Berita 2009

Januari 2009

Ekspedisi Ciliwung 2009 Ditutup Gubernur

Sumber: http://www.beritajakarta.com/  22 Januari 2009 

Ekspedisi Ciliwung Kompas 2009 yang menelusuri Sungai Ciliwung, resmi ditutup oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Kamis (22/1). Kesimpulan dari ekspedisi yang berlangsung selama enam hari ini, Sungai Ciliwung berpotensi menjadi cagar alam karena masih banyak terdapat hewan liar.

Dalam sambutanya, Fauzi Bowo memaparkan sejarah Sungai Ciliwung sangatlah panjang. Dimulai dari zaman Padjajaran. Ciliwung itu tidak hanya punya arti yang sangat besar untuk kota Jakarta. Tetapi sejak awal sejarah kota Jakarta ini berdiri, Ciliwung juga ikut menjadi bagian dalam kehidupan kita sehari-hari.

Foke sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta tersebut mengaku senang dan bangga karena masih ada kelompok masyarakat yang peduli dengan kondisi Sungai Ciliwung tersebut. “Kami ucapkan selamat kepada tim ekspedisi Kompas atas kegiatan ini. Meski banyak rintangan, semoga kegiatan ini bisa menjadi stimulan masyarakat terhadap kelangsungan kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.

Dia menjelaskan, potret Ciliwung yang digambarkan tim ekspedisi saat ini merupakan potret gambaran sekarang seperti terlihat gunungan sampah yang baunya luar biasa. Kemudian aliran Sungai Ciliwung ini banyak mengenangi pemukiman mulai dari Gedung Halang Bogor, masuk ke Jakarta, Srengseng, Bukitduri, Manggarai Kampungmelayu, dan seterusnya. “Semuanya ini merupakan cermin dari perilaku manusia dengan lingkungannya,” jelasnya.

Tidak dipungkiri, kata Foke, saat ini kondisi Sungai Ciliwung sudah banyak yang rusak. Karena itu, peran aktif dari masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan di Sungai Ciliwung sangat dibutuhkan.

Ciliwung Berpotensi Jadi Cagar Alam

Sementara, Ketua Tim Ekspedisi Ciliwung 2009, Neli Triana, mengungkapkan, selama perjalanan menyusuri Sungai Ciliwung sejak Jumat (16/1) hingga Kamis (22/1) disimpulkan, kalau Sungai Ciliwung masih sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi cagar alam yang indah dan cantik. “Dari mulai hulu tepatnya di daerah Cibulau Puncak, Bogor hingga hilir di muara laut Utara Jakarta ini sebenarnya memiliki banyak potensi,” katanya.

Dia menjelaskan, sepanjang penelusuran Sungai Ciliwung yang ia lakukan banyak menyimpan kenangan. Bahkan, di perairan Sungai Ciliwung masih banyak yang ektrim. “Dari mulai Cibulai sampai Condet Jakarta Timur kita masih menemukan banyak binatang seperti ular, biawak, dan binatang buas lainya. Tetapi setelah memasuki daerah seperti Kampungmelayu dan sekitarnya yang ada hanya tumpukan sampah dan perumahan kumuh yang sangat tidak teratur,” terangnya.

Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Rikard Bangun, mengatakan, tujuan dari kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian Kompas terhadap realita sosial, khususnya lingkungan. “Tidak lain dan tidak bukan kegiatan ini merupakan sebuah interaksi dengan alam,” ujarnya. Mengenai hasil ekspedisi ini, kondisi Sungai Ciliwung sudah tidak lagi indah dan bagus, bahkan sudah banyak yang hancur. “Dari hulu sampai hilir kondisinya sudah cukup parah, dan banyak juga masyarakat yang kurang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Karena itu, melalui kegiatan ini tim ekspedisi secara nyata telah memberikan penyadaran terhadap masyarakat agar dapat menjaga dan melestarikan sungai. “Penderitaan Ciliwung, penderitaan kita semua. Semua harus bekerja sama, terlebih Ciliwung tidak terpisahkan dari kehidupan warga Jakarta,” ucapnya.

Maret  2009

TUTUPAN HUTAN DI DAS CILIWUNG MENURUN DRASTIS

Sumber:  http://www1.pu.go.id/ 3 Maret 2009

Perubahan tata guna lahan di kawasan Puncak sebagai daerah hulu sungai Ciliwung semakin memprihatinkan. Berdasarkan hasil analisis citra satelit dari 4.918 hektare (9,43%) luas tutupan hutan di wilayah DAS Ciliwung pada tahun 2000, dalam kurun waktu 8 tahun telah berkurang drastis hingga hanya tersisa 1.265 Ha atau 2,42%.

Menurunnya jumlah tutupan hutan berpengaruh terhadap kualitas lingkungan DAS Ciliwung. Sungai Ciliwung akan semakin dangkal karena tanah mudah terbawa ke sungai pada saat musim hujan berakibat pada sedimentasi sungai. Akibatnya debit air yang turun dari hulu melebihi daya tampung sungai.

“Akibatnya banjir terjadi dimana-mana pada saat musim hujan dan kesulitan air pada musim kemarau” kata Mnteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dalam kunjungan kerja bersama Menteri Negara Lingkungan Hidup Racmat Witoelar, Menteri KehutananM.S. Kaban dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono di Kawasan Puncak. Kunjungan empat menteri tersebut terkait dengan pemulihan lingkungan di DAS Ciliwung yang juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf dan Wakil Bupati Bogor K. Fathurahman. Dalam kunjungan tersebut juga dilakukan penghijauan berupa penanaman pohon dan pembuatan lubang biopori di Kecamatan Tugu Utara, Puncak.

Departemen Pekerjaan Umum sendiri, tambah Menteri PU telah melakukan rehabilitasi 72 situ dari 202 situ yang ada di DAS Ciliwung. Sebanyak 109 Dam Parit juga telah dibangun di daerah hulu Sungai Ciliwung yang berfungsi untuk mengurangi debit banjir, proses sedimentasi sungai dan sebagai daya tampung air baku masyarakat.

Sementara itu Meneg LH Rachmat Witoelar mengatakan tata ruang yang dengan mudah dirubah mengakibatkan berkurangnya luas tutupan hutan di kawasan puncak. “Kita perlu tangani ini dengan sangat serius, kalau berlanjut hutan akan punah. Pemerintah daerah merupakan garda depan untuk mengajak peran serta masyarakat” katanya.

Untuk mencegah berlanjutnya alih fungsi hutan menjadi daerah permukiman dan pertanian di kawasan puncak, menurut Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, Konservasi saja tidak cukup, tetapi perlu penegakan hukum. Mengenai banyaknya Villa yang dibangun menyalahi tata ruang yang ada, Dede Yusuf mengatakan bahwa Villa yang tidak sesuai akan tetap dirobohkan karena masalah lingkungan adalah penting.

Mengenai prilaku masyarakat yang melakukan cocok tanam di daerah kemiringan, Wakil Bupati Bogor K. Fathurahman mengatakan bahwa perangkat daerah tidak bisa melarang warga. Oleh karena perlu diatur insentif bagi warga di kawasan Puncak sebagai daerah hulu untuk menjaga kelestarian lingkungannya dari Pemerintah Jakarta yang menikmati manfaat dari kelestarian daerah hulu. (gt)
Pusat Komunikasi Publik  030309

“MUTU AIR CILIWUNG SUDAH “NO CLASS!” 

Koran Suara Akar Rumput, Edisi 18-24 Maret 2009, hal 1

Sumber:http://wwwnew.menlh.go.id/ 

“Status mutu air sungai Ciliwung yang membelah Jakarta, sudah berada pada status mutu E (cemar sangat berat). Bahkan sudah tidak termasuk di dalam kelas air (No Class). Kondisi ini menggambarkan bahwa air Ciliwung di Jakarta sudah tidak layak konsumsi,” tegas Masnellyarti Hilman, Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, saat melaporkan hasil pemantauan kualitas air sungai Ciliwung kepada para pejabat yang melakukan kunjungan kerja di desa Sukatani Cisarua Bogor, 2 Maret silam.

Para pejabat yang dilapori itu adalah Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmantoro, Menteri Pertanian, Anton Apriliantono, Menteri Kehutanan, M S Kaban, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dede Yusuf, serta Wakil Bupati Bogor Faturrachman. Para pejabat ini langsung meupun tidak langsung memang berhubungan erat dengan masalah sungai Ciliwung.

Pada kesempatan itu, Bu Nelly- demikian sapaan untuknya-juga menumpahkan sedikit unek-uneknya masih seputar masalah Ciliwung. “Sejak tahun 2006, Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH), sudah menyusun rencana kerja pemulihan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Tapi, program ini terhambat. Kini, program tersebut sudah disempurnakan dengan mengadakan kerjasama terpadu antar departemen,”lanjut Nelly.

Permasalahan utama sungai Ciliwung memang menyangkut dua hal, yakni beban pencemaran air yang kelewat tinggi serta perusakan lingkungan di DAS yang terlanjur masif. Namun, banyak factor yang menjadi penyebabnya. Nelly yang kala kuliah di Universitas Padjajaran aktif sebagai anggota Pramuka Gudep Unpad tentu sangat paham akan hal ini. terutama dampaknya bagi kehidupan masyarakat.

Bisa dibayangkan, air Ciliwung di Jakarta yang begitu kotor dan sudah tercemar sangat berat, ternyata masih dipakai oleh sebagian warga masyarakat untuk mencuci beras, piring, gelas dan peralatan makan lainnya. Pemandangan seperti ini akan mudah ditemui pada keluarga yang tinggal di sepanjang bantaran Ciliwung, seperti di Jatinegara, Kampung Melayu, Manggarai, dan Pejompongan. Untuk menyiasati pekatnya air sungai, mereka kerap mencampurkan dengan cairan kimia pemutih baju ke air sungai yang ditimbanya untuk mencuci piring.

Warga memang awam akan bahaya bahan kimia yang sebenarnya dapat mengancam kesehatan mereka. Atau, mungkin juga sadar akan hal itu, namun dipaksa oleh keadaan. Sebab membeli air bersih sama artinya menambah beban pengeluaran rumah tangga. Sementara tingkat pendapatan penghuni bantaran kali rata-rata terbatas.

Ironisnya, korban pertama akibat buruknya kondisi lingkungan sungai biasanya kaum perempuan dan anak-anak. Sebab, mereka itu yang sangat dekat dengan kehidupan sungai. Kaum perempuan itu pula yang lebih banyak bersentuhan dengan sungai kotor itu, lewat aktivitas sehari-hari, seperti mencuci baju dan atau peralatan dapur/makan.

Dari perspektif ini, ketidakadilan jender dengan sendirinya ikut menjadi persoalan penting terkait dengan masalah pencemaran sungai. Sebagai kelompok yang keseharian berhubungan dengan sungai, perempuan dapat diberdayakan agar mampu dan terlibat dalam upaya pemeliharaan sungai. Tapi kenyataannya posisi mereka selalu diabaikan. Ketidakadilan jender itu tidak hanya mengancam keselamatan kelompok perempuan yang hidup di bantaran sungai, tetapi juga mengancam keselamtan lingkungan dan sungai.

Bertolak dari pengertian ini, maka pemberdayaan perempuan seyogyanya dijadikan agenda penting dalam program pemulihan kualitas sungai Ciliwung. Mereka perlu diberi pendidikan, pengetahuan, dan pemahaman tentang pentingnya fungsi sungai, agar lambat laun dapat mengubah kebiasaan mereka selama ini yang tidak sehat dan tidak ramah lingkungan.

Tentu, mulai dengan cara dan pendekatan sederhana. Misalnya, diberi masukan agar sebaiknya tidak membuang sampah dan buang air besar di sungai supaya sungai tidak mapet dan bau busuk. Atau mereka diajak untuk membersihkan lingkungan masing-masing, membuang sampah di tempat sdampah yang mereka buat bersama, mengajak anak-anak untuk tidak sembarangan membuang sampah. Mencegah anak-anak berenang di sungai yang sudah tercemar karena berbahaya bagi kesehatan dan lain-lain.

Sebagai seorang ibu, Misnellyarti Hilman tentu sangat berharap kesadaran perempuan dan upaya memberdayakan perempuan yang hidup di bantaran sungai dapat terus-menerus dibangun agar suatu saat kita bisa benar-benar mendapatkan sungai yang bersih. Paulus Londo

Mei 2009

Foke Minta Masyarakat Tak Buang Sampah di Sungai Ciliwung

Oleh Andri Indradie

Sumber:  http://nasional.kontan.co.id/ 18 Mei 2009 

JAKARTA. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memerintahkan setiap lurah dan camat untuk mencegah pembuangan sampah ke Sungai Ciliwung. Fauzi juga meminta lurah dan camat memikirkan bagaimana cara memindahkan rumah-rumah liar yang memenuhi bantaran Ciliwung.

Fauzi meminta perhatian itu karena kondisi Ciliwung saat ini sangat memprihatinkan. Menurut Fauzi, batas kiri dan kanan sungai telah menyempit karena banyaknya pemukiman di sekitar bantaran kali.

Sekitar 50% dari luas awal Ciliwung sudah tergusur oleh pemukiman. Sungai pun mendangkal karena sudah puluhan tahun jadi tempat pembuangan sampah masyarakat. Pendangkalan dan penyempitan itu yang menjadi penyebab meluasnya banjir dari tahun ke tahun.

Kondisi tersebut makin parah dengan adanya pencemaran. Padahal, sungai Ciliwung adalah pemasok air bersih bagi kota Jakarta. Karena pencemaran itu, proses penjernihan air menjadi sulit dan menelan biaya yang mahal.

Agustus 2009

PDAM Bendung Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/  03 Agustus 2009 

BOGOR,(PRLM).-Untuk mengantisipasi krisis air bersih PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor melakukan berbagai langkah, di antaranya yakni dengan cara membendung Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang selama ini dijadikan sumber air baku PDAM. Hal itu dilakukan khususnya untuk pelanggan di wilayah Kec. Cibinong dan sekitarnya. “Upaya itu kami lakukan untuk menjaga agar suplai air dari sumber air ke instalasi pengolahan air selama musim kemarau ini,” Hadi Mulya Asmat, SH Direktur Utama PDAM Tirta Kahuripan Kab. Bogor, di Cibinong, Minggu (2/8).

Menurut Hadi, dengan membendung di beberapa bagian DAS Ciliwung diharapkan akan mampu menaikan muka air yang kini debitnya sudah semakin berkurang akibat kemarau. Sehingga kapasitas air yang mampu di alirkan dapat memenuhi kebutuhan suplai air untuk para pelanggan. “Sejauh ini cara itu masih efektif, suplai air yang dihasilkan masih normal yakni sekitar 120 liter perdetik,” ungkapnya.

Dijelaskan Hadi, cara semacam ini juga telah dilakukan pada musim kemarau tahun lalu. Hasilnya, distribusi air ke pelanggan tidak mengalami gangguan yang berarti. “Dari pengalaman musim kemarau lalu, suplai air ke pelanggan tidak mengalami gangguan yang berarti,” ujarnya.

Sementara, untuk meningkatkan kemampuan produksi di instalasi pengolahan Bojong Kulur, Kec. Gunung Putri, pihak PDAM lanjutnya, tengah berupaya menaikan kapasitas produksinya, yakni dengan menambah 1 unit pompa baru. “Diharapkan dalam 2 minggu ke depan, pompa baru itu sudah bisa kami operasikan, sehingga dengan demikian kebutuhan air khususnya di wilayah Bogor Timur, tetap dapat tercukupi,” urainya.

Tak hanya itu, lanjut Hadi, PDAM juga telah menyiapkan skenario, jika terjadi gangguan suplai air ke pelanggan selama musim kamarau ini. “Kami telah menyiapkan armada tanki dengan kapasitas 5 ribu liter, sebanyak 4 unit yang akan beroperasi selama 24 jam, jika terjadi gangguan distribusi. Kendaraan itu nantinya akan kami terjunkan ke daerah-daerah yang memang terjadi kerawanan air,” paparnya.(B-65/A-50)***

Kali Ciliwung Tercemar, Ribuan Ikan Mabok

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 28 Agustus 2009 

DEPOK,(PRLM).- Ribuan ikan yang hidup di Kali Ciliwung mabok dan mengap-megap lantaran air sungai yang biasanya berwarna coklat berubah warna menjadi hitam dan berbau tak sedap. Mabuknya ikan penghuni kali Ciliwung membuat sebagaian warga di sekitar kawasan kali tepatnya, di Jalan Haji Mat Thohir RT 2/2 Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok berebut mendapatkannya.Dengan menggunakan jaring, kail bahkan tangan kosong.

“Airnya mulai tercemar sejak masuk puasa. Sejak itu ikan disini mulai pada mabuk,” kata Darjo (43),salah seorang warga yang ditemui saat menangkap ikan di kali.

Darjo mengatakan, warna air kali tersebut setiap harinya berwarna semakin gelap dan menebarkan bau semakin busuk pada pagi atau malam hari. Pada saat itu, terang dia, biasanya ikan-ikan di dalam sungai akan mulai bermunculan dan mengambang. “Mungkin waktu buang limbahnya pagi atau malam hari. Sebab pada malam dan pagi hari airnya semakin hitam dan bau,” ujar dia.

Namun demikian, kata Darjo, ia kurang yakin dapat mengonsumsi ikan tersebut. “Rasa ikannya juga lebih gurih kalau airnya jernih. Kalau ikan mabuk rasanya kurang enak,” ungkapnya.

Hal senada juga diutarakan, Hendri (30) salah seorang warga yang juga pemilik usaha produksi ikan asap yang berada persis berada di pinggir kali Ciliwung. Dia mengaku khawatir pencemaran sungai tersebut akan berdampak pada kesehatan keluarganya. “Meskipun kami menggunakan air sumur untuk mencuci dan mandi bisa saja tercemar. Sebab, air sumur kami dekat dengan sungai,” kata dia.(A-163/A-50)***

September 2009

Ciliwung Diduga Tercemar Limbah Pabrik

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/  01 September 2009

DEPOK,(PRlM).-Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok, Rahmat Subagio menduga air Sungai Ciliwung yang berwarna hitam, berbau tak sedap, dan menyebabkan ikan mabok telah tercemar limbah organik yang dialirkan anak sungai, seperti Kali Kupak, Kali Sugu Tamu, dan kali-kali lainnya.

“Berdasarkan laporan staff Kelurahan Pondok Cina yang ditunjuk BLH Kota Depok untuk melakukan penelusuran ke hulu sungai Ciliwung yang diduga tercemar limbah,” katanya saat mengunjungi bantaran sungai Ciliwung di RT01 dan RT02/RW02, Senin (31/8).

Menurut Rahmat, pihaknya telah menindaklanjuti dengan mengambil sampel air sungai dan sumur yang ada di sekitar warga untuk diteliti ke labotarium di PT Ngutu Agung di Cimanggis. “Kita telah mengambil sampel air sungai, air sumur, dan air resapan lainnya,” kata dia.

Rahmat menuturkan, dalam waktu tiga hari kedepan hasil pemeriksaan sudah dapat dilihat. Sampel untuk sumur dan air minum akan diteliti oleh Dinas Kesehatan, sedangkan untuk air sungai akan diteliti oleh BLH. “Hal itu sesuai prosedur anggaran pembiayaan pemerintah,” ucapnya.

Dia menjelasakan terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya pencemaran sungai Ciliwung diantaranya adalah bakteri yang disebabkan limbah rumah tangga, kotoran ternak, dan sampah organik yang masuk ke dalam sungai. “Ada juga kemungkinan tercemarnya air sungai berasal dari limbah pabrik dan limbah Pasar Agung yang dilewati aliran sungai Ciliwung,” katanya. (A-163/A-50)***

Sungai Ciliwung Tercemar

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 11 September 2009 

DEPOK,(PRLM).- Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok pastikan air Sungai Ciliwung tercemar kandungan organisme bakterial organik. Namun, negatif kandungan kimiawi. “Dari hasil penelitian tersebut dapat dilihat kandungan-kandungan air Ciliwung yang dijadikan sampel masih di bawah ambang batas yang diperbolehkan. Walaupun memang ada beberapa kandungan yang melebihi ambang batas,” kata Kepala BLH, Rahmat Subagiyo, Jumat (11/9).

Rahmat mengatakan, kandungan organisme bakterial diatas ambang batas. Hal itu disebabkan adanya sampah dan zat-zat alami lainnya. Sedangkan, kandungan kimiawi yang ada dalam sampel air tersebut masih dibawah ambang batas yang ditentukan. “Memang cukup tinggi, tapi masih di bawah angka yang dilarang,” jelasnya.

Walaupun hasilnya negatif, Rahmat masih terus melakukan pemantauan terhadap kondisi Kali Ciliwung. Pihaknya menempatkan salah satu stafnya untuk melihat perkembangan serta perubahan warna sungai. “Sejak pemberitaan mengenai kali Ciliwung tercemar, kondisi kali berubah drastis. Airnya kembali bersih. Ini malah membuat kami curiga,” kata dia.

Kecurigaan tersebut, kata Rahmat, mengarah pada pabrik-pabrik yang ada di sekitar hulu sungai. “Karena adanya pemberitaan tersebut, mungkin saja mereka jadi tidak berani membuang limbah ke sungai, sehingga kondisinya kembali seperti semula,” jelasnya.

Rahmat menegaskan, BLH bakal melakukan pengawasan dan pemantauan. Ia juga menampik adanya dugaan tercemarnya kali akibat adanya endapan lumpur yang menguap akibat musim kemarau. “Tidak mungkin ari endapan lumpur, kalau endapan lumpur pencemarannya akan lebih memanjang dan terus menerus,” tandasnya. (A-163/A-50)***

Desember 2009

Normalisasi Ciliwung Bakal Gagal?

Gatra,  6 Desember 2009 

Sumber: http://indonesiaupdates.blogspot.com/

Rencana pemerintah untuk melaksanakan normalisasi Sungai Ciliwung masih terbentur relokasi permukiman liar yang berada di sepanjang bantaran sungai.

“Permukiman harus pindah dulu baru kami dapat bekerja,” kata Dirjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum (PU), Iwan Nusyirwan Diar di Jakarta, Sabtu (5/12), usai mendampingi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono berperahu karet di sepanjang sungai Ciliwung.

Agung didampingi Menteri Sosial, pejabat eselon I Departemen Pekerjaan Umum, Kementerian Negara Perumahan Rakyat, serta Gubernur DKI Jakarta menyusuri sungai Ciliwung mulai dari Jembatan Kampung Melayu berakhir di Pintu Air Manggarai.

Lebih jauh Iwan mengatakan, normalisasi sungai Ciliwung sudah dianggarkan di Departemen PU setiap tahun akan tetapi terbentur dengan permukiman penduduk di bantaran sungai.

“Pemerintah memang sudah menyediakan rumah susun sederhana sewa (rusunawa), tetapi yang menjadi persoalan apakah masyarakat di bantaran sungai bersedia untuk pindah,” kata Iwan mempertanyakan.

Sementara Dirjen Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Budi Yuwono, pemerintah sudah membangun 20 rusunawa di empat lokasi di Jakarta tetapi belum dihuni karena masih menunggu proses serah terima dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Menurutnya, dari sebanyak 20 rusunawa yang dibangun pemerintah terdiri dari 1.900 unit hunian itu diharapkan dapat menampung relokasi seluruh masyarakat di sepanjang bantaran sungai Ciliwung.

Namun kalau melihat kondisi di lapangan, kata Budi, diperkirakan jumlah penduduk yang tinggal di bantaran sungai mencapai 71.000 Kepala Keluarga yang terdiri dari 350.000 jiwa.

Ketika ditanyakan hasil pemantauan di lapangan dengan Agung, Budi dengan tegas mengatakan, “serem sekali”, saat menggambarkan kondisi permukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung.

Budi mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengambil sikap tegas dan konsisten untuk menata kawasan bantaran sungai yang jelas pemerintah pusat sudah menyiapkan hunian pengganti.

Sementara, Sekretaris Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Iskandar Saleh, mengatakan bahwa Kementerian Pemerintah Rakyat memiliki anggaran dalam rangka pemberdayaan masyarakat hanya saja masih menunggu penataan kawasan bantaran.

Menurutnya, kebijakan Kementerian Pemerintah Rakyat hanya mengisi lingkungan yang sudah disiapkan sehingga program yang sudah dipersiapkan masih menunggu penataan yang dibuat seperti apa.

Iskandar mengatakan, Bank Dunia menawarkan program pemberdayaan masyarakat permukiman kumuh hanya saja ada persyaratan seperti cara-cara merelokasi yang baik. [EL, Ant]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: