Banjir 2002-2006

Januari 2002

Ciliwung Meluap Ruas Jalan Jatinegara dan KP Melayu Terendam Banjir

Sumber:  http://arsip.gatra.com/ 30 Januari 2002 

Sungai Ciliwung meluap di kawasan Jatinegara Kampung Melayu sehingga sulit untuk dilalui kendaraan karena ketinggian air di beberapa ruas jalan ada yang mencapai 50 cm.

Banjir mulai dari arah Jalan Casablanca menuju Jatinegara sebelum memasuki jembatan di ujung jalan dekat terminal Kampung Melayu, meskipun demikian beberapa mobil yang memiliki “body” tinggi masih leluasa memasuki kawasan tersebut.

Namun saat memasuki Jl. Jatinegara ke arah Salemba yang melewati Sungai Ciliwung banyak mobil yang dialihkan, bahkan bus kota yang memiliki badan lebih tinggi tidak berani melewati jalur itu.

Kendaraan diminta untuk menghindari jalan tersebut apabila tidak dalam keadaan mendesak.

Sungai Ciliwung di ujung Casablanca tersebut bahkan telah menyentuh bibir jembatan, apabila debit air terus naik diperkirakan air akan tumpah ke jalan raya.

Beberapa mobil tampak mengambil jalan memutar menuju Manggarai, atau lurus menuju By Pass, bahkan ada yang belok ke arah Cawang dan kebanyakan berupaya mencari jalan alternatif menghindari Kali Ciliwung.

Masyarakat di sekitar bantaran Kali Ciliwung masih berada di pinggir-pinggir jalan, beberapa di antaranya kemungkinan merupakan korban banjir.

Selain itu beberapa pemulung “menyemut” di sekitar jembatan untuk memungut sampah-sampah plastik yang tersangkut, dan arus deras dari Bogor tampaknya tidak membuat mereka khawatir memungut sampah-sampah plastik tersebut.

Menurut warga setempat apabila kendaraan siang ini mulai padat diperkirakan akan terjadi kemacetan, karena selama ini jalan di daerah itu terkenal macet apalagi ditambah dengan banjir Ciliwung.

Februari 2002

Ketinggian Air Ciliwung di Atas Delapan Meter, Jakarta Masih Berpotensi Banjir

Sumber: http://www.tempo.co/ 12 Februari 2002 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketinggian air sungai Ciliwung yang tercatat di pintu air Manggarai, pada hari Selasa (12/2) siang masih tergolong tinggi, mencapai 820 cm dalam keadaan pintu dibuka total. Angka ketinggian air ini masih terus berubah menyusul hujan yang masih mengguyur Jakarta, sejak malam hingga pagi hari ini, sehingga masih berpotensi mengakibatkan banjir di Jakarta.

Ketinggian air yang masih berubah-ubah ini, menurut petugas pintu air Manggarai, Mimpri, disebabkan hujan yang masih terus menerus mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya. “Juga tergantung genangan-genangan air yang masih ada di wilayah yang lebih tinggi dari pintu air Manggarai,” kata Mimpri kepada Tempo News Room. Hingga Selasa (12/2) pukul 01.00 WIB, ketinggian air sudah mencapai 800 cm. Namun karena hujan yang mengguyur Jakarta sejak pkl. 03.00 WIB dini hari hingga pagi ini, ketinggian air meningkat sampai 820 cm pada sekitar pkl 11.00 siang ini.

Kepala pintu air Manggarai, Riwut Padmadi, mengatakan air tertinggi mencapai 1050 cm pada 1 Februari. Pada saat normal di musim kemarau ketinggian dapat mencapai 800 cm. Tetapi dalam keadaan pintu air ditutup. Dalam musim penghujan seperti sekarang, Riwut tidak bisa memastikan berapa ketinggian normal air kali Ciliwung karena ketinggian air masih berubah-ubah seiring turunnya hujan. Pintu air Manggarai yang dijaga empat orang petugas untuk memantai ketingguia air sungai setiap jam. Di pintu air tersebut terdapat dua pintu air, yaitu pintu air Ciliwung dan pintu air Banjirkanal. Pintu air Ciliwung adalah yang mengalirkan air ke arah wilayah Jakarta kota seperti Juanda, Gajahmada dan sekitarnya serta Gunung Sahari di Jakarta Pusat. Sedangkan pintu air Banjirkanal mengalirkan air ke arah wilayah Tanah Abang dan Jakarta Barat. Pintu air Ciliwung inilah yang beberapa waktu lalu sempat dipaksa warga setempat untuk dibuka, karena menyebabkan banjir di wilayahnya.

Lantaran banjir beberapa hari, sampah menumpuk di pintu air Manggarai. Sampah-sampah tersebut diantaranya berupa harta benda milik warga seperti sofa, meja, dan kursi yang hanyut saat terjadi banjir. (Dimas Adityo-Tempo News Room)

Debit Air di Manggarai Capai Titik Tertinggi

Sumber: http://www.tempo.co.id/ 13 Pebruari 2002 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketinggian permukaan air di pintu air Manggarai, Rabu (13/2) sekitar pukul 15.00 WIB telah mencapai 860 sentimeter. Ketinggian permukaan ini, menurut Jendam Gurusinga, Pimpro Induk Ciliwung Cisadane ketika dihubungi Tempo News Room melalui telepon genggamnya adalah ketinggian tertinggi setelah 1 Februari 2002 yang 10,5 sentimeter lebih tinggi. “Trennya akan terus menurun karena ketinggian air di Depok juga terus menurun,” tutur dia yang saat dihubungi sedang berada di Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Ketinggian air di pintu air Katulampa dan Depok, lanjut Jendam, pada waktu yang sama juga terus mengalami penurunan. Akibatnya, ketinggian air di pintu air Manggarai diperkirakan akan terus menurun. Ketinggian air di pintu air Katulampa memang sempat mencapai 140 cm pada pengamatan pukul 07.00 WIB. Sementara pada jam yang sama ketinggian air di pintu air Depok juga mengalami titik tertinggi yaitu 300 sentimeter. Namun setelahnya ketinggian terus menurun sehingga pada pukul 15.00 ini ketinggian air di Katulampa tinggal 60 cm, sementara di Depok tinggal 160.

Debit air tertinggi membuat ketinggian permukaan air di pintu air Manggarai mencapai titik tertingginya pula sore ini karena perjalanan air dari Depok ke Manggarai sekitar enam jam. Karena itu kecenderungan debit air yang menurun di Katulampa dan Depok juga akan terjadi di Manggarai. Akan tetapi Jendam tetap mengimbau masyarakat di bantaran Sungai Ciliwung untuk tetap waspada karena segala kemungkinan bisa terjadi. “Apalagi Depok sampai saat ini masih terlihat mendung,” tutur dia. (Deddy Sinaga)

Sungai Ciliwung Meluap, Puluhan Rumah Terendam

Sumber: http://www.tempo.co/  18 Januari 2005 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Hujan yang mengguyur Jakarta dari malam hingga pagi tadi menyebabkan Sungai Ciliwung meluap. Puluhan rumah warga di bantaran sungai itu terendam.

Rumah warga yang kebanjiran antara lain di RT 10,11, 12 Gang Arus dan sebagian RT 9 RW 2 Kelurahan Cawang.

“Banjir ini belum apa-apa. Biasanya lebih dari segini,” kata Siti Zubaidah, 25 tahun, warga RT 10 RW 2 sambil jarinya menunjuk dahi.

Menurut Siri, banjir bagi warga Gang Arus sudah menjadi peristiwa langganan setiap tahun. Warga pun sudah siap menghadapinya. Jika banjir bandang tiba, pilihannya hanya satu: mencari tempat mengungsi.

Meskipun air genangan keruh kecoklatan, anak-anak tampak asik bermain di sela-sela perumahan yang terendam setinggi 60 cm sampai 1 meter. Pengamatan Tempo di lokasi belum terlihat ada evakuasi baik oleh aparat setempat maupun dari masyarakat sendiri.

Warga lainnya, Hasanah, mengaku tidak panik jika wilayah kebanjiran. “Kalau banjir ya diterima saja. Air datang nggak bisa ditolak,” ujar Hasanah.

Hanya jika sudah cukup tinggi air berendam, dia sudah punya tempat untuk mengungsi. Yaitu ke posko yang biasanya disediakan oleh kelurahan dan bantua masyarakat luas.

Agus Supriyanto-Tempo News Room

Banjir di Bantaran Ciliwung

Suara Pembaruan – 16 Mei 2005

Sumber: http://www.digilib-ampl.net/  

Jakarta – Hujan lebat yang turun di daerah hulu, seperti Bogor dan Depok, Minggu (15/5) sore, mengakibatkan permukiman warga di bantaran Sungai Ciliwung kembali dilanda banjir. Ketinggian air mulai meningkat sekitar pukul 18.00 WIB. Menurut Rahmat, seorang warga di Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu menuturkan, hujan lebat yang melanda Bogor kembali menghantui warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai Ciliwung. “Terus terang, sejak sore kami tinggal menunggu pengumuman melalui pengeras suara masjid kalau air bakal datang lagi,” katanya.

Namun banjir kali ini tidak separah beberapa waktu lalu yang nyaris menenggelamkan pemukiman di sana. Ketinggian air kali, menurut warga, mencapai sekitar 1,5 meter. Kekhawatiran yang sama juga dialami warga Kelurahan Bukit Duri yang juga sering terkena limpahan air dari Sungai Ciliwung. Meski tidak terlalu tinggi, air deras dari Sungai Ciliwung sempat membuat sebagian rumah-rumah warga tergenang.

Anggota DPRD DKI Jakarta Arkeno mengatakan, masih terjadinya banjir di Ibukota menunjukkan mendesaknya pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT). Karena itu, dia meminta pihak-pihak terkait untuk membantu penyelesaian BKT yang berlarut-larut. “Saya harap tim 9 yang diketuai Wali kota Jakarta Timur agar secara serius menyelesaikan persoalan yang berkait dengan pembangunan BKT,” ujarnya.

Hujan lebat, kemarin, di Depok membuat beberapa tempat di sana mengalami banjir lagi, dan bahkan hingga pagi tadi air masih menggenangi perumahan Taman Duta dan Bukit Cengkeh. Menurut Kasubdit Pengairan Pemkot Depok Latief Januarso, hujan kemarin memang di luar batas kendali yang datangnya dari arah selatan atau Bogor, sehingga beberapa daerah lain juga ikut tergenang, seperti Jalan Margonda dan Sawangan.

Sementara itu, fluktuasi cuaca dalam musim pancaroba akan terus terjadi hingga akhir Juli nanti dan baru stabil memasuki musim kemarau pada Agustus. Menurut Kepala Pusat Sistem Data Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika Wasito Hadi, saat ini terjadi fluktuasi cuaca yang berbeda antara kemarau dan hujan. “Sekarang masih tetap masa pancaroba, bukan musimnya yang berubah. Kalaupun hujan turun pada musim kemarau karena masih ada fluktuasi dalam masa tersebut,” ujarnya. (K-11/L-11/R-8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: