Wardina Humayrah

Analisis Daerah Aliran Sungai (DAS) Bagian Hulu Berdasarkan Perspektif Ekologi Manusia (Obeservasi Lapang Kawasan DAS Hulu Sungai Ciliwung, Pondok Cikoneng, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat)

Oleh : Wardina Humayrah
Departemen Gizi Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (FEMA-IPB), 2008

Sumber: http://www.kabarindonesia.com/ 31 Oktober 2008

Hutan, Konservasi Air Daerah Aliran Sungai (DAS)

Menurut Asdak (1999), Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah yang dibatasi oleh garis ketinggian di mana setiap air yang jatuh di permukaan tanah akan dialirkan melalui satu outlet. DAS mempunyai arti penting terutama dalam hubungan ketergantungan antara hulu dan hilir. Perubahan komponen DAS di daerah hulu akan sangat mempengaruhi komponen DAS pada daerah hilirnya. Oleh sebab itu, perencanaan daerah hulu menjadi sangat penting.

Banjir di Jakarta merupakan permasalahan nasional yang terjadi akibat perubahan sistem DAS yang kontinu dimulai dari wilayah upstream – downstream – middlestream yang signifikan. Menurut Sinukaban (2007), banjir di Jakarta terjadi karena penggunaan lahan di kawasan DAS Ciliwung tidak sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah. Akibatnya, sebagian besar air hujan tidak terserap tanah, tetapi mengalir di permukaan tanah, lalu langsung masuk ke sungai. Sehingga banjir merupakan fenomena yang harus ditangani secara menyeluruh dalam suatu DAS.

Padahal perencanaan daerah hulu DAS Ciliwung sudah tertulis pada Keputusan Presiden No. 114 Tahun 1999 mengenai Penataan Ruang Kawasan Bogor-Puncak-Cianjur (Bopunjur). Di dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa kawasan Bopunjur juga diperuntukan sebagai hutan lindung. Hal ini bertujuan sebagai kawasan konservasi air sebagai wilayah penyangga Ibukota DKI Jakarta.

Namun pada kenyataannya perencanaan tata ruang Bopunjur masih mengalami banyak kendala. Peningkatan alih fungsi lahan menjadi daerah pemukiman semakin meningkat sementara luas kawasan hutan lindung semakin terdegradasi dari tahun ke tahun sehingga terjadi konversi lahan yang semakin tinggi. Penelitian Hermawati (2006) mengatakan bahwa luas daerah permukiman sub-DAS Ciliwung Hulu semakin meningkat dari tahun 1981 sebesar 5 % dan terakhir tahun 2001 sebesar 27%.

Banyak pendatang—terutama dari Jakarta—yang membangun villa atau rumah peristirahatan di sana. Pembangunan-pembangunan tersebut menyebabkan daerah resapan air berkurang padahal curah hujan di Bogor termasuk tinggi. Selain adanya pembangunan rumah—baik rumah tinggal maupun villa—tingginya biaya hidup menyebabkan wilayah hutan di hulu sungai Ciliwung terancam.

Selain itu, ketidakmerataan pembangunan ekonomi dapat mempengaruhi keberadaan hutan. Krisis ekonomi akhirnya menuntut masyarakat sekitar hutan lindung Bopunjur terpaksa mengubah hutan menjadi kawasan pertanian dataran tinggi. Menurut peta interpretasi penggunaan DAS tahun 2001 dalam penelitian Kuswadi (2002), kawasan hutan di sub-DAS Ciliwung Hulu mengalami penurunan dari tahun 1999-2001 sebesar 16,62%. Penurunan tersebut diikuti oleh peningkatan alih guna lahan sebagai pemukiman, perkebunan, dan pertanian dataran tinggi.

Berkurangnya daerah resapan air akibat penebangan hutan dan konversi lahan mengakibatkan air tidak dapat meresap ke dalam tanah namun mengalir deras di batang sungai Ciliwung, dari hulu menuju hilir. Padahal, DAS Ciliwung di daerah hulu tidak terlalu lebar, apalagi jika ditambah dengan adanya penyempitan akibat pembangunan. Maka hal tersebut dapat menyebabkan air hujan meluap ke wilayah sekitar. Akhirnya banjir dan longsor di daerah hulu akan terjadi.

Sementara itu, daerah desa Tugu Utara merupakan bagian dalam kawasan hutan lindung daerah Puncak Bogor yang menjadi sumber mata air dari garis batas sungai Cisadane dan juga DAS Ciliwung. Salah satu kawasan hutan lindung di desa Tugu Utara terdapat di dalam wilayah Perkebunan Pondok Cikoneng. Sebagian besar masyarakat daerah hutan Cikoneng, desa Tugu Utara merupakan masyarakat dengan tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi yang rendah. Sehingga pendekatan perspektif dan prinsip-prinsip ekologi manusia menjadi hal penting dalam pelestarian hutan dalam perbaikan kawasan DAS hulu Ciliwung.
Seputar DAS Hulu Ciliwung

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan istilah geografi mengenai sebatang sungai, anak sungai dan area tanah yang dipengaruhinya. Sungai dan daerah sekitarnya (daerah aliran sungai) merupakan salah satu sumber daya air yang memiliki berbagai macam fungsi bagi kehidupan manusia. Daerah Aliran Sungai (DAS) Hulu Ciliwung sendiri merupakan bagian dari sub-DAS Ciliwung yang mengalir melewati Desa Tugu Utara. Secara Geografis DAS Ciliwung bagian hulu ini terletak pada 6°02’- 6°55’LS 35’-107°00’BT, berbatasan dengan sub DAS Cisadane hulu di sebelah selatan dan barat, sub DAS Cibeet di sebelah utara, dan DAS Citarum di sebelah timur. DAS Ciliwung bagian hulu memiliki luas ± 15.065 hektar, berada pada ketinggian 333-3.002 meter dari permukaan laut. Sebagian besar wilayah tersebut berada di kawasan Puncak, Bogor. Observasi DAS Hulu Ciliwung ini mengkaji dua wilayah analisis untuk dibandingkan yakni: wilayah bawah meliputi Desa Tugu Utara bagian selatan dan wilayah atas yaitu Pondok Cikoneng lokasi sumber mata air Sub DAS Hulu Ciliwung sekaligus kawasan hutan lindung Bopunjur.
Desa Tugu Utara sendiri terletak di Kecamatan Cisarua dengan luas wilayah 1.073 ha. Perbatasan desa Tugu Utara dengan desa maupun kecamatan lain yaitu desa Batu Layang, Kecamatan Pacet, Kecamatan Jonggol, dan desa Tugu Selatan. Sarana dan prasarana meliputi transportasi dan infrastruktur telah tersedia misalnya angkutan umum dan jalan beraspal. Hal ini mempermudah akses keluar masuk penduduk desa Tugu Utara. Sedangkan, Pondok Cikoneng merupakan bagian dari desa Tugu Utara yang mewakili gambaran desa Tugu Utara bagian atas (dataran tinggi). Pondok Cikoneng merupakan kawasan hutan lindung dan perkebunan teh milik perusahaan SSBP (Sumber Sari Bumi Pakuan). Perkebunan teh di Pondok Cikoneng ini awalnya merupakan perkebunan milik negara yang diperbolehkan untuk dikelola oleh swasta. Akan tetapi, hak milik berpindah menjadi sepenuhnya milik swasta.

Penduduk desa Tugu Utara terdiri dari 2.589 KK (Kepala Keluarga) dengan jumlah penduduk dewasa sebanyak 6.888 jiwa. Jumlah keluarga miskin di desa ini sebanyak 871 KK atau tepatnya 3.901 jiwa. Secara keseluruhan tipologi masyarakat desa Tugu Utara sudah agak maju khususnya di daerah bawah namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kegotongroyongan. Tingkat kekerabatan penduduk desa Tugu Utara dan Pondok Cikoneng cukup tinggi disebabkan karena jarak rumah antar-penduduknya berdekatan. Hubungan kekerabatan yang ada antara masyarakat Pondok Cikoneng merupakan hubungan yang bersifat genealogis.

Kelembagaan lokal yang terdapat di Desa Tugu Utara salah satunya adalah Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar. Kelompok tani ini sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu dilatarbelakangi dengan keinginan membentuk wadah petani yang mewakili sebagian besar mata pencaharian asli penduduk di sana sebelum suburnya mata pencaharian jasa penyewaan villa. Kelompok ini diketuai dan dipelopori oleh Bapak Badri (seorang tokoh masyarakat sekaligus aktivis lingkungan yang sangat peduli akan lingkungan desa Tugu Utara).

Sejak tahun 2002, Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar berusaha memberikan pemahaman kepada petani-petani untuk beralih kepada pertanian organik tanpa menggunakan pestisida untuk menjaga lingkungan. Selain itu, kelompok tani ini adalah wadah penggerak penduduk Tugu Utara secara keseluruhan untuk melakukan pelestarian lingkungan. Kelompok tani ini juga memiliki kegiatan untuk penanaman pohon di pinggir hulu DAS Ciliwung guna mengantisipasi banjir yang terjadi di hilir DAS Ciliwung. Kegiatan lainnya seperti kerja bakti pengerukan sampah di sekitar DAS Ciliwung dan juga penyuluhan larangan pembuangan sampah dan larangan pendirian bangunan di pinggir DAS Ciliwung. Kelompok tani ini akhirnya diresmikan menjadi Sentra Penyuluhan Kehutanan Pedesaan (SPKP) oleh Departemen Kehutanan.

Analisis berdasarkan Komponen Ekosistem Manusia

Micklin dan Poston (1998) dalam Dharmawan (2007) menyebutkan bahwa ekologi manusia adalah bidang studi yang memfokuskan diri pada hubungan interaksional dari empat komponen penting ekosistem manusia: Population, Organization, Environment, Technology (POET). Analisis komponen ekosistem manusia diklasifikasikan menjadi dua pengamatan wilayah lingkungan sekitar DAS hulu Ciliwung di Pondok Cikoneng (Wilayah Atas) dan Desa Tugu Utara (Wilayah Bawah) serta perbedaan kondisi sosial-lingkungan masa lalu (±10 tahun lalu) dan masa sekarang. Selanjutnya, observasi tersebut didasarkan pada pengamatan terhadap kondisi populasi, kelembagaan, lingkungan, dan teknologi sebagai berikut:

1. Population

Penduduk Pondok Cikoneng (wilayah atas) merupakan pendatang yang bekerja sebagai buruh pemetik teh. Penduduk antara lain berasal dari daerah Cianjur, Sukabumi, dan Kuningan. Perpindahan penduduk tidak terlalu besar, sebagian besar penduduk tinggal dalam dua generasi. Populasinya tidak padat malahan cenderung jarang. Populasi yang sedikit dan dekat dengan alam membuat ketergantungan masyarakat sekitar semakin tinggi.

Sedangkan masyarakat di Desa Tugu Utara (wilayah bawah) mata pencaharian dahulu (±10 tahun lalu) adalah bertani dan menanam pohon di pekarangannya sedangkan sekarang sebagian besar lahan sudah terpakai untuk pemukiman. Semakin padatnya pemukiman membuat masyarakat semakin tidak bergantung kepada alam. Rendahnya ketergantungan penduduk terhadap DAS membuat masyarakat menganggap keberadaan DAS tidaklah penting.

2. Organization

Kelembagaan struktural dilihat dari komponen organisasi administrasi desa. Kepala desa, ketua RW/RT sebagai pemberi informasi kepada masyarakat dan masyarakat sebagai pelaksana untuk tetap melestarikan hutan sebagai aset konservasi air. Tokoh masyarakat menginisiasi program pengerukan sampah bersama di wilayahnya. Adanya pendidikan bagi anak-anak SD di Pondok Cikoneng untuk melestarikan alam dengan didampingi oleh LSM yang bertujuan untuk mendidik anak kecil karena dianggap lebih mudah dibandingkan dengan orang dewasa. Penduduk juga bekerja sama dengan Departemen Kehutanan untuk melakukan persemaian bibit.

Selain itu, Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar sebagai kelembagaan lokal yang mempelopori gerakan pelestarian lingkungan dengan mengajak masyarakat setempat untuk lebih mencintai lingkungan yaitu dengan tidak membuang sampah sembarangan apalagi membuangnya ke sungai. Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar juga berusaha memberikan pemahaman kepada petani-petani untuk beralih kepada pertanian organik tanpa menggunakan pestisida untuk menjaga lingkungan. Kesepakatan Kepala Desa, ketua RW/RT yaitu dengan mengadakan kegiatan “Jumat Bersih” dan Bulan Bakti Gotong Royong setiap awal bulan.

3. Enviromental

Pengaturan DAS hulu Ciliwung yang melalui Pondok Cikoneng (wilayah atas) dialirkan di antara perkebunan teh, dan dialirkan dengan menggunakan paralon-paralon ke rumah penduduk. Aliran DAS hulu Ciliwung di Pondok Cikoneng lancar dan tidak banyak terdapat sampah di daerah sekitarnya, air yang mengalir pun jernih.

Pemukiman penduduk di Desa Tugu Utara (wilayah bawah) sebagian besar terkonsentrasi di sekitar DAS (bantaran sungai) karena sesuai dengan kondisi lokasi yang berada di dataran tinggi dan diliputi oleh daerah hutan lindung serta perkebunan teh. Pemenuhan kebutuhan akan air bersih diperoleh dari sumur, sangat jarang penduduk yang memanfaatkan DAS karena daerah pemukiman mudah mendapatkan sumber air bawah tanah.

4. Technology

Teknologi pengairan yang digunakan di wilayah atas (Pondok Cikoneng) masih bersifat tradisional. Aliran mata air hanya menggunakan paralon dan mata air yang melalui sub DAS yang lancar hanya melalui aliran tanah yang dibuang seperti selokan. Berdasarkan peta wilayah desa Tugu Utara, terdapat pemusatan wilayah untuk hutan, perkebunan teh, dan pemukiman penduduk. Pondok Cikoneng ini didominasi oleh hutan dan perkebunan teh sehingga tingkat penyerapan masih baik.

Di sisi lain, wilayah bawah (desa Tugu Utara bagian selatan), teknologi pengairan sudah cukup canggih dengan menggunakan mesin pompa air (jet-pump). Kondisi pemukiman sangat padat terkonsentrasi di sekitar daerah aliran sungai (DAS), bahkan terdapat beberapa orang penduduk yang mendirikan rumah di bantaran sungai akibat semakin terbatasnya lahan untuk pemukiman. Hal ini membuat tingkat penyerapan air menjadi buruk karena kepadatan pemukiman dalam bersaing menyerap air tanah yang ada ditambah lagi keberadaan pohon-pohon di sekitar DAS hulu Ciliwung wilayah bawah yang semakin sedikit.

Analisis Perspektif Ekologi menurut Capra (1994, 2004)

Capra (1994; 2001) dalam Dharmawan (2007) memperkenalkan empat prinsip ekologi yaitu: kesaling-tergantungan, jaring kerja (networks), kerja sama (partnership), fleksibilitas, dan keanekaragaman. Prinsip kesalingtergantungan meliputi sifat saling terkait antar anggota komunitas ekologi dan pemikiran sistem. Jejaring kerja (network) merupakan analisis mengenai jaring kerja antar anggota yang membentuk pola-pola tertentu dalam proses ekologi. Kerja sama (partnership) menggambarkan tentang kemitraan dan proses pelestarian. Sedangkan fleksibilitas berhubungan dengan kemampuan adaptasi terhadap perubahan lingkungan sekitar, keseimbangan dinamis (stabilitas versus perubahan, keteraturan versus kebebasan, dan tradisi versus inovasi). Dan keanekaragaman meliputi pengkajian keberagaman hubungan, dan solusi multi-dimensi. Analisis observasi DAS Hulu Ciliwung berdasarkan perspektif ekologi (Capra 1994, 2004) sebagai berikut:

1. Kesalingtergantungan

Kesalingtergantungan masyarakat Pondok Cikoneng (wilayah atas) terhadap alam sangat tinggi karena penduduk memanfaatkan mata air untuk kehidupan sehari-hari. Penduduk juga tidak membuang sampah sembarangan namun mengumpulkannya dalam sebuah lubang dan membakarnya. Sedangkan pada masyarakat Desa Tugu Utara (wilayah bawah) masih rendah. Penduduk menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Dan masih ada beberapa penduduk yang masih membuang sampah ke sungai.

2. Jaring Kerja

Di wilayah atas (Pondok Cikoneng), penduduk bekerja sama dengan LSM dan juga Departemen Kehutanan dalam usaha persemaian bibit tanaman, seperti durian. Pengelolaan dan penjualan diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Sedangkan di wilayah bawah (Desa Tugu Utara), terdapat Kelompok Tani Kaliwung Kalimuncar yang mempelopori gerakan pelestarian lingkungan. Kelompok tani ini juga bermitra dengan pemerintah kabupaten dan Departemen Kehutanan dalam melestarikan hutan.

3. Keanekaragaman

Seluruh penduduk Pondok Cikoneng (wilayah atas) merupakan pendatang, kebanyakan dari Cianjur dan Sukabumi dan sudah tinggal selama dua generasi sehingga keberagaman penduduk tinggi. Kedatangan penduduk ini dikarenakan adanya kebijakan perusahaan teh untuk merekrut karyawan baru. Jarak pemukiman berdekatan dengan jumlah populasi yang masih sedikit sehingga kondisi masyarakatnya rukun dan damai serta saling menghormati perbedaan. Sedangkan di wilayah bawah (Desa Tugu Utara) sebagian besar merupakan penduduk asli yang telah tinggal secara turun-temurun dan terdapat beberapa orang WNA dengan tingkat keberagaman rendah. Jarak pemukiman lebih padat dan berdekatan dengan carrying capasity yang hampir melampaui batas namun menurut pengamatan hubungan antar penduduk harmonis dan rukun. Hal ini lebih dipengaruhi oleh sifat genealogis penduduk yang merupakan penduduk asli turun-temurun.

4. Fleksibilitas

Beberapa tokoh masyarakat menginisiasi program pengerukan sampah bersama di wilayah hulu sungai, melakukan penanaman pohon di pinggir hulu DAS Ciliwung, serta melakukan penyuluhan larangan pembuangan sampah dan larangan pendirian bangunan di pinggir DAS Ciliwung. Respon sosial masyarakat Pondok Cikoneng (wilayah atas) lebih baik dibandingkan dengan masyarakat Desa Tugu Utara bagian selatan (wilayah bawah) terhadap perubahan lingkungan yang ada. Hal ini dapat dinilai dari antusiasme masyarakat terhadap program-program kepedulian lingkungan.

5. Kerja sama

Masyarakat Pondok Cikoneng mempunyai kesadaran dan kerja sama yang cukup tinggi untuk melestarikan hutan dan DAS di bagian hulu. Penduduk bekerja sama dengan Departemen Kehutanan dalam usaha persemaian bibit tanaman, pendidikan anak-anak SD di Pondok Cikoneng untuk tetap melestarikan hutan sebagai aset konservasi air. Sedangkan masyarakat di Desa Tugu Utara (wilayah bawah) kurang memperdulikan lingkungan. Hal tersebut disebabkan rendahnya ketergantungan penduduk terhadap DAS sehingga menganggap keberadaan DAS tidaklah penting. Sehingga kerja sama dalam proses pelestarian lingkungan masih rendah.

Ekologi Manusia dan Upaya Pelestarian DAS Hulu Ciliwung

Berdasarkan uraian observasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran dan kepedulian masyarakat wilayah atas (Pondok Cikoneng) lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah bawah (desa Tugu Utara bagian selatan). Kesadaran ekologi masyarakat berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan sekitar tempat hidup manusia. Kesalingtergantungan yang lekat antara manusia dengan alam di sekitar membuat pandangan ekologi manusia menjadi lebih kuat.

Pedekatan ekologi manusia dengan analisis POET (Population, Organization, Environment, dan Technology) dan prinsip-prinsip ekologi manusia dapat dijadikan sebagai acuan dalam perencanaan upaya-upaya pelestarian lingkungan di sekitar DAS Hulu Ciliwung, desa Tugu Utara. Konsep ekologi manusia sebaiknya diterapkan dalam pendidikan lingkungan masyarakat. Peningkatan pendidikan dan penyuluhan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan adalah upaya yang sebaiknya dilakukan. Dengan adanya peningkatan pendidikan dan penyuluhan pemberdayaan masyarakat ini diharapkan akan mewujudkan kemandirian untuk peningkatan ekonomi setempat.

Selain itu, pemulihan DAS Ciliwung bagian hulu memerlukan kerja sama dari semua pihak yaitu, aparat pemerintah, LSM, dan masyarakat sendiri. Kegiatan pemulihan hutan sekitar DAS juga perlu dilakukan di DAS bagian tengah dan hilir untuk mengantisipasi terjadinya bencana banjir karena DAS Ciliwung merupakan satu kesisteman dari Hulu-Tengah-Hilir.

SUMBER PUSTAKA

Asdak C. 1999. Artikel: DAS sebagai satuan monitoring dan evaluasi lingkungan (air sebagai indikator sentral), seminar sehari persaki “daerah aliran sungai sebagai satuan perencanaan terpadu dalam pengelolaan sumberdaya air”. http://tumoutou.net/702_04212/andi_ rahmadi.htm. [16 April 2008].

Dharmawan AH. 2007. Konsep-Konsep Dasar dan Isyu-Isyu Kritikal Ekologi Manusia. Materi Perkuliahan Ekologi Manusia. Tidak diterbitkan.

Hermawati R. 2006. Pola spasial perkembangan permukiman dan kaitannya dengan jumlah penduduk (studi kasus sub DAS Ciliwung Hulu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat) [skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Kuswadi D. 2002. Model pendugaan debit berdasarkan data cuaca di DAS Ciliwung Hulu [tesis]. Bogor : Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Sinukaban. 2007. Artikel: Menjinakkan ciliwung untuk mengamankan jakarta . http:// http://www.ampl.or.id. [16 April 2008].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: