Buaya?

Buaya Ditangkap di Sungai Ciliwung

Sumber:  http://berita.liputan6.com/ 03 Februari 2003

Liputan6.com, Jakarta: Seekor buaya sepanjang satu setengah meter ditangkap penduduk Matraman Dalam, Jakarta Timur, dari Sungai Ciliwung, Senin (3/2) petang. Warga Matraman yang duduk di pingir sungai, sebenarnya melihat empat ekor buaya yang sedang berenang. Tapi mereka hanya menangkap yang paling kecil dengan menggunakan jerat tali yang diikat diujung bambu.

Muhammad Yusuf, seorang warga setempat, mengatakan, buaya yang ditangkap itu akan diberikan ke kebun binatang. Dia juga berniat memelihara hewan amfibi itu jika pihak kebun binatang menolaknya. Penduduk Matraman Dalam kerap kehilangan ayam peliharaannya di sekitar Kali Ciliwung. Muhammad Yusuf menuturkan, sungai itu banyak dihuni buaya liar yang pada waktu-waktu tertentu seringkali muncul ke permukaan air. Hal ini membahayakan bagi anak-anak yang terbiasa bermain di pinggiran sungai itu.(COK/Ferry)

Berburu Buaya di Kali Ciliwung

Suara Pembaruan, 6 Februari 2003 /Alex Suban

Sumber: http://groups.yahoo.com/ 

BUAYA CILIWUNG – Warga Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (6/2), memperhatikan buaya yang ditemukan di Sungai Ciliwung yang meluap.

RABU (5/2) sore, Diding (40), Yusuf (42) dan beberapa teman mereka, asyik nongkrong di pinggir Kali Ciliwung yang melintas di Kampung Matraman Dalam, Menteng, Jakarta Pusat. Di situ, mereka bukan hendak mengikuti lomba renang, di saat permukaan air kali itu mulai merambat naik.

Ada yang hendak mereka tangkap. Sebab, mereka membawa tali dan kayu. Dan mata mereka tertuju ke aliran kali itu. Mereka berburu buaya.

Menurut Diding, dia sudah melihat ada tiga ekor buaya terapung-apung di
permukaan air. Binatang itu berusaha tetap di pinggir kali. Diding mengatakan, kalau buaya-buaya itu muncul ke permukaan air atau ke pinggir kali, mereka langsung mengejar dan menangkap buaya-buaya dengan menjeratnya memakai tali.

Mereka berusaha menangkap buaya-buaya itu bukan berarti untuk dikomersilkan, tetapi karena mereka takut dengan keberadaan binatang itu di Kali Ciliwung. ”Yang namanya buaya tidak ada kata jinak,” ujar Diding.

Yusuf menambahkan dengan adanya buaya-buaya di Ciliwung membuat warga sekitar kali itu, bukan hanya tidak bisa leluasa berada di kali berbagai keperluan, tetapi untuk berada di pinggir kali itu saja, sudah takut.

Warga pinggir kali Ciliwung, katanya, tidak bisa lagi memetik daun kangkung dan slada di kali Ciliwung. Selain itu, anak-anak tidak bisa lagi mandi di kali itu.

Adanya buaya di Ciliwung, menurut Diding, diketahui warga setelah beberapa minggu banjir di Jakarta menyurut, pada tahun 2002. Waktu itu, beberapa warga yang melihat buaya itu menyampaikan ke warga lainnya termasuk aparat  pemerintahan setempat. Namun, banyak yang tak percaya. “Bahkan ada yang bilang, cerita tentang buaya itu bohong,” kata Diding.

Pada Senin (3/2) baru lalu, dia dan teman-temanya kembali menangkap seekor  buaya berukuran kecil, karena panjangnya hanya 14 centimeter. Hari itu  sekitar pukul 11.30 WIB, tutur Yusuf, ada empat ekor buaya muncul ke pinggir kali di Matraman Dalam, RT 20/RW 07, Pegangsaan, Menteng.

Ketika keempat buaya itu muncul ke pinggir kali, Yusuf dan Diding serta teman-teman berusaha menangkap dengan menggunakan tali. Namun, yang  tertangkap cuma satu ekor buaya yang ukurannya kecil. “Ya, kita tidak tahu cara menangkap buaya, sehingga yang gede itu tidak bisa ditangkap,” kata para buruh bangunan itu.

Sekarang buaya yang ditangkap itu disimpan dalam sangkar besi yang beralaskan tanah di pinggir Jalan Matraman Dalam IV. Setiap saat buaya kecil itu disirami air oleh warga terutama anak-anak.

Sejak ditangkap, Senin (3/2), buaya kecil itu belum mau makan. “Kita sudah memberinya daging, telur, katak dan sebagainya. Tetapi, kok, tidak mau makan,” kata Tame (40), warga Matraman Dalam lainnya

Berdasarkan pemantuan Pembaruan, buaya kecil itu tampak kurus dan loyo  badannya. Yusuf mengatakan, sejak buaya itu ditangkap tidak satu pun pihak  terkait (pemerintah) datang untuk memgamankan binatang langka itu. “Padahal kita sudah ekspos di media massa, tetapi kok tidak ada pihak terkait ke sini,” kata Yusuf.

Dua dari tiga ekor buaya yang belum ditangkap, menurut dia, berukuran besar  denga  panjang sekitar 3 meter. “Sebagian warga yang menyaksikan dua buaya besar itu, sampai sekarang jadi takut jalan di pinggir kali Ciliwung,” kata Yusuf.

Yusuf mengatakan, setelah warga percaya bahwa memang benar-benar ada buaya  di kali Ciliwung, maka setiap hari dan hampir sepanjang hari sejumlah warga  Kampung Matraman Dalam selalu berada di pinggir kali dengan kayu dan tali di tangan untuk menangkap buaya-buaya itu.

Lurah Kelurahan Pegangsaan, Marsigit, ketika dikontak Pembaruan, Kamis  (6/2) pagi,  mengatakan aparatnya dan pihak kecamatan Menteng sudah membahas  bagaimana caranya untuk bisa menangkap buaya yang ternyata masih ada di Kali Ciliwung.

Sebab, kata Marsigit, keberadaan buaya-buaya itu sungguh mengancam warga di  bantaran kali. “Ya, dari dulu di kali itu tidak ada buaya. Kok, sekarang ada,” ujar Marsigit.

Marsigit mengatakan, buaya yang sudah ditangkap itu selanjutnya akan diserahkan ke pihak Kebun Binatang.

PEMBARUAN/ S EDI HARDUM

Last modified: 6/2/2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: