Puri Areta

Sungai Ciliwung Riwayatmu Dulu dan Kini

Oleh:   Puri Areta  

Sumber:  http://umum.kompasiana.com/27 December 2009 

Sinar matahari pagi memantul di atas permukaan air Sungai Ciliwung yang berwarna kecoklatan.

Aroma wangi segar rumput liar yang tumbuh di pinggir sungai serta bau tanah basah yang diguyur hujan tadi malam tak sempat tercium oleh batang hidung. Sungguh tragis! Aroma alami milik alam ternyata harus kalah dan menyerah pada bau busuk tumpukan sampah hasil limbah manusia.

Alam sesungguhnya bersahabat dengan manusia. Namun agaknya manusia mengabaikan persahabatan yang ditawarkan alam. Manusia mencemarkan alam dengan tumpukan sampah.

Bagi Sungai Ciliwung, sampah adalah lambang dari kesombongan segelintir manusia yang lebih mementingkan dirinya sendiri, dengan dalih kemajuan teknologi.

Agaknya manusia sudah lupa bahwa mereka tidak hidup sendiri. Di sekitarnya ada alam yang juga punya hak untuk lestari.

Beberapa pabrik yang bertetangga dengan Sungai Ciliwung adalah salah satu bentuk kemajuan teknologi. Pabrik merupakan bukti bahwa manusia adalah makhluk paling berakal dan martabat. Namun sayang semuanya itu tidak dibarengi dengan kearifan untuk menjaga sahabatnya, alam.

Masih ada saja sebagian pabrik yang membuang air limbah tercemarnya di aliran Sungai Ciliwung.

Selain limbah pabrik, ada juga limbah rumah tangga. Sungai Ciliwung agaknya sudah menjadi tempat sampah atau tong sampah raksasa bagi warga Jakarta. Sungguh menyedihkan!

Beraneka macam tumpukan sampah terlihat nyata dan jelas sekali. Ada sampah plastik deterjen, kaleng, ban mobil, mainan anak-anak yang sudah rusak, baju-baju rombeng, tulang ayam, tulang sapi, remot TV rusak, kompor gas rusak, pempes bayi bekas pakai, pembalut wanita, sepatu butut, pecahan piring atau gelas, panci karatan, dan seterusnya.

Jadi jangan ada yang bilang bahwa alam tak mau bersahabat dengan manusia kalau tiba-tiba Jakarta tergenang oleh banjir lagi. Kenyataannya justru manusialah yang merusak tali persahabatan dengan alam.

Bukankankah alam sudah bersahabat dengan manusia dengan memberikan keindahan serta kekayaannya untuk dinikmati manusia. Namun sayang manusia tak mau menjaga irama alam yang sebenarnya.

Bahwa air Sungai Ciliwung seharusnya memiliki irama yang tetap dan berulang-ulang. Yaitu airnya semestinya mengalir dengan lancar serta jernih menuju lautan untuk memberi kekayaan hidup bagi biota sungai yang hidup di dalamnya, bagi tumbuhan yang tumbuh di tepiannya. Juga bagi manusia yang membutuhkan air besih dan jernih serta ikan air tawar yang lezat bergizi.

Irama alam tersebut telah rusak hanya karena manusia tamak. Orang-orang membuang air limbah pabrik dan sampah di kali tanpa ada rasa bersalah secuil pun.

Kini, apa yang bisa didapat warga Jakata dari Sungai Ciliwung? Keindahannya? Kekayaan biota air tawarnya? Airnya yang sehat untuk konsumsi manusia? Sebagai alat transportasi yang membawa hasil bumi melalui perahu kayu? Tidak ada! Mungkin semua itu pernah diberikan Sungai Ciliwung bagi manusia pada era berabad-abda yang lalu. Namun sekarang tidak!

Konon jaman dahulu kala, orang Belanda minum air dari Sungai Ciliwung ini. Itu karena belum tercemar seperti saat ini.

Untuk wilayah Jakarta, seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir yang datang memiliki pola waktu yang sama, yaitu bulan Januari hingga Februari. Pada bulan-bulan tersebut, curah hujan datang dengan intensitas yang sangat tinggi. Penduduk Jakarta, tak terkecuali warga yang bermukim di sepanjang Sungai Ciliwung harus waspada terhadap banjir besar.

Dalam menghadapi banjir pada Januari-Februari 2010 mendatang, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sedang mempersiapkan pembuatan Kanal Banjir Timur (KBT) sepanjang 23,5 kilometer dengan tujuan menekan debit air yang akan menggenangi beberapa wilayah di Ibukota. Pengerjaan Kanal Banjir Timur diharapkan dapat rampung akhir tahun 2009 ini.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pekan lalu mengatakan, pihaknya akan bekerjasama dengan pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Departemen Sosial untuk merelokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung yang saat ini tercatat 350 ribu orang dengan total 70.000 bangunan.

Bangunan liar tersebut berada di badan aliran sungai mulai dari Tanjung Barat hingga Pintu Air Manggarai.

Menurut Fauzi Bowo, Pemprov DKI juga sudah mengagendakan program penghijauan dengan menanam 5.000 pohon di sepanjang jalur KBT.

Lalu bagaimana dengan nasib warga miskin yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung ini?

Rencananya, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Departemen Sosial akan merelokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung tersebut. Alasannya memang manusiawi, mengingat banjir selalu membawa kerugian bagi warga yang tinggal di bantaran kali. Realisiasi program ini bisa diwujudkan dalam waktu dua sampai enam tahun ke depan.

Keberadaan pemukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung juga ikut andil dalam pencemaran aliran air Kali Ciliwung.

Misalnya karena keterbatasan sanitasi kesehatan, atau lebih tepatnya karena tidak mempunyai kemampuan ekonomi untuk membuat WC yang sehat, kebanyakan warga di Sungai Ciliwung terpaksa Buang Air Besar (BAB) langsung di atas air kali.

“Plung!”

Akibatnya dapat dilihat kotoran BAB yang tak sedap dipandang akan hilir mudik mengambang di atas permukaan air.

Sungguh tragis. Inilah akibat kemiskinan saudara kita. Mereka pun sesungguhnya tidak ingin buang hajat di atas WC darurat seadanya. Jangan salahkan mereka.

Mereka sama seperti kita, punya mimpi ingin buang hajat di sebuah kloset mewah dengan semerbak wangi aroma terapi bunga bunga mawar. Buang hajat dengan duduk di atas kloset bersih sambil membaca buku atau majalah. Setelah itu mandi dengan berendam di dalam bathtub berisikan air hangat dan sabun semerbak wangi.

Saudara-saudara kita yang tinggal di Sungai Ciliwung pun sebenarnya tak ingin mandi memakai air kotor yang tercemar oleh limbah BAB manusia.

Jika seandainya mereka punya uang sehingga dapat hidup dengan layak, mereka tentu tak akan mau tinggal lagi di pinggiran Kali Ciliwung.

Namun, selama kemampuan ekonomi yang nyaris pas-pasan, walaupun nanti akan direlokasi, mereka akan kembali lagi menghuni bantaran Kali Ciliwung tersebut. Tempat itu dianggap paling sesuai dengan isi kantong.

Di sungai tersebut mereka dapat melangsungkan hidup. Mendapat sedikit tempat berteduh dari hujan dan panas tanpa perlu membayar ongkos sewa. Ini bukan lantaran mau ‘gratisan’. Tapi lebih tepat karena pendapatan mereka tak cukup untuk membayar sewa rumah yang layak di daerah yang layak.

Mengutip pernyataan Menko Kesra Agung Laksono di media massa belum lama ini, disebutkan bahwa program relokasi ini bukan hanya memindahkan warga, tapi pemerintah ingin memberdayakan ekonomi warga. Syukurlah kalau memang demikian. Namun tak dijelaskan lebih lanjut bentuk pemberdayaan ekonominya seperti apa.

Mungkin bukan hal yang mudah bagi mereka untuk pindah dari lokasi tersebut. Namun rencana pemerintah merelokasi tempat tinggal penduduk bantaran sungai ke lokasi lain harus dengan mempertimbangkan latar belakang ekonomi.

Jika penduduk miskin dipindahkan ke sebuah tempat yang mengharuskan mereka membayar sejumlah uang dengan nilai yang cukup mahal bagi mereka, maka kegagalan Rumah Susun (Rusun) Bidara Cina di Jatinegara, Jakarta Timur, akan terulang kembali. Tahun 1995 pemerintah menggusur penduduk di Sungai Ciliwung. Pemerintah merelokasi penduduk yang tergusur tersebut ke Rusun Bidara Cina.

Sayang, sebagian besar warga Sungai Ciliwung tak mampu membayar tarif listrik dan air. Akhirnya rusun itu kini mayoritas dimiliki atau dihuni oleh kalangan menengah ke atas yang bukan warga Sungai Ciliwung yang terkena relokasi.

Bandingkan dengan kehidupan mereka di bantaran Sungai Ciliwung. Dari sisi penggunaan air bersih misalnya, air bersih merupakan barang mewah setara dengan emas permata. Membayar tarif air PAM sebesar lima puluh ribu rupiah per bulan saat ini saja sudah terbilang sangat mahal bagi saudara-saudara kita ini.

Jadi walaupun ada warga yang hidup di bentaran Sungai Ciliwung yang mempunyai air PAM, tetap saja mereka melakukan penghematan besar-besaran. Air PAM digunakan warga Kali Ciliwung hanya untuk keperluan masak dan minum. Selanjutnya untuk cuci tangan, buang BAB, mandi, dan cuci piring serta pakaian warga lebih memilih menggunakan air sungai Ciliwung yang berwarna coklat pekat.

Ya, jangan sampai kejadian ini berulang kembali. Karena kegagalan dalam penanganan relokasi penduduk Sungai Ciliwung akan mengakibatkan saudara-saudara kita ini akan kembali membangun gubuk di Sungai Ciliwung. Karena hanya di sungai itulah mereka sanggup bertahan hidup dengan biaya yang sangat murah, sesuai dengan pendapatan mereka yang tak tentu. Hari ini makan, besok atau lusa belum tentu dapur ngebul alias harus siap-siap menahan lapar… (***)

KOMENTAR

Friedrich Sis, 27 December 2009 

hmm memprihatinkan. mirip nasib bengawan soloku di jateng dan citarumku di jabar… mestinya semua orang itu nonton avatar supaya ngeh tentang kehendak alam ya

Fitri Tasfiah, 27 December 2009 

Wahh jd mau liat jakarta tempo dulu.Air sungai bs diminum.Tp hrsnya pinggir sungai jgn dijadikan tmpt tinggal.kdg2 mereka sdh dpt uang sbg kompensasi pindah tp mlh dibuat bangun rmh. Mknya pas ada penggusuran br panik. Jgn prnh tinggal di pinggiran sungai. Selain mencemari jg membahayakan. Jadikan kota jkt mjd kota metropolis yg bersahabat dgn alam. Hrs dipahami dari pemerintah hingga rakyat yg terbawah.Good!

Zameel Von Buitenzorgh, 27 December 2009 

andai ciliwung bisa kayak kota venezia yang indah……..

Puri Areta, 30 December 2009 

To Friedrich Sis, Fitri Tasfiah, Zameel Von Buitenzorgh…
Terimakasih telah berkunjung dan meninggalakan komentarnya. Maaf setelah aku menulis artikel ini daku sedang sibuk, tak sempat menengok tulisanku ini di Kompasiana

Puri Areta, 30 December 2009 

To Friedrich Sis

Aku menulis tentang Sungai Ciliwung juga karena terdorong oleh kisah my driver yang kelahiran Solo. Rumahnya katanya dekat sekali dengan Bengawan Solo. Ternyata dari ceritanya itu, agak mirip-mirip juga dengan keadaan yang daku lihat di Sungai Ciliwung loh! Riwayat Bengawan Solo yang indah dan menakjubkan seperti yang digubah Alm Om Gesang dalam lagunya ‘Bengawan Solo’…hanya tinggal kenangan. Akankah Bengawan Solo juga kembali mengalirkan air yang bening dan jernih?

Sebenarnya aku juga ingin nulis tentang nasib Bengawan Solo yang kini tak seelok dulu. Namun sayang daku belum pernah ke Bengawan Solo. Jadi tak bisa menulis lebih banyak tentang sungai tersebut. Di kota Solo itu aku cuma lewat saja.

Hm, tetapi ku pernah ke Yogyakarta. Di Yogyakarta aku sempat mampir berwisata beberapa hari di Kali Urang. Beda sekali dengan kondisi sungai di Ciliwung atau Bengawan Solo. Di Kali Urang, airnya sangat jernih, bening, bersih, tidak berbau dan tentunya dingin menyegarkan, ya.. itu lantaran belum tercemar dan masih alami…

Kata my driver, sewaktu dia masih anak-anak, di Bengawan Solo itu banyak sekali terdapat beraneka macam ikan air tawar yang lezat. Ikan-ikan tersebut dapat terlihat jelas dengan mata kepala telanjang sedang hilir mudik berenang (soalnya airnya bening dan jernih). Namun kini, setiap kali dia pulang kampung, katanya ikan-ikan tersebut sudah tak kelihatan karena air Bengawan Solo sudah berubah warna menjadi coklat pekat, persis keadaan Sungai Ciliwung yang sekarang tercemar. Nah, di Bengawan Solo penduduk sekitar sekarang ini jarang mencari ikan. Ya itu tadi…ikannya sudah jarang…mungkin airnya sudah tak nyaman untuk ikan-ikan berkembang biak dengan pesat.

Selain masalah airnya yang sudah tercemar, Bengawan Solo kini selalu membuat pusing pemerintah daerah setempat. Sebab air Bengawan Solo jika sudah meluap di musim penghujan akan mengakibatkan kota Solo nyaris lumpuh total, banjir. Ya…sama persislah dengan nasib Sungai Ciliwung di DKI Jakarta. Memprihatinkan…

Aku juga pernah ke Kali Serayu di kaki Gunung Slamet di Banyumas Jawa Tengah. Airnya kni juga sudah kecoklatan dan kadang terjadi pengikisan air di pinggiran sungai tersebut. Ada salah seorang kerabat saya yang dahulu punya kebun yang sangat luas di pinggiran Kali Serayu ini.
Namun karena terjadi pengikisan pinggir sungai pada saat banjir datang, kini luas kebunnya tinggal separuh. Walaaaah!

Puri Areta, 30 December 2009 

To Fitri Tasfia
Ya, begitulah. Katanya menurut situs http://www.fauzibowo.com dahulu para kakek-nenek buyut kelahiran Batavia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa orang-orang Belanda juga menggunakan air Sungai Ciliwung sebagai air minum karena belum tercemar.
Beberapa belas tahun yang lalu di Pulau Bali pun menurut penduduknya, air pematang sawah yang mengalir persis di pinggiran sawah dulu bisa langsung diminum tanpa dimasak. Biasanya para petani sehabis makan siang, jika kehausan langsung deh meneguk air bening di pinggiran pematang sawahnya. Mereka tak mengalami gangguan pencernaan alias tidak sakit perut atau diare. Itu cerita jaman dahulu, nah kalau jaman sekarang agak takut juga mereka minum air pematang sawahnya. hal ini disebabkan karena ada beberapa penduduk yang diare setelah meneguknya.

Ada kemungkinan penyebabnya karena jaman dahulu orang menanam padi di sawah dengan pola tanam organik, yaitu tanpa memakai pupuk kimia buatan pabrik dan tak menyemprot hama padi pakai pestisida. Jadi air di pematang di Pulau Bali jaman dahulu belum tercemar oleh pupuk kimia dan pestisida. Namun ada kabar baik, kalau tidak salah ingat, pada pertengahan tahun 2009 ini pemerintah daerah Bali mencanangkan sebuah program pertanian yang intinya menjadikan sistem pertanian Pulau Bali lebih bersahabat dengan alam. Dengan kata lain pemerintah daerah Bali sedang gencar-gencarnya menggiatkan program menanam dengan cara organik.

Wah…jadi iri ya dengan Pulau Bali. Kapan pemerintah daerah lain di nusantara ini yang menyusul dan berkomitmen untuk bercocok tanam secara bijak, pertanian organik. Soalnya jika makin murah dan mudah menemukan hasil pertanian organik, maka makin sehatlah kita semua serta anak cucu kita karena dalam tubuh kita tak tercemar racun. Sebab ada sejumlah penelitian yang menyebutkan bahwa penyakit yang aneh-aneh dan timbul pada jaman modern ini salah satunya lantaran makanan yang kita konsumsi tercemar. Serem deh…

Puri Areta, 30 December 2009 

To Zameel Von Buitenzorgh…

Andai Ciliwung bisa kayak Kota Venezia yang indah……..
Memang banyak yang memimpikan hal tersebut. Semuanya pasti setuju kalau Jakarta punya wisata air sungai yang indah seperti Kota Venesia. Namun untuk mewujudkannya di Sungai Ciliwung agaknya bukan perkara mudah. Salah satunya memang harus menertibkan dahulu bangunan liar yang berada di sepanjang sungai tersebut.

Pemda DKI Jakarta juga sepertinya ingin menjadikan Sungai Ciliwung seperti sungai cantik Kota Venesia. Ini terlihat dari program wisata Sungai Ciliwung yang digencarkan Pemda DKI dengan menggunakan perahu wisata yang disediakan pemerintah dengan
membayar sejumlah uang. Sayang, agaknya wisata air yang belum lama ini diluncurkan pemda tersebut kurang membangkitkan minat wisatawan domestik apalagi mancanegara. Hal ini karena bau air sungainya yang sangat tidak sedap, minta ampun baunya , membuat semua isi perut mau keluar rasanya.

Selain airnya kotor, ada pemandangan yang tidak sedap saat dinikmati berwisata air di Sungai Ciliwung, yaitu…(maaf) kotoran manusia yang mengambang.

Namun harapan kita semua semoga Pemda DKI tak putus asa mewujudkan impian kita semua, mengembalikan keindahan Sungai Ciliwung agar menjadi berkah bagi penduduk Jakarta.
Ya..seandainya Sungai Ciliwung bisa seindah sungai yang mengaliri Kota Venesia tentu akan menjadi berkah bagi penduduk yang akan menggantungkan hidupnya atau penghasilannya dari obyek wisata ini.

Kita semua dapat sedikit membantu pemda. Salah satu caranya yang paling mudah adalah kita semua sebagai warga Jakarta tidak ikut-ikutan mencemari Sungai Ciliwung. Kalau perlu ikut bergabung dengan beberapa kelompok pencinta lingkungan yang peduli dengan nasib kali Ciliwung. Saya pernah mendengar ada sekelompok anak muda yang giat menanam atau melakukan pengijauan di sepanjang sungai Ciliwung. Asyik bukan?

Zameel Von Buitenzorgh, 30 December 2009 

oh iya mba,sekedar masukan….di bogor air sungai ciliwung,masih bisa di manfaat kan,banyak yang nyuci baju,mandi,memancing…..

Puri Areta, 30 December 2009 

Ya, aku dengar juga begitu, air Sungai Ciliwung di bagian hulu memang masih bersih dan belum tercemar. Beda kalau di bagian hilir yaitu di wilayah DKI Jakarta. Jadi pada dasarnya air Sungai Ciliwung itu masih besih dan jernih di hulu, lalu masuk di Jakarta jadi kotor lantaran banyak yang mencemarinya. Ini merupakan tantangan kita semua untuk mengembalikan air Sungai Ciliwung sejernih dan sesehat sumbernya di hulu…di pegunungan.

Oya aku jadi ingat ketika berwisata di Taman Safari, Cisarua Bogor-Jabar , aku terkagum-kagum melihat air sungai di sana yang warnanya jernih, bening, sedap di pandang mata. Yang lebih membuat aku berdecak kagum adalah air got di sepanjang obyek wisata Taman Safari ini ternyata juga sama jernih dan bersihnya dengan air yang ada di kali sekitarnya. Air gotnya bersih sekali dan tidak berbau, pokoknya seperti bukan air got. Luar biasa…

Achmad Idrus Zainuri, 11 January 2010 

aku mau mengangkat judul Tugas Akhir yang bertemakan Mengatasi sampah di Sungai Ciliwung,aku idrus anak ITS jurusan Teknik Bangunan Kapal…boleh minta data2 tentang sungai ciliwungnya…

idrus_ok@yahoo.co.id

terimakasih…
© 2008-2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: