Berita 2002

Januari 2002

Ciliwung Siaga I, Kali Yang Lain II Hingga IV

Sumber: http://arsip.gatra.com/ 30 Januari 2002 

Gubernur DKI Sutiyoso di Jakarta Rabu mengemukakan pihaknya menyatakan sepanjang aliran kali Ciliwung dan Pasanggrahan dalam keadaan Siaga I banjir. Siaga I Banjir tersebut dikatakan Sutiyoso usai Rapat Muspida khusus tentang banjir yang juga dihadiri Ketua DPRD DKI Edy Waluyo, Kapolda Irjen Pol Makbul Padmanagara, Pangdam Jaya Mayjen TNI Bibit Waluyo, serta para walikota di lima wilayah DKI.

Sutiyoso juga mengatakan wilayah sepanjang kali Sunter dalam keadaan Siaga II, sedangkan kali lainnya dalam keadaan Siaga III atau Siaga IV.

Rapat Muspida tersebut menghasilkan keputusan antara lain penggunaan dana cadangan APBD untuk menolong para korban banjir.

“Kami sudah dapat persetujuan lisan dari DPRD DKI,” kata Sutiyoso tanpa merinci berapa besar dana cadangan APBD yang akan digunakan untuk membantu para korban banjir.

Usai rapat, Muspida naik ke helikopter untuk melihat langsung kondisi banjir di seluruh wilayah Ibukota.

Selain penggunaan dana candangan APBD untuk para korban banjir, rapat juga menghasilkan keputusan Polda Metro Jaya segera mendirikan dapur umum yang dalam empat jam mampu menyediakan makan untuk 10 ribu orang.

Bantuan lainnya datang dari Bakornas Penanggulangan Bencana berupa lima perahu karet, 16 unit handy talky, sepatu boot 100 pasang, dan 100 ton beras.

Pihak lain yang juga sudah menjanjikan bantuan adalah Menkokesra yang akan memberikan lima perahu karet serta 100 ton beras.

Sutiyoso mengatakan Rabu sekitar pukul 12.00 WIB, sekelompok masyarakat mendatangi Pintu Air Manggarai dan berniat membuka paksa pintu Air Manggarai, namun mereka dapat dihalau dan kini tempat tersebut sudah dijaga aparat.

“Jika pintu Manggarai dibuka, separuh Jakarta terendam, pada Rabu pukul 14.00 WIB ketinggian di pintu air tersebut sudah di ambang batas yaitu 980 Cm,” kata Sutiyoso.

Ia juga mengemukakan korban tewas akibat banjir meliputi satu korban di Jakarta Selatan, dua di Jakarta Timur tewas hanyut, serta dua nenek di panti jompo yang meninggal kedinginan.

9 Dari 10 Kecamatan Terendam Di Jaktim

Gubernur DKI dalam jumpa pers usai rapat Muspida juga merinci daerah-daerah banjir di Ibukota yaitu enam kecamatan di Jakarta Utara yang seluruhnya terendam air, dua yang paling parah yaitu Kecamatan Kelapa Gading dan Pluit.

Di Jakarta Barat, enam dari delapan kecamatan terendam dengan daerah yang paling parah terkena banjir adalah sekitar banjir kanal. Di Jakarta Timur, sembilan dari 10 kecamatan terendam, bahkan terdapat dua korban jiwa yang hanyut di kali Cipinang.

Jumlah kepala keluarga yang terendam di Kramatjati 730 KK atau 3.755 orang, dan saat ini ditampung di Balai Rakyat dan Kecamatan Kramatjati serta dinas sosial setempat.

Wilayah lainnya di Jakarta Selatan, terdapat delapan dari 10 kecamatan terendam air, sedangkan di Jakarta Pusat walaupun belum ada daerah yang benar-benar terendam kecuali yang harus diwaspadai yaitu Kecamatan Tanah Abang dan Petamburan.

Sutiyoso juga minta warga tidak khawatir akan harta bendanya karena akan dijaga pasukan Kodam dan Polda.

“Kita minta warga mengikuti petunjuk petugas dalam melaksanakan evakuasi, dan memang warga di sekitar bantaran kali akan dievakuasi,” kata Sutiyoso.

Ia mengingatkan banjir yang terjadi saat ini adalah akibat penyimpangan cuaca dan iklim yang terjadi setiap lima tahun dan terakhir kali terjadi 1996.

“Salah satu buktinya, Pintu Air Depok yang ketinggian air normalnya 0,75 meter kini 2,75 meter, sedangkan air laut pasang yang normalnya 95 Cm kini 190 Cm,” kata Sutiyoso.

Sementara itu Kabid Pulahta Pusdalgangsos (Pusat Pengolahan Data Pusat Pengendalian Ketegangan Sosial) Pemprov DKI Raya Siahaan mengemukakan pihaknya telah menyiapkan 35 perahu karet yang disebar ke lima wilayah tingkat II untuk mengevakuasi warga yang terjebak di atap rumah.

Raya Siahaan mengatakan bantuan lainnya yaitu 300 perahu karet segera datang dan saat ini sudah 15 truk militer dikerahkan untuk mengevakuasi warga di daerah banjir.

“Di setiap wilayah disiagakan 100 personel TNI dari tiga angkatan khususnya pasukan katak, sedangkan bantuan logistik yang dikirimkan untuk masing-masing wilayah adalah 100 ton beras,” ucapnya.

Daerah rawan banjir di Jakarta Timur meliputi Kecamatan Kramatjati dan Jatinegara, di Jakarta Selatan meliputi Kecamatan Pasanggrahan, Tebet dan Kebayoran Baru, sedangkan di Jakarta Barat meliputi Kecamatan Cengkareng, dan Jakarta Utara meliputi Kecamatan Penjaringan. [Dh, Ant]

 Siaga I Sepanjang Kali Ciliwung

Sumber: http://arsip.gatra.com/ 30 Januari 2002 

MUSYAWARAH Pimpinan Daerah DKI Jakarta siang ini menetapkan diberlakukanya Siaga I Kali Ciliwung. Kali yang memotong kota Jakarta ini sepanjang tepiannya memang menumpahkan air tak terkirakan.

Ketinggian air di Jalan Kalibata Raya, terus naik sejak Selasa (29/1) mulai pukul 23.30 WIB. Pada Rabu siang, kali Ciliwung menyebabkan kawasan itu terendam hingga dua meter. Akibatnya, Jalan Kalibata Raya telah ditutup. Ketinggian air diperkirakan akan terus naik, karena hujan masih tumpah dari langit Jakarta.

Ke utara sedikit, kawasan belakang Jalan Dewi Sartika dan hingga Jalan Otista Kampung Melayu juga kebanjiran. Di Kampung Melayu Besar, ketinggian air terus naik sejak Selasa pukul 22.00 WIB, dan sekarang ketinggiannya sekitar 120 Cm. Berbagai ruas jalan ke daerah itu sudah ditutup.

Sementara di Kelurahan Cililitan Kecil, genangan air telah mencapai 2 meter. Jalan Casabalanca ke arah Kampung Melayu telah ditutup karena ketinggian air telah mencapai 120 Cm. Sejumlah bus tampak ditinggalkan awaknya di genangan air, karena mogok, seperti bus PPD dan Hibah Utama.

Akibat banjir, di sepanjang Jl Dewi Sartika dan Cawang, para penduduk terlihat menyelamatkan barang- barangnya dengan membawa barangnya ke pinggir jalan, karena letak jalan lebih tinggi dari posisi rumah mereka.

Sedang di Halim Perdanakusumah Jakarta, sebanyak 3 RW (O5,06, dan 07), telah digenangi air setinggi satu meter. Banjir terjadi mulai Selasa malam.

Sejumlah sekolah seperti SMU Bukit Duridan SMU Angkasa telah diliburkan karena bangunan sekolah itu tergenang air. [Dh, Ant]

Ciliwung Meluap Ruas Jalan Jatinegara dan KP Melayu Terendam Banjir

Sumber:  http://arsip.gatra.com/ 30 Januari 2002 

Sungai Ciliwung meluap di kawasan Jatinegara Kampung Melayu sehingga sulit untuk dilalui kendaraan karena ketinggian air di beberapa ruas jalan ada yang mencapai 50 cm.

Banjir mulai dari arah Jalan Casablanca menuju Jatinegara sebelum memasuki jembatan di ujung jalan dekat terminal Kampung Melayu, meskipun demikian beberapa mobil yang memiliki “body” tinggi masih leluasa memasuki kawasan tersebut.

Namun saat memasuki Jl. Jatinegara ke arah Salemba yang melewati Sungai Ciliwung banyak mobil yang dialihkan, bahkan bus kota yang memiliki badan lebih tinggi tidak berani melewati jalur itu.

Kendaraan diminta untuk menghindari jalan tersebut apabila tidak dalam keadaan mendesak.

Sungai Ciliwung di ujung Casablanca tersebut bahkan telah menyentuh bibir jembatan, apabila debit air terus naik diperkirakan air akan tumpah ke jalan raya.

Beberapa mobil tampak mengambil jalan memutar menuju Manggarai, atau lurus menuju By Pass, bahkan ada yang belok ke arah Cawang dan kebanyakan berupaya mencari jalan alternatif menghindari Kali Ciliwung.

Masyarakat di sekitar bantaran Kali Ciliwung masih berada di pinggir-pinggir jalan, beberapa di antaranya kemungkinan merupakan korban banjir.

Selain itu beberapa pemulung “menyemut” di sekitar jembatan untuk memungut sampah-sampah plastik yang tersangkut, dan arus deras dari Bogor tampaknya tidak membuat mereka khawatir memungut sampah-sampah plastik tersebut.

Menurut warga setempat apabila kendaraan siang ini mulai padat diperkirakan akan terjadi kemacetan, karena selama ini jalan di daerah itu terkenal macet apalagi ditambah dengan banjir Ciliwung.

Februari 2002

Ciliwung Terus Naik, Istana Bisa Tergenang?

Sumber: http://arsip.gatra.com/ 1 Pebruari 2002 

“KALI Ciliwung mulai pukul 12.00 WIB ini diperkirakan akan makin meluap dan menggenangi daerah sepanjang kali tersebut,” kata Dirjen Sumber Daya Air Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil), Hari Sidharta.

Berdasarkan data yang diperoleh dari stasiun pencatat tinggi muka air di Depok, pada pukul 11.00 WIB Jumat (1/2) tinggi air sudah mencapai 2,80 meter, sehingga sudah termasuk dalam kondisi siaga II. Sedangkan tinggi air normal untuk Depok hanya setinggi dua meter.

Tinggi muka air di Depok tersebut lebih tinggi dari posisi dibandingkan hari sebelumnya saat ditinjau oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri, dimana tinggi muka air mencapai 2,75 m.

Sementara itu, menurut Sidharta, pintu air Manggarai pada pukul 10.00 WIB sudah mencapai 9,40 meter atau sudah dinyatakan siaga I. Sedangkan tinggi muka air normal untuk Manggarai hanya mencapai 7 meter.

Kalau itu terus berlanjut, ketinggian air di Banjir Kanal Barat terus naik, maka diperkirakan banjir di Jakarta akan semakin meluas. “Namun keputusan untuk membuka pintu air Manggarai merupakan kewenangan Gubernur DKI Jakarta, karena bila pintu tersebut dibuka akan menggenangi Istana,” katanya.

Untuk itu, Sidharta menyatakan, agar masyarakat tetap siaga menghadapi kondisi ini yang diperkirakan mencapai puncaknya Jumat (1/2). Secara menyeluruh, saat ini kondisi kali yang melintasi kota Jakarta sudah dalam kondisi Siaga I.

Begitu pula saat ini tinggi muka air Kali Pesanggrahan sudah mencapai 4 m, dan Cengkareng Drain yang berada pada ruas tol Sedyatmo sudah mencapai 3 m 60 cm, sedangkan posisi normal hanya satu meter.

Namun tidak demikian halnya dengan bendung Katulampa (Ciawi), dengan tinggi permukaan air yang sempat meninggi,
saat ini sudah menurun menjadi 3 m 50 cm, dan dinyatakan masih dalam kondisi Siaga II.

Selain itu, tanggul sungai Sekretaris yang sempat jebol pada Sabtu (26/1) lalu dan sudah diperbaiki oleh Depkimpraswil serta berfungsi kembali sejak Minggu (27/1), pada Jumat (1/2) jebol kembali.

Namun penanganan darurat sudah dilakukan dengan pemasangan karung-karung pasir dan beronjong. Saat ini Depkimpraswil sudah mengirimkan karung- karung pasir dan upaya mempercepat pemasangan beronjong, agar luapan air dapat tertahan dan tidak lebih meluas. [Dh, Ant]

Air Ciliwung Mulai Menurun, Banjir Akan Surut?

Sumber: http://arsip.gatra.com/ 2 Pebruari 2002 

Ketinggian air Kali Ciliwung yang terpantau di Bendung Katulampa Kota Bogor, Sabtu (2/2), terus mengalami penurunan, dari 120 sentimeter menjadi 110 sentimeter, atau menurun 10 sentimeter. Penurunan itu terjadi, antara lain, akibat curah hujan di bagian hulu sungai, seperti daerah Puncak, mulai berkurang dalam dua hari terakhir.

Kepala Cabang Dinas Pengairan Ciawi Toto Hadianto mengatakan, masyarakat sebenarnya salah kaprah dengan anggapan bahwa Bendung Katulampa berfungsi menahan lajunya air Sungai Ciliwung.

Padahal, katanya, keberadaan bendung yang dibangun pada tahun 1911 ini adalah sebagai pengatur irigasi pesawahan di Bogor pengukur debit aliran air Kali Ciliwung menuju Jakarta.

Karena itu, ujar Toto mengaku tidak habis pikir dengan isu yang mengabarkan bendung tersebut telah jebol, dan luapan airnya akan menenggelamkan Jakarta atau Bogor. Padahal, lanjutnya, seandainya bendung ini jebol, akibatnya tidak separah yang dibayangkan, sebab bendung ini hanya berfungsi sebagai pengontrol air sungai, dan bukan merupakan bendungan.

“Jika benar pos Bendung Katulampa jebol, akibatnya hanya sebatas menyulitkan informasi akurat tentang ketinggian air. Lain halnya jika yang jebol Bendungan Cirata atau Saguling, baru satu kota bisa tenggelam,” paparnya.

Karena itu, ia mengajak semua pihak agar tidak memberikan informasi keliru berkaitan dengan keberadaan Bendung Katulampa, lebih-lebih saat warga Jakarta dan sekitarnya sedang dilanda banjir.

Ia menjelaskan, Bendung Katulampa merupakan pengukur debit air Sungai Ciliwung yang ada dipaling hulu, sehingga bendung yang memiliki panjang 82,5 meter dan di atas bendung terdapat jembatan gantung yang lebarnya sekitar dua meter itu, merupakan sinyal pertama bagi keadaan aliran air Sungai Ciliwung di Jakarta.

Toto menuturkan, dengan ketinggian debit air Kali Ciliwung 110 sentimeter di atas mercu bendung seperti sekarang ini, statusnya ditetapkan sebagai siaga tiga. Sedangkan jika mencapai 1,5 meter, statusnya siaga dua, dan jika di atas dua meter, statusnya menjadi siaga satu.

Namun demikian, sambungnya, tingginya aliran air Kali Ciliwung di Bendung Katulampa tidak selalu berarti banjir untuk Jakarta. Buktinya, pada 1996, tinggi air sungai itu pernah mencapai dua meter, tetapi membuat Jakarta banjir.
Dijelaskannya, banjir besar di Jakarta akan terjadi jika aliran di Katulampa tinggi, daerah sepanjang Jakarta-Bogor banjir, ditambah pasangnya air laut. “Keadaan seperti inilah yang terjadi sekarang di Jakarta,” ujar Toto. [TMA, Ant]

Bersiaplah, Ketinggian Air Ciliwung Depok Naik 230 Cm

Sumber: http://arsip.gatra.com/ 13 Pebruari 2002 

Wilayah ibukota DKI Jakarta, Rabu (13/2), diperkirakan akan kiriman. Berdasarkan pengamatan, air Ciliwung di pintu air Depok, pukul 07.00 WIB mencapai 300 sentimeter. Padahal, ketinggian air normal di tempat itu adalah 70 sentimeter.

Menurut M. Ayip, petugas pencatat ketinggian air di Ciliwung Depok, ketinggian air tersebut adalah batas tertinggi kedua setelah 30 Januari 2002, yang mencapai 320 sentimeter.

Dengan tinggi air 320 sentimeter, pada 30 Januari lalu sebagian besar wilayah DKI Jakarta mengalami banjir. Banjir saat itu memaksa Gubernur DKI Sutiyoso membuka pintu air ke arah Kota.

Akibatnya, terjadi banjir berbagai wilayah di Jakarta Pusat, antara lain Kecamatan Menteng, jalan Sudirman, bahkan sempat menggenangi halaman Istana Merdeka.

Selain itu, wilayah-wilayah lain yang dilalui aliran air, seperti Pasar Minggu, Kalibata, dan Kampung Melayu juga mengalami hal serupa.

“Tadi pagi, pukul 07.00 WIB air mencapai 300 sentimeter, tapi pukul 08.00 WIB turun menjadi 290 sentimeter,” kata Ayip.

Namun Ayip mengingatkan, pukul 05.00 WIB ketinggian air di Katu Lampa, Bogor mencapai 140 Cm. Hal itu mengakibatkan ketinggian air di Depok meningkat. Sementara ketinggian air di Katu Lampa normalnya hanya 100 sentimeter.

Aliran air dari Katu Lampa ke wilayah Depok memakan waktu sekitar empat sampai lima jam, atau sekitar pukul 09.00 sampai dengan 10.00 WIB mencapai wilayah Depok.

Sedangkan untuk mencapai pintu air Manggarai Jakarta, air kiriman dari Depok
memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam perjalanan.

Banjir lagi

Sementara itu, di beberapa lokasi terjadi lagi genangan banjir, antara lain, Perumahan Pondok Hijau, Legoso Permai, dan Cireundeu Permai. Selain itu, Kali Grogol kembali meluap.

Banjir di Perumahan tersebut, beberapa hari terakhir sempat surut, sehingga warganya sudah mulai melakukan pembersihan. Namun hari ini genangan air kembali meninggi.

“Sejak tadi malam, terjadi hujan lebat. Dan dini hari ini air mulai menggenang,” ujar Rusdi, seorang warga Legoso Permai.

Meski genangan air “hanya” sekitar 25 sentimeter dan tidak sampai masuk ke dalam rumah, namun Rusdi khawatir genangan akan semakin meninggi.

Sementara itu, cuaca di wilayah Ciputat dan Jakarta Selatan, hingga pukul 09.00 WIB tampak mendung, dan di beberapa wilayah lain turun hujan deras. [Tma, Ant]

Maret 2002

Pemerintah Tidak Akan Bongkar Vila di Puncak

Sumber:http://www.tempo.co.id/ 01 Maret 2002 

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah memutuskan untuk tidak membongkar bangunan-bangunan vila di kawasan Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur), yang sudah telanjur terbangun. Hal itu dikemukakan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie kepada pers seusai menghadap Presiden di Istana Negara, Jakarta, Jumat (1/3).
Menurut Kwik, pembongkaran bangunan-bangunan tersebut akan memakan biaya yang tidak sedikit. Karena itu sebaiknya kondisi tersebut diterima saja sebagai hasil kebijakan di masa lalu. “Lagi pula ternyata banyak yang mempunyai izin resmi. Dan itu harus kita hormati,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Kwik bersama Gubernur DKI Sutiyoso dan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno menghadap Presiden Megawati di Istana Negara, Jumat. Dalam pertemuan tersebut, Sutiyoso mengungkapkan program Pemda DKI Jakarta untuk menanggulangi banjir masa akan datang dan program pasca banjir yang sudah dilaksanakan.

Sutiyoso antara lain memaparkan rencana pembangunan waduk-waduk air di daerah selatan Jakarta, yakni Bogor dan Depok, sebagai kantong-kantong untuk mengurangi debit air. Selain itu, akan dibuat sodetan sungai antara Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane. Pemerintah daerah juga akan melanjutkan pembangunan Banjir Kanal Timur.

Sutiyoso mengatakan, dalam pembicaraan tersebut, tidak disinggung perihal vila-vila para jenderal di daerah Puncak. Namun menurut Kwik, kesepakatan yang diperoleh dalam pembicaraan tersebut adalah perlunya merehabilitasi proyek-proyek yang terjamin keamanannya. Artinya, dipastikan tidak akan mengalami banjir yang luar biasa.

Dalam pertemuan tersebut, Sutiyoso menyinggung keprihatinan Presiden perihal terus mengalirnya para pendatang ke ibukota Jakarta. “Apa tidak perlu suatu peraturan yang membatasinya,” kata Megawati seperti yang dikutip Sutiyoso. Hal itu perlu dilakukan, karena meskipun dilakukan relokasi penduduk di daerah bantaran kali, daerah tersebut akan kembali ditempati. Presiden menyarankan agar Pemda mempertimbangkan kemungkinan pemberlakuan pembatasan pendatang itu.

Rencana pembangunan sarana dan prasarana untuk mencegah banjir tersebut, kata Sutiyoso, baru akan dimulai setelah rehabilitasi fisik akibat banjir yang lalu selesai dilaksanakan.

Kwik menimpali, untuk itu biayanya diperkirakan akan mencapai 20 triliun untuk masa kerja selama 20 tahun. Dana tersebut diperoleh dari APBN. ”Itu pasti ada dananya, karena semua pihak termasuk DPR sudah setuju untuk itu. Jadi sekarang tinggal kerja saja,” tegas Kwik. (Dara Meutia Uning – Tempo News Room)

April 2002

Banjir Kembali Landa Kampung Melayu

Sumbe: http://arsip.gatra.com/ 21 April 2002 

KAWASAN bantaran Sungai Ciliwung seperti Kampung Malayu, Bidara Cina, Kebon Pala di Jakarta Timur, dan Tebet di Jakarta Selatan, kembali digenangi air. Ini akibat naiknya ketinggian air di Depok yang sempat mencapai 280 Cm.

Menurut keterangan Kepala Pintu Air Manggarai, Riwut Padmadi di Jakarta, Minggu petang, puncak ketinggian air di Jakarta terjadi pukul 15.00 WIB dengan ketinggian mencapai 840 Cm. Meluapnya sungai Ciliwung menyebabkan kawasan Kampung Melayu dan Bidara Cina, atau tepatnya di sekitar bantaran sungai, kembali kebanjiran dengan ketinggian air hingga dua meter.

Berdasarkan pantauan ANTARA di kawasan Kampung Melayu dan Kebon Pala, Jakarta Timur, hingga pukul 17.00 WIB masih digenangi air dan sebagian warga masih mengungsi di emperan toko Jalan Jatinegara Timur.

Mereka yang sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak berderet menempati trotoar di kawasan tersebut dengan menggelar tikar dan alas duduk seadanya.

Meluapnya daerah bantaran Sungai Ciliwung di sekitar Kampung Melayu dan Kebon Pala itu juga cukup menarik perhatian para pengguna dan pejalan kaki yang melintasi Jalan Jatinegara Timur tersebut.

Tampak pula segerombolan pejalan kaki yang menyempatkan diri melihat aliran sungai melalui jembatan yang letaknya tak jauh dari Jalan Jatinegara Tumur.

Sementara di Pintu Air Manggarai hingga pukul 18.00 WIB, menurut Riwut, ketinggian air sudah mulai surut atau tepatnya setinggi 820 Cm. Namun demikian, arus di sungai tersebut masih sangat deras yang disertai sampah cukup banyak. [Dh, Ant]

Agustus 2002

Sodetan Ciliwung-Cisadane, Solusi Terbaik Atasi Banjir

Sumber: http://arsip.gatra.com/  2 Agustus 2002 

Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah (Menkimpraswil), Soenarno mengemukakan, solusi terbaik dalam penanganan banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah membangun sodetan yang memindahkan sebagian debit air Sungai Ciliwung ke Sungai Cisadane.

“Namun ternyata bagi Pemerintah Daerah Banten dianggap merugikan. Padahal, secara nasional pembangunan sodetan yang mengalihkan sebagian air Sungai Ciliwung yang ada di wilayah DKI Jakarta ke Sungai Cisadane di wilayah Tangerang, Banten, saat ini menjadi beban puncak solusi terbaik,” katanya di Jakarta Jumat.

Pembangunan sodetan itu merupakan rencana lama pemerintah untuk menanggulangi bencana banjir di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Bahkan, pemerintah telah mendapat pinjaman Pemerintah Jepang melalui Japan Bank for International Coorperation (JBIC) senilai Rp1,3 triliun.

Namun rencana tersebut mendapat tantangan warga Tangerang yang menduga pembangunan sudetan itu akan mengalihkan banjir dari DKI Jakarta ke wilayahnya saja.

Soenarno mengatakan, sebenarnya pembangunan itu tidak mengalihkan banjir ke wilayah Tangerang, seperti yang dikhawatirkan warga sekitarnya, karena studi kelayakan pembangunan tersebut juga akan melakukan normalisasi atas Sungai Cisadane. Selain itu debit air yang dialihkan juga hanya 300 m3/detik dan akan dilengkapi pembangunan dua reservoar di Genteng dan Ciawi, yang mampu menampung 10 juta m2 air.

Dia mengatakan, hal itu merupakan contoh permasalahan yang ada dalam perencanaan dan pengembangan sumberdaya air yang harus dicarikan pemecahannya secara bersama-sama.

Contoh lain, adalah mengenai konservasi Segara Anakan di Cilacap, dengan memindahkan muara sungai Citanduy ke arah Pangandaran, ternyata juga berlarut-larut penyelesaiannya karena Pemerintah Propinsi Jawa Barat terlampau khawatir terhadap dampaknya di kemudian hari.

“Padahal, pemerintah Pusat tentu tidak akan lepas tangan dengan dampak yang mungkin terjadi. Hal itu semua ditambah masalah pembebasan tanah yang membuat pelaksanaan konstruksi prasarana pengembangan sumberdaya air menjadi tidak berjalan,” ujarnya.

Momentum

Soenarno menambahkan, saat ini merupakan momentum yang baik untuk melancarkan gerakan kepedulian masyarakat terhadap air, setelah kejadian banjir lalu di Jakarta.

“Saat ini tekanan publik sangat kuat dalam upaya mengatasi berbagai dampak yang ditimbulkan karena masalah air. Momentum itu telah mencapai puncaknya saat bencana banjir yang baru saja dialami dan masih begitu membekas dalam masyarakat, khususnya di Jakarta,” ujarnya.

Menurut dia, hendaknya ada upaya sistematis untuk mempertahankan momentum tersebut, sekaligus menggalang gerakan kepedulian dalam kerangka membentuk dan mengembangkan budaya hemat air dalam kehidupan masyarakat.

“Sejalan dengan itu pula, sudah saatnya untuk membawa isu sumberdaya air ke puncak agenda politik yang akan memberikan pijakan yang lebih kuat untuk menggalang keberhasilan jangka panjang pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan,” ujar Soenarno. [Tma, Ant]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: