Artha Graha

ARTHA GRAHA PEDULI “SUNGAI CILIWUNG BERSIH”

Sumber:http://www.arthagrahapeduli.org/  

Ciliwung …. Mendengar nama tersebut mungkin yang terlintas di pikiran kita adalah sebuah “got besar” berwarna keruh kehitaman dengan sampah teronggok di atasnya. Padahal cerita tempo dulu menyebutkan bahwa sekitar abad 15-16 Ciliwung merupakan sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, dibangun secara artistik mengalir di tengah kota. Bebas, tidak berlumpur,dan tenang. Menurut cerita itu, Ciliwung mampu menampung 10 kapal dagang dengan kapasitas sampai 100 ton masuk dan berlabuh dengan aman di Sunda kelapa. Banyak kapten kapal tersebut singgah untuk mengambil airnya yang segar untuk diisikan ke botol dan guci mereka. Para noni-noni Belanda juga senang berpiknik di tepian sungai itu sambil menikmati angsa-angsa yang hidup bebas di atas sungai Ciliwung. Berkat sungai ciliwung yang bersih, Batavia (nama Jakarta pada masa itu) mendapat julukan ‘Ratu dari Timur’, dari para pendatang asing karena keindahannya dan tidak kalah dengan Venezia. Sungai Ciliwung yang mengalir hampir sepanjang 120 km, yang alirannya melintasi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, sampai ke Jakarta, memiliki daerah pengaruhnya (daerah aliran sungai) seluas 387 km persegi.

picture8

Dilihat dari luasan yang dimiliki Sungai Ciliwung tersbut tidaklah mengherankan kalau dulu ketika Ciliwung masih dapat dilayari oleh perahu yang cukup besar sampai ke tengah kota, di daerah sekitar Jl. Gajah Mada dan Harmoni, sering diselenggarakan perayaan tahunan pek cun atau peh cun, yakni perayaan perahu berhias bagi masyarakat Tionghoa di Jakarta. Kini, cerita tersebut tinggal kenangan, air sungai sudah keruh ketika mencapai Jakarta, karena daerah alirannya merupakan tempat pembuangan limbah. Akibatnya, dasar sungai itu semakin dangkal dan alirannya semakin lambat. Jika hujan datang, wilayah disekitar Ciliwung akan terendam banjir. Saat ini, sekitar 2,5 persen timbunan sampah Jakarta di buang ke dalam Sungai Ciliwung setiap harinya dan dinilai sebagai penyebab utama banjir di Jakarta. Kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai harus digiatkan, kalau tidak ingin Ibu Kota ini tertimbun sampah di kemudian hari. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup, pada tahun 2007 saja limbah rumah tangga yang menjadi beban Ciliwung jumlahnya mencapai 338 ribu ton per tahun. Dari seluruh sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat, yakni sebanyak 76%, berasal dari berbagai daerah permukiman di wilayah DKI Jakarta.Berangkat dari kepedulian terhadap penanggulangan banjir tahunan yang kerap terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, berbagai perusahaan dalam lingkup Artha Graha Network yang tergabung dalam Yayasan Artha Graha Peduli pada hari Sabtu, 3 November 2012 mengerahkan lebih dari 200 personilnya bersama dengan warga yang tinggal di Kawasan Bantaran Sungai Ciliwung melakukan kegiatan pembersihan Sungai Ciliwung dan menyerahkan peralatan kebersihan kepada masyarakat.

picture10

Kegiatan ARTHA GRAHA PEDULI “SUNGAI CILIWUNG BERSIH” yang berkoordinasi dengan Camat dan Lurah setempat, dilakukan bergotong royong dengan warga sekitar bantaran Sungai Ciliwung khususnya warga RW 10 Kampung Melayu di wilayah Kampung Melayu diharapkan akan lebih dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta dapat menata bantaran sungai sebagai bagian dari halaman rumah mereka. Kegiatan ini merupakan gerakan kepedulian lingkungan Jakarta yang kesekian kalinya dari Artha Graha Peduli, baik di Ciliwung, Penanaman Bakau di Pantai Ancol, Gerakan Kebersihan Lingkungan, maupun Penghijauan di wilayah tetangga Jakarta yang berdampak langsung pada kondisi Jakarta.Kegiatan ini juga ditujukan untuk mengingatkan dan mengajak warga turut berperan dalam langkah mengantisipasi datangnya banjir di musim penghujan. ”Berbagi dan berbuat sesuatu yang positif untuk kebaikan lingkungan bersama merupakan perwujudan dari visi dari Artha Graha Network yaitu tumbuh dan berkembang bersama masyarakat serta mengedepankan kepedulian pada Masyarakat dan Lingkungan. Hal ini pun senada dengan filosofi AGN dan AGP yaitu ‘private owned but public utilities’, ujar Heru Dharsono Direktur Eksekutif Yayasan AGP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: