Capung

Capung-Capung  Ciliwung

Membangun Bersama Capung

Oleh: Eka Budianta

Sumber: http://edukasi.kompasiana.com/17 May 2012 

Capung – serangga kecil yang dikenal sebagai odonata, telah menjadi inspirasi untuk mengembangkan kebudayaan di berbagai negara. Pada awal Juni 2012 ada Festival Capung di kota Malang. Topiknya “Mencintai Capung di Negeri Sendiri”. Beberapa aktifis Indonesia Dragonfly Society akan menghadiri kongres capung sedunia di Odawara, Jepang, bulan Juli berikutnya.

Jepang menjadi tuan rumah kongres capung, dengan pengalaman menghargai capung lebih dari seribu tahun. Sejak abad sebelas, capung sudah menjadi lambang ketepatan, kecepatan dan keberanian para satria. Capung dilukiskan pakaian kehormatan para samurai. Indonesia patut berbangga dengan mulai belajar mencintai, melestarikan dan memaknai capung di sekitar kita.

Semua kegiatan dan informasi dunia percapungan di Indonesia dapat diperoleh melalui situs Odonata Nusantara. Ada websitenya, facebook, dan twitternya. Saya senang diundang untuk mengikuti Festival Capung di Malang, dengan tugas presentasi “Bersama Capung Membangun Karakter Bangsa”.

Ini adalah kali kedua saya ikut mendukung. Tahun lalu, di Malang juga ada Seminar “Capung Teman Kita” yang dihadiri oleh para pakar dari Yogya. Bogor, Surabaya serta peninjau dari Konsulat Amerika Serikat. Penyelenggaranya waktu itu Dempo Dragonfly Society, yang dimotori oleh siswa dan guru sebuah SMA Swasta terkenal di Malang, yaitu SMAK St.Albertus.

Mencintai capung bukan pekerjaan yang mudah. Penghasilan para pencinta capung berbeda dengan pencinta ayam pedaging atau petelur. Beda juga dengan peternak buaya atau elang yang bisa menjual mahal reproduksi ternaknya. Pencinta capung harus kreatif memanen ilmu, keindahan dan filosofi capung. Indonesia Dragonfly Society berhasil memetik hasil mencintai capung dari menerbitkan buku, membuat film, menggubah lagu dan memasarkan berbagai cendera-mata yang terinspirasi oleh capung.

Di antara cendera mata yang bagus adalah poster, pin, bros, cangkir minuman, kaus, sticker, gantungan telpon selular, batik dan kain dengan motif capung. Semoga juga ada kandang untuk budidaya capung. Pelestarian capung di kota-kota besar Indonesia sebenarnya adalah proyek raksasa. Kalau menjaga capung tetap lestari, kita harus menjaga kualitas udara, kesuburan tanah dan terutama kejernihan air.

Capung ikut memberantas nyamuk yang mengancam kesehatan warga perkotaan, dan mengurangi hama di persawahan maupun perkebunan yang merugikan para petani. Capung menekan populasi lalat buah, walang sangit, nyamuk , dan serangga kecil lain yang bisa membahayakan kita.

Capung adalah indikator lingkungan yang sehat dan masyarakat yang cerdas. Di perdesaan China, banyak nya capung memberi pertanda panen yang berlimpah. Di mata air Wendit, Malang, ditemukan 26 spesies capung, sehingga lingkungannya patut diusulkan sebagai Suaka Capung Nasional, dengan keaneka-ragaman hayati yang sangat kaya. Semoga capung semakin dikenal, dicintai dan dikembangkan untuk kemajuan dan kemakmuran manusia. *** (Eka Budianta, anggota Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), pembicara dalam Festival Mencintai Capung di Negeri Sendiri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: