Suwardi

DAS Ciliwung dan Mitigasi Banjir di DKI

Oleh : Suwardi, St.

Sumber:  http://www.kabarindonesia.com/ 19 Februari 2008

KabarIndonesia – Banjir di Jakarta yang terjadi pada awal 2008 ini ditaksir telah mengakibatkan kerugian ekonomi melebihi 7 triliun rupiah dan mengindikasikan banyaknya masalah terkait dengannya (Momberg F. & Kirana C.) seperti:

a). Hilangnya kelestarian wilayah kawasan penyimpan air di Jabodetabek.

Situ, danau, rawa dan hutan bakau, berperan penting sebagai penyimpan air yang mengurangi volume banjir. Kelestarian kawasan ini merupakan keharusan. Jakarta terus kehilangan kawasan lahan basah demi kawasan real estate, perindustrian, lapangan golf dan sebagainya. Hutan bakau Angke Kapuk, pada 1980-an masih menutupi areal seluas 1.500-an hektare, merosot tajam menjadi 327 hektare saja pada tahun 1993.

b). Konversi besar-besaran ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air di jabodetabek dan bopunjur.

Penghijauan Kota Jakarta adalah isu usang yang berulang diusung pemerintah DKI. Tak kurang dari delapan program penghijauan diluncurkan sejak 1970 hingga yang terkini Program Jakarta Hijau (2003). Anehnya, target luasan ruang terbuka hijau (RTH) yang ingin dicapai justru terus menurun tajam. Jika dalam Rencana Induk Djakarta 1965-1985 ditargetkan luas RTH sebesar 37,2 persen, maka dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Jakarta 1985-2005 target luas RTH dipangkas menjadi 25,85 persen. (Nirwono Jogo, Kompas, 19 Juni 2003). Selanjutnya, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2000-2010 dengan target hanya sebesar 13,94 persen (tidak ideal). Sementara itu, luas RTH di lapangan hanya berkisar 9% dari total luas Kota Jakarta.

c). Menurunnya kualitas lahan hijau di pekarangan bangunan.

Sebenarnya pemerintah telah memiliki peraturan yang jelas tentang Koefisien Dasar Bangunan (KDB) yang mengatur perbandingan antara luas dasar bangunan dan tanah yang ditempatinya. KDB untuk masing masing wilayah, diatur bervariasi tergantung kepada peruntukkannya. Sebagai contoh, menurut RUTR DKI, di Jakarta Selatan wilayah pengembangan Selatan untuk pelestarian lingkungan dan resapan air KDB nya 20% saja – ini berarti jika luas tanah 100 meter persegi, maka bangunan diatasnya maksimun seluas 20 meter persegi.

d). Tidak optimalnya setiap bangunan memiliki sumur resapan

Sumur resapan, menampung air hujan di dalam tanah, membantu memperkecil volume air mengalir dan banjir. Potensi air hujan di wilayah DKI diperkirakan mencapai tiga milliar kubik per tahun (Dinas Pertambangan DKI). Menurut Neraca Keseimbangan Lingkungan Hidup Daerah (NKLHD) 2001, dari luas wilayah Jakarta sebesar 661 kilometer persegi, 92 persen diantaranya telah terbangun, akibatnya air hujan langsung mengalir di permukaan dan kurang meresap ketanah. Ini menyebabkan banjir di musim hujan dan kesulitan air bersih dimusim kering. Guna mengisi kembali air tanah sebagai cadangan air, dan mengurangi resiko banjir diperlukan gerakan pembangunan sumur resapan air hujan di seluruh Jakarta.

e). Rusak dan tersemarnya sempadan sungai

Tanaman di sepanjang sempadan sungai, berfungsi mencegah erosi dan longsor. Sempadan sungai yang banyak ditumbuhi pohon akan mengurangi kecepatan aliran air hingga kerusakan berkurang. Diperlukan upaya serius untuk mewujudkan kawasan selebar 25 meter dari bibir kanan dan kiri sungai sungai besar (5 meter pada sungai kecil) menjadi kawasan penyimpan air yang efektif. Penegakan hukum terhadap operasi pembuangan ilegal dengan menutup dan merehabilitasi gunung-gunung sampah di bantaran sungai, dan memberikan subsidi untuk sistem pengumpulan sampah di kelurahan-kelurahan miskin sepanjang sempadan sungai. Dalam jangka menengah, pengembangan sistem daur ulang sampah dan pengomposan sampah organik berbasis masyarakat dapat lebih jauh menjawab persoalan di akarnya.

Beberapa permasalahan di atas hanya dapat mungkin disolusikan jika didukung oleh proses perencanaan lingkungan yang baik. Pendekatan ekosistem yang telah berkembang sangat tepat dalam merumuskan strategi pengelolaan lingkungan DAS Ciliwung agar mempunyai manfaat ganda, yaitu sebagai alat mitigasi banjir DKI dengan mengurangi debit banjir (run off), menjadi sumber rersapan air tanah, dan sarana wisata.

Pendekatan pembangunan berazaskan ekologi, ekonomi dan sosial dalam perencanaan spasial lingkungan hidup pada daerah aliran sungai didukung oleh berbagai latar belakang olehanatraa lain: perkembangan IPTEK yang terus berkembang mengakibatkan kecenderungan eksploitasi SDA semakin intensif; Pertumbuhan populasi manusia yang terus meningkat, berarti tingkat konsumsi mereka juga semakin meningkat termasuk kebutuhan lahan dan air ataupun udara bersih. Pertumbuhan ini menyebabkan semakin meningkatnya pencemaran dan kerusakkan lingkungan; Timbulnya kekurangan air, banjir, erosi, pencemaran dsb; Program pembangunan yang tidak terintegrasi dan tidak terpadu menjadi penyebab bagi rusak dan tercemarnya lingkungan hidup; Penyebab rusak dan tercemarnya kualitas air sangat terekait dengan kegiatan seluruh pembangunan manusia di kawasan aliran sungai bersangkutan; Kawasan aliran sungai sebagi unit ekosistem sehingga sangatlah tepat jika implementasi pembangunan berwawasan lingkungan dilaksanakan atas pertimbangan pembangunan unit kawasan aliran sungai dalam suatu tatanan eco-region.

Dimensi Pendekatan

Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 1970 tentang Perencanaan Hutan, menyebutkan bahwa Kawasan aliran sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber-sumber air lainnya yang penyimpannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukum-hukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut.

Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air, menyebutkan Daerah Pengaliran Sungai adalah suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah dimana air meresap dan/atau mengalir melalui sungai dan anak-anak sungai yang bersangkutan; sedangkan Wilayah Sungai adalah kesatuan wilayah tata pengairan sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat 7 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 sebagai hasil pengembangan satu atau lebih daerah pengaliran sungai. DAn pada Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perencanaan merupakan suatu proses untuk menentukan masa depan yang tepat, melalui suatu urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia.

Berdasarkan dimensi pendekatan, pengelolaan DAS dengan ekosistem terdiri dari:

a. Perencanaan Makro

Perencanaan makro adalah perencanaan DAS dalam skala makro atau menyeluruh. Dalam hal ini, dikaji tingkat pertumbuhan ekonomi kawasan DAS yang akan direncanakan, besar investasi masyarakat dan pemerintah akan tumbuh, dan proyeksinya. Perencanaan ini dilakukan untuk menenutkan tujuan dan sasaran yang mungkin dicapai dalam jangka waktu rencana dengan memperhatikan berbagai variabel ekonomi mikro. Perencanaan makro dilakukan dengan melihat dan memperhitungkan secara cermat keterkaitannya dengan perencanaan sektoral dan regional.

b. Perencanaan Sektoral

Perencanaan sektoral adalah perencanaan yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan sektor. Pengertian sektor adalah kumpulan dari kegiatan atau program yang mempunyai persamaan ciri-ciri serta tujuannya. Hal dimaksudkan untuk memudahkan dalam perhitungan pencapaian sasaran makro. Sehingga dalam perncanaan DAS Ciliwung perlu diidentifikasi sektor apa saja yang berinteraksi, antara lain sektor parwiisata, pertanian, perikanan, penyedian air minum, transportasi, pemukiman dll.

c. Perencanaan Regional

Pendekatan dalam perencanaan regional menitikberatkan pada aspek lokasi tempat berlangsungnya kegiatan yang dilakukan. Pemerintah daerah berupaya untuk mendayagunakan aspek ruang di daerah. Sehingga memandang DAS Ciliwung tidak hanya wilayah Jakarta tapi juga kawasan Bogor, Puncak dan Cianjur Jawa Barat.

d. Perencanaan Mikro

Perencanaan mikro adalah perencanaan skala rinci dalam perencanaan tahunan yang merupakan penjabaran rencana-rencana sektoral, maupun regional ke dalam susunan proyek-proyek dan kegiatan-kegiatan dengan berbagai dokumen perencanaan dan penganggarannya. Keseluruhan pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan diandalkan pada implementasi dari rencana-rencana tingkat mikro. Untuk itu diperlukan indikator yang jelas, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, misalnya seberapa luas areal sawah yang bisa diirigasi, produksi air minum, kegiatan wisata apa, budidaya perikanan apa, keanekaragaman hayati apa yang harus dijaga, debit air seberapa, pemanfaatan pemukiman yang bagaimana dan seterusnya.

Penentuan Tujuan

Paradigma perencanaan DAS yang beorientasi pada pembangunan berkelanjutan daerah dalam kerangka desentralisasi harus melalui pendekatan dialektika dalam merumuskan tujuan bersama. Proses diallektika dibangun dengan mengenali keterkaitan 3 subsistem; ekosistem alami SA dan LH, sistim produksi-distribusi-konsumsi, dan sistim sosial-budaya.

Pengelolaan DAS adalah pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam, yang dapat pulih (renewable), seperti air, tanah, dan vegetasi dalam sebuah kawasan sungai dengan tujuan untuk memperbaiki, memelihara dan melindungi keadaan kawasan sungai, agar dapat menghasilkan hasil air (water yield) untuk kepentingan pertanian, kehutanan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan masyarakat yaitu air minum, industri, irigasi, tenaga listrik, rekreasi dan sebagainya. Namun dalam perkembangan permasalahan selanjutnya ternyata penyebab kerusakan sumberdaya air menyangkut berbagai tatananan kehidupan manusia dan pembangunan yang sangat kompleks. Sehingga semua aktor/stakeholders dan kegiatan pembangunan dalam satuan kawasan sungai bersangkutan, bahkan keterkaitannya antara kawasan sungai satu dengan lainnya, haruslah menjadi kesatuan dalam sistem pembangunan daerah bersangkutan. Pendekatan ini menjadi strategis dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan memperhatikan faktor ekonomi, ekologi dan kehidupan sosial sebagai pilar utamanya.

Pewilayahan

Pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara umum untuk mencapai tujuan peningkatan produksi pertanian dan kehutanan yang optimum dan berkelanjutan (lestari) dengan upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun.

Dalam ekosistem DAS (Irwanto, 2006), dapat diklasifikasikan menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, DAS bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. DAS bagian hulu mempunyai arti penting terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran airnya. Dengan perkataan lain ekosistem DAS, bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan DAS. Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air, dan oleh karenanya pengelolaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Bagian hulu DAS seringkali mengalami konflik kepentingan dalam penggunaan lahan, terutama untuk kegiatan pertanian, pariwisata, pertambangan, serta permukiman. Mengingat DAS bagian hulu mempunyai keterbatasan kemampuan, maka setiap kesalahan pemanfaatan akan berdampak negatif pada bagian hilirnya. Pada prinsipnya, DAS bagian hulu dapat dilakukan usaha konservasi dengan mencakup aspek aspek yang berhubungan dengan suplai air.

Secara ekologis, hal tersebut berkaitan dengan ekosistem tangkapan air (catchment ecosystem) yang merupakan rangkaian proses alami daur hidrologi. Permasalahan pengelolaan DAS dapat dilakukan melalui suatu pengkajian komponen komponen DAS dan penelusuran hubungan antar komponen yang saling berkaitan, sehingga tindakan pengelolaan dan pengendalian yang dilakukan tidak hanya bersifat parsial dan sektoral, tetapi sudah terarah pada penyebab utama kerusakan dan akibat yang ditimbulkan, serta dilakukan secara terpadu. Salah satu persoalan pengelolaan DAS dalam konteks wilayah adalah letak hulu sungai yang biasanya berada pada suatu kabupaten tertentu dan melewati beberapa kabupaten serta daerah hilirnya berada di kabupaten lainnya. Oleh karena itu, daerah daerah yang dilalui harus memandang DAS sebagai suatu sistem terintegrasi, serta menjadi tanggung jawab bersama. Dengan demikian bila ada bencana, apakah itu banjir maupun keker ingan, penanggulangannya dapat dilakukan secara menyeluruh yang meliputi DAS mulai dari daerah hulu sampai hilir.

Pengambilan Keputusan

Dasar dari perencanaan daerah aliran sungai yang dikembangkan sebagai pendekatan integral dari perencanaan pengelolaan lingkungan hidup wilayah adalah data dasar antar sektor yang dapat diandalkan, mencakup semua sub–sektor dan sub-institusi. Cara yang paling effisien untuk menyampaikan informasi dan data tersebut adalah dalam bentuk peta tematik yang komprehensif. Kompilasi, validasi dan analisis informasi dikerjakan bersama antlembaga administratif dan tim interdisipliner. Kompilasi, analisa, dan deskripsi kondisi aktual sekaligus kondisi kecenderungannya (trend) dipersiapkan dalam bentuk profile kawasan aliran sungai. Dokumen ini mencakup deskripsi dan evaluasi mengenai permasalahan umum, alternatif solusi, dan kegiatan yang relevan untuk meningkatkan situasi yang ada. Hasil-hasil tersebut didiskusikan dan dievaluasi bersama. Oleh karena itu keikutsertaan secara intensif dan langsung oleh semua stakeholders saat persiapan profile daerah aliran sungai merupakan faktor yang sangat penting, sehingga tim perencana dapat melakukan pengecekan silang, dan dijadikan suatu pelatihan sambil bekerja (training on the job). Profil ini mencakup juga analisis sensitivitas, resiko, hot spots dan target kualitas lingkungan hidup untuk kawasan.

Tim perencana mempersiapkan profile tersebut untuk digunakan bagi pemerintahan daerah dan lembaga perwakilan rakyat daerah. Seperti pada tahap awal, profil tersebut digunakan sebagai referensi dasar untuk pengambilan keputusan secara informatif dan kompeten dengan memperhatikan peningkatan pengelolaan terpadu lingkungan hidup wilayah dalam suatu perencanaan pengelolaan kawasan aliran sungai.

Izin perencanaan pengelolaan oleh pemerintah daerah dan perwakilan rakyat daerah adalah landasan untuk penerapan action plan antar badan administratip. Perencanaan ini dikembangkan dengan cara partisipatif bersama dengan multi stakeholder ( Proyek Kerja Sama Jerman-Indonesia).

Multistakeholder

Proses perencanaan dan pengambilan keputusan harus memberikan keleluasaan dan kesempatan yang begitu luas kepada masyarakat dan semua pelaku (stakeholders) di daerah untuk berpartisipasi dalam mengelola DAS dan sebagai pelaku utama pembangunan bukan hanya sebagai obyek pembangunan tetapi juga subyek, dengan maksud agar:

1. Mengurangi disparitas atau ketimpangan pembangunan antar-daerah dan antar sub-daerah serta antar-warga masyarakat;
2. Menanggulangi kemiskinan;
3. Menciptakan atau menambah lapangan kerja;
4. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat daerah;
5. Mempertahankan atau menjaga kelestarian sumberdaya alam agar bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi masa datang (pembangunan berkesinambungan).

Kata Akhir

Perencanaan pengelolaan DAS dengan pendekatan spasial dan ekosistem dapat meminimalkan potensi konflik kepentingan dalam penggunaan lahan, karena mulai dari tahapo perencanaan sampai dengan implementasi telah melibatkan semua stakeholders. Disamping itu dalam pores pengawasan dan evaluasi, setiap kesalahan atau ketidakkonsistenan pemanfaatan DAS dapat dipantau oleh semua stakeholder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: