Tim Kajian Tata Ruang

Pentingnya Keterlibatan Masyarakat dalam Penataan Kawasan Tepi Sungai

Sumber: http://www.tataruangindonesia.com/  17 Maret 2012

Kawasan Pemukiman Bantaran Sungai Ciliwung

Penataan kawasan tepi sungai harus dilakukan bersama masyarakat dan seluruh stakeholder yang terkait. Keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam menata kawasan tepi sungai.

Saat ini, banyak pelanggaran yang terjadi dalam pemanfaatan kawasan tepian sungai, seperti pembangunan yang melanggar sempadan sungai sehingga penanganannya perlu dilakukan secara persuasif dengan masyarakat. Berdasar keadaan tersebut penataan kawasan tepian sungai sebagai kawasan perlindungan setempat perlu dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

Pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat tersebut dikarenakan terbatasnya ruang di dalam kota. Penanganan kawasan tepian sungai meliputi proses struktural yang berbentuk pembangunan fisik seperti tanggul, selain itu terdapat pula proses non-struktural yang meliputi pelibatan masyarakat dalam memahami penataan sungai.

Penanganan struktural akan terkendala dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki Pemerintah, oleh karena itu penanganan non-struktural memiliki peran strategis dalam penataan kawasan tepian sungai. Proses pemberian pemahaman dan pelibatan masyarakat perlu dilakukan untuk membangun pemahaman bahwa penataan kawasan tepian sungai berdampak pada kenyamanan masyarakat bersama.

Rendahnya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan, membuat Sungai Ciliwung yang harusnya optimal menampung air hujan, kini telah kotor dengan banyaknya sampah rumah tangga atau limbah domestik. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), 80 persen pencemaran di Sungai Ciliwung disebabkan karena limbah domestik.

Selain itu, berdasarkan hasil investigasi terdapat 108 titik tumpukan sampah yang merupakan lokasi pembuangan sampah di bantaran Sungai Ciliwung.

Ratusan tahun yang lalu, Sungai Ciliwung menjadi sarana transportasi utama bagi penduduk. Bahkan di daerah Jakarta Kota, berdiri Pelabuhan Kelapa yang merupakan cikal bakal Pelabuhan Sunda Kelapa, salah satu pelabuhan terbesar di nusantara pada zamannya.

Dari dulu hingga sekarang, banyak penduduk Jakarta yang menggunakan air Sungai Ciliwung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, seiring bertambahnya penduduk yang bermukim di bantaran Sungai Ciliwung dan belum baiknya pengelolaan limbah cair dan padat khususnya di wilayah sekitar Ciliwung, menyebabkan daya tampung sungai semakin berkurang.

Kondisi kualitas air Sungai Ciliwung saat ini sudah tercemar. Hal ini juga disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan Sungai Ciliwung.

Demonstrasi pembersihan sungai Ciliwung yang dilakukan dapat menjadi batu loncatan penting dalam revitaliasi Gerakan Ciliwung Bersih. Selain itu, diharapkan juga dapat menggulirkan kegiatan atau program yang lebih besar dengan melibatkan peran swasta.

Sedikitnya 1.109 kepala keluarga akan direlokasi untuk kepentingan proyek Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP) atau revitaliasi pada 11 sungai di Ibukota. Proyek tersebut akan dimulai September mendatang setelah adanya kepastian bantuan dana dari Bank Dunia.

Sungai Ciliwung yang membelah Jakarta sampai akhir tahun 2011 masih mengalami pendangkalan parah dan penyempitan badan kali. Sampah dan okupasi bantaran kali untuk permukiman padat juga terus terjadi. Sungai Ciliwung, yang luapannya setiap musim hujan selalu mengakibatkan banjir di sejumlah kawasan di Jakarta, justru tidak tersentuh pembangunan.

Salah satu rencana perbaikan adalah pembuatan sodetan di Kalibata, Jakarta Selatan, dan Kebon Baru, Jakarta Timur. Setelah sodetan dilakukan, aliran kali lama beserta bantarannya bisa digunakan untuk membangun rumah susun sederhana sewa guna menampung relokasi warga pinggir kali.

Tujuan utama adalah warga pinggir kali di Kampung Melayu yang akan direlokasi ke kedua tempat itu.

Sosiolog Robertus Robert mengatakan, penataan masyarakat pinggir kali tak bisa hanya searah dari pihak pemerintah dan lalu diterapkan begitu saja. ”Saya pernah studi di masyarakat pinggir kali dekat Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.

Mereka tinggal di sana sudah dua sampai tiga generasi. Alasan mereka berurbanisasi ke Jakarta untuk merebut rezeki yang tidak tersedia di kampung. Alasan tinggal di tepi kali karena itulah tempat termurah yang bisa dijangkau,” katanya.

Kepala Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor Ernan Rustiadi mengatakan, dampak sosial dan dampak lingkungan dari sungai yang salah kelola harus diatasi sesegera mungkin.

Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk terus menunda revitalisasi Sungai Ciliwung. Saat ini tercatat baru 900 meter badan Ciliwung di kawasan Kebon Baru yang direvitalisasi.

Tim Kajian/Redaksi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: