Surianto Kartaatmadja

Derita dan Romantisme Sungai Ciliwung

Oleh: Surianto Kartaatmadja

Sumber: http://green.kompasiana.com/ 07 April 2011 

SUNGAI itu cukup dikenal dengan nama Ciliwung. berawal dari kaki Gunung Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Entah bagaimana riwayatnya pada zaman dahulu kala, sampai orang menamakannya Sungai Ciliwung. Tetapi yang pasti, pada beberapa tempat, sungai ini juga kondang dengan sebutan Sungai Cikini, Sungai Kali Pasir, atau Sungai Pintu Air.

ALURNYA yang membelah sebagian kota Jakarta, sedari dahulu diakui sangat berjasa terutama bagi para pedagang bambu. Dari pinggiran kebun bambu sepanjang Kabupaten Bogor, lonjor demi lonjor bambu ditebang, lalu dihanyutkan dan kemudian ditampung di sekitar daerah Manggarai. Namun. belakangan ini perdagangan bambu tak lagi semeriah “tempo doeloe”. Pasalnya kini orang lebih suka pakai pipa besi atau dolken untuk penyangga coran bangunan-bangunan bertingkat.

MAKLUM deh, jaman sekarang ‘kan udah berobah, jadi bisnis bambu buat keperluan bangunan ikut ’seret’ alias lesu karena udah dimodernisasi. Paling banter masih diandelin buat getek (rakit) atawa buat pager rumah di kampung-kampung,” tutur Haji Sapi’i, mantan bandar bambu di kawasan Manggarai-Pasar Rumput, Jakarta Pusat. Dia mengaku sempat naik haji sampai tiga kali berturut-turut hanya karena jasa bambu ini.

“JADI, haji saye ini bukannya ‘haji patok merah’, lho. Artinye, kalo dulu orang Betawi naik haji umumnya karena jual tanah yang dipatok merah (untuk pembebasan jalan), nah, ane tergolong si haji bambu,” lanjut Pak Sapi’i seraya tersenyum memamerkan deret giginya yang ompong.

MENURUT pak haji itu pula, pada zaman revolusi fisik tempo dulu, Sungai Ciliwung punya riwayat yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Betapa tidak? Lewat arus sungai itu pernah mayat serdadu Belanda, Gurkha, Jepang, dan juga serdadu Kiblik (Republik), dihanyutkan. Bila air meluap, maka tak ayal lagi mayat-mayat serdadu itu pun saling tersangkut di pagar-pagar rumah penduduk!

CERITA banjir Sungai Ciliwung memang sudah sering terdengar, pun semenjak tahun 1978. Babah Areng dan Bang Sidup yang tinggal di kawasan Kernolong, juga punya cerita sepadan dengan penuturan kisah Pak Sapi’i. Cuma kalau Haji Sapi’i lebih hafal untuk kawasan Manggarai-Jatinegara, maka si Babah Areng dan Bang Sidup lebih kental dengan kawasan Kernolong-Kali Pasir.

MEREKA sama-sama berpendapat, bahwa sejak dulu Sungi Ciliwung selalu jadi andalan untuk keperluan hidup sehari-hari masyarakat menunaikan hajatnya. Mulai dari cuci pakaian, cuci beras, cuci berbagai perabotan rumah tangga, mandi dan gosok gigi, sampai buang “ampas perut”!

PERNAH suatu ketika seorang tenaga ahli PKMD berjalan-jalan menyusuri lorong daerah Kali Pasir. Nyonya Hopkins, sang tenaga ahli dari Unicef itu, langsung ternganga dan heran bukan kepalang. Bukankah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) memakai sungai itu untuk pembuangan limbahnya? Dan juga, bukankah bermacam-macam cairan (limbah) bekas pengobatan sampai air untuk “mencuci mayat” tersakur ke sungai itu pula? Malah lepas dari RSCM masih bersambung lagi dengan Rumah Sakit Cikini, yang setidaknya juga melampiaskan aneka macam cairan kotorannya ke sungai tersebut. Beberapa puluh meter dari situ, yakni di belakang Pusat Kesenian dan Kebudayaan Taman Ismail Marzuki (TIM) – tempat mangkalnya para pembesar kebudayaan negeri ini, tak luput pula setiap harinya para pemulung sampah mencuci barang-barang bekas yang ditemukannya, sekaligus berbaur dengan penduduk yang menggunakan sungai itu setiap hari.

SEBELUM tersedianya MCK, bilik-bilik permanen yang nangkring berderet di sepanjang sungai itu tak ubahnya mirip kendaraan pawai: “helikopter terapung”, begitu istilah Gubernur Wiyogo. Di sanalah para wanita, lelaki, tua-muda, sampai kakek-nenek dan bayi asyik mandi, gosok gigi, mencuci beras dan pakaian, hingga buang “hajat besar”, semua hiruk-pikuk melakukan rutinitas di sungai itu.

KEADAAN tersebut tentu saja merupakan suatu panorama yang sangat “menakjubkan”, terutama bagi seorang peneliti asing seperti Nyonya Hopkins dari Amerika ini. Sehingga ia pun sempat berujar, “Entah virus dan bakteri macam apalagi yang tak ada di sungai itu?” Uniknya, tak jauh dari lokasi itu mencuat sebuah hotel berbintang, yang tentunya “plong” menikmati pemandangan di seputar sungai tersebut. Nyonya Hopkins pernah mengatakan, dia amat mengagumi panorama senja hari di kawasan Kali Pasir. Rona lembayung yang membias kemerahan ketika sang mentari terbenam adalah latar belakang yang indah sekali.

KETIKA ditanya, mengapa PKMD tak menjadikan Kali Pasir sebagai daerah program, Nyonya Hopkins bertanya balik, “Mengapa belum pernah ada lembaga kesehatan atau swadaya masyarakat yang mengusulkannya pada Unicef?” Menurut salah seorang dari Yayasan Indonesia Sejahtera, kalau saja Kali Pasir ini dijadikan daerah program PKMD tentu akan sangat menarik. Tentunya akan lebih menarik lagi kalau yang masuk itu program “kelestarian lingkungan”.

SEPERTI kata Nyonya Hopkins waktu itu, sungai adalah tempat “reuni”-nya milyaran baksil maupun jasad renik mikroskopis, yang pastinya mudah menyusup ke tubuh manusia di sekitarnya. Lantas, apakah tidak menarik bagi kalangan cendekiawan bidang kesehatan maupun para pemerhati lingkungan untuk mencoba mengorek masalah ini?

BARANGKALI bagi para peneliti maupun cendekiawan sudah mengetahui, bahwa penghuni daerah Kali Pasir itu terkenal “keangkerannya”, terlebih lagi bagi segenap aparat keamanan, yang dulu dikenal dengan istilah TEKAB (Tim Keamanan Anti Bandit). Dan memang bagi sebagian besar penduduk DKI khususnya Jakarta Pusat, nama daerah “Kali Pasir” punya kharisma tersendiri. Sebab, di daerah inilah tempat bermukimnya berbagai macam manusia dengan segala profesinya yang sungguh mencengangkan!

PENGHUNI daerah itu: mulai dari “hostes”, dukun beranak, kondektur, tukang palak, para pelajar/ mahasiswa, orang-orang film, wartawan, artis penyanyi, hingga para pengedar nerkotika dan maling! Mereka berbaur jadi satu menempuh kehidupan Jakarta yang keras. Tak heran bila daerahnya kemudian jadi tempat “mangkal” para spionase alias TEKAB. Peristiwa perkelahian, pengeroyokan, bantai-membantai, sudah bukan berita aneh lagi di sana.

BEGITU pun bila malam minggu tiba, seakan bersepakat mereka berduyun-duyun mengunjungi Teater Terbuka TIM. Tempat inilah resmi jadi “surga” mereka. Segala macam minuman keras mulai dari cap “AO” (anggur Orangtua), cap Tikus, TKW, bahkan sampai alkohol murni dicampur aduk dengan Coca-cola, semua meluncur ke tenggorokan. Mereka asyik larut bersama-sama, begadang semalam suntuk sambil diiringi musik dangdut yang menghentak-hentak. Tetapi syukurlah, keresahan masarakat baik-baik di sekitar daerah tersebut terobati manakala dari waktu ke waktu citra Kali Pasir kembali normal dan membaik sampai sekarang ini.

MALAH haru-birunya Kali Pasir tak sedikit pula memberi inspirasi kepada para seniman yang mangkal di sana. Berbagai film eksperimen pendek, objek lukisan, esai, sastra, banyak dicipta berkat “ilham” Kali Pasir. Getar hidup di sana memang sungguh amat memukau, lengkap dengan sejumlah kisah misteri maupun romantisme-nya.

TIDAK pernah ada kabar atau berita kematian yang bersumber ‘visum et repertum’ bahwa “si Anu meninggal karena korban kontaminasi air Sungia Ciliwung”. Kabar kematian di sana lebih sering terdengar sebagai akibat “perkelahian” atau di “DOR” para TEKAB terhadap bandit-bandit yang melawan hukum. Dan, tak pernah pula terdengar lahir “bayi cacat”, sebagai akibat kontaminasi atau polusi lingkungan.

PADAHAL kumuhnya lingkungan dan pengapnya udara di sana sungguh “a’uzubillah”! Pemanfaatan halaman rumah dengan tanaman “apotik hidup”, tentulah jangan ditanya. Pekarangan rumah begitu terbatas dan amat jarang ditanami pepohonan.

KESADARAN masyarakat akan arti penting kesehatan lingkungan agaknya masih perlu terus dicambuk, demi kenyamanan hidup mereka sendiri. Sekalipun gebrakan “Program Kali Bersih” (Prokasih) telah lama bergema ke seluruh penjuru Tanah Air, namun tanpa turut didukung oleh kesadaran dan kepedulian masyarakatnya sediri toh hasilnya akan sia-sia. Begitu pula dengan riwayat Sungai Ciliwung, lengkap dengan sejumlah “derita” dan “romantisme”-nya, dimana hingga kini masih menanggung beban pencemaran akibat ulah manusia yang memperlakukan sumber alam ini dengan semena-mena.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: