Berita JEDI / JUFMP

Oktober 2010

PP Pinjaman Bank Dunia Keluar Akhir Oktober

Sumber: http://www.jurnas.com/  26 Oktober 2010

Jurnas.com | GUBERNUR DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan Peraturan Pemerintah (PP) yang menjadi dasar hukum pinajaman dana dari Bank Dunia terkait proyek pengerukan 13 kali di Jakarta. Dana pinjaman ini digunakan untuk biaya penanggulangan banjir atau Jakarta Urgent Flood Migitation Project/JUMFP sebelumnya dikenal dengan Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Dana untuk pengerukan diperkirakan senilai 150 dolar Amerika Serikat.

“Saya dijanjikan akhir Oktober ini peraturan pemerintahnya keluar,” kata Fauzi Bowo saat meninjau proyek pengerjaan saluran air di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (26/10). Menurut dia, proyek ini merupakan proyek bersama antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemprov DKI.

“Jadi kita akan bekerja sesuai tanggung jawab kita. Pengerjaan saluran makro oleh Kementerian PU, dan kalau yang pengerjaan penunjang dan mikro itu DKI,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan tender proyek pengerukan 13 sungai di DKI Jakarta akan dilakukan akhir 2010 atau mundur dari rencana pada Juni 2010. “Semoga akhir tahun ini bisa mulai proyek tender,” kata Fauzi seperti dikutip dalam buku putih pengendalian banjir “Mengapa Jakarta Banjir? Pengendalian Banjir Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”.

Kali-kali itu antara lain, Kali Baru Timur, Kali Utan Kayu, Kali Cipinang, Kali Petukangan Lanjutan, Kali Sekretaris, Kali Cideng Atas dan Bawah, Kali Jelawe, Kali Mampang, Kali Tubagus Angke, Kali Duri, Kali Grogol, Kali Ciragil, Kali Krukut Bawah dan Atas, Kali Pademangan Barat dan Timur, Kali Lagoa Buntu, serta Kali Cakung Lama.

Oktober 2011

JEDI Bisa Minimalisasi Banjir 40 Persen

Sumber: http://www.indopos.co.id/ 05 October 2011 

DEPUTI Tata Ruang dan Lingkungan Pemprov DKI Achmad Harjadi menegaskan, melalui proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), Pemprov DKI akan melakukan pengerukan, rehabilitasi dinding sungai (turap) dan pengadaan pompa di 13 sungai dan 5 waduk di DKI Jakarta guna mengatasi banjir yang terjadi selain pembuatan tanggul raksasa. ”Studi kelayakan dan masterplan JEDI sudah kami siapkan. Banyaknya sampah yang barada di aliran sungai menyebabkan pendangkalan sungai-sungai yang melintasi dan ada di Jakarta akibatnya jika hujan turun terus menarus maka sungainya kan meluap dan menyebabkan banjir. Ini harus diperbaiki,” tegasnya, kemarin. Sebanyak 8 sungai yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dalam JEDI tersebut. Sedangkan Pemprov DKI bertanggung jawab terhadap 5 sungai dan 5 waduk.

 ”Proyek ini mampu mengurangi kawasan banjir sebesar 40 persen serta mengurangi korban banjir dari 2,6 juta orang dari 2007 menjadi 1,6 juta pada 2010,” terangnya. Harjadi menjelaskan, langkah pengerukan dan peninggian dinding sungai tersebut juga akan diikuti oleh pengembangan pengamanan trace di daerah hilir yang meliputi 5 aliran sungai. ”Sungai-sungai yang ada di Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, Cakung akan dialirkan ke Kanal Banjir Timur akan berfungsi sebagai koridor hijau,” jelasnya. Selain mengimplementasikan JEDI, Pemprov DKI juga akan melakukan mengembangkan sistem pengendali banjir di hulu yang berupa peningkatan daya tampung sejumlah waduk. Di antaranya, Waduk Ciawi yang akan menampung air dari Sungai Ciliwung, Waduk Limo yang akan menampung air dari Sungai Pesanggarahan, Waduk Halim, Pondok Rangon dan Sunter Hulu yang akan menjadi tempat penampungan Sungai Sunter jika terjadi luapan air. Sedangkan untuk situ yang akan dilakukan rehabilitasi antara lain, Situ Mangga Bolong, Situ Babakan, Situ Rawa Dongkal dan Situ Cipondoh.

Pembangunan daerah hulu tentu harus dibarengi dengan pengembangan dan rehabilitasi di daerah hilir sehingga bisa memperlancar aliran sungai yang melintasi DKI. Pasalnya daerah hilir tersebut berfungsi sebagai tempat keluaran yang menuju ke laut. Daerah hilir yang akan dilakukan revitalisasi antara lain, Polder Pluit, Polder Ria-Rio, Polder Sunter Timur 1B, Sunter Timur 2, Sunter Utara dan Polder Marunda. (aak/rul)

November 2011

Masterplan Kelar 2010, Pengerukan Sungai Jakarta Maret 2012, Pemprov Dinilai Telat

Sumber: http://www.republika.co.id/ 24 November 2011

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengerjaan proyek pengerukan 13 sungai DKI dalam program Jakarta Emergency Dradging Initiative (JEDI), yang baru dimulai Maret 2012 mendatang, dinilai Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Ubaidillah, termasuk terlambat. Menurut dia, masterplan mengenai rencana sungai mana yang akan dikeruk sudah selesai akhir 2010 lalu.

“Seharusnya dengan persiapan dalam rentang waktu selama ini, proyek itu sudah harus dilaksanakan. Sekarang tinggal tunggu teknisnya saja. Tidak ada masalah yang cukup berarti, pengerukan sudah bisa dikerjakan secepatnya,” ujar Ubaidillah.

Menurut dia jika ingin mengantisipasi banjir yang diprediksikan akan terjadi dalam waktu dekat ini, proyek tersebut sudah dikerjakan dari kemarin-kemarin.

“Dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga, banjir kan terjadinya dipekirakan awal 2012 ini. Jika pelaksanaan proyek itu baru mulai Maret, ya telat,” kata Ubaidillah. Meski dinilai telat, ia menyatakan paling tidak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI sudah melakukan berbagai persiapan terkait antisipasi banjir.

Soal teknis pengerukan sungai nantinya, ia berharap, hasil sedimentasinya tak dibuang ke laut. Pasalnya itu hanya akan tambah mencemari Pantai di Teluk Jakarta yang memang sudah keruh.

Sementara Gubernur Fauzi Bowo, mengatakan, jika saja proyek tersebut bisa langsung dimulai, tentu ia mengharapkan pihaknya dapat langsung bekerja.

Ia pun mengaku kecewa karena pengerjaan proyek pengerukan 13 sungai ini baru bisa mulai bekerja Maret 2012 ini. “Jadi program ini bukan untuk antisipasi banjir pada musim penghujan tahun ini, tetapi tahun depan, dan jangka panjang,” kata Fauzi Bowo.

Januari 2012

Februari, Tender Pengerjaan Fisik Pengerukan Sungai Dimulai

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 31 Januari 2012 

Normalisasi Sungai – Sebuah ekskavator digunakan untuk mengeruk endapan lumpur di Sungai Krukut, Kelurahan Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Senin (19/12/2011). Pemerintah berncana melakukan normalisasi dengan pengerukan di sejumlah sungai besar di Jakarta untuk mengantisipasi banjir yang masih mengancam.

JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk mengatasi banjir yang terjadi di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum akan melakukan pengerukan 11 sungai dan 4 waduk. Februari ini, proses tender pengerjaan fisik pengerukan 11 sungai dan 4 waduk dalam program Jakarta Urgent Flood Mitigation Project (JUFMP) akan segera dimulai.

Kepala Pelaksana Central Project Implementation Unit dari Kementerian Pekerjaan Umum, Bambang Sigit, mengatakan, tender akan dilaksanakan dengan sistem tender internasional karena melibatkan pinjaman dari Bank Dunia. “

Jadi, kontraktor perusahaan asing bisa ikut proses tender fisik dengan syarat kontraktor tersebut harus bentuk perusahaan gabungan dengan kontraktor Indonesia,” kata Bambang, di Jakarta, Selasa (31/1/2012).

Proyek ini memiliki tujuh paket, yaitu Paket I pengerukan Sungai Ciliwung-Gunung Sahari sepanjang 5,1 kilometer. Kemudian Waduk Melati dengan luas 4,90 hektar akan diturap sepanjang 1.245 meter persegi.

“Untuk saluran Gresik dengan panjang 2.004 meter dan sungai Cideng Hulu sepanjang 1.260 meter,” jelasnya.

Paket II yaitu Cengkareng Drain sepanjang 8.380 meter dan kemudian Kali Sunter sepanjang 9.980 meter dengan penurapan sepanjang 1.800 meter persegi. Untuk paket III yaitu Sungai Cideng Thamrin dengan panjang 3.330 meter persegi dengan penurapan sepanjang 2.570 meter persegi.

Sementara, Paket IV terdiri dari Kali Sentiong-Sunter dengan panjang 6.359 meter persegi dengan penurapan sepanjang 3.865 meter persegi. Lalu waduk Sunter Utara dengan luas 33 hektar dengan pengerukan sekitar 403.060 meter persegi. Untuk waduk Sunter Selatan dengan luas 19,20 hektar dan penurapan sepanjang 1.538 meter persegi. Sedangkan waduk Sunter Timur III dengan luas 8 hektar dengan penurapan sepanjang 302 meter persegi.

Sementara Paket V terdiri dari Kali Tanjungan sepanjang 600 meter dan Kali Angke Bawah sepanjang 4.050 meter dengan penurapan 1.850 meter persegi. Selanjutnya, Paket VI yakni Banjir Kanal Barat sepanjang 3.650 meter persegi. Kemudian Kali Upper Sunter sepanjang 5.150 meter persegi dengan penurapan sepanjang 1.850 meter persegi.

Terakhir, Paket VII yaitu Kali Pakin-Kali Besar-Kali Jelangkeng sepanjang 3.650 meter. Lalu Kali Krukut Cideng sepanjang 3.250 meter serta Kali Krukut Lama sepanjang 3.490 meter dengan penurapan sepanjang 2.400 meter persegi.

Kena Proyek JEDI, 1.109 KK Direlokasi

Sumber: http://www.wartakotalive.com/   31 Januari 2012    

Balai Kota, Wartakotalive.com

Program inisiatif pengerukan darurat Jakarta atau Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) akan dilaksanakan pada akhir tahun 2012. Sebanyak 1.109 kepala keluarga (KK) harus direlokasi, karena rumah mereka terkena proyek tersebut.

Proyek pengerukan itu memakai dana pinjaman dari Bank Dunia sebesar Rp 1,256 triliun, dan dana itu telah cair. Proyek pengerukan itu akan berlangsung hingga tahun 2016. Program yang sempat tertunda selama empat tahun itu akan dikerjakan hingga tahun 2016.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menyediakan beberapa rumah susun dan pilihan-pilihan lain seperti ganti rugi uang untuk relokasi warga. Mantan Kepala Biro Sarana dan Prasarana Kota DKI Jakarta yang menjadi salah satu anggota tim program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), Andi Baso, Senin (30/1), mengatakan, berdasarkan data terakhir sebanyak 1.109 kepala keluarga akan direlokasi itu berada di enam titik. Program JEDI adalah pengerukan sejumlah sungai di Jakarta untuk menanggulangi banjir.

“Kami perkirakan awal 1.109 kepala keluarga, namun bisa bertambah atau berkurang. Cara relokasi yang dilakukan berpedoman dengan panduan yang disepakati dengan Bank Dunia. Dengan melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat,” kata Andi yang sekarang menjabat Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta.

Bagi warga yang memiliki surat-surat mengenai kepemilikan tanah yang sah, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggantinya beserta aset yang dimiliki. Jika warga tidak bisa menunjukan surat-surat, maka hanya akan diganti aset yang dimilikinya. Termasuk bila ada warga yang ingin pulang ke kampung halaman akan disediakan transportasinya.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dengan Bank Dunia akan mendata ulang jumlah rumah yang akan terkena proyek tersebut. Pendataan itu melibatkan konsultan dan tim pendamping dari Kementerian Pekerjaan Umum. Jika pendataan selesai, akan ada pertemuan dengan masyarakat.

“Kemudian nanti ada cut of date, ada tenggat waktu bahwa tidak akan ada lagi kepala keluarga laih selain yang sudah terdata. Jika ada (penambahan) setelah cut of date, maka tidak diberi hak untuk relokasi,” kata Andi.

Rumah susun yang telah siap untuk menampung warga yang direlokasi antara lain di Rusun Marunda, Rusun Waduk Pluit 4 blok, dan di Muaraangke. Usai relokasi, warga akan terus dipantau untuk mengetahui kondisinya. Bahkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mempertahankan masalah sosial dan ekonomi sesuai dengan lokasi sebelumnya. Andi menjamin akses sekolah akan dipermudah.

Sebanyak 11 bagian kanal utama sepanjang 67,5 kilometer dan 65 hektar dari empat waduk akan dikeruk untuk mengembalikan kapasitas daya tampung air. Termasuk memperbaiki 42 kilometer tanggul. Peralatan mekanis seperti pompa air dan pintu air juga akan diperbaiki dan diganti. Ditargetkan akan ada sekitar 3,4 juta ton kubik meter sedimen dan 95.000 kubik meter limbah padat akan dikeruk dari 11 bagian kanal utama dan 4 waduk tersebut.

Gubernur DKI Fauzi Bowo mengatakan, pinjaman yang diberikan Bank Dunia hanya Rp 1,256 triliun, sedangkan kebutuhan dana sisanya sebesar Rp 454 miliar akan ditanggung Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dari APBN dan Pemerintah Provinsi DKI melalui APBD DKI. Sebelum dikeruk, sungai dan waduk yang terkena proyek JEDI akan diturap dengan beton. Saat pengerjaan pengerukan tidak mengakibatkan longsor pada dinding sungai.

“Proyek pengerukan ini akan segera dimulai prakualifikasinya dalam waktu dekat, sehingga pada akhir September atau awal Oktober 2012 pengerukan 11 sungai dan 4 waduk sudah bisa dilakukan secara bertahap hingga tahun 2016. Dengan begitu, setelah proyek ini selesai maka genangan di Jakarta sudah bisa tertangani,” ujar Fauzi.

Kepala Perwakilan Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Stefan Koeberle, mengatakan, pendanaan untuk proyek lima tahun ini telah disetujui dewan direksi eksekutif Bank Dunia pada 17 Januari 2012. Selain merehabilitasi saluran aliran air di sungai dan waduk, Bank Dunia juga memberikan bantuan teknis dalam hal manajemen proyek dan perlindungan sosial.

Manajer Pembangunan Berkelanjutan Bank Dunia Franz Dress-Gross mengatakan, Bank Dunia juga melakukan pengawasan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di lapangan. (sab)

Februari 2012

UTANG PROYEK: Biaya JEDI Rp200 miliar dari utang World Bank

Sumber: http://en.bisnis.com/ 20 Februari 2012 

JAKARTA: Kementerian Pekerjaan Umum mendapatkan persetujuan pinjaman dari World Bank sebesar Rp200 miliar untuk program Jakarta Emergency dredging Initiative (JEDI).

Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Budi Yuwono mengatakan proses tender program JEDI sudah diumumkan pascadisetujuinya perjanjian pinjaman tersebut. “Loan sudah disetujui. Sekarang sedang dalam proses tender, target Mei sudah tandatangan kontrak,” ujar Budi di Gedung DPR RI, hari ini.

Namun, sambungnya, loan tersebut belum dapat dipergunakan karena masih diblokir oleh Kementerian Keuangan sambil menunggu proses legalisasi dari Kementerian Hukum dan HAM.

Menurut Budi, proses legalisasi setidaknya dilaksanakan dalam kurun waktu 3 bulan sejak penandatangan persetujuan pinjaman sehingga ditargetkan pada bulan Mei, pinjaman dapat segera dicairkan.

“Kalau proses legalisasi selesai, baru blokirnya dibuka oleh Kementerian Keuangan dan kontrak bisa efektif pada Mei setelah itu langsung grounbreaking,” ucapnya.

Budi menuturkan, proses pengerukan dan normalisasi tersebut setidaknya dapat dilaksanakan dalam kurun waktu 2 tahun sehingga ditargetkan 2014 dapat direalisasikan.

JEDI merupakan salah satu program penanganan genangan banjir di DKI Jakarta. Berupa pengerukan dan normalisasi sungai-sungai di Jakarta yakni saluran Cideng-Thamrin dengan anggaran Rp63,17 miliar, dan pengerukan dan normalisasi saluran tanjungan serta lower Angke senilai Rp138,32 miliar. “Pengerukan ini untuk menambah kapasitas pengaliran sungai atau saluran di Jakarta guna mengatasi genangan atau banjir di Jakarta.”

Selain JEDI, Kementerian PU juga membangun stasium pompa di Marina berkapasitas 50m3/detik dan pompa di Pasar Ikan berkapasitas 30m3/detik dengan dana APBN Rp500 miliar. “Tujuannya untuk mempercepat pemutusan genangan di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat,” ucapnya.

Proses tender selesai dilaksanakan dengan pemenanga tender stasiun pompa Marina adalah PT Pembangunan Perumahan, dan pemenang tender stasiun pompa pasar ikan PT Wijaya Karya.

Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum Mochammad Amron mengatakan pelaksanaan program penanganan banjir di DKI Jakarta ini dilaksanakan secara sinergis oleh Ditjen Sumber Daya Air, Ditjen Cipta Karya, dan Pemda DKI.

Ditjen Sumber Daya Air yang akan melakukan proses pelebaran dan normalisasi sungai, tanggul, dan kanal. Sementara Cipta Karya yang mengalirkan genangan tersebut dari kawasan perkotaan untuk ditampung di aliran sungar.

“Akan ada pembagian tugas yang jelas supaya air yang tergenang di perkotaan tertampung dan dihubungkan ke sungai,” jelasnya.

Diharapkan program tersebut mampu mengurangi genangan air hingga 594 hektar di beberapa titik di DKI Jakarta. (msb)

Juli 2012

Penanggulangan Banjir: Normalisasi dan Pengerukan Sungai Mulai Oktober

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/  2 Juli 2012 

KOMPAS.com/Vitalis Yogi Trisna
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo melakukan kunjungan ke Cengkareng Drain, Jakarta Barat, Senin (2/7/2012). Cengkareng Drain merupakan salah satu paket dari realisasi proyek pengendalian banjir atau Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI).

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo melakukan peninjauan proyek pengerukan kali di Cengkareng Drain, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Senin (2/7/2012). Ia menegaskan, selain pengerukan kali, pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga bertanggung jawab memperbaiki pintu air yang sudah rusak dan memperbaiki mesin pompa air dalam rangka menanggulangi banjir.

“Jadi, siapa bilang Pemprov DKI tidak berbuat banyak dalam pengendalian banjir di Jakarta? Antara September dan Oktober mendatang akan segera dimulai proyek pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta,” kata pria yang akrab disapa Foke itu saat meninjau Cengkareng Drain, Senin.

Proyek pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan ini dikenal dengan Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI). Foke menyebutkan, sampai saat ini proyek JEDI telah memasuki tahap tender. “Diharapkan bulan Juli ini sudah selesai sehingga Oktober pengajuan tahap I sudah bisa dilaksanakan,” kata Foke.

Secara keseluruhan proyek JEDI ini meliputi 57 kelurahan di empat wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Foke memperkirakan, proyek JEDI ini dapat membebaskan 1,8 juta penduduk di wilayah tersebut dari ancaman banjir.

“Nantinya akan ada pemisahan lumpur dan sampah. Lumpurnya akan ditiriskan ke Ancol dengan truk kedap air dan sampahnya akan dibuang ke Bantar Gebang, Bekasi. Kami juga akan mengawasi secara ketat pengerjaan kontraktor,” kata Foke.

Foke memaparkan, pengerjaan proyek JEDI dilakukan secara bertahap dalam 7 paket pengerjaan. Dari tujuh paket itu, tiga paket dikerjakan Pemprov DKI dengan total nilai 100,5 juta dollar AS. Adapun dua paket lain dikerjakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dengan biaya 53,2 dollar AS dan dua paket sisaya oleh Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai 22,4 juta dollar AS dari Bank Dunia. Pengajuan pinjaman ke Bank Dunia sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2008, tetapi baru terealisasi pada 2012.

Dua paket akan dikerjakan pada tahap pertama masing-masing menelan biaya 8,1 juta dollar AS dan 31,1 juta dollar AS. Paket lain yang pengerjaannya masuk dalam tahap I ini adalah pengerukan Gunung Sahari Drain, Waduk Melati dengan biaya 30,8 juta dollar AS dan paket pengerukan Cideng-Thamrin Drain dengan biaya 7 juta dollar AS.

Pengerukan 13 Sungai Efektif Kurangi Banjir 35 Persen

Sumber: http://beritajakarta.com/02 Juli 2012 

Upaya pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta lewat proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) akan dimulai Oktober mendatang. Tender proyek tersebut telah berjalan dengan melibatkan 14 perusahaan termasuk dari Korea, Cina, India, dan Taiwan. Jika proyek ini selesai, diprediksi dapat mengurangi banjir sekitar 35 persen.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, realisasi proyek JEDI dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam 7 paket pengerjaan. Dari tujuh paket itu, tiga paket dikerjakan Pemprov DKI, dua oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) dan dua lainnya oleh Cipta Karya lewat bantuan dana Bank Dunia. Pengajuan pinjaman ke Bank Dunia sebenarnya sudah sejak tahun 2008 namun karena banyak birokrasinya, realisasinya baru tahun 2012 ini.

“Dua paket akan dikerjakan pada tahap I dengan biaya masing-masing 8,1 juta dolar Amerika Serikat (AS) dan 31,1 juta dolar AS. Paket lain yang pengerjaannya masuk dalam tahap I ini adalah pengerukan Gunung Sahari Drain, Waduk Melati dengan biaya 30,8 juta dolar AS dan paket pengerukan Cideng Thamrin Drain dengan biaya 7 juta dolar AS,” kata Fauzi Bowo, saat meninjau Pintu Air Cengkareng Drain, Jakarta Barat, Senin (2/7).

Fauzi menyebutkan, secara keseluruhan proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta. Yakni di Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Proyek JEDI ini diharapkan mampu membebaskan pemukiman warga dari banjir.

Gubernur menyebut, total biaya proyek JEDI mencapai 176,1 juta dolar AS, sebagian besarnya berasal dari pinjaman Bank Dunia. Tanggung jawab terbesar dipikul Pemprov DKI, yang mengerjakan tiga paket dengan nilai 100,5 juta dolar AS. Kemudian BBWSCC dua paket dengan nilai 53,2 juta dolar AS dan Cipta Karya dua paket dengan nilai 22,4 juta dolar AS. Dengan demikian, dalam proyek JEDI ini, tanggung jawab DKI mencapai 56 persen, sedangkan untuk Kanal Banjir Timur (KBT) DKI bertanggung jawab sebesar 52 persen.

Proyek JEDI ini meliputi daerah kumuh di sepanjang Kanal Banjir Barat (KBB), Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi penduduk sekitar 173 ribu jiwa. “Kawasan ini nanti akan dirapikan sehingga menjadi kawasan yang lebih bersih dan layak huni,” jelasnya.

Pengerjaan proyek ini, kata gubernur, dilakukan dengan standar ramah lingkungan. Termasuk lumpur dan sampahnya pun akan dipisahkan. Untuk lumpurnya akan ditiriskan, kemudian dibuang ke kawasan Ancol menggunakan truk kedap air. Sedangkan sampahnya dibuang ke TPA Bantargebang.

Foke: Proyek JEDI Kurangi 30 Persen Banjir Jakarta

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/ 2 Juli 2012 

KOMPAS.com/Vitalis Yogi Trisna
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo melakukan kunjungan ke Cengkareng Drain, Jakarta Barat, Senin (2/7/2012). Cengkareng Drain merupakan salah satu paket dari realisasi proyek pengendalian banjir atau Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI).

JAKARTA, KOMPAS.com – Proyek pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta atau lebih dikenal dengan Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) diharapkan akan mengurangi tekanan banjir di Jakarta sebesar 30 persen. Hal ini disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, saat melakukan tinjauan Cengkareng Drain di Jakarta Barat, Senin (2/7/2012).

“Diharapkan melalui proyek ini dapat menekan banjir Jakarta sampai 30 persen, setelah sebelumnya, proyek Banjir Kanal Timur sudah menekan 40 persen banjir Jakarta. Perlahan tapi pasti, proyek ini akan mengurangi banjir di Jakarta,” ujar Foke, sapaan Fauzi Bowo, saat ditemui wartawan di Jakarta, Senin.

Saat ini, proyek JEDI sendiri sudah memasuki tahap tender. Foke mengatakan, penawaran tender proyek JEDI ini bersifat internasional dan sudah ada 14 perusahaan yang telah mengajukan penawaran, delapan di antaranya dari luar negeri, seperti Korea, China, India, dan Taiwan.

Foke menambahkan, proyek ini sangat penting dan pendanaannya antara lain didapatkan dari Bank Dunia. Anggaran yang dianggarkan untuk merealisasi JEDI mencapai 176,1 juta dollar AS yang sebagian besar berasal dari pinjaman dunia. Realisasi proyek JEDI akan dilakukan secara bertahap dan dibagi kedalam tujuh paket pengerjaan. Tiga paket di antaranya menjadi tanggung jawab Pemprov DKI dengan nilai 100,5 juta dollar AS, dua paket lain oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane dengan nilai 53,2 juta dollar AS, dan dua paket sisanya oleh Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai 22,4 juta dollar AS.

Proyek JEDI ini mencakup daerah kumuh di sepanjang Banjir Kanal Barat, Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi penduduk sekitar 173.000 jiwa. “Kawasan ini nantinya akan dirapikan sehingga menjadi kawasan yang lebih bersih dan layak huni,” kata Foke.

Foke memaparkan, pengerjaan proyek tersebut dilakukan berdasarkan standar ramah lingkungan. Pengerukan lumpur dan sampah akan dilakukan secara terpisah. “Lumpurnya akan ditiriskan ke Ancol dengan truk kedap air dan sampahnya akan dibuang ke Bantar Gebang, Bekasi. Kami juga akan mengawasi secara ketat pengerjaan kontraktor,” kata Foke.

Pengerukan 13 kali di DKI dilakukan Oktober mendatang

Sumber: http://www.merdeka.com/ 2 Juli 2012

Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) yang merupakan proyek pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta, akan segera dimulai pada Oktober mendatang. Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, proyek JEDI telah memasuki tahap tender.

“Diharapkan Juli ini sudah selesai, sehingga Insyaallah, Oktober pengerjaan tahap pertama sudah bisa dilakukan,” ujar Fauzi Bowo, seusai melakukan kunjungan ke Cengkareng Drain, Jakarta Barat, Senin (2/7).

Dijelaskan Fauzi Bowo, penawaran tender proyek JEDI bersifat internasional. Di mana dari 14 perusahaan yang telah mengajukan penawaran, 8 diantaranya dari luar negeri, seperti Korea, China, India dan Taiwan. Namun saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah melakukan klarisifikasi peserta.

“Realisasi proyek JEDI dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam tujuh paket pengerjaan. Bersama Kali Sunter, pengerukan Cengkareng Drain merupakan paket dua dan akan dikerjakan pada tahap pertama ini, dengan biaya masing-masing US$ 8,1 juta dan US$ 31,1 juta,” kata dia.

Sementara itu, paket lain yang pengerjaan masuk dalam tahap I adalah paket 1, yaitu pengerukan Gunung Sahari Drain, Waduk Melati dengan biaya US$ 30,8 juta dan paket 3 yaitu pengerukan Cideng Thamrin Drain dengan biaya U$ 7 juta.

“Secara keseluruhan proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Barat, Utara, Pusat dan Timur, dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta jiwa, yang selama ini sering was-was jika musim hujan datang. Keberadaan proyek JEDI ini akan membebaskan lingkungan pemukiman mereka dari risiko banjir,” jelasnya.

Selain itu, total biaya yang dianggarkan untuk merealisasi JEDI mencapai US$ 176,1 juta, yang sebagian besar berasal dari pinjaman Bank Dunia. Di mana tanggung jawab terbesar dipikul oleh Pemprov DKI, mengerjakan paket 1, 4 dan 7 dengan nilai US$ 100,5 juta.

“Lainnya oleh Balai Besar Ciliwung Cisadane paket dua dan enam, dengan nilai US$ 53,2 juta dan Cipta Karya paket tiga dan lima, dengan nilai US$ 22,4 juta. Jadi jangan ada lagi pihak-pihak yang mengatakan Pemprov DKI tidak berbuat banyak dalam pengendalian banjir di Jakarta. Di proyek JEDI ini, tanggung jawab DKI mencapai 56%, dan di KBT 52%,” sahut gubernur yang akrab disapa Foke itu.

Dirinya juga menjelaskan, proyek JEDI sendiri juga mencakup daerah kumuh di sepanjang Banjir Kanal Barat, Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi sekitar 173.000. Kawasan ini nantinya, akan dirapikan sehingga menjadi kawasan yang lebih bersih dan layak huni.

“Pengerjaan proyek ini dilakukan dengan standar ramah lingkungan. Nantinya akan ada pemisahan lumpur dan sampah, di mana lumpurnya akan ditiriskan, kemudian akan dibawa ke Ancol dengan truk kedap air dan sampah akan dibuang ke Bantar Gebang. Pengerjaan kontraktor akan diawasi secara ketat, dan saat pengangkutan lumpur dan sampah tidak ada boleh yang tercecer atau membuat jalan jadi kumuh,” pungkasnya. [hhw]

Bank Dunia Pinjamkan US$176,1 juta Untuk Proyek JEDI

Sumber:  http://www.bisnis.com/ 03 Juli 2012 

JAKARTA – Total biaya yang dianggarkan untuk merealisasikan Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) mencapai US$ 176,1 juta yang berasal dari pinjaman Bank Dunia.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengungkapkan bahwa penawaran tender proyek ini bersifat internasional. Dari 14 perusahaan yang telah mengajukan penawaran, terangnya, 8 di antaranya berasal dari luar negeri seperti Korea, China, India, dan Taiwan.

“Kini kita tengah melakukan klarifikasi peserta. Saat ini telah memasuki masa tender, diharapkan Juli ini sudah selesai sehingga Oktober mendatang pengerjaan tahap I sudah bisa dilakukan,” kata Fauzi dalam berita pers-nya.

JEDI ini adalah proyek pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta. Realisasi ini akan dilakukan secara bertahap, jelas Fauzi, dan dibagi dalam 7 paket pengerjaan.

Pengerukan Gunung Sahari Drain termasuk dalam paket 1 yang  diperkirakan akan menghabiskan biaya US$30,8 juta. Untuk pengerjaan paket 1 memperkirakan akan membutuhkan waktu 2,5 tahun.

Pengerukan Cengkareng Drain yang merupakan paket 2 dikerjakan dengan biaya US$31,1 juta. Fauzi menjelaskan bahwa pengerjaan paket 2 mungkin akan terkendala dengan proses relokasi warga yang mungkin akan menyulitkan. Selanjutnya pengerukan Cideng Thamrin Drain yang termasuk dalam paket 3 memakan biaya US$7 juta.

Fauzi mengatakan bahwa tanggung jawab yang dipikul pemrpov mencakup pengerjaan paket 1, 4, dan 7 dengan nilai US$100,5 juta. Sementara  untuk pengerjaan paket 2 dan 6 dengan nilai US$53,2 juta menjadi  tanggung jawab Balai Besar Ciliwung Cisadane. Kemudian, untuk paket 3 dan 5 dengan nilai US$22,4 juta akan dikerjakan oleh Cipta Karya.

Secara keseluruhan, terangnya, proyek ini akan meliputi 57 kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta jiwa yang sering khawatir jika musim hujan datang. Keberadaan proyek ini, lanjutnya, akan membebaskan lingkungan pemukiman mereka dari resiko banjir.

Proyek JEDI ini juga mencakup daerah kumuh di sepanjang Banjir Kanal Barat, Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, dan Krukut-Cideng  dengan populasi sekitar 173.000 orang. Kawasan ini, tuturnya, akan dirapikan sehingga menjadi kawasan yang lebih bersih dan layak huni.

Nantinya, ujar Fauzi, akan dilakukan pemisahan lumpur dan sampah. Tahapannya, lumpur akan diritirskan dan dibawa ke Ancol dengan truk  kedap air. Sementara, sampah akan dibuang ke Bantar Gebang. Fauzi  menjanjikan bahwa pengerjaan kontraktor akan diawasi secara ketat. (msb)

Proyek Pengerukan Lumpur Akan Dibuang di Ancol

Sumber:  http://megapolitan.kompas.com/3 Juli 2012 

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Ilustrasi : Normalisasi Sungai – Sebuah ekskavator digunakan untuk mengeruk endapan lumpur di Sungai Krukut, Kelurahan Karet Tengsin, Jakarta Pusat, Senin (19/12/2011). Pemerintah berncana melakukan normalisasi dengan pengerukan di sejumlah sungai besar di Jakarta untuk mengantisipasi banjir yang masih mengancam.

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengerukan lumpur sungai dan waduk yang menjadi program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menanggulangi banjir Jakarta, rencananya akan dibuang di tanggul Ancol.

“Lumpur hasil pengerukan sungai akan ditiriskan, kemudian akan dibawa ke Ancol dengan truk kedap air. Pemprov DKI juga sudah memerhatikan kaidah lingkungannya,” kata Gubernur DKI Fauzi Bowo di sela-sela melakukan peninjauan tanggul pembuangan lumpur proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI), di Ancol, Jakarta Utara, Senin, (2/6/2012).

Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo mengatakan, pengerjaan kontraktor juga akan diawasi secara ketat, dan saat pengangkutan lumpur dan sampah tidak ada yang boleh tercecer atau membuat jalan jadi kumuh. Pengerukan sungai tersebut dikerjakan dengan kaidah lingkungan, karena Bank Dunia sebagai sumber pendanaan terbesar proyek itu memiliki kriteria yang ketat untuk memperbaiki lingkungan.

“Ini dikontrol supervisi Bank Dunia. Tanggul digunakan sebagai penampung lumpur 3.000 meter dengan luas 120 hektar. Tanggul selatan dan barat sudah jadi, tinggal yang di utara. Tanggul utara akan dimulai Agustus. Nanti juga akan dibuat geotube, semacam balon diisi pasir, ramah lingkungan dan bersatu dengan alam, jadi lumpur nggak ke mana-mana tetap di situ,” katanya.

Foke mengatakan, Pemprov DKI sedang mendesain tanggul raksasa di Teluk Jakarta. “Kami sedang mendesain giant sea wall. Gunanya untuk menahan air rob. Air laut itu nanti diproses, lalu dijadikan cadangan untuk proses air bersih,” katanya.

Budi Karya, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol mengatakan, biaya tanggul penahan lumpur barat dan selatan Rp 146 miliar. Sementara utara Rp 72 miliar.

“Tanggul penahan lumpur barat dan selatan menelan dana hingga Rp 146 miliar. Sementara tanggul utara menghabiskan sekitar Rp 72 miliar. Dengan daya tampung delapan juta meter kubik,” kata Budi Karya.

14 Perusahaan Ikut Tender Pengerukan 13 Sungai

Jika proyek itu rampung, banjir di Jakarta akan berkurang sebanyak 35 persen.

Sumber: http://www.beritasatu.com/ 3 Juli 2012 

Proyek pengerukan 13 sungai melalui program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) sudah memasuki tahap tender.

Sudah ada sebanyak 14 perusahaan yang mengikuti proses tender tersebut, di antaranya 8 perusahaan dari luar negeri seperti Korea, China, India dan Taiwan.

Diharapkan proses tender tersebut dapat selesai pada Juli 2012, sehingga pada Oktober 2012 pengerjaan pengerukan 13 sungai untuk pengendalian banjir dapat dilakukan. Jika proyek itu rampung, banjir di Jakarta akan berkurang sebanyak 35 persen.

“Realisasi proyek JEDI ini dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam tujuh paket pengerjaan. Dari tujuh paket tersebut, sebanyak tiga paket dikerjakan Pemprov DKI, dua oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC), dan dua paket lainnya dikerjakan PT Cipta Karya,” kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo (Foke), saat meninjau Pintu Air Cengkareng Drain, Senin (2/7).

Total biaya proyek JEDI mencapai 176,1 juta US Dolar, sebagian besarnya berasal dari pinjaman dunia. Tanggung jawab terbesar dipikul Pemprov DKI, yang mengerjakan tiga paket dengan nilai 100,5 juta dolar Amerika. Kemudian BBWSCC dua paket dengan nilai 53,2 juta dolar Amerika dan Cipta Karya dua paket dengan nilai 22,4 juta dolar Amerika.

Menurut Foke, dua paket dikerjakan pada tahap I dengan biaya masing-masing 8,1 juta dolar Amerika dan 31,1 juta dolar Amerika. Paket lain yang pengerjaannya masuk dalam tahap I ini adalah pengerukan Gunung Sahari Drain, Waduk Melati dengan biaya 30,8 juta dolar Amerika, dan paket pengerukan Cideng Thamrin Drain dengan biaya 7 juta dolar Amerika.

Dengan demikian, dalam proyek JEDI ini, tanggung jawab DKI mencapai 56 persen dan di Kanal Banjir Timur (KBT) 52 persen. Secara keseluruhan proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur dengan jumlah penduduk sekitar 1,8 juta jiwa.

Proyek JEDI ini meliputi daerah kumuh di sepanjang Banjir Kanal Barat, Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi penduduk sekitar 173 ribu jiwa. Kawasan ini nanti akan dirapikan sehingga menjadi kawasan yang lebih bersih dan layak huni.

“Seluruh penduduk itu selama ini sering was-was jika musim hujan datang. Mereka khawatir terkena banjir. Karenanya, diharapkan proyek JEDI ini mampu membebaskan pemukiman warga dari banjir,” kata Foke.

Pengerjaan proyek ini dilakukan dengan standard ramah lingkungan. Yakni, ada pemisahan lumpur dan sampah. Untuk lumpurnya akan ditiriskan, kemudian dibuang ke kawasan Ancol menggunakan truk kedap air. Sedangkan sampah dibuang ke TPA Bantargebang.
Penulis: Lenny Tristia Tambun/Ririn Indriani

Kontribusi DKI Pada Proyek Pengerukan 13 Sungai Lebih Dominan

Sumber:  http://www.fauzibowo.com/ 3 Juli 2012

Kontribusi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam proyek pengerukan atau normalisasi 13 sungai atau proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) sebanyak 56% dari total biaya yang dianggarkan untuk merealisasikan JEDI senilai US$ 176,1 juta. Pemprov DKI Jakarta mengerjakan paket 1,4, dan 7 dengan nilai US$ 100,5 juta.

Paket lainnya dikerjakan oleh Balai Besar Ciliwung Cisadane yang mengerjakan paket 2 dan 6 dengan nilai US$ 53,2 juta dan Cipta Karya mengerjakan paket 3 dan 5 senilai US$ 22,4 juta. “Jadi jangan ada lagi pihak-pihak yang mengatakan Pemprov DKI tidak berbuat banyak dalam pengendalian banjir di Jakarta. Tanggung jawab Pemprov DKI di proyek JEDI mencapai 56% dan di KBT (Kanal Banjir Timur) sebanyak 52%,”kata Fauzi Bowo usai mengunjungi Cengkareng Drain, Jakarta Barat, Senin (2/7/2012).

Proyek JEDI dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam 7 paket pengerjaan. Pengerukan Cengkareng Drain dan Kali Sunter merupakan paket 2 dan akan dikerjakan pada tahap 1 dengan biaya masing-masing sebesar US$ 8,1 juta dan US$ 31,1 juta. Paket lain yang pengerjaanya masuk di tahap 1 adalah paket 1 yaitu pengerukan Gunung Sahari Drain, Waduk Melati dengan biaya US$ 30,8 juta. Adapun biaya yang dianggarkan untuk paket 3 yaitu senilai US$ 7 juta untuk pengerjaan pengerukan Cideng Thamrin Drain.

Secara keseluruhan, proyek JEDI meliputi 57 kelurahan di Jakarta Barat, Utara, Pusat dan Timur. Jumlah penduduk yang akan menerima dampak positif dari pengerukan kali sebanyak 1,8 juta jiwa. Artinya, warga tersebut akan terhindar dari banjir. Proyek ini juga mencakup daerah kumuh d sepanjang Banjir Kanal Barat, Pakin, Kali Besar, Jelangkeng, Sunter Hulu, Krukut-Cideng dengan populasi sekitar 173 ribu jiwa. “Dengan begitu, perlahan dan pasti, banjir di Jakarta akan berkurang,” tandasnya

Menurut Fauzi Bowo, pengerjaan proyek ini dilakukan dengan standar ramah lingkungan. Nantinya akan ada pemisahan lumpur dan sampah. Lumpur akan ditiriskan sebelum dibawa ke Ancol dengan truk kedap air. Sedangkan, sampah yang terangkut dari hasil pengerukan sungai tersebut akan dibuang ke Bantar Gebang. “Pengerjaan proyek ini memperhatikan kaidah-kaidah ramah lingkungan dan akan diawasi oleh World Bank,” pungkasnya. (FN)

Atasi Banjir Jakarta dengan Pengerukan Sungai

Sumber: http://areamagz.com/10 Juli 2012

Permasalahan banjir yang tak kunjung usai di Jakarta nampaknya akan mendapatkan titik cerah. Mulai Oktober mendatang, proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) akan melangsungkan proyek normalisasi dan pengerukan 13 sungai di Jakarta.

Berdasarkan pernyataan Gubernur Fauzi Bowo, program realisasi ini akan dibagi dalam 7 tahap pengerjaan, termasuk oleh Pemprov DKI, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), dan juga Cipta Karya.

Beberapa target yang akan dikeruk antara lain Gunung Sahari Drain, Waduk Melati, dan Cideng Thamrin Drain. Proyek JEDI ini juga meliputi perapihan daerah-daerah kumuh di kawasan-kawasan tertentu agar mereka lebih terlihat bersih dan terawat.

Secara keseluruhan, 57 kelurahan di wilayah Jakarta Barat, Pusat, Timur, dan Utara diharapkan akan teringankan oleh banjir hingga 35% jikala proyek ini berhasil dilaksanakan. Selain itu proyek JEDI juga ramah lingkungan, karena dalam pengerjaannya lumpur dan sampah akan dipisahkan dan dibuang ke tempat yang berbeda sehingga tidak terlalu menumpuk.

PROYEK JEDI: Dana Bank Dunia US$176,1 juta Cair September 

Sumber:  http://www.bisnis.com/ 22 Juli 2012 

JAKARTA: Pencairan pinjaman dari Bank Dunia senilai US$176,1 juta untuk pelaksanaan proyek Jakarta Emergency Dredging Initiatif (JEDI) ditagetkan efektif pada September mendatang.

Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Kementerian Pekerjaan Umum Sjukrul Amin mengatakan dengan dicairkannya loan tersebut maka pemenang tender konstruksi sekaligus diumumkan sehingga proyek dapat segera dilaksanakan.

Menurutnya pemerintah tengah melakukan proses persiapan pelaksanaan dan dokumen tender. Saat ini sudah ada 14 perusahaan yang mengajukan penawaran, delapan diantaranya berasal dari luar negeri seperti Korea, China, India, dan Taiwan.

“Loan diperkirakan efektif bulan September, setelah itu pemenang tender akan diumumkan. Sekarang lagi pembahasan persiapan pelaksanaan antara pemprov DKI, Ditjen SDA, dan Ditjen Cipta Karya,” ucapnya hari ini, Minggu (22/7/2012).

Setelah diumumkan, sekitar tiga hingga empat bulan ke depan akan dilanjutkan dengan proses konstruksi. Sementara penyelesaian proyek secara multiyears ditargetkan dapat terealisasi sekitar 2014 akhir atau 2015 awal.

Dituturkan olehnya saat ini sudah tidak ada kendala berarti yang dapat menghambat proses pembangunan pengendalian banjir melalui normalisasi dan pengerukan 13 sungai di DKI Jakarta tersebut.

Bila pun ada ialah berupa permukiman di sekitar bantaran sungai yang akan direlokasi dan diatur pemindahannya sehingga tidak mencemari sungai yang telah dinormalisasi.

“Tidak ada masalah lagi, karena sudah ada kanal jadi tinggal normalisasi saja. Kalau ada masyarakat yang tinggal dibantaran, maka akan ditertibkan,” tuturnya.

Sjukrul mengatakan tanggung jawab pekerjaan proyek tersebut berada di Ditjen Sumber Daya Air untuk pengendalian banjir, Ditjen Cipta Karya yang akan menangani drainase perkotaan, dan Pemprov DKI Jakarta bertanggung jawab atas drainase sekunder sehingga loan akan terbagi ke pusat dan provinsi.

“Kami dari PU membantu pemprov DKI untuk mengatasi masalah banjir, limbah, dan drainase di Jakarta. Mudah-mudahan dengan terealisasinya proyek JEDI ini akan mengurangi banjir di Jakarta dan mewujudkannya sebagai kota yang bersih dari sampah dan limbah.”

Melalui normalisasi dan pengerukan lumpur di 13 sungai di Jakarta maka kondisi saluran sungai yang tadinya macet akan menjadi lebih lancar sehingga dapat mengendalikan dan mengurangi resiko banjir di Jakarta hingga 30%.

Proyek JEDI juga mencakup daerah kumuh di sepanjang Banjir Kanal Barat, Pakin, Kali Besar, Jelakeng, Sunter Hulu, dan Krukut-Cideng dengan populasi sekitar 173.000 orang. (sut)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: