian ketika seluruh lidi itu dipersatukan untuk menjadi sebuah kelompok (sapu lidi), maka mereka akan menjadi kuat dan lidi yang tipis serta lemah pun menjadi lebih kuat untuk digunakan menyapu halaman.

Seperti itu lah jika diibaratkan sejumlah orang yang takkan pernah bisa mampu merubah lingkungan sekitarnya untuk menjadi hijau. Ini bukan sikap pesimistis,dan kumohon kawan jangan salah menafsirkannya. Karena semua golongan masyarakat tanpa terkecuali sangat dibutuhkan tenaganya untuk bahu-membahu dan bersama-sama menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan hijau bagi daerah mereka masing-masing, tentunya Pemerintah juga harus turut serta di dalamnya.

Inti sarinya adalah: segala aspek hidup bersih, nyaman, lagi sehat tidak cukup hanya bermaterikan sejumlah kecil orang, tapi butuh secara keseluruhan, yaitu orang-orang dalam jumlah banyak yang juga disebut dengan istilah masyarakat. Itu menurutku.

Baiklah, aku beralih ke sisi pembicaraan yang lain, namun masih tetap dengan ruang lingkup topik yang diangkat di tulisan ini. Jadi kemudian pertanyaannya seperti ini: Jika mendengar kata TNI/Kopassus, hal apa yang akan langsung ada di benak dan pikiran kawan ?. Mungkin kebanyakkan orang akan menjawab mereka seorang prajurit yang tegas dan tangguh karena dibentuk dengan displin yang kuat, identik dengan senjata dan peperangan, anggota kesatuan militer, skuad tetap tentara PBB dan menjadi salah satu tentara Indonesia yang paling ditakuti di dunia dan masuk ke dalam jajaran 3 besar angkatan bersenjata yang mempunyai keahlian khusus dalam berperang tanpa menggunakan senjata alias tangan kosong, juga dapat bertahan lama dengan keadaan lingkungan yang tak biasa di medan perang, dan lain sebagainya. Di dalam hal ini tidak akan mengulas apa-apa saja kehebatan ataupun kekurangan TNI/Kopassus secara lebih jauh, karena jika membicarakan hal itu pasti akan banyak ulasannya, maka dari itu aku lebih perkecil lagi cakupannya mengenai hal dibawah ini:

Jika membicarakan TNI/Kopassus yang peduli akan bencana yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia, mungkin sudah umum dan kebanyakkan orang menganggap hal itu wajar, karena citra TNI/Kopassus selain melindungi masyarakat, tentunya juga membuat masyarakatnya aman dan juga tenteram. Aku perkecil lagi ruang lingkupnya hanya menjadi Kopassus, dalam kata lain hanya membicarakan baju korps Kopassus.

Sesuai dikutip dari artikel laporan voanews yang dipublikasikan pada hari Jum’at, tanggal 16 Maret 2012 dengan tema artikel laporan voa “Puluhan Personil Kopassus Bersihkan Sampah Bengawan Solo”.

Judul diatas, bukankah ini menarik perhatian kita, karena menurutku kebanyakkan orang akan tertarik ketika mengetahui seorang Kopassus bertindak membersihkan lingkungan. Alasan kenapa tertarik karena kuyakin kebanyakkan orang akan juga senang dan mungkin bangga mendengar berita ini. Suatu tindakan nyata atau kepedulian seorang tentara akan kebersihan lingkungan sekitar mereka, dalam artian mungkin dekat dengan asrama atau markas besar mereka. Sesuai slogan yang mereka anut yaitu: “Green, clean, and healthy”. Green yang berarti menghijaukan lingkungan, hal yang mana mereka telah lakukan di sungai Bengawan Solo dengan menanami ratusan bibit pepohonan. Lalu Clean yang berarti membersihkan lingkungan, hal yang mana mereka telah lakukan mengambil atau memunguti lalu mengumpulkan tiap-tiap sampah di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo yang bisa berdampak bencana bagi sekitarnya, seperti banjir. Dan healthy yang berarti sehat, hal yang mana telah mereka lakukan dari hasil kedua hal itu yaitu Green dan Clean yang secara langsung menghasilkan sebuah dampak yang positif terhadap kesehatan secara keseluruhan lingkungan sekitar sungai Bengawan Solo. Kopassus, selain memiliki kemampuan untuk bergerak cepat di setiap medan (perang), namun ternyata juga dapat bergerak cepat di medan yang lain yaitu dalam ruang lingkup kebersihan, dalam contoh kecilnya disini adalah sungai Bengawan Solo itu sendiri. Selain itu yang patut dicontoh adalah mereka juga melakukan kebaikan bertemakan sosial, seperti adanya rasa saling berbagi dengan melakukan pengobatan gratis, pembagian peralatan sekolah, dan bahan pangan kepada warga sekitar bantaran sungai Bengawan Solo.

Terkadang kita membutuhkan inspirasi dari apa yang telah dilakukan orang lain, ini bertujuan agar kita terbangun dari ‘alam bawah sadar’ kita untuk secepatnya berbenah dari apa-apa saja yang kurang dari diri kita khususnya, dan lingkungan sekitar kita pada umumnya.

Mengutip juga dari artikel voanews pada laporan tertanggal diatas bahwa Walikota Solo, Hadi Rudyatmo, yang ikut juga turut serta dalam rombongan Kopassus yang melakukan pembersihan dan berbagi dengan sesama di sekitar bantaran sungai Bengawan Solo.Iia mengatakan demikian: “Kondisi Bengawan Solo seperti apa? Wah sangat parah. Parah sekali. Sedimentasi dan pencemaran sampahnya memprihatinkan.”

Jika sungai Bengawan Solo dibandingkan dengan sungai Ciliwung di Jakarta, mungkin Walikota Solo akan berpendapat lebih dari itu, dalam artian ia mungkin akan mengatakan “Kondisi Ciliwung seperti apa? Wah sangat sangat parah. Parah sekali. Sedimentasi dan pencemaran sampahnya sangat dan sangat memprihatinkan.”

Kata sangat-sangat dan sangat diatas mungkin lebih tepat ditambahi seperti itu, dan menjadikannya sebuah kalimat yang menitik beratkan pada berita yang over (sangat negatif). Karena ketika kita berbicara realita yang terjadi diantara dua sungai itu, maka akan terjadi sebuah perbandingan level kebersihan antara sungai Bengawan Solo dan Ciliwung. Meskipun sang Walikotanya sendiri mengatakan sungai Bengawan Solo sangat parah sekali, tapi aku yakin jika ia diberi kesempatan untuk menyisir sungai Ciliwung lalu memberikan tanggapan atas opininya dengan bentuk penilaian, maka ia akan mengatakan kurang lebih sama dengan pendapatku diatas itu. Mungkin saja bukan, siapa tahu.

Singkat cerita, beberapa bulan lalu aku berpergian ke kota Solo dalam rangka silaturahmi ke rumah saudara dari Bapakku yang asil dari tanah kelahiran Solo. Dan aku berpergian lah ke tempat-tempat dimana ruang-ruang publik atau taman, dan sekitar titik-titik jalan di kota Solo, dan khususnya juga mengunjungi sungai Bengawan itu untuk mengetahui kondisinya seperti apa sih sekarang ini setelah sekian lama tak melihatnya, berikut juga pemandangan alam sekitar sungai Bengawan. Sungai Bengawan dewasa ini memang sudah tercemar sampah-sampah dan memang kondisinya memprihatinkan. Namun ketika melihat hal itu, pikiranku langsung mengawang dan melesat cepat ke sebuah tempat di Ibukota, tepatnya pada kondisi kali dekat dengan tempat tinggalku yaitu sungai/kali Ciliwung, lalu secara tak sengaja membandingkan keduanya dari banyak hal.

 Gambar pemukiman kumuh sungai ciliwung

Maka, perspektifku mengenai hal itu bahwa sungai Ciliwung di beberapa titik di Jakarta mengalami kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan. Tidak menutup mata, di beberapa daerah di Jakarta yang lingkungan tempat tinggalnya secara langsung berdekatan dengan sungai Ciliwung seolah tidak mau ambil peduli dengan kondisi Ciliwung itu sendiri. Padahal jika kondisi air sungai Ciliwung membludak karena adanya kiriman dari Kota Bogor, ini jika diasumsikan, maka akan ada probabilitas terjadinya bencana banjir seperti halnya beberapa tahun yang lalu. Dan secara langsung, bukankah hal itu akan merugikan mereka juga ?. Seperti aktivitas rutin yang terganggu, dan lain sebagainya. Hidup itu kan sesungguhnya 2 hal, contoh kecilnya suka-duka, lalu sebab-akibat, dan lainnya. Maka bila tak ingin merasakan akibat yang fatal dan mengalami duka karena bencana yang melanda kita, maka kita seharusnya bisa lebih menyikapi hal itu dengan mematuhi norma-norma yang berlaku agar alam tidak marah dengan kita. Dan kemudian rasa senang dan bahagia lah yang kita dapat dari sebab yang kita telah lakukan dari hal-hal yang positif itu.

Contoh bukti nyata tentang hal ini adalah lingkungan rumahku di Jakarta yang sebagian besar orang-orangnya masih mengandalkan sebuah kebiasaan yang buruk, yaitu melempar sampah rumah tangga ke sungai/kali. Ya, melempar. Biasanya sebagian orang melakukan hal ini, dengan urutan:

1. membawa sampah dalam plastik keresek ukuran sedang dari rumahnya untuk dibuang di kali.
2. lalu setelah sampai di pinggir kali atau di atas jembatan, mereka membuang (melemparkan) sampah itu. Mereka mungkin berpikiran bahwa toh sampah itu akan hanyut ke muara yaitu laut, tanpa berpikir lebih jauh bahwa kumpulan sampah itu akan membentuk sebuah penyempitan saluran air dan berakibat pada sebuah bencana banjir. Terlebih lagi jika diasumsikan di dalam sungai (laut) ada kehidupan, ikan atau karang, dan lainnya. Maka akan hancur lah kehidupan ekosistem tersebut, dan tinggal menunggu waktu saja.

 Gambar gundukan sampah di sungai Ciliwung 1

Gambar gundukan sampah di sungai Ciliwung 2

 Gambar gunungan sampah di sungai Ciliwung

Gambar sampah Styrofoam

Mungkin solusi dari permasalahan diatas akan lebih tepat jika tokoh masyarakat atau ketua RT/RW yang bersinggungan langsung dengan warga berusaha terus untuk mensosialisasikan bahwa sekarang saatnya untuk tidak membuang sampah dengan melemparkannya ke sungai, karena akan berakibat lingkungan sekitar yang tidak sehat dan dapat berdampak bencana banjir, dan tentunya juga Pemerintah harus ikut mensosialisasikan hal ini. Biasanya orang-orang ini lah yang mungkin akan di dengar oleh seluruh golongan orang di dalam sebuah lingkungan RT/RW.

Sosialisasi saja sebenarnya tak cukup, karena dibutuhkan juga kesadaran diri pribadi untuk melakukan hal yang terbaik pada lingkungan sekitarnya, dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Jika para Kopassus itu rutin membersihkan seluruh kali/sungai yang ada di Indonesia, ambil asumsinya seperti itu. Dan kemudian, kita juga rutin ngeyel membuang sampah di kali/sungai. Bukankah usaha pembersihan lingkungan kali/sungai yang mereka lakukan akan menjadi hal yang sia-sia belaka. Buat apa dibersihkan, toh warganya saja juga tak mau ambil peduli. Biarkan saja bencana yang akan berbicara melalui hal yang nyatanya untuk menegur mereka agar mereka paham bahwa alam bukannya tak mau bersahabat dengan mereka. Sesungguhnya mereka lah yang memusuhi alam, dan membuat alam ‘menumpuk kekesalan’ lalu atas izin ALLAH swt ia berbicara dan menunjukkan ‘bentuk kekesalannya’ (bencana-bencana yang terjadi sekarang).

Ketika banyak orang di seluruh belahan dunia ini menggembor-gemborkan suara perdamaian bertajuk “Safe Our Earth”, maka sudah semestinya kita juga paham atas apa yang mereka suarakan. Paham disini adalah tahu bahwa kondisi alam kita seperti ini. Jika melakukan ini, maka hasilnya akan jadi seperti ini. Kembali lagi diatas, sebab-akibat. Jika sebabnya positif maka hasilnya pun akan positif, begitu juga dengan sebaliknya.

Menanami bibit pepohonan di tempat-tempat dan sudut-sudut yang memang harus ditanami pepohonan adalah sebuah tindakan yang tepat guna. Ini untuk merealisasikan bentuk pemahaman kita atas kondisi lingkungan yang terjadi di dunia. Memang pada kenyataannya, seluruh negara belahan dunia menggantungkan nasib kelangsungan hidup mereka di bumi dan juga seluruh penduduk Indonesia pada hutan tropis yang ada di Kalimantan, Sumatera, Papua, atau Jawa.

Kenapa mereka bisa menggantungkan kelangsungan kehidupan bumi pada negara Indonesia ?. Karena Indonesia memiliki hutan tropis kedua yang terbesar setelah negara Brazil yang harus dijaga ekosistemnya. Dan jika diasumsikan (semoga tidak terjadi) hutan tropis di Indonesia saja lah yang rusak, begitu kan, maka itu akan berdampak secara langsung pada kehidupan bumi secara keseluruhan. Mungkin saja siklus bumi akan berubah, dan mengakibatkan bencana yang luar biasa. Mungkin saja, siapa tahu.

Sebenarnya hutan kita yang merusaknya adalah pemiliknya sendiri, dalam kata lain hampir sekian besar persen orang-orang Indonesia juga lah yang andil atas ‘kejahatan secara tidak langsung’ itu. Meskipun orang-orang asing yang menanamkan modal sahamnya di perusahaan yang mengeksploitasi hutan juga secara tidak langsung turut andil atas ‘kejahatan’ itu. Kenapa aku mengatakan ‘jahat’ ?. Karena jutaan manusia (warga) yang tinggal di hutan atau dekat dengan hutan, menggantungkan hidupnya disana. Seperti sumber makanan, cadangan air, jenis tumbuhan obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya yang diambil dari hutan. Contohnya sedikit dari jutaan manusia yang bergantung pada hutan adalah: suku-suku Indonesia yang masih bermukim di hutan, seperti suku dayak (Kalimantan), suku korowai (Papua), suku baduy (Sunda, Banten), dan masih banyak lainnya. Baik suku-suku yang berada di Indonesia atau di luar negeri yang masih ‘bersahabat’ dengan hutan. Tak bisa dibayangkan jika hutan rusak, maka bumi akan kehilangan cadangan karbon, sumber oksigen, dan kehilangan sumber-sumber penghidupan lainnya.

Pepohonan juga sebenarnya berkorelasi dengan kali/sungai. Tidak hanya hutan saja yang harus dijaga ekosistemnya, tapi kali/sungai juga harus dijadikan titik-titik hijau. Sungai juga perlu ditanami pepohonan di tepi-tepinya, hal ini bertujuan untuk sebagai area pertama sebagai resapan air, atau dalam kata lain pagar hidup pertama untuk menghadang bencana banjir selain tanggul-tanggul yang dibangun di tepi-tepi sungai. Terlebih lagi keuntungan lainnya saat kali/sungai ditumbuhi banyak pepohonan, maka akan menjadikannya suatu lingkungan yang hijau nan asri, dan juga bisa sebagai tempat wisata tersendiri.

Ketika kebanyakkan besar seluruh orang Indonesia telah peduli dengan lingkungan sekitarnya terutama menjaga kali/sungai agar tetap bersih dan nampak hijau, maka tema “krisis air bersih” yang sekarang lagi gencar-gencarnya dibicarakan di belahan dunia dan direalisasikan dalam bentuk demo kecil atau besar-besaran, setidaknya di satu negara (Indonesia) masalah krisis air bersih tidak terlalu merisaukan. Dalam artian, tidak sepenuhnya terselesaikan tetapi setidaknya hanya menyisakan sedikit saja masalah. Bukankah ini lebih baik, bisa jadi penduduk di negara lain ikut turut serta mencontoh apa yang telah dilakukan orang-orang Indonesia atas kepedulainnya menjaga kebersihan dan kehijauan kali/sungai dengan salah satu tujuannya adalah menjaga agar tidak terjadinya krisis air bersih. Ini jika diasumsikan seluruh orang Indonesia peduli akan hal tersebut diatas, dan aku mengharapkan semoga seperti itu. Seandainya saja…. (hmmm.. sambil mengawang dalam lamunan melihat orang-orang Indonesia begitu amat peduli dengan kebersihan dan kehijauan kali/sungai, khususnya Ciliwung dan kali/sungai di daerah lainnya pada umumnya”.)

Dan setelah lamunan itu selesai, maka lamunan lainnya bergantian dan bergelora cukup hebat di pikiranku. Rasanya seperti iri dengan kali/sungai di negara lain. Tepatnya di Kota Seoul, Korea Selatan, dengan nama kali/sungai “Cheonggyecheon”. Iri dalam nada positif tentunya tidak menjadi dosa, dan sah-sah saja bukan. Terlebih lagi ini untuk kepentingan bersama juga, namun memang merealisasikannya cukup terbilang sulit jika melihat kondisi kali/sungai Ciliwung saat ini. Tapi rasanya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika seandainya semua elemen bersatu menjadi satu kesatuan dan mengarah kepada tujuan yang sama, dengan itu aku yakin prosesnya tidak begitu sulit alias cukup mudah. “Impossible is nothing, right ?”.

Ketika orang-orang Indonesia sudah peduli dengan kebersihan dan kehijauan kali/sungai, sepertinya tidak cukup jika Pemerintah tidak turut serta di dalamnya dengan hal-hal yang lebih dari apa yang mereka bisa lakukan. Apakah bermimpi menjadikan kali/sungai Ciliwung itu seperti kali/sungai Cheonggyecheon adalah hal yang muluk dan terlalu tinggi, sepertinya tidak juga, dan aku rasa Pemerintah Indonesia, dan Jakarta khususnya juga dapat melakukan hal yang sama seperti halnya kali/sungai Cheonggyecheon. Kenapa Pemerintah Korea Selatan, dan Seoul bisa melakukannya, kenapa kita tidak bisa. Kita sebenarnya juga bisa. Tinggal bagaimana seluruh elemen berembuk dan berencana agar semua proses berjalan sesuai dengan harapan tanpa kendala, entah itu disunat (dana), atau lainnya.
Seandainya saja…. (hmmm.. sambil mengawang dalam lamunan melihat kali/sungai Ciliwung seperti halnya sama dengan kali/sungai Cheonggyecheon saat ini)

Sebenarnya kali/sungai Cheonggyecheon tak lebih buruk dari kali/sungai Ciliwung saat ini, tapi itu dulu sebelum tahun 70-an. Dan jika pada saat itu kali/sungai Cheonggyecheon dibandingkan dengan Ciliwung maka akan lebih baik kondisi kali/sungai Ciliwung, terlebih lagi pada saat itu kali/sungai Ciliwung mendapat julukan “Jewel of the East” (Permata dari Timur) dari masyarakat mancanegara khususnya negara yang menjajah Indonesia pada saat itu. Dan lainnya menjuluki kali/sungai Ciliwung sebagai “Ratu dari Timur”. Namun julukan yang menakjubkan itu hanya lah tinggal kenangan, dan kali/sungai Ciliwung jika dibandingkan kali/sungai Cheonggyecheon maka akan lebih baik Cheonggyecheon, seperti itulah faktanya.

 Gambar kali/sungai Ciliwung sekitar tahun 60-an kebawah

Gambar 1. kali/sungai Cheonggyecheon sebelum tahun 70-an

Gambar 2. kali/sungai Cheonggyecheon sebelum tahun 70-an

 

Gambar 1. kali/sungai Cheonggyecheon setelah tahun 2000-an

 Gambar 2. kali/sungai Cheonggyecheon setelah tahun 2000-an

Gambar 3. kali/sungai Cheonggyecheon setelah tahun 2000-an

Gambar 4. kali/sungai Cheonggyecheon setelah tahun 2000-an

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Rum [30]: 41).

Artikel ini ditulis berdasarkan inspirasi dari sebuah laporan voa pada website voanews, yang dipublikasikan pada hari Jum’at, tanggal 16 Maret 2012 dengan tema artikel laporan voa “Puluhan Personil Kopassus Bersihkan Sampah Bengawan Solo”. Berikut link yang terkait : http://www.voanews.com/indonesian/news/Puluhan-Personil-Kopassus-Bersihkan-Sampah-Bengawan-Solo-142904065.html

Sumber foto :

http://sudirmanasun.blogspot.com/
http://wonderfuljakarta.blogdetik.com/page/2/
http://umum.kompasiana.com/2009/12/27/sungai-ciliwung-riwayatmu-dulu-dan-kini/
http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/02/24/kenapa-kita-tidak-menyewa-orang-asing-sebagai-walikota-atau-gubernur-jakarta/
http://sosbud.kompasiana.com/2011/10/13/mirisnya-kawasan-kumuh-bantaran-anak-kali-ciliwung/
http://www.klikunic.com/2011/05/kali-cheonggyecheon-seoul-sungai-bersih.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: