Berita 2000

Belajar Hidup di Kali Ciliwung 

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/ 28 Agustus 2000

MUNGKIN inilah cara belajar yang praktis. Kalau mau jadi pemusik, tak perlu pusing menghafal hukum Archimides, petik saja gitar. Atau kalau mau berdagang sayur, lupakan saja persamaan aritmetika yang njelimet, belajarlah menghitung. Begitulah Sanggar Ciliwung mengajarkan anak jalanan untuk belajar hidup.

Menurut Romo Sandyawan, pendiri Sanggar Ciliwung, dia tidak bermaksud menggantikan peran sekolah formal. Di sanggar ini anak jalanan belajar menghadapi persoalan sehari-hari dan mencari penyelesaiannya.

Minggu dua pekan lalu sanggar di Bukitduri, Jakarta Selatan, ini memulai kegiatan rutinnya. Setiap sore, tak kurang dari 30 anak jalanan nongkrong di sana. Jumlah ini bisa berlipat tiga kali saat akhir pekan. Ruangan di rumah berlantai dua itu dipilah-pilah untuk belajar menyanyi dan musik, melukis, ada juga yang menekuni pelajaran sekolah. Tentu saja mereka tak memakai “kitab suci kurikulum” seperti yang dipakai di sekolah umumnya.

Anak-anak yang rata-rata berasal dari keluarga penjual sayur, barang kelontong, dan ayam potong ini diajari berhitung secara praktis. Misalnya menghitung harga paha dari seekor ayam potong, atau belajar menyusun kalimat bagi yang berminat menulis cerita.

Menurut Sandyawan, pendekatan itu dilakukan karena terbatasnya pilihan pekerjaan bagi anak-anak itu saat dewasa nanti. Rata-rata mereka memilih menjadi penyanyi, pelukis, penjual sayur dan ketoprak. Makanya, mereka akan lebih tertarik belajar ilmu yang bisa dipakai sehari-hari. “Asal tak jatuh jadi preman atau pengedar candu,” kata Sandyawan.

Sandyawan mengaku mencomot metode belajar Paulo Freire dengan “pendidikan untuk pembebasan”-nya. Dia menggabungkan ide Freire itu dengan pemikiran Romo Y.B. Mangunwijaya serta masukan dari para pendamping anak jalanan itu sendiri.

Mereka memilih bantaran Sungai Ciliwung karena lingkungannya yang kotor dengan fasilitas kesehatan yang sangat terbatas. Apalagi banjir tahunan selalu menyeret korban dan menyisakan sampah sebagai sumber penyakit. Belum lagi, daerah urban tersebut juga menjadi tempat peredaran minuman keras, obat terlarang, serta tawuran.

Menurut Sandyawan, satu-satunya cara memperbaiki kondisi itu adalah membentuk masyarakat yang peduli lingkungan. Nah, dipilihlah pendidikan sebagai kendaraannya. Sanggar Ciliwung berperan sebagai terminal berkumpulnya anak jalanan dan pengembangan kemampuan mereka. Anak-anak diajak peduli pada masa depan mereka. Untuk itu, mereka harus dibebaskan untuk memilih jalan hidupnya dengan menumbuhkan rasa percaya diri.

Sanggar bagi anak jalanan ini bukanlah yang pertama kali ada. Dua tahun lalu pemerintah membuka program rumah singgah. Maunya, rumah singgah ini memberi pelajaran sekolah dan mengajarkan keterampilan. Setelah lepas dari rumah singgah, anak jalanan itu akan dicarikan pekerjaan sampai dapat. Namun, selama ikut program rumah singgah, pemerintah melarang anak-anak berkeliaran di jalanan karena kebutuhan makan mereka sudah dipenuhi.

Sayangnya, setiap hari mereka hanya mendapat jatah Rp 2.000 dari pemerintah daerah. Akibatnya, mereka tetap mencari duit di jalan, sehingga konsep rumah singgah ini gagal. Selain rumah singgah, di beberapa kota besar terdapat yayasan yang membantu anak jalanan.

Beberapa yayasan mengajarkan materi dengan menggunakan modul yang sudah tertata rapi. Modul yang mengikat itu membuat tempat belajar ini tak berbeda dengan sekolah pada umumnya. Akibatnya, anak-anak itu semakin jauh dari kesehariannya sebagai pengamen, pemulung, tukang semir sepatu, dan semacamnya. Namun, bagaimanapun bentuknya, keberadaan lembaga yang mengurus anak jalanan itu menjadi penting setelah pemerintah membubarkan Departemen Sosial. Bahkan pemerintah hingga kini tak punya data akurat tentang jumlah anak jalanan.

Dua tahun lalu, Depsos memperkirakan jumlah anak jalanan di Indonesia mencapai 50 ribu orang, lebih dari separuhnya berada di Jakarta. Setelah krisis berkepanjangan, beberapa lembaga swadaya masyarakat yakin jumlah anak jalanan sudah meningkat dua kali lipat. Meski jumlah anak jalanan sudah membengkak, hingga kini belum ada upaya pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini. “Saya belum melihat program pemerintah yang menyentuh kehidupan mereka (anak jalanan),” kata psikolog anak Seto Mulyadi.

Selama masalah ekonomi belum terpecahkan, Seto berharap pemerintah tidak melarang anak jalanan untuk mencari tambahan uang. Sayang, pemerintah hanya bisa malu melihat jalanan dipenuhi anak-anak. Bagaimana memberikan harapan bagi mereka, itu tak pernah dilakukan. Karena itu, upaya seperti Sanggar Ciliwung ini sangat berarti. Agung Rulianto, Iwan Setyawan, Dwi Wiyana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: