Berita 2005

GRANT PEMERINTAH BELANDA UNTUK ATASI BANJIR JAKARTA

Sumber: http://www1.pu.go.id/ 22 Juni 2005

Banjir tahunan di Jakarta menyebabkan kerugian besar pada infrastruktur dan sektor swasta. Sebagai contoh banjir di bulan Februari 2002 diestimasikan mengalami total kerugian sebesar 1,1 Milyar dollar Amerika. Dengan adanya musibah banjir yang melanda berbagai kota pada tahun 2002, pada Rapat Steering Committee 4P-MOU di Belanda tela menetapkan satu prioritas kerjasama yang terkait dalam penanganan pengelolaan perkotaan dan sungai secara terpadu, khususnya di daerah aliran sungai Ciliwung (Integrated Urban River Management –IURM). Bantuan ini diberikan setelah dilakukan penandatanganan MoU Maret 2001 melalui 4 Departemen/Kementrian dan telah selesai pada tahun 2005 ini. Dari 9 proyek dibagi menjadi 3 sub proyek yang meliputi sub proyek kelompok perencanaan tata ruang, sub kelompok sosial perumahan dan permukiman dan sub kelompok lingkungan.

Padatnya permukiman di wilayah aliran sungai Ciliwung khususnya jelas turut memperbesar terjadinya banjir di saat musim penghujan. Dengan aktivitas warga permukiman yang jumlahnya besar apa maka buangan limbah yang masuk ke sungai juga besar. Sementara itu lebar dan kedalaman sungai Ciliwung saat ini tidak seperti dulu lagi. Akibatnya, bila musim penghujan tiba sungai jelas tidak mampu lagi menampung volume air yang berasal dari hujan dan limbah permukiman. Untuk mengatasi masalah itu pemerintah telah berupaya menyusun tata ruang yang bisa mengurangi dampak negatif terhadap sungai seperti banjir, sedimentasi dan pencemaran dan erosi. Pendekatan semacam ini harus dilakukan oleh kota-kota besar yang dilalui oleh sungai di Indonesia seperti Bandung, Medan, Surabaya dan Semarang. Pasalnya, di muara dari sungai akan selalu berkembang kota-kota. Maka perlunya dibuatkan (model) tata ruang yang dapat mengintegrasikan kegiatan tersebut. .

Sekretaris Jenderal Departemen PU, Roestam Sjarif menyatakan hal itu usai membuka Workshop Integrated Urban and River Management Rabu (22/6) di Jakarta. Menurutnya, pendekatan itu jangan hanya untuk pengembangan perkotaan saja, namun juga harus dapat mengurangi dampak negatif dari kegiatan kota terhadap sungainya. “Ini yang dilihat pemerintah Belanda terhadap Pemda DKI dalam mengatasi masalah banjir,” ujar Roestam Sjarif. Dijelaskan, pemerintah Belanda telah memberikan bantuan grant yang dipergunakan untuk kepentingan pembangunan non teknis misalnya, sosialisasi, penguatan organisiasi masyarakat, program perbaikan kampung dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Hal itu didasarkan mengingat pendekatan yang diambil adalah partisipasi masyarakat (bottom Up) khususnya masyarakat Bidara Cina (Jakarta Timur). “Mereka sudah dilibatkan misalnya dalam hal peningkatan kesadarannya. Setiap kegiatan yang dilakukan akan berdampak pada sungai,. Sehingga di dalamnya terkandung pesan edukasi,” tegas Sekjen PU. Dengan pola itu Sekjen berharap mereka mampu terlibat secara aktif. Dengan demikian, mereka bukan hanya sebagai sumber masalah melainkan juga sebagai penyelesaian masalah bagi penanggulangan banjir di DKI Jakarta. Ditambahkan Roestam Sjarif, pemerintah Belanda dalam program ini bertindak sebagai fasilitator dalam kegiatan yang dibuat pemerintah. Misalnya dalam hal memberikan bantuan tenaga ahli atau dalam hal kunjungan-kunjungan lapangan. Artinya, bantuan yang diberikan pemerintah Belanda lebih mengarah kepada bukan bantuan fisik.

Menjawab pertanyaan mengenai bantuan dana, Roestam Sjarief menyatakan dirinya tidak mengetahui secara persis berapa besarnya. Dia memperkirakan bantuan itu sekitar 1,4 Juta Euro. Namun dia mengaku, dana itu sudah direalisasikan untuk berbagai kegiatan sejak 4 tahun lalu, Termasuk diantaranya untuk kegiatan Workshop dan Sosialisasi. “Dana ini bukan untuk kegiatan fisik tapi untuk menggerakkan warga Bidara Cina. Merubah prilaku masyarakat,” tegasnya. Sekjen PU juga menyatakan, jika pendekatan yang telah dilakukan pemerintah tidak juga dapat mengatasi problem banjir maka masyarakat harus dapat hidup harmoni dengan air. Mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Misalnya, dengan membangun rumah-rumah panggung seperti di Kalimantan. Atau mereka menerima menghuna rumah-rumuh susun yang akan dipersiapkan Pemda DKI Jakarta.

Roestam Sjarief menjelaskan, Maret 2001 pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda telah melakukan MoU dengan melibatkan empat Departemen/Kementrian yaitu Departemen Kimpraswil, Kementrian LH, The Ministry of Housing Netherlands dan The Ministry of Transport, Public Works and water Management of the Kingdom of the Netherlands (4P-MoU). Banjir yang melanda berbagai kota di Indonesia (2002) 4P-MoU menetapkan satu program prioritas kerjasama yang terkait dalam penanganan pengelolaan perkotaan dan sungai secara terpadu, khususnya di daerah aliran sungai Ciliwung (Integrated Urban River Management –IURM). Program ini telah menghasilkan 9 proyek. Dalam program itu ditetapkanlah Sungai Ciliwung, khususnya di Kelurhan Bidara Cina Jakarta Selatan untuk ditangani.

Roestam Sjarief mengaku pelaksanan program IURM dengan pendekatan bottom up and grass root level approach masih perlu perbaikan dan ditingkatkan, (teknis/non teknis) mengingat hal itu adalah langkah awal dari suatu proses panjang yang berkelanjutan. Dia berharap hasil Workshop dapat menjadi masukan dalam penyusunan pedoman IURM, sehingga dapat dijadikan pedoman bagi kota-kota lainnya. (Sony)

Pusdatin. 220605

Desember 2005 

Indonesia Gandeng Belanda Atasi Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.merdeka.com/14 Desember 2005

Kapanlagi.com – Pemerintah Indonesia menjalin kerjasama dengan Belanda untuk mengelola bantaran sungai, salah satunya Sungai Ciliwung agar tidak kumuh dan menimbulkan banjir saat musim hujan.

“Dalam kerjasama ini Belanda memberikan bantuan teknis karena negara itu dikenal ahli menyangkut teknologi air,” kata Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto usai menghadiri HUT LKBN Antara ke-68 yang dilangsungkan di Wisma ANTARA Jakarta, Rabu.

Penandatanganan kerjasama (MOU) telah dilakukan dengan Menteri Pekerjaan Umum Belanda. Dalam perjanjian itu disebutkan kemungkinan menerapkan teknologi Belanda di Sungai Ciliwung.

Belanda sendiri selain memberikan bantuan teknis, juga akan membantu melakukan pembelajaran. Terkait hal itu pemerintah Indonesia menawarkan kerjasama dalam hal teknologi pengelolaan pantai dan rawa.

“Kita memiliki pantai nomor dua terpanjang di dunia, disamping pengolahan rawa yang saat ini baru mencapai satu hektar saja dari sebanyak 30 juta hektar yang dimiliki. Data menunjukkan masih 28 hektar yang potensial untuk dimanfaatkan,” katanya.

Melalui kerjasama ini diharapkan pengelolaan sungai dapat ditingkatkan sehingga tidak menjadi sumber bencana, melainkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan diantaranya irigasi serta air baku untuk kebutuhan sehari-hari.

Selama ini pengelolaan sungai di berbagai daerah belum berlangsung baik. Saat musim kemarau mengalami kekeringan, sementara di saat hujan justru menimbulkan musibah banjir. Padahal jika dikelola dengan benar justru akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. (*/erl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: