Artikel

Dulu Orang Belanda Minum Air Ciliwung

Oleh:  PAULUS LONDO

Sumber:  http://green.kompasiana.com/ 08 March 2012

7133176313258233291717536Perilaku sebagian warga membuang sampah ke sungai Ciliwung tidak berakar pada kebiasaan tradisional warga setempat yang berdiam di sepanjang bantaran sungai. Sebab sebaliknya, warga asli justru sangat memperhatikan kebersihan air sungai.

Dalam catatan sejarah, warga Jakarta tempo doeloe biasanya membuang sampah ke dalam lubang yang telah disediakan di halaman rumah. Baru disore hari, sampah itu dibakar untuk mengusir nyamuk. Kebiasaan membakar sampah ini disebut “nabun.”

Hingga akhir abad 19 dan awal abad 20, tidak hanya penduduk asli saja yang menggunakan air sungai Ciliwung untuk air minum, tapi juga orang-orang Belanda yang menetap di kota ini. Air sungai lazimnya ditampung terlebih dahulu di sebuah kolam yang dilengkapi dengan sejumlah pancuran. Penduduk dan para penjual air mengambil air dari di pancuran yang terdapat di berbagai tempat. Karena itu pula banyak tempat di Jakarta yang disebut “pancoran.”

Air sumur biasanya hanya dipakai untuk mencuci atau menyiram tanaman. Warga Jakarta tempo doeloe lebih memilih minum air sungai, baik dengan mengambilnya sendiri atau membeli dari penjual air yang menjajakan air sungai dengan gerobak.

Saat itu, air sungai Ciliwung masih sangat jernih dan belum terkontaminasi. Rasanya memang lebih sejuk dan segar dibanding dengan air sumur. Air sungai Ciliwung biasanya diminum begitu saja, tanpa proses penyaringan terlebih dahulu. Tapi seiring dengan pembukaan lahan di sekitar sungai, berbagai masalah kesehatan pun muncul terkait kebiasaan penduduk meminum air mentah dari sungai Ciliwung.

Pada abad ke- 18 dan dasa warsa pertama abad ke-19 itu, penyakit disentri, typhus, bahkan juga kolera. Ini terjadi karena air sungai Ciliwung yang sudah terkontaminasi. Kendati demikian, orang-orang Belanda dan para elite Jakarta waktu itu, lebih memilih minum air yang diambil dari sungai.

Belakangan, setelah air sungai Ciliwung di Jakarta sudah kurang baik bagi kesehatan, maka para elite Betawi yang kaya mendatangkan air minum dari daerah Bogor (1773). Air itu diambil dari sumber-sumber air di perbukitan di selatan kota Bogor. Istana gubernur jenderal Belanda adalah konsumen yang rutin menerima kiriman air dari mata air yang ada di selatan Bogor.

Sementara, mereka yang kantongnya pas-pasan, tetap memanfaatkan air dari sungai-sungai yang mengalir di Jakarta, tapi sudah melalui proses penyaringan sederhana. Caranya, air dari sungai diendapkan terlebih dahulu di dalam tempayan, dan disaring melalui celah-celah batu karang.

Dengan proses ini, air memang berubah jernih, namun tetap tidak bebas dari kuman-kuman penyakit. Kebiasaan memasak air minum baru dikenal belakangan setelah wabah kolera dan disentri semakin jadi menjadi ancaman terhadap kesehatan warga kota.

Sebenarnya, hingga saat ini, warga Jakarta masih mengandalkan air Ciliwung untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Tapi, tidak lagi mengambil dari ruas sungai yang mengalir di Jakarta, tapi langsung pada sumber-sumber airnya di kawasan Bogor Selatan. Salah satu diantara sumber air itu adalah mata air Ciburial di kawasan Megamendung. Air dari sumber ini, tentu tidak diangkut lagi dengan gerobak seperti tempo doeloe, tapi disalurkan melalui pipa air minum yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya.

Belakangan seiring dengan meningkatnya kebutuhan air minum di Ibukota Jakarta, muncul sejumlah perusahaan swasta yang bergerak di bidang pengadaan air minum, yang populer dikenal sebagai “air mineral.” Air minum dalam bentuk kemasan, diambil dari sumber-sumber air di pegunungan, di wilayah Bogor dan Sukabumi.

Jadi masalah, sumber-sumber air tersebut kini kelestariannya terancam. Perubahan fungsi lahan di sekitar mata air, berpotensi menimbulkan pencemaran sehingga air yang dikonsumsi penduduk menjadi tidak sehat lagi. Atau, sebagian dari sumber air itu mengering sehingga memicu bencana krisis air bersih.

Karena itu upaya untuk mengembalikan kawasan lindung di selatan Bogor kepada kondisi aslinya, patut didukung. Sebab hanya dengan demikian, warga Jakarta dan sekitarnya terhindar dari malapetaka krisis air bersih. Paulus Londo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: