Berita 2011-1(Jan-Jun)

Februari 2011

Pencemaran Sungai Ciliwung Sangat Parah

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 05 Februari 2011

WAKIL Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf (berbaju loreng) ikut memunguti sampah anorganik di Sungai Ciliwung di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).*
KISMI DWI ASTUTI/”PRLM”

BOGOR, (PRLM).-Pencemaran Sungai Ciliwung dinilai sudah sangat parah dan termasuk dalam kategori tercemar berat. Limbah rumah tangga dinyatakan sebagai penyebab utama pencemaran berat yang terjadi di Sungai Ciliwung. Hanya saja, sampai saat ini pemerintah daerah masih sangat kesulitan untuk mengajak masyarakat meninggalkan kebiasaan membuang sampah di sungai.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf ketika melakukan penyisiran ke Sungai Ciliwung untuk membersihkan sampah di wilayah Kelurahan Kedung Halang, Bogor Utara, Kota Bogor, Sabtu (5/2).

Lebih lanjut dikatakan Dede, jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan sejumlah daerah yang menggantungkan sumber air dari Ciliwung akan mengalami krisis air pada tahun 2012 atau 2013.

“Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC,” kata Dede.

Diakui Dede, sampai saat ini kondisi pencemaran di sepanjang Sungai Ciliwung sudah sangat parah. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata Dede juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. “Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai,” lanjutnya.

Dengan kondisi masyarakat yang ada sekarang, kata Dede, sosialisasi akan memakan waktu yang sangat lama. Untuk itu, Pemprov Jabar akan mengeluarkan peraturan gubernur untuk perlindungan dan pengawasan daerah aliran sungai (DAS) yang ada di wilayah Jabar, seperti Ciliwung, Cisadane, dan Cimanuk.

Selain itu, gerakan membuat masyarakat malu membuang sampah ke sungai juga perlu terus digalakkan, terutama dilakukan oleh anak muda. Dengan demikian, para orang tua yang membuang sampah di sungai malu pada anak mereka yang memunguti sampah di sekitar sungai. “Ke depan problematika kedua kita akan muncul yakni ketahanan air. Krisis air dalam waktu dekat, bahkan bisa terjadi karena sumber air tidak terjaga,” ungkapnya.

Sementara itu, Hapsono dari Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengatakan kerusakan lingkungan akibat pencemaran di Sungai Ciliwung juga menyebabkan debit air di sungai ini tidak menentu. “Kalau dulu, banjir bandang itu cuma sepuluh tahun sekali, sekarang bisa hampir setahun sekali ada air bandang karena perubahan sungai yang tidak lagi bisa menampung debit air,” katanya.

Berdasarkan penelusurannya, ada sekitar 13 titik di aliran Sungai Ciliwung di wilayah Bogor yang tercemar parah. “Yang paling parah berada di sekitar Pasar Jambu Dua dan Pasar Bogor karena limbah pasar masuk ke sungai,” lanjutnya.

Hal ini yang menyebabkan wilayah Bogor saat ini sering banjir karena air limpasan sungai. Disayangkan Hapsono, sampai saat ini belum ada perhatian khusus Pemkot Bogor terkait masalah sampah di sungai ini. Pemkot Bogor lebih banyak beralasan adanya keterbatasan wewenang mereka untuk mengatasi masalah ini.

Dari hasil penyisiran yang digagas oleh Circle K dan Greeneration Indonesia ini, ada puluhan karung plastik yang berisi sampah anorganik. (A-155/kur)***

Ratusan Warga Masih Lakukan MCK di Tepi Kali Ciliwung

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 19 Februari 2011 


KISMI DWI ASTUTI/”PRLM”
Dua orang warga Sukamulya, Sukasari, Bogor Timur, Kota Bogor mencuci pakaian di tepi Kali Ciliwung, Sabtu (19/2) pagi. Meski berada di tengah kota besar, ratusan warga di bantaran Kali Ciliwung masih mengandalkan mata air serta kali untuk kebutuhan mandi cuci dan kakus (MCK).*

BOGOR, (PRLM).-Ratusan warga di bantaran Kali Ciliwung, Kota Bogor belum memiliki ruang mandi, cuci, dan kakus (MCK) pribadi. Akibatnya, ratusan warga ini masih mengandalkan sungai dan sumber mata air sebagai pemenuhan kebutuhan MCK sehari-hari.

Salah seorang warga Sukamulya, Rt 02 Rw 03, Kel. Sukasari, Bogor Timur, Endang (30) yang ditemui “PRLM”, Sabtu (19/2) mengatakan hampir seluruh warga di wilayahnya mengandalkan Kali Ciliwung untuk kebutuhan MCK. Bahkan, tidak jarang ada warga yang sampai jatuh ke sungai dan tenggelam terbawa arus sungai saat buang air besar di sungai. “Udah banyak kasus warga yang hanyut atau tenggelam di kali gara-gara mau buang air besar,” kata Endang.

Namun, karena sebagian warga mengaku tidak mampu membangun ruang MCK pribadi, maka banyaknya kasus warga yang hanyut pun tidak menjadikan warga jera atau kapok untuk melakukan aktivitas MCK di sungai.

Ketua RT 02, Iwang pun mengakui jika kepadatan penduduk di wilayahnya merupakan salah satu penyebab warga tidak mempunyai MCK pribadi. “Di wilayah kami, rumahnya sudah padat. Kadang satu rumah ditempati tiga hingga empat keluarga, sehingga sudah tidak mungkin lagi membangun fasilitas MCK di rumah mereka masing-masing,” kata Iwang.

Bersyukur, lanjut Iwang, sempat ada bantuan dari pemerintah untuk membangun fasilitas WC umum di tepi Kali Ciliwung. Hanya saja, karena terkadang harus mengantre, maka warga pun tidak segan-segan buang air besar di tepi kali atau di atas bebatuan di Kali Ciliwung.

Sementara, untuk keperluan mencuci, ratusan warga masih mengandalkan mata air yang ada di sekitar Kali Ciliwung. “Repotnya kalau kali udah banjir. Tempat nyucinya bisa kerendem air,” lanjutnya.

Saat ini sejumlah rumah sudah memasang pipa yang dihubungkan ke sumber air tersebut untuk keperluan mencuci pakaian, meski tidak banyak warga yang melalukan hal ini. Dengan demikian, jumlah warga yang mencuci pakaian di tepi sungai sudah mulai berkurang. “Tapi, kalau pagi, sih, masih banyak saja yang nyuci di pinggir kali. Udah kayak lomba mencuci saja,” katanya.

Sementara, warga lainnya di RT 04, Rahmat mengatakan dia dan warga di sekitar bantaran Kali Ciliwung tidak mungkin pindah ke daerah lain hanya agar bisa mempunyai MCK pribadi. “Ya, sudah biarin saja begini. Rumah kita emang sudah sempit, jadi mau ditaruh di mana MCK-nya. Kalau harus pindah maka kita butuh dana lagi dan itu tak mungkin,” tuturnya.

Sementara itu, Lurah Sukasari, Yus Muslim mengatakan pihaknya masih kesulitan untuk mengimbau warga agar membuat MCK di rumah. “Rasanya tidak mungkin kami memaksa mereka untuk membangun MCK pribadi, meski dengan kondisi yang ada sekarang jelas akan mencemari sungai dna lingkungan sekitar. Namun, saya juga paham betul kondisi masyarakatnya,” ungkap Yus.

Menurut dia, sebagian besar warga Sukasari merupakan keluarga miskin sehingga tidak mungkin membangun fasilitas MCK yang memadai di rumahnya sendiri.

Bahkan, kasus hanyutnya warga saat buang air besar di kali belum lama ini, lanjut Yus, tidak juga membuat warga takut atau jera. Akhirnya, pihak kelurahan hanya bisa memfasilitasi kebutuhan MCK mereka dengan membangun fasilitas MCK di tepi sungai.

“Meski tetap menimbulkan pencemaran, pembangunan ini akan sangat mambantu warga karena mereka bisa lebih aman melakukan kegiatan MCK,” tambahnya. (A-155/kur)***

Kondisi DAS Ciliwung Tercemar Berat

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 20 Februari 2011

BOGOR, (PRLM).- Akibat kebiasaan warga sekitar bantaran kali yang masih membuang sampah serta limbah rumah tangga termasuk tinja, membuat kondisi daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung dan beberapa sungai lainnya di wilayah Kota Bogor tercemar berat. Bahkan, dikhawatirkan akan terjadi krisis air bersih pada dua atau tiga tahun yang akan datang jika kebiasaan tersebut tidak juga hilangkan.

Pantauan “PRLM” di beberapa titik aliran DAS Ciliwung dan DAS Cisadane di wilayah Kota Bogor, Minggu (20/2) menunjukkan, sebagian besar masyarakat yang tinggal di bantaran sungai tersebut masih memanfaatkan sungai sebagai tempat sampah. Mulai dari limbah deterjen cucian, sampah rumah tangga, hingga tinja masuk ke dalam aliran sungai tersebut. Warga di sekitar bantaran sungai mengaku tidak mempunyai pilihan lain selain menjadikan sungai sebagai tempat sampah. Keterbatasan ekonomi serta kepadatan penduduk yang tinggal di wilayah bantaran sungai dijadikan alasan masyarakat untuk menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa.

Di sejumlah wilayah, misalnya di daerah Cibadak Tanah Sareal, Sukasari, serta sekitar Pasar Anyar, masyarakat sengaja memasang saluran pembuangan dari pipa paralon besar langsung dari rumah mereka ke sungai. “Segala sampah masuk ke situ, termasuk kotoran manusia. Habis mau bikin septitank di mana lagi,” kata salah seorang warga Cibadak, Tanah Sareal, Udin (30). Bahkan, di beberapa titik terlihat bilik yang dijadikan tempat buang hajat sebagian warga yang tinggal tepat di bantaran kali.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar, Iwan Wangsaatmadja mengakui jika pencemaran sejumlah DAS di wilayah Jabar telah mencapai taraf berat, misalnya DAS Ciliwung dan DAS Cisadane. Mayoritas pencemaran diakibatkan oleh sampah rumah tangga masyarakat yang tinggal di bantaran kali. Hanya saja, pemerintah daerah masih kesulitan memberikan sosialisasi agar masyarakat mengubah perilaku masyarakat tersebut.

“Berapapun anggaran yang kita keluarkan untuk menanggulangi pencemaran sungai ini tidak akan berarti jika di wilayah hulunya, yakni rumah tangga masih membuang sampah ke sungai. Bukan hanya sampah organik biasa, tetapi termasuk sisa cucian atau kotoran dari pembuangan WC,” kata Iwan. Banyaknya sampah yang ada di sungai, kata dia juga disinyalir menjadi penyebab aliran sungai tidak bisa lancar. “Aliran air tidak bisa lancar sampai ke hilir karena banyaknya sampah yang menyumbat aliran sungai,” lanjutnya.

Berdasarkan data yang dirilis BPLH Kota Bogor, penelitian pada tahun 2010 menunjukkan limbah domestik atau limbah rumah tangga mendominasi pencemaran Sungai Cisadane dan Ciliwung. Bahkan, pada penelitian yang dilakukan oleh pihak ketiga, ditemukan kandungan bakteri E-coli yang sangat tinggi di dalam air kedua sungai tersebut akibat digunakan sebagai septitank oleh warga. Data ini hasil penelitian di Ciliwung Hulu, yaitu di Katulampa, Ciliwung Tengah di sekitar Lapangan Sempur, Ciliwung Hilir di Pasir Jambu, serta Cisadane Hulu di Rancamaya, Cisadane Tengah di Empang, dan Cisadane Ilir di Karya Bakti.

Hasil penelitian itu menyebutkan kadar E-coli Ciliwung Hulu 50 ribu, di Ciliwung Tengah sebesar 40 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 120 ribu. Sementara, di Cisadane Hulu sebesar 18 ribu, Cisadane Tengah sebesar 60 ribu, Cisadane Hilir sebesar 90 ribu. (A-155/A-147)***

Maret 2011

Ada 8 solusi jitu untuk atasi banjir Kali Ciliwung

Oleh Dwi Nur Oktaviani

Sumber: http://nasional.kontan.co.id/ 22 Maret 2011 

JAKARTA. Banjir dari kali Ciliwung yang selalu menghantui Jakarta bukannya bencana yang tidak bisa diatasi. Menurut Mohammad Amron Dirjen Sumber Daya Air SDA Kementerian Pekerjaan Umum, sebenarnya ada delapan solusi penanggulangan banjir kali Ciliwung.

Pertama, akan dibuat sudetan Kali Ciliwung di Kebon Baru dan Kalibata, kedua resettlement, ketiga normalisasi kali Ciliwung pintu air (PA) Manggarai sampai Jembatan Kalibata.

“Total Solution For Ciliwung yang keempat adalah penambahan satu buah pintu air untuk pintu air Manggarai dan pintu air Karet,” ujar Mohammad saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V, di Gedung DPR RI Selasa (22/3).

Kelima, memfungsikan kembali kali Ciliwung lama sesuai dengan kapasitasnya. Keenam, Peningkatan jembatan di Banjir Kanal Barat (BKB) dan Ciliwung.

Sedangkan yang ketujuh revitalisasi situ-situ, pembangunan sumur resapan, parit dan penghijauan di bagian tengah serta hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan yang terakhir kedelapan, dibuat terowongan kali Ciliwung sampai kali Cipinang.

Ia pun menjelaskan program pengendalian banjir di DKI Jakarta secara struktural dan non struktural bisa dilakukan dengan mengalihkan aliran sungai ke barat dan timur melalui Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur.

“Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki saluran drainase, memfungsikan polder-polder dan pompa-pompa air. Normalisasi sungai dan pengembangan sumur-sumur resapan,” imbuhnya.

Imbauan Balai TNKpS: Jangan Buang Sampah ke Ciliwung

Sumber:http://arsip.gatra.com/ 31 Maret 2011 

Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNKpS) mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membuang sampah ke Sungai Ciliwung, karena limbah tersebut terbawa arus hingga mencemari Teluk Jakarta.

Kepala Balai TNKpS, Sri Andajani saat dihubungi di Bogor, Kamis (31/3), mengatakan, upaya tersebut mendukung konservasi di Kepulauan Seribu yang kini masih terganggu oleh banyaknya sampah.

“Ada 13 sungai yang bermuara ke Teluk Jakarta, salah satunya Sungai Ciliwung, banyaknya sampah yang dibuang masyarakat ke sungai turut mencemari laut di Kepulauan Seribu,” katanya.

Sri mengatakan, kesadaran masyarakat mengenai dampak membuang sampah ke sungai masih minim. Sehingga perilaku negatif tersebut masih terus terjadi.

Keberadaan sampah-sampah tersebut selain mencemari sungai, menyebabkan banjir, juga berdampak pada rusaknya ekosistem laut.

“Sampah-sampah yang dibuang masyarakat ke sungai itu menyebar ke laut. Ini juga membuat pemandangan laut menjadi rusak, sangat tidak enak melihat laut berisi sampah-sampah rumah tangga,” katanya.

Ketika Antara melakukan kunjungan ke Kepulauan Seribu pada Senin-Selasa (21-22/3) saat mengunjungi sejumlah pulau, sampah-sampah seperti bungkus mie instan, kemasan sabun colek, dan bungkus roti, mengambang di tengah laut.

Sri mengatakan, masalah sampah dan pencemaran minyak menjadi perhatian serius pihaknya. TNKpS telah melakukan penanganan berupa aksi bersih-bersih pantai yang secara rutin dilakukan setiap tahun.

Bahkan melalui kelompok masyarakat binaan, sentra penyuluhan kehutanan pedesaan (SPKP) “Samo-samo”, masyarakat dilatih oleh tenaga ahli untuk melakukan daur ulang sampah plastik menjadi produk kerajinan berupa tas, dompet dan lain-lain.

“TNKps tidak akan mampu mengatasi permasalahan sampah sendiri, oleh sebab itu partisipasi aktif seluruh stakeholder dan masyarakat sangat dibutuhkan, diawali dari tingkat individu hingga cara kolektif,” katanya.

Sri mengatakan, Kepulauan Seribu merupakan daerah tujuan wisata, yang pada 2010 Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan Kepulauan Seribu sebagai destinasi unggulan wisata bahari selain Bali, Raja Ampat dan Bunaken.

Kepulauan Seribu memiliki keanekaragaman hayati dan aksesibilitas yang tinggi, menjadikan TNKpS idola bagi masyarakat yang ingin berlibur.

Lebih dari 19 lokasi menyelam menyebar di berbagai kawasan, terdapat lebih dari 130 genera terumbu karang, 242 jenis ikat karang, 141 jenis makrobentos dan banyak spesies langka endemik dan biota laut seperti Kima raksasa, Kima pasir, abalone kuda laut, lobster, ikan fisher, kelinci laut, penyu, udang mantis, bahkan kelompok lumba-lumba. [TMA, Ant]

April 2011

Meski Tercemar Berat,  PDAM Tirta Pakuan Jajaki Manfaatkan Air Sungai Ciliwung

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/02 April 2011 

BOGOR, (PRLM).- Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor menjajaki pemanfaatan air Sungai Ciliwung sebagai tambahan air baku PDAM. Meski, sejumlah penelitian menyatakan air Sungai Ciliwung tercemar berat sehingga tidak layak konsumsi. Hal ini diungkapkan Direktur Utama PDAM Tirta Pakuan, Memet Gunawan, Sabtu (2/4).

Dikatakan Memet, pihaknya menyadari jika pencemaran Sungai Ciliwung termasuk berat. Oleh karena itu, pihaknya hanya akan memanfaatkan air Sungai Ciliwung di daerah hulunya, yakni di sekitar Katulampa.

Pemanfaatan air Sungai Ciliwung, kata Memet sangat dibutuhkan untuk menambah kapasitas produksi air PDAM terkait MDGs tahun 2015 sebanyak 73,4 persen dari total jumlah penduduk Kota Bogor. “Kita asumsikan, jumlah penduduk sekitar 1,2 juta jiwa. Saat ini baru terlayani sekitar 58,4 persen,” kata Memet.

Hanya saja, untuk projek ini pihaknya masih melakukan sejumlah studi kelayakan termasuk estimasi investasi yang diperlukan untuk penambahan sumber air baku baru.

Secara kasar, lanjut Memet, dibutuhkan dana setidaknya Rp 60 miliar untuk bisa mewujudkan projek tersebut.”Makanya, kita sedang teliti bagaimana kualitas airnya, debit airnya. Apakah layak dimanfaatkan atau tidak, beserta dana yang dibutuhkan. Kemungkinan dalam dua bulan ini studi kelayakan akan selesai,” tutur Memet.

Saat ini kapasitas yang terpasang sebesar 1.720 liter per detik dengan kapasitas idle sekitar 200 liter per detik. Sementara, untuk mencapai MDGs yang ditetapkan tahun 2015 nanti, dibutuhkan setidaknya tambahan kapasitas sekitar 900 liter per detik.

Sungai Ciliwung, kata Memet kemungkinan potensinya hanya 300 liter per detik. Untuk itu, pihaknya juga akan mengajukan bantuan melalui Bank Dunia sebesar 600 litar per detik. Saat ini,pihaknya masih mengandalkan aliran Sungai Cisadane yang mempunyai potensi sekitar 59.000 liter per detik beserta sejumlah mata air yang ada di beberapa wilayah di sekitar Kota Bogor dan perbatasan Kab. Bogor.

Selain itu, pihaknya juga masih berusaha menurunkan tingkat kebocoran air yang masih relatif tinggi, yakni mencapai 33 persen.

Menurut dia, tingkat kebocoran yang tinggi disebabkan oleh instalasi pipa yang tua dan sudah saatnya diganti serta tingkat pencurian air yang meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Sejumlah penelitian yang dilakukan BPLHD Jabar menyatakan Sungai Ciliwung termasuk salah satu sungai yang tercemar berat. Sebagian besar pencemaran disumbang oleh limbah rumah tangga sehingga kualitas air di Sungai Ciliwung juga menurun. (A-155/kur)***

Mei 2011

GERAKAN MASYARAKAT CILIWUNG BERSIH

Sumber: http://www.pu.go.id/satminkal/7 Mei 2011

Dalam rangkaian kegiatan Hari Air Dunia (HAD) XIX yang bertemakan “Water For Cities”, Kementerian Pekerjaan Umum bekerja sama dengan masyarakat dan beberapa perguruan tinggi mengadakan Kegiatan Gerakan Masyarakat dan apresiasi HAD XIX tahun 2011 berupa kegiatan bersih sungai dengan mengumpulkan sampah Sungai Ciliwung sepanjang 2 km dan pembuatan sumur resapan, di Jakarta (070511).

Imam Agus Nugroho mengatakan Kegiatan Gerakan Masyarakat dan Apresiasi HAD XIX Tahun 2011 diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk terus melestarikan sumber daya air, khususnya sungai dan air tanah.

“Seperti yang kita ketahui bahwa sungai merupakan sumber daya air yang penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dengan semakin meningkatnya kegiatan di sepanjang daerah aliran sungai, maka tingkat pencemaran di sungai pun tidak dapat dihindari sehingga kualitas air sungai pun menurun. Oleh karena itu, perlunya dilakukan kegiatan bersih sungai untuk mengembalikan kualitas air,” Jelas Imam Agus Nugroho

Dalam acara tersebut, Dirjen SDA Moch. Amron melepas peserta arung Sungai Ciliwung, start yang dimulai dari Kalibata dan finish di MT. Haryono, Cawang.

Dalam sambutannya Moch. Amron mengatakan dalam beberapa decade terakhir pengelolaan SDA dihadapkan pada tantangan dan isu yang kompleksitasnya makin tinggi di masa mendatang. Terkait isu air di perkotaan tidak dapat dipisahkan bagaimana mengelola suatu wilayah sungai yang melintas di kawasan perkotaan.

Selain kegiatan bersih sungai, pembuatan sumur resapan juga sangat penting, hal ini dilakukan karena alih fungsi lahan dari lahan terbuka menjadi perumahan yang semakin meningkat dan tidak adanya lagi area yang berfungsi sebagai daerah resapan air sehingga air yang meresap ke dalam tanah menjadi kecil dan memperbesar volume aliran air permukaan dan dapat menyebabkan banjir. Maka dari itu, untuk meminimalisir banjir dan menghindari turunnya permukaan air tanah, maka pembuatan sumur resapan di daerah permukiman sangat diperlukan.

Selama lomba mengarungi sungai ini, peserta diharuskan mengambil sampah-sampah yang ada di pinggiran sungai sebanyak-banyaknya dan nanti sampah-sampah itu di taruh di plastik yang sudah di berikan oleh panitia. Peserta diberikan waktu 45 menit untuk mengambil sampah-sampah yang ada di Sungai Ciliwung.

Kegiatan Gerakan Masyarakat dalam pembersihan Sungai Ciliwung ini diikuti oleh 4 kelurahan yang dilalui oleh Sungai Ciliwung, yaitu Kelurahan Cawang, Kelurahan Rawajati, Kelurahan Pengadegan dan Kelurahan Cikoko. Selain 4 kelurahan tersebut, juga ada perwakilan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) WALHI, mahasiswa Trisakti dan perwakilan dari PU. Totalnya ada 30 peserta dan dibagi ke dalam 6 perahu yang ditemani oleh tim rescue.

Selain lomba gerakan masyarakat Ciliwung bersih, dilaksanakan juga peresmian secara simbolis, yaitu pembuatan sumur resapan oleh Dirjen SDA. Pembuatan sumur resapan tersebut dilakukan di 4 lokasi, yaitu Kelurahan Cikoko, Kelurahan Ciganjur, Kelurahan Bendungan Hilir dan Cileungsi.

Imam Agus Nugroho mengatakan dalam pembuatan sumur resapan ini PU juga bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan diharapkan dapat menghindari turunnya permukaan air tanah sebagai langkah awal untuk terus melestarikan SDA yang khususnya sungai dan air tanah.

“Ini pengenalan dan penerapan teknologi baru, seperti teknologi pengolahan air bersih sehat layak minum, lubang biopori, serta sumur resapan perlu dukung gerakan dan kesadaran kolektif dari semua pihak,” ujar Imam Agus Nugroho (anj-datinsda)

Juni 2011

Stop Nyampah Di Kali Ke-4 

Sumber: http://bplhd.jakarta.go.id/  19 Juni 2011 

Bertempat di Gedung Sekretariat Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dilaksanakan Acara Stop Nyampah Di Kali Ke-4 Tahun 2011 dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup dan HUT Kota Jakarta Ke-484, yang tahun ini bertemakan Hutan Penyangga Kehidupan dan Jakarta Kita Kian Tertata Kian Dicinta.

Eksistensi sungai sebagai sumber daya air erat kaitannya dengan ketentuan tentang pengelolaan lingkungan hidup, dan Undang-undang No. 7 T ahun 2004 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air yang bertujuan untuk menjamin fungsi ekologis sungai.

Semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk, terutama yang tinggal di bantaran sungai, telah mengakibatkan kondisi 13 sungai yang ada di DKI Jakarta semakin bertambah buruk.

Sungai yang seharusnya dapat menjadi sumber air baku, air minum, perikanan, peternakan, pertanian dan usaha perkotaan atau sebagai sistem drainase dan pengendali banjir, telah berubah fungsi karena kualitasnya tercemar akibat berbagai aktifitas khususnya limbah domestik masyarakat yang membuang limbahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung ke sungai.

Hal itu menunjukan bahwa persepsi masyarakat terhadap sungai , masih sebatas sebagai tempat untuk pembuangan ber aneka macam limbah .

Oleh karena itu, Konsep Water Front City dan tekad masyarakat, pemerintah setempat, serta dunia usaha dalam penanganan sampah di Sungai dan bantarannya, bisa menjadi solusi untuk mulai memperbaiki persepsi masyarakat terhadap sungai. Artinya, sungai pada dasarnya dapat dipelihara dan bisa menjadi bagian dari halaman rumah mereka, seperti yang pernah dilakukan oleh Rm Mangun (alm) pada Sungai Code di Yogyakarta.

Undang-undang No . 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, telah mengamanatkan bahwa pada dasarnya masyarakat dapat berperan di dalam pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dan Pe raturan Daerah DKI Jakarta No . 1 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2007-2012, juga menegaskan bahwa salah satu urusan wajib pembangunan adalah meningkatkan peran serta masyarakat dan komunitas profesional di dalam penyelenggaraan lingkungan hidup . Selain itu, dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 1988 tentang Kebersihan Lingkungan Dalam Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta , khususnya pasal 30, sanksi bagi warga yang membuang sampah ke sungai dan saluran selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000 (sanksi yang sudah direvisi sesuai dengan Perda Nomor 1 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Ketentuan Pidana Dalam Peraturan Daerah yang Dikeluarkan Sebelum Berlakunya Undang-undanga No. 22 Tahun 1999 ). Oleh karena itu, penerapan sanksi sudah saatnya untuk dilaksanakan yang diawali dengan edukasi dan teguran simpatik serta pada akhirnya penerapan Perda secara utuh.

Dengan demikian, maka upaya untuk melibatkan peran serta masyarakat, komunitas-komunitas peduli sungai, CSR dunia usaha dan instansi pemerintah terkait, melalui program Stop Nyampah Di Kali Ke-4 diharapkan dapat me mberikan pencerahan kepada seluruh pihak untuk mengatasi penanganan sampah di bantaran Sungai Ciliwung khususnya dan sungai lainnya dengan pola 3 R (Reduce, Reuse, Recyle) .

Untuk itu, pada kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh pihak dan warga Jakarta (RT, RW, PKK, Karang Taruna, dunia usaha dan lain-lain), serta forum-forum dan komunitas peduli sungai yang sudah tumbuh dan memberikan perhatian tentang sampah ini, agar bekerjasama guna mengurangi sampah yang masuk ke dalam sungai dan timbunan titik-titik sampah yang ada di bantaran sungai, serta bila perlu menghilangkannya sama sekali dari dalam sungai dan bantaran sungai.

Selain itu, hal lain yang juga sangat penting harus dilakukan adalah membangun dan menyatukan komunitas-komunitas yang ada di bantaran sungai, sehingga menjadi komunitas -komunitas masyarakat yang peduli sungai dan berwawasan lingkungan serta mau menjadi pelopor di dalam pengelolaan dan pelestarian fungsi -fungsi sungai serta bersinergi dengan komponen dunia usaha serta pemerintah.

Mengingat untuk membersihkan sampah di sungai dan bantaran Sungai Khususnya Sungai Ciliwung sangat membutuhkan kerjasama yang baik dan energi yang luar biasa besar, maka untuk mempercepat terwujudnya “Sungai Ciliwung yang bersih dan bebas dari sampah pada tahun 2012”, perlu dilanjutkan upaya penutupan titik-titik sampah yang masih ada di bantaran sungai secara berkesinambungan , seperti halnya setiap waktu kita selalu membersihkan halaman r umah kita sendiri.

Oleh karena itu, program Stop Nyampah Di Kali ini perlu terus dikembangkan guna mengedukasi seluruh lapisan masyarakat, dan saya mengajak kepada berbagai pihak yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan CSR dunia usaha, agar dapat berpartisipasi aktif untuk memberikan dukungan dan kontribusi positif guna menunjang program Stop Nyampah Di Kali.

Dan kepada para pemangku jabatan, baik Walikota, Camat, Lurah dan instansi terkait lainnya, serta seluruh warga Jakarta, saya minta untuk dapat membuka diri dan saling berkomunikasi, serta berkoordinasi untuk segera menutup titik-titik sampah yang ada di Sungai Ciliwung, yang melintasi 76 kelurahan di Jakarta.

Mengingat Sungai Ciliwung juga melintasi kota-kota lainnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Depok dan Kota Bogor, maka saya mohon agar instansi atau pihak yang berwenang dan mempunyai akses dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota Terkait lainnya, dapat menjembataninya, sehingga apa yang dilakukan oleh warga Jakarta menjadi tidak sia-sia, karena juga dilakukan oleh warga kota lainnya.

Akhirnya, kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan acara ini dan memberikan komitmennya untuk memberikan pendampingan, penataan dan pengelolaan di bantaran sungai Ciliwung, saya atas nama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengucapkan selamat kepada Coca Cola, Pertamina, Astra Honda Motor dan Astra Internasional yang telah melakukan pendampingan kepada masyrakat bantaran kali Ciliwung melalui berbagai programnya, disertai harapan dapat terus memberikan kontribusinya kepada masyarakat, semoga dapat menjadi contoh bagi CSR dunia usaha lainnya khususnya dalam penangananbv sampah di bantaran sungai.

Rumah Tangga Penyumbang Terbesar Pencemaran Sungai Ciliwung dan Cisadane

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ 28 Juni 2011 


KISMI DWI ASTUTI/”PRLM”
Sejumlah warga yang tinggal di pinggir sungai melakukan aktivitas MCK di Sungai Ciliwung beberapa waktu lalu. Aktivitas warga yang tinggal di sepanjang sungai Ciliwung dan Cisadane yang masih membuang limbah rumah tangganya secara terbuka di sungai menjadi penyumbang utama pencemaran bakterin E-coli yang tinggi di kedua sungai tersebut. *

BOGOR, (PRLM).- Rumah tangga di Kota Bogor merupakan penyumbang terbanyak pencemaran sungai yang ada di Kota Bogor. Akibatnya, kandungan bakteri E-coli pada dua sungai utama di Kota Bogor yakni Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane sangat tinggi.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Hari Sutjahyo di sela-sela Lokakarya Tahap II Strategi Penguatan Kelembagaan Pengelolaan Air Limbah Kota Bogor, yang digelar di IPB International Convention Center, Jln. Pajajaran Kota Bogor, Senin (27/6). Menurut Hari, sampai saat ini limbah rumah tangga masih mendominasi penyebab pencemaran dua sungai yang ada di Kota Bogor.

“Untuk industri memang selain jumlahnya tidak banyak juga kebanyakan telah mematuhi aturan yang ada. Sementara, rumah tangga, mayoritas membuang sampahnya baik berupa sampah biasa maupun tinja hingga limbah cairnya ke sungai. Itu bisa kita temui di hampir seluruh wilayah di Kota Bogor, terutama sepanjang Sungai ciliwung dan Cisadane,” ungkap Hari.

Menurut Hari, data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Bogor tahun 2009 menunjukkan kandungan bakteri E-coli di dalam air kedua sungai sangat tinggi, meski jumlahnya fluktuatif. Saat itu, pihak ketiga sempat melakukan penelitian di sejumlah titik, misalnya di Ciliwung Hulu, yaitu di Katulampa, Ciliwung Tengah di sekitar Lapangan Sempur, Ciliwung Hilir di Pasir Jambu, serta Cisadane Hulu di Rancamaya, Cisadane Tengah di Empang, dan Cisadane Ilir di Karya Bakti.

Dari hasil penelitian tahun 2009, kadar E-coli Ciliwung Hulu 50 ribu, di Ciliwung Tengah sebesar 40 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 120 ribu, di Cisadane Hulu sebesar 18 ribu, Cisadane Tengah sebesar 60 ribu, dan Cisadane Hilir sebesar 90 ribu. “Semuanya dalam satuan Jm/100 mL,” katanya. Padahal, baku mutu yang diterapkan hanya 5.000. Artinya, bila berada di atas 5.000, air sungai tercemar parah.

Dikatakan Hari, dalam hal bngka yang ditunjukkan oleh kedua sungai ini masuk dalam pencemaran kelas dua. Sementara, hasil uji yang sempat dipublikasikan oleh BLH Kota Bogor tahun 2006 menunjukkan angka koli tinja di Ciliwung Hulu 30 ribu, Ciliwung Tengah sebesar 17 ribu, Ciliwung Hilir sebesar 35 ribu. Di Cisadane Hulu 22 ribu, Cisadane Tengah 26 ribu, dan Cisadane Hilir 36 ribu.

Selain itu, hasil uji tahun 2007 menunjukkan angka koli tinja di Ciliwung Hulu sebesar 56 ribu, Ciliwung Tengah 180 ribu, Ciliwung Hilir 410 ribu, di Cisadane Hulu 38 ribu, Cisadane Tengah 110 ribu, dan Cisadane Hilir 30 ribu. Tahun 2008, angka koli tinja di Ciliwung Hulu 48 ribu, Ciliwung Tengah 120 ribu, Ciliwung Hilir 20 ribu, di Cisadane Hulu 24 ribu, Cisadane Tengah 92 ribu, dan Cisadane Hilir 90 ribu.

Untuk saat ini diakui Hari memang belum banyak sumur warga yang tercemar limbah E-coli akibat perilaku rumah tangga yang masih belum sadar lingkungan tersebut. Meski demikian, pihaknya juga sempat menerima laporan ada beberapa sumur warga yang telah dilaporkan tercemar bakteri E-coli sehingga tidak aman dikonsumsi. Namun, jika perilaku ini tidak diubah, maka dikhawatirkan sumur warga akan tercemar bakteri E-coli, mengingat masih ada sekitar 40 persen septictank milik warga yang belum bagus serta 26 persen masyarakat Kota Bogor masih membuang tinja di sungai. “Jika terus dibiarkan, limbah cair tinja bisa merembes sehingg masuk ke sumur warga,’ lanjutnya.

Di tempat yang sama, City Team Leader Mott Macdonald Pratiwi Andharyati mengatakan pembangunan sistem pengolahan limbah cair di Kota Bogor sangat mendesak. Dengan bantuan sejumlah pihak, ditargetkan tahun 2030 sistem ini sudah terbangun. Sebagai langkah awal, akan dipilih pilot project, berupa lokasi yang masuk pada wilayah rencana sewerage kota, daerah komersil dan padat penduduk. “Untuk langkah awal, pemerintah berencana membangun embrio, atau cikal bakal pengaturan sanitasi yang disiapkan di belakang kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Dengan luas lahan sekitar 625 meter persegi,” katanya.

Sambungan sanitasi diperkirakan dapat menampung sekitar 3100 sambungan, mulai dari kawasan bisnis Bogor lama, Sukasari, Juanda, hingga Paledang. Dengan area kelurahan dari Babakan Pasar, Gudang, Paledang hingga Sukasari. Tiga pemompaan akan dibangun di Babakan Pasar, Gudang dan Paledang,sesuai dengan topografi dan kontur lahan. (A-155/das)***


p style=”text-align:justify;”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: