Yos Rizal S, dkk (Tempo)

Ke Jakarta Banjir Kembali 

Sumber: http:/majalah.tempointeraktif.com/12 Februari 2007 

1699: Kali Ciliwung meluap di Oud Batavia setelah Gunung Salak meletus. 1714: Ciliwung murka akibat pembukaan hutan di Puncak. 1854: Niew Batavia terendam amuk Ciliwung sedalam 1 meter. 1918: Banjir hebat. Pemerintah Belanda menggali Banjir Kanal Barat. 1942: Kanal selesai, Jakarta tetap tergenang. 1996: Ibu Kota disapu air bah, sekitar 10 orang tewas. 2002: Observatorium Banjir Dartmouth menetapkan, ini banjir Jakarta terbesar-25 orang tewas. 2007: Rekor banjir paling dahsyat dalam tiga abad sejarah Jakarta….

2007, Januari 29. Inilah hari yang membuka episode banjir terbesar Jakarta selama tiga abad terakhir. Hujan tumpahruah dari langit selama enam hari. Ibu Kota dengan 12 juta lebih penduduk lumpuh tibatiba. Air bah melelepkan ribuan rumah. Dan, melambungkan Endang Murtiningsih, salah satu warga Jakarta, ke atas bubungan selama tujuh hari tujuh malam.

Sepekan hidup di awangawang menerbitkan rindunya yang tak terkira pada tanah. “Saya tak bisa berkatakata, hanya bisa mengucap syukur,” ujarnya ketika kembali menjejak halaman rumahnya di Kompleks Ciledug Indah, Tangerang, pada Kamis pekan lalu.

Perempuan berusia 56 tahun itu tadinya tak begitu waswas ketika banjir mulai melahap Jakarta pada 1 Februari silam. Loteng rumah toh sudah dia tinggikan. Saat air sebatas lutut datang pagi hari, dia masih tenangtenang. Setengah jam kemudian, banjir sudah setinggi dada. “Lima tahun lalu tinggi air dua meter, sekarang empat meter lebih,” ujarnya kepada Tempo.

Endang segera menghela anakanaknya ke loteng. Tapi, masya Allah, air sudah parkir di sana. Maka naiklah dia ke atap sembari menanti perahu karet tim penolong. Beberapa sentimeter di bawah kakinya, terbentang lautan cokelat setinggi empat meter. Arus amat deras. Perahu karet tim penolong pun tak kuasa mendekat. Setiap menghampiri rumah, perahu hanyut atau terempas. Tak ada pilihan, Endang berumah di atas rumah.

Ibu dua anak itu mengaku tak akan pernah melupakan pengalaman hidup di ketinggian selama berharihari. Dia menampung air hujan dengan rantang lalu membagikannya kepada anakanaknya. Makanan? Untunglah, wanita ini masih sempat menyelamatkan biskuit dan beberapa rantang makanan dari loteng rumah. “Tapi harus dihemat,” ujarnya.

Pada malam hari, mereka menahan dingin yang menggigil. Suasana sepi mencekam. Dan, tentu saja gelapgulita. Setiap kali mendengar teriakan minta tolong, katanya, “Suara itu lenyap dengan cepat. Saya merinding.”

Teriakan juga terdengar dari sebuah rumah di Kedoya Selatan, Jakarta Barat. Air tiga meter mengepung 58 orang dewasa dan tiga bayi merah selama tiga hari di lantai dua sebuah rumah di dekat Pintu Air Pasar Kamis. Arus deras mendesisdesis pada siang hari. Saat malam turun, semua rumah gelapgulita. Sesekali, tangis tiga orok berbaur dengan suara korban yang tengah mendoa dan mengaji. Beberapa orang berjaga dengan awas agar ularular dan belut yang berenang dengan gembira tidak menjalarjalar ke lantai atas.

Tim penolong tak kunjung tiba. Pada hari ketiga, beberapa pria di kampung itu memutuskan untuk mengikat banban besar, memasang tambang, lalu mengangkut satu demi satu korban tatkala arus agak tenang. Semuanya selamat, persis sebelum banjir susulan menyentuh lantai dua rumah tersebut.

Banjir kali ini telah menenggelamkan 60 persen lebih wilayah Jakarta-bandingkan dengan banjir 2002 yang menggenangi 50 persen Ibu Kota. Air membentang dari Jakarta, Depok, Bekasi, hingga Tangerang. Korban tewas telah dua kali jumlah korban pada 2002. Hingga laporan ini diturunkan pada Sabtu malam pekan lalu, korban yang meninggal karena banjir 2007 telah mencapai 55 orang….

***

Oktober 2006. Di Balai Kota DKI Jakarta Gubernur Sutiyoso berbicara di hadapan sejumlah wartawan. Dia menyatakan, pemerintah DKI bakal lebih siap menghadang banjir pada 2007. “Kita akan lebih fokus lagi,” ujarnya ketika itu seraya memerinci rencana perbaikan. Lalu banjir menerjang-termasuk menerjang rencana Gubernur. Sebab seisi kota bisa mencatat bahwa jumlah kerugian, kematian, pengungsian, hampir dua kali lipat dibanding musibah serupa lima tahun lalu. “Banjir ini lebih besar dibandingkan tahun 2002,” kata Sutiyoso saat diwawancarai majalah ini, pekan lalu.

Sentrasentra ekonomi lumpuh. Hampir semua pasar tradisional tutup. Sekolahsekolah diliburkan. Sebagian rumah sakit masih dapat beroperasi walau dengan tersengal. Lalu lintas macet total. Jalan tol dalam kota terputus di sekitar Tebet karena meluapnya Sungai Ciliwung. Air menggenangi jalan tol Jagorawi di kawasan Taman Mini dan jalan tol JakartaMerak di Kebon Jeruk. Ratusan penerbangan ke dalam dan luar negeri tertunda dan batal. Penumpang pesawat dari luar kota harus menginap di bandara karena tak bisa menembus Jakarta.

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta memperkirakan kerugian akibat banjir mencapai Rp 4,1 triliun. “Kerugian ini dinilai dari aspek pelayanan pemerintah dan perekonomian secara keseluruhan,” kata Paskah.

A.R. Soehoed dalam bukunya berjudul Membenahi Tata Air Jabotabek membandingkan daerah genangan banjir bandang pada 1973, 1996, dan 2002. Dari peta itu terlihat wilayah di Jakarta yang tergenang air kian luas. “Terusan Banjir Barat sejak 1973 tak mampu lagi menampung arus banjir walaupun sejak sepuluh tahun sebelumnya ditopang waduk Setiabudi dan Melati,” tulisnya.

Terusan yang kini dikenal sebagai Banjir Kanal Barat dibangun pada 1922 oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebelumnya mereka melakukan kajian yang dipimpin Profesor Herman van Breen. Dari Pintu Air Manggarai, terusan itu menyalurkan Sungai Ciliwung melintasi Dukuh Atas, Tomang, terus ke laut di Muara Angke. Selain Ciluwung, terusan ini memotong Sungai Cideng, Krukut, dan Grogol.

Ketika banjir 1996 melanda, air menggenangi terowongan Dukuh Atas sedalam satu meter. Lima tahun lalu, air hampir mencapai bagian atas terowongan setinggi empat meter yang berada di sisi selatan terusan. Pekan lalu, terowongan itu tidak terlihat lagi setelah air dari terusan melimpah ke dalamnya.

Beberapa daerah seperti Kelapa Gading, Pulomas, Kalibata, Halim, Ciledug, dan sepanjang bantaran Sungai Ciliwung sampai Banjir Kanal Barat-Rawa Jati, Kampung Melayu, Petamburan, hingga Muara Angke-lebih parah dibanding tahuntahun sebelumnya. “Lima tahun lalu, air masuk ke rumah cuma semata kaki, sekarang sepinggang saya,” kata Sinsin Witono, yang menjenguk rumah ibunya di Kelapa Gading.

Uniknya, dua daerah-Jembatan Tiga Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, dan beberapa RW di sekitar Mega Mal Pluit, Jakarta Utara-yang biasanya tergenang hingga setinggi paha orang dewasa, kali ini tak terkena banjir. Rupanya, jauh sebelum musim banjir tiba, warga di daerah Pluit berpatungan membeli sebelas pompa. Genangan air langsung dibuang ke waduk Pluit. “Mengharapkan pemerintah tidak mungkin, jadi kami swadaya,” kata Ketua RW 6 Pluit, Josef Mangondow.

Mereka juga membersihkan seluruh sampah yang menumpuk. “Kami tidak percaya ada siklus banjir lima tahunan,” kata salah seorang warga dengan tegas.

Kesadaran warga Pluit itu adalah hal yang teramat langka. Yang banyak terjadi sekarang justru perang pernyataan. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, misalnya, menyebut banjir yang lebih hebat tahun ini sebagai hal yang “dilebihlebihkan”. Buktinya, katanya, “Korban banjir masih banyak yang tertawatawa.” Pernyataan itu dibalas dengan sengit oleh Ketua DPR Agung Laksono dan sejumlah anggota DPR lain.

Lain lagi Gubernur Sutiyoso. Dia menuding daerah hulu di Puncak sebagai biang keladi banjir. Namun Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan menepis dan meminta Jakarta�yang terletak di hilir�memperbaiki drainase dan pembangunan di wilayahnya (lihat wawancara Sutiyoso dan Danny).

Benarkah tudingan Gubernur Jakarta? Memang, 13 sungai yang masuk ke Jakarta, Bekasi, dan Tangerang berhulu di Gunung Gede dan Pangrango di Puncak. Sumber lain, Gunung Salak yang berada di Bogor. Dari citra satelit yang dikeluarkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) terlihat sejak 1990, kian banyak warna merah di kawasan ini dan sepanjang daerah aliran sungai.

Warna merah menunjukkan lahan tersebut dijadikan permukiman dan bangunan lainnya. Pencitraan Lapan pada 2004 menunjukkan 40 persen kawasan Puncak kedap air. Perluasan permukiman dan bangunan juga terjadi di bagian bawah. “Yang paling mencolok di Cibubur, Cileungsi,” kata Kepala Bidang Pemantauan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Lapan, Orbita Roswintiarti.

Ribuan vila tersebut milik orangorang kaya dan pejabat di Jakarta. Salah satunya milik Sutiyoso-yang pada 1993 menjadi Komandan Korem Suryakencana di Bogor. Dua kali media massa memberitakan vila milik Sutiyoso di Cisarua dan Ciampea di kaki Gunung Salak. Tapi orang nomor satu di Jakarta ini membantah.

Tahun lalu Pemerintah Kabupaten Bogor menghentikan rencana Sutiyoso membangun waduk di sebagian lahannya di Ciampea. Keberanian itu muncul setelah warga sekitar berunjuk rasa. Pensiunan jenderal bintang tiga ini akhirnya pasrah dengan keputusan pemerintah Bogor.

Namun, biang keladi banjir tentu tak cuma terjadi di wilayah hulu. Daerah penampungan air hujan di Jakarta juga makin berkurang dengan hilangnya situ atau danau (lihat infografik Rekor Pecah). Pusat Penelitian Limnologi LIPI melakukan studi soal ini. Pada 1990an, jumlah situ di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ada 218 buah. Kini hanya tersisa seperempatnya. Selebihnya mengalami pendangkalan atau beralih fungsi menjadi lapangan, hunian, serta lahan cocok tanam masyarakat.

Bahkan, kata Asisten Deputi Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau Kementerian Lingkungan Hidup, Antung Deddy Radiansyah, sebuah situ yang terletak di Rorotan, Cakung, Jakarta Utara, telah diuruk pengembang untuk dibangun permukiman dan apartemen.

Di daerah hilir, pembangunan permukiman baru dan pusat belanja merajalela. Ibarat sopir angkutan umum, Pemerintah Kota ramairamai mengejar setoran untuk menambah kocek anggaran. Di Kelapa Gading, misalnya, sejumlah pengembang besar menyerbu kawasan ini, mengikuti jejak Grup Summarecon yang sukses membangun Kelapa Gading sebagai kota satelit pertama di Jakarta.

Di Pulomas yang bertetangga dengan Kelapa Gading, kondisinya tak jauh berbeda. Lahan milik pemerintah Jakarta yang selama ini menjadi arena pacuan kuda dan sarana olahraga hampir habis untuk kawasan bisnis. Ada Apartemen Pasadena, sekolah internasional, pusat belanja. Dan kini sedang dibangun perumahan mewah. Kami sering protes namun tak ditanggapi Pemerintah Daerah,” kata Ismail Hasan, mantan anggota Dewan Pertimbangan Agung yang tinggal di Vila Sari, Pulomas.

Pada banjir pekan lalu Kali Sunter dan Waduk Riorio meluber sehingga ratusan rumah mewah di Pulomas tergenang sedalam satu sampai dua meter. Ismail menuduh pemerintah lebih mementingkan pembangunan mal dan perumahan mewah ketimbang menormalisasi kali dan waduk.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Jakarta Wisnu Subagyo menyebut faktor dana sebagai kendala. “Dana kami terbatas,” katanya tanpa bersedia menyebut anggaran penanggulangan banjir. Waduk Kelapa Gading yang sejak sepuluh tahun lalu direncanakan, misalnya, belum kunjung dibangun.

Bambang Eryudhawan, anggota tim penasihat arsitektur Kota Jakarta, punya pendapat berbeda. Menurut dia, pembangunan di Jakarta telah banyak menyimpang dari master plan awal. Menurut rencana induk pertama (19651985), daerah timur, termasuk Kelapa Gading, masuk ke dalam jalur hijau. Begitu pula Angke di wilayah barat Jakarta. Jalur hijau yang direncanakan itu berbentuk seperti tapal kuda, melingkar dari timur ke selatan lalu ke barat. Dalam rencana induk 19852005, proyek jalur hijau itu tak ada lagi. “Ini membuktikan pembangunan Jakarta ditentukan oleh pasar, bukan peraturan,” kata Bambang.

Penanganan menyeluruh soal banjir sepenuhnya terpulang pada pemerintah pusat, Pemerintah DKI, dan wilayahwilayah di sekitar Jakarta. Entah membangun Banjir Kanal Timur; melebarkan sungai; memperbanyak situ serta daerah resapan air; atau mengerjakan seluruh program secara simultan.

Apalagi musim bencana belum akan berakhir: JanuariMaret adalah periode bulan dengan hujan terlebat di Jakarta dan sekitarnya. Air bisa meluap kembali ke atas atap rumah Endang, yang bertekad tak akan pernah lagi bermukim di bubungan: “Ini yang terakhir, ucapnya dengan tegas.”

Dari jalan layang di depan Mal Artha Gading, Sinsin Witono, seorang warga Kepala Gading, Jakarta Utara, menatap rumah orang tuanya dengan nanar. Malam itu, Selasa pekan lalu, dia menyaksikan Kelapa Gading persis seperti pada 1970an, ketika masih berupa rawa dan sawah. Kali ini, tanpa suara katak dan jangkrik.

Yos Rizal S., Untung Widyanto, Yandi M.R., Adek Media, Dimas Adityo, Ibnu Rusydi, Ninin Damayanti, Deffan Purnama, Siswanto, Ayu Cipta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: