Yancen Piris

Air Ciliwungku Malang…

Oleh: Yancen Piris

Sumber: http://kesehatan.kompasiana.com/22 Maret 2010 

*Selamat Hari Air Sedunia ke-18 [22 Maret 2010]

Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri menelusuri sebuah sungai yang sudah sangat populer. Ya apa lagi kalau bukan sungai Ciliwung. Sungai yang membentang melalui 2 provinsi dan setiap tahun selalu mendapat tudingan sebagai ’si pengirim banjir’ buat warga Jakarta. Diiringi canda tawa bersama sejumlah rekan yang peduli terhadap lingkungan, saya pun menjadi saksi ke sekian atas ‘penyakit’ yang diderita sungai Ciliwung (selain seorang rekan seperjalanan saya yang memang baru pertama kali menelusuri Ciliwung)

“Airnya coklat sekali!”, ujar seorang rekan seperjalanan, si penelusur sungai perdana itu. Kami pun tertawa mendengar ujaran tersebut. Bukan karena lucu, tapi miris sambil berandai-andai, kalau suatu saat air sungai Ciliwung bisa lebih jernih ketimbang sekarang.

“Hmpfff… bau sekali!”, cetus rekanku itu lagi. Tak ayal, kami pun kembali tergelak. Mengapa? Karena, bagi kami itu sudah menjadi aroma yang memang menjadi biasa ada di ‘tubuh’ gemulai Ciliwung. Apalagi di sejumlah titik saat Ciliwung sudah memasuki daerah padat perkotaan.

“Banyak sekali ya apartemennya?”, rekan itu mencoba bergurau, sambil membenarkan posisi kacamata hitamnya. Hahahaha, kali ini dia berhasil menggelitik syaraf geli kami. Betapa tidak, di sepanjang Ciliwung, banyak warga yang membangun istana mereka. Ada yang dari papan, kayu dan bahkan ada yang menggunakan batu bata alias bangunan permanen.

Tak lama rekan saya itu mengomentari hingar bingar rumah-rumah penduduk di tepi sungai, ia pun berteriak sambil menutup hidung, “Awas!! Ada ranjau!”

Kali ini kami pun mengerti apa yang dimaksud rekan itu sebagai ranjau. Tak lain adalah tinja, kotoran manusia. Tak jauh, juga ditemui limbah rumah tangga lainnya, sisa cuci piring dan mandi juga kegiatan kakus lainnya. Belum lagi, banyak sampah yang dilontarkan ke tubuh Ciliwung, mulai dari kertas, plastik hingga barang-barang bekas yang tak jelas juntrung bentuknya. Sampai di situ, warna air sungai mulai berubah kehitaman, walau coklat masih mendominasi, dan ditingkahi aroma tak sedap.

Menjelang pusat kota hingga akhir perjalanan sungai Ciliwung (sungai ini berakhir di Laut Jawa di utara Jakarta), pemandangan dan aroma pinggir sungai mulai bertambah dengan adanya sejumlah pabrik dan pusat perbelanjaan yang mentereng.

Semarak? Ya tentu saja, terutama semarak oleh limbah yang malu-malu tapi pasti mengalir ke tubuh Ciliwung. “Baunya itu loh!”, demikian ungkap rekan saya yang sepertinya sudah mulai terbiasa, sehingga tak lagi reaktif seperti di awal perjalanan kami.

Warna hitam air makin menebal dan sepertinya mulai ada minyak di sana-sini (fakta ini terlihat karena memang menurut Pak Guru dulu, air dan minyak tak bisa berbaur), dan di sini saya pun bisa mengukur kedangkalan sungai Ciliwung. Kedalaman Ciliwung berkurang karena proses pendangkalan oleh banyaknya lumpur mengendap di dasar sungai, juga karena banyaknya sampah yang tak bisa lebur alami.

Sampai di ujung, dimana hutan bakau memanggil, kami pun ‘gembira’ sekali melihat penyambutan yang sedemikian meriah. Ya, ‘gembira’ bukan gembira. Karena kami disambut bukan dengan bendera atau umbul-umbul, tapi banyak limbah rumah tangga (sampah) yang melekat di bakau-bakau yang ada. Bahkan ada sejumlah kaos partai bekas kampanye tempo dulu yang menggelayut di akar bakau yang tebal. Ah!

Mengapa kita masih membuang sampah di sungai? Mengapa limbah masih saja dilarung ke kali? Mengapa juga jamban masih banyak bertebaran di sana-sini, di kota yang pengen jadi megapolitan ini? Sejumlah pertanyaan yang sama meluncur deras di benak saya, setiap kali saya menuntaskan aktivitas penelusuran sungai Ciliwung. Menghela nafas dalam-dalam, sambil melirik di kejauhan, sebuah sedan mewah merapat ke pinggir sungai, pintu terbuka, lalu keluar seorang gadis, menenteng sebuah tas kresek hitam,… 1 2 3, hup! Melayang deh tuh kantong plastik yang entah isinya apa, dengan sukses mengambang di sungai Ciliwungku….

Buat informasi kita semua, air sungai Ciliwung hingga kini masih menjadi andalan Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM. Air Ciliwung masih menjadi bahan baku utama air bersih yang mengalir melalui pipa-pipa ledeng di kediaman kita. Tapi apa yang saat ini terjadi pada air Ciliwung? Walau pihak otoritas air minum kita masih optimistis kalau air Ciliwung masih layak diproduksi menjadi air minum, kita semua mesti membuka lebar mata kita akan kondisi air minum sehari-hari. Bagaimana pendapat Anda?

Di lain pihak, Water Supply & Sanitation Collaborative Council (www.WSSCC.org) melaporkan sebanyak 2,6 milyar manusia atau 40% penduduk dunia tidak memiliki akses untuk mendapatkan sanitasi dasar. Salah satu yang utama dalam sanitasi dasar itu adalah pasokan air bersih. Berdasarkan data dari berbagai sumber, akses masyarakat Indonesia terhadap air bersih perpipaan tahun 2009 lalu baru mencapai 38 persen. Berarti hingga kini masih ada lebih dari 60% warga Indonesia yang masih jauh dari pipa PDAM alias mengeruk air dari sumber masing-masing. Entah dari dalam tanah dengan langsung ngebor, atau pergi ke gunung-gunung mencari mata air nan sejuk, atau lebih asyik lagi menunggu di rumah dan menelepon agen, “Bang, air mineral 5 galon ya!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: