Vieronica Varbi Sununianti

Memimpikan Sungai yang Indah di Jakarta

Oleh: Vieronica Varbi Sununianti

LANTAN BENTALA No 97 / Th IV 22 November—5 Desember 2010

Sumber:http://xa.yimg.com/kq/ 

APA yang ada di benak anda ketika mendengar kata sungai? Tentu akan begitu banyak tanggapan yang didapat, mulai dari aliran sungai, bentuknya (permanen atau tidak), bahkan kejorokannya. Pernahkan terbersit di benak kita, kapankah sungai mulai tercemar? Atau siapakah yang membuat sungai tercemar? Tampaknya ini soal sepele, namun penting untuk jadi renungan kita, karena manusia tidak akan pernah lepas dari kebutuhan air bersih.

Kami menyusuri Sungai Ciliwung mulai dari Bundaran Hotel Indonesia. Walau cokelat warna airnya, kita masih dapat bercermin di atasnya. Boleh
dibilang tidak ada sampah, hanya ada bongkahan kayu saja yang mungkin
jatuh dari pohon sekitarnya. Sepanjang menyusuri kawasan Menteng pun,
saya berjumpa dengan beberapa pemancing yang tampak begitu menikmati kegiatannya. Biasanya mereka mendapatkan ikan nila yang tak jarang mereka jual pula ke pasar.

Sungguh tak terbayang di benak saya, masih ada sungai di ibukota yang menyimpan keindahan seperti ini. Karena di kota asal saya, Palembang, Sungai Musi tidak seperti itu. Dari kejauhan sudah terlihat betapa tercemarnya sungai yang merupakan kebanggaan kota “empek-empek” ini, terlebih lagi saat musim hujan tiba, ketika sampah enceng gondok dan
gelondongan kayu akan memenuhi permukaan sepanjang sungai yang punya sembilan anak sungai ini.

Sungai di sekitar Menteng ini bisa terjaga keindahannya, boleh jadi, karena ada pagar di sepanjang sungai, baik di sisi kanan maupun kiri, sehingga membuat orang sulit dan enggan untuk berdekatan langsung, terlebih lagi mencemarinya. Dan berjalan menyusuri kawasan ini sungguh menyejukkan, karena pohon-pohon besar yang meneduhi jalanan. Walau tidak tampak kotak sampah yang sengaja disediakan, kawasan masih terlihat asri.

Setelah berjalan cukup lama, kami sempat terpesona karena dari kejauhan ada pemandangan “air terjun” di sungai. Kami pun bergegas  mendekati. Namun saya tercengang melihat jemuran pakaian di pinggir  sungai. Makin mendekati, tampaklah peralatan mandi dan, lebih parah  lagi, orang membuang sampah seenaknya ke sungai. Beberapa orang  yang ada di sana bercerita bahwa mereka sudah biasa mandi di sungai.  Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pemulung barang bekas.  Tampaknya, jika ada manusia yang menggunakan sungai untuk kebutuhan  sehari-hari, besar kemungkinan sungai itu akan tercemar. Sebab  manusia hanya mau menggunakan saja, tanpa mau merawatnya. Itukah potret kita juga?

Kini kami pindah haluan, menyusuri Ciliwung yang mengalir menuju Ancol. Saat turun dari angkot, kami langsung disambut oleh aroma yang menusuk hidung. Sungguh kontras Ciliwung dengan kali Gresik; mulai dari bau yang menyengat, warna air yang cokelat kehitam-hitaman, sampai sampah yang menumpuk.

Menyusuri lebih jauh, terlihat pemandangan yang sangat kontras.  Persis di sepanjang pinggiran sungai yang kotor dan bau itu, justru berdiri bangunan yang dicat dengan berbagai jenis ikan. Bangunan itu ternyata  bursa ikan hias. Namun, kontrasnya, di belakang bangunan (lebih  tepat: di selokan bangunan tersebut) menumpuk sampahsampah yang sengaja dibuang oleh penghuninya. Ironis memang.

Bursa ikan hias di pinggir kali Ciliwung

Pada satu sisi sang pemilik  menonjolkan, bahkan menjual keindahan;  namun pada sisi lain ia merusak  keindahan itu sendiri dengan  membuang sampah ke sungai. Sadarkah  ia? Dan bagaimana dengan  orang yang singgah ke bursa tersebut?  Merasa terusikkah mereka akan  hal ini? Atau justu pura-pura tidak tahu dan, malah, tidak peduli?

Ada hal lain yang justru nyatanyata  dilakukan secara sadar dan jelas terlihat: sampah yang ditumpuk  persis di pinggir sungai. Sampah itu hasil dari dasar sungai, karena terlihat perahu sampan yang kotor oleh  bekas tumpukan dan pengangkutan  sampah. Saya rasa, cara meletakkan  sampah itu tidak tepat, karena akan  dengan mudah jatuh kembali ke  sungai dan menambah tenaga serta waktu untuk mengangkatnya kembali.

Membuang sampah ke kali: Kapan kita sadar?

Semakin jauh kami menyusuri  sungai Ciliwung, makin tajam pula  aroma tak sedap yang tercium, bahkan warna air sungai bertambah  hitam pekat bak oli mobil. Tak dapat dipungkiri lagi,  semakin terbuka kemungkinan manusia bersentuhan langsung  dengan sungai, maka semakin besar kemungkinan tercemar  sungai tersebut. Kita sering mengalami dampak langsung dari  pencemaran ini, seperti banjir yang terus melanda. Konon, kata   Asep, wakil Walikota  Jakarta Timur, sampah  yang dibuang  masyarakat ke kali  Ciliwung yang berhasil  diangkat di pintu  air Manggarai, setiap  harinya mencapai  enam truk lebih.  (http://  bataviase.co.id/ node/265816).

Lalu apakah kita  sudah bertindak  mencegahnya? Sudahkah  kita sadar  bahwa kita sering  mencemari sungai  dengan membuang  sampah ke dalamnya? Sudahkah kita melakukan perubahan?  Merasa terganggu atau terusik adalah awal  perubahan. Maka, melakukan hal kecil dengan tidak  membuang sampah sembarangan, adalah langkah sederhana  agar “sungai yang indah” tidak terus menerus jadi impian.
Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: