Banjir 2007-2011

Februari 2007 

Ketinggian Air Ciliwung Masih di Atas Normal

Sumber: http://www.tempo.co/ 05 Februari 2007 

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Ketinggian permukaan air Ciliwung masih melebihi batas normal. Hingga pukul 23.30 tadi malam, permukaan air di Bendung Katulampa, Bogor, masih 100 sentimeter di atas papan mercu.

“Masih stabil (tinggi),” kata Anton, petugas pemantau ketinggian air Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta ketika dihubungi Tempo. Normalnya, ketinggian air di Katulampa maksimal 80 sentimeter.

Permukaan air di Pintu Air Manggarai juga masih tinggi. Agus, petugas pintu air, mengatakan ketinggian air masih berada di titik 910 sentimeter (normalnya 750 sentimeter).

Namun, di Pintu Air Karet, permukaan air sudah berada di bawah ketinggian normal, 420 sentimeter dari ketinggian normal 440 sentimeter. Jeri, pertugas pintu air, mengatakan pagi kemarin permukaan air mencapai 720 sentimeter.

Februari 2008

Ciliwung Mulai Meluap

Sumber: http://www.tempo.co/read/ 1 Februari 2008

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Hujan lebat yang turun sejak kemarin malam menyebabkan sungai Ciliwung meluap. Hingga pukul 13.30 WIB hari ini, luapan Kali Ciliwung sudah berada pada ketinggian 50 senti meter.

Dampak banjir juga mulai dirasakan puluhan warga yang tinggal di kali Ciliwung. Banjir sudah menggenangi sejumlah pemukiman warga. “Mulai naik sejak pukul 12.00 WIB,” ujar Haris, Ketua RW 01, Kelurahan Kampung Melayu.

Di Kelurahan Kampung Melayu, kata Haris, hujan mulai turun sejak pukul 22.00 WIB dan belum reda hingga siang ini. “Kayaknya bakal lama,” ujarnya.

Lupan Kali Ciliwung juga mulai merambat naik di RW 01 dan RW 02 Kelurahan Cawang. Berdasarkan Pantauan Tempo, air mulai menggenangi sejumlah ruas jalan.

Hujan lebat juga menumbangkan sebuah pohon yang terletak di Gang Arus, Jalan Dewi Sartika. Seutas jaringan kabel telepon putus. Kabel listrik yang terhubung ke rumah salah seorang warga juga nyaris terputus.
Riky Ferdianto

Banjir Bandang di Kampung Naringgul

Oleh: Neli Triana

Sumber: http://entertainment.kompas.com/ 18 Januari 2009 

KOMPAS/RIZA FATHONI
Sungai Ciliwung, tepatnya di kawasan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, yang mengalir sejajar dengan Jalan Raya Cisarua (bagian atas) dilihat dari udara, Sabtu (17/1). Kawasan itu merupakan hulu Sungai Ciliwung yang masih terbentuk dari beberapa sungai kecil.

Februari tahun lalu tiba-tiba air bah datang menerjang. Tidak pernah terjadi sebelumnya kami melihat air mengamuk menghanyutkan 24 rumah dan bangunan di kampung ini,” kata Dayat Hidayat (54), Ketua RT 1, Kampung Naringgul, Sabtu (17/1).

Banjir bandang terjadi hanya kurang dari satu jam, tetapi kerusakan yang terjadi, katanya, membuat warga terus merasa takut sampai sekarang.

Sulit dipercaya, kampung yang dilanda banjir bandang ini berada 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di sekitar Puncak, Bogor! Naringgul merupakan bagian dari wilayah administrasi Desa Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, terletak di ketinggian lereng Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Ketika berjalan di sekitar Kampung Naringgul, Dayat bercerita, kampungnya terbelah oleh Sungai Cikamasan, salah satu dari puluhan sungai pembentuk hulu Ciliwung. Dalam 10 tahun terakhir, lahan seluas 2.400 meter persegi di desanya hanyut terbawa erosi sungai.

Saat banjir bandang menghantam Naringgul, dua keramba besar yang mampu menghasilkan 1,4 ton ikan setiap panen turut hancur. Hingga kini, mata pencaharian sampingan penduduk Naringgul selain sebagai petani teh ini belum bisa dibangun ulang. Pipa-pipa yang mengalirkan air dari sungai menuju rumah-rumah untuk memenuhi kebutuhan penduduk pun hanyut terbawa banjir.

Dayat juga menunjukkan cekungan lebar di dinding sungai yang terjal akibat gerusan banjir bandang dan erosi. Dinding tanah terbuka menampakkan warna coklat kemerahan, hanya sedikit ditutupi tumbuhan alang-alang dan tegakan pohon. Akibat erosi, aliran sungai pun bergeser sekitar 30 meter menjauhi batas desa dan makin menyempit saat musim kemarau tiba.

”Kalau Cikamasan saja dirusak begini, air yang mengalir ke hulu Ciliwung hingga Jakarta sudah pasti tambah merusak. Tidak heran kalau saya dengar bencana banjir di Jakarta makin sering terjadi,” kata Dayat.

Menurut dia, lahan hijau di bantaran Cikamasan yang tergerus pembangunan vila, perkebunan, dan permukiman penduduk bisa dipastikan sebagai penyebab erosi dan banjir bandang. Sampai kini, ia belum melihat ada upaya signifikan pengaturan tata guna lahan di sana.

Saat hujan mulai deras mengguyur di akhir Januari ini, kecemasan menyelimuti hati 697 warga Naringgul. Apalagi, Kamis lalu, banjir bandang kembali melanda meski hanya menghanyutkan jembatan penghubung antara RT 01 dan RT 02, Desa Tugu Utara. Jika intensitas hujan makin tinggi, itulah kecemasannya.

Dayat menambahkan, selain ketakutan akan banjir dan longsor, warga Naringgul kini tidak bisa memanfaatkan air Cikamasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sama seperti di Jakarta. Terakhir kali warga meminum air sungai ini dan memanfaatkannya sebagai sumber penghidupan sekitar akhir tahun 1990.

Kerusakan alam di kawasan Puncak makin menjadi-jadi pada era reformasi mulai tahun 1998. Terjadi pembukaan hutan dan lahan produksi besar-besaran. Bermunculan deretan bangunan vila dan kios atau warung kumuh di setiap sudut Puncak. Sampah dan limbah cair deras dialirkan ke Cikamasan maupun sungai pembentuk hulu Ciliwung lainnya, seperti Ciesek, tak jauh dari Naringgul.

Sumber air baru

”Tepat di atas kampung kami juga berderet restoran dan tempat peristirahatan. Kami dapat melihat mereka membuang air kotor atau sampah langsung ke sungai. Ya, kami tidak lagi menggunakan air Cikamasan untuk minum atau memasak. Kalau tidak terpaksa, mandi pun tidak pakai air sungai ini,” kata warga Naringgul.

Adjat (50), warga Kampung Gunung Mas yang terletak di bawah Kampung Naringgul, menambahkan, kini warga menggunakan sumber air kecil yang dialirkan dari Telaga Warna, sekitar satu kilometer dari kampung itu. Dengan iuran rutin, warga juga membangun tempat penampungan sampah sendiri.

Adjat mengatakan, sejak beralih sumber air, warga desa berupaya menjaganya agar tidak dikotori sampah atau limbah apa pun. Masalah diatasi dengan menyatukan tempat pembuangan sampah. Bekerja sama dengan dinas kebersihan setempat, sampah diangkut rutin.

”Dibantu Badri Ismaya, pelopor penghijauan di bantaran sungai, warga pun digalang untuk rajin menanam pohon, mengganti yang sudah ditebang. Pokoknya, sekarang kami takut sekali terkena bencana dan berupaya bersama mengantisipasinya,” kata Adjat.

Untuk mengantisipasi banjir bandang, sejak pertengahan tahun 2008, warga setempat dan pemerintah daerah telah membangun semacam tanggul penahan arus di badan Cikamasan.

Ernan Rustiadi dari Institut Pertanian Bogor mengatakan, proyek pembangunan tanggul, seperti di Naringgul, atau kanal besar, seperti banjir kanal timur di Jakarta, memang akan membantu mengurangi luasan banjir. Namun, selama akar permasalahan penyebab banjir tidak diurai dan diselesaikan, bencana banjir, erosi, longsor, bahkan kekeringan (karena tidak ada lagi air bersih) akan terus mengancam.

”Persoalannya sudah terlalu besar, tetapi pemecahannya masih parsial. Setiap pemerintah daerah di Bogor atau Jakarta punya kebijakan sendiri, yang mungkin bakal berdampak pada makin hancurnya Ciliwung. Karena tidak ada ketegasan pengelolaan bersama ini, masyarakat juga makin liar,” kata Ernan.

Semua orang, terutama pemerintah, alpa bahwa Ciliwung yang mengalir sepanjang 100 kilometer lebih ini butuh penanganan bersama, kebijakan yang seragam. Banjir bandang di Naringgul hanya satu pesan, sebuah pembuka dari bencana besar yang mengancam jika manusia tetap bertahan dengan perilaku buruknya. (ONG/MUK/ELN/ LKT/MZW/WAS)

Maret 2008

Ratusan Rumah di Cawang Terendam Banjir

Sumber: http://www.tempo.co.id/ 13 Maret 2008 

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Hujan semalamam yang terjadi kemarin menyebabkan ratusan rumah di Gang Arus, Kelurahan Cawang, Jatinegara, Jakarta Timur terendam air dengan ketinggian antara 15 centimeter- 1,5 meter. Rumah warga yang terendam berada di 15 RT dan dua RW, mulai dari RT 1 – 12 RW 01 dan RT 8-12 RW 02.

Menurut Yayat, 26 tahun, warga RT 8/RW 2, air mulai naik sekitar tengah malam dan mencapai puncak dini hari tadi. “Air naiknya pelan-pelan. Jadi warga sudah antisipasi mengungsikan barang-barangnya ke loteng, ” ujarnya.

Pemukiman padat di Gang Arus yang berada di Bantaran Kali Ciliwung telah lama menjadi langganan banjir.Tapi banjir kali ini tak separah tahun lalu, dimana ketinggian air mencapai tujuh meter. “Kami sudah biasa,” ujar Yayat.

Pantauan Tempo pagi tadi, air di pemukiman padat itu mulai surut. Warga tampak mulai membersihkan rumah mereka dari lumpur dan air kotor.

Sofian

Banjir Bandang di Puncak

Oleh Ratih P Sudarsono, Kompas, 15 Maret 2008

Sumber:http://biopori.blogspot.com/  

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO / Kompas Images
Mahmud membersihkan lumpur dan batu yang terbawa banjir bandang dari dalam rumah milik saudaranya di Desa Tugu Selatan, Kampung Naringgul, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jumat (14/3). Banjir bandang akibat hujan deras di kawasan itu terjadi pada Rabu sore dan mengakibatkan 14 rumah rusak berat.

Ny Siti Maesaroh (42) kini waswas terus. Ia bersama anak, menantu, dan cucunya belum berani tidur di rumahnya di Kampung Pensiunan, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Di kawasan itu sebanyak 47 rumah diterjang banjir bandang pada Rabu (12/3) petang, termasuk rumah Maesaroh.

Rumah memang sudah dibersihkan, tetapi malam nanti (Jumat 14/3) kami pilih tidur di rumah saudara di atas. Kami masih trauma dengan banjir bandang kemarin. Rumah saya penuh dengan air. Tingginya sampai leher saya,” ujarnya.

Selain rumah di Kampung Pensiunan, empat rumah di Kampung Persit, di bawah kampung itu juga mengalami kerusakan akibat diterjang banjir bandang. Di Kampung Naringgul, yang berada di atas Kampung Pensiunan, banjir bandang menerjang 35 rumah, di mana 12 rumah di antaranya mengalami rusak berat.

Agus (26) mengatakan, dirinya mengalami sendiri diterjang banjir bandang itu. Namun, dirinya belum bisa percaya bencana banjir bandang menimpa kampungnya yang berada di kawasan Puncak.

”Air di situ berputar-putar, warnanya hitam pekat, lalu semakin besar dan merendam rumah di kiri-kanannya,” kata anak bungsu Maesaroh ini.

Ia menunjuk saluran air selebar kurang dari 2 meter dengan kedalaman juga kurang dari 2 meter yang hanya lima langkah dari depan rumahnya. Di saluran air yang ternyata Sungai Ciliwung tersebut ada jembatan dari semen selebar 1 meter yang menghubungkan kedua sisi sungai.

Kedua sisi sungai itu sudah ditembok dan bantarannya adalah jalan kampung yang sudah disemen atau langsung tembok rumah warga. Begitulah rata-rata kondisi bantaran Sungai Ciliwung yang melintas di Kampung Pensiunan.

Lebar sungai, setelah bantarannya berubah menjadi jalan warga atau rumah atau jalan, bervariasi, 1-2 meter. Kedalamannya pun bervariasi dari 0,5 meter sampai 5 meter.

Kampung itu pun berada di lahan miring, sebagaimana kontur lahan perbukitan kawasan puncak. Rumah-rumah penduduk di sana dibangun ”mengikuti” kontur lahan, yang tanpa perencanaan sebagaimana pertumbuhan kampung pada umumnya di Indonesia.

Kondisi Kampung Naringgul juga demikian. ”Seumur-umur saya tinggal di sini, baru kali ini ada banjir bandang di Puncak,” kata Ketua RT Dayat Hidayat

Selain merusak rumah, empat bak penampungan air bersih warga dan dua bangunan MCK warga kampung hilang diterjang banjir bandang tersebut. Kemarin puluhan warga kampung bahu-membahu memperbaiki aliran air Sungai Ciliwung.

Batu-batu dan material lainnya yang menimbun badan sungai dikeruk dan diangkat. Mereka juga menyedot air yang menggenangi penampungan air di pinggir jalan jalur Puncak.

”Di bawah badan jalan ini ada gorong-gorong dengan diameter 2 meter. Sekarang celah di gorong-gorong itu tinggal sejengkal. Kalau hujan deras lagi, kami khawatir air bencana bandang terjadi lagi,” katanya.

Tak mampu menampung

Bencana air bah terjadi di kampung tersebut setelah hujan lebat mengguyur kawasan Puncak dan Danau Telaga Warna tidak mampu menampung seluruh air yang masuk ke sana. Selain itu, aliran air Sungai Ciliwung berbelok akibat sejumlah ruas sungai tersumbat material berupa batu dan lainnya yang tergerus akibat hujan lebat.

Kerusakan kian menjadi parah akibat jembatan-jembatan di atas aliran sungai itu terlalu rendah. Hal itu mengakibatkan laju material yang terbawa arus terhambat sehingga terjadi penumpukan yang membuat air terbendung.

Kondisi ini paling mencolok terlihat di pinggir Jalan Raya Puncak setelah tikungan selepas Masjid Atta’awun dari arah Bogor. Di situ ”jembatan” dibuat di atas aliran air sungai. Jembatan itu bagian dari pembangunan jalan ke atas perkebunan teh.

Menurut Dayat dan warga lainnya di sana, yang membangun jalan itu adalah Arifin, mantan kepala desa di sana. Kalau kebun tehnya milik PT Sari Bumi Pakuan Ciliwung. ”Kami tidak tahu jalan itu akan menuju ke mana karena jalan baru dibuat dan di ujung jalan itu belum ada bangunan,” kata Dayat.

Selain jembatan itu sangat rendah, batu-batu yang akan dipakai untuk membuat jalan itu juga menyumbat aliran air sungai. Dengan demikian, aliran berbelok menyeberangi badan Jalan Raya puncak.

Air pun lalu meluncur ke perkampungan di bawah badan jalan. Hal itu mengakibatkan puluhan rumah penduduk rusak. Kini masyarakat yang menanggung bebannya.

November 2008

Sebagian Wilayah DKI Kembali Tergenang

Sumber: http://nasional.kompas.com/ 10 November 2008 

Kompas Cyber Media/Kristianto Pu
Seorang anak tengah bermain telepon umum yang ikut terendam di Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (2/1). Akibat hujan turun sejak semalam, air sungai Ciliwung meluap dan merendam dua RW di Kampung Melayu sejak pukul 02.30 wib. Kristianto Purnomo 2/1/2008

JAKARTA, SENIN – Hujan lebat yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya menyebabkan sebagian wilayah Ibukota kembali tergenang. Beberapa kawasan tergenang, antara lain, Kampung Melayu, Jakarta Timur dan Depok, Jawa Barat.

“Sebanyak delapan RW di Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur hingga Senin pukul 20.00 masih tergenang air sedalam 20 – 50 sentimeter,” kata Rusli, petugas bagian Kesiagaan di posko Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satkorlak PB) DKI Jakarta, Senin (11/10).

Data dari Satkorlak menyebutkan, genangan di Kampung Melayu disebabkan meluapnya Kali Ciliwung yang dipicu banyaknya air kiriman dari wilayah Depok dan Bogor. Sekitar 500 rumah penduduk di kawasan tersebut terendam banjir.

Hingga Senin malam, belum ada dari 2.321 jiwa atau 542 kepala keluarga (KK) mengungsi. Warga justru dilaporkan telah siap menghadapi banjir dengan terlebih dulu mengevakuasi barang-barang elektronik ke lantai dua rumahnya. Pemberitahuan terkait akan datangnya banjir telah diumumkan oleh RT dan RW setempat, Senin pukul 03.30.

Berbagai macam barang bantuan, seperti pelampung, tong sampah alat garuk sampah, ban karet, sapu lidi, serta peralatan lainnya telah disiapkan oleh pihak kelurahan setempat. Posko kesehatan yang menjadi rujukan bagi korban banjir juga sudah bersiaga, yaitu di RS Hermina dan Puskesmas Kampung Melayu.

Banjir Luapan Ciliwung, Warga Evakuasi Barang-barang

Sumber: http://www.kabarindonesia.com/ 11 November 2008

KabarIndonesia, JAKARTA – Warga Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur mengevakuasi barang-barang mereka ke tempat yang lebih tinggi karena air Kali Ciliwung telah meluap ke pemukiman warga.

Dari pantauan, Selasa (11/11), ketinggian air dengan radius 100 meter dari Kali Ciliwung telah mencapai lutut orang dewasa. Sementara untuk radius 50 meter dari Kali Ciliwung air telah mencapai dada orang dewasa.

Banjir yang datang sejak pukul 22.00 WIB malam tadi merupakan banjir tahunan yang setiap tahunnya menggenangi wilayah di Kampung Pulo.

Januari 2009

Luapan Pertama Sungai Ciliwung pada 2009

Sumber:  http://nasional.kompas.com/ 14 Januari 2009

JAKARTA, RABU — Pertengahan Januari ini, Sungai Ciliwung meluap untuk pertama kalinya pada tahun 2009. Di Bendung Katulampa, hingga Selasa (13/1), ketinggian air menembus 160 sentimeter dan di Pos Air Depok mencapai 300 sentimeter. Air mulai menggenangi sebagian wilayah Jakarta, Selasa malam sekitar pukul 19.00.

”Hujan deras mengguyur sepanjang Senin (12/1). Selasa, meski cuma gerimis, tetapi terus turun sejak pagi sampai malam. Ketinggian air pun sempat naik hingga 160 sentimeter, 20 sentimeter di atas normal,” kata kepala penjaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman, Selasa kemarin.

Hal senada diungkapkan Ardi, penjaga Pos Air Depok. Menurut Ardi, dengan curah hujan tinggi dan terus-menerus, air dipastikan mengalir langsung ke Jakarta. Lama waktu yang diperlukan untuk perjalanan air dari Katulampa, Depok, sampai ke Jakarta lebih kurang delapan jam.

Senin lalu, tampak derasnya air mengalir di Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa. Aliran air tampak berwarna coklat, pertanda membawa material tanah atau pasir dari hulu sungai di Puncak. Arus juga membawa sampah-sampah plastik. Aliran air yang biasanya cukup tenang itu kemarin mulai bergolak.

Debit air yang semakin tinggi itu meningkatkan kecepatan aliran air. Lumpur, tanah, dan sampah digiring cepat melewati Katulampa, menembus kawasan Bantar Kemang, Bogor, melewati Kebun Raya terus hingga ke Depok dan Jakarta. Batu-batu besar yang tampak menghiasi sepanjang aliran Ciliwung mulai tertutup air.

”Di badan sungai setelah Kebun Raya ini biasanya beton-beton penahan arus terlihat menonjol. Biasanya daerah ini tidak bisa dilewati perahu karet. Namun, kini sebagian besar telah tertutup. Sekarang tim saya dan Kompas bisa melewatinya meski dengan sangat hati-hati,” kata Lody Korua, pengelola Arus Liar, saat menjajal jalur penelusuran Ciliwung untuk persiapan Ekspedisi Kompas Ciliwung, Senin.

Tergenang dan Longsor

Petugas penjaga bendung mulai mengatur aliran air, membaginya ke kanal yang mengalir ke Depok hingga Jakarta. Namun, Ciliwung tidak dapat dibendung, luapan airnya tetap saja menggenangi sedikitnya 14 titik kawasan di Jakarta.

Data dari Pusat Krisis DKI, ke-14 titik itu adalah Pengadegan, Kalibata, Rawa Jati, Gang Arus, Bukit Duri, Bidara Cina, Kampung Melayu, Matraman, Kali Pasir, Kwitang, Jatinegara, Jati Pulo, Tomang, dan Pulo Gadung.

Warga yang bermukim di 14 titik itu, kata petugas Pusat Krisis DKI, Basuki, sudah diimbau untuk segera mendirikan posko banjir sebagai tempat pengungsian.

Hingga Selasa malam, Pusat Krisis DKI dan Traffic Management Center Polda Metro Jaya mencatat masih terdapat genangan air akibat hujan yang terus turun sejak Senin lalu. Beberapa genangan terpantau ada di tujuh kelurahan.

Di Jakarta Pusat, genangan antara lain ada di Rawasari, Salemba, Cempaka Putih, Cempaka Tengah, dan Laguna Indah kompleks Pertamina, dengan ketinggian air 30-60 sentimeter. Di Jakarta Barat, genangan 30-40 sentimeter terjadi di Jalan Pasemol, Rawa Buaya, dan Taman Kota. Di Jakarta Selatan, banjir terjadi di Petogogan, Kebon Baru, setinggi 15-20 sentimeter.

Di Jakarta Timur, genangan setinggi 20-30 sentimeter terpantau di Jalan Perintis Kemerdekaan, depan Kampus ASMI. Sedangkan di kawasan Kayu Putih, Cipinang Besar Utara, Cipinang Cempedak, dan Jatinegara digenangi air setinggi 30-60 sentimeter. Diperkirakan, jika hujan terus turun pada Selasa malam, ketinggian genangan bisa bertambah 10-100 sentimeter. Selain genangan, tanah longsor juga menyulitkan sebagian warga di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Sekolah darurat

Menghadapi datangnya banjir, warga Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, yang setiap tahun menerima luapan Ciliwung, meminta Pemerintah Provinsi DKI menyediakan sekolah darurat. Dari pengalaman mereka, banjir menjadikan pelajar di sana ketinggalan pelajaran karena kegiatan belajar-mengajar bisa terhenti sampai satu bulan.

Para pelajar itu tidak bisa belajar karena banyak buku pelajaran mereka yang rusak, seragam dan alat tulis hilang, serta tidak ada tempat layak untuk belajar. Permintaan sekolah darurat itu disampaikan Ketua RT 06 RW 02 Awaluddin, Selasa. ”Di RT 06 ini ada 20 murid sekolah dasar dan sekitar 15 murid SMP-SMA. Tiap tahun, setiap banjir, mereka tidak bisa belajar. Akhirnya nilai di sekolahnya menurun,” kata Awaluddin.

Ny Lilis (31), seorang warga, berharap jika terjadi banjir setidaknya diadakan kegiatan positif yang bisa dilakukan anak-anak di tempat pengungsian. (NEL/ARN)

Air Ciliwung Kembali Naik, Warga Selamatkan Barang

 Sumber: http://www.tempo.co/  21 Januari 2009 

TEMPO Interaktif, Jakarta: Air Kali Ciliwung Rabu (21/1) siang ini dilaporkan kembali naik. Menurut Kamaludin, 47, Ketua RT 6/02 Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, air naik mulai sekitar pukul 09.00 WIB. “Kini sudah 2,5 meter,” kata dia ketika dihubungi Tempo.

Air menggenangi wilayah 10 rukun tetangga. Warga kini sibuk menyelamatkan barang-barang. “Sebagian lainnya ke luar kampung,” kata dia.

Menurut Kamaludin, air sempat kering sejak kemarin pagi hingga tadi pagi sehingga penduduk membawa barang-barang mereka ke rumah. “Tapi begitu air naik, terpaksa dikeluarkan lagi,” kata dia.

Dini hari tadi, di Puncak, Bogor, dilaporkan sempat hujan. Menurut Suhanda, petugas, hujan terjadi sekitar pukul 00.00-02.00. “Setelah itu gerimis kecil,” kata dia ketika dihubungi Tempo.

Ketinggian air Kali Ciliwung sangat dipengaruhi cuaca di Puncak. Jika di Puncak hujan lebat, maka selisih 10 jam kemudian, kemungkinan air Kali Ciliwung di Jakarta akan naik.

Ketinggian air di Katulampa, Bogor, turun dibandingkan semalam. “Semalam di posisi normal 80 sentimeter, kini 70 sentimeter,” kata Suhanda.

Di Depok semalam 245 sentimeter, kini turun jadi 170 sentimeter. Di Manggarai, Jakarta, justru naik, semalam 680 sentimeter, kini 750 sentimeter.  NUR ROCHMI

Februari 2010

Banjir Kiriman Dari Bogor, Pemukiman di Tepi Ciliwung Jaktim Terendam

Genangan tidak sampai mengganggu arus lalu lintas karena hanya berada di pemukiman.

Sumber: http://metro.vivanews.com/  10 Februari 2010

VIVAnews – Luapan Sungai Ciliwung akibat hujan lebat yang turun di Bogor mengakibatkan pemukiman penduduk yang berada di tepi sungai kawasan Jakarta Timur terendam.

Daerah yang terendam, antara lain di Gang Arus Jalan Dewi Sartika, tepatnya di belakang redaksi koran Suara Pembaruan, Kelurahan Cawang, Kramat Jati.

Menurut informasi Traffic Management Center Polda Metro Jaya, genangan air tidak sampai mengganggu arus lalu lintas karena hanya berada di dalam kawasan pemukiman penduduk.

Sebagian rumah penduduk di kawasan Cawang Atas juga demikian. Air yang datang pukul 08.00 tadi, masuk ke pemukiman di lima RT di RW 11, yakni RT 12, 13, 10, 3, dan 6.

Banjir Surut, Warga Bantaran Sungai Ciliwung Bersihkan Rumah

Reza Yunanto – detikNews

Sumber: http://news.detik.com/ 14 Februari 2010 

Jakarta Banjir yang sempat melanda pemukiman bantaran Sungai Ciliwung sudah surut. Warga mulai membersihkan rumah dari sisa-sisa lumpur yang menggenangi rumah mereka.

Pantauan detikcom, yang menyusuri Sungai Ciliwung bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (14/2/2010), terlihat puluhan warga sibuk membersihkan rumahnya.

Pemukiman sepanjang bantaran Sungai Ciliwung mulai dari Bukit Duri, Kampung Melayu hingga Manggarai sejak Sabtu, 13 Februari, memang tergenang air. Hal ini disebabkan meluapnya Sungai Ciliwung akibat banjir kiriman dari Bogor.

Banjir mulai surut sekitar pukul 02.00 WIB dan warga mulai sibuk membersihkan rumahnya. Puluhan rumah permanen maupun semi-permanen yang terletak di bibir sungai terlihat kotor. Tampak lumpur dan sampah yang mengotori dan menyangkut di rumah mereka.

Sebagian warga tampak menjemur pakaian dan perabotan yang basah terendam air. Mereka hanya memakai pakaian seadanya, lantaran pakaian mereka basah terendam air.

Beberapa petugas kelurahan dan polisi juga sigap membantu. Merek ikut menguras air dengan mesin penyedot yang diturunkan langsung.

Namun langkah warga bersih-bersih ini nampaknya tidak terlalu efektif. Sebab, banjir masih mengintai mereka selama ancaman banjir kiriman masih ada. (nal/nal)

Wapres Kunjungi Kawasan Terkena Banjir Ciliwung

Sumber: http://www.merdeka.com/ 18 Februari 2010 

Kapanlagi.com – Wapres Boediono dalam kunjungan ke tiga pasar secara mendadak meninjau banjir yang melanda Sungai Ciliwung yang berada kawasan Jatinegara.

Kendaraan Wapres usai meninjau Pasar Jatinegara berhenti di jalan Jatinegara Barat untuk melihat luapan banjir Ciliwung dari tepi jembatan.

Didampingi Mendag Mari Elka Pangestu, Boediono mendengarkan penjelasan Gubernur DKI Jakarta mengenai status banjir yang melanda sungai itu.

Boediono tampak serius mendengarkan penjelasan gubernur dan menyaksikan aliran sungai yang meluap hampir menyentuh tepi jalan.

Setelah sekitar 10 menit menyaksikan banjir. wapres dan rombongan kembali menyaksikan banjir dari sisi lain yang berjarak sekitar 50 meter dari pemberhentian awal.

Di tempat itu Wapres Boediono mendapat penjelasan dari Fauzi Bowo mengenai langkah yang diambil membantu korban banjir.

Tampak Boediono memperhatikan dua kapal karet yang digunakan membantu warga terkena banjir.

Wapres mengatakan dirinya akan melakukan rapat dengan menteri terkait dan gubernur untuk membahas banjir.

“Besok kita akan rapat bahas banjir bersama pihak terkait. Ini merupakan jangka panjang untuk tanggulangi banjir,” katanya. (ant/meg)

Kunjungan Kerja Dalam Rangka Musibah Banjir Meluapnya Kali Ciliwung Kegiatan Gubernur

Sumber: http://www.bpadjakarta.net/ 18 Februari 2010

Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono didampingi Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo meninjau para pengungsi korban banjir di pengungsian bekas bioskop Nusantara Jatinegara Jakarta timur. Wakil Presiden berjanji segera rapat dengan instansi terkait untuk menyelesaikan masalah banjir dikawasan Jatinegara.

Sebelum mengunjungi pengungsi Wapres dan sejumlah Menteri melihat kondisi ketinggian air Kali Ciliwung dari atas jembatan Jatinegara dan mengunjungi Pasar Kramajati, Pasar Jatinegara untuk memantau lonjakan harga sembako.

Sementara Gubenur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan untuk mengurangi banjir dimasa yang akan datang aliran kali Ciliwung dan bekas alur Ciliwung lama akan dikeruk dan untuk rencana kedepannya akan disodet ke kali Cipinang. Sehingga kalau alur sungai itu volumenya tinggi kita bisa alihkan melalui Sungai Cipinang, kemudian masuk ke Banjir Kanal Timur (BKT).

 

Selain itu warga yang tinggal di alur basah kali juga akan dipindahkan sehingga dapat sehingga dapat dilakukan normalisasi yang akan menambah volume air yang bisa ditampung. Untuk mereka yang tinggal di badan kali ( alur basahnya kali) tidak ada pilihan lain lagi kecuali direlokasi.

Kepada masyarakat Jatinegara yang menjadi langganan banjir telah setuju dengan relokasi namun masih terdapat hambatan dengan lokasi relokasi tersebut masalahnya banyak warga sekitar Jatinegara yang bekerja di pasar Jatinegara jadi nggak mungkin dipindahkan ke Rusun Marunda misalnya. Jumlah pengungsi korban banjir Kampung Melayu tercatat 676 jiwa telah menempati lokasi Bioskop Nusantara 375 jiwa, depan RS. Hermina 125 Jiwa, dan Masjid At-Tawabin 176 jiwa. (Kampung Melayu, Kamis 18/02/2010, Tek/Foto: Hadi Mulyono)

Korban Banjir Ciliwung Perlu Bantuan Selimut dan Obat

Sumber: http://www.elshinta.com/ 19 Februari 2010

Wahyu Riman – Jakarta, Hingga Jumat (19/2) siang ini, sekitar 7.978 jiwa korban banjir luapan Sungai Ciliwung atau sekitar 2.084 kepala keluarga masih mengungsi.

Ribuan korban banjir dari tujuh RW dan 47 RT Kampung Melayu menempati empat lokasi pengungsian, yakni di bekas Bioskop Nusantara sebanyak 476 jiwa, pelataran Rumah Sakit Hermina 175 jiwa, Masjid Attawabin 176 jiwa dan Gang Arus 86 jiwa.

Banjir kiriman dari Bogor dan hujan deras telah membuat Sungai Ciliwung kemarin kembali meluap. Saat ini ketinggian banjir masih bervariasi antara 50 – 175 CM.

Menurut seorang pengungsi di Pelataran Hermina, Ety, warga hanya beralaskan tikar dan kasur. Warga membutuhkan selimut untuk bayi dan balita, obat-obatan serta peralatan mandi dan makanan. (heh)

Aguatus 2010

Korban Banjir Bantaran Ciliwung Belum Peroleh Bantuan

Sumber:  http://www.tempo.co/ 27 Agustus 2010

Seorang siswi hendak pulang kerumah menaiki perahu rakit akibat luapan kali Ciliwung, di kawasan Cawang Jakarta, Selasa (11/11). TEMPO/Tri Handiyatno

TEMPO Interaktif, Jakarta –Warga pemukiman padat di bantaran Sungai Ciliwung yang terkena banjir, sama sekali tidak mendapat bantuan. Padahal, meski sudah surut sejak semalam, banjir kiriman dari Bogor itu sempat hampir menenggelamkan sejumlah rumah warga.

Nihilnya bantuan ini terjadi di 20 RT yang berada di wilayah RW 02 dan 03, Kampung Melayu. “Kalau cuma banjir gini memang jarang ada bantuan,” kata Husin, 56 tahun, Ketua RT 11 RW 03, Kampung Melayu, Jakarta Timur, saat ditemui di lokasi bekas banjir, siang tadi.

Selama ditimpa musibah banjir, warga terpaksa memenuhi kebutuhannya sendiri. Walaupun, sejumlah orang dari kelurahan sempat menengok kondisi di wilayah ini, kemarin.

“Banjir seperti kemarin buat kami hal biasa,” ujar Husin. “Kecuali banjir musiman, yang baru surut dalam waktu dua sampai tiga hari.”

Selain itu, ia melanjutkan, setiap rumah sudah mengantisipasi banjir dengan meletakkan barang-barang berharga dan elektronik di loteng rumah mereka. Dari pantauan Tempo, memang hampir semua rumah di wilayah tersebut dibangun bertingkat.

Pernyataan senada juga dilontarkan Iwan (45), warga RT 10 RW 01, Cawang, Jakarta Timur, bahwa percuma jika mengharapkan bantuan pada musibah banjir seperti kemarin. Banjir kiriman juga sempat menggenagi 10 RT yang terletak di RW 01 dan RW 02, di Cawang. “Kecuali kalau banjirnya parah, baru akan ada bantuan,” katanya, sambil tertawa.

Memang, sejak Kamis (26/8) pagi sampai malam, pemukiman padat penduduk di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung tersebut terendam banjir mulai setinggi lutut orang dewasa hingga 2,5 meter. Sejumlah daerah yang terkena banjir adalah Cawang dan Kampung Melayu, Jakarta Timur, serta Bukit Duri, Jakarta Selatan.

Namun, hari ini aktivitas warga sudah kembali normal, dan bekas-bekas banjir sudah tidak tampak. Sejumlah anak-anak juga terlihat sudah bersekolah.

Ratusan motor yang kemarin diparkir berjajar di sepanjang bahu Jalan Jatinegara Barat pun sudah tidak ada lagi. Sehingga arus lalu-lintas tidak sampai terganggu seperti kemarin saat banjir.

Berdasar pantauan Tempo, air Sungai Ciliwung yang melintasi daerah Kampung Melayu sudah tidak setinggi kemarin. Kira-kira ketinggiannya telah berkurang separuh lebih dari pada kemarin.

Banjir kiriman yang datang tiba-tiba, pada Kamis (26/8) pagi, disebabkan tingginya curah hujan di lereng gunung di daerah Puncak, Bogor. Sehingga debit permukaan air di bendungan Katulampa, Bogor, sempat mencapai 200 sentimeter, melebihi batas normal setinggi 70 sentimeter.
WAHYUDIN FAHMI

Mei 2011

Banjir di Bantaran Ciliwung  

Sumber:   http://www.tempo.co/  21 Mei 2011 

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kali Ciliwung meluap dan membanjiri rumah-rumah di bantaran Kali Ciliwung, Jatinegara, Jakarta Timur akibat kiriman air yang disebabkan hujan di Depok dan Bogor.

Rumah-rumah yang berada di bantaran Kali Ciliwung di Kelurahan Bidaracina dan Kampungmelayu di Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, terendam banjir sekitar 30 cm sejak dini hari, Sabtu, 21 Mei 2011.

“Mulai sekitar jam dua pagi,” kata Lurah Kampung Melayu, Ade Chairul Bahar ketika dihubungi Tempo, hari ini.

Kali Ciliwung meluap akibat hujan di wilayah Depok dan Bogor ini mulai terjadi sejak pukul 02.00 dinihari. Air kiriman ini merendam rumah warga tidak terlalu lama dan mulai surut siang hari. “Jam dua siang sudah surut,” kata Ade Bahar

Ade Bahar menyatakan, tidak ada warga yang mengungsi atas banjir kiriman ini. Hal ini disebabkan, para warga sudah terbiasa dengan banjir kiriman. Terutama karena mereka sudah mengetahui, banjir kiriman tidak mencapai satu meter.

Ade Bahar menyatakan, warga mengadakan antisipasi dengan mengadakan ronda secara bergilir. Selain itu mereka juga mengadakan komunikasi dengan petugas pintu air Kapulampa.

“Biasanya kalau lebih dari satu meter warga mengungsi ke musolah di atas,” kata Ade Bahar.

Pada saat dihubungi Tempo, Ade Bahar bersama Camat Jatinegara sedang melakukan pemeriksaan ke lokasi yang terendam. “Bila Jakarta hujan, daerah sini tidak banjir, tapi kalau kiriman dari Bogor dan Depok baru banjir,” kata Ade Bahar.  FRANSISCO ROSARIANS

November 2011

Ciliwung Katulampa Siaga 3 Banjir

Sumber: http://www.wartanews.com/ 14 November 2011

WartaNews, Bogor – Ketinggian permukan air Sungai Ciliwung di Bendung Ciliwung Katulampa, Kota Bogor, Senin (14/11/2011) pukul 15.30 ini sudah mencapai satu meter.

“Tinggi air saat ini sudah satu meter. Katulampa siaga 3. Hujan di hulu, di kawasan Puncak, Cisarua, masih berlangsung, walaupun tidak besar,” kata Andi Sudirman, penjaga Bendung Ciliwung Katulampa (BCK), melalui telepon.

Menurut Andi, air berlimpah yang masuk ke Bendung Katulampa sangat coklat, namun tidak membawa sampah besar seperti pohon-pohon tumbang. “Air ini akan masuk Jakarta sekitar 12 jam dari sekarang,” katanya.

Ia menambahkan, sejak pagi sebetulnya permukaan air Katulampa di bawah normal, yakni 10 sentimeter. Menjelang pukul 15.00 baru terlihat ada penambahan air, yang permenitnya sangat cepat naik. Sehingga, 30 menit kemudian ketingian air sudah satu meter.

“Pada November ini, ketinggian air meningkat cepat sampai satu meter terjadi dua kali, yakni pada 1 November dan hari ini,” katanya. (*/js)

Banjir Hantam Warga Bantaran Kali Ciliwung

Sumber:http://metropolitan.inilah.com/  18 November 2011

INILAH.COM, Jakarta – Hujan deras yang mengguyur sebagian wilayah Bogor, Jawa Barat mengakibatkan sejumlah perumahan yang ada di bantaran Kali Ciliwung terendam banjir, seperti halnya kawasan Cawang, Bidara Cina, dan Kampung Melayu. Banjir kiriman dari Bogor ini merendam perumahan warga sekitar pukul 04.00 WIB Jumat (18/11/2011), dengan ketinggian mencapai 1,5-2 m.

“Air meluap dari Kali Ciliwung mulai dari Subuh tadi dan sampai sekarang masih bertahan setinggi 1,5 meter. Tapi kalau rumah-rumah yang jaraknya nggak jauh dari bibir Kali Ciliwung, ketinggian air bisa sampai 2 meter,” kata Faisal, Ketua RW 03, Kampung Melayu, Jumat (18/11).

Menurutnya di wilayah RW 03 yang rumahnya tidak jauh dari bibir Kali Ciliwung adalah RT 03 dan 04. Di lokasi itu, ketinggian air mencapai 2 m.

Dari data yang terhimpun, luapan air Kali Ciliwung di kawasan Kampung Melayu menggenangi perumahan warga diantaranya di RW 01, 02 dan 03. Selain di Kampung Melayu, banjir juga merendam perumahan warga di kawasan RW 07 Bidaracina serta di gang Arus, Cawang, Jakarta Timur. Namun hingga hari ini belum terlihat adanya bantuan makanan serta perahu karet di sekitar lokasi banjir. [mvi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: