Setia Lesmana

Kali Ciliwung, Tak Putus Dirundung Limbah 

Oleh: Setia Lesmana

Sumber: http://bapanabilly.blogspot.com/ 28 Desember 2006 

“Pak mana sembakonya? Mi Instan juga tak apa-apa deh.” Teriakan nyaring itu berkali-kali dilontarkan sejumlah ibu-ibu yang sedang mencuci di pinggiran Kali Ciliwung. Kamis (28/12) pagi. Ketika itu, Pembaruan bersama wartawan dari berbagai cetak dan elektronik mengikuti field trip menyusuri Kali Ciliwung menggunakan perahu karet bersama Induk Pelaksana Induk Pelaksana Kegiatan Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (IPK PWSCC).

Dan siang itu di tepian Ciliwung cukup banyak perempuan yang sedang asyik mencuci alat-alat rumah tangganya dengan air yang berwarna kuning kecoklatan. Di sisi rakit lainnya seorang ibu ditemani anaknya sedang membilas baju. Sang anak asyik bermain-main air sembari berteriak kegirangan ketika menemukan ikan sapu kecil di sela-sela potongan bambu. Tak jauh dari rakit, sejumlah anak-anak usia SD asyik mandi sambil bermain dan melompat dari pinggiran kali.

Sementara di ujung rakit seorang perempuan muda berjongkok membuang hajat dengan pintu bambu yang menutupi separuh badannya. Sesekali mereka berbicara satu sama lain. Tak lama datang seorang pemuda dan membuang kantong plastik hitam berisi sampah. Kantong plastik segera melaju dan berbaur dengan kotoran manusia yang baru saja “dilepaskan”dari pemiliknya. Di seberang sungai beberapa pemuda duduk di tepian sungai sambil bernyanyi dengan didiringi petikan gitar seorang dari mereka.

Pemandangan seperti itu telah menyatu dengan keseharian Ciliwung. Mereka seakan tak peduli dengan kondisi air sungai yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi, sekalipun hanya urusan membuang hajat. Bahkan menurut Inah (37), warga Kampung Pulo, Jakarta Timur yang saat itu sedang mencuci baju, kondisi air kuning kecokelatan tersebut masih bisa disebut “layak”. Menurut Inah, jika air hanya sekedar kuning kecokelatan, warga masih menggunakannya untuk mandi. Nanti kalau sudah cokelat sekali barulah mereka mandi di MCK.

Kali Ciliwung yang membelah Jakarta airnya tercemar berat. Namun meski kotor dan keruh, Ciliwung telah menjadi bagian dari kehidupan warga bantaran sungai. Kecuali minum, warga menggunakan air sungai untuk banyak hal. Pembaruan pun sempat melihat beberapa orang pemuda sedang membersihkan kedele yang menjadi bahan baku tahu/tempe. Di sepanjang tepian Ciliwung memang banyak dijumpai pengrajin tempe dan mereka memanfaatkan air Ciliwung untuk membuat tahu/tempe. Ehm, gurih bukan?

Sumber Pencemaran

Kondisi sungai yang tercemar dan begitu keruh bukan tanpa sebab. Buangan limbah rumah tangga, limbah industri besar dan kecil antara lain menjadi penyebab. Menurut data IPK PWSCC, setidaknya sepuluh industri yang membuang limbahnya ke sungai ini mulai dari percetakan sampai elektronik. Ditambah lagi industri kecil yang memanfaatkan air Ciliwung. Terdapat lebih dari 5.000 industri kecil skala rumah tangga di sepanjang Ciliwung.

Berdasarkan pengamatan saat menyusuri Sungai Ciliwung dari Gudang Peluru hingga Pintu Air Manggarai, Kamis (28/12), sampah plastik memenuhi sungai, baik di tepi maupun tengah sungai. Bahkan, di sepanjang aliran sungai cukup banyak lokasi pembuangan sampah dengan lahan cukup luas. Beberapa orang bersepeda motor maupun berjalan kaki melemparkan sampah yang dibungkus kantong plastik. Tidak hanya sampah plastik yang ditemui di sana. Kasur, kursi kayu, bantal, kain perca, dan tas bekas bisa ditemui dengan mudah. Tentu saja sampah di sepanjang aliran sungai dan di tempat-tempat pembuangan liar akan menghambat arus air karena lokasinya menjorok ke badan kali.

Menurut Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Rama Budi, persoalan sampah di Kali Ciliwung sudah sangat kompleks. Ciliwung sudah di penuhi sampah sejak dari bagian hulu (Bogor) hingga ke bagian hilir (Jakarta). Terlebih lagi banyak kaum miskin yang tinggal di bantaran kali yang bisa dipastikan membuang limbah domestiknya ke Kali Ciliwung. Menurut Rama tak kurang dari 600 meter kubik sampah dibuang ke Kali Ciliwung setiap harinya.

Persoalan Kali Ciliwung bukan hanya limbah. Area sempadan sungai atau bantaran Kali Ciliwung pun banyak dipenuhi bangunan pemukiman warga. Dari pemukiman kumuh hingga bangunan permanen yang berdiri kokoh memenuhi bantaran kali yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau. Pemukiman padat mulai nampak sejak di kawasan Bidara Cina, Jatinegara tak jauh dari Jalan MT Haryono hingga menjelang Pintu Air Manggarai. Bangunan-bangunan itu bukan hanya ‘mencaplok’ area sempadan kali namun banyak yang menjorok hingga ke badan Kali Ciliwung.

Menurut Pemimpin Sub Pelaksana Wilayah Tengah Ciliwung-Cisadane, Sihar Simanjuntak, batas garis sempadan sungai sesuai undang-undang 30 meter dari tepi sungai saat debit air normal. Untuk Kali Ciliwung setidaknya adalah 25 meter ke kiri dan 25 meter ke kanan, jika ditarik garis dari titik tengah sungai, ujarnya.

Banyaknya sampah dan juga bangunan di bantaran kali membuat air Kali Ciliwung tertahan terutama di saat debit meningkat saat musim hujan seperti saat ini. Dalam kondisi normal, jelasnya, debit air Kali Ciliwung sekitar 200 meter kubik per detik, sedangkan saat air pasang tinggi debitnya bisa mencapai 450 meter kubik per detik, ujarnya. Sementara jika musim kemarau tiba, debit air Kali Ciliwung surut hanya berkisar 50-100 meter kubik per detik.

Tak Beda

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Naik Sinukaban mengatakan, sebenarnya curah hujan itu hampir sama sejak zaman dulu sampai sekarang. Total hujan selama setahun dalam DAS Ciliwung tidak banyak berbeda. Jumlahnya itu di wilayah Bogor, misalnya, berkisar 4.000 milimeter per tahun. Di wilayah lain yang masih masuk kawasan DAS Ciliwung jumlahnya di bawah 4.000. Di Cisarua atau Citeureup misalnya, antara 3.000 sampai 3.500 milimeter per tahun. Makin ke hilir, tentu makin berkurang.

Penyebabnya tidak lain adalah pengelolaan DAS Ciliwung yang sudah tidak lagi memenuhi kaidah-kaidah konservasi lahan. Air hujan tadi, yang totalnya 3.500-4.000 milimeter per tahun itu, sebagian besar masuk ke dalam tanah. Hanya 15 persen mengalir di permukaan tanah, lalu masuk ke sungai.

Artinya, 85 persen air hujan mengisi air tanah, yang nantinya akan dikeluarkan pelan-pelan, pada musim kemarau. Jadi, sungai masih mengalir meski musim kemarau. Menurut Sinukaban, tahun 1950-an, Sungai Ciliwung maupun Sungai Cisadane masih banyak air walaupun pada musim kemarau.

Lebih lanjut Sinukaban mengatakan, Pemerintah DKI Jakarta dan Jawa Barat harus bersama-sama menangani masalah DAS Ciliwung. Kedua Pemda bersama IPK PWSCC harus bersama-sama mengatasi banjir di hilir (Jakarta) dengan prinsip utama meningkatkan infiltrasi (penyusupan) air di daerah hulu DAS Ciliwung, yakni daerah atas dari Jakarta. Itu dilakukan baik di kawasan Gunung Gede, maupun di kawasan Cisarua, Ciawi, Bogor, Cibinong, mapun Depok. Wilayah DAS Ciliwung ini sekitar 130 ribu hektare. Jadi, daerah yang menampung air hujan yang akan mengalir ke Sungai Ciliwung itu sekitar 130 ribu hektare.

Sinukaban setuju dengan upaya normalisasi Kali Ciliwung. Oleh karena janji Pemprov DKI untuk merelokasi warga yang bermukim di bantaran kali Ciliwung ke tempat yang lebih layak dan manusiawi harus cepat diwujudkan.

Normalisasi Kali Ciliwung Terhambat Pembebasan Lahan

Oleh: Setia Lesmana

Sumber: http://bapanabilly.blogspot.com/   29 Desember 2006

[JAKARTA] Program normalisasi Kali Ciliwung sepanjang 16 km mulai dari Jalan TB Simatupang hingga Manggarai, Jakarta Selatan hingga kini terhambat sulitnya pembebasan lahan di area sempadan sungai. Sejak dicanangkan tahun 1996, normalisasi baru terealisasi sepanjang 1.150 meter mulai dari sempadan sungai di kawasan gudang peluru, Jatinegara Jakarta Timur hingga Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Hal itu dikatakan Pemimpin Sub Pelaksana Wilayah Tengah Ciliwung-Cisadane, Sihar Simanjuntak, saat field trip menyusuri Kali Ciliwung, Kamis (28/12).

Menurut Sihar, warga menolak ganti rugi sesuai nilai jual obyek pajak (NJOP) meski tanah yang mereka tempati merupakan area sempadan sungai yang tidak boleh ditinggali. Berdasarkan Undang-Undang No 7/2003 tentang Sumberdaya Air, batas garis sempadan sungai adalah 30 meter dari pinggir sungai pada saat debit air sungai normal. Sihar menyontohkan, di Jl Slamet Riyadi, Bukit Duri tak jauh dari komplek perguruan PSKD, batas garis sempadan sungai tepat di pinggir Jl Slamet Riyadi. Namun kenyataannya, didaerah tersebut berdiri 2-3 lapis rumah.

Berdasarkan pantauan Pembaruan, di sepanjang aliran Kali Ciliwung, khususnya dari Kalibata hingga Manggarai saat ini area sempadan sungai sudah dipenuhi rumah-rumah warga. Bahkan sebagian dari rumah-rumah tersebut berbentuk bangunan permanen dengan cor beton yang kokoh. Di pinggiran Jalan Jatinegara Barat misalnya, bukan hanya bangunan permanen milik warga, juga terdapat bangunan pertokoan dan perkantoran yang berdiri persis di bibir sungai.

Bahkan di beberapa lokasi di Kampung Melayu dan Bukit Duri terdapat bekas timbunan sampah yang mengeras menjadi gundukan tanah yang menjorok ke tengah sungai. “Beberapa rumah yang ada, juga didirikan diatas lahan yang dulunya merupakan bekas gundukan sampah,” ujar Sihar.

Tak ayal lagi, disaat debit air meningkat seperti saat musim hujan sekarang ini, air pun tertahan oleh bangunan-bangunan yang menjorok ke bibir sungai bahkan ke tengah sungai tersebut. Air sungai yang tertahan itu selanjutnya akan menerjang kawasan perkampungan di pinggiran sungai dan mengakibatkan banjir di saat debit air meninggi, ujar Kepala Induk Pelaksana Kegiatan Pengembangan Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (IPK PWSCC), Pitoyo Subandrio. Pitoyo menyontohkan beberapa kawasan seperti Condet, Gang Arus Cawang, Bidara Cina, Kampung Melayu, dan Bukit Duri.

Pernyataan tersebut di benarkan Ketua RT 01/rw 13 Kampung Melayu, Hamzah. Menurut lelaki yang turun temurun tinggal di kawasan tersebut, bantaran sungai mulai dipenuhi pemukiman warga pendatang sejak tahun 1980-an. Akibatnya setiap kali datang musim hujan, kawasan tersebut selalu dilanda banjir. Rumah Hamzah yang lokasinya diatas area sempadan sungai pun kini ikut kebanjiran karena air bisa naik setinggi dua meter.

“Banyaknya bangunan di bantaran sungai membuat aliran air tertahan dan menerjang kawasan di sekitar pinggiran sungai. Padahal dulu kami tidak pernah terkena banjir,” ujar Hamzah. Kondisi Kali Ciliwung diperparah oleh besarnya volume sampah yang memenuhi badan sungai. Aneka jenis sampah domestik dan sampah padat seperti puing bangunan hingga kasur, tampah memenuhi badan sungai saat Pembaruan menyusuri Kali Ciliwung bersama rombongan wartawan dan pimpinan IPK PWSCC kemarin.

Menurut Pitoyo, normalisasi Kali Ciliwung sebetulnya mendesak untuk dilakukan. Fungsi sungai selama ini sudah sangat terganggu oleh kegiatan manusia yang telah ‘memperkosa’ Kali Ciliwung sedemikian rupa. “Mengandalkan BKT saja tidak cukup untuk mengendalikan banjir di Jakarta, normalisasi Kali Ciliwung merupakan hal penting yang juga harus dilakukan,” ujarnya. Idealnya menurut Pitoyo, normalisasi di lakukan sepanjang 16 km dari Jl. TB Simatupang hingga kawasan Manggarai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: