Artikel Biotilik Ciliwung

Pelatihan Pemantauan Kesehatan DAS CILIWUNG dengan Metode Biotilik

Sumber:http://www.menlh.go.id/pelatihan-pemantauan-kesehatan-das-ciliwung-dengan-metode-biotilik/  

pelatihan

Foto bersama seusai pembukaan pelatihan

Sungai di Puncak Relatif Sehat, Harapan Baru Pemulihan Ciliwung Sungai

 Sungai Ciliwung termasuk dalam daerah aliran sungai (DAS) kritis di Indonesia yang saat ini sedang mengalami kerusakan serius pada semua segmen DAS. Kementerian Lingkungan Hidup membagi Ciliwung dalam lima segmen berdasarkan wilayah administrasi. Segmen I di Ciliwung hulu bagian atas Kabupaten Bogor, Segmen II Kota Bogor, Segmen III Kabupaten Bogor bagian bawah, segmen IV Kota Depok, dan Segmen V di DKI Jakarta. Sungai Ciliwung adalah sungai lintas propinsi, yang melintas di Propinsi Jawa Barat dan Propinsi DKI Jakarta. Luas DAS Ciliwung sekitar 37.472 hadengan panjang sungai utamanya 117 km. Luas hutannya hanya 3.709 Ha atau 9,8% dari luas DAS.

Dengan potensi air Sungai Ciliwung yang digunakan sebagai air baku dan pendukung kehidupan masyarakat, serta kondisi pencemarannya dengan status tercemar sedang sampai berat, maka perlu upaya-upaya terintegrasi untuk meningkatkan kualitas air Ciliwung. Dari perspektif itu, maka potensi pelajar, mahasiswa, komunitas, LSM-LSM, dan masyarakat sangat strategis untuk membangun kepedulian bersama terhadap peningkatan kualitas air Ciliwung. Masyarakat didorong untuk terlibat dalam menjaga sungai dan DAS, masyarakat harus diposisikan sebagai komponen penting dalam karena pemerintah atau instansi yang bertanggung jawab atas pengelolaan sungai dan menjaga kelestarian fungsi ekologis sungai.

Untuk meningkatkan kepedulian komunitas masyarakat terhadap sungai, maka Kementerian Lingkungan Hidup menggagas kegiatan “Selamatkan Sungai Kita“ yang akan dilaksanakan dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2013, pada bulan Juni 2013 mendatang. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah pemantauan kesehatan sungai dengan menggunakan metode Biotilik. Sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan pelatihan pemantauan kualitas air sungai dengan menggunakan metode biotilik. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 – 15 Mei 2013 di di Sungai Cisampay Ciliwung PuncakKabupaten Bogor. Kegiatan diikuti oleh 66 orang peserta yang terdiri atas siswa, guru, dan masyarakat merupakan perwakilan dari sekolah dan komunitas pemerhati Ciliwung yang berasal dari kawasan Puncak(SMP Islam Al Barokah, SMK Bakti Taruna, SMK Karya Insani, SMK Agro Bisnis dan Teknologi Amerta, GMI),Kota Bogor (Lawalata IPB, Himalika IPB, KPL Angsana IPB, SMA YPHB Bogor, KPC Bogor, SMP N II Bogor, SMPN III Bogor), Kabupaten Bogor (Komunitas Ciliwung Bojong Gede), Kota Depok (Komunitas Ciliwung Depok, SMPN 1 Depok, SMPN 2 Depok, SMAN 1 Depok), dan DKI Jakarta (Komunitas Ciliwung Condet, Yayasan SIOUX Ular Indonesia, Ciliwung Insistute, Komunitas Kampung Kramat (KKK), MTsN Kemuning, SMPN 35 Jakarta, Gemar Bersuci, KBC Rawa Jati).

Kegiatan ini dilakukan atas dasar keprihatian masyarakat di Ciliwung atas degradasi kualitas DAS Ciliwung dari hulu hingga hilir. Pemulihan DAS Ciliwung tidak bisa hanya menunggu respon pemerintah saja, namun masyarakat harus memberikan kontribusi dalam pengendalian kerusakan dan pengelolaan kualitas lingkungan DAS Ciliwung. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk melatih fasilitator pendamping yang nantinya akan melakukan kegiatan pemantauan kualitas air dengan metode biotilik di sepanjang DAS Ciliwung.

Pelatihan ini dihadiri perwakilan instansi pemerintah pusat dan daerah. Narasumber pelatihan diberikan oleh Drs. Widodo Sambodo, MS Asdep Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan, KLH; Erna Witoelar pendiri Gerakan Ciliwung Bersih; Roni Sukmana, Kepala BLH Kabupaten Bogor; Ir. Dewi Nurhayati, M.Si, Kabid Konservasi SD Alam dan Mitigasi Bencana, BPLHD Jawa Barat; Maman Sudirman, S.Hut, BPDAS Citarum Ciliwung; Ir. Hermono Sigit, Asdep Pengendalian Kerusakan Ekosistem Perairan Darat, KLH; Willy Pramudya, dari Aliansi Jurnalis Independent; Waji Jatmiko, Dinas Pendidikan, Kota Bogor; Dinas Pendidikan DKI Jakarta, serta Kepala Desa Tugu Selatan Cisarua Puncak Bogor.

Pelatihan pemantauan kesehatan sungai dengan metode biotilik diberikan dan didampingi oleh Prigi Arisandi, Daru, Amir, dan Andreas dari Lembaga Ecoton, yang merupakan LSM yang bergerak pada pelestarian DAS Brantas Jawa Timur.

Pelatihan pemantauan kualitas sungai dengan metode biotilik ini digunakan karena metode ini telah banyak digunakan diberbagai negara sebagai indikator biologis untuk memantau pencemaran air dan menentukan tingkat kesehatan ekosistem sungai, dan telah ditetapkan sebagai parameter kunci dalam pemantauan kualitas air, selain parameter fisika kimia kualitas air. Biotilik berasal dari kata bio dan tilik yang berarti pemanfaatan makhluk hidup (bio) untuk menilik atau memantau lingkungan, yang merupakan sinomim dengan biomonitoring (makroinvertebrata).

Biotilik merupakan metode pemantauan kualitas air yang bisa memberikan informasi lebih mendetail dalam upaya pemulihan DAS, karena dengan biotilik kita bisa mengetahui dampak penurunan kualitas air yang mengakibatkan berubahnya kondisi habitat sungai, perubahan kondisi habitat ini direspon oleh biota air yang tinggal di sungai, karena setiap biota air memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap pencemaran air.

Jenis biotilik didominasi oleh jenis serangga air yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia seperti capung, kunang-kunang, kepik dan anggang-anggang. Metode biotilik, biota yang menjadi indikator digolongkan dalam dua kelompok besar yaitu EPT dan non EPT. Kelompok EPT mewakili kelompok biota air yang sangat sensitive terhadap pencemaran sedangkan kelompok non EPT adalah kelompok biota air yang tahan dalam keadaan sungai yang tercemar atau DASnya tidak sehat. Biotilik merupakan alat pantau kesehatan sungai yang mudah, murah, manfaat, massal dan mengetahui lebih awal perubahan kualitas air, serta dapat dilakukan oleh siapa saja.Metode ini menggunakan serangga air sebagai biota yang dapat menunjukkan kualitas air dalam kurun waktu yang singkat. Dalam kurun waktu 1-2 jam kita sudah bisa mengetahui status air yang sedang dipantau.

Biotilik ini merupakan cara pemantauan kualitas air yang mudah dan murah sehingga membuka ruang bagi masyarakat untuk bisa terlibat memantau kualitas Sungai Ciliwung. Dengan mengetahui kualitas air sungainya, maka masyarakat akan dapat melakukan upaya sederhana untuk menyelamatkan Ciliwung dari pencemaran dan kerusakan di daerah sekitarnya.Metode ini kini dikembangkan dan dipraktekkan dalam pengelolaan kualiatas air di DAS Brantas dan sejak 2009 dikenalkan dan dipraktekkan di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi Hulu Ciliwung dalam keadaan sehat.Kondisi Ciliwung hulu bisa menjadi modal dasar bagi penggiat Komunitas Ciliwung untuk terus melakukan pemulihan Ciliwung. Saat ini sedang dibentuk Ciliwung Rangers yang beranggotakan pelajar-pelajar Kawasan Ciliwung yang mau melakukan perubahan dan bergerak bersama untuk menyelamatkan yang tersisa di DAS Ciliwung. Menurut para peserta pelatihan Biotilik ini sangat bagus serta bermanfaat untuk dipelajari baik itu dari kalangan kalangan pelajar/siswa maupun masyarakat. Dengan adanya Pelatihan Biotilik ini akan menjadi suatu bentuk pelajaran untuk para siswa/i, guru, serta kalangan Mahasiswa. Pelatihan ini akan terus berlanjut untuk Pelaksanaan Hari Lingkungan Hidup pada bulan Juni nanti. Tidak hanya di bulan Juni saja dilakukannya pelaksanaan Biotilik tapi akan terus berlanjut sampai seterusnya secara periodik sebagai riset data kesehatan DAS Ciliwung.

Informasi: Asdep Peningkatan Peran Organisasi Kemasyarakatan, Telepon. 021-85904919

Kementerian Lingkungan Hidup Dan Komunitas Ciliwung Gelar Pelatihan Biotilik 

 Sumber: http://www.kotahujan.com/  31 July 2013

IMG_05791

Kotahujan.com – Untuk menyambut hari lingkungan hidup pada tanggal 5 Juni 2013, Kementerian Lingkungan Hidup menggagas kampanye “Selamatkan Sungai Kita” dengan melakukan salah satu kegiatan pelatihan fasilitator biotilik di Sungai Ciliwung. Pelaksanaan kegiatan gerakan aksi biotilik akan dilaksanakan serentak di 5 sungai, yaitu Sungai Brantas, Sungai Citarum, Sungai Ciliwung, Sungai Bengawan Solo dan Sungai Musi. Kegiatan yang akan dilaksanakan adalah pemantauan kesehatan sungai dengan menggunakan biotilik. Biota tidak bertulang belakang yang bisa menjadi indikator kualitas air. Jenis biotilik didominasi oleh jenis serangga air yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia seperti capung, kunang-kunang, kepik dan anggang-anggang.

Kegiatan pelatihan biotilik mengundang guru-guru sekolah yang ada di kawasan hulu sampai hilir ciliwung serta penggiat komunitas ciliwung. Acara pelatihan dibuka langsung oleh Asisten Deputi Peningkatan Organisasi Kemasyarakatan pada Deputi Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Lingkungan Hidup. Pada sesi awal diskusi dan pembukaan turut hadir pula Ketua Gerakan Ciliwung Bersih Erna Witoelar, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor Romi Sukmana, perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup, BPDAS Ciliwung serta BPLH Provinsi Jawa Barat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Komunitas Ciliwung mengundang Lembaga Ecoton yang berasal dari Surabaya sebagai pelatih dalam kegiatan pelatihan biotilik. Ecoton sudah sejak lama fokus terhadap kampanye penyelamatan sungai brantas yang melibatkan anak-anak sekolah.

Abdul Kodir dari Komunitas Ciliwung Condet mengatakan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar sungai ciliwung adalah garda terdepan dalam penyelamatan sungai ciliwung. “Pemerintah sangat membutuhkan peranan kita sebagai komunitas dalam upaya penyelamatan sungai ciliwung” ungkapnya. Sementara itu Roni Sukmana Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor menyatakan Pemerintah Kabupaten Bogor berharap bisa bekerjasama dengan komunitas yang peduli ciliwung dan para guru untuk menggagas sebuah mata ajaran lingkungan hidup yang lebih baik. “Kami berharap kegiatan pelatihan ini ditindaklanjuti dengan serius, sehingga bisa menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat tentang hasil pengamatan biota yang ada di sungai ciliwung” ujarnya.

Ketua Gerakan Ciliwung Bersih Erna Witoelar yang memiliki perhatian serius terhadap kondisi sungai ciliwung menyatakan bahwa sejak 20 tahun yang lalu inisiasi untuk mengajak masyarakat peduli terhadap ciliwung. Gerakan peduli ciliwung saat ini semakin terus menggeliat. “Masyarakat kita perlu untuk diajak ke sungai ciliwung agar mereka bisa merasakan bagaimana kondisi sungai ciliwung saat ini. Mereka juga mustinya mencoba untuk mandi sungai ciliwung agar tahu bagaimana rasanya sungai ciliwung saat ini. Dulu ketika sungai ciliwung belum rusak, saya pernah mandi di sungai ciliwung” katanya.

Biotilik merupakan merupakan alat pantau kesehatan sungai yang mudah, murah, manfaat, massal dan mengetahui lebih awal perubahan kualitas air di sungai ciliwung. Setelah melakukan pelatihan biotilik nantinya Kementerian Lingkungan Hidup dan Komunitas Ciliwung akan melakukan sensus biotilik secara serentak di hulu sampai dengan hilir sungai ciliwung pada tanggal 8 Juni 2013. Kegiatan sensus biotilik nantinya akan melibatkan 1000 siswa sekolah yang ada di sekitar sungai ciliwung. (EN) – See more at: http://www.kotahujan.com/kementerian-lingkungan-hidup-dan-komunitas-ciliwung-gelar-pelatihan-biotilik/#sthash.xYPU23AA.dpuf

Pelatihan Biotilik Sungai Ciliwung

Sumber:http://www.majalahinspirasi.net/  

Dalam menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2013 bulan depan, Komunitas Ciliwung bersama-sama dengan beberapa penggiat lingkungan dan Kementrian Lingkungan Hidup menyelengarakan pelatihan pengamatan biota sungai yang rencananya akan di aplikasikan menyambut hari besar tersebut.

Bertempat di Wisma BPPT Jl. Dishub, Tugu Selatan Ciliwung Sungai Cisampay, Puncak Bogor kegiatan pelatihan biotilik yang mengusung kampanye “Selamatkan Sungai Kita Sekarang” bertujuan untuk menyatukan visi dan misi antar komunitas serta melatih fasilitator dari berbagai lapisan masyarakat. Yang ditujukan agar dapat membimbing dan menginformasikan kepada khalayak ramai terutama generasi muda dalam mengisi kegiatan di hari besar tersebut yang akan dilansungkan di sepanjang aliran sungai ciliwung dari dari hulu sampai dengan hilir.

BIOTILIK berasal dari kata ‘Bio’ yang berarti biota, dan ‘Tilik’ berarti mengamati dengan teliti, sehingga BIOTILIK merupakan sinonim dengan istilah biomonitoring. BIOTILIK juga merupakan singkatan dari BIOta TIdak bertuLang belakang Indikator Kualitas air. BIOTILIK adalah metode pemantauan kesehatan sungai dengan bioindikator makroinvertebrata bentos, misalnya capung, udang, siput, dan cacing. BIOTILIK telah diterapkan di DAS Brantas untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian masyarakat, khususnya generasi muda, agar berpartisipasi menjaga kelestarian ekosistem sungai.

IMG_3879

 

Pelatihan yang berlangsung pada 13 s/d 14 Mei 2013 ini menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan, baik dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Badan Lingkungan Hidup (BLH), Jurnalis Independen, Badan Pengawas Lingkungan Hidup (BPLHD), sampai dengan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Beberapa hal yang dibahas diantarannya permasalahan sungai ciliwung, pengendalian DAS (Daerah Aliran Sungai), kualitas air, metode kampanye interaktif dengan generasi muda, dan ditutup dengan proses pengidentifikasian biota sungai.

Pada sesi pembukaan diisi oleh Ibu Erna Witoelar selaku pendiri Gerakan Ciliwung Bersih (GCB), beliau menyampaikan dukungan yang sangat besar terhadap kegiatan ini juga mengharapkan peserta dapat memahami point-point yang akan dilaksanakan dengan menyiapkan strategi dan sinergi yang disetrai pembagian jobdesk kegiatan secara jelas dan sistematis. Dilanjutkan dengan pemateri dari perwakilan ECOTON yang memaparkan bahwa sungai yang baik adalah sungai yang terjaga polulasi ikannya. Saat ini ECOTON tengah mengembangkan Suaka Ikan sebagai kawasan perlindungan ikan serta melindungi spesies langka yang diikuti dengan mempelajari Undang-undang perlindungan ekosistem sungai guna memahami konsep hukum dan Advoksi Lingkungan. “ECOTON yang telah berdiri kurang lebih 13 tahun ini berupaya untuk menemukan parameter yang konkrit untuk mengembalikan ekosistem sungai seperti sediakala” Jelas Prigi. Beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya, penelitian, edukasi lingkungan kepada anak-anak sekolah, kampanye kreatif dan advokasi lingkungan, tambahnya.

Sedangkan dari pihak BPLHD yang diwakili oleh Ir. Hj Dewi Nurhayati,Msi menjelaskan mengenai kebijakan, rencana dan program pengendalian DAS. Rencana tersebut dapat dilihat melalui 6 segmen, mulai dari hulu, tengah dan hilir. Saat ini hampir seluruh segmen mendapat warna merah yang artinya daerah tersebut tengah mengaami kerusakan yang amat parah, Ungkapnya. Beliau mengharapkan pihak-pihak terkait dapat menciptakan sistematika disertai target-target yang berupa langkah nyata diantaranya rehabilitasidan pemulihan.

Selain diisi berbagai materi dan penjelasan mengenai biomonitoring sungai acara ini juga diselingi dengan diskusi hangat yang memperbincangkan dan mempertanyakan kondisi sungai saat ini. Beberapa permasalahan yang disampaikan peserta diantaranya, Apa kriteria dalam membangun di area DAS? Apakah peraturan yang telah dibuat sudah melibatkan peran serta masyarakat? Bagaimana dengan fungsi sungai resapan? dan banyak pertanyaan lainnya.

941523_367781286661977_1473292115_n

“Dengan dihadiri 66 peserta yang terdiri dari Guru, LSM, Anak-anak Sekolah dan Komunitas diharapkan dapat berkomitmen dan bersinergi dalam keberlanjutan kegiatan pengindentifikasian serta ikut merestorasi daerah aliran sungai dari hasil-hasil yang didapatkan di lapangan” tutup Abdul Kodir selaku pendiri Komunitas Ciliwung Condet dan merangkap sebagai ketua pelaksana pelatihan biomonitoring sungai sore itu. (A8)

Upaya Penyelamatan Sungai Ciliwung Lewat Metode Biotilik

Oleh Tommy Apriando (Kontributor Daerah Istimewa Yogyakarta), May 16, 2013

Sumber: http://www.mongabay.co.id/2013/05/16/upaya-penyelamatan-sungai-ciliwung-lewat-metode-biotilik/  

Kegiatan-uji-kesehatan-sungai-dengan-menggunakan-biotilik-oleh-pelajar-SMK-Gazza-Megamendung

Kegiatan uji kesehatan sungai dengan metode biotilik oleh pelajar SMK di sekitar puncak, Jawa Barat. Foto: Prigi Arisandi – Ecoton

Kondisi kerusakan sungai Ciliwung yang membentang dari dataran tinggi Jawa Barat hingga Teluk Jakarta, kini semakin parah. Tanpa adanya pencegahan dan keterlibatan aktif masyarakat, kondisi Ciliwung akan semakin rusak. Terkait upaya penyelamatan ini, sebuah pelatihan untuk mengukur indiator kebersihan air dengan metode biotilik telah dilakukan di Cisampay, Jawa Barat pada 13-15 Mei 2013 silam. Pelatihan untuk guru, siswa sekolah dan berbagai elemen lainnya ini digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Komunitas Ciliwung. “Kegiatan ini bertujuan untuk melatih fasilitator pendamping yang nantinya akan melakukan kegiatan pemantauan bersama dengan 1000 orang disepanjang DAS Ciliwung dalam puncak peringatan hari lingkungan hidup,” kata Abdul Koordinator penggerak Komunitas Ciliwung yang menjadi koordinator pelatihan.

Pelatihan ini juga diikuti oleh Erna Witoelar Mantan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah dan kini Ketua Gerakan Ciliwung Bersih juga hadir memberikan dukungan agar upaya-upaya inisiatif warga untuk pemulihan DAS didukungan semua fihak. ”Saya sangat mendukung kegiatan biotilik sebagai cara untuk memulihkan Ciliwung, meskipun sudah banyak cara yang telah dilakukan untuk Ciliwung namun yang terpenting adalah konsistensi dan kerjasama semua fihak untuk pemulihan Ciliwung,” kata Erna Witoelar yang juga ketua Gerakan Ciliwung Bersih (GCB).

Kerusakan DAS di Indonesia

Mengacu pada evaluasi dan hasil pelaksanaan Pemantauan Kualitas Air 33 Propinsi Tahun 2011 oleh Pusarpedal -KLH yang disampaikan dalam rakernis PKA 33 Provinsi di Jaya Pura, Papua, dari 51 sungai yang dipantau di Indonesia 62, 74% masuk kategori tercemar Berat, 31, 37% tercemar Sedang-berat, 3,92% tercemar. Padahal Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2. Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya.

Namun sayangnya setiap tahun selalu terjadi peningkatan jumlah DAS kritis di Indonesia. Jumlah DAS Kritis di Indonesia selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya pada tahun 1984 terdapat 22 DAS Kritis meningkat menjadi 39 DAS pada tahun 1992. Pada tahun 1998 jumlah DAS Kritis meningkat menjadi 55 DAS, hasil inventarisasi terakhir oleh Kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2010 terdapat 62 DAS dalam status Kritis. “DAS kritis ini umumnya terdapat di pulau Jawa atau pada daerah lain yang mengalami peningkatan jumlah penduduk,” kata Prigi Arisandi S.Si, M.Si, Koordinator Pemulihan DAS Indonesia.

Kali Ciliwung salah satunya, termasuk dalam DAS kritis di Indonesia yang saat ini sedang mengalami kerusakan serius pada semua segmen DAS, hal ini diungkapkan oleh Ir. Hj Dewi Nurhayati,Msi selaku Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan BPLHD Jawa Barat seperti dikutip dari rilis Ecoton yang diterima Mongabay Indonesia.

prigi-arisandi-bersama-para-pembicara-oelatihan-fasilitator-metode-Biolitik

Prigi Arisandi dari Ecotn bersama para pembicara pelatihan metode biolitik. Foto: Prigi Arisandi – Ecoton

Biotilik dan Pemulihan Daerah Aliran Sungai

Metode Biotilik adalah cara pemantauan kualitas air yang mudah dan murah sehingga membuka ruang bagi masyarakat untuk bisa terlibat termasuk di dalamnya pelajar, guru dan komunitas di Ciliwung. Sudirman Asun dari Ciliwung Institut menyatakan bahwa selama ini konsep pendekatan pengendalian pencemaran dan pemulihan sungai jauh dari melibatkan masyarakat, sentralistik, mahal dan eksklusif. Padahal Indonesia yang memiliki keanekaragaman habitat dan ekosistem dengan pengaruh kondisi lingkungan yang berbeda sehingga tidak seharusnya diterapkan metode yang seragam dalam pemantauan kualitas air dan upaya pemulihan DAS.

Untuk pemulihan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dibutuhkan partisipasi masyarakat. “Masyarakat didorong untuk terlibat dalam menjaga Sungai, masyarakat harus diposisikan sebagai komponen penting dalam karena Pemerintah atau instansi yang bertanggung jawab atas pengelolaan sungai tidak memiliki komitmen kuat dalam menjaga kelestarian fungsi ekologis sungai,” kata Daru Setyorini M.Si, Direktur Institut Perlindungan dan Pemulihan Sungai (INSPIRASI).

“Biotilik merupakan metode pemantauan kualitas air yang bisa memberikan informasi lebih mendetail dalam upaya pemulihan DAS, karena dengan biotilik kita bisa mengetahui dampak penurunan kualitas air yang mengakibatkan berubahnya kondisi habitat sungai, perubahan kondisi habitat ini direspon oleh biota air yang tinggal di sungai, karena setiap biota air memiliki tingkat toleransi yang berbeda terhadap pencemaran air,” kata Daru Setyorini.

Metode Biotilik dikembangkan dan diuji-cobakan dalam 10 tahun terakhir oleh Inspirasi dan Ecoton di beberapa daerah. Harpannya, metode ini bisa diimplementasikan di seluruh DAS Indonesia karena didesain agar mudah dilakukan dan menyenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: