Berita 1973

Ciliwung Menyambut Pata 

 Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 02 Juni 1973

 SOAL keindahan rupanya memegang rol penting dalam menyongsong tibanya konperensi PATA dan PON ke VIII. Di tengah naiknya harga-harga, perkara judi dan soal kuburan, pemerintah DKI Jakarta diam-diam sedang memperbaiki untuk kesekian kalinya nasib kali tua yang membelah ibukota.

Mula mula, rezeki yang menimpa kali Ciliwung itu dimulai sejak mulut Harmoni sampai depan hotel Gajah yang tampak dipolesi batu tempel. Itu saja panjangnya 1.700 meter. Kata Syariful Alam, Humas DKI, “hiayanya murah”, cuma Rp 12.572.000.

Lalu menyusul bagian yang membentang di depan istana Negara yang membelah jalan Juanda dengan Veteran, tidak kurang dari 1.000 meter tembok-tembok tua yang sebelumnya berlumut itu sudah ditempeli batu kali yang menarik mata. Yang ini makan biaya Rp 15 juta.

Dan bagian selanjutnya akan dimulai dari muka hotel Gajah tadi sampai dengan pintu air Tangki sepanjang 2.000 meter dengan perkiraan ongkos yang kabarnya tidak kurang dari 25 juta rupiah .

Semua itu baru bagian-bagian tepi Ciliwung yang bermuara di Pasar Ikan. Sebab ada bagian Ciliwung lainnya yang menyusuri jalan Gunung Sahari terus bermuara di Ancol, juga bakal didandani sejalan dengan perbaikan dan pelebaran jalan raya yang mendampinginya.

Tapi soal me-make-up Ciliwung itu tentu saja tidak semata-mata karena DKI ingin berhandai-handai menyambut PATA dan PON. Sebab sang banjir yang praktis setiap tahun membuat kali itu bikin onar, juga tersebut sebagai alasan.

Akan wabah yang satu ini — yang membuat Gubernur Ali Sadikin pening kepala dan membersihkan bawahannya — memang dikaitkan dengan perbaikan Ciliwung. Karena menurut Syariful yang Humas itu, “akan lebih memungkinkan penyaluran air sungai mencapai kekuatan arus debit 50 meter kubik per detik”. Sebelumnya Ciliwung cuma mampu menampung debit air dibawah angka tersebut.

Cuci kakus.

Di samping pertimbangan-pertimbangan yang bisa diuji kebolehannya, ada satu akibat sampingan yang barangkali sudah termasuk pemikiran para ahli rias kota DKI. Yakni, menyetop warga Jakarta yang punya hubungan intim dengan kali yang berriwayat itu. Sebab, metropolitan yang kewalahan memberi air bersih secara merata telah memaksa sebagian besar warganya ber-MCK dengan kali berwarna coklat dan pemlh bebauan itu.

Perkara MCK (mandi-cuci-kakus) di Ciliwung ini menjadi pemandangan yang sungguh biasa sejak Sudiro menjadi walikota: Di zaman itu, Sudiro mencoba melenyapkan pemandangan kurang sedap itu dengan membuat tepi kali itu demikian curamnya, hingga warga kampung yang punya bakat jadi akrobat saja bisa menggelantung melepas hajat besar dan turun naik mandi berbugil.

“Soal internasionalisasi Ciliwung” seperti ditulis Rustandi Kartakusumah dalam majalah Siasat di tahun 1950-an itu akhimya tidak berhasil membendung orang untuk MCK. Dan adalah Ali Sadikin yang boleh disebut sebagai pemecah dilema C’iliwung ketika di masa awal jabatannya dia perintahkan membuat kotak-kotak MCK sepanjang jalan Hayam Wuruk.

Akan berakhirkah kotak-kotak unik MCK itu dengan diriasnya Ciliwung kini? Kabarnya memang begitu, dengan alasan “tidak sesuai lagi”. Dan sebagai gantinya, konon akan didirikan banyak MCK di tengah kampung: suatu cara pemecahan yang bisa dipastikan akan memaksa orang kampun mengirit air mengingat tambahan 3.000 liter per detik air Pejompongan sampai sekarang tetap melayani sebagian besar langganan nya dengan langgam “tes-tesan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: