Agus Astho Pramono

JASA LINGKUNGAN HUTAN BAGI MASYARAKAT LOKAL
DI DAS CILIWUNG HULU

(Forest Environmental Services for Local Community in Upstream Ciliwung Watershed)

Oleh / By : Agus Astho Pramono
Peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan Bogor, Jalan Pakuan Ciheuleut Po. Box 105 Bogor 16001 Telp./Fax. (0251) 327768

JURNAL Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol. 6 No. 1 Maret 2009, Hal. 39 – 51

Downsload file: JASA LINGKUNGAN HUTAN   

ABSTRACT

Land degradation of upstream Ciliwung watershed (Puncak area) have caused serious problems, annual floods to the downstream region. This research analyzed the local community perception on forest benefits and valuation of forest environmental services that was predicted as leading factors for the mismanagement of upstream Ciliwung watershed. The samples were taken by purposive sampling. Local community perceptions were analyzed descriptively and environment services of forest were valued with contingent valuation method. Land conservation and amenity functions are the main benefits of forest environmental services for local people in Tugu Utara and Batulayang villages, while providing timbers, fuel woods and fruits is the main forest benefit for the local people in Gadog and Sukakarya villages. The value of forest  environmental services according to the WTP was Rp 0.62/m /year in Cisarua subdistrict and Rp 0.71/m /year in Megamendung subdistrict. The values of WTP were influenced by respondents opinion about the environmental condition of Puncak region, and the households income.

Key words : Forest, economic valuation, environmental services, land use changes, watershed, willingness to pay,

ABSTRAK

Degradasi lahan di DAS Ciliwung hulu (wilayah Puncak) telah menimbulkan masalah serius, banjir tahunan, bagi wilayah di bagian hilirnya. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui persepsi masyarakat lokal terhadap manfaat hutan dan penghargaan masyarakat lokal terhadap jasa lingkungan hutan yang diperkirakan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kekeliruan pengelolaan lahan di DAS hulu. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive. Persepsi masyarakat dianalisis secara deskriptif dan nilai jasa lingkungan dihitung dengan contingent valuation method. Konservasi lahan dan kenyamanan adalah manfaat utama yang dirasakan masyarakat lokal di Desa Tugu Utara dan Batulayang, sedangkan menghasilkan kayu, bahan bakar dan buah merupakan manfaat utama yang dirasakan oleh masyarakat di Desa Gadog dan Sukakarya. Nilai jasa lingkungan hutan berdasarkan perhitungan WTP adalah sebesar Rp 0,62/m /th di Kecamatan Cisarua dan Rp 0,71/m /th di Kecamatan Megamendung. Nilai WTP dipengaruhi oleh pendapat responden terhadap kondisi lingkungan di wilayah Puncak dan penghasilan keluarga.

Kata kunci : DAS, hutan, konversi lahan, jasa lingkungan, valuasi ekonomi, kesediaan membayar.

I. PENDAHULUAN

Di Kabupaten Bogor pada tahun 2001, tingkat kerusakan sumberdaya hutan dan  lahan menurut penelitian Suwarno (2004) seluas 19.109,50 ha (62,86%) di lahan milik  masyarakat, dan seluas 11.290,36 ha (37,14%) di dalam kawasan hutan. Kerusakan hutan  seperti ini umum terjadi di negara-negara berkembang yang disebabkan oleh bertambahnya populasi (baik manusia maupun hewan), kegiatan pertanian dan ektraksi bahan mentah  (Wakeel et al. 2005). Hasil penelitian Heikal (2004) menunjukkan bahwa berkurangnya hutan  menyebabkan fungsi hidrologis dari DAS Ciliwung Hulu semakin berkurang. Fungsi  hidrologis ini menurut penelitian Nurfatriani dan Nugroho (2007) memiliki nilai ekonomi  yang besar. Selain itu, pelumpuran dan banjir kiriman ke wilayah hilir sebagai akibat dari melemahnya fungsi hidrologis ini juga telah banyak mengakibatkan kerugian.

Untuk mencegah berlanjutnya degradasi lahan di DAS Ciliwung hulu sebagai akibat  dari berkurangnya lahan berhutan, perlu dilakukan upaya konservasi melalui pengendalian  konversi dan pengembangan hutan. Upaya ini memerlukan keterlibatan masyarakat, dan  keberhasilannya sangat ditentukan oleh seberapa besar penghargaan masyarakat terhadap  keberadaan hutan. Konversi lahan hutan milik masyarakat akan terus berlanjut apabila  masyarakat sendiri memiliki kecenderungan menghargai sumberdaya hutan terlalu rendah  (under valuation), dan selama usahatani hutan rakyat kurang menguntungkan dibanding dengan  penggunaan lahan untuk keperluan lainnya, misalnya pertanian. Banyak penelitian  melaporkan bahwa karena pertimbangan nilai ekonomi, kegiatan pertanian telah banyak  mengakibatkan terjadinya deforestasi dan alih fungsi lahan (Angelson, 1999; Barbier, E. B. 2004; McConnell, et al. 2004; Wakeel et al. 2005).

Mengingat pentingnya jasa lingkungan dari keberadaan hutan di DAS maka dewasa ini  pengelolaan hutan menghadapi permasalahan yang komplek untuk memadukan kebutuhan  dari berbagai pengguna, yaitu: pemerintah berharap untuk memobilisasi potensi ekonomi  dan ketenagakerjaan dari sumberdaya yang dapat diperbaharui; pengusaha swasta berusaha  keras untuk meningkatkan keuntungan yang dihasilkan oleh aktivitas mereka dan  persaingannya dengan investasi alternatif; penduduk lokal terutama di daerah perdesaan  mengandalkan hutan sebagai sumber utama bagi bahan bakar, bahan konstruksi, bahan  pangan, pakan ternak dan penghasilan mereka, selain itu hutan juga bisa merupakan bagian  dari dasar budaya mereka; publik berharap hutan menjadi komponen penting untuk stabilitas  dan kenyamanan lingkungan lokal; selain itu akhir-akhir ini juga telah terjadi peningkatan  perhatian masyarakat tentang peranan hutan dalam perubahan iklim global dan konservasi biodiversitas (Montalambert dan Schmithusen 1993).

Tujuan penelitian adalah 1) untuk mengidentifikasi manfaat hutan rakyat dari sudut  pandang masyarakat pengelola lahan di DAS Ciliwung hulu, 2) nilai ekonomi dari keberadaan  hutan menurut masyarakat di DAS Ciliwung secara umum, dan 3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai ekonomi dari keberadaan hutan.

II. METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Analisis

Hutan mempunyai multi-fungsi yang bersifat komplek dan mencakup hajat orang  banyak dalam wilayah yang luas, paling tidak satu daerah aliran sungai. Hutan menghasilkan  manfaat yang bernilai ekonomi, seperti kayu, bahan pangan, dan obat-obatan. Nilai ekonomi  dari produk ini berperan penting dalam menentukan keputusan pengelola lahan untuk  mempertahankan hutan atau mengkonversinya untuk investasi lain. Hutan juga memberi  manfaat bagi lingkungan, karena rusaknya hutan berdampak buruk terhadap lingkungan  seperti erosi tanah, sedimentasi pada sumber air, banjir, dan kekeringan (Tomich, et al. 2004).  Jasa lingkungan dari keberadaan hutan ini bisa dirasakan di wilayah itu sendiri (on-site effect), dan  di wilayah sekitarnya (off-site effect), namun nilainya secara ekonomi tidak tertangkap oleh pengelola hutan karena kegagalan pasar dalam mentransaksikannya.

Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung nilai ekonomi  sumberdaya yang tak terpasarkan. Contingen valuation methods (CVM) yang digunakan untuk  mengukur nilai pasif sumberdaya alam atau sering dikenal dengan nilai keberadaan, adalah  teknik yang paling umum digunakan untuk menilai sumberdaya lingkungan yang tak  terpasarkan (Fauzi, 2004; Kramer and Mercer, 1997). Metode yang digunakan dalam CVM  terdiri dua macam, yaitu willingness to pay (WTP) yang bertujuan untuk mengetahui keinginan  membayar dari masyarakat terhadap perbaikan kualitas lingkungan, dan willingness to accept  (WTA) untuk mengetahui keinginan menerima kerusakan lingkungan. Pemilihan teknik ini  didasarkan pada hak kepemilikan. Jika individu yang ditanya tidak memiliki hak atas barang  dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam, maka pengukuran yang relevan adalah willingness to pay (Fauzi, 2004).

Gambar 1. Kerangka pemikiran tentang jasa lingkungan hutan bagi masyarakat lokal dan valuasi ekonominya dengan metode willingness to pay (WTP).
(Figure 1). (Logical framework of forest environmental service for people and valuation of its economic (WTP) by willingness to pay)

Analisis WTP telah banyak digunakan untuk melakukan penilaian terhadap jasa  lingkungan dari hutan dan perbaikan kualitas lingkungan di daerah aliran sungai (Hanley et al.  2003; Kramer and Mercer,1997; Maxwell, S. 1994; Pattanayak and Butry, 2005; Tyrvainen,  2001,). Dalam analisis WTP ini dilakukan pembentukan pasar hipotetik yaitu kualitas  lingkungan dari kawasan Puncak yang lebih baik dari kondisi pada saat ini, melalui upaya  pencegahan konversi hutan, penghijauan dan pengembangan hutan rakyat. Kesediaan  membayar masyarakat untuk membayar perbaikan lingkungan ini menggambarkan manfaat ekonomi dari keberadaan hutan.

B. Data dan Metode Pengambilan Contoh

Data diperoleh dari wawancara dengan masyarakat yang dilakukan dengan cara  perbincangan langsung dengan menggunakan kuisioner. Data diperoleh dari pendapat  masyarakat khususnya petani, baik yang melakukan usaha hutan rakyat maupun yang tidak,  tokoh masyarakat dan aparat setempat (kantor desa dan kecamatan).

Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Penentuan desa  terpilih dilakukan berdasarkan informasi dari instansi setempat dan tokoh masyarakat yang  memahami kondisi kehutanan di DAS Ciliwung hulu yaitu: Kantor BPDAS Ciliwung dan  Citarum, kantor kecamatan, kantor desa dan ketua kelompok tani hutan, dan dari data  sekunder yaitu laporan dan peta, serta dari pengamatan di lapang. Sampel yang dipilih adalah  daerah yang memiliki wilayah hutan rakyat yang relatif luas yang berada di wilayah paling hulu  dari DAS Ciliwung dan wilayah yang lebih hilir. Wilayah penelitian diwakili oleh 2 kecamatan  yaitu Kecamatan Cisarua dan Kecamatan Megamendung masing-masing diwakili oleh 2 desa,  yaitu Desa Batulayang, dan Tugu utara (Kec. Cisarua), Desa Gadog dan Sukakarya (Kec. Megamendung).

 

Total sampel untuk analisis persepsi masyarakat tentang lingkungan dan manfaat  hutan dari keempat desa adalah 70 sampel. Respondennya adalah rumah tangga yang  memiliki lahan yang ditanami pohon-pohonan atau yang berbentuk hutan rakyat. Responden  untuk analisis WTP adalah masyarakat secara umum, baik yang memiliki hutan rakyat  maupun tidak, dengan jumlah total responden 80 orang. Survey dilakukan dari bulan Juni sampai bulan Agustus tahun 2005.

C. Pengolahan dan Analisa Data

1. Persepsi masyarakat pengelola lahan terhadap lingkungan dan manfaat hutan 

Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi tentang manfaat keberadaan hutan di  wilayah DAS Ciliwung hulu khususnya kawasan Puncak yang dirasakan oleh masyarakat  khususnya yang mengelola lahan pertanian yang berada di kawasan tersebut. Data yang  dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan pengetahuan petani tentang budidaya wanatani dan pemasaran hasilnya, dan pengetahuan tentang lingkungan manfaat hutan.

2. Kesediaan membayar (Wilingness to pay) jasa lingkungan

Dalam analisis WTP dilakukan penentuan nilai lelang terhadap pasar hipotetik yang ditawarkan kepada responden dengan teknik pertanyaan terbuka. Responden diberi kebebasan untuk menyebutkan nilai rupiah yang ingin dibayar (Fauzi, 2002). Nilai dari WTP setiap individu kemudian dihitung rataannya. Nilai WTP total diperoleh dengan mengalikan nilai rataan WTP dengan jumlah rumah tangga.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan besaran nilai WTP dilakukan analisis regresi linear terhadap beberap faktor yang diduga berpengaruh. Analisis dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 11,5. Dalam analisis ini variabel terikatnya adalah WTP, dan variabel bebasnya adalah pendapat responden terhadap kondisi lingkungan di Puncak, penghasilan keluarga responden, umur, pendapat responden terhadap manfaat hutan, pendidikan responden, pendapat responden terhadap konversi hutan, dan keaktifan responden dalam organisasi sosial.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden

1. Responden untuk persepsi tentang manfaat hutan

Di Kecamatan Cisarua sebagian besar responden 85,3% adalah berpendidikan rendah yaitu pernah sekolah setingkat SD walaupun tidak semuanya lulus, dan 8,8% tidak pernah sekolah. Setengah dari para pengelola lahan ini berumur antara 31 sampai 50 tahun. Di Desa  Tugu Utara sebagian besar pekerjaan utama responden adalah bukan petani. Kegiatan  pertanian yang mereka lakukan hanya sebagai pekerjaan tambahan. Penjaga villa, tukang atau   buruh bangunan merupakan pekerjaan utama mereka. Penghasilan responden di Kecamatan  Cisarua yang didasarkan pada pengeluaran keluarga setiap bulannya antara Rp 356.500 sampai  Rp 2.195.000. Sebagian besar (55,9%) berpenghasilam antara Rp 500.000 sampai Rp 1 juta.  Dengan pendapatan tersebut mereka sebagian besar (67,6%) menanggung keluarga   sebanyak 3-5 orang dan hanya 1-2 orang anggota keluarganya yang berumur produktif. Secara detil karakteristik responden ditampilkan pada Tabel 2.

2. Responden untuk analisis Willingness to Pay

Berdasarkan pekerjaan utamanya sebagian besar dari responden adalah petani dan  karyawan/buruh. Pendapatan keluarga responden berkisar antara Rp 357.000 per bulan  sampai dengan 3 juta rupiah per bulan. Rata-rata penghasilan responden di Cisarua adalah  Rp 1.001.171/bulan atau Rp 12.014.050/tahun dan di Megamendung adalah Rp 1.001.417/  bulan atau Rp 12.017.000/tahun. Umur responden antara 27 dan 70 tahun. Pendidikan  responden mulai dari yang tidak pernah sekolah sampai tingkat sarjana. Karakteristik responden secara detil ditampilkan pada Tabel 3.

B. Persepsi Masyarakat terhadap Lingkungan dan Hutan

1. Persepsi tentang lingkungan dan manfaat hutan

Sebagian besar masyarakat di Desa Sukakarya, merasakan bahwa kondisi lingkungan  di kawasan Puncak semakin hari semakin memburuk. Berbeda dengan responden di Desa  Tugu Utara yang merasakan bahwa kondisi alam di kawasan Puncak biasa saja atau semakin baik (Gambar 2).

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang manfaat hutan di Desa Tugu Utara  dan Batulayang, yaitu tentang manfaat lahan berhutan bagi penyediaan air tanah, penahan  erosi, sedimentasi sungai dan pencegah banjir atau out site effect, relatif tinggi. Di Tugu Utara  dan Batulayang, masyarakat juga lebih merasakan manfaat tanaman hutan untuk upaya  konservasi lahan, penghijauan dan kenyamanan, dibanding dengan masyarakat di Gadog dan  Sukakarya yang berada pada wilayah yang lebih hilir. Pendapat demikian mencapai 86% di  Tugu Utara dan 77% di Batulayang. Masyarakat yang berada di Gadog dan Sukakarya  merasakan manfaat utama dari pohon-pohonan atau hutan adalah untuk menghasilkan buahbuahan dan kayu. Responden yang berpendapat demikian di Desa Gadog mencapai 100%.


Sebagian masyarakat, terutama para petani penggarap lahan sawah di Desa Gadog,  lebih suka apabila pohon-pohonan atau hutan di sekitar lahan pertanian mereka ditebang  atau dikonversi untuk penggunaan lainnya. Di desa ini pendapat bahwa konversi lahan  berhutan menjadi perumahan, pertanian atau penggunaan lainnya yang lebih menguntungkan  disetujui oleh sebagaian besar (67%) responden. Di tiga desa lainnya, pada umumnya  responden tidak setuju terhadap konversi hutan. Di Desa Tugu Utara, Batulayang dan  Sukakarya berturut-turut sebanyak 96%, 86% dan 72% responden berpendapat bahwa konversi hutan adalah buruk.

Pendapat bahwa konversi lahan berhutan adalah baik terutama dikemukakan oleh  petani-petani penggarap lahan basah di Desa Gadog yang tidak melakukan kegiatan  agroforestri. Mereka berpendapat bahwa tanaman tahunan (pohon-pohonan) mengganggu  pertumbuhan tanaman pertanian yang berada di sekitarnya. Pohon-pohonan di sekitar lahan  pertanian bisa menjadi sarang bagi hama, misalnya burung. Berdasar perbincangan selama  wawancara, mereka cenderung melihat bahwa perubahan hutan menjadi kawasan perumahan  dan infrastruktur lainnya menunjukkan bahwa desa telah mengalami kemajuan. Adanya  lahan-lahan yang dikembangkan untuk kebun campur diduga karena kondisi biofisik dari  lahan tersebut memang tidak potensial untuk kegiatan budidaya di luar agroforestri, misalnya pada lahan-lahan yang sangat miring.

Di Desa Tugu Utara, Batulayang dan Sukakarya pengetahuan masyarakat tentang  fungsi hutan sudah relatif tinggi. Sebagian besar masyarakat di Desa Sukakarya, merasakan  bahwa kondisi lingkungan di kawasan Puncak semakin hari semakin memburuk. Berbeda  dengan responden di Desa Tugu Utara yang merasakan bahwa kondisi alam di kawasan  Puncak biasa saja atau semakin baik. Hal ini diduga karena lahan di Tugu Utara menjadi lebih  baik karena pada awalnya sebagian besar lahan pertanian yang sekarang ini ada merupakan  perkembangan dari lahan terbuka hasil rambahan kebun teh. Dalam rentang waktu 10 tahun  terakhir, sebagian lahan di kedua desa ini mulai tertanami tanaman tahunan karena aktivitas  sebagian petani dan aktivitas penghijauan, sehingga dirasakan adanya peningkatan kualitas  lingkungan. Berbeda dengan Desa Gadog dan Sukakarya, lahan di wilayah mereka pada  awalnya didominasi oleh lahan pertanian dan lahan agroforestri, kemudian lahan-lahan ini semakin hari mulai terdesak oleh pemukiman.

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang manfaat hutan di Desa Tugu Utara  dan Batulayang relatif tinggi dibanding dengan masyarakat di Gadog dan Sukakarya yang  berada pada wilayah yang lebih hilir. Kondisi ini terjadi karena, wilayah DAS Ciliwung paling  hulu yaitu Kecamatan Cisarua, khususnya daerah Tugu Utara dan Batulayang merupakan  wilayah yang menjadi perhatian penting bagi pemerintah maupun masyarakat, sehingga di  wilayah ini banyak berlangsung kegiatan-kegiatan proyek, penelitian, dan studi banding yang  berkaitan dengan konservasi lahan. Kegiatan-kegiatan ini seringkali melibatkan masyarakat  setempat sehingga pengetahuan masyarakat tentang lingkungan menjadi relatif tinggi.  Berbeda dengan di Desa Gadog, selain wilayah ini jarang mendapatkan kegiatan penghijauan  dari pemerintah, mereka juga telah lama mengenal usaha agroforestri sehingga mereka telah  merasakan manfaat utama dari pohon-pohonan atau hutan yaitu sebagai penghasil buahbuahan dan kayu.

2. Persepsi terhadap Usaha Wanatani

Pengetahuan responden akan usaha wanatani, yang digambarkan dengan  pengetahuan mereka terhadap harga bibit, harga kayu dan tempat menjual kayu, di Desa  Gadog dan Sukakarya lebih baik daripada responden yang berada di wilayah atas yaitu Batulayang dan Tugu Utara.

 

Sebagian dari responden, yang tidak melakukan kegiatan agroforestri, berpendapat  bahwa tanaman tahunan (pohon-pohonan) mengganggu pertumbuhan tanaman pertanian  yang berada di sekitarnya. Pendapat demikian terutama dikemukakan oleh petani-petani  penggarap lahan basah. Selain beberapa petani juga berpendapat bahwa pohon-pohonan di sekitar lahan pertanian bisa menjadi sarang bagi hama, misalnya jenis-jenis burung.

Pengetahuan terhadap usaha wanatani di Desa Gadog dan Sukakarya lebih baik  daripada petani di wilayah atas yaitu Batulayang dan Tugu utara. Hal ini diduga karena  masyarakat petani di Gadog dan Sukakarya telah berpengalaman dalam jual beli hasil pohon  hutan dari lahan kebun campur telah lama mereka kembangkan, sementara petani di Tugu  utara dan Batulayang kebanyakan merupakan petani yang mengembangkan tanaman sayuran pada lahan terbuka bekas perkebunan teh.

3. Nilai Jasa Lingkungan Hutan

Diperoleh rata-rata WTP sebesar Rp. 21.684,21 /tahun, di Cisarua dan Rp 24.690,48/  tahun di Megamendung. Sehingga total dari nilai jasa lingkungan yaitu nilai dari perbaikan  lingkungan melalui perlindungan hutan, penghijauan dan pengembangan hutan rakyat untuk  seluruh rumah tangga di Kecamatan Cisarua (jumlahnya 21.234) adalah sebesar  Rp 460.442.526,32/th. Di Megamendung yang jumlah rumah tangganya 17.994 total nilai  jasa lingkungannya sebesar Rp 444.280.497,12 /th. Berdasarkan luas wilayahnya Kecamatan Cisarua yang memiliki luas 741.069.000 m maka nilai jasa lingkungan per satuan luas adalah  Rp 0.62/m /th, sedangkan di Megamendung yang memiliki luas 623.997.000 m maka nilai  jasa lingkungannya adalah Rp 0.71/m /th.

Dari hasil analisis WTP menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat tentang manfaat  hutan bagi lingkungan masih rendah. Jika dibandingkan dengan penghasilan responden maka   WTP di Kecamatan Cisarua nilainya hanya sebesar 0,18% dari penghasilannya dan di  Kecamatan Megamendung hanya 0,21% dari penghasilan keluarganya. Ini menunjukkan  bahwa penghargaan masyarakat di DAS Ciliwung hulu terhadap jasa lingkungan sangatlah  rendah. Mereka cenderung berpandangan jangka pendek (myopic view), tentang kondisi yang  mereka rasakan saat ini, dan tidak mempertimbangkan resiko dari semakin berkurangnya hutan bagi lingkungan hidup mereka di masa mendatang.

Berdasarkan analisis regresi diketahui bahwa variabel yang berpengaruh terhadap  besarnya WTP di kawasan Puncak adalah: pendapat responden terhadap kondisi lingkungan  di Puncak dan penghasilan keluarga responden. Faktor-faktor lain seperti umur, pendapat  responden terhadap manfaat hutan, pendidikan, pendapat responden terhadap konversi  hutan, dan keaktifan responden dalam organisasi sosial, tidak berpengaruh nyata terhadap besaran nilai WTP.

Hasil analisis regresi dengan metode bertatar (stepwise) menghasilkan model regresi linear terbaik untuk nilai WTP sebagi berikut:

2 Wi = -2.111,431 + 0,0197 G + 15.009,832 D R = 0,496
(5933.432) (0,005,311) (5.646,900)

dimana:

G = Pendapatan keluarga responden per bulan (Rp/bulan)
D = Pendapat responden terhadap kondisi lingkungan di wilayah Puncak (1 = Kondisi  lingkungan di Puncak semakin hari semakin buruk, 0 = Kondisi lingkungan di Puncak baik-baik saja)

Dari hasil regresi tersebut menunjukkan bahwa persepsi tentang lingkungan ini  berpengaruh nyata terhadap nilai WTP. Responden yang beranggapan bahwa kondisi  lingkungan di puncak semakin buruk secara nyata bersedia membayar lebih banyak untuk perbaikan kualitas lingkungan dibanding dengan responden lainnya.

Dari hasil penelitian ini dapat dipahami bahwa saat ini resiko semakin berkurangnya  wilayah hutan di DAS Ciliwung hulu masih tinggi, karena jasa lingkungan dari hutan bagi  masyarakat setempat tidak menjadi bahan pertimbangan yang penting dalam memutuskan  penggunaan lahan. Dengan demikian perlu adanya upaya untuk meningkatkan pendidikan  dan kesadaran tentang lingkungan bagi masyarakat setempat. Dengan meningkatnya  kesadaran akan fungsi hutan bagi lingkungan maka diharapkan masyarakat berkeinginan  untuk mempertahankan atau mengembangkan hutan yang ada di wilayah mereka. Dari hasil  analisis regresi juga menunjukkan bahwa kesediaan membayar ini dapat ditingkatkan melalui  upaya peningkatan pendapatan masyarakat. Berkaitan dengan upaya mempertahanakan DAS  Ciliwung hulu sebagai kawasan konservasi air dan tanah maka upaya peningkatan pendapatan ini haruslah berbasis pengelolaan sumberdaya yang ramah lingkungan.

Nilai jasa lingkungan yang didasarkan nilai WTP lokasi penelitian ini hanya  menggambarkan pengaruhnya terhadap masyarakat di wilayah DAS hulu itu sendiri, Off site  effect yang dirasakan oleh masyarakat hilir atau masyarakat yang lebih luas yang melampaui  wilayah DAS tidak tercakup dalam penelitian ini. Karena penghargaan masyarakat di wilayah  hulu terhadap jasa lingkungan sangat kecil maka implikasi dari hasil penelitian ini adalah  bahwa upaya konservasi lahan di DAS Ciliwung hulu tidak bisa mengandalkan hanya pada  inisiatif masyarakat atau pemda setempat. Diperlukan instrumen ekonomi dalam upaya  menahan laju konversi hutan dan mengembangkan hutan rakyat. Menurut Tomich et al.  (2004) terdapat 2 macam kebijakan yang dapat digunakan untuk mengendalikan konversi  lahan yaitu: (1) regulasi, dan (2) rewards, berupa insentif untuk jasa lingkungan, baik dalam  bentuk positive rewards (misalnya: pembayaran, subsidi untuk investasi) atau dapat juga dalam  bentuk negative rewards (misalnya: pajak, penalti, dan sanksi lainnya). Penerapan kebijakan ini  perlu persiapan yang matang karena Tomich et al. (2004) memperingatkan bahwa dalam  prakteknya perundang-undangan yang ditujukan untuk melindungi hutan sering tidak efektif,  karena biaya transaksi yang tinggi sebagai akibat dari insentif yang tidak tepat sasaran dan keterbatasan kapasitas administrasi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Sebagian besar petani di Tugu utara dan Batulayang yang berada di DAS Ciliwung  paling hulu merasakan manfaat utama dari hutan adalah untuk konservasi lahan (mencegah  tanah longsor), dan kenyamanan (keteduhan, kesejukan). Sedangkan di Desa Gadog dan  Sukakarya yang tempatnya lebih hilir dan lebih rendah sebagian besar petani lebih merasakan
manfaat hutan untuk diambil buah dan kayunya.

Nilai WTP masyarakat di DAS Ciliwung hulu rata-rata sebesar = Rp. 24.690,48 /th di  Megamendung dan Rp 21.684,21 /th di Cisarua. Total dari nilai perbaikan lingkungan melalui  perlindungan hutan, penghijauan dan pengembangan hutan rakyat untuk seluruh rumah  2 tangga di kawasan DAS Ciliwung hulu sebesar Rp. 460.442.526 /th atau Rp 0.62/m /th di  2 Kec. Cisarua dan Rp. 444.280.429 /th atau Rp 0.71/m /th di Kec. Megamendung.

Besarnya WTP di kawasan Puncak dipengaruhi secara nyata oleh pendapat responden  terhadap kondisi lingkungan di Puncak, dan penghasilan keluarga responden. Faktor-faktor  lain seperti umur, pendapat responden terhadap manfaat hutan, pendidikan, pendapat  responden terhadap konversi hutan, dan keaktifan responden dalam organisasi sosial, tidak berpengaruh nyata.

B. Saran

Berdasarkan kesanggupan membayar (nilai WTP), masyarakat di DAS Ciliwung hulu  menghargai nilai jasa lingkungan sangat rendah. Karena nilai WTP dipengaruhi oleh persepsi  masyarakat tentang kondisi lingkungan dan tingkat penghasilan keluarga, maka untuk  meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap hutan perlu adanya upaya peningkatan  pendidikan dan kesadaran tentang lingkungan dan upaya untuk meningkatkan pendapatan  perkapita masyarakat. Pengembangan ekonomi di wilayah Puncak hendaknya berbasis pada  sektor-sektor unggulan yang ramah lingkungan dan memberikan multiplier effect terhadap peningkatan pendapatan masyarakat setempat. misalnya: wanawisata, dan agrowisata.

DAFTAR PUSTAKA

Angelson, A. 1999. Agricultural expansion and deforestation: modeling the impact of  population, market forces and property rights. Journal of Development Economics. Vol. 58, pp 185-218.

Barbier, E. B. 2004. Explaining agricultural land expansion and deforestation in developing countries. American Journal Agricultural Economics. No. 5, pp 1347-1353.

Fauzi, A. 2001. Prinsip-prinsip Penelitian Sosial Ekonomi: Panduan Singkat. Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Fauzi, A. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Teori dan Aplikasi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Hanley, N.; F. Schlapfer, and J. Spurgeon. 2003. Aggregating the benefits of environmental  improvements: distance-decay functions for use and non-use values. Journal of Environmental Management. No. 68, pp 297304

Heikal, 2004. Model Estimasi Debit Aliran Sungai Berdasarkan Perubahan Penggunaan  Lahan di Sub DAS Cliwung Hulu, Jawa Barat [skripsi]. Bogor. Departemen Tanah. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Kramer, R.A. and D.E. Mercer. 1997. Valuing a global environmental good: U.S. resident’  willingness to pay to protect tropical rain forrests. Land Economics. Vol.72, No.2, pp 196-210.

McConnell, W.J; S. P. Sweeney, B. Mulley. 2004. Physical and social access to land: spatiotemporal  patterns of agricultural expansion in Madagascar. Agriculture, Ecosystems and Environment No.101, pp 171184.

Maxwell, S. 1994. Valuation of rural environmental improvements using Contingent  Valuation Methodology: a case study of the Marston Vale Community Forest Project. Journal of Environmental Management. No.41, pp 385-399.

Montalambert, M.R. de, F. Schmithusen. 1993. Policy and legal aspect of sustainable forest management. Unasylva. Vol.44, No.175, pp 3-9.

Nurfatriani, F dan Nugroho, I. A. 2007. Manfaat hidrologis hutan di hulu DAS Citarum  sebagai jasa lingkungan bernilai ekonomi. Info Sosial dan Ekonomi Kehutanan. Vol. 7, No. 3, pp 175-194.

Pattanayak, S.K. and D.T. Butry. 2005. Spatial complementarity of forests and farms:  accounting for ecosystem services. American Journal Agricultural Economics. Vol. 87, No.4, pp 9951008.

Suwarno, J. 2004. Analisis Model Pengelolaan Sumberdaya Hutan di Daerah Kabupaten  Bogor [tesis]. Bogor. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Tomich, T.P; D. E. Thomas; and M. van Noordwijk. 2004. Environmental services and land  use change in Southeast Asia: from recognition to regulation or reward? Agriculture,  Ecosystems and Environment. No.104. pp 229244

Tyrvainen, L. 2001. Economic valuation of urban forest benefit in Finland. Journal of Environmental Management. No. 62, pp 75-92.

Wakeel, A; K.S. Rao; R.K. Maikhuri and K.G. Saxena. 2005. Forest management and land  use/cover changes in a typical micro watershed in the mid elevation zone of Central Himalaya, India. Forest Ecology and Management. No.213, pp 229242.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: