Siaran Pers JUFMP / JEDI

Merehabilitasi aliran air di Jakarta untuk mengurangi risiko banjir

Sumber:  http://web.worldbank.org/ 17 Januari 2011

  • Diperkirakan banjir di Jakarta akan semakin sering di tahun-tahun mendatang, dan mengakibatkan kerugian sosial-ekonomi yang besar
  • Salah satu penyebab utama banjir adalah berkurangnya aliran air akibat penumpukan sedimen dan kurangnya manajemen limbah padat
  • Bank Dunia akan mendukung Pemda DKI Jakarta merehabilitasi beberapa kanal dan waduk untuk mengurangi risiko banjir

Jakarta, Januari 17, 2011 -Sepanjang bulan Januari 2012, sangat jarang terjadi hari yang cerah di Jakarta. Hujan semakin sering dan lebat, disertai angin kencang. Kota Jakarta memang rawan dilanda banjir, dengan banjir-banjir besar terjadi di tahun 1996, 2002 dan 2007. Pada Februari 2007, banjir menggenangi 235 km2 Jakarta atau sekitar 36 persen kota, dengan ketinggian air mencapai tujuh meter di beberapa tempat. Pada tahun itu 70 orang meninggal dan 340.000 terpaksa menungsi dari tempat tinggal mereka. Banjir besar yang konon terjadi tiap lima tahun mulai ramai dibicarakan, dan warga Jakarta mulai berantisipasi akan kembali terjadi tahun ini.

Setelah tahun 2007, banjir kembali terjadi di Jakarta jika kota mengalami hujan berkepanjangan. Pada tahun 2008, banjir menutup bandara Soekarno-Hatta, sehingga membatalkan lebih dari 1.000 penerbangan dan menggangu berbagai aktivitas ibukota. Banjir kembali terjadi pada tahun 2009, juga pada tahun 2010 yang dikenal sebagai tahun tanpa musim kering sebagai dampak La Niña.

Kota rawan banjir

Kejadian banjir di Jakarta telah tercatat sejak abad ke-17, jauh sebelum nama Jakarta muncul. Kota ini dikelilingi beberapa gunung berapi pasif yang menjadi sumber 13 sungai yang mengalir melalui Jakarta menuju Laut Jawa. Kota Jakarta terletak di dataran rendah gunung-gunung tersebut. Saat ini, sekitar 40 persen Jakarta berada di bawah permukaan air laut, dan penurunan permukaan tanah terus jadi.

Setiap tahunnya, sekitar 250.000 ribu penduduk baru datang dari daerah untuk menetap di Jakarta. Pertumbuhan kota yang pesat juga menjadi faktor penyebab banjir. Infrastruktur kota, gedung, dan rumah yang dibangun di bantaran sungai dan daerah resapan air, telah mengurangi kapasitas aliran sungai dan kanal di Jakarta. Menumpuknya sedimen dan terbatasnya manajemen limbah padat mengakibatkan kanal tidak berfungsi penuh, dan beberapa hanya mengalir sepertiga dari kapasitas semula.

Merehabilitasi aliran air untuk mengurangi risiko banjir

Untuk mengurangi risiko banjir, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah telah melakukan upaya yang besar untuk melindungi Jakarta, seperti membangun tanggul laut dan banjir kanal timur. Namun, tantangan terus ada terkait masalah yang kompleks ini. Sebagai langkah berikut, pemerintah dengan dukungan Bank Dunia akan menjalankan sebuah proyek untuk merehabilitasi aliran air di Jakarta. Melalui Proyek Mitigasi Banjir Darurat Jakarta, yang juga dikenal dengan Proyek Pengerukan Darurat Jakarta, beberapa bagian utama dari kanal dan waduk akan dikeruk agar aliran air kembali ke kondisi semula. Limbah padat yang mengganggu alira air akan dibuang ke tempat pembungan khusus di lokasi terpisah.

Upaya mencegah banjir tidak terbatas pada pekerjaan fisik saja. “Manajemen banjir di Jakarta adalah sesuatu yang kompleks, dan memerlukan upaya untuk mengatasi berbagai tantangan pada berbagai aspek yang berada di bawah tanggung jawab beberapa institusi terpisah,” kata Fook Chuan Eng, Spesialis Air dan Sanitasi di Bank Dunia Kantor Jakarta. Untu mengatasi hal ini, proyek lima tahun ini juga akan membantu meningkatkan kapasitas dan koordinasi antara beberapa lembaga nasional dan daerah yang bertanggungjawab terhadap manajemen banjir.

Bank Dunia Dukung Upaya Mitigasi Banjir di Jakarta

Sumber: http://web.worldbank.org/ 17 Januari 2011

Kantor Bank Dunia Jakarta
Gedung Bursa Efek Indonesia
Tower 2, Lantai 12 (62-21-5299-3000)

Kontak:
Di Jakarta:Nugroho Nurdikiawan Sunjoyo (62-21) 5299-3150
nsunjoyo@worldbank.org

Di Washington DC: Mohamad Al-Arief (1-202) 458-5964

malarief@worldbank.org

Washington DC, 17 Januari, 2012 – Dewan Direksi Eksekutif Bank Dunia hari ini menyetujui proyek rehabilitasi sejumlah kanal dan waduk untuk mendukung sistem manajemen banjir DKI Jakarta. Proyek Mitigasi Banjir Darurat Jakarta (Jakarta Urgent Flood Mitigation Project) – yang disebut juga Jakarta Emergency Dredging Initiative – akan melakukan pengerukan pada 11 saluran air sepanjang 67,5 km dan pada 4 waduk seluas 65 hektar, untuk membantu mengembalikan kapasitas aliran air. Sekitar 42 km bantaran sungai juga akan direhabilitasi. Semua kegiatan ini akan dilakukan pada titik-titik prioritas sistem manajemen banjir Jakarta.

“Studi menunjukkan bahwa langkah yang paling membawa manfaat bagi mitigasi banjir di Jakarta adalah merehabilitasi sistem manajemen banjir kota, agar kembali pada kapasitas semula. Selain pengerukan, perawatan rutin juga akan membantu mitigasi banjir,” kata Fook Chuan Eng, Spesialis di Bank Dunia Kantor Jakarta urusan Air dan Sanitasi .

Sekitar 3,4 juta kubik meter sedimen akan dikeruk dari kanal dan waduk. Semua lokasi proyek akan diuji sedimennya sebelum pengerukan dilakukan. Sedimen yang tidak berbahaya akan dipindahkan dan dibuang di fasilitas tertutup di Ancol, Jakarta Utara. Apabila ditemukan limbah padat dan bahan berbahaya akan dibuang ke fasilitas pembuangan khusus yang terpisah.

Proyek ini akan semaksimal mungkin mengurangi jumlah penduduk yang terkena dampak banjir. Relokasi sebagai dampak proyek ini akan mengikuti Kerangka Kebijakan Permukiman Kembali (Resettlement Policy Framework – RFP) dari Pemda DKI Jakarta. Kerangka Kebijakan ini konsisten dengan praktik terbaik (best practice) internasional untuk proses permukiman kembali. Mereka yang akan direlokasi oleh proyek ini akan memperoleh akses perumahan yang memadai. Apabila relokasi berdampak pada mata pencaharian penduduk, dukungan selama perpindahan lokasi juga akan diberikan. Relokasi penduduk diperkirakan akan terjadi di enam dari 15 lokasi proyek.

“Proyek ini menandai keterlibatan pertama Bank Dunia dengan Pemda DKI Jakarta dalam membantu memecahkan masalah banjir dan pembangunan kota yang kompleks” kata Stefan Koeberle, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. “Aspek fisik proyek ini tidak terlalu besar, tetapi akan membantu beberapa tantangan teknis mitigasi banjir di Jakarta. Sebagai contoh, proyek ini akan memperkenalkan mekanisme pendanaan baru yang memungkinkan pemerintah Indonesia mendanai proyek yang diprakarsai oleh pemerintah daerah. Usaha untuk menjaga aspek lingkungan hidup dan sosial juga diterapkan. Dengan membantu dalam isu-isu tersebut, Bank Dunia berharap dapat berkontribusi dalam upaya DKI Jakarta melakukan mitigasi banjir secara berkelanjutan dan mengurangi kerugian ekonomi dan korban manusia.”

Proyek Mitigasi Banjir Darurat Jakarta (Jakarta Urgent Flood Mitigation Project) akan didanai melalui pinjaman sebesar USD 139,64 juta. Pemerintah Pusat dan Pemda DKI Jakarta akan memberikan kontribusi dana pendamping sebesar USD 49,71 juta.

Jakarta telah menderita kerugian akibat banjir yang berulang terutama yang terjadi pada bulan Januari 1996, Februari 2001, dan Februari 2007. Banjir tahun 2007 menggenangi sekitar 36% kota, berdampak pada lebih dari 2,6 juta penduduk dan memaksa 340.000 orang untuk mengungsi dari rumah mereka. Pada tahun 2007 lebih dari 70 orang meninggal dan penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh banjir berdampak pada lebih dari 200.000 penduduk, total kerugian mencapai USD 900 juta.

Pemprov DKI Jakarta dan Bank Dunia resmi luncurkan proyek untuk mengurangi risiko banjir (Siaran Pers)

Sumber:  http://web.worldbank.org/30 Januari 2011   

Jakarta, 30 Januari 2012 – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Dunia hari ini secara resmi meluncurkan Proyek Mitigasi Banjir Darurat Jakarta, atau dikenal juga sebagai Inisiatif Pengerukan Darurat Jakarta (JEDI), yang akan membantu pengoperasian dan perawatan sistem pengelolaan banjir Jakarta.

Proyek ini akan merehabilitasi beberapa bagian dari sejumlah jalan air utama di Jakarta. Sekitar 67,5 km dari 11 bagian kanal utama dan 65 hektar dari empat waduk akan dikeruk untuk mengembalikan kapasitas operasinya. Selain itu, 42 km tanggul juga akan diperbaiki pada bagian-bagian tersebut, serta peralatan mekanis seperti pompa dan pintu air akan diperbaiki atau diganti. Sekitar 3,4 juta ton kubik meter sedimen dan 95.000 kubik meter limbah padat akan dikeruk dari jalan air dan waduk

Berbagai studi mengenai banjir yang berulang di Jakarta menunjukkan bahwa memulihkan jalan air dan waduk agar beroperasi seperti semula merupakan langkah yang membawa manfaat terbesar untuk mengurangi risiko banjir. Rehabilitas jalan air melalui proyek ini akan memperkuat upaya-upaya yang telah dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk mengurangi banjir, seperti pembangunan tanggul laut dan kanal banjir timur.

Relokasi penduduk diperkirakan akan terjadi di enam dari 15 lokasi proyek. Proses permukiman kembali penduduk akan menaati Kerangka Kebijakan Permukiman Kembali dari Pemprov DKI Jakarta yang telah memenuhi standar internasional. Penduduk yang terkena dampak proyek akan diberikan akses perumahan yang sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Dengan tersedianya dana, saat ini sudah ada kemajuan untuk merehabilitasi aliran air di Jakarta. Sekarang berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam sistem pengelolaan banjir Jakarta harus bekerja untuk mempercepat implementasi proyek ini, “ kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di Jakarta, Senin (30/1).

Pendanaan untuk proyek lima tahun ini telah disetujui Dewan Direksi Eksekutif Bank Dunia pada 17 Januari 2012. Proyek ini akan didanai melalui pinjaman sebesar US$139,64 juta, serta pemerintah pusat dan Pemda DKI Jakarta berkontribusi sebesar US$49,71 juta.

“Karena sekarang dana telah ada, Bank Dunia telah siap mengambil langkah berikut untuk mendukung Pemda DKI Jakarta mengurangi risiko bencana di Ibukota Indonesia,” kata Stefan Koeberle, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia. Ia menambahkan, “Proyek ini akan meningkatkan sistem pengelolaan banjir Jakarta agar memenuhi standar internasional dalam hal keamanan lingkungan hidup dan sosial.”

Selain merehabilitasi aliran air, sebagai bagian dari proyek ini, Bank Dunia juga akan memberikan bantuan teknis dalam hal manajemen proyek, perlindungan sosial, dan peningkatkan kapasitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: