Bulus Raksasa

Ada Kura-kura Raksasa di Ciliwung

Sumber: http://sains.kompas.com/ 14 November 2011 

KOMPAS/LASTI KURNIA
Inilah bulus jantan raksasa yang ditemukan di Sungai Ciliwung, Jumat (10/11/2011) lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com- Sebuah informasi beredar di kalangan jurnalis media massa siang ini. “Kura-kura raksasa langka seberat 1 kwintal ditemukan warga di Kali Ciliwung di Gang 100 Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan.”

Sontak berita ini mengagetkan. Beberapa pewarta foto langsung bergerak menuju lokasi yang belum jelas benar itu.

“Info tersebut benar. Sekarang Lurah Tanjung Barat sedang menuju ke lokasi,” kata Anita, Humas Pemkot Jakarta Selatan saat dihubungi Kompas siang ini.

Ada kemungkinan kura-kura tersebut terseret air banjir akibat hujan beberapa hari terakhir. Mengenai asalnya, diduga kura-kura tersebut dari kebon binatang Ragunan. Semoga saja kura-kura tersebut dapat diselamatkan dan dikembalikan ke habitat asalnya.

Kura-kura Itu Beratnya 140 Kg

Sumber: http://sains.kompas.com/  14 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com — Binatang sejenis kura-kura dengan berat sekitar 1,40 kuintal ditemukan warga di Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta, Senin (14/11/2011). Warga berkerumun menonton hewan air berukuran luar biasa besar ini yang disimpan di sebuah kolam tampung di rumah warga.

Berdasarkan pengukuran Haji Zaenidin Bombay, yang kini menyimpan binatang tersebut, panjang binatang ini 1,40 meter, lebar 90 cm, dan berat sekitar 1,40 kuintal (140 kg). Jenis kelaminnya jantan.

Berdasarkan penuturan Haji Bombay, hewan ini ditemukan Jumat (11/11/2011) lalu sekitar pukul 14.00 WIB, oleh kelompok tukang pencari bulus di Sungai Ciliwung.

“Dia nangkep bertujuh orang. Mau jual, mau dibawa ke bosnya yang tukang restoran. Mau dipotong,” kata Haji Bombay.

Kebetulan Haji Bombay sedang berada di tempat itu. Karena ia tidak tega membayangkan binatang langka itu dibawa ke restoran, maka dibelinya dengan uang kompensasi Rp 300.000.

Saat dibawa ke rumah warga, binatang besar ini digotong tujuh orang. Menurut Haji Bombay, di Sungai Ciliwung para pencari bulus biasanya mencari kura-kura atau bulus namun tidak pernah menemukan yang berukuran besar. Biasanya hanya yang sekukuran telapak tangan orang dewasa.

Binatang ini saat ditemukan tukang pencari bulus tidak sendiri. Namun, ada dua ekor yang sama besar dan keduanya sedang menyembulkan kepala ke permukaan. Menurut warga, mereka sedang mau kawin dan yang satunya adalah betina.

“Yang ketangkep tukang bulus yang ini doang,” papar Haji Bombay yang untuk sementara masih mereka-reka makanan binatang ini. Dia sudang mencoba kol dan dimakan binatang ini. Sementara saat diberi ikan segar, tak disentuh sama sekali.

Lurah Tanjung Barat Satia mengatakan, ia telah datang ke lokasi dan mengecek. Ia saat ini sedang melapor ke kebun binatang Ragunan untuk tindakan apa yang harus dilakukan. Saat ini warga terus mengalir ke lokasi untuk menonton.

Haji Bombay mengatakan, sekitar 200 orang per hari datang sejak Jumat. Ia bolak-balik memperingati warga untuk tidak terlalu dekat menonton. Haji Bombay berniat memelihara binatang tersebut bila telah tahu apa makanannya. Namun bila warga meminta ia untuk mengembalikannya ke Sungai Ciliwung ia pun rela.

Kura-kura Raksasa Bukan Siluman

Sumber: http://sains.kompas.com/  14 November 2011 

KOMPAS.com – “Saya tidak mimpi apa-apa. Ini kura-kura bukan siluman ya,” sahut Haji Zaenudin Bombay, warga Gang 100 RT 11/ RW 01, Jalan Tanjung Barat Selatan, Jakarta, saat warga terus-menerus bertanya hal yang sama kepadanya, Senin (14/11/2011).

Semua penasaran tentang bagaimana kura-kura raksasa ini ditemukan. Mereka juga bertanya apakah ada pertanda berupa mimpi atau apapun. Berhubung kura-kura raksasa ini ditemukan pada hari unik yaitu Jumat (11/11/2011). Angka triple 11 memang diyakini membawa peruntungan khusus bagi sebagian orang.

Haji Bombay dengan sabar menjawab pertanyaan warga yang datang silih berganti. Ibu-ibu usai pengajian, anak-anak, remaja, hingga media massa televisi, cetak, online, pejabat kelurahan Tanjung Barat, hingga aparat polisi dari polsek Jagakarsa. Ia membebaskan orang untuk melihat tanpa ditarik bayaran.

“Padahal saya baru kehilangan motor nih. Kalau saya tarik pungutan seribu per orang wah, sudah kaya saya,” seloroh Haji Bombay.

Sambil berusaha melayani petugas kelurahan yang datang, ia bolak-balik mengawasi anak-anak yang menonton kura-kura yang disimpan di lahan kosong depan rumahnya di Jalan Tanjung Barat Selatan atau Gang 100 Rt 11/ RW 01. “Eh, jangan terlalu dekat, nanti jatuh digigit,” kata Haji Bombay.

Saat ini kura-kura itu disimpan di kolam kecil bekas memelihara ikan yang panjangnya 2,5 meter, lebar 1 meter, dengan kedalam 1,5 meter. Tubuh kura-kura dengan berat sekitar 140 kilogram tersebut, tampak tak memiliki banyak ruang gerak. Sekali-sekali satwa itu berputar berganti arah.

Gelombang warga yang datang tak henti-henti, hingga hari menjelang gelap. Akhirnya karena cemas, kolam kering itu ditutup bagian atasnya dengan pagar besi, yang kebetulan disimpan di lahan kosong tersebut.

Menurut Haji Bombay, bila gelombang warga yang berdatangan semakin banyak dan tak dapat lagi diawasi, ia akan menutup gerbang lahan kosong tersebut.

Kura-kura Raksasa Sempat Mau Dipotong

Sumber: http://sains.kompas.com/  14 November 2011

Kura-kura raksasa di bak depan rumah Haji Bombay, seperti tampak pada Senin (14/11/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com – Warga dari hingga Senin (14/11/2011) malam ini, tak henti-hentinya datang untuk melihat kura-kura raksasa di lahan kosong di depan rumah Haji Zaenudin Bombay di Jalan Tanjung Barat RT 11/RW 01 atau Gang 100 Tanjung Barat, Jakarta, Senin (14/11).

Rata-rata semua orang penasaran tentang bagaimana hewan tersebut ditemukan.

Berikut kronologis penemuan Kura-kura raksasa pada Jumat (11/11/2011) sebagaimana dituturkan Haji Bombay dan para tetangganya.

Binatang yang oleh sebagian warga kampung di Tanjung Barat tersebut disebut senggawangan ini ditemukan di RT 09 RW 01, di seberang lapangan tembak Kopassus, sekitar pukul 14.00 WIB.

Orang yang menemukan adalah para pencari bulus, yang biasa mencari bulus (kura-kura) untuk kebutuhan restoran. Mereka biasa mencari bulus di Sungai Ciliwung, dan biasanya hanya menemukan bulus ukuran maksimum sebesar telapak tangan.

Saat itulah tiba-tiba terlihat sepasang kepala kura-kura berukuran besar menyembul dari dalam air. Kura-kura tersebut berhadap-hadapan seperti hendak kawin. Para pencari bulus yang takjub, kemudian memanggil warga sekitar.

Puluhan warga berkerumun di bibir sungai menyaksikan aksi penangkapan kura-kura tersebut. Salah satu diantaranya adalah Haji Zaenudin Bombay, yang sekitar pukul 14.02 WIB ditelepon bahwa ada kura-kura raksasa muncul di Sungai Ciliwung.

Proses penangkapan berlangsung sekitar satu jam, dengan cukup menegangkan. Karena besar dan kuatnya binatang air tawar tersebut, salah seorang pencari bulus yang berusaha mencengkeram punggung kura-kura, sempat dibawa masuk ke dalam air beberapa saat.

Warga cemas, menyangka orang itu akan terseret dan tenggelam. Namun pemburu kura-kura itu lalu muncul kembali ke permukaan. Bagian ekor kura-kura sempat dipancong (semacam kail), supaya binatang air tawar itu tidak lari.

Mungkinkah Ciliwung Jadi Habitat Kura-kura Raksasa?

Sumber: http://sains.kompas.com/   15 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebelum kura-kura raksasa seberat 140 kilogram ditemukan dan ditangkap Jumat (11/11/2011), warga Tanjung Barat menuturkan, sebelumnya mereka beberapa kali melihat kepala kura-kura muncul ke permukaan.

Menurut warga, kemunculan kura-kura itu ke permukaan air tidak pernah dalam kondisi seluruh badan. Biasanya hanya kepala atau ekornya yang menyembul. Warga takjub melihat besarnya ukuran kepala kura-kura itu sehingga selama ini tidak ada yang berani menangkap.

Warga baru melihat wujud utuh kura-kura itu saat ditangkap para pemburu bulus di Sungai Ciliwung. Kemunculan kepala kura-kura ke permukaan sangatlah jarang ditemui. Kalaupun muncul dalam sehari itu, warga menengarai hanya melihat satu kali saja.

Saat ditangkap, kura-kura itu tidak sendiri. Ada dua kura-kura yang terlihat muncul kepalanya ke permukaan. Warga pun meyakini bahwa kura-kura yang seekor lagi adalah pasangannya, yaitu jenis betina yang diduga ukurannya lebih besar.

Di tengah-tengah kerumunan orang yang menonton lalu beredar isu lagi bahwa seekor kura-kura dengan ukuran yang lebih besar ditemukan juga di Muara Ranco. Namun, kura-kura tersebut telah dibawa pergi sebuah mobil boks. Sayangnya kebenaran isu itu sulit untuk dilacak.

Saat ini Haji Bombay, yang menyimpan hewan itu di bak penampungan miliknya, berusaha menjaga hewan tersebut tetap hidup. Sepanjang hari, ia bolak-balik hampir 20 kali mengisi ulang ember air yang digunakannya untuk mengucuri air pada tubuh hewan tersebut agar tetap basah.

Hewan yang memiliki panjang karapas140 sentimeter dan lebar 90 cm ini, menurut dia, memiliki leher yang panjang. Bila diukur saat leher dan ekornya terjulur, kura-kura itu mempunyai panjang 2 meter.

Haji Bombay belum berani mengisi penuh bak dengan air karena takut hewan tersebut akan merayap naik keluar bak. Selain itu, ia juga takut hewan tersebut akan menggigit.

Ia siap bila Kebun Binatang Ragunan akan mengambil hewan tersebut. Ia menyerahkan solusi yang terbaik kepada pihak yang berwenang. Namun, apabila kura-kura itu diperbolehkan dipelihara, ia akan mempersiapkan sebuah kolam.

Kura-kura Raksasa Ternyata Sejenis Bulus

Sumber: http://sains.kompas.com/ 15 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com – Kura-kura raksasa yang ditemukan warga Jalan 100 Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Jumat (11/11/2011) lalu dipastikan sejenis bulus oleh pihak Taman Margasatwa Ragunan. Hal tersebut dikatakan oleh Humas Ragunan, Bambang Triyono saat dihubungi wartawan, Senin (14/11/2011) lalu.

“Oh, itu bulus, banyak itu di Kali Ciliwung, itu binatang langka,” ujar Bambang Triyono.

Bambang juga berharap warga yang menemukan hewan seberat 140 kg tersebut dikembalikan ke asalnya. “Biarkan saja dikembalikan ke alam, kasihan kalau dipelihara,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, telah ditemukan kura-kura raksasa berukuran 140 x 90 cm di Kali Ciliwung oleh beberapa warga Tanjung Barat. Hingga Selasa siang, hewan yang dimasukkan ke dalam bak kosong tersebut masih menjadi tontonan warga yang penasaran.

Kura-kura Raksasa Itu Chitra Chitra?

Sumber: http://sains.kompas.com/ 15 November 2011 


Seekor bulus raksasa yang ditemukan warga di Kali Ciliwung, Jakarta, semula dikira kura-kura.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kura-kura raksasa yang ditemukan di Ciliwung kemungkinan besar jenis labi labi bercangkang lunak-kepala kecil dengan nama resmi Southeast Asian narrow-headed softshell turtle atau Chitra-chitra, Labi labi Bintang, Bulus besar, atau Manlai.

Hal ini berdasarkan identifikasi bentuk dan corak pada tubuh dan karapas melalui website Asian Turtle Conservation Network. Southeast Asian narrow-headed softshell turtle (Chitra chitra) masuk dalam keluarga Trionychidae.

Chitra-chitra disebutkan sebagai binatang yang terancam punah. Masuk dalam daftar merah pada Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List 2006. Dan, dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) Appendix II.

Hewan air tawar ini adalah yang terbesar ukurannya dalam keluarga labi labi. Penyebarannya ditemukan di Indonesia, Thailand, dan Malaysia.

Reptil yang hidup disungai ini termasuk jenis labi labi cangkang lunak dengan ukuran yang besar. Berdasarkan besar karapasnya, ukuran labi labi cangkang lunak terbesar pernah ditemukan di Thailand mencapai panjang 140 cm dan lebar 100 cm. Beratnya mencapai 100 hingga 120 kg. Yang betina biasanya lebih besar daripada jantannya.

Chitra-chitra hidup dengan membenamkan tubuhnya pada dasar sungai yang berlumpur atau berpasir. Leher mereka cenderung cukup panjang dibandingkan ukuran tubuhnya. Dengan leher yang panjang ini, ia sekali-sekali mengabil napas ke permukaan air sementara tetap membenamkan tubuhnya.

Warna karapas dari spesies ini cenderung menyesuaikan dengan pasir atau lumpur dari tempat ia hidup. Hewan ini menganut perilaku “diam dan menunggu” dalam persoalan mencari mangsa untuk dimakan.

Secara umum adalah hewan karnivora yang memakan jenis-jenis kerang, keong air, kepiting, dan ikan. Ia harus berada dalam kondisi terbenam di air agar dapat menelan mangsanya. Saat menangkap ikan yang sedang berenang, ia sontak akan memanjangkan lehernya lalu mengigit ikan dengan mulutnya yang bergigi tajam. Gigitan chitra chitra dewasa yang berukuran besar sangat kuat dan dapat berbahaya. Chitra chitra betina bertelur sebelum musim hujan.

Sarangnya biasanya sedalam 50 – 75 cm, dibuat di pinggir sungai berpasir, atau campuran tanah dan pasir. Sebuah rongga penetasan dapat berisi 60-117 telur. Telurnya berwarna putih, bercangkang keras, dengan diameter sekitar 35 cm. Chitra chitra terancam punah, selain karena banyak habitat hidupnya, khususnya tempat bertelur pada pinggir sungai yang telah berubah oleh pembangunan perkotaan dan polusi.

Selain itu di Asia, labi labi atau bulus pada umumnya banyak diburu sebagai makanan eksotis. Di Cina dan Jepang, bulus atau labi labi berharga tinggi dan dinikmati sebagai sup atau dikukus. Cangkang dan tulangnya juga diburu sebagai obat tradisional.

Di Asia, jenis labi labi bercangkang lunak ukuran besar ini berjalan menuju kepunahan. Indonesia sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu pengekspor reptil terbesar di dunia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor reptil hidup pada 2005 sebesar 703.510 kilogram atau senilai USD 1.979.792. Rusaknya habitat hidup hewan ini dan di satu pihak perkembangan populasinya yang lambat. Ditambah sifat dan perilaku hewan ini masih banyak yang belum diketahui.

Maka sangat penting tindakan konservasi dilakukan pada labi labi raksasa yang luar biasa ini. Sumber : Asian Turtle Conservation Network, Turtle Of The World – World Biodiversity Database, dan Kementerian Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Bulus “Raksasa” Ciliwung Itu adalah “Chitra chitra javanensis”

Sumber: http://sains.kompas.com/ 15 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com — Bulus raksasa ditemukan pada Senin (14/11/2011) di Sungai Ciliwung, tepatnya di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Awalnya, ada dua bulus yang diyakini jantan dan betina ditemukan dalam kondisi berhadapan. Namun, hanya seekor yang bisa ditangkap dan dibawa ke lahan kosong milik salah satu warga.

Bulus berjenis kelamin jantan yang berhasil ditangkap itu memiliki ukuran panjang 140 sentimeter (cm) dan lebar 90 cm. Bila diukur saat leher dan ekornya terjulur, bulus tersebut memiliki panjang 2 meter, sementara bobot bulus itu 140 kilogram.

Sempat diberitakan sebelumnya, nama spesies bulus itu adalah Chitra chitra. Mumpuni, pakar herpetologi dari Puslit Biologi LIPI, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/11/2011), membenarkan hal tersebut.

“Betul, memang bulus tersebut adalah Chitra chitra javanensis,” ujar Mumpuni.

Mumpuni menuturkan, salah satu ciri menonjol dari spesies ini adalah bagian punggungnya yang lunak. Selain itu, ciri menonjol lainnya adalah corak garis menyamping berwarna coklat muda, serta kepala seperti berkerut.

Cara hidup satwa ini adalah membenamkan diri di sungai dan cenderung menunggu mangsa untuk dimakan. Satwa tersebut termasuk karnivora yang memakan keong, kerang, dan kepiting. Hewan ini berkembang biak dengan bertelur di musim hujan.

“Bulus atau labi-labi raksasa tersebut termasuk langka,” kata Mumpuni.

Saat ini, status Chitra chitra javanensis di Indonesia dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 dan masuk kategori “terancam punah” menurut International Union Conservation of Nature (IUCN) Red List Appendix II CITES.

Tak ada penelitian

Mumpuni menjelaskan, pada 1980-an, bulus tersebut pernah ditemukan di wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok. Di luar Jakarta, bulus itu pernah ditemukan di Bengawan Solo wilayah Bojonegoro dan Situbondo. Koleksi keringnya kini ada di Kebun Binatang Surabaya. Meski langka, menurut dia, hingga saat ini belum ada penelitian khusus tentang populasi Chitra chitra javanensis di Ciliwung.

Perilaku, reproduksi, dan hal lain tentang satwa tersebut juga belum banyak diteliti. Karena termasuk langka, Mumpuni mengatakan, bulus yang ditemukan di Ciliwung sebaiknya dikembalikan ke habitatnya atau setidaknya dibawa ke Kebun Bintang Ragunan.

“Masyarakat harus turut menjaga spesies yang bahkan mampu bertahan di Ciliwung yang sarat polusi ini,” ujarnya.

Seperti diketahui, sebanyak 92 persen spesies ikan, 66,7 persen spesies mollusca, dan 66,7 persen spesies udang dan kepiting yang hidup di Sungai Ciliwung telah punah. Untuk itu, jangan sampai bulus raksasa Ciliwung ini juga turut menghilang dari sungai yang mengaliri jantung Ibu Kota ini.

Bulus Ciliwung Harus Dikembalikan ke Habitatnya

Sumber:http://sains.kompas.com/  15 November 2011 

KOMPAS.com/Fabian Januarius
Bulus jantan jenis Chitra chitra javanensis yang ditemukan di Sungai Ciliwung

JAKARTA, KOMPAS.com – Pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mumpuni mengungkapkan, bulus raksasa seberat 140 kg yang ditemukan di Sungai Ciliwung, di wilayah Tanjung Barat, adalah Chitra chitra javanensis. Spesies bulus ini dilindungi menurut PP7/1999 dan masuk dalam kategori “Terancam Punah” dalam Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN).

“Karena termasuk hewan langka, sebaiknya dikembalikan ke habitatnya saja. Kalau tidak memungkinkan, bisa diserahkan ke kebun binatang untuk dimonitor perkembangannya,” jelas Mumpuni kepada KOMPAS.com, Selasa (15/11/2011).

Mumpuni menuturkan, bulus yang sama juga pernah ditemukan di Sungai Bengawan Solo, di wilayah Bojonegoro dan Situbondo. Pada 1980-an, bulus tersebut juga pernah ditemukan di kawasan Radio Dalam dan Tanjung Priuk.

Namun demikian, hingga sejauh ini belum ada penelitian khusus tentang populasi Chitra chitra javanensis di Sungai Ciliwung. Penelitian umum tentang ciri dan perilakunya juga belum banyak dilakukan.

Kepala Puslit Biologi LIPI, Siti Nuramaliati Prijono, mengatakan bahwa 92% ikan, 66,7% mollusca dan 66,7% udang, dan kepiting di Ciliwung telah punah. Untuk itu, perhatian pada bulus raksasa Chitra chitra javanensis perlu diberikan sehingga tidak menjadi menjadi satwa berikutnya yang punah dari Ciliwung. Masyarakat pun diharapkan sadar untuk tidak mengeksploitasi satwa ini.

Ragunan Siap Tampung Bulus Raksasa dari Ciliwung

Sumber:http://sains.kompas.com/   15 November 2011 

KOMPAS.com/Fabian Januarius
Bulus Chitra ditemu chitra javanensis yang ditemukan di Sungai Ciliwung

JAKARTA, KOMPAS.com — Taman Margasatwa Ragunan siap menerima bulus raksasa (Chitra chitra javanensis) seberat 140 kilogram yang ditemukan di Sungai Ciliwung kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, pekan lalu.

“Jika memang bulus raksasa tersebut akan diserahkan ke Ragunan, maka kami terbuka untuk menerimanya,” kata Kepala Taman Margasatwa Ragunan Enny Pudjiwati saat dihubungi Kompas.com, Selasa (15/11/2011).

Enny akan berupaya agar bulus raksasa tersebut bisa diselamatkan. Namun, pihaknya tidak bisa memaksakan untuk menyerahkannya ke Ragunan sebab ia tidak memiliki otoritas.

Bulus raksasa yang ditemukan kemarin sebenarnya ada dua ekor. Namun, hanya satu yang ditangkap, berukuran 140 cm x 90 cm dengan corak coklat bergaris, dan berjenis kelamin jantan.

“Kami (Ragunan) hanya punya satu Chitra chitra javanensis, jenis kelaminnya jantan,” kata Enny. Ia berharap bulus yang ditangkap berjenis kelamin betina sehingga bisa dikembangbiakkan.

Hingga kini belum diketahui jumlah populasi bulus raksasa di Ciliwung. Hewan itu tergolong hewan dilindungi berdasarkan PP7/1999 dan masuk kategori terancam punah di Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Pakar herpetologi LIPI, Mumpuni, mengatakan bahwa langkah terbaik jika pengembalian bulus raksasa ke habitat asli tidak mungkin dilakukan atau justru mengancam adalah mencoba melindunginya di kebun binatang. Hingga saat ini, bulus raksasa itu masih berada di lahan kosong salah satu warga. Bulus diletakkan di satu bak dan terus diberi air.

Chitra chitra javanensis hidup di air tawar dan membenamkan diri di sungai. Satwa tersebut termasuk karnivora, memakan udang dan ikan, biasa bertelur pada musim hujan di sarang sedalam 50-75 cm di pinggiran sungai yang berpasir.

BKSDA Tindaklanjuti Temuan Bulus di Ciliwung

Sumber: http://sains.kompas.com/ 16 November 2011 

KOMPAS.com/Fabian Januarius
Bulus jantan raksasa yang ditemukan di Sungai Ciliwung, Jumat (10/11/2011) lalu

JAKARTA, KOMPAS.com – Penemuan bulus raksasa (Chitra chitra javanensis) di Sungai Ciliwung Senin (14/11/2011) sempat menggegerkan warga sekitar. Bulus itu berukuran 140 x 90 cm dengan berat 140 kg.

Bulus tersebut diketahui merupakan satwa dilindungi berdasarkan PP7/1999 dan masuk dalam kategori “Terancam Punah” dalam Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Seperti diberitakan sebelumnya, bulus tersebut sempat akan dipotong. Namun, salah seorang warga bernama Haji Bombay membelinya dengan harga Rp 300.000 dan kini menaruhnya di lahan kosong miliknya.

Menindaklanjuti penemuan bulus raksasa yang terancam punah itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta hari ini mengerahkan tim untuk mengambil bulus raksasa itu.

“Hari ini kita kerahkan 3 staf dulu untuk ke sana untuk melakukan langkah persuasif dulu untuk mengambil bulus raksasa itu. Jika tidak bisa nanti ya terpaksa akan kita upayakan langkah hukum,” kata Ahmad Saerozi, Kepala BKSDA DKI Jakarta saat dihubungi Kompas.com Rabu (16/11/2011).

Ahmad mengatakan bahwa jika berhasil diambil, bulus raksasa tersebut akan direlokasi ke tempat yang memungkinkan bagi spesies itu untuk berkembang.

“Nanti akan kita taruh di Taman Nasional Kepulauan Seribu,” cetus Ahmad.

Selain mengambil, tim Ahmad juga akan menyelidiki kebenaran penemuan bulus raksasa itu, apakah benar merupakan temuan atau sebenarnya bulus raksasa itu pernah dipelihara dalam jangka waktu lama dan baru dilepaskan ke sungai Senin kemarin.

“Ini agar tahu apakah Ciliwung itu memang habitat bulus itu. Sebab kalau memang habitatnya, kenapa cuma satu,” ungkap Ahmad.

Pakar herpetologi LIPI, Mumpuni, mengatakan bahwa Ciliwung merupakan salah satu habitat Chitra chitra javanensis. Satwa tersebut pernah ditemukan di wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priuk pada tahun 1980an lalu. Selain itu, pernah juga ditemukan di Bengawan Solo wilayah Bojonegoro dan di Situbondo.

Jika memang Ciliwung merupakan habitat bulus yang terancam punah itu, tentu langkah pekerjaan rumah untuk menyelesaikan masalah lingkungan Ciliwung bertambah. Ciliwung harus mendapat perhatian seperti halnya wilayah konservasi “seksi” lainnya seperti Raja Ampat, Wakatobi dan Papua. Tantangan penyelamatan bulus raksasa itu justru lebih besar karena berada di kawasan urban.

Dilaporkan bahwa 92 persen ikan, 66,7 persen udang dan kepiting serta 66,7 persen mollusca dari Ciliwung telah punah. Jangan sampai bulus raksasa langka tersebut juga ikut punah.

Kura-kura Raksasa Dilepas Kembali

Sumber:http://megapolitan.kompas.com/  17 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com- Heboh temuan kura-kura Raksasa yang ternyata adalah jenis Chitra chitra javanensis atau bulus raksasa yang langka menimbulkan pertanyaan apakah harus dilepas kembali, dibawa ke penangkaran, atau ke kebun binatang?

Haji Zaenudin Bombay yang membeli bulus tersebut dari para pencari bulus di Ciliwung pekan lalu, akhirnya memutuskan melepas binatang tersebut ke Kali Ciliwung, pada Rabu (16/11/2011) dini hari kemarin.

Seperti yang dituturkan Haji Bombay saat dihubungi Kompas, ia mengakui telah melepas hewan air seberat 140 kilogram itu Rabu dini hari pukul 02.00 WIB. Ia memutuskan melepas bulus raksasa tersebut karena sejak sore meyakini bahwa kondisi hewan tersebut telah sekarat.

“Saya lihat lehernya gak masuk lagi ke dalam. Trus sudah gak bergerak-gerak. Pasti sudah kelaparan itu,” kata Haji Bombay.

Ia mengangkat bulus sebesar 140 x 90 cm tersebut dengan bantuan 7 orang. Hewan air tawar yang sejak tahun 1996 telah masuk dalam daftar merah Internasional Union for Conservation of Nature (IUCN) sbg hewan terancam punah tersebut kemudian di bawa dengan gerobak ke lokasi tempat ia ditemukan.

Bulus raksasa itu kemudian dilepasnya di sungai Ciliwung, tepatnya di RT 09 RT 01 di sebelah lapangan latihan tembak Kopassus. Di tempat itulah sebelumnya bulus raksasa tersebut ditangkap para pencari bulus ketika sedang memunculkan kepalanya ke permukaan air.

Saat hendak ditangkap, terlihat ada dua kepala bulus raksasa yang muncul ke permukaan. Bulus lainnya yang tidak tertangkap itu diduga pasangannya. Bila memang telah dikembalikan ke sungai Ciliwung, saat ini bulus raksasa tersebut boleh jadi telah selamat karena kembali ke habitatnya.

Namun tidak tertutup kemungkinan dengan adanya aktifitas pencarian bulus di sungai Ciliwung untuk kebutuhan konsumsi manusia maka keberlangsungan hewan langka ini selalu dalam posisi terancam. Tak hanya bulus raksasa ini mungkin saja tertangkap kembali, atau mungkin saja bila bulus raksasa ini memiliki pasangan dan bereproduksi maka anak atau bayi bulus jenis chitra chitra javanensis ini tertangkap karena dikira sama dengan bulus biasa.

Di Asia, bulus adalah salah satu hewan yang diburu sebagai makanan eksotis dan dimasak sebagai sup atau tim. Tulang dan cangkangnya juga diburu sebagai obat tradisional. Kenyataan sungai Ciliwung menjadi tempat ditemukannya chitra chitra javanensis ini, sungguh luarbiasa dan bisa saja dikembangkan sebagai asset studi dan wisata.

Mengingat bahwa temuan ini bukanlah yang pertama kalinya. Sebagaimana diberitakan sebelumnya. Pakar herpetologi LIPI, Mumpuni, menyatakan bahwa Ciliwung adalah memang salah satu habitat bulus raksasa ini.

Bulus raksasa pernah ditemukan sebelumnya di wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok pada tahun 1980.

BKSDA Monitor Lokasi Bulus Raksasa Menampakkan Diri

Sumber: http://sains.kompas.com/ 17 November 2011

KOMPAS.com/Fabian Januarius
Bulus jantan jenis Chitra chitra javanensis yang ditemukan di Sungai Ciliwung

 JAKARTA, KOMPAS.com — Penemuan bulus raksasa (Chitra chitra javanensis), yang diketahui merupakan hewan terancam punah berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature dan dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 pada Jumat (11/11/2011), tak cuma membuat geger, tetapi juga menimbulkan pertanyaan. Apakah Sungai Ciliwung merupakan habitat bulus raksasa itu?

Pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Mumpuni, dalam keterangannya kepada Kompas.com, Selasa (15/11/2011), mengatakan, bulus raksasa itu pernah ditemukan di Sungai Ciliwung tahun 1980-an. Tepatnya, bulus raksasa itu ditemukan di wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok.

Namun, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ahmad Saerozi saat dihubungi, Rabu (16/11/2011), mempertanyakan hal tersebut. Ia mengatakan, BKSDA sejauh ini belum pernah menemukan satwa tersebut. Ia mengungkapkan, ada kemungkinan bahwa bulus raksasa itu adalah lepasan dari piaraan warga.

Untuk menyelidiki hal tersebut, tim BKSDA kemarin mendatangi lokasi penemuan bulus raksasa itu. Ketika bertemu Haji Bombay–yang menampung bulus raksasa–tim BKSDA menemukan fakta bahwa bulus raksasa tidak ada karena sudah dilepaskan pada Rabu dini hari. Namun, tim berhasil mengorek beberapa informasi dari warga.

“Dari keterangan Haji Bombay, bulus raksasa itu sering dijumpai warga. Biasanya warga menemukan bulus itu di aliran sungai yang kedalamannya sekitar 10 meter. Bulus itu menyembulkan kepalanya,” kata Budi Mulyanto, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA DKI Jakarta, saat dihubungi, Kamis (17/11/2011).

Ada empat lokasi di mana bulus raksasa itu sering ditemui. Keempat lokasi itu adalah Kudung Babi, Kedung Raden, Kedung Wuni, dan Kedung Kuda, yang semuanya berada di wilayah aliran Sungai Ciliwung. Pelepasan bulus dilakukan di Kedung Wuni, berada di dekat tempat latihan Kopassus yang juga berdekatan dengan Tanjung Barat.

“Saat ini kami sudah kerahkan tim untuk melakukan monitor di lokasi-lokasi tersebut,” kata Budi. Monitoring meliputi observasi jika bulus tersebut muncul ke permukaan maupun menjaring informasi dari warga sekitar tentang penampakan bulus itu. Menurut Budi, jika Sungai Ciliwung menjadi habitat satwa itu, pasti bulus tersebut pasti akan sering dijumpai.

Hasil monitoring akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Bila Ciliwung merupakan habitat bulus raksasa langka itu, langkah konservasi tentu harus dilakukan. Penyelesaian masalah Ciliwung tidak hanya akan mencakup masalah tumpukan sampah, tetapi juga keanekaragaman hayati di dalamnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, mayoritas ikan, udang, kepiting, dan moluska Ciliwung telah punah. Kepunahan ikan mencapai 92 persen dari total biota yang ada berdasarkan riset tahun 2009 oleh LIPI dengan membandingkan koleksi biota di Museum Biologi Bogor. Kepunahan bulus raksasa ini harus dicegah.

Bulus Raksasa Sering Tampak Saat Bulan Purnama

Sumber: http://sains.kompas.com/  17 November 2011 

KOMPAS.com/Fabian Januarius
Bulus Chitra ditemu chitra javanensis yang ditemukan di Sungai Ciliwung

JAKARTA, KOMPAS.com – Jenis bulus raksasa yang ditemukan di Ciliwung (Chitra chitra javanensis) Jumat (11/11/2011) ternyata punya keunikan selain soal ukurannya yang super besar –yang ditemukan kemarin mencapai ukuran 140 kg.

“Bulus ini sering tampak saat bulan purnama. Jadi kepalanya nyembul di air,” ungkap Haji Bombay, warga yang menampung bulus raksasa itu setelah ditemukan, ketika dihubungi Kamis (17/11/2011).

Menurut penuturan warga, tempat bulus tersebut sering menampakkan diri diketahui adalah aliran sungai Ciliwung yang memiliki kedalaman sekitar 10 meter.

Sementara, lokasi spesifik bulus yang masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN) itu sering muncul adalah di Kedung Babi, Kedung Raden, Kedung Wuni dan Kedung Kuda.

Pada tahun 1980an, bulus sejenis juga pernah ditemukan di aliran Ciliwung yang berada di Radio Dalam dan Tanjung Priok. Di luar itu, bulus ini juga pernah ditemukan di wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro dan di Situbondo.

Pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni, mengatakan bahwa Sungai Ciliwung merupakan salah satu habitat satwa langka ini meski sejauh ini belum diketahui populasinya.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Ahmad Saerozi masih mempertanyakan hal itu dan mengatakan bahwa ada kemungkinan bulus raksasa yang ditemukan adalah peliharaan warga yang lepas.

Saat ini, tim BKSDA DKI Jakarta sedang melakukan monitoring di wilayah tempat bulus raksasa itu sering menampakkan diri. Sementara, bulus raksasa yang ditangkap Jumat lalu telah dilepaskan Rabu dini hari (16/11/2011) pukul 02.00 WIB.

Bulus Raksasa Ditemukan di Ciliwung sejak 1908

Sumber: http://sains.kompas.com/  17 November 2011 

KOMPAS.com — Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, mengatakan, bulus raksasa Ciliwung (Chitra chitra javanensis) sudah ditemukan sejak seabad lalu.

“Kalau ada yang mengatakan ini piaraan yang lepas atau introduksi pasti itu salah. Sebab, bulus ini ditemukan pertama kali tahun 1908,” kata Djoko.

Penemuan pertama tahun 1908, kata Djoko, mendapatkan dua individu. Satu individu kemudian disimpan di Museum Biologi Bogor dan satu lagi disimpan di salah satu museum di Jerman.

Setelah penemuan pada tahun 1908 tersebut, sangat sedikit laporan penemuannya. Penemuan selanjutnya baru dilaporkan 70 tahun kemudian, tahun 1971 dan 1973.

“Nah yang ditemukan tahun 1971 dan 1973 itu ada tiga ekor totalnya,” kata Djoko saat dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011).

Penemuan bulus raksasa Ciliwung ini menambah rekam data yang diungkapkan pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni, yang mengatakan, bulus raksasa pernah ditemukan di Radio Dalam dan Tanjung Priok.

Penemuan terakhir bulus raksasa ini pada Jumat (11/11/2011). Bulus raksasa yang ditemukan di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan, ini memiliki ukuran 140 x 90 cm dan berat 140 kilogram.

Dengan sejarah penemuan tersebut, ilmuwan yang pernah meraih Habibie Award di Bidang Ilmu Dasar tahun 2005 itu meyakini, Ciliwung memang habitat Chitra chitra javanensis.

Meski sudah ditemukan sejak lama, kajian tentang spesies ini menurut salah satu pemenang Habibie Award itu sangat minin. Keterbatasan dana dan sulitnya metode penelitian menjadi faktor penghambat.

“Enggak ada dana. Lalu kalau melakukan penelitian juga harus saat kemarau panjang. Kalau sungainya terlalu dalam kan susah untuk menelitinya,” jelas Djoko.

Chitra chita javanensis yang ditemukan ialah hewan yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan termasuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature.

Menurut Djoko, hal yang harus dilakukan saat ini adalah penelitian dan penangkaran untuk tujuan reproduksi. Cara itu bisa mencegah bulus dari kepunahan.

Ciliwung Menjadi Habitat Bulus Raksasa

Sumber:http://sains.kompas.com/  18 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com — Sungai Ciliwung diyakini menjadi habitat bulus raksasa yang ditemukan di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Jumat (11/11/2011).

Ahli herpetologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Iskandar, mengatakan bahwa binatang dengan nama Latin Chitra chitra javanensis tersebut bukanlah hewan peliharaan warga setempat.

“Ciliwung pasti habitat bulus raksasa itu. Kalau ada yang mengatakan ini piaraan yang lepas atau introduksi, pasti itu salah,” kata pria penerima Habibie Award di bidang Ilmu Dasar pada tahun 2005 itu ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011).

Keyakinan Djoko didasari pada sejarah penemuan bulus raksasa tersebut. Menurutnya, ada dua bulus raksasa yang ditemukan pada 1908. Seekor di antaranya dibawa ke Museum Zoologi Bogor dan seekor lainnya dikirim ke Jerman. Selain itu, tiga bulus lainnya juga pernah ditemukan pada 1971 dan 1973.

Temuan lain adalah yang diungkapkan pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mumpuni. Ia mengungkapkan, bulus raksasa itu pernah ditemukan di Sungai Ciliwung wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok pada 1980-an.

Djoko mengatakan, “Selain Ciliwung, bulus ini juga ditemukan di Bengawan Solo. Di sana mungkin yang terbanyak, bisa 10 ekor yang pernah ditemukan. Di Sumatera juga ada. Selain itu juga di Thailand. Ada juga yang di Burma (Myanmar), tetapi sub-spesiesnya berbeda.”

Chitra chitra javanensis merupakan satwa dilindungi menurut PP7/1999, dan termasuk dalam Red List International Union for Conservation of Nature. Populasi dan perilakunya sampai saat ini belum banyak diketahui.

Dengan kepastian bahwa Ciliwung merupakan habitat bagi bulus, konservasi Sungai Ciliwung harus mendapat perhatian. Selain itu, penelitian tentang bulus raksasa ini juga harus dilakukan sehingga mendukung langkah konservasi.

Mendesak, Penelitian Bulus Raksasa Ciliwung

Sumber: http://sains.kompas.com/  18 November 2011

KOMPAS.com/Fabian Januarius
Bulus jantan jenis Chitra chitra javanensis yang ditemukan di Sungai Ciliwung

JAKARTA, KOMPAS.com – Penelitian tentang bulus raksasa (Chitra chitra javanensis), jenis yang ditemukan pada Jumat (11/11/2011) lalu di Kali Ciliwung, Jakarta, mendesak untuk dilakukan demi kepentingan konservasi. Selama ini belum ada penelitian tentang bulus raksasa.

Demikian diungkapkan Djoko Tjahjono Iskandar, pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, yang dihubungi Kompas.com lewat telepon, Kamis (17/11/2011). .

Djoko, pemenang Habibie Award dalam kategori ilmu dasar tahun 2005 dan lulusan Université des Sciences et Techniques du Languedoc di Montpellier, Perancis ini, mengatakan, sebaiknya ada program penangkaran satwa yang masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN). Untuk melakukannya, beberapa penelitian yang mendukung upaya penangkaran mesti menjadi prioritas.

“Yang bisa dilakukan misalnya meneliti bagaimana reproduksinya, berapa telurnya, bagaimana dia berepropduksi. Lalu juga makanan serta pola makannya,” jelas dia.

Djoko mengatakan, penelitian bulus raksasa selama ini tidak dilakukan karena dana yang minim dan pelaksanaan penelitian yang sulit. Penelitian harus dilakukan saat kemarau serta memakan waktu lama sebab usia bulus bisa mencapai lebih dari 100 tahun.

Oleh karena itu, penelitian bulus ini nantinya menuntut kesiapan dana dan komitmen jangka panjang. Kebun binatang dinilai Djoko menjadi tempat terbaik penangkaran dan penelitian satwa ini sehingga dukungan pada kebun binatang harus diberikan.

 Di Mana Tempat Konservasi Terbaik bagi Bulus Raksasa?

Sumber:http://sains.kompas.com/ 18 November 2011 

JAKARTA, KOMPAS.com – Bulus raksasa yang ditemukan di Ciliwung pada Jumat (11/11/2011) lalu diketahui merupakan spesies Chitra chitra javanensis, satwa langka yang dilindungi menurut PP7/1999 dan masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN). Karenanya, langkah konservasi harus dilakukan.

Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, yang dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011), mengatakan, konservasi yang paling tepat adalah di di kebun binatang. “Atau tempat seperti Taman Safar,” kata dia.

Menurutnya, kondisi habitat Ciliwung sudah rusak dan banyak menghadapi tekanan dari warga kota Jakarta. Di samping itu, perhatian pada biodiversitas Ciliwung sangat minim bila dibandingkan dengan wilayah konservasi lainnya.

Menurut Djoko, penangkaran di kebun binatang memungkinkan bulus mendapatkan kondisi lingkungan yang lebih mendukung. Di samping itu, dengan penangkaran, penelitian terhadap bulus raksasa itu akan lebih mudah dilakukan. Untuk penangkaran sendiri perlu penelitian tentang reproduksi dan pakan.

Namun, ia mengatakan, penangkaran di kebun binatang akan menghadapi tantangan dalam metode maupun pendanaan. Tempat yang cukup besar harus disediakan karena bulus tersebut biasa hidup di sungai besar.

Selain itu, jumlah individu, yang ditangkarkan juga harus memadai sehingga kemungkinan kawin dan mendapatkan keturunan juga lebih tinggi, minimal 20 individu. Penyediaan pakan juga akan menjadi tantangan jika jumlah individu banyak, sebab pasti akan memakan dana besar.

Chitra chitra javanensis, terang Djoko, merupakan salah satu spesies bulus terbesar yang ada di dunia. Bulus raksasa itu adalah satu dari dua spesies bulus di Indonesia yang berwarna hitam. Karenanya, bulus ini perlu untuk dilestarikan.

Chitra chitra javanensis tersebar di Jawa, Sumatera dan Thailand. Populasi satwa ini belum diketahui dengan pasti. Kebun binatang Ragunan hanya memiliki satu ekor satwa langka tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: