Berita 1996

BANJIR TERBESAR LANDA JAKARTA 

* Empat Jenazah Ditemukan 

Kompas, 8 Januari 1996 

Sumber:  http://www.library.ohiou.edu/

Banjir yang merendam puluhan ribu rumah di sekitar tepian Kali  Ciliwung yang membelah kota Jakarta, sampai Minggu petang masih tetap  tinggi, bahkan meluas. Ribuan KK (kepala keluarga) yang rumahnya  “ditelan” air Ciliwung, mengungsi karena tidak tahan kelaparan, bahkan  mulai menderita sakit-sakitan.

Hari Minggu kemarin, Pasukan Katak (Paska) dari Armada Barat Angkatan Laut dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di dalam rumah. Banjir terburuk yang terjadi sejak 20 tahun terakhir ini, membawa korban jiwa. Tercatat empat jenazah ditemukan sebagai korban banjir kemarin.

Sampai Minggu malam, ribuan warga yang mengungsi di kantor-kantor kelurahan, kecamatan, sekolah, gereja, mesjid, menunggu bantuan makanan dan obat-obatan. Sebagian besar mulai mengeluh mengalami munntaber dan gatal-gatal. Beberapa warga mengeluh soal bantuan makanan  yang tak merata.

Wartawan Kompas yang mengikuti perahu karet Pasukan Katak kemarin, menyaksikan rumah-rumah di kawasan Kampung Melayu, Kebonbaru, sebagian  di Jl Gudang Peluru nyaris tenggelam. Yang tersisa hanya atap dan  genting. Puluhan rumah di pinggir Kali Ciliwung dilaporkan hanyut tak  berbekas.

Pasukan Katak dipimpin Kapten Irawan. Tujuh perahu karet dikerahkan, dikendalikan 17 personel yang terlatih. Mereka dengan sigap dan gesit membantu mengungsikan bayi sampai kakek-nenek, dari rumah yang direndam banjir. Perahu karet itu menyusuri rumah-rumah di Gang Mesjid  I dan II, Jl Gudang Peluru, yang semuanya tenggelam, menyatu dengan  air.

Banyak warga yang bertahan di atap rumah, mulai kelaparan dan  sakit-sakitan. “Kami menunggu bantuan makanan, tapi ternyata tidak  juga datang. Bagaimana kami mau masak? Tak ada air, kompor pun sudah hanyut,” kata Ny Ida, warga Kebonbaru. Radio Sonora sore kemarin menyerahkan bantuan 520 nasi bungkus untuk warga RW 02 Kelurahan Kampung Melayu, yang masih bertahan di atas atap.

Tenggelam

Kantor Redaksi Majalah Berita Tiras di Jl Kampung Melayu juga ikut “tenggelam” bersama puluhan ribu rumah lainnya. “Semua dokumen dan sejumlah peralatan komputer di lantai satu terendam banjir. Air   naiknya sangat cepat. Hari Sabtu pukul 19.00, air sudah naik satu    meter, dan pukul 20.00 sampai Minggu siang ini sudah satu setengah    meter. Kamera saya juga hancur, tidak terselamatkan lagi,” kata Wahyu   urwadi, wartawan majalah itu yang bertelanjang dada dan bercelana    pendek, ikut berenang di jalan arteri Kampung Melayu yang terendam    air. “Kami belum tahu apakah bisa terbit minggu depan. Tapi dokumen di  lantai dua dan tiga bisa diselamatkan,” ujarnya.

Mereka yang merasa kehilangan anggota keluarganya melapor ke posko sementara di depan gedung BCA di Jl Kampung Melayu. Dengan wajah cemas, mereka mengharapkan bantuan Pasukan Katak untuk mengevakuasi  anggota keluarga dan kerabat.

Warga RT 008 RW 01 Kelurahan Kebonbaru Jaksel mengungkapkan, air naik  secara mendadak Sabtu malam. “Saya kecewa juga, kok Pak RW tidak mengumumkan supaya warga siaga dan waspada terhadap banjir besar. Padahal kantor gubernur sudah menyatakan ketinggian air pada peil banjir di Depok tercatat 4,35 meter pada pukul 15.00 Sabtu. Kami tak mampu menyelamatkan semua harta benda. Video, televisi, kulkas, hanyut. Habislah semuanya dalam sekejap. Aduh gusti….,” kata seorang ibu.

“Saya taruh pakaian di lemari, eh lemarinya terbalik juga. Sekarang sudah tidak ada sisa lagi. Padahal dua minggu lagi sudah bulan puasa. Piring dan gelas sudah hanyut semuanya,” ungkap Ny Maryam. “Sudahlah, Mak. Yang penting nyawa kite selamet. Itu sudah syukur,” kata seorang pria mencoba menghibur.

Seorang ibu tampak tersenyum cerah setelah bayinya yang berumur 2 bulan dapat diselamatkan Pasukan Katak. “Anak saya baru keluar dari RSCM kemarin karena lahir kuning, eh tiba-tiba dapat musibah banjir. Untung bisa diselamatkan pakai perahu karet. Mana bapaknya lagi pergi, nggak tahu deh saya mau kemana,” katanya.

Terbesar

Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja ketika meresmikan Gedung Program Ciliwung Bersih di Pejompongan Jakpus hari Minggu pagi mengatakan, banjir Jakarta kini adalah terburuk sejak 1976. Sedang Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja di tempat yang
sama mengungkapkan, banjir ini merupakan siklus. Yang jadi persoalan sekarang, mengapa siklusnya makin sering terjadi. “Dulu bisa diduga, sekarang terjadi tiba-tiba. Kita harus waspada terhadap siklus banjir. Tapi ini masalah global. Bukan hanya terjadi di Jakarta atau di Indonesia, tapi juga di belahan dunia lainnya,” kata Sarwono.

Berdasarkan pengamatan Kompas sepanjang hari Minggu, banjir tidak hanya terjadi di Kelurahan Kampung Melayu, Kelurahan Bidaracina dan Kelurahan Cililitan (Jaktim), tapi juga di Kelurahan Kebonbaru, Bukitduri, Rawajati, Pengadegan, Pejaten Timur dan Tanjungbarat di Jaksel yang wilayahnya berada di sisi Kali Ciliwung.

Di Jakarta Pusat, Stasiun KA Tanahabang sudah mulai tergenang air  sehingga menutupi rel kereta api. Wali Kotamadya Jakarta Pusat Abdul Kahfi mengungkapkan, tanggul banjir kanal jebol pada Minggu dinihari, sehingga luapan air merendam sekitar 2.000 rumah di Petamburan. KA dari arah Merak menuju Tanahabang untuk sementara waktu tidak bisa sampai tiba di Stasiun Tanahabang, dan akan berhenti di Stasiun Kebayoran Lama.

Di Kelurahan Cililitan, Jaktim, banjir juga merendam sekitar 2.000 rumah, dan yang paling parah dialami warga RT 07. Semua rumah tak kelihatan lagi. Mobil-mobil tak terselamatkan. Satu rumah di Jl Ciliwung Ujung RW 09/RW 06 hanyut dibawa banjir.

Akibatnya, jalur Cililitan, Pasarminggu dan Cawang mengalami kemacetan sejak Sabtu malam. Jembatan Ciliwung di daerah Jambul Cililitan tak bisa dilalui kendaraan karena tertutup air sungai.

Empat jenazah korban banjir yang ditemukan kemarin adalah Cecep dan Rizal yang ditemukan di pintu bawah kanal banjir di Jakarta Pusat. Sedangkan M Dody Sukarto (22), warga Kebonbaru Jaksel, ditemukan di depan pintu masuk kompleks Gudang Peluru Tebet Jaksel pukul 09.00. Ny Asiah (60) ditemukan di atap genteng di rumahnya di Jl Kampung Melayu Kecil RT 15/RW 10, Bukitduri.

Kali Cipinang

Kali Sunter dan Kali Cipinang juga meluap menggenangi rumah-rumahpenduduk Kelurahan Cipinang Muara, khususnya di bantaran kali, sehingga memaksa mereka harus mengungsi ke rumah tetangga atau ke bangunan kosong lainnya. Luapan Kali Sunter menggenangi rumah penduduk di RW 06 dan 10 Kelurahan Cipinang Muara, sedangkan luapan Kali Cipinang membanjir rumah-rumah penduduk di RW 13 dan 14.

“Sebagian penduduk terpaksa diungsikan, khususnya yang tinggal di bantaran kali,” kata Hasbullah, Sekretaris Kelurahan Cipinang Muara. Banjir juga menggenangi rumah-rumah penduduk di Duren Sawit Jakarta Timur.

Sejumlah jalan di Jakarta macet total sejak sore hari sampai malam   pukul 20.00 WIB. Seperti Jl Kali Malang, Duren Sawit, Jatinegara    Barat, Otista, I Gusti Ngurah Rai, RE Marta Dinata, dan Gedungpanjang.    Kemacetan terparah terjadi di jalan Cakung-Cilincing yang merupakan    jalan utama bagi truk-truk peti kemas yang mengangkut barang ekspor    dan impor ke beberapa pabrik di sepanjang jalan itu. Beberapa    pengemudi truk mengatakan, agar tak “ketinggalan” kapal, mereka     terpaksa memutar melalui jalan tol Cikampek, terus ke tol Cawang baru  ke Tanjungpriok.

“Jika kita melalui jalan biasa ke pelabuhan Tanjungpriok, bisa    seharian dijalanan, padahal jarak dari Cakung ke situ paling jauh 10    km. Sebaliknya, jika kita berusaha melalui jalan tol Cikampek dan    Cawang, tetap saja harus merasakan dulu macetnya sekitar 3-4 jam,”    ujar S Siburian (45), pengemudi truk angkutan peti kemas PT Parna  Raya.

Mulai surut

Dari Bogor dilaporkan, debit air Sungai Ciliwung yang meluap di sejumlah tempat hari Sabtu (6/1) lalu, pada hari Minggu (7/1) mulai surut. Namun arus air itu terlihat masih mengalir deras menuju Jakarta. Penduduk yang rumahnya hanyut atau runtuh sebagian, masih menumpang di tempat tinggal saudara atau tetangganya.

Hubungan antara daerah Lebak Pilar dan Bantarjati Kaum, Kodya Bogor, sampai kemarin masih terputus. Jembatan beton yang biasa menghubungkan kedua daerah itu hanyut terbawa banjir bandang Ciliwung Sabtu lalu. Di kawasan Sempur, penduduk membenahi pepohonan yang tumbang, karena tanahnya tergerus banjir.

Data dari Pemda Kodya Bogor menyebutkan, akibat banjir yang jarang terjadi ini 106 rumah penduduk terendam, termasuk satu gedung SD. Sementara 16 rumah, termasuk satu mushola, juga hanyut terbawa derasnya arus sungai.

Di Desa Megamendung, kawasan Puncak, Sabtu (6/1) dinihari sekitar pukuk 01.30 terjadi longsor yang menewaskan kakak-beradik, Eli (14) dan Indra (12), saat keduanya tengah lelap tertidur.

Diperoleh keterangan, longsor itu terjadi di perbukitan di bagian atas VMI. Longsoran tanah dengan deras menimpa kompleks VMI yang terdiri
atas sejumlah bungalow di bagian bawahnya, dan menimpa bungalow D3.
Luncuran tanah berikut bangunan bungalow D3 itu terus menuju ke bawah dan menimpa bungalow B7. Di bungalow terakhir inilah keluarga malang itu tidur.

Di kawasan Puncak pada Sabtu itu juga terjadi longsor di tempat lain, yakni di daerah Gadog, Megamendung, dan Cisarua. Namun peristiwa itu tidak meminta korban jiwa. Satu vila cukup megah di Gadog, runtuh akibat longsor setelah diguyur hujan lebat.

(ksp/bar/mul/pun/**/ww)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: