Rahma Widhiasari

Satus Mutu Air Hilir Ciliwung: Tercemar Berat

Oleh:  Rahma Widhiasari

Sumber: http://rahmawidhiasari.blogspot.com/  

Daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung yang terbentang dari hulu (Puncak-Bogor) hingga hilir (Ancol-Jakarta) tidak seluruhnya tercemar. Kita masih dapat menyeksikan pemandangan indah dan menyejukan ketika menyusuri bagian hulu Sungai Ciliwung. Namun, tidak demikian dengan hilir sungai yang telah berstatus tercemar berat. Air Sungai Ciliwung sudah tidak dapat dimanfaatkan lagi sama sekali. Di bagian hulu, yakni di wilayah Telaga Warna, status mutu air Kelas I, yaitu peruntukan sebagai air baku air minum. Sedang untuk wilayah Attaawun-Cisarua berada pada status mutu kelas II, yakni dapat dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar, rekreasi, mengairi tanaman dll. Wilayah Jemabatan Gadog-Kelapa Dua berstatus Kelas III, yakni dapat dimanfaatkan untuk pengairan pertanian. Namun hilir Ciliwung, mulai dari Manggarai memiliki status mutu Kelas IV, yang hanya dapat dimanfaatkan untuk mengairi tanaman.

DAS Ciliwung memiliki fungsi sosial dan fungsi ekonomi. DAS Ciliwung yang melintasi wilayah Ibu Kota DKI Jakarta, adalah DAS urban yang memiliki arti strategis dalam konteks nasional, yang perlu dikelola secara khusus. Panjang sungai Ciliwung dari bagian hulu sampai muara di pesisir pantai Teluk Jakarta adalah ± 117 km, dengan luas DAS Ciliwung sekitar 347 km2. DAS Ciliwung mencangkup areal mulai dari bagian hulu di Tugu Puncak (Kabupaten Bogor) sampai hilir di Teluk Jakarta (Jakarta Utara). Kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung, baik di hulu maupun di hilir tergolong sangat intensif dan pertambahan penduduk cukup tinggi. Perubahan penggunaan lahan, serta bertambahnya kawasan pemukiman di Ciliwung hulu, tengah dan hilir berimplikasi terhadap masuknya polutan ke DAS Ciliwung. Sumber pencemaran Sungai Ciliwung berasal dari limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah peternakan.

Hasil pemantauan BPLHD (2007) menyebutkan bahwa kualitas air Sungai Ciliwung semakin tercemar pada bagian hilir yaitu berada pada kondisi kelas IV, artinya air Sungai Ciliwung hanya dapat digunakan untuk menyiram tanaman. Hasil penelitian Fadly (2007) mengungkapkan bahwa kualitas air Sungai Ciliwung yang memasuki Kota Jakarta yaitu bagian hilir telah berada di atas baku mutu air sungai KepGub DKI Jakarta No.582 Tahun 1995, yang artinya telah tercemar. Keberagaman kegiatan di sepanjang DAS Ciliwung menimbulkan buangan limbah, yang berkontribusi terhadap peningkatan beban pencemaran di DAS Ciliwung. Badan air memiliki kemampuan untuk memulihkan diri dan melakukan pembersihan diri pada batasan tertentu. Namun beban pencemaran yang terus meningkat dapat menurunkan kemampuan pemulihan diri sungai. kemudian berdampak pada penurunan kualitas air sungai. Berdasarkan uraian di atas, pokok permasalahan adalah belum adanya penelitian yang menyeluruh tentang daya tampung di DAS Ciliwung dari hulu ke hilir, padahal kualitas air DAS Ciliwung semakin tercemar dan mengarah pada peningkatan beban pencemaran. Oleh karena itu, perlu diketahui informasi mengenai daya tampung beban pencemaran di DAS Ciliwung, yang kemudian menjadi dasar pengelolaan pengendalian pencemaran di DAS Ciliwung..

Widhiasari (2010), dengan pendekatan penelitian kuantitatif-deskriptif melakukan penelitian terhadap DAS Ciliwung. Metode kuantitatif deskriptif yaitu penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi. Tujuannya adalah untuk menjelaskan kondisi kualitas air, beban pencemaran dan daya tampung di DAS Ciliwung, serta mendeskripsikan program pengendalian pencemaran di DAS Ciliwung. Metode yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian adalah dengan perhitungan metode Streeter Phelps (Program QUAL2Kw), observasi lapangan, wawancara mendalam dan studi literatur. Penelitian menggunakan data sekunder, berupa data kualitas air sungai (tahun 2004-2008), data hidrologi sungai, data curah hujan dan data sosial ekonomi. Serta data primer berupa hasil wawancara mendalam, dengan nara sumber yang mewakili pengelola DAS Ciliwung, kepala desa dan lurah di wilayah sekitar DAS Ciliwung. Penelitian dilakukan pada Desember 2009 hingga Februari 2010.

Hasil penelitian Widhiasari (2010) menunjukan, bahwa kondisi kualitas air berdasarkan parameter dissolved oxygen (DO), biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) di sepanjang Sungai Ciliwung dari tahun 2004 hingga 2008 fluktuatif. Kualitas air Sungai Ciliwung, dari hulu ke hilir menunjukkan trend semakin menurun, semakin ke hilir kualitas air semakin tercemar.

Pada tahun 2008, konsentrasi DO di hulu (Atta’awun-Katulampa) adalah 6,13-10,29 mg/l; di tengah (Katulampa-Kelapa Dua) konsentrasi DO adalah 3,85-9,19 mg/l dan di hilir (Kelapa Dua-PIK) konsentrasi DO adalah 0,56-3,05 mg/l. Oksigen terlarut semakin kecil konsentrasinya di hilir, dan konsentrasi BOD semakin besar di hilir. Pada tahun 2008, konsentrasi BOD di hulu (Atta’awun-Katulampa) adalah 1,8-4,8 mg/l; di tengah (Katulampa-Kelapa Dua) konsentrasi BOD adalah 2,6-14,15mg/l dan di hilir (Kelapa Dua-PIK) konsentrasi DO adalah 7,9-19,58 mg/l.

Penelitian Widhiasari (2010), dalam perhitungan menggunakan program QUAL2Kw, Sungai Ciliwung dibagi menjadi 6 segmen. Hasil analisa menunjukan bahwa beban pencemaran tertinggi berada di segmen 6 (Manggarai-Ancol) yakni sebesar 20.674,66 kg/jam. Beban pencemaran Sungai Ciliwung, dari hulu ke hilir meningkat signifikan di bagian hilir yakni di wilayah DKI Jakarta. Dari hasil analisa menggunakan program QUAL2Kw profil DO di hulu Sungai Ciliwung memperlihatkan bahwa konsentrasi DO mencapai 7-9,8 mg/l, kemudian mulai menurun di bagian tengah (2-6,8mg/l) dan di hilir konsentrasi DO (0,30-2 mg/l). Dari hasil simulasi daya tampung beban pencemaran BOD, didapatkan bahwa keenam segmen tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas I dan kelas II. Pada baku mutu kelas III, segmen 1 dan segmen 2 masih memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas III, pada ruas Kedung Halang-Pondok Rajeg (segmen 3), telah melampaui daya tampung untuk baku mutu kelas III. Jadi, segmen 3 hingga segmen 6 sudah tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas III. Jika konsentrasi BOD dibandingkan dengan baku mutu kelas IV, segmen 1 hingga segmen 5 masih memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas IV. Ruas Kwitang-Ancol (segmen 6), telah melampaui daya tampung untuk baku mutu kelas IV. Jadi, segmen 6 sudah tidak memiliki daya tampung untuk baku mutu kelas IV. Kondisi ini didukung dengan nilai konstanta aerasi di bagian hilir semakin kecil, yang artinya kemampuan pulih diri badan air di bagian hilir pun semakin kecil. Program pengendalian beban pencemar dapat dilakukan melalui pengelolaan badan air dan pengelolaan lingkungan. Pengelolaan media berfokus pada perbaikan kualitas air sungai dengan melakukan reduksi BOD, meningkatkan debit air serta meningkatkan suplai oksigen. By. Rahma Widhiasari

Ciliwung Yang Semakin Tercemar

Oleh:   Rahma Widhiasari – Pemerhati Lingkungan Sungai; 

Sumber: http://kabarjakarta.com/ 28 September  2011

Beragam penelitian dan program telah dilakukan untuk Sungai Ciliwung. Namun, sungai ini tetap saja tercemar, bahkan hilir sungai telah berstatus tercemar berat. Tulisan ini sedikit mengulas tentang pencemaran di Sungai Ciliwung. Daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung adalah salah satu DAS di Indonesia, yang merupakan Urban Watershed yang perlu dikelola secara khusus (Kusmana, 2003). DAS Ciliwung memiliki luas areal 347 km2, mencangkup areal mulai dari bagian hulu di Tugu Puncak, Kabupaten Bogor sampai hilir Teluk Jakarta sebagai outlet DAS. Kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung, baik di hulu maupun di hilir tergolong sangat intensif dan pertambahan penduduk cukup tinggi. Kegiatan pembangunan di DAS Ciliwung cenderung mengarah pada penurunan kemampuan lahan dalam meresapkan air, dan melindungi tanah dari erosi, yang pada akhirnya menyebabkan tingginya limpasan permukaan dan erosi.

Selain air, Sungai Ciliwung juga mengalirkan sedimen dan polutan dari hulu hingga ke hilir.  Menurut Kusmana (2003), sumber pencemaran Ciliwung berasal dari limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah peternakan. Beban  pencemaran terbesar pada parameter BOD berasal dari permukiman penduduk, terutama di daerah hulu (39 persen) dan di daerah hilir (84 persen). Adapun di daerah tengah yang melalui Kota Bogor sampai Kota Depok, sumber pencemaran didominasi oleh industri. Masing-masing sebesar 64 persen dan 86 persen. Industri yang dimaksud antara lain industri tekstil di daerah Tajur, industri kecil makanan dan minuman, serta pabrik tahu tempe yang umumnya berada di tepi sungai atau anak-anak sungai.

Pola penggunaan lahan di wilayah DAS Ciliwung masih didominasi oleh lahan pertanian dan perkebunan, yaitu 61% dari luas DAS Ciliwung hulu dan 73% DAS Ciliwung tengah (Kusmana, 2003). Kawasan hutan yang terdapat di DAS Ciliwung hulu seluas 5.310 ha. Menurut Kusmana (2003), terjadi penurunan luas hutan di Ciliwung pada tahun 2003, yakni di Ciliwung Hulu seluas 2 ha, perkebunan seluas 35 ha, sawah seluas 62 ha, dan lahan tegalan seluas 152 ha, penurunan penggunaan lahan serupa didapati juga di kawasan tengah. Peningkatan mencolok terjadi pada luas kawasan pemukiman, baik di Ciliwung Hulu maupun Tengah, masing-masing meningkat dari 255 ha menjadi 506 ha untuk Ciliwung Hulu dan dari 1.147 ha menjadi 1.961 ha untuk Ciliwung Tengah, atau peningkatan masing-masing sebesar 98% dan 71% yang diperoleh terutama dari pengurangan luas sawah dan tegalan, baik di kawasn hulu maupun tengah.

Perubahan penggunaan lahan, serta bertambahnya kawasan pemukiman di Ciliwung Hulu dan Tengah berimplikasi pula terhadap masuknya polutan ke DAS Ciliwung. Menurut Kusmana (2003), sumber pencemaran Ciliwung berasal dari limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah peternakan. Polutan atau sumber pencemaran yang masuk dari bagian hulu dan tengah DAS Ciliwung terus dialirkan hingga ke bagian hilir atau merupakan muara Sungai Ciliwung yang menuju estuari Teluk Jakarta.

Melalui pergerakan air sungai, aliran air larian (direct runoff), dan aliran air tanah (ground water flow), nutrien, bahan pencemar dan sedimen dari daratan akan terakumulasi di muara sungai. Sumber limbah dari kegiatan di darat, terutama dari kegiatan rumah tangga dan pertanian yang sebagian besar mengandung bahan organik (Dwiyanti, 2009). Proses penguraian bahan organik tersebut akan menghasilkan unsur hara, diantaranya adalah nitrogen (N) dan fosfor (P). Kandungan limbah organik yang berlebihan akibat pembuangan limbah organik di perairan estuari yang melebihi kemampuan daya asimilasi estuari tersebut akan menyebabkan pencemaran estuari dan menimbulkan pengkayaan nutrien berlebihan (eutrofikasi). Akumulasi beban pencemaran DAS Ciliwung yang mengalirkan limbah organik berpotensi menimbulkan pengkayaan nutrien berlebihan di Muara Sungai Cliwung (estuari Teluk Jakarta)

Keterkaitan antara dampak yang ditimbulkan oleh polutan dari Sungai Ciliwung terhadap muara Sungai Ciliwung, merupakan akibat adanya interaksi wilayah darat dengan sistem sungai, maka timbul pemikiran untuk melakukan penelitian daya tampung beban pencemaran di Muara Ciliwung. Distribusi limbah organik nitrogen (N) dan fosfor (P) dari sistem aliran Sungai Ciliwung berpengaruh terhadap proses pengkayaan unsur hara (eutrofikasi) di muara Sungai Ciliwung. Wilayah kajian dalam penelitian ini adalah Muara Sungai Ciliwung, yang merupakan bagian dari perairan estuari Teluk Jakarta, serta DAS Ciliwung dari hulu hingga muara di Teluk Jakarta meliputi luas area 347 km2. Panjang sungai utamanya adalah 117 km. DAS Ciliwung dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu: hulu, tengah dan hilir, masing-masing dengan stasiun pengamatan arus sungai di Bendungan Katulampa Bogor, Ratujaya Depok dan Pintu Air Manggarai Jakarta Selatan (Pawitan, 2002).

Keberagaman kegiatan di sepanjang Sungai Ciliwung menimbulkan beban pencemaran yang akan terakumulasi di muara Sungai Ciliwung. Akumulasi beban pencemaran organik dari Sungai Ciliwung berkontribusi terhadap terjadinya pengayaan unsur hara (eutrofikasi) di Muara Sungai Ciliwung. Dengan demikian, hasil penelitian beban pencemaran DAS Ciliwung serta daya tampung DAS Ciliwung dapat dimanfaatkan untuk menyusun program pengelolaan sungai dalam rangka pengendalian pencemaran, termasuk pengendalian eutrofikasi di Muara Ciliwung (estuari Teluk Jakarta).

Peningkatan bahan pencemar, terutama bahan pencemar organik  terus masuk ke badan air daerah aliran Sungai Ciliwung. Beban pencemaran organik, terutama berasal dari limbah pertanian, limbah peternakan dan limbah rumah tangga. Limbah organik terurai menjadi senyawa nitrogen (N) dan fosfor (P) sebagai unsur hara, yang dalam jumlah berlebih mengakibatkan eutrofikasi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian mengenai beban pencemaran Sungai Ciliwung yang kemudian menjadi dasar bagi penyusunan perencanaan pengelolaan sungai khusunya untuk pengendalian pencemaran bahan organik N dan P.  Sehingga sumber beban pencemaran yang masuk ke aliran sungai tidak melebihi kemampuan asimilasi sungai.

Peningkatan konsentrasi nitrogen (N) dan fosfor (P) di daerah aliran Sungai Ciliwung berpotensi menimbulkan eutrofikasi di muara Sungai Ciliwung. Saat ini, beberapa ruas Ciliwung telah tercemar berat, bahkan beban pencemarnya telah melampaui daya dukung. Beban pencemar di segmen V (Kelapa Dua-Manggrai) dan segmen VI (Manggarai-Ancol) Sungai Ciliwung telah telah melebihi kemampuan sungai untuk memulihkan diri. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: