Kompas

Ekspedisi Ciliwung

Laporan Jurnalistik Kompas 

Sumber : http://books.google.co.id/  

Ekspedisi Kompas Ciliwung 2009

Banjir Bandang di Kampung Naringgul

Neli Triana

Sumber: http://entertainment.kompas.com/ 18 Januari 2009 


KOMPAS/RIZA FATHONI
Sungai Ciliwung, tepatnya di kawasan Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, yang mengalir sejajar dengan Jalan Raya Cisarua (bagian atas) dilihat dari udara, Sabtu (17/1). Kawasan itu merupakan hulu Sungai Ciliwung yang masih terbentuk dari beberapa sungai kecil.

Februari tahun lalu tiba-tiba air bah datang menerjang. Tidak pernah terjadi sebelumnya kami melihat air mengamuk menghanyutkan 24 rumah dan bangunan di kampung ini,” kata Dayat Hidayat (54), Ketua RT 1, Kampung Naringgul, Sabtu (17/1).

Banjir bandang terjadi hanya kurang dari satu jam, tetapi kerusakan yang terjadi, katanya, membuat warga terus merasa takut sampai sekarang.

Sulit dipercaya, kampung yang dilanda banjir bandang ini berada 1.200 meter di atas permukaan laut, tepatnya di sekitar Puncak, Bogor! Naringgul merupakan bagian dari wilayah administrasi Desa Tugu Selatan, Cisarua, Kabupaten Bogor, terletak di ketinggian lereng Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Ketika berjalan di sekitar Kampung Naringgul, Dayat bercerita, kampungnya terbelah oleh Sungai Cikamasan, salah satu dari puluhan sungai pembentuk hulu Ciliwung. Dalam 10 tahun terakhir, lahan seluas 2.400 meter persegi di desanya hanyut terbawa erosi sungai.

Saat banjir bandang menghantam Naringgul, dua keramba besar yang mampu menghasilkan 1,4 ton ikan setiap panen turut hancur. Hingga kini, mata pencaharian sampingan penduduk Naringgul selain sebagai petani teh ini belum bisa dibangun ulang. Pipa-pipa yang mengalirkan air dari sungai menuju rumah-rumah untuk memenuhi kebutuhan penduduk pun hanyut terbawa banjir.

Dayat juga menunjukkan cekungan lebar di dinding sungai yang terjal akibat gerusan banjir bandang dan erosi. Dinding tanah terbuka menampakkan warna coklat kemerahan, hanya sedikit ditutupi tumbuhan alang-alang dan tegakan pohon. Akibat erosi, aliran sungai pun bergeser sekitar 30 meter menjauhi batas desa dan makin menyempit saat musim kemarau tiba.

”Kalau Cikamasan saja dirusak begini, air yang mengalir ke hulu Ciliwung hingga Jakarta sudah pasti tambah merusak. Tidak heran kalau saya dengar bencana banjir di Jakarta makin sering terjadi,” kata Dayat.

Menurut dia, lahan hijau di bantaran Cikamasan yang tergerus pembangunan vila, perkebunan, dan permukiman penduduk bisa dipastikan sebagai penyebab erosi dan banjir bandang. Sampai kini, ia belum melihat ada upaya signifikan pengaturan tata guna lahan di sana.

Saat hujan mulai deras mengguyur di akhir Januari ini, kecemasan menyelimuti hati 697 warga Naringgul. Apalagi, Kamis lalu, banjir bandang kembali melanda meski hanya menghanyutkan jembatan penghubung antara RT 01 dan RT 02, Desa Tugu Utara. Jika intensitas hujan makin tinggi, itulah kecemasannya.

Dayat menambahkan, selain ketakutan akan banjir dan longsor, warga Naringgul kini tidak bisa memanfaatkan air Cikamasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sama seperti di Jakarta. Terakhir kali warga meminum air sungai ini dan memanfaatkannya sebagai sumber penghidupan sekitar akhir tahun 1990.

Kerusakan alam di kawasan Puncak makin menjadi-jadi pada era reformasi mulai tahun 1998. Terjadi pembukaan hutan dan lahan produksi besar-besaran. Bermunculan deretan bangunan vila dan kios atau warung kumuh di setiap sudut Puncak. Sampah dan limbah cair deras dialirkan ke Cikamasan maupun sungai pembentuk hulu Ciliwung lainnya, seperti Ciesek, tak jauh dari Naringgul.

Sumber air baru

”Tepat di atas kampung kami juga berderet restoran dan tempat peristirahatan. Kami dapat melihat mereka membuang air kotor atau sampah langsung ke sungai. Ya, kami tidak lagi menggunakan air Cikamasan untuk minum atau memasak. Kalau tidak terpaksa, mandi pun tidak pakai air sungai ini,” kata warga Naringgul.

Adjat (50), warga Kampung Gunung Mas yang terletak di bawah Kampung Naringgul, menambahkan, kini warga menggunakan sumber air kecil yang dialirkan dari Telaga Warna, sekitar satu kilometer dari kampung itu. Dengan iuran rutin, warga juga membangun tempat penampungan sampah sendiri.

Adjat mengatakan, sejak beralih sumber air, warga desa berupaya menjaganya agar tidak dikotori sampah atau limbah apa pun. Masalah diatasi dengan menyatukan tempat pembuangan sampah. Bekerja sama dengan dinas kebersihan setempat, sampah diangkut rutin.

”Dibantu Badri Ismaya, pelopor penghijauan di bantaran sungai, warga pun digalang untuk rajin menanam pohon, mengganti yang sudah ditebang. Pokoknya, sekarang kami takut sekali terkena bencana dan berupaya bersama mengantisipasinya,” kata Adjat.

Untuk mengantisipasi banjir bandang, sejak pertengahan tahun 2008, warga setempat dan pemerintah daerah telah membangun semacam tanggul penahan arus di badan Cikamasan.

Ernan Rustiadi dari Institut Pertanian Bogor mengatakan, proyek pembangunan tanggul, seperti di Naringgul, atau kanal besar, seperti banjir kanal timur di Jakarta, memang akan membantu mengurangi luasan banjir. Namun, selama akar permasalahan penyebab banjir tidak diurai dan diselesaikan, bencana banjir, erosi, longsor, bahkan kekeringan (karena tidak ada lagi air bersih) akan terus mengancam.

”Persoalannya sudah terlalu besar, tetapi pemecahannya masih parsial. Setiap pemerintah daerah di Bogor atau Jakarta punya kebijakan sendiri, yang mungkin bakal berdampak pada makin hancurnya Ciliwung. Karena tidak ada ketegasan pengelolaan bersama ini, masyarakat juga makin liar,” kata Ernan.

Semua orang, terutama pemerintah, alpa bahwa Ciliwung yang mengalir sepanjang 100 kilometer lebih ini butuh penanganan bersama, kebijakan yang seragam. Banjir bandang di Naringgul hanya satu pesan, sebuah pembuka dari bencana besar yang mengancam jika manusia tetap bertahan dengan perilaku buruknya. (ONG/MUK/ELN/ LKT/MZW/WAS)

One Comment on “Kompas”

  1. James Says:

    In 1955 I could swim in the “kali Tjiliwung” which flooded behind our house on the Jalan Tjisedane in Jakarta (the water colour by then was chocolate milk brown. Sometimes there was a call “ikan mabok” and that was a sign to catch fish as much as you needed. The ‘binyawaks’ were sunbathing at the banks of our river. And sometimes we caught one to make money of it. More than 60 I returned to see our family house at that address. But it didn’t exist anymore and ‘my river’ was a black, heavy polluted dark river with an awful smell.
    Even for me as a retired air-force officer with a special assignment to monitor the environment in the workplaces of my squadron, it was very painful to be confronted with my heavy polluted country of birth. But I admire (and pray) for you young generation who is making a lot of efforts to restore the green environment in (y)our country. May God bless you in performing these brave attempts. You set a good example to your fellow countrymen.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: