Berita 1990

Sungai Ini Juga Untuk Anak Cucu 

Sumber:http://majalah.tempointeraktif.com/ 16 Juni 1990

SEBUAH tenda terpal didirikan di bantalan Kali Ciliwung, tak jauh dari Stasiun Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di bawah tenda itu. Jumat pekan lalu, tokoh masalah lingkungan Erna Witoelar mengumpulkan tamu-tamunya, dari kalangan pers, perguruan tinggi lembaga swadaya masyarakat, dan instansi pemerintah, untuk diajak mengevaluasi Kali Ciliwung. Diskusi di pinggir kali ini merupakan penutup rangkaian acara “Pekan Ciliwung Bersih”, yang diselenggarakan Erna untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup 1990.

Gebrakan “Ciliwung Bersih”, yang antara lain dengan pawai menyusur sungai keruh itu, cukup berhasil memancing perhatian pers. Alhasil, banyak mata melirik ke arah kali berair cokelat itu.

Seperti terungkap dalam diskusi lesehan itu, mereka semua mengakui Ciliwung telah dijangkiti pencemaran yang kronis. Ciliwung adalah pemasok air baku terbesar untuk Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jakarta.

Membayangkan Ciliwung bersih, menurut Menteri Negara KLH Emil Salim, tak cuma menyangkut kemudahan mendapatkan air baku yang sehat tapi juga tempat rekreasi. “Agar anak-cucu kita bisa bermain di situ,” ujar Emil Salim, seusai mengikuti pawai rakit di Ciliwung dua pekan lalu. Kondisi Ciliwung saat ini memang jauh dari impian seorang Emil Salim. Jangankan anak-cucu manusia, anak ikan pun enggan bermain di situ. Segala macam limbah dihanyutkan lewat air Ciliwung.

Konon, hampir separuh dari 20.000 ton sampah Jakarta diceburkan ke Ciliwung. Dan sebagian dari 2.500 m3 air limbah industri dibuang ke sungai yang sama. Industri dan rumah tangga memang sama-sama memperlakukan kali Ciliwung secara tidak semena-mena. “Limbah rumah tangga memberikan andil 7O%,” ujar Ir. Omarsidik Hadiasmoro, Ketua Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti, Jakarta.

Setijati H. Ediyono, Sekretaris Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Trisakti, pernah membuat studi lengkap mengenai air Ciliwung dan Kanal Tarum Barat (dari Bendungan Jatiluhur, Jawa Barat, yang digunakan untuk mengatrol jumlah dan mutu air baku PDAM Jaya), dua tahun lalu.

Penelitian itu mengungkapkan bahwa pencemaran oleh rumah tangga telah mencapai tingkat yang “bukan main”. Pengambilan sampel air dilakukan di 10 titik. Dua titik di Tarum Barat, 8 lainnya di Ciliwung atau anak sungainya. Titik paling hulu ada di Kelurahan Bidaracina, dekat Jembatan M.T. Haryono, dan paling hilir di dekat instalasi PDAM Pejompongan, Jak-Pus. Pada ruas ini, Ciliwung membelah permukiman padat. Semakin menghilir, mutu air sungai memburuk. Perhatikan saja kandungan oksigennya (Do).

Di Bidaracina, muatan oksigennya masih 5,4 mg/liter. Begitu menghilir sampai di depan Pasar Rumput, jumlah itu menyusut tinggal 0,9 mg/l. Seiring dengan itu, kadar cemaran organik meningkat dari 39 mg/l menjadi 85 mg/liter.

Limbah rumah tangga pun dituding sebagai biang kerok, dan itu sangat masuk akal. Tapi yang bertanggung jawab dalam kasus ini bukan cuma warga yang bermukim di tepian sungai. Sebab, air selokan yang mengalir di kawasan Tebet dan bermuara di Ciliwung pun bukan main buruknya muatan oksigen cuma 0,49 mg/l, dan kandungan bahan organiknya mencapai 101 mg/l. Maka, makin ke hilir, air sungai pun kian berbau dan berbuih.

Dalam penelitian Setijati tadi indikator itu tertangkap secara jelas. Di Bidaracina muatan amonia masih 0,3 mg/l, dan angka itu membengkak menjadi 3 mg/l sebelum sampai Pejompongan. Pada saat yang sama, muatan sulfida air kali meningkat dari 0,2 menjadi 1,4 mg/liter. Harap diketahui, amonia dan sulfida itu merupakan senyawa yang bertanggung jawab atas datangnya bau busuk.

Sementara itu, selama menempuh perjalanan Bidaracina-Pejompongan, muatan deterjennya melonjak dari 0,4 sampai 1,7 mg/l. Secara fisik, penurunan mutu air sungai oleh limbah rumah tangga memang mudah terlihat.

Namun, pencemaran air sungai oleh limbah industri tak kurang pula seriusnya. Industri di tepian Ciliwung, misalnya, dalam catatan tahun lalu, membuang limbah kimia 1,5 ton/hari. Secara rata-rata, pencemaran mereka 10 kali lebih besar dari ambang yang diizinkan. Namun, gebrakan Proyek Kali Bersih yang dilakukan oleh Gubernur Wiyogo dan Emil Salim sejak setahun lalu telah me- nunjukkan hasilnya.

Menurut Ir. E. Budihardjo, Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Perkotaan dan Lingkungan (P4L) DKI, sampai Mei lalu, 62% industri di Jakarta telah berhasil menekan limbah pencemarannya sampai 62%. “Pada 1992 nanti mereka harus benar-benar bersih,” kata Budihardjo.

Kali yang harus dibersihkan bukan cuma Ciliwung. Kota Medan pun kini tengah bergulat dengan limbah pencemar sungai. Pencemaran paling serius terjadi di Sungai Deli, antara Glugur dan Belawan (19 km), tempat puluhan industri membuang limbahnya. “Belum lagi limbah rumah tangganya,” ujar Ir. Jaya Arjuna, staf teknis tim pelaksana Prokasih Sum-Ut.

Di Sungai Deli segala macam limbah industri bisa ditemui. Ada limbah pabrik, kertas, industri kimia, kelapa sawit, korek api, alkohol, sampai pengecoran besi dan peleburan baja. Belum semua industri siap dengan instalasi pengolah limbah. “Mereka membuang limbah pada malam hari atau di saat air pasang,” kata Arjuna. Ikan-ikan pun menyingkir dari Sungai Deli. “Yang masih tertinggal hanya ikan bandel sema- cam gabus atau lele,” tambah Arjuna.

Cerita tentang ikan tergusur itu juga tengah berlangsung di Sungai Bengkulu. Dua-tiga tahun lalu, penduduk masih sering mengail ikan semah dan ikan putih di kali yang melintasi Kota Bengkulu itu. Kini kedua jenis ikan itu makin sulit dikail, tapi sering muncul ke permukaan sebagai bangkai.

Apa yang terjadi? Sungai Bengkulu telah tercemar. Muatan lumpur di sungai itu kini telah mencapai 133 mg/liter, jauh lebih tinggi dibanding Ciliwung hilir yang “cuma” 73 mg/l. Muatan zat besinya pun lebih pekat dari sungai Ibu Kota, yakni 9 mg/l banding 6 mg/l.

Menurut Drs. Norman Efendi, Kepala Biro KLH Bengkulu, biang keladi pencemaran itu adalah tiga perusahaan penambang batu bara yang beroperasi di hulu sungai. “Bayangkan, setiap perusahaan minimal mencuci 1.500 ton batu bara per hari,” ujar Norman. Surat teguran sudah dilayangkan oleh Gubernur Raziz Yahya. “Tapi tak digubris,” kata Norman. Maka, tim gabungan dari Pemda Bengkulu dan Departemen Pertambangan dan Energi datang menginspeksinya, dan mendapati kolam limbah di salah satu perusahaan itu tak berfungsi.  Dua yang lain dinyatakan dalam kondisi yang buruk. Pemda Jawa Barat juga sibuk “memerangi” industri yang membawa dampak pencemaran.

Maka, industri tekstil yang berada di dekat Sungai Citarum, di Bandung Selatan, diawasi ketat. Maklum, kawasan itu memang sudah tercemar hebat. Tingkat BOD di situ mencapai 27.276 kg/hari, padahal ambang yang diizinkan hanya 27 kg/hari. “Ini benar-benar jauh di atas ambang toleransi,” ujar Wagub Karna Suwanda, di depan 100-an orang pengusaha industri di Patal Banjaran, Bandung, pekan lalu. Melihat keadaan tersebut, Karna bertindak tegas. Dua buah pabrik tekstil yang dianggap tak mengolah limbahnya secara semestinya diajukan ke pengadilan, dan satu lainnya ditutup unit pencelupannya.

Sungai Citarum memang punya nilai strategis. Dia dibendung tiga kali — menjadi Bendungan Saguling, Cirata, dan Jatilu- hur. Selain menghasilkan listrik, Citarum memberikan catu air pula bagi PDAM Jakarta, lewat Kanal Tarum Barat. Celakanya, jauh-jauh didatangkan dar Jatiluhur, air dari Citarum itu tak segar lagi. Dalam penelitian Setijati H. Ediyanto dari Universitas Trisakti, muatan oksigen di dalamnya tinggal 5,2 mg/l, masih di bawah sebutan sehat untuk air baku PDAM, yang ditetapkan minimal 6 mg/liter. Putut Tri Husodo, Liston P. Siregar (Jakarta), Sarluhut Napitupulu (Medan), dan Ida Farida (Bandung)

Kali 

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 16 Juni 1990  

 “MAU ke mane. Bang?” tanya Taris pada Sanen. Keduanya bocah dari Kemayoran Gempol. Bersama anak-anak lain, mereka sedang melintas di depan Gedong Tinggi. “Ke kuli, yuk! Kita berenang di Ciliwung,” seru Sanen dengan mata berseri-seri. Langkahnya bergegas. Anak-anak lain mengiku- ti dengan penuh sukacita, beramai-ramai menuju Kali Ciliwung yang melintas di ujung Jalan Pasar Baru. Dipilihnya babakan di Jalan Pos Utara.

Itu tahun 1940-an. Tatkala Kali Ciliwung masih bening airnya. Anak-anak kampung pinggiran Jakarta suka berenang, bermain, bahkan mencari ikan di kali yang melintas dari Kota dengan cantiknya itu. Getek penambang masih ditarik orang, tiap hari dengan setia menyeberangkan babu dan tukang sayur yang membawa belanjaannya dari pasar.

Kali itu begitu indah. Kali itu begitu menghidupi. Tepat benar, kakek moyang kita yang selalu memilih hunian di sepanjang kali. Yang mengalir di sana bukan hanya air. Tetapi juga sumber dan penyangga kehidupan manusia yang utama.

***

“Ke mana, Pok? Pagi-pagi banget udeh berangkat!” Itu bukan pertanyaan. Tetapi tegur sapa Bang Salim pada Mpok Ijah yang bertetangga dekat. Mereka tinggal di Tangki, dengan membangun gubuk yang menempel di tembok Prinsen Park, Lokasari sekarang. Setiap lepas subuh, Mpok Ijah selah sudah berangkat. Ke Kali Ciliwung. Di ujung Mangga Besar, di salah satu, babakan Kali Ciliwung yang membelah Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk itu, setiap pagi dipenuhi empok-empok Betawi yang sedang membantu mencari nafkah. Menerima cucian.

Itu tahun 1960-an. Tatkala Ciliwung masih menjadi sarana mandi dan cuci. Terutama bagi warga Jakarta yang kurang mampu. Atau mereka yang tidak memperoleh peluang memanfaatkan air ledeng dari saluran air bersih yang diusahakan Kota Praja. Sekarang namanya Perusahaan Air Minum, atau PAM. Bahkan penduduk Jakarta yang mampu pun sesungguhnya juga mengambil manfaat tidak langsung dari kali itu. Karena tatkala pakaian mereka dikirim ke tukang binatu, kebanyakan dicuci di Kali Ciliwung.

Ciliwung saat itu adalah arena sosialisasi warga jelata dari kampung-kampung Jakarta. Di Kali Ciliwung, mereka bercengke- rama, bertukar gunjingan, tetapi juga meneruskan berita dan kabar suka maupun duka, tentang lingkungannya, tentang te- tangganya, tentang kota, dan bahkan bangsanya. Kali yang airnya mulai kecokelatan, karena sedimentasi lumpur dari hulu itu, ternyata masih sangat fungsional bagi kehidupan warga Jakarta. Biar cokelat, buat mandi dan mencuci masih sehat.

Oleh karena itu, jangan heran kalau awal tahun 1970-an, Pemerintah DKI Jakarta masih membangun proyek kebanggaan. Tempat MCK (mandi, cuci, dan kakus) didirikan di sepanjang Kali Ciliwung. Tempat mandi dan cuci yang dahulu merupakan arena empok-empok melorot kainnya disekat dengan tembok melingkar. Maksudnya, agar mereka yang kebetulan melihat, tidak melengos malu!

***

“Ke mana, Min? Sore-sore bergegas banget. Nengok kek kalau ditegur!” Paimin diledek tetangganya yang genit, Roilah. “Mau ke kali! Ikut apa?” sahut Paimin tanpa menoleh. Ia tahu, Roilah memang suka menggoda. Sudah tahu ia mau ke mana, masih juga bertanya. Bukankah dari wajahnya, Roilah mesti bisa menerka bahwa ia lagi kebelet.

Pada tahun 1980-an, di tengah hunian kampung padat penduduk Jakarta, kalau Anda bilang mau ke kali. artinya hendak buang hajat besar. Kali, pada dasawarsa ini menjadi identik dengan kakus. Bukan hanya itu. Kali juga bak sampah akbar yang seolah meliuk-liuk seantero kota, menganga haus, siap menampung buangan apa saja, dari siapa saja dan kapan saja.

Kini tidak ada seorang pun yang bisa membayangkan, orang pergi ke Kali Ciliwung, Kali Cipinang atau Kali Mookervart, hendak berenang atau mencari ikan. Juga sangat berbahaya untuk mandi atau mencuci. Bukan hanya tinja manusia. Juga tinja pabrik berupa buangan padat, cair, dan kandungan bahan beracun dan berbahaya semuanya ditumpahkan di sana.

Kini, di Ciliwung sudah hampir semua parameter logam berat (kecuali Cr) ditemukan di sana. Bahkan beberapa di antaranya sudah berada di atas ambang yang dianggap aman bagi kesehatan manusia. Timbel atau plumbum (Pb) sudah mendekati maksimum yang dibolehkan. Air raksa (Hg), selain mencemari sungai, juga sudah merembes ke sumur–sumur penduduk Jakarta yang tinggal dekat sungai yang sangat kotor itu.

Pencemaran mikroba idem dito. Bahkan sudah melampaui batas aman yang dibolehkan oleh standar mutu yang dianggap aman. Sampai air pun tak menampakkan kondisi fisik yang layak alirannya. Keadaan air yang sudah begitu cokelat keruh sampai hitam kelam sebenarnya tidak memerlukan lagi ukuran dengan norma kelarutan oksigen (Do, Dissolved Oxygen) ataupun kebutuhan biota akan oksigen (BOD, Bilological Oxygen Demand). Siapa saja akan tahu, yang di dalam sungai itu bukan air, tetapi kotoran yang terendam comberan.

***

“Mau ke mana, Mas Her?” Mungkin di tahun ini dan selanjutnya Anda ketemu pejabat DKI dengan pakaian putih-putih menelusuri jalan sepanjang kali. Ia bukan sedang mengadakan feasibility study untuk menambang kembali logam berat atau plastik yang terbuang di situ.

Tetapi, sangat boleh jadi ia seorang petugas Prokasih, Proyek Kali Bersih. Mungkin ia sedang mengintip ke selokan pabrik-pabrik kimia, tekstil, elektronik, bengkel, bahan bangunan, farmasi, plastik, makanan, dan minuman. Siapa tahu, pabrik-pabrik itu siangnya hanya membuang yang bersih-bersih. Tetapi yang kotor giliran dibuang sesudah tengah malam. Karena mereka beranggapan, barangkali, tidak apa buangan pabriknya ditumpahkan ke kali yang sudah jadi bak sampah raksasa itu. Ada di antara mereka yang bahkan berkilah, dengan menuding data-data, bahwa sumber pencemar utama adalah penduduk, bukan pabrik.

***

Kali Ciliwung, Kali Brantas, Kali Citarum, Bangsawan Solo, Sungai Deli, Sungai Musi, Way Seputih, Sungai Mahakam, dan sungai-sungai lain mungkin bisa dilindungi. Tetapi perlindungan yang paling efektif sesungguhnya bukan berada pada faktor sampah atau buangannya, melainkan lebih berada pada naruni dan kesadaran kebersihan warga kota yang dilalui sungai-sungai itu. Termasuk industriwannya. Itu soal peradaban. Juga kepedulian industri untuk tidak mencemari lingkungannya. Dan itu soal keuangan dan kemauan berkorban, dengan kesediaan mengeluarkan ongkos dan sedikit kerepotan. Jadi, apa boleh buat.

Di zaman deregulasi dan debirokratisasi ini, perkara law enforcement, di bidang pemeliharaan lingkungan dan penanggulangan pencemaran, toh masih sangat relevan. Disebarluaskan oleh Dana Mitra Lingkungan dan TEMPO sehubungan dengan “Hari Lingkungan” 5 Juni 1990.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: