Berita 2010

Januari 2010

KLH Serahkan Demplot Pemulihan Kualitas Air Kali Ciliwung

Sumber: http://www.beritalingkungan.com/ 8 Januari 2010 

Jakarta, BERLING-Berbagai upaya telah dilakukan Kementerian Ligkungan Hidup untuk pemulihan kualitas lingkungan, diantaranya demplot pemulihan kualitas lingkungan Sungai Ciliwung di wilayah Kabupaten Bogor.

Kegiatan pemulihan kualitas air kali Ciliwung yang melibatkan masyarakat setempat dilaksanakan dalam bentuk pembuatan resapan biopori, pembuatan demplot WC Komunal dan Biodigester kotoran sapi dan pelatihan masyarakat.

Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta hari ini (8/1) menyerahkan demplot tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Bogor bersamaan dengan penanaman pohon di Setu Cibeureum yang berlokasi di desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor. “Penanaman pohon ini merupakan kegiatan Dharma Wanita Kementerian Lingkungan Hidup untuk Gerakan Tanam, Tebar dan Pelihara sebagai bagian dari kegiatan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu 2,”kata Dra. Masnellyarti Hilman, MSc Deputi MENLH Bidang Peningkatan Konservasi SDA dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan dalam siaran persnya.

Diungkapkan, secara simbolis akan ditanam sebanyak 250 batang pohon yang dilakukan bersama-sama oleh Menteri Lingkungan Hidup beserta jajarannya, Bupati Bogor beserta jajaran Pemda Kabupaten Bogor dan masyarakat sekitar. Jumlah total pohon yang nantinya akan ditanam sebanyak 850 batang pohon yang berasal dari sumbangan Yayasan Kehati, SIKIB-2 dan KLH, berupa tanaman produktif dan pohon Trambesi. Pada kesempatan ini pula akan ditebar 3000 ekor ikan Nila di Situ Cibereum yang disumbangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pemeliharaan pohon dan ikan nantinya akan dilakukan oleh masyarakat sekitar. (Marwan Azis).

Februari  2010

LPM Berdayakan Kali Ciliwung

Sumber: http://www.depok.go.id/ 12 Februari 2010 

Pengurus Lembaga Pemberdayaan Masyarakat ( LPM ) Kelurahan Kemiri Muka akan segera membentuk tim kecil dalam rangka memberdayakan Kali Ciliwung. Ketua LPM stempat H. Asmawi mengatakan, saat ini pemberdayaan Kali Ciliwung di wilayah Kemiri Muka ,segara akan direalisasikan dengan membentuk tim kecil yang terdiri dari masyarakat RT, dan RW.

“ Kami sudah bentuk tim kecil, dan akan merangkul pihak swasta seperti dari Mahasiswa Pencita Alam UI, dalam hal lingkungan alam,”ujarnya. LPM akan mengarahkan Kali Ciliwung syarat potensi wisata air, dan potensi lingkungan alam lainnya yang dimanfaatkan oleh lapisan masyarakat.

“ Kami harap program ini akan tercapai sebagai langkah awal, pada tanggal 21 Februari nanti, kami akan telusuri Kali Ciliwung dengan menggunakan perahu karet bersama Mapala UI,” katanya

Sampah Ciliwung Dikeruk, Lalu Lintas Kalibata Tersendat

Nala Edwin – detikNews

Sumber :  http://news.detik.com/ 14 Februari 2010 


Jakarta.  Pengerukan sampah Sungai Ciliwung dilakukan di Jl Kalibata, Jakarta Selatan. Dua buah alat berat dan 4 buah truk dikerahkan untuk mengeruk sampah dari Sungai Ciliwung.

Pantauan detikcom, Minggu (14/2/2010), sampah-sampah di sungai tersebut telah menyumbat aliran air. Sampah-sampah ini tidak hanya plastik atau sampah rumah tangga, namun juga batang pohon dan bambu yang ikut hanyut bersama aliran sungai.

Sejumlah petugas kepolisian tampak mengatur lalu lintas di sekitar Jl Kalibata. Lalu lintas di jalan itu sedikit tersendat. Kepadatan ini diperparah dengan sejumlah alat berat yang terparkir di jalan itu untuk pengerjaan Jembatan Kalibata. (nal/nrl)

Menteri PU Tinjau Sungai Ciliwung

Sumber: http://bbwsciliwung.pdsda.net/ 15 Februari 2010 

Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, Sabtu (13/2) mengunjungi Sungai Ciliwung di kawasan Jembatan Casablanca, Tebet, Jakarta Selatan, untuk mengetahui kondisi daerah tersebut pasca hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak Jumat (12/2) malam. Di lokasi itu, Menteri PU juga mendapatkan penjelasan mengenai kesiapan prasarana pengendali banjir dari Plt. Dirjen Sumber Daya Air Mochammad Amron, dan Direktur Sungai, Danau dan Waduk Widagdo, serta Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio.

Saat meninjau daerah tersebut, Menteri PU sempat berdialog dengan warga. Mereka mengatakan bahwa setelah dinormalisasi Sungai Ciliwung dan disiagakannya pompa, genangan pun cepat teratasi. Kini kondisi Sungai Ciliwung khususnya di kawasan Casablanca cukup lebar dan telah diturap beton serta dilengkapi dengan pintu-pintu air.

Terkait normalisasi Sungai Ciliwung, Menteri PU mengakui kegiatan itu belum bisa dilakukan seluruhnya terutama di daerah yang bantaran sungai nya dijadikan tempat tinggal warga. “Di sini (Sungai Ciliwung Casablanca) bagus sekali, sayangnya belum semua Sungai Ciliwung seperti ini terutama di daerah bantaran. Bantaran itu kan untuk tempat lewat air, bukan untuk tempat tinggal. Tetapi kami masalahnya tidak mudah. Oleh karena itu, tahun ini kita telah mempunyai program bersama Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Sosial, Kementerian Perumahaan Rakyat, Pemerintah DKI Jakarta menormalisasi kawasan sungai yang belum dilakukan. Masyarakat yang selama ini tinggal di bantaran sungai itu, akan dibuatkan rumah susun. Jadi mereka akan tinggal di rumah susun, sehingga sungai-nya bisa dinormalisasi,” jelas Menteri PU Djoko Kirmanto.

Kementerian PU juga merencanakan menyodet sungai Ciliwung di dua lokasi yakni di Bidara Cina dan Kalibata. Sodetan itu untuk mengurangi lekukan alur Sungai Ciliwung yang sering melimpas di kedua lokasi tersebut.

Menurut Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio, sodetan memberikan keuntungan, karena luas lahan yang dibebaskan sebagai sodetan kurang lebih 200 meter, tetapi lahan yang didapat (bekas aliran sungai lama) mencapai 800 meter. Di lokasi inilah nantinya bisa dijadikan lokasi berdirinya rumah susun.

Setelah rusun berdiri, Pitoyo mengatakan juga perlu disediakan lahan untuk menempatkan bak sampah, sehingga masyarakat tidak lagi membuang sampah ke Ciliwung.

Sementara itu untuk meningkatkan peran situ atau embung dalam mengurangi volume air sungai, Kementerian PU akan melakukan inventarisasi lokasi Situ dan menentukan penanggung jawabnya. “Situ yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat adalah situ yang menjadi bagian dari aliran sungai. Kalau jelas tanggung jawabnya, maka kita akan langsung lakukan rehabilitasi seperti membuat spillway atau saluran pelimpas baru” katanya. Saat ini kondisi Situ-situ khususnya di daerah Jabodetabek kondisinya tidak cukup menggembirakan bahkan dikuasai oleh perorangan. (AB/Humas)

Atasi Banjir, Wapres Setujui Sodetan Sungai Ciliwung ke Kali Cipinang

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 19 Februari 2010 

JAKARTA, KOMPAS.com — Rapat yang dipimpin Wakil Presiden Boediono, Jumat (19/2/2010) siang, menyetujui ide Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum untuk menyodet Sungai Ciliwung dengan memanfaatkan terowongan lama di kawasan Bidara Cina yang akan melintas ke Kali Cipinang.

Dengan demikian, volume air yang tinggi di Sungai Ciliwung bisa disalurkan juga ke Proyek Banjir Kanal Timur (BKT), selain ke Banjir Kanal Barat (BKB). Selain itu, untuk mengatasi banjir Sungai Ciliwung, disetujui juga penambahan satu pintu air lagi di pintu air Manggarai dari sebelumnya dua pintu menjadi tiga pintu air.

Demikian disampaikan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Pitoyo Soebandrio dalam keterangan pers seusai rapat koordinasi tentang penanganan banjir yang dipimpin Wapres Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (19/2/2010) siang.

Rapat dihadiri juga oleh Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, dan Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Kuntoro Mangkusubroto.

“Ada rencana membuat sodetan dari Ciliwung dengan Kali Cipinang sehingga air bisa masuk ke BKT sehingga ada koneksi antara Ciliwung dan BKT. Selama ini Ciliwung berdiri sendiri sehingga jika ada air dalam jumlah volume yang besar, bisa tertampung di BKT,” tandas Fauzi.

Menurut Pitoyo, langkah lain untuk menurunkan tinggi air di Sungai Ciliwung adalah dibuatnya pintu air baru di kawasan Manggarai. “Dua pintu buatan Belanda yang ada akan ditambah lagi. Jika cuma satu lubang (pintu), hal itu percuma. Karena itu, dibuat satu pintu baru,” ujar Pitoyo.

Menurut Pitoyo, letak pintu air baru berada di bawah Jalan Manggarai, yang nantinya akan dibuat jalan layang dan diintegrasikan dengan kereta bandara.

Pemerintah Setujui Sodetan Ciliwung

Sumber: http://www.antaranews.com/ 19 Februari 2010 

Jakarta (ANTARA News) – Pemerintah menyetujui gagasan Pemprov DKI Jakarta dan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum untuk menyodet Sungai Ciliwung dengan memanfaatkan terowongan lama di kawasan Bidara Cina yang akan melintas ke Kali Cipinang.

“Volume air yang tinggi di Sungai Ciliwung bisa disalurkan juga ke Proyek Banjir Kanal Timur (BKT), selain ke Banjir Kanal Barat (BKB),” kata Gubernur Pemprov DKI Fauzi Bowo, usai rapat penanganan banjir di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan, selain penyodetan untuk mengatasi banjir Sungai Ciliwung, disetujui juga penambahan satu pintu air lagi di pintu air Manggarai dari sebelumnya dua pintu menjadi tiga pintu air.

“Ada rencana membuat sodetan dari Ciliwung dengan Kali Cipinang sehingga air bisa masuk ke BKT sehingga ada koneksi antara Ciliwung dan BKT. Selama ini Ciliwung berdiri sendiri sehingga jika ada air dalam jumlah volume yang besar, bisa tertampung di BKT,” ujar Fauzi.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Pitoyo Soebandrio mengatakan, langkah lain untuk menurunkan tinggi air di Sungai Ciliwung adalah dibuatnya pintu air baru di kawasan Manggarai.

“Dua pintu buatan Belanda yang ada akan ditambah lagi. Jika cuma satu lubang (pintu), hal itu percuma. Karena itu, dibuat satu pintu baru,” ujar Pitoyo.

Ia menambahkan, letak pintu air baru berada di bawah Jalan Manggarai, yang nantinya akan dibuat jalan layang dan diintegrasikan dengan kereta bandara.

Rapat yang dipimpin Wapres Noediono itu dihadiri pula oleh Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, dan Ketua Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan Kuntoro Mangkusubroto.(R018/A024)

Camat Jatinegara Minta Dilibatkan Relokasi Warga Bantaran Ciliwung  

Sumber:http://www.tempo.co/   24 Februari 2010 

TEMPO Interaktif, Jakarta – Pemerintah Kecamatan Jatinegara berharap dilibatkan dalam rencana relokasi warga bantaran Sungai Ciliwung. Sebab, masyarakat bantaran Ciliwung khususnya yang berada di wilayah Kecamatan Jatinegara memiliki karakteristik tersendiri.

“Hal-hal yang bersifat khusus dari pemikiran warga bantaran inilah yang harus dipertimbangkan,” kata Camat Jatinegara Andriyansah kepada Tempo, Rabu (24/2).

Menurut Andriyansah, pendekatan dari pemerintah kecamatan penting dilakukan untuk menjembatani keinginan warga dengan keinginan pemerintah DKI Jakarta dan pemerintah pusat. Sebab, sebagian basar warga bantaran sangat tergantung kepada Pasar Jatinegara yang lokasinya berdekatan dengan permukiman mereka.

“Secara ekonomi kehidupan warga bantaran ini sangat tergantung pada pasar. Karena itu relokasi haruslah mempertimbangkan segi ini.”

Andriyansah berharap pemindahan tidak menyebabkan warganya mengalami penurunan drastis alam bidang ekonomi. “Tolong diusahakan jangan terlalu jauh, agar nafkah mereka sehari-hari tetap terpenuhi,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dia terima dari pemerintah DKI Jakarta warga kemungkinan besar akan dipindahkan ke rumah susun bersewa. “Saya belum dalam informasi mengenai lokasi rusunawa ini, tapi sekali lagi saya harap tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Bukan tidak mungkin rusunawa ini akan dibangun dalam bentuk rumah panggung dengan lokasi tidak jauh dari permukiman warga semula.

Kepala Balai Besar Ciliwung Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, bisa saja alur dari Sungai Ciliwung diluruskan sehingga bekas aliran sungai sebelumnya yang sudah tidak dipakai lagi sebagai jalan air dapat digunakan untuk pembangunan rusunawa.

Pelurusan ini, lanjut dia, akan sangat membantu menambah kapasitas Sungai Ciliwung sampai 40 persen. Syaratnya sepanjang bantaran sungai sudah tidak ada lagi rumah-rumah penduduk.

“Tanpa diluruskan (tetap dengan alur awal) tapi rumah warga hilang semua dari bantaran sebenarnya debit Ciliwung sudah bisa bertambah 40 persen. Nah apalagi kalau diluruskan dan dibersihkan dari rumah warga, saya yakin banjir di Kampung Melayu dan Bidara Cina akan hilang,” ujar Pitoyo. Titis Setianingtyas

Maret 2010

Kampung Melayu Terendam Luapan Ciliwung Lagi

Sumber:http://metro.vivanews.com/3 Maret 2010 

VIVAnews – Banjir kiriman kembali merendam ratusan rumah yang berada di sekitar bantaran Kali Ciliwung, Jakarta Timur, Rabu 3 Maret 2010. Wilayah seperti, Cililitan, Cawang, Bidara Cina serta Kampung Melayu terendam banjir dengan ketinggian 150 – 170 sentimeter. Meski begitu, warga belum meninggalkan rumah masing-masing untuk pergi ke tempat pengungsian yang telah disiapkan petugas seperti di Jatinegara dan Kramatjati.

Warga menyebutkan banjir kiriman dari wilayah Bogor mulai memasuki rumah mereka sekitar pukul 04.00 tadi. Namun, untuk mengantisipasinya, mereka telah melakukan persiapan sejak semalam pukul 21.00.

“Kami sudah pindahkan semua barang-barang ke daerah yang lebih tinggi sejak semalam. Karena sebelumnya warga sudah diberitahukan melalui pengeras suara bahwa air kiriman akan datang lagi dan akan mengakibatkan banjir,” ujar Faisal, Ketua RW 03, Kampung Melayu, yang dikutip dari situs Pemprov DKI Jakarta.

Di lokasi banjir, siang ini warga masih tenang dan beristirahat di rumah tetangga yang tidak terendam air ketimbang harus mendatangi lokasi pengungsian. Para korban banjir beralasan, mereka telah terbiasa dengan kondisi seperti itu.

“Banjir di kawasan ini sih sudah biasa, jadi warga Kampungpulo tidak kaget lagi mengalaminya. Paling mereka (para warga) hanya menyelamatkan barang-barangnya ke tempat yang lebih tinggi. Sedangkan pemiliknya banyak yang masih menempati rumah tinggalnya masing-masing,” kata Faisal.

Sementara itu, Wakil Lurah Kampung Melayu Nazimudin mengatakan kelurahan telah menyiapkan sejumlah tenda di setiap lahan yang dapat dijadikan posko pengungsian. Selain itu, juga tetap menyiagakan dapur umum untuk melayani korban banjir yang didirikan di halaman kantor Kelurahan Kampung Melayu.

“Kalau untuk bantuan korban banjir telah kami persiapkan segala sesuatunya sejak semalam. Namun warga lebih memilih berbasah-basahan di rumahnya ketimbang mengungsi di posko,” katanya.

Eksibisi Sungai Ciliwung Meriahkan Peringatan HAD Ke 18

Sumber:http://ciptakarya.pu.go.id/  18 Maret 2010

Rangkaian acara dalam rangka memperingati Hari Air Dunia (HAD) ke 18 telah dimulai 8 Maret lalu dengan puncaknya 22 Maret nanti. Salah satu acaranya yaitu eksibisi perahu melalui Sungai Ciliwung sambil berlomba memungut sampah. Eksibisi ini rencananya akan diawali dari Jl Munggang Balekambang Condet sampai dengan Rawajati di komplek TNI AD Kalibata Jakarta.

Selain itu, terdapat juga kampanye simpati publik di Bundaran Hotel Indonesia, demo pengoperasiaan komposter, lokakarya, pameran HAD dan donor darah. Hal tersebut disampaikan Imam Anshori selaku panitia HAD Ke 18 dalam acara temu wartawan dalam rangka peringatan Hari Air Dunia dengan tema “Pentingnya Kualitas Air Untuk Indonesia Sehat,” di Jakarta, Kamis (18/3). Dalam temu wartawan tersebut hadir juga Direktur Air Minum Ditjen Cipta Karya Tamin Zakaria dan Direktur PLP Ditjen Cipta Karya Susmono.

Menurut Imam, peringatan HAD ke 18 diselenggarakan dengan melibatkan berbagai organisasi atau lembaga baik dari unsur pemerintah maupun nonpemerintah, antara lain Kementerian PU, Kementerian Lingkungan Hidup, BPPT, LIPI dan Pemprov DKI Jakarta. Sementara dari lembaga pendidikan, terdapat Universitas Indonesia dan Universita Trisakti serta lembaga non pemerintah seperti Forum Komunitas Air, LP3ES dan Yayasan Garuda Nusantara.

Menurutnya, tema kualitas air diambil untuk mengajak semua pihak agar peduli terhadap pentingnya penanganan masalah-masalah yang berhubungan dengan pencemaran dan pelestarian sumber daya air. Krisis air dapat menyebabkan terjadinya krisis di semua sektor hingga perekonomian.

“Ketersedian air yang berkualitas merupakan modal dasar bagi peningkatan daya saing nasional. Sektor kesehatan, pertanian dan perindustrian tidak mungkin berhasil tanpa didukung oleh ketersediaan air yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas,” katanya.

Sementara itu, Direktur Air Minum Tamin Zakaria mengatakan, Ditjen Cipta Karya terus mengadakan konservasi sumber daya air. Kementerian PU telah menganggarkan sebanyak Rp 7,4 triliun untuk pengadaan air baku. Air baku penting, agar Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) lebih handal baik di perkotaan maupun perdesaan.

“Target kita 2014 nanti adalah mengurangi separuh jumlah penduduk Indonesia yang belum mendapat pelayanan air minum. Selain itu, perubahan perilaku masyarakat yang bersih dan sehat juga sangat berperan,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur PLP Susmono, menurutnya perilaku mayarakat seperti membuang sampah, BAB dan limbah rumah tangga menyumbang 70% pencemaran air. Untuk itu, tidak hanya membuat peraturan mengenai masalah lingkungan tapi juga edukasi kepada masyarakat,

“Saat ini UU sampah akan dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup. Selain UU sampah,kita juga telah membentuk pejabat penyidik lingkungan, pengawas lingkungan yang tentunya diikuti dengan perda tentang lingkungan. Atas dasar tersebut saya yakin target-target kita akan tercapai,” katanya. (dvt)

Mega Proyek Revitalisasi Ciliwung Untuk Tekan Banjir

Luhur Hertanto – detikNews

Sumber:http://news.detik.com/ 20 Maret 2010

Jakarta Revitalisasi Sungai Ciliwung menjadi proyek prioritas Pemprov DKI Jakarta dalam lima tahun ke depan. Mesti demikian bukan berarti proyek ini akan membebaskan Jakarta sepenuhnya dari banjir rutin.

“Tapi paling tidak ini mampu menekan risiko banjir hingga serendah-redahnya,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Ciliwung Ir Pitoyo S di sela peringatan Hari Air Dunia, di Rawajati, Jakarta, Sabtu (20/3/2010).

Target tahun pertama mega proyek tersebut adalah membuat sudetan di persimpangan Sungai Ciliwung yang ada di Manggarai dan Kalibata. Di atas bekas sungai nanti akan dibangun rumah susun sewa untuk warga Bidaracina dan Kampung Melayu yang terkena proyek pelebaran Sungai Ciliwung hingga 50 meter.

“Biaya sewa rusun paling tinggi Rp 5.000 per hari, jadi pengamen juga bisa tinggal sana. Kita subsidi Rp 15 milyar per tahun,” jelas Pitoyo.

Pelebaran Sungai Ciliwung merupakan bagian normalisasi sehingga daya tampung sungai bertambah. Bersamaan itu di sepanjang sisi bantaran akan dibangun pagar beton sebagai penahannya agar lagi tidak mudah longsor terseret banjir.

Sementara untuk mengendalikan arus banjir, badan lama sungai yang mati akan dihidupkan kembali dengan penambahan sejumlah pintu air di dam dalam kota yang menuku Banjir Kanal Timur dan Barat. Bangunan jembatan juga direnovasi
tidak lagi memakai kaki-kaki sehingga tidak lagi menjadi tempat tersangkutnya sampah yang terbawa banjir.

“Langkah terakhir, ini berupa opsi, adalah membangun terowongan dari Ciliwung ke BKT,” tambah Pitoyo.

Menurutnya mega proyek ini telah dua kali dibahas dalam rapat di kantor Wapres RI. Dana sebesar Rp 100 milyar telah dikucurkan untuk pelaksanaan pembuatan sudetan dan infrastuktur pendukungnya yang telah dimulai sejak Januari lalu. (lh/fay)

MENTERI PU AJAK SEMUA KOMPONEN PEDULI DENGAN MASALAH KUALITAS AIR 

Sumber:  http://www1.pu.go.id/ 20 Maret 2010 

Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto menilai tema peringatan Hari Air Dunia tahun ini (2010) “COMMUNICATING Water Quality Chalanges and Opportunities” tidak terlepas dari permasalahan sumber daya air (SDA) yang cenderung setiap tahun semakin memprihatinkan. Melalui peringatan HAD ini diharapkan kesadaran sekaligus kepedulian dari semua komponen terkait akan tercipta. Dengan demikian, ke depan masalah buruknya kualitas air dapat ditangani secara berkesinambungan dan terpadu.

Ditegaskan, sebanyak 1.500 km3 lebih air limbah diproduksi dunia. Sayangnya di negara-negara berkembang lebih dari 80% air limbah tidak didaur ulang, akibat belum memadainya regulasi da minimnya sumber daya (resources). Padahal, air limbah dapat dimanfaatnya untuk sumber energi dan keperluan irigasi.

“Dengan sentuhan teknologi mestinya air limbah dimanfaatkan. Bukan sebaliknya malah terbuang percuma apalagi mencemari lingkungan,” tegas Menteri PU, saat memberikan sambutan pada peringatan HAD ke- 18 yang dipusatkan di Keluarahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Timur (20/3),.

Dilain sisi, tutur Menteri PU yang juga menjabat Ketua Harian Dewan SDA Nasional, meningkatnya populasi penduduk dan industri justru menambah sumber polusi baru juga menurunkan keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air bersih. Padahal, kualitas air yang memadai sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kehidupan.

Oleh karena itu permasalah air yang melanda dunia menggugah kesadaran dan kepedulian masyarakat dunia untuk bersama-sama melestarikan SDA secara berkelanjutan. Pengalaman menunjukkan, betapa pengelolaan SDA berkelanjutan perlu melibatkan semua pihak. Karena pada dasarnya, masalah air adalah urusan semua orang (Water is everybody business).

Atas dasar itu, pentingnya komunikasi antar para stakeholder sangat menentukan dalam mengatasi buruknya kualitas air. Menurut Djoko, masalah SDA hanya dapat diatasi melalui pendekatan teknis struktur (konstruksi) dan pendekatan non struktur berupa pengaturan dan public awareness campaign (Kampanye Peduli Air).

Meski begitu, Djoko menyambut baik terhadap upaya pengelolaan SDA ke depan, yang menitikberatkan pada Pola Pengelolaan Wilayah Sungai. Dijelaskan, melalui pola itu nantinya setiap kegiatan konservasi SDA, pendayaan SDA dan pengendalian daya rusak air pada wilayah Sungai dapat dikontrol dan dievaluasi.

Tercatat, terdapat 133 wilayah sungai (WS) di Indonesia. 69 WS dikelola oleh pemerintah pusat melalui Balai dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Sedangkan sisanya (64 WS) dibawah wewenang provinsi/kabupaten.

Terkait dengan upaya tersebut di atas, Djoko Kirmanto menyambut baik dijadikannya Sungai Ciliwung sebagai starting point dalam peringatan HAD ke-18 kali ini. Dan dia berharap Sungai Ciliwung yang digarap BBWS Ciliwung-Cisadane (Cilicis) bisa dijadikan contoh bagi upaya serupa di daerah aliran sungai atau wilayah sungai lain di tanah air.

Menteri PU juga menyampaikan apresiasi kepada Paduan Suara Anak-Anak Ciliwung dan Duta Air (SD) dibawah binaan “Coca-cola” yang telah mendeklarasikan diri melalui lagu yang syairnya “ Kami ingin Ciliwung Bersih Kembali”. Pesan moral yang bisa ditangkap dari syair lagu itu, adalah mengajak agar semua pihak tidak mencemari badan sungai dengan berbagai limbah.

Menyikapi syair tersebut, Menteri PU meminta kepada semua komponen (masyarakat, pabrik industri) untuk tidak membuang limbah ke Sungai (Ciliwung), yang berdampak penyebab banjir saat musim penghujan tiba.

“Kita harus malu dengan anak-anak tadi, bila mencemari sungai. Itu adalah pesan moral yang mereka sampaikan. Dan kita harus bisa mensikapinya dengan bijaksana,” papar Menteri PU dihadapan para pejabat dari Kementerian PU, KLH, Pemda DKI Jakarta yang hadir dalam peringatan HAD ke-18.

Sebelumnya, Ketua Panitia Nasional Peringatan HAD ke-18 tahun 2010, Moch. Amron dalam sambutannya juga mengingatkan tentang permasalahan kualitas air yang dinilai sampai kini masih memprihatinkan. Melalui peringatan HAD dia menghimbau agar masyarakat menyadari akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan.

Oleh karena itu, Amron mengajak masyarakat untuk senantiasa memahami akan pentingnya konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air, dalam Tema Nasional HAD tahun ini yang mengusung tema” Kualitas Air untuk Indonesia Sehat”.

Amron juga menyampaikan apresiasinya kepada Pemprov DKI Jakarta atas peran aktifnya dalam peringatan HAD tahun ini, melaui kegiatan yang dilakukan di DAS Ciliwung. Menurutnya, kegiatan itu sebagai upaya menumbuhkan kesadaran dan peningkatan kepedulian terhadap pengelolaan SDA.

Dalam kesempatan itu, dibacakan Deklarasi Masyarakat untuk Ciliwung Bersih oleh warga Tanjung Barat, Pejaten Timur, Gedong, Cililitan Balekambang dan Warga Rawajati. Pemberian benih pohon dan kegiatan tanam pohon dilokasi setempat. (Sony)

Pusat Komunikasi Publik 200310

Hutan di DAS Ciliwung Kritis

Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/ 30 Maret 2010 

BOGOR, (PRLM),-Kondisi hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Ciliwung sangat kritis. Luas lahan hutan yang ada hanya seluas sembilan persen. Padahal, undang-undang mensyaratkan minimal luas lahan hutan 30 persen.Kritisnya lahan hutas di DAS Ciliwung diakui bisa menjadi salah satu faktor dari kejadian banjir, longsor dan lainnya. Sebab, bencana alam tersebut sangat dipengaruhi berbagai faktor.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat Anang Sudarna kepada “PRLM” Selasa (30/3) di Bogor. Menurutnya, di Jawa Barat terdapat sejumlah DAS, salah satunya Ciliwung.

Dijelaskan Anang, kondisi hutan di DAS semestinya seluas apa yang disyaratkan dalam UU kehutanan yakni luasnya 30 persen. Namun dari kenyataan yang ada, luas hutan seperti yang disyaratkan tidak terpenuhi.

Misalnya kali Ciliwung ruang hulunya di kawasan Puncak, Kab Bogor mengalir sampai ke Jakarta sebagai daerah hilir, kondisi hutannya cukup memperihatinkan. Kata Anang, luas lahan hutan hanya sembilan persen.

Menjawab pertanyaan apakah dengan kondisi seperti itu sebagai penyebab terjadi banjir maupun longsor, kata Anang faktor kritisnya hutan menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana alam.

Menurut dia, bencana seperti banjir, longsor dan sebagainya yang terjadi di sejumlah daerah di Jawa Barat disebabkan berbagai faktor. Misalnya curah hujan yang tinggi, faktor kondisi hutan dan lainnya. Jadi, kondisi hutan yang kritis merupakan salah satu penyebab dari bencana tersebut, jelas Anang.

Kondisi kritis di DAS Ciliwung juga terjadi di DAS lainnya. Misalnya di DAS Citarum luas lahan hutan yang ada 22 persen. Padahal idealnya 30 persen.

Untuk itu, papar Anang semestinya semua pihak sangat peduli terhadap kondisi hutan yang ada di DAS. Sebab, tidak bisa persoalan tersebut sepenuhnya ditangani pemerintah. Karena di sekitar DAS terdapat pula lahan milik masyarakat.

Diakui Anang, dengan tingkat kerusakan hutan di DAS yang cukup memperihatinkan tersebut harus secara bersama-sama untuk mengatasinya. Semua pihak diminta untuk memberikan perhatian dan kepedulian yang sama.(A-134/kur)***

April 2010

Pelestarian Kali Ciliwung Banyak Manfaat

Sumber: http://www.depok.go.id/ 26 April 2010 

Dalam rangka memperingati hari bumi dan menjelang hari lingkungan hidup, Wakil Walikota Depok melakukan aksi penanaman 500 pohon dan bersih-bersih kali Ciliwung sepanjang 19 Km dari perbatasan Depok-Bogor sampai jembatan Sungai Ciliwung Jalan Juanda Depok.

Bersama puluhan orang relawan Depok Civil Society, Taruna Siaga Bencana, Wakil Walikota, melakukan konvoi menggunakan sepuluh perahu karet. Menurut Wakil Walikota bahwa dengan acara yang diprakarsai Depok Civil Society, Yuyun Wirasaputra mengakui hal ini merupakan kegiatan positif guna pelestarian lingkungan yang bermanfaat untuk anak cucu ke depan.

“Dari dahulu sampai sekarang, Sungai Ciliwung tetap sebagai tempat yang mempesona dan membawa manfaat untuk banyak orang, sepanjang jalan saya menemunkan sejumlah aktivitas orang di kali, mulai dari memancing, menjala, mencuci, dan MCK. Maka dari manfaatnya yang banyak ini perlu kiranya kesehatan dan kebersihan Sungai Ciliwung tetap dipertahankan,”tutur Yuyun Wirasaputra saat dijumpai pasca menyusuri sungai di Rumah Makan Soto Kudus Juanda Depok Minggu (25/4).

Wakil Walikota tidak menampik bahwa di sejumlah ruas Sungai Ciliwung telah terjadi beberapa macam kerusakan, terutama masalah sampah.” Yang terbawa dari air, tetapi itu tetap bagian dari kita, ada juga masyarakat yang menggunakan Ciliwung sebagai tempat pembuangan, oleh karena itu kita akan meminta para lurah untuk menghimbau warganya agar jangan membuang sampah ke sungai, jadikan sungai seperti di depan rumah kita, sebab yang namanya pembuangan itu biasanya ke belakang tetapi kalau rumahnya menghadap depan sungai saya rasa nggak akan terjadi, yang harus menangani masalah sampah bukan hanya orang Depok saja, para pengusaha yang menggunakan Ciliwung sebagai sarana penunjang kehidupan mereka apalagi perusahaan yang menempel dekat dengan kali perlu bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan,”ungkapnya.

Wakil Walikota melihat bahwa Ciliwung juga merupakan sebuah wahana yang mempesona.” Sungai Ciliwung yang ada di Depok syukur Alhamdullilah belum terlalu tercemari, saya melihat tadi masih banyak orang yang memancing mendapatkan ikan seberat satu kilo setengah, pemandangan alamnya dengan pesona tanaman-tanaman yang ada juga sangat memukau oleh karena itu, menurut saya jika dikelola secara baik Ciliwung layak untuk dijadikan sebagai wisata air yang eksotik,”jelasnya.

Sementara itu Pembina Depok Civil Society mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegitan kepedulian.” Kalau bukan kita siapa lagi yang akan bertanggung jawab untuk melakukan pembenahan terhadap kelestarian lingkungan alam di Sungai Ciliwung, perlu campur tangan semua pihak untuk membangun Ciliwung menjadi asri seperti sedia dulu kala,”harap Weny.

Jaktim Data Penghuni Pinggir Ciliwung

Hal ini terkait untuk mengatasi masalah banjir yang kerap melanda wilayah ibukota.

Sumber: http://metro.vivanews.com/ 28 April 2010

Siswanto, Desy Afrianti

VIVAnews – Untuk mengatasi masalah banjir yang kerap melanda wilayah ibukota, pemerintah DKI Jakarta akan terus melakukan pembenahan. Salah satunya adalah dengan melakukan penataan pemukiman penduduk yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Terkait hal itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Timur akan melakukan pendataan di tiga kelurahan yang dialiri sungai Ciliwung yakni, Kelurahan Cawang, Kampung Melayu dan Kelurahan Kebon Manggis.

Pendataan dilakukan menindaklanjuti Instruksi Gubernur DKI Jakarta No 44 Tahun 2010 tentang Persiapan Penataan Pemukiman DAS Ciliwung dan Penyodetan di antara lokasi Gang Eretan, Jakarta Selatan dan Gang Arus, Jakarta Timur.

Sedangkan untuk proses pendataan penduduk, akan segera dilakukan melalui kelurahan setempat dengan terlebih dahulu menyosialisasikannya ke masyarakat.

“Tentunya kami akan sosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat. Setelah itu baru kami data jumlah bangunan serta status tanah yang ditempatinya,” ujar Endjang Abdullah, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Jakarta Timur, dikutip dari situs Pemprov DKI.

Endjang juga mengungkapkan upaya tersebut telah dikoordinasikan kepada para camat dan lurah untuk segera melakukan pendataan di masing-masing wilayahnya. Rencananya, pendataan bangunan di sepanjang DAS Ciliwung, Jakarta Timur tersebut ditergetkan selesai pada awal Mei mendatang. Dengan begitu, untuk tahap selanjutnya yakni, pelaksanaan penataan pemukiman penduduk di lokasi itu bisa cepat rampung.

”Untuk wilayah Jakarta Timur yang terkena pembangunan DAS yaitu, Kelurahan Cawang, Kampungmelayu dan Kebonmanggis. Kami targetkan harus selesai dalam tiga hari ini, sehingga pada awal Mei nanti penataannya sudah bisa dilaksanakan oleh Pemprov DKI Jakarta,” katanya.

Bagi warga yang pemukimannya terkena rencana pembangunan DAS Ciliwung dan memenuhi kriteria sebagai penduduk DKI Jakarta, rencananya direlokasi ke rumah susun sewa (rusunawa) yang sedianya akan dibangun di kawasan tersebut. Sedangkan untuk warga yang tidak memenuhi kriteria, terpaksa harus dipulangkan ke daerah asal.

Namun sayangnya, Endjang belum bisa memberikan penjelasan mengenai anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penataan pemukiman di wilayah Jakarta Timur.

“Belum bisa dipastikan berapa, karena ini baru tahap inventarisasi. Kita bekerja sama dengan unit terkait seperti Dinas Tata Ruang, Dinas Perumahan dan Gedung, Dinas Sosial dan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta serta pimpinan wilayah setempat,” katanya.

Juni 2010

Kondisi DAS Ciliwung Rusak

Sumber:http://www.klhsindonesia.org/  6 June 2010

Depok (Sindo). Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Depok Rahmat Subagyo menyatakan sejumlah kawasan daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung rusak akibat ulah pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pelakunya, yaitu warga yang mendirikan bangunan di sepanjang sungai tersebut sehingga mengakibatkan rawan longsor dan banjir.

”Banyak korban penggusuran di daerah lain mendirikan bangunan disepanjang DAS Ciliwung.Saatini, persoalan tersebut tengah kami bahas,” ujar Rahmat di sela-sela Peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia dan Balad Kuring yang diselenggarakan PT Penebar Swadaya dan Pemkot Depok, di Jalan Juanda, Sukmajaya, kemarin.

Untuk menekan perusakan semakin meluas, pihaknya membentuk Forum DAS Ciliwung Kota Depok.Forum ini terdiri dari tokoh masyarakat dan aktivis LSM yang bertugas mengawasi kawasan DAS.

”Kami bentuk Forum DAS, yang berisi tokoh masyarakat,dan LSM. Mereka bertugas mengawasi dan mencegah aksi perusakan DAS, termasuk menanami kawasan DAS dengan pohon-pohon penyangga,” ujarnya.

Direktur PT Penebar Swadaya, Kuslistyarini mengaku perlu komitmen yang kuat serta kerja sama semua pihak dalam mencegah banjir dan tanah longsor di Kota Depok. ”Salah satu solusinya dengan melakukan penghijauan lingkungan.

Karena itu, hari ini kami menyerahkan sebanyak 1.500 bibit pohon ke Pemkot Depok sebagai bentuk partisipasi dalam mencegah bencana longsor dan banjir,” paparnya. Dalam kesempatan tersebut, pihaknya menyerahkan bibit, jenis tanaman nyamplung, melinjo, salam, dan pohon ketapang.

Selain itu, bibit tanaman sukun serta sejumlah tanaman buah lainnya.“Dipilihnya tanaman tersebut karena pohon tersebut mudah dirawat dan dapat mencegah erosi. Begitu juga, tanaman itu adaptif atau bisa ditanam di sembarang tempat, mudah perawatan, dan pertumbuhan cepat. Perakaran bagus sehingga cocok sebagai tanaman penahan erosi sekaligus penyimpan air,” bebernya.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mendesak masyarakat berperan aktif mencegah kerusakan.

Caranya, tak hanya dengan menanam pohon, tapi masyarakat juga harus mengubah perilaku membuang sampah sembarangan.“Dengan begitu, akan membantu Kota Depok menjadi daerah yang bebas banjir dan longsor, serta lebih bersih,” tandasnya.

Seperti diketahui, tahun ini Kota Depok tidak meraih Piala Adipura.Daerah yang bersebelahan dengan Ibu Kota Jakarta ini justru dinobatkan sebagai daerah terkotor. (a fajri hidayat)

109 Titik Sampah di Kali Ciliwung Akan Dibersihkan

Sumber: http://www.seputarjakarta.com/ 17 Juni 2010 

Tingkat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan ternyata masih rendah. Terbukti dengan masih banyaknya sampah yang dibuang warga di Kali Ciliwung sehingga mengakibatkan kali tersebut memiliki 109 titik sampah. Pemprov DKI sendiri berencana akan melakukan pembersihan pada 109 titik sampah di kali sepanjang 39 kilometer tersebut, mulai dari Jembatan Kelapadua Depok, Srengsengsawah Jakarta Selatan sampai dengan muara di Teluk Jakarta, Jakarta Utara.

Program pembersihan sampah ini dimaksudkan untuk mengejar target pelaksanaan Program Ciliwung Bersih tanpa Sampah pada 2012, sebagai komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menangani masalah sampah yang ada di bantaran dan badan Kali Ciliwung. Titik sampah ini perlu mendapatkan penanganan serius. Jika tidak segera ditangani kondisinya akan bertambah buruk dan semakin sulit ditangani. Namun, semua titik sampah tersebut tidak dapat terjangkau oleh kendaraan truk sampah. Karena tidak ada akses jalan menuju lokasi titik sampah tersebut.

“Saat ini baru 12 titik sampah yang ditangani. Ini berkat meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke kali dan bantarannya,” ujar Peni Susanti, Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Kamis (17/6).

Peni menambahkan selain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, kegiatan pembersihan sampah juga untuk menjaga semangat warga untuk tidak membuang sampah di kali. Warga juga diharapkan dapat memilah dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, serta menata bantaran sungai sebagai bagian dari halaman depan rumahnya. “Dengan begitu harapan Kali Ciliwung menjadi sarana kegiatan ekowisata dapat segera terwujud,” terangnya.

Terlebih saat ini telah diberlakukan UU nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sehingga lebih mengikat seluruh elemen masyarakat dan mengubah paradigma lama masyarakat tentang pengelolaan sampah dari sekadar kumpul-angkut-buang, diharapkan berubah menjadi paradigma baru yang lebih mengutamakan prinsip sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

“Paradigma lama tentang pengelolaan sampah dapat menimbulkan beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menjadi tinggi, sementara luas lahan terbatas. Sehingga akan berdampak pada pencemaran udara, air, dan tanah,” tandasnya.  Reporter: erna (beritajakarta.com)

Jumlah Titik Sampah Sungai Ciliwung Berkurang

Sumber: http://www.antaranews.com/ 22 Juni 2010

Jakarta (ANTARA News) – Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan jumlah titik pembuangan sampah ke Sungai Ciliwung berkurang.

“Sekarang ada 109 titik. Sebelumnya lebih dari itu, sekarang jumlahnya berkurang. Kalau masyarakat dididik supaya tidak membuang sampah di sungai, maka jumlah titik sampah akan berkurang,” kata Fauzi Bowo usai mengikuti Rapat Paripurna DPRD memperingati HUT DKI ke-483 di gedung DPRD DKI Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menilai ada penanganan dan perbaikan yang signifikan terhadap sungai-sungai di Jakarta.

Pengananan sungai yang dimaksud adalah banyaknya taman-taman di bantaran sungai yang dibuat, tebing-tebing sungai yang dibersihkan dan diperkokoh untuk mencegah erosi.

Sebelumnya Kepala Badan Pengelola Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta, Peni Susanti, di Jakarta, Kamis (17/6) mengatakan ada 109 titik pembuangan sampah di sepanjang Sungai Ciliwung.

“Saat ini baru 12 titik sampah yang ditangani. Ini berkat meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke kali dan bantarannya,” katanya.

BPLHD sendiri telah membersihkan Sungai Ciliwung pada 109 titik sampah di kali sepanjang 39 kilometer tersebut, mulai dari Jembatan Kelapadua Depok, Srengsengsawah Jakarta Selatan sampai dengan muara di Teluk Jakarta, Jakarta Utara.

Program pembersihan sampah ini dimaksudkan untuk mengejar target pelaksanaan Program Ciliwung Bersih tanpa Sampah pada 2012, sebagai komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk menangani masalah sampah yang ada di bantaran dan badan Kali Ciliwung.

Peni mengatakan titik sampah tersebut perlu mendapatkan penanganan serius dan semua titik sampah tersebut tidak dapat terjangkau oleh kendaraan truk sampah.

Peni menambahkan selain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, kegiatan pembersihan sampah juga untuk menjaga semangat warga untuk tidak membuang sampah di kali.

Warga juga diharapkan dapat memilah dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat, serta menata bantaran sungai sebagai bagian dari halaman depan rumahnya.

“Dengan begitu harapan Kali Ciliwung menjadi sarana kegiatan ekowisata dapat segera terwujud,” tambahnya. (N006/A024)

Tahun 2012, Ciliwung Harus Bersih dari Sampah

Sumber:  http://www.jurnas.com/23 Juni 2010

Jurnas.com | DEWAN Perwakilan Daerah (DPD) DKI Jakarta mendesak kepada Pemprov DKI Jakarta untuk segera membersihkan seputaran bantaran Kali Ciliwung. Apalagi keberadaan pemukiman liar yang ada di bantaran kali begitu membahayakan penghuninya dan bisa memicu banjir.

Demikian disampaikan Anggota DPD DKI, Djan Farid di Balaikota Jakarta, Rabu (23/6) usai melakukan pertemuan dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta membahas Rancangan Perda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“2012 Kali Ciliwung harus bersih dari pemukiman liar dan tidak bisa di tawar-tawar,” kata dia. Sebab, kata dia, saat ini di Kali Ciliwung sudah terjadi pendangkalan akibat limbah rumah tangga yang langsung dibuang ke kali.

“Bagaimana mau atasi banjir kalau pemukiman dan sampah di kali tidak di keruk dan dibersihkan,” tandasnya.

Farid mengharapkan, Gubernur DKI, Fauzi Bowo mulai sekarang segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan pembersihan bantaran kali tersebut.

Sampah

Selain itu, Farid pun sempat menyinggung masalah pengolahan sampah. “Kita jangan kalah dong sama negara tetangga, masak masalah sampah, banjir dan pemukiman liar saja penyelesaiannya butuh bertahun-tahun,” tutur dia.

Sementara itu, anggota DPD lainnya, Pardi juga mengungkapkan bahwa di sepanjang Kali Ciliwung mulai Tanjung Barat sampai Cawang masih banyak sampah. “Kemarin pas acara bersih-bersih pada tanggal 20 Juni, mulai dari Tanjung Barat sampai Cawang, kanan kirinya masih ada sampah. Itu kan kalau digarap baik bisa jadi tempat wisata dan mengurangi banjir,” kata dia.

Agustus 2010 

Pemerintah Sediakan Rp100 Miliar untuk Normalisasi Ciliwung

Sumber: http://m.mediaindonesia.com/ 19 Agustus 2010 

JAKARTA–MI: Kali Ciliwung yang membelah Jakarta mendapatkan dana sebesar Rp100 miliar untuk proyek normalisasi dan revitalisasi sungai secara total. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pembebasan lahan dan pembangunan fisik.

“Saya sudah pegang Rp100 miliar. Nanti akan dibagi dua, Rp60 miliar dipegang gubernur untuk pembebasan lahan, sisanya Rp40 miliar akan dipakai PU untuk uang muka membuat sodetan,” ungkap Direktur Sungai dan Pantai Kementerian Pekerjaan Umum Pitoyo Subandrio di Jakarta, Rabu (18/8).

Proyek normalisasi dan revitalisasi Sungai Ciliwung dilakukan setelah terbitnya Keputusan Presiden tentang Total Solution for Ciliwung.

Menurut Pitoyo, terdapat sembilan langkah yang akan dilakukan untuk menormalisasi dan merevitalisasi Kali Ciliwung. Yaitu, memukimkan warga Kampung Melayu yang berjumlah sekitar 350 ribu jiwa, membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di atas Kali Ciliwung, memindahkan warga ke rusunawa dibarengi dengan pemberdayaan sosial, normalisasi sungai yang melintasi kawasan Bukit Duri dan Kampung Melayu, penambahan pintu air Manggarai, menaikkan tinggi jembatan di Kanal Banjir Barat (KBB), merevitalisasi kawasan Ciliwung lama yang melintas dari Manggarai hingga Istiqlal, menghubungkan Ciliwung-Cipinang agar memiliki kapasitas tampung sebesar 50-60 kubik per detik, dan konservasi.

Solusi total untuk normalisasi dan revitalisasi Kali Ciliwung itu diperkirakan selesai pada 2014. Tahap awal pekerjaan dilakukan dengan membangun sodetan di Kebon Baru-Kalibata. Sodetan itu akan ditimbun untuk menjadi kawasan pembangunan rusunawa bagi warga yang sebelumnya bermukim di bibir sungai. Rusunawa itu akan dibangun oleh Kementerian Perumahan Rakyat. “Kita akan bangun sodetan setelah Pemprov membebaskan lahannya,” ujar dia. (DP/OL-3)

Oktober 2010

Pecah Banjir, DKI Bangun Terowongan Kali Ciliwung-BKT

Sumber: http://poskota.co.id/ 8 Oktober 2010 

JAKARTA (Pos Kota) – Di tengah perkembangan dinamika kota, keberadaan sungai Ciliwung menjadi petaka bagi Jakarta. Terutama di musim penghujan, luapan sungai yang memiliki panjang sekitar 100 km ini kerap menjadi penyebab utama penderitaan jutaan warga ibukota.

Hal itu menyusul menurunnya kemampuan alur Sungai Ciliwung yang saat ini hanya sebesar 17,5 persen dari masterplan pengendalian banjir Jakarta 1997. Terkait hal ini rencana pembangunan terowongan air raksasa untuk memecah debit air sungai tersebut pun digaungkan Pemprov DKI.

Dikatakan Gubernur DKI, Fauzi Bowo, dalam kunjungan kerjanya ke Rotterdam, Belanda beberapa waktu lalu, pihaknya telah mengajukan usulan kepada pemerintah pusat untuk melakukan kajian bersama dengan pemerintah Belanda mengenai pembuatan terowongan yang menghubungkan Ciliwung dengan Banjir Kanal Timur (BKT).

Pembangunan tersebut didasari lantaran kapasitas BKT masih mampu menampung sekitar 50 ribu kilometer kubik air perdetik. “Dengan terowongan air ini akan mampu mengurangi tekanan air Ciliwung,” ujar Fauzi, di Balaikota, Kamis (7/10).

Adanya terowongan ini diprediksi akan mampu mencegah terjadi banjir di sejumlah wilayah Jakarta seperti Kampung Melayu, Bukit Duri, dan Bidara Cina. Saat ini BKT sendiri tidak menampung air yang berasal dari Kali Ciliwung. BKT hanya memotong lima aliran sungai yaitu Cipinang, Buaran, Sunter, Jati Kramat, dan Cakung. Sedangkan Kali Ciliwung hanya berkoneksi dengan Banjir Kanal Barat (BKB) yang kapasitasnya tidak sebesar BKT.

Rencananya terowongan yang layaknya sodetan tersebut akan dibuat mulai dari bekas aliran Ciliwung yang terdapat di Bidaracina, Jakarta Timur. “Dulu Ciliwung berbelok masuk ke Bidaracina, namun sekarang bekas aliran Ciliwung ini tidak berfungsi sebagai kali,” katanya. Namun saat luapan air terjadi, bekas aliran tersebut berubah kembali menjadi kali, karena debit air di Ciliwung cukup besar.

PKM Detail Desain Bendung Gerak sebagai Long Storage di Sungai Ciliwung

Sumber: http://bbwsciliwung.pdsda.net/15 November 2010

PKM Detail Desain Bendung Gerak sebagai Long Storage di Sungai Ciliwung

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane mengadakan Pertemuan Konsultasi Masyarakat Ke-II mengenai pekerjaan Detail Desain Bendung Gerak sebagai Long Storage di Sungai Ciliwung. PKM tersebut dilaksanakan oleh PT. Innako Internasional Konsulindo yang bertempat di Balai Pertemun Kelurahan Depok, Jawa Barat, Jumat (12/11). Pertemuan itu dihadiri oleh direksi pekerjaan, Lurah Kemiri Muka, Wakil Camat Pancoran Mas dan warga Depok sekitar Sungai Ciliwung yang terkena dampak pembangunan Bendung Gerak.

Dalam acara PKM diadakan tanya jawab dengan warga dengan maksud untuk memberi penjelasan kepada masyarakat yang kemungkinan akan terkena dampak akibat pembagunan Bendung Gerak di Sungai Ciiwung. Adapun tujuan PKM adalah untuk memperoleh masukan dan usulan masyarakat yang terkena dampak pembangunan Bendung Gerak di Sungai Ciliwung.

Salah satu upaya yang dapat dilaksanakan untuk maksud mencegah kekeringan dan banjir adalah dengan membagun bendung gerak sebagai long storage untuk menahan laju aliran terutama pada musim hujan, yang apabla di integrasikan dengan bentuk-bentuk lain dari bangunan penahan laju aliran akan memungkinkan terjadinya penurunan kecepatan aliran ( time conceration ) dengan demikian akan dapat mereduksi puncak banjir berdasarkan hidrograf banjir yang ada selama ini. (Humas BBWSCC/ AB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: