Berita 2011-2(Jul-Des)

Oktober 2011

Sepanjang Sempadan Sungai Ciliwung Dibuat Sumur Resapan

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/  18 Oktober 2011

BOGOR, (PRLM).- Saat ini Kementerian Lingkungan Hidup tengah fokus mengonservasi kondisi aliran sungai Ciliwung. Di sepanjang aliran sungai Ciliwung sedang dibangun sumur-sumur resapan air. Hal ini agar air hujan yang jatuh tidak langsung mengalir ke sungai, melainkan tertampung dahulu di kolam-kolam buatan.

Demikian diungkapkan Asisten Deputi III Kementerian Lingkungan Hidup Bidang Pengendalian Kerusakan Ekosistem Perairan Darat, Hermono Sigit disela-sela Kongres Lingkungan Sedunia “Meningkatkan Kemampuan Mitigasi dan Adaptasi Bencana Melalui Penelitian Lingkungan” yang digelar di Universitas Pakuan Bogor, Selasa (18/10).

Sementara itu, Rektor Universitas Diponegoro yang juga pengamat lingkungan hidup, Sudharto P. Hadi menyampaikan koordinasi yang kurang baik di antara pihak-pihak yang berkepentingan membuat semakin sulitnya mengembalikan kebersihan aliran sungai.

Dia menilai perlu segera melakukan pemetaan wilayah di sepanjang aliran sungai. Hal ini dimaksudkan agar pembagian tugas dan kerja di setiap wilayah bisa terukur dan maksimal.

Selama ini menurut Sudharto ada ketidakjelasan koordinasi antara pemerintah daerah di hulu sungai hingga di hilir sungai. Sudharto menduga ego sektoral kedaerahan masih terlalu kuat. “Perlu dilakukan pembagian kerja berdasarkan wilayah aliran sungai,” katanya menegaskan. (A-155/A-88)***

November 2011

Kali Ciliwung jadi prioritas gerakan nasional Indonesia Bersih

Oleh Yudho Winarto 

Sumber: http://nasional.kontan.co.id/  03 November 2011 

JAKARTA. Pemerintah telah meluncurkan gerakan nasional Indonesia Bersih. Wakil Presiden Boediono mengatakan, salah satu prioritasnya adalah pembersihan kali Ciliwung, Jakarta.

Program kebersihan kali Ciliwung merupakan usulan Kementerian Pekerjaan Umum. Program ini akan membersihkan kali Ciliwung dari kawasan Kalibata hingga ke muara.

Kementerian Pekerjaan Umum akan berkoordinasi dengan Kementerian Perumahan Rakyat untuk menjalankan program ini. Sebab, Kementerian Perumahan Rakyat sudah memiliki program untuk membenahi hunian di bantaran kali Ciliwung.

Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz menuturkan pembenahan hunian bantaran kali Ciliwung bukan hal yang mudah dan menjadi tantangan tersendiri. “Kebanyakan penghuni bantaran Ciliwung enggan pindah ke tempat hunian yang lebih layak,” katanya, Kamis (3/11).

Seperti diketahui, gerakan Indonesia bersih ini akan fokus pada enam kegiatan yakni pembersihan sarana perhubungan, pembersihan sungai di kota-kota besar, kebersihan sekolah, sarana kesehatan, pengelolahan limbah cair dan sampah padat di kota besar dan perubahan pola pikir.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan, pemerintah daerah bertanggung jawab atas kesuksesan gerakan kebersihan nasional ini. Dia mengusulkan ada instruksi presiden (Inpres) untuk menjalankan program-program ini. “Tentu saja, Pemerintah Pusat juga harus melakukan fasilitasi agar pelaksanaan program ini di daerah dapat berjalan baik,” katanya.

Penataan Ciliwung Bakal ”Nyontek” Bengawan Solo

Sumber:  http://www.tempo.co/ 24 November 2011

TEMPO/Nickmatulhuda

TEMPO.CO, SURAKARTA: — Kementerian Perumahan Rakyat berencana merelokasi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung. Sebanyak 30 ribu penduduk direncanakan akan dipindahkan dari bantaran yang selama ini dijadikan hunian. Lokasi pemindahan bisa jauh dari bantaran, atau masih di sekitar bantaran, tapi dengan bangunan yang lebih layak.

Staf Ahli Menteri Perumahan Rakyat Bidang Peran Serta Masyarakat dan Pemberdayaan Mirna Amin mengaku tengah menggali informasi seputar cara Solo merelokasi warga di bantaran Bengawan Solo. “Kalau memungkinkan, bisa diterapkan di Ciliwung,” katanya di Balai Kota Surakarta.Rabu 23 November 2011.

Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Surakarta Hasta Gunawan mengatakan yang ingin dipelajari dari Solo adalah proses relokasi. Hal yang telah dilakukan pihaknya untuk memindahkan warga di sekitar bantaran Bengawan Solo adalah pemberian kompensasi.

“Kami memberikan kompensasi Rp 12 juta untuk lahan, Rp 8,5 juta untuk membangun rumah, dan Rp 1,8 juta untuk fasilitas umum, seperti pembuatan jalan di depan rumah,” ujar Hasta. Sejak dimulai pada 2008, saat ini dari 1.571 keluarga di bantaran Bengawan Solo, 993 keluarga sudah dipindahkan.   l UKKY PRIMARTANTYO

Sodetan Belum Prioritas Kementerian PU, Warga Ciliwung Was-Was

Sumber: http://poskota.co.id/ 30 November 2011 

JAKARTA (Pos Kota) – Dalam waktu beberapa tahun mendatang, was-was warga bantaran Kali Ciliwung akan datangnya banjir tampaknya tidak akan hilang. Menyusul pernyataan Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) selaku penanggung jawab menyatakan pembuatan sodetan Ciliwung ke Banjir Kanal Timur (BKT) bukan merupakan priotas yang harus dikerjakan.

Padahal pembangunan sodetan yang rencananya akan dibangun di Cipinang itu diyakini mampu mengurangi debit air kali Ciliwung. Sehingga potensi banjir dapat berkurang. Terutama di wilayah Kampung Melayu, Cawang dan Manggarai.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Ery Basworo, rencana pembuatan sodetan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) merupakan tanggung jawab Kemen PU. Dengan adanya sodetan ini nantinya akan menghubungkan Kali Ciliwung dengan BKT. “Pola pikirnya untuk memanfaatkan kapasitas BKT,” ujar Ery, Selasa (29/11).

Ery mengungkapkan kapasitas BKT belum dimanfaatkan secara maksimal. Meski sudah menampung lima sungai yang terhubung langsung dengan BKT, yakni kali Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jati Kramat, dan Kali Cakung. Kapasitas BKT yang berkapasitas 370-380 kubik per detik, masih dapat menambah hingga 50 meter kubik per detik lagi.

Pembuatan sodetan ini, menurut Ery akan lebih ekonomis dibandingkan melakukan normalisasi aliran kali. Pasalnya normalisasi ini membutuhkan biaya pembebasan lahan. Belum lagi dampak sosial yang yang ditimbulkan dari kegiatan itu.

MASIH DIKAJI

Sementara itu, Kepala Bidang Pengelola Dinas PU DKI Jakarta Fahrurrazi, menjelaskan sejauh ini kajian tersebut sedang dilakukan. Sodetan ini rencananya akan dibuat dari Kali Ciliwung – Kali Cipinang – BKT. Sejumlah titik penghubung sudah dikaji, diantaranya Kebun Sayur dan Otista 3. Termasuk pipa air PDAM dari Kali Ciliwung menuju Kali Cipinang sudah ada sepanjang 1,3 kilometer. “Kira-kira di Otista 3,” terangnya.

Saluran milik PDAM ini akan diperbesar hingga berdiameter 5 meter, sebanyak tiga terowongan. Baru dari Kali Cipinang disalurkan ke BKT. “Saluran ini dibuat untuk menampung luapan Kali Cipinang, jadi kalau volume air melebihi kapasitas secara otomatis disalurkan ke BKT,” pungkasnya.

BUKAN PRIORITAS

Seperti diketahui, sebelumnya Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Alam Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio, menyatakan bahwa pembangunan sodetan Kali Ciliwung ke BKT bukan merupakan prioritas. ”Sodetan itu yang kesekian, bukan kegiatan prioritas,” terang Pitoyo Subandrio. Bahkan terkait hal ini Pitoyo mengaku telah membahasnya dengan Wakil Presiden.

Pitoyo menerangkan sudah memiliki sejumlah kegiatan yang terkumpul dalam program penanganan masalah di Kali Ciliwung. Sejauh ini, menurut Pitoyo kegiatan membuat sodetan ini ada di urutan kesembilan dari program tersebut. (guruh/sir)

Ribuan Warga Bertahan Tinggal di Bantaran Sungai

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 27 November 2011 


KISMI DWI ASTUTI/”PRLM”
SEJUMLAH permukiman warga terlihat berdiri di bantaran/pinggir Kali Ciliwung yang ada di wilayah Bogor Timur belum lama ini. Ribuan warga Kota Bogor memilih tetap tinggal di bantaran kali meski terancam longsor dan terus dihantui ketakutan akan bahaya longsor karena alasan ekonomi.*

BOGOR, (PRLM).- Ribuan warga Kota Bogor yang tinggal di pinggir/bantaran sungai mengaku resah menyusul bencana longsor yang terjadi akhir pekan lalu di wilayah Cibogor, Bogor Tengah Kota Bogor. Meski demikian, dengan alasan ekonomi ribuan warga yang tinggal di bantaran sungai ini mengaku hanya bisa pasrah bertahan di rumah mereka yang rawan terkena longsor dan banjir.

Salah seorang warga yang tinggal di bantaran Sungai Cibalok di wilayah Cibogor, Ade, Minggu (27/11) mengaku selalu dihantui ketakutan akan longsor susulan. Apalagi, cuaca Kota Bogor selalu diguyur hujan selama beberapa hari belakangan. “Ya resah, takut, khawatir. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau pindah, gimana dengan kerjaan saya? Kalau enggak pindah, ya harus ketakutan tiap hari, terutama kalau hujan,” kata Ade.

Lurah Cibogor, Ruswandi yang dikonfirmasi juga membenarkan jika ratusan warganya yang tinggal di bantaran Sungai Cibalok merasa resah akan ancaman longsor susulan menyusul semakin tingginya intensitas hujan di wilayah Kota Bogor. Khusus untuk wilayah Cibogor, kata Ruswandi, ada tiga RW yang masuk dalam wilayah paling rawan longsor, yakni Rw 6, Rw 5, dan Rw 1. Warga yang tinggal di sepanjang Sungai Cibalok saja jumlahnya mencapai 200 kepala keluarga yakni di wilayah Rw 6.

“Dulu sekitar tahun 2009 pernah longsor juga, tapi enggak sampai makan korban. Saat itu, warga dijanjikan relokasi di Ciapus. Hanya saja enggak jadi karena langsung dibangun turap,” katanya. Lebih lanjut dikatakan Ruswandi, dengan alasan ekonomi, warganya tidak bisa begitu saja direlokasi ke daerah baru. “Hampir semuanya kehidupannya tergantung pada Pasar Anyar. Oleh karena itu, kalau direlokasi pun belum tentu menyelesaikan masalah. Sebab, bagaimana dengan mata pencaharian mereka,” tutur Ruswandi.

Salah satu upaya yang paling mungkin, lanjut Ruswandi adalah pembangunan turap. Hanya saja, turap juga dinilai tidak akan bertahan lama. Seperti yang terjadi saat ini. Sekda Kota Bogor, Bambang Gunawan sendiri menjanjikan untuk melakukan penataan kembali permukiman di bantaran sungai. Meski, sampai sekarang belum dijelaskan secara detail penataan seperti apa yang akan dilakukan. Pemkot baru akan memindahkan korban longsor ke kontrakan yang lokasinya lebih aman.

Warga lainnya yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung di wilayah Bogor Timur, Dedeh (56) juga mengaku was-was jika hujan tiba. Sebab, rumahnya berada di tebing Sungai Ciliwung. “Ya, takut. Tapi enggak ada pilihan lain selain bertahan. Kalau pindah, mau pindah ke mana. Kerjaan ada di sini,” tuturnya. Berdasarkan pemantauan “PR” di beberapa lokasi sungai, ada ribuan rumah warga yang berdiri di tebing sungai, menempel di tebing sungai, dan berada di pinggir sungai. Kondisi tanah rata-rata labil. Hal ini dibuktikan dengan mulai adanya retakan pada bangunan mereka atau kikisan air sungai pada bagian bangunan mereka. Longsor dan banjir mengancam setiap waktu.

Warga sendiri tidak punya banyak pilihan karena tidak ada tempat lain yang mereka nilai layak. Kebutuhan permukiman yang tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan permukiman serta tingkat perekonomian yang rendah menjadi penyebab mereka nekat bertahan meski harus dihantui longsor. Sementara, puncak musim hujan diperkirakan masih akan terjadi pada Januari/Februari tahun depan. Artinya, warga di bantaran sungai harus terus meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan diri untuk jalur evakuasi jika bencana datang tiba-tiba. (A-155/A-147)***

Desember 2011

Kemenpera Pancangkan Tiang Rusunawa di Bantaran Kali Ciliwung Tahun Depan

Sumber: http://www.suarapembaruan.com/ 2 Desember 2011 

H Djan Faridz [SP/Luther Ulag]

[JAKARTA] Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan segera melaksanakan pemancangan tiang pertama pembangunan rumah susun sewa (Rusunawa) di bantaran kali Ciliwung pada awal 2012.

Menteri Perumahan Rakyat (Menpera), Djan Faridz, saat menerima kunjungan Wakil Menteri PU Hermanto Dardak di kantornya, Kamis (1/12), mengatakan, pihaknya siap melakukan koordinasi dan bekerjasama dengan Kementerian PU untuk melakukan tiang pancang Rusunawa pada awal Januari 2012 mendatang.

Menurut Djan Faridz, sejak ditunjuk oleh Presiden menjadi Menpera beberapa waktu lalu dirinya memang mendapat tugas khusus untuk menyelesaikan masalah perumahan yang cukup padat di sepanjang Kali Ciliwung. Persoalan perumahan yang cukup padat dan permukiman liar di sekitar Kali Ciliwung bahkan telah terjadi sejak lama sehingga memerlukan penanganan khusus dari pemerintah.

Lebih lanjut, Djan Faridz menerangkan, Kemenpera pada rapat koordinasi dengan Wakil Presiden juga telah melakukan kajian mengenai program tersebut. Masalah perumahan di bantaran Kali Ciliwung merupakan persoalan klasik yang terjadi di Ibukota Jakarta. Pasalnya, meskipun banyak penduduk yang menempati tanah liar, namun mereka dianggap legal oleh pemerintah kota setempat karena membayar PBB, tagihan listrik dan telepon, memiliki RT dan RW bahkan kelurahan. “Kalau dibilang penduduk liar tapi mereka memiliki KTP. Jadi meskipun tinggal di tanah liar keberadaan mereka masih dianggap legal,” katanya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, imbuh Djan Faridz, Kemenpera berharap adanya kerjasama dan partisipasi aktif penduduk setempat untuk mensukseskan program perumahan di daerah tersebut serta sinergi program dengan Kementerian PU dan Pemprov DKI Jakarta.

Sementara itu, Wamen PU Hermanto Dardak menyatakan, pihaknya juga siap melakukan sinkronisasi tugas agar penataan pembangunan perumahan di sepanjang Kali Ciliwung dapat berjalan dengan lancar. Saat ini, Direktorat Sumber Daya Air Kementerian PU siap melaksanakan normalisasi Kali Ciliwung di beberapa lokasi yang rawan terjadi banjir, berupa pembuatan sodetan. Hal ini sebagai upaya untuk mendukung revitalisasi kawasan bantaran Kali Ciliwung dan mendukung program Kemenpera.

Hermanto juga mengatakan, adanya pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) yang dibangun oleh Kementerian PU dan Pemda DKI Jakarta bisa dijadikan rujukan pembangunan infrastruktur hijau. “Kami berharap penanganan masalah perumahan di sepanjang Kali Ciliwung bisa selesai pada tahun 2014 mendatang. Kami berharap pengalaman membangun BKT bisa dijadikan acuan untuk pembangunan program Ciliwung Bersih serta perumahan yang hijau dengan memberdayakan masyarakat setempat,” kata dia. [E-8]

Kondisi Hulu DAS Ciliwung Kritis

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 12 Desember 2011 

BOGOR, (PRLM).- Kondisi hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung di kawasan Puncak, Kab. Bogor semakin kritis dan mengkhawatirkan seiring maraknya alih fungsi lahan tangkapan air menjadi bangunan dan lahan ladang pertanian. Akibatnya, diperkirakan dalam waktu lima hingga sepuluh tahu ke depan, air Sungai Ciliwung tidak akan sampai ke hilir, yakni wilayah Depok hingga Jakarta.

Kondisi paling parah yang terjadi adalah krisis air di kawasan hilir. Demikian disampaikan Kepala Seksi Program Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dan Ciliwung, Nurhasnih yang dikonfirmasi soal kondisi terkini hulu Sungai Ciliwung, Minggu (11/12).

“Kawasan Gunung Gede Pangrango atau yang lebih dikenal sebagai wilayah Puncak seharusnya menjadi daerah tangkapan hujan. Namun, untuk sejumlah kepentingan, kawasan ini malah semakin banyak beralih fungsi menjadi ladang pertanian dan bangunan (vila, hotel, resto dan permukiman),” katanya.

Data terakhir yang tercatat di pihaknya menyatakan indeks penutupan lahan di kawasan Puncak seharusnya 70 persen. Namun, akibat maraknya pembangunan dan lahan ladang pertanian, indeks penutupan lahan hanya tinggal 30 persen.

“Degradasi fungsi lahan sudah mengkhawatirkan karena yang benar-benar berfungsi jadi lahan vegetasi tinggal 30 persen,” ujar Nurhasnih.

Lebih lanjut dikatakan Nurhasnih, kawasan tangkapan hujan seharusnya menjadi lahan vegetasi terutama pohon besar untuk menampung curah air hujan. Hanya saja, karena tingkat kesadaran dan pendidikan warga sekitar masih relatif rendah, banyak lahan yang seharusnya menjadi daerah resapan air beralih kepemilikan dari warga lokal miskin ke pemilik modal. Akibatnya, penataannya pun semakin sulit dikendalikan. Sebab, tidak mudah menyamakan persepsi antara pengusaha atau orang berduit itu dengan konservasi lingkungan. (A-155/A-26).***

Yuk, Tahun Baru Di Sepanjang Kali Ciliwung

Riana Afifah | Benny N Joewono

Sumber:  http://megapolitan.kompas.com/21 Desember 2011

JAKARTA, KOMPAS.com – Acara puncak pergantian tahun sudah pasti menyedot animo masyarakat banyak untuk berkumpul di salah satu tempat seperti Ancol misalnya.

Namun pada perayaan tahun ini ada yang berbeda dari biasanya lantaran di sepanjang Kali Ciliwung akan diselenggarakan acara puncak pergantian tahun.

“Puncak pergantian tahun, Gubernur seperti biasa ada di Ancol. Tapi untuk tahun ini akan ada kegiatan juga di sepanjang Kali Ciliwung,” kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di Balaikota, Jakarta, Rabu (21/12/2011).

Ia menjelaskan ada sebanyak 14 kegiatan yang digelar di sepanjang Kali Ciliwung pada saat perayaan malam Tahun Baru. Rencananya akan diselenggarakan juga semacam pesta rakyat di sepanjang wilayah Kali Ciliwung yang ditujukan untuk menghibur warga sekitar.

“Ini supaya warga tidak sibuk-sibuk keluar wilayahnya saat pergantian tahun,” ujar Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo.

Menurutnya, penyelenggaraan ini juga bertujuan untuk mengurangi titik-titik kemacetan saat malam Tahun Baru. Karena warga yang ada di sepanjang Kali Ciliwung tidak perlu menuju ke pusat kota untuk menikmati malam Tahun Baru dengan adanya pesta rakyat yang digelar di sekitar wilayahnya.

Kendati demikian, kondisi ciliwung saat ini masih terbilang parah karena terdapat tumpukan sampah dimana-mana.

Untuk itu, pihaknya akan segera melakukan pembersihan pada wilayah tersebut sehingga saat perayaan dilaksanakan, suasana dan kondisi sudah bersih dan nyaman.

“Akhir tahun akan segera kami bersihkan. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tandasnya.

Sungai Ciliwung Akan Direvitalisasi

Sumber:  http://www.ciputraentrepreneurship.com/22 Desember 2011 

Setelah sekian lama hanya rencana, Kementerian Pekerjaan Umum akan mulai merevitalisasi total Kali Ciliwung. “Ini solusi total bagi Ciliwung. Bukan cuma masalah banjir, tapi juga orangnya,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Pitoyo Subandrio, dalam jumpa pers di kantornya, Kamis 22 Desember 2011.

Menurut Pitoyo, warga yang tinggal di bantaran Kali Ciliwung akan direlokasi ke rumah-rumah susun. Dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum akan bekerja sama dengan Kementerian Perumahan Rakyat. “Di daerah-daerah seputar Kampung Melayu dan Pasar Rumput akan kami bangun rumah susun sampai 24 lantai,” ujarnya.

Warga yang selama ini tinggal di bantaran sungai cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) DKI Jakarta untuk dapat menghuni rumah susun. Untuk menarik warga, biaya sewa untuk tahun pertama akan digratiskan.

Setelah warga direlokasi dari bantaran sungai, baru Kementerian Pekerjaan Umum yang bergerak untuk melakukan normalisasi aliran sungai. Tahap pertama, pelebaran sungai akan dilakukan hingga 40 meter dari Pintu Air Manggarai hingga TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Untuk itu, menurut Pitoyo, dana yang diperlukan mencapai Rp 3 triliun. “Tapi kalau dananya tidak turun sebesar itu, kami tetap bisa lakukan setahap demi setahap,” ujarnya. Ia menambahkan, “Secara prinsip, Wakil Presiden sudah setuju.”

Revitalisasi Kali Ciliwung penting menurut Pitoyo karena sungai yang berhulu di kawasan Puncak ini merupakan salah satu sungai utama di Jakarta. Dari Puncak melalui timur Bogor, sungai ini membelah Jakarta Timur dan Selatan. Di Pintu Air Manggarai, ketinggian air di sungai inilah yang menjadi indikator peringatan dini banjir kiriman dari Bogor. Setelah melalui beberapa kanal seperti di Gunung Sahari dan Kanal Banjir Barat, aliran sungai melalui tanah Abang, Tomang, Jembatan Lima hingga bermuara di Pluit. (*/Tempo.co)

SDA GROUND BREAKING “TOTAL SOLUTION FOR CILIWUNG” DI 2012

Sumber: http://www1.pu.go.id/  22 Desember 2011

Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) akan melakukan pemancangan pertama (ground breaking) proyek “Total Solution for Ciliwung”, tahun depan. Saat ini sudah ada kegiatan yang telah dipresentasikan dan disetujui oleh Wakil Presiden Boediono mengenai proyek tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Ditjen SDA Kementerian PU Pitoyo Subandrio di Jakarta, hari ini (22/12).

“Di situ kita tidak hanya memikirkan banjirnya saja, tapi juga relokasi masyarakat yang tinggal di sempadan Ciliwung ke rumah susun sewa (rusunawa), yang pada tahun pertama penempatannya tidak dikenakan biaya atau gratis sewanya,” tambah Pitoyo.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa kegiatan yang dilakukan pertama kali adalah dibuatnya codetan di Ciliwung serta pemindahan masyarakatnya ke rusunawa. Setelah itu, baru kegiatan normalisasi sungai dimulai, sehingga tidak ada penggusuran.

“Rusunawa tadi dibangun dengan dana dari pemerintah, jadi hak miliknya tetap tetap dimiliki pemerintah. Hal ini untuk mencegah masyarakat menjual rusunawa tersebut dan kembali tinggal di sempadan sungai,” tambahnya.

Saat ini, Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB) sudah selesai pembangunannya dan tinggal menunggu peresmian. Mengenai penanganan banjir di awal tahun 2012, Pitoyo mengungkapkan bahwa semua balai Kementerian PU di seluruh Indonesia sudah menyiapkan diri sebelum banjir itu tiba, dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada dalam DIPA yang sudah ditenderkan, dan saat ini banyak yang sudah selesai.

“Balai-balai tersebut sudah mempersiapkan diri dan mempunyai buku pedoman menghadapi banjir, yang di dalamnya terdapat standar operational procedure (SOP), misalnya saat elevasi berapa sebuah sungai dinyatakan siaga 1, 2, atau 3, dan apa yang harus dilakukan,” tambah Pitoyo.

Adapun pekerjaan-pekerjaan yang sudah dilaksanakan di tahun 2011 adalah ground breaking normalisasi Kali Angke, Kali Pesanggrahan dan Kali Sunter di Jakarta. Kemudian, di Bengawan Solo juga ada revitalisasi yang kontraknya multiyears, seperti di sungai Ciliwung-Cisadane dan Citarum.

“Pada musim hujan seperti sekarang ini, paket-paket pekerjaan itu kami arahkan agar melaksanakan kegiatan untuk memitigasi banjir atau menurunkan elevasi muka air banjir dengan cara memotong penyempitan-penyempitan yang ada pada sungai, jadi kegiatan kita fokuskan pada daerah-daerah yang menyempit,” tambah Pitoyo.

Secara umum, kondisi musim hujan berada pada posisi normal. Hanya saja, ada situasi-situasi tertentu yang ekstrim, di mana tidak bisa diprediksi lagi musim hujan dan kemarau. Karena, kondisi alam sudah terganggu akibat perubahan iklim dan pemanasan global yang mengakibatkan efek rumah kaca. Sehingga, terjadilah kerusakan ozon sehingga dengan pemanasan lebih tinggi menyebabkan es kutub mencair dan permukaan laut menaik. Ini dapat kita lihat dari banjir rob di Semarang dan di Muara Baru. (nrm/ifn)

Pusat Komunikasi Publik

Tahun Baru, Ciliwung Baru

Anes Saputra – detikNews

Sumber:http://news.detik.com/ 31 Desember 2011 

Jakarta Gerimis yang mengguyur Jakarta sejak pagi tidak menyurutkan semangat warga Pasar Baru untuk merawat Kali Ciliwung. Lewat Festival Ciliwung dengan tema ‘Satu Hari yang Indah di Sepanjang Ciliwung’ mereka mengembalikan citra positif Ciliwung sebagai ikon Jakarta yang bersih.

Berlokasi di Jalan Antara, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, sebuah panggung berukuran 10 x 8 meter berdiri kokoh menghadap Kali Ciliwung. Di sisi kirinya berjejer 18 tenda kecil yang memamerkan berbagai makanan khas daerah untuk diperdagangkan.

Tidak hanya itu, sebuah perahu yang didesain khas betawi disediakan di kali untuk ditumpangi warga yang ingin merasakan hawa Ciliwung langsung dari atas perahu tersebut.

Acara perdana dalam rangka pembersihan Ciliwung ini sekaligus melepas kepergian tahun 2011. Diramaikan dengan lomba menggambar tingkat PAUD se-Kecamatan sawah Besar; Hiburan Rakyat; Lomba Perahu Hias; dan sebagainya, rangkaian kegiatan ini akan diakhiri dengan pesta kembang api tepat pada pukul 00.00 WIB, 1 Januari 2012.

Konon, kali yang kini dikenal jorok akibat dijadikan target pembuangan sampah oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, dulunya berair bersih. Dan tidak jarang dimanfaatkan warga sekitar untuk berenang.

Bahkan, Fauzi Bowo, yang kini menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta, sempat mencicipi bersihnya Ciliwung saat kecil dulu. “Saya tahu dulu Ciliwung bisa berenang di sini. Di sini (Ciliwung di Jalan Antara) saya tidak pernah berenang, kalau di Manggarai pernah,” kenangnya, saat mengunjungi acara tersebut.

Dalam kunjungan itu, tidak lupa Foke, sapaan akrab Sang Gubernur, turun langsung ke kali menggunakan perahu karet untuk mengais sampah Ciliwung. “Mari kita angkat kembali citra Ciliwung yang positif itu dan mari kita jadikan ini suatu target yang ingin kita wujudkan bersama seluruh warga Jakarta,” ungkapnya.

Terdengar muluk-muluk mungkin, tapi satu langkah kecil akan membuahkan hasil yang besar jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Dengan demikian, kedatangan tahun baru diharapkan menjadi wajah baru bagi Ciliwung dan Jakarta.

“Tahun baru, Ciliwung Baru,” ujar Camat Sawah Besar, Drs. Marsigit, M. Si.

(gah/gah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: